Anda di halaman 1dari 15

ACARA I

STERILISASI ALAT, PEMBUATAN LARUTAN STOK DAN PEMBUATAN


MEDIA
A.

Pendahuluan
1. Latar Belakang
Kultur jaringan tanaman merupakan teknik mengembangbiakan
bagian tanaman, baik berupa bagian terkecil seperti sel sampai jaringan
tanaman maupun organ dalam kondisi aseptik secara in vitro. Upaya
perbanyakan tanaman melalui teknik kultur in vitro diperlukan adanya
kecocokan medium tanam dan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT),
baik jenis maupun konsentrasi ZPT. Kecocokan tersebut diperlukan untuk
mencapai keberhasilan baik dalam upaya pembentukan tunas maupun
pembentukan akar pada eksplan yang ditanam.
Dalam teknik kultur jaringan, hal yang paling utama untuk
dilakukan adalah sterilisasi alat dan pembuatan media kultur. Sterilisasi
itu sendiri merupakan cara pencegahan yang dilakukan manusia untuk
membasmi mikroorganisme, terutama pada berbagai macam alat alat
gelas. Sterilisasi dilakukan dengan melihat bahan dari alat-alat tersebut
sehingga dapat menentukan cara sterilisasi yang tepat. Dalam praktikum
ini rentan sekali terjadi kontaminasi dari lingkungan sekitar sehingga
sterilisasi sangat perlu dilakukan, agar hasil yang akan diperoleh sesuai
dengan apa yang diinginkan. Sterilisasi dapat dilakukan dengan
pemanasan, penggunaan bahan kimia, penggunaan penyaring atau filter
tergantung dari bahan yang akan disterilkan.
Tidak hanya pengetahuan tentang sterilisasi saja, dalam praktikum
ini juga bejalar membuat media biakan untuk eksplan yang disebut media
kultur. Media kultur adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat
makanan (nutrisi) yang diperlukan eksplan untuk pertumbuhannya. Media
yang digunakan pada praktikum ini adalah media MS (Murashige Skoog).
Media ini mempunyai konsentrasi yang tepat untuk semua jenis eksplan.

2. Tujuan
Pada praktikum acara Sterilisasi dan Pembuatan Media Kultur
mempunyai tujuan yaitu :
a. Mengetahui metode dan macam sterilisasi dalam kultur jaringan yang
meliputi sterilisasi alat, ruang dan eksplan.
b. Mengetahui prosedur sterilisasi alat-alat penanaman (diseksi) dan alat
kaca seperti botol kultur, petridish, dan lain-lain.
c. Mengetahui langkah-langkah dalma pembuatan media kultur jaringan
terutama dlama pembuatan stok makro nutrien mikro nutrient, laturan
buffer (Fe-EDTA), vitamin dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT).
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara sterilisasi alat dam pembuatan media kultur
dilaksanakan pada hari Senin, 17 Maret 2014 pukul 13.20 - 17.20 WIB
yang bertempat di Laboratorium Fisiologi Tanaman dan Bioteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka

Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatuu proses atau usaha untuk


membebaskan atau mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di
dalam suatu alat atau bahan yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum.
Ada tiga cara utama yang umum digunakan dalam sterilisasi yaitu
penggunaan panas, penggunaan bahan kimia dan penngunaan filter atau
penyaringan. Bila panas digunakan bersama dengan uap air maka prosesnya
dinamakn sterilisasi panas lembab atau sterilisasi bash. Sedangkan apabila
tanpa digunakan uap air akan dinamakan sterilisasi panas kering atau
sterilisasi kering. Di lain pihak sterilisasi dengan cara kimiawi dapat
dilakukan dengan menggunakan gas desinfektan atau radiasi. Pemilihan cara
sterilisasi ini didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilisasikan
(Tjahtjo 2004).
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur
jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman
yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam
mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan
seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang
ditambahkan juga bervariasi, baik jenis maupun jumlahnya, tergantung
dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi
ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan
juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf
(Wetherell 2008).
Pembuatan media pada prinsipnya dilakukan dengan melarutkan
semua komponen media dalam air sesuai dengan konsentrasinya pada
formulasi yang diinginkan. Namun, penimbangan satu persatu komponen
media untuk setiap pembuatan media kultur adalah tidak praktis dan hanya
dapat dilakukan jika jumlah zatnya cukup besar. Masalah tersebut dapat
diatasi dengan pembuatan larutan stok. Larutan stok adalah larutan berisi satu
atau lebih komponen media yang konsentrasinya lebih besar dari konsentrasi
komponen

tersebut

(Manullang et al 2006).

