Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KUNJUNGAN PERUSAHAAN

POTENSI BAHAYA FAKTOR FISIK DAN KIMIA


DI PABRIK CAMBRIC GABUNGAN KOPERASI BATIK INDONESIA

Disusun oleh:
Kelompok 1
1. dr. Adha Nurjanah
2. dr. Adi Bagus Andrianto
3. dr. Adikurnia Suprapto
4. dr. Ahmad Qusyairi
5. dr. Akbar Riziki
6. dr. Anisa Rizka
7. dr Bahtiar
8. dr. Bethari Pusponing Fadli
9. dr. Bianda Dwida Pramudita
10. dr. Braiyen Frider Elias Kolamban
11. dr. Catur Nila Pratiwi
12. dr. Cecile

13. dr. Dea Prita Caesarita


14. dr. Diholandia Ridlin M. Sembiring
15. dr. Dita Putri
16. dr. Duta Indiriawan
17. dr. Eko Syaputra
18. dr. Eva Miranda Fitri
19. dr. Faisal Yusuf Ashari
20. dr. Fanny Soraya
21. dr. Felix Jonathan
22. dr. Gemita Pramentari Ade Brata
23.
dr. Icha Stephanie

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


BAGI DOKTER PERUSAHAAN/INSTANSI
BALAI HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
OKTOBER 2016

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..

ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


1.2 RUMUSAN MASALAH
1.3 TUJUAN
1.4 MANFAAT
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1
BAB III HASIL
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 KESIMPULAN
4.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami pujikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
serta karunia Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalh ini yang tepat
pada waktunya yang berjudul LAPORAN KUNJUNGAN PERUSAHAAN POTENSI
BAHAYA FAKTOR FISIK DAN KIMIA DI PABRIK CAMBRIC GABUNGAN KOPERASI
BATIK INDONESIA.
Makalah ini merupakan tugas akhir untuk pelatihan HIPERKES dan Kesalamatan Kerja
bagi dokter perusahaan yang berlangsung selama 6 (enam) hari (17 22 Okober 2016), makalah
ini berisikan tentang hasil observasi dan analisa kami saat berkunjung ke PC GKBI berdasarkan
peraturan dan standar yang berlaku di Indonesia.
Kunjungan yang kami lakukan ini merupakan salah satu rangkaian dalam acara Pelatihan
Hiperkes dan Keselamatan Kerja bagi Dokter Perusahaan yang diselenggarakan oleh Balai
Hiperkes dan Keselamatan Kerja DI Yogyakarta. Kunjungan ini sekaligus sebagai evalasi peserta
terhadap pelatihan yang diberikan pada hari-hari sebelumnya sehingga dapat dijadikan sebagai
tolak ukur untuk menjadi dokter perusahaan atau instansi.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dai semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada para pengajar dan pembimbing dari Balai
Hiperkes dan Keselamatan Kerja DI Yogyakarta, seluruh jajaran direksi dan karyawan Pabrik
Cambric Gabungan Koperasi Batik Indonesia serta rekan-rekan sejawat pelatihan Hiperkes dan
Keselamatan Kerja yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini. Demikian laporan ini
dibuat sehingga bias menjadi acuan dan referensi dalam penerapan kesehatan dan keselamatan.

Yogyakarta, 20 Oktober 2016

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Memasuki perkembangan era industrialisasi yang bersifat global seperti sekarang ini,
persaingan industri untuk memperebutkan pasar baik pasar regional, nasional, maupun
internasional dilakukan oleh setiap perusahaan secara kompetitif. Industrialisasi tidak
terlepas dari SDM yang dimana setiap mausia diharapkan dapat menjadi sumber daya yang
siap pakai dan mampu membantu tercapainya tujuan perusahaan dalam bidang yang
diinginkan.
Pada dasarnya kekuatan perusahaan tergantung orang-orang dalam perusahaan
tersebut, apabila tenaga kerja yang ada dalam perusahaan tersebut sesuai dengan yang
diperlukan perusahaan maka pencapaian hasil produksi perusahaan tersebut juga akan
memuaskan. Dari uraian tersebut sangat jelas bahwa sumber daya manusia sangat penting
dan utama dalam proses produksi dan pencapaian tujuan perusahaan tersebut.
Proses terhentinya atau berkurangnya pencapaian tujuan dari perusahaan tersebut
karean adanya hambatan atau masalah-masalah yang muncul dalam perusahaan tersebut.
Masalah yang sering muncul dalam proses produksi atau yang lain adanya faktor-faktor
tertentu antara lain adalah factor-faktor fisik dan kimia dalam keselamatan dan kesehatan
kerja, sehingga menyebabkan terhentinya atau terhambatnya proses produksi.
Keselamatan dan kecelakaan kerja merupakan hal yang sangat penting bagi
perusahaan, karena dampak dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja akan banyak
menimbulkan kerugian bai karyawan dan perusahaan. Terdapat beberapa pengertian tentang
keselamatan kerja dan pada dasarnya definisi tersebut mengarah pada interaksi pekerja
dengan mesin atau alat yang digunakan dan interaksi pekerja dengan lingkungan kerja.
Berdasarkan haltersebut maka perlu dilakukan pengkajian terhadap berbagai factor
fisik maupun kimia di Pabrik Cambric Fabungan Koperasi Batik Indonesia, yang berpotensi
menimbulkan bahaya serta usaha-usaha yang diperlukan untuk mencegah dan mengatasi
permasalahan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja potensi bahaya fisik dan kimia di lingkungan kerja bagi tenaga kerja?
2. Seberapa besar potensi bahaya fisik dan kimia di lingkungan kerja bagi tenaga kerja?