dalam

formulasi

media

akan

dibuat

ZPT yang biasa digunakan Untuk merangsang pertumbuhan Auksin


dan sitokinin. Auksin yang digunakan dalam kultur jaringan adalah IAA.
Interaksi antara auksin dan sitokinin yang diberikan pada media yang
diproduksi secara endogen oleh tanaman menentukan arah perkembangan
suatu kultur tanaman. Sitokinin digunakan untuk pembelahan sel terutama
bila ditambahkan dengan auksin. Zat pengatur tumbuh mempunyai peran
yang sangat penting dalam mengatur pertumbuhan dan perkembangan
eksplan dalam kultur. Pertumbuhan dan morfogenesis dalam budidaya
jaringan diatur oleh interaksi dan keseimbangan antara pemberian ZPT pada
media

dengan

hormon

endogen

yang

terdapat

dalam

eksplan

(Hadioetomo 2007).
Keberhasilan penggunaan metode kultur jaringan sangat tergantung
pada media yang digunakan. Media kultur jaringan menyediakan tidak
banyak unsure hara unsure hara makro dan mikro, tetapi yang kabohidrat
yang pada umnya beberapa gula untuk menggantikan karbon yang didapat
dari fotosintetis. Penggunaan media MS+IBA dengan konsentrasi antara 10
sampai dengan 100 mg/l yang ditambah dengan ZPT NAA 1mg/l mampu
mengindukasi akar sampai 70%. Kombinasi ZPT auksin dan sitokinin yang
diberikan bersamaan kedalam media yang sama nampaknya selalau berhasil
(Herawan dan Naiem 2006)
Pada kultur jaringan didukung oleh beberapa komponen penting yaitu
media yang digunakan dan beberapa bahan yang menunjang dalam kultur
jaringan. Beberapa komponen media yang menunjang seperti ZPT, unsur hara
makro dan mikro, vitamin, air destilata, dan agar-agar sebagai media
tanamnya.
labolaturium
merupakan

Media-media
kultur

tersebut

jaringan,

komponen

wajib

biasanya

karena
dalam

banyak

dijumpai

komponen-komponen
melakukan

kultur

dalam
tersebut
jaringan

(Winarsih et al 2009).
Masalah pada kegiatan in vitro bukan hanya dari penanaman eksplan
saja, pertumbuahn dan perkembangannya dalam botol saja tetapi juga sangat
bisa dipengaruhi oleh persyaratan kegiatan prapelakuan. Pada kasus ini

masalah akan muncul bila kegiatan prapelakuaan tidak dilakukan.


Praperlakuan dilakukan umumnya untuk tujuan-tujuan tertentu, secara umum
adalah dalam rangka menghilangkan hambatan. Hambatan dapat berupa
hambatan kemikalis, fisik, biologis. Hambatan berupa bahan kimia
penanganannya harus dimulai dari pengenalan senyawa aktif, potensi
gangguan, proses reaksi dan alternatif pengelolaannya (Gunawan 2005).
C. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. Alat untuk penanaman eksplan
1) Laminar Air Flow Cabinet (LAFC) lengkap dengan lampu bunsen
yang berisi spirtus
2) Petridish dan botol-botol kuljar
3) Peralatan diseksi (pinset besar/kecil,pisau pemes, gunting eksplan)
Alat-alat penanaman yaitu petridish dan peralatan direksi
dibungkus dengan kertas kemudian distrelisisasi di dalam autoklaf
pada tekanan 1,5 kg/cm selama 45 menit. Setelah di sterilisasi alatalat disimpan dalam oven.
b. Alat untuk pembuatan media meliputi,
1) Timbangan analitik
2) Sendok
3) Elenmeyer
4) Botol-botol kultur
5) Magnetik stirer
6) pH meter
7) Gelas piala
8) Pipet
9) Plastik pp 0,3 mm
10) Karet gelang
11) Kertas label
c. Alat sterilisasi

1) Autoklaf
2. Bahan-bahan untuk pembuatan media
a. Media Murrashige and Skoog (MS)
b. Aquadest
c. Larutan stock, terdiri atas hara makro dan mikro, vitamin, ZPT
d. Agar-agar
e. Gula
f.

NaOH 1 N dan HCl 1 N

3. Cara Kerja
a. Pembuatan Larutan Stok
Langkah-langkah pembuatan larutan stock meliputi,
1) Larutan stock media
a)

Menimbang bahan-bahan nimia yang telah dikalikan


menajdi beberapa kali konsentrasinya, misalnya untuk unsur hara
makro dikalikan 20 dan unsur hara mikro dikalikan 100 kali
konsentrasi.

b)

Melarutkan bahan-bahan nimia tersebut ke dalam


aquadest dengan volume tertentu, misalnya 500 ml.

c)

Memasukkan masing-masing larutan ke dalam botol dan


menyimpannya ke dalam refrigerator

d)

Untuk mempermudah, media MS dan WPM akan dibuat


larutan stock A, B, C, D, E, F.

2) Larutan stock zat pengatur tumbuh


a)

Menghitung kebutuhan BAP 100 ppm sebanyak 300 ml


adalah sebagai berikut :
100 ppm = 100 mg/l
= 30 mg/0,3 l
= 30 mg/ 300 ml

b)

Memasukkan masing-masing larutan tersebut ke dalam


botol dan menyimpannya ke dalam refrigerator.

b. Pembuatan media kultur

Langkah-langkah pembuatan media kultur meliputi,


1) Mengambil masing-masing larutan stock sesuai dengan ukuran yang
telah ditebtukan dan memasukkannya ke dalam gelas piala.
2) Mengambil larutan stock ZPT sesuai dengan perlakuan, misalnya:
a) Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi BAP 2 ppm, maka
volume larutan stock yang diambil adalah:
V1 x M1

= V2 x M2

V1 X 100 ppm

= 1000 ml x 2ppm

V1

= 20 ml/L

3) Menambah aquadest sampai 1000 ml dalam labu takar


4) Menambah gula sebanyak 30 gr
5) Mengatur pH dalam kisaran 5,8-6,3 dengan menambahkan beberapa
tetes NaOH untuk menaikkan pH atau HCl untuk menurunkan pH.
Pada saat pengukuran pH, larutan media diaduk dengan magnetik
stirer
6) Menambahkan agar-agar 8 gr kemudian dididihkan
7) Menuangkan larutan media ke dalam botol-botol kultur kurang lebih
25 ml tiap botol (40 botol/l media)
8) Menutup botol berisi larutan media dengan plastik
9) Memasukkan botol-botol berisi media dan alat-alat kultur yang telah
dibungkus yertas koran ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi
pada suhu 121C, tekanan 1,5 kg/cm2 selama 45 menit.
10) Menyimpan media pada rak penyimpanan media yang bertujuan
untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media.

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan

1. Hasil Pengamatan
Tabel 1.1 Prosedur Pembuatan Media
No.
Prosedur Pembuatan
Media
1.
Pengukuran bahan-bahan
kimia

2.

Penambahan aquadest
sampai 1500 ml

3.

Penambahan gula

4.

Pengukuran pH
menggunakan pH meter

5.

Pengadukan dengan
stirrer agar dapat
membentuk larutan yang
homogeny

6.

Larutan yang telah


homogen siap dimasukan
ke dalam botol kultur
jaringan

7.