3. Apakah solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi maslah mengenai potensi bahaya
fisik dan kimia di lingkungan kerja?
1.3 Tujuan
1. Mengidentifikasi potensi bahay fisik dan kimia di lingkungan perusahaan.
2. Melakukan pengukuran potensi bahaya fisik dna kimia di lingkungan perusahaan.
3. Merencanakan upaya pengendalian bahaya fisik dan kimia di lingkungan perusahaan.
1.4 Manfaat
1. Bagi Perusahaan
a. Dapat mengetahui potensi bahaya fisik dan kimia bagi karyawan perusahaan.
b. Dapat mengetahui besarnya bahaya fisik dan kimia di lingkungan perusahaan.
c. Melindungi perusahaan dari tuntunnan hokum akibat potensi bahaya fisik dan kimia
di lingkungan perusahaan.
d. Dapat meningkatkan produktivitas karena terjaminnya kesehatan dan keselamatan
kerja bagi para tenaga kerja.
2. Bagi Karyawan
a. Terjaminnya kesehatan dan keselamatan tenagga kerja karean dilakukan identifikasi
dan pengendalian bahaya fisik dan kimia di lingkungan perusahaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


1. Definisi

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrument yang


memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari
bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang
wajib dipenuhi oleh perusahaan (Sumamurr, 1988). Di masa lalu, kecelakaan dan
gangguan kesehatan di tempat kerja dipandang sebagai bagian tak terhindarkan dari
produksi. Saat ini telah ada berbagai standar hokum nasional dan internasional
tentang keselamatan dan kesehatan kerja yang harus dipenuhi di tempat kerja. Stadarstandar tersebut mencerminkan kesepakatan luas antara pengusaha/pengurus, pekerja,
dan pemerintah bahwa keselmatan dan kesehatan kerja merupakan hal yang wajib
diperhatikan. (ILO, 213)
Menurut Mangkunegara, keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah
maupun rohaniah para tenaga kerja pada khususnya serta manusia pada umumnya.
Hasil karya dan budaya ini bertujuan untuk mencapai masyarakat yang adil dan
makmur.
Menurut Sumamur, keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk
menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja
di perusahaan yang bersangkutan.
Simanjuntak mendefinisikan keselamatan kerja sebagai kondsi keselamatan
yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan, dimana kita bekerja mencakup
tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja.
Mathis dan Jackson menyatakan bahwa keselmatan adalah hal yang merujuk pada
perlindungan terhadap kesejahtaraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait
dengan pekerjaan. Sedangkan kesehatan adalah hal-hal yang mengarah pada kondisi
umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.
a. Indikator Keselamatan Kerja
Keadaan tempat lingkungan kerja yang meliputi :
1. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya yang kurang
diperhitungkan keamanannya.
2. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
3. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
Pemakaian perlatan kerja meliputi:
1. Pengaman peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.

2. Penggunaan mesin dan alat elektronik tanpa pengaman yang baik.


b. Tujuan Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik
2.
3.
4.
5.

secara fisik, sosial, dan psikologis.


Setiap perlengkapan dan kerja digunakan sebaik-baiknya selektif mungkin.
Jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
Meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partsipasi kerja.
Menghindari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau
kondisi kerja.
Selain yang disebut diatas Sumamur (1998) menjelaskan tujuan utama dari

keselamatan dan kesehatan kerja adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan
produktif. Tujuan tersebut dapat tercapai karena terdapat korelasi antara derajat
kesehatan yang tinggi dengan dengan produktifitas kerja atas perusahaan, Selnajutnya
Sumamur menjelaskan hal tersebut:
1. Untuk efisiensi kerja yang optimal dan sebaik-baiknya oekerjaan harus dilakukan
dengan cara dan dalam lingkungan kerja yang memenuhi syarat-syarrat kesehatan.
Lingkungan dan cara yang dimaksud meliputi diantaranya tekanan panas,
penerangan ditempat kerja, debu di udara ruang kerja, sikpa badan, penyerasian
manusia dan mesin.
2. Biaya dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja,s erta penyakit umum yang
meningkat jumlahnya oleh karena pengaruh yang memperburuk keadaan oleh
bahaya-bahaya yang ditimbulan oleh pekerjaan sangat mahal, meliputi
pengobatan