Sterilisasi botol kultur


jaringan ke dalam
autoklaf

Sumber : Dokumentasi
2. Pembahasan

Gambar

Sterilisasi merupakan hal yang paling utama dan paling penting dalam
teknik kultur jaringan. Hal ini dikarenakan sterilisisasi itu kunci untuk
menuju keberhasilan dari teknik kultur jaringan itu sendiri. Hal-hal yang
menyebabkan sterilisasi alat dan pembuatan media mengalami kegagalan
antara lain alat dan bahan yang bahan kurang steril dan media tidak
tertutup rapat sehingga jamur dan bakteri mudah masuk. Sesuai dengan
pernyataan Gunawan (2005) yaitu, masalah pada kegiatan in vitro bukan
hanya dari penanaman eksplan saja, pertumbuahn dan perkembangannya
dalam botol saja tetapi juga sangat bisa dipengaruhi oleh persyaratan
kegiatan prapelakuan. Pada kasus ini masalah akan muncul bila kegiatan
prapelakuaan tidak dilakukan. Praperlakuan dilakukan umumnya untuk
tujuan-tujuan tertentu, secara umum adalah dalam rangka menghilangkan
hambatan.
Selain sterilisasi, pembuatan media serta larutan stok zat pengatur
tumbuh juga sama pentingnya. Menurut Hadioetomo (2000), bahan-bahan
untuk pertumbuhan medium mengandung unsur-unsur nutrien yang dapat
diambil dari bahan alam, meliputi karbohidrat, lemak dan asam-asam
organik, sumber nitrogen yang mencakup pepton dan protein, garamgaram kimia (K, Na, Fe dan Mg), vitamin, dan sari buah, ekstrak sayuran
dan susu. Serta bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang sengaja
ditambahkan ke dalam medium dengan tujuan tertentu seperti indikator
maupun antibiotik.
Praktikum kali ini, untuk menumbuhkan eksplan menggunakan
media MS atau Murashige and Skoog. Media MS ini merupakan media
yang universal digunakan untuk teknik kultur jaringan karena sesuai
dengan kebanyakan eksplan. Hartmann et al (2002) menyatakan bahwa
media yang bayak digunakan dalam kultur jaringan adalah MurashigeSkoog (MS) yang tersusun atas senyawa anorganik. Media ini kaya akan
makroelemen, nitrogen khusus termasuk NO3 dan ion amonium (NH4),
sukrosa dan vitamin. Inisiasi divisi sel dan selanjutnya produksi kalus
membutuhkan masukan auksin dan sitokinin pada media dalam proporsi

10

yang tepat. Auksin pada konsentrasi yang sedang sampai tinggi adalah
substansi utama pertumbuhan untuk memproduksi kalus. Auksin yang
terutama digunakan, termasuk di dalamnya indoleacetic acid (IAA),
naphtaleneacetic acid (NAA) dan 2,4-Dichlorophenoxy acetic acid (2,4 D)
dalam meningkatkan keefektifan.
Media MS mempunyai komposisi yang hampir sama dengan media
lainnya yang digunakan untuk tujuan kultur jaringam, yaitu agar, gula,
nutrient, hara makro dan mikro dan ZPT . Menurut Gilang (2009)
komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang
akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam
mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan
seperti agar, gula (digunakan sebagai sumber energi), dan lain-lain. Zat
pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik
jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan
yang dilakukan.
Komposisi media mempunyai fungsi masing-masing yang dimana
antara satu dengan lainnya saling melengkapi. Media dalam kultur
jaringan terdiri dari komponen-komponen dengan fungsi sebagai berikut:
1. Vitamin
Vitamin yang paling sering digunakan dalam media kultur jaringan
tanaman adalah thiamine atau Vitamin B1. Thiamine merupakan
vitamin yang esensial dalam kultur jaringan tanaman. Thiamine
berfungsi mempercepat laju pembelahan sel (Marlina 2004).
2. Unsur hara makro
Senyawa anorganik yang penting untuk pertumbuhan

dan

perkembangan tumbuhan ada yang mikro dan makro. Umumnya


media mengandung senyawa anorganik makro nitrat dan potassium
dengan konsentrasi 25 mM (Yuwono 2008). Makro nitrat berfungsi
membentuk protein, lemak, dan berbagai senyawa organik lain,
morfogenesis (pertumbuhan akar dan tunas), pertumbuhan dan
pembentukan embrio, pembentukan embrio zigotik dan pertumbuhan
vegetative sedangkan makro pottasium berfungsi untuk metabolisme
energi, sebagai stabilitor membran sel, pengaturan metabolisme

11

tanaman,

pengaturan

produksi

pati/

amilum,

pembentukan

karbohidrat, sangat penting dalam transfer energi, protein, dan sintesis


asam amino serta konstribusi terhadap struktur dan asam nukleat.
(Marlina 2004).
3. Unsur hara mikro
Unsur hara mikro adalah hara yang dibutuhkan dalam jumlah yang
sedikit. Unsur hara mikro ini merupakan komponen sel tanaman yang
penting dalam proses metabolisme dan proses fisioligi lainnya
(Gunawan 2001).
4. Agar
Eksplan yang dikulturkan harus selalu bersinggungan atau terkena
dengan medianya. Bahan pemadat media yang paling banyak
digunakan adalah agar-agar. Agar-agar adalah campuran polisakarida
yang diperoleh dari beberapa spesies algae. Dalam analisa unsur,
diperoleh data bahwa agar-agar mengandung sedikit unsur Ca, Mg, K,
dan Na (Debergh 1982 dalam Gunawan 2001). Agar digunakan
sebagai pemadat media yang berbentuk cair (Marlina 2004).
5. Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)
ZPT ada beberapa jenis, antara lain: auxin, sitokinin, geberelin, asam
absisat, etilin dan sebagainya. ZPT merupakan komponen penting
dalam media kultur jaringan. Menurut Nugroho (2000), salah satu
komponen yang juga menentukan keberhasilan kultur jaringan adalah
jenis dan konsentrasi ZPT yang digunakan. Jenis dan konsentrasi ZPT
yang digunakan tergantung pada tujuan dan tahap pengkulturan.
Pengakulturan untuk merangsang pembentukan akar biasanya
menggunakan ZPT Auksin. Jenis auksin yang sering digunakan adalah
IBA dan NAA.
Pembuatan media MS adalah pertama-tama menambahkan aquades
kemudian gula dan aduk hingga homogen kemudian mencampurkan
larutan stok yang terdiri atas hara makro, mikro dan vitamin serta ZPT
setelah itu memasukkan agar Fe-EDTA dan BAP. Perlu diperhatikan juga
hal-hal yang menyebabkan kegagalan pada media yaitu penambahan ZPT

12

yang tidak tepat ukuran, kontrol pH yang terlalu tinggi/rendah, dan


sterilisasi alat dan media yang kurang steril.
Langkah selanjutnya, media yang sudah dibuat kemudian
dimasukkan ke dalam botol-botol kultur dan di tutup dengan plastik
sebanyak 2 kali ulangan serta diikat dengan karet. Hal ini dilakukan agar
media tidak terkontaminasi. Botol-botol yang sudah tertutup dimasukkan
ke autoklaf selama 45 menit. Sterilitas dengan autoklaf adalah suatu
metode sterilitasasi dengan uap air dibawah tekanan. Kapas penyumbat,
kasa, peralatan laboratorium, plastic penutup, peralatan gelas, penyaring,
pipet, air, dan media nutrisi dapat disterilisasi dengan autoklaf. Hampir
semua mikroba mati apabila terkena uap air yang sangat panas dari autolaf
selama 10-15 menit. Semua obyek hendaknya disterilisasi pada suhu 121
0

C dan takanan 15 Psi selama 15-20 menit. Setelah di autoklaf, botol-botol

kultur kemudian dimasukkan keruangan steril yang sudah disediaka dan di


tata di rak-rak sesuai kelompok.
Pembuatan media kultur memiliki keberhasilan 100%, namun belum
diketahui kemampuannya untuk menumbuhkan eksplan. Media yang
dibuat pada awalnya belum tampak kontaminasi, namun setelah beberapa
hari ada beberapa yang mengalami kontaminasi. Kontaminasi dikarenakan
tidak adanya kesterilan baik alat, bahan ataupun individu yang membuat
media. Ciri media yang baik adalah tidak terlalu keras atau tekstur yang
tidak terlalu padat. Media yang terlalu padat akan menyulitkan
pertumbuhan eksplan terutama dibagian akar. Selain tidak terlalu padat,
ciri media yang baik mempunyai gel yang jernih, ini menandakan semua
komponen yang telah ditambahkan telah homogen.

Hal ini seperti

penyataan Hendaryono dan Wijayani (2004), media yang terlalu padat


dapat mengakibatkan akar sukar tumbuh, sebab akar-akar sulit untuk
menembus ke dalam media. Sedangkan media yang terlalu lembek, akan
menyebabkan kegagalan dalam pekerjaan. Kegagalan dapat berupa
tenggelamnya eksplan yang ditanam, terutama eksplan yang berat seperti
eksplan bawang putih. Eksplan yang tenggelam, tidak akan dapat tumbuh

13

menjadi kalus, karena tertutup oleh medium. Tenggelamnya eksplan di


dalam tempat tumbuh kalus, yaitu pada irisan (jaringan yang luka) tertutup
oleh medium. Tenggelamnya eksplan di dalam medium juga akann
menyebabkan busuk karena keadaannya sangat lembab dan akhirnya
mengandung jamur dan bakteri.
Hal-hal yang penting dalam media adalah komposisi agar,
pengaturan pH, dan air. pH diatur dari kisaran 5,6 sampai 5,8 dengan 1N
KOH atau 1N HCl. Pengaturan pH ini bertujuan agar menyediakan pH
yang cocok untuk pertumbuhan eksplan.Kalau pH kurang dari 5 atau lebih
dari 7 akan menghambat pertunbuhan dan perkembangan eksplan. Hal ini
terkait dengan pengaruhnya pada ketersediaan unsur hara yang terlarut
(Yuwono 2008).

E. Kesimpulan Dan Saran


1. Kesimpulan
Dalam praktikum kultur jaringan yang telah di lakukan dapat diambil
beberapa kesimpulan, yaitu :
a. Proses sterilisasi harus dilakukan dengan tepat sesuai dengan petunjuk,
agar dapat memperkecil atau menghilangkan kontaminasi.
b. Faktor penyebab kegagalan pembuatan media kultur antara lain karena
alat dan media yang digunakan kurang steril, campuran bahan media
yang komposisinya kurang atau berlebihan, kontrol pH yang tidak tepat,
dan pengaruh faktor lingkungan (kontaminasi cendawan dan bakteri)

14

c. Media yang digunakan pada praktikum merupaka media Murashige and


Skoog dimana media ini merupakan media universal yang dipakai
dalam teknik kultur jaringan.
d. Zat-zat dalam pembuatan media yang digunakan harus sesuai yang dan
memiliki takaran yang tepat untuk perlakuan.
2. Saran
Saran untuk praktikum mendatang adalah sebisa mungkin alat yang
digunakan baru sehingga lebih steril dan bebas dari jamur dan bakteri.

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan 2001. Teknik Kultur Jaringan. Bogor: Laboratorium Kultur Jaringan
Tanaman PAU Bioteknologi IPB.
Gunawan 2005. Teknik Kultur Jaringan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hadioetomo 2000. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: Gramedia
Pustaka Umum.
_________ 2007. Mikrobia Dasar Dalam Praktek, Teknik dan Prosedur Dasar
Laboratorium. Jakarta: Gramedia.
Hartmann, Ketser, Davies and Geneve 2002. Plant Propagation : Principles and
Practices. 6 th edition. New Jersey: Prentice Hall.
Hendaryono dan Wijayani 2004. Teknik Kultur Jaringan: Pengendalian dan
Petunjuk Perbanyakan Tanaman secara Vegetatif Modern. Yogyakarta:
Kanisius
Herawan dan Naiem 2006. Pengaruh Jenis Madia dan Konsentrasi ZPT Kinetin
Terhadap Perakaran Pada Kultur Jaringan Cendana (Santalum album Linn)
Jurnal Agrosains. 19(2): 198.

15

Manullang, I.N., Ellok D.S., dan N. Suswantini. 2006. Respon Pertumbuhan Jahe
Putih (Zingiber officinale var. officinale) Secara In-Vitro pada Media
Murashige-Skoog dengan Penambahan NAA dan BAP. Jurnal Budidaya
Pertanian No. 2 : 88 97.
Marlina N. 2004. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk
Konservasi In Vitro Mawar (Rossa spp.). Buletin Teknik Pertanian 9(1): 4-6.
Tjahtjo 2004. Dasar Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Wetherell, D.F. 1976. Pengantar Propagasi Tanaman Secara In Vitro. New Jersey:
Avery Publishiung Group Inc.
Winarsih dan Priyono 2009. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Terhadap
Pembentukan dan Pengakaran Tunas Mikro Pada Asperagus Secara In
Vitro. Jurnal Hortikultura 10(1): 11-17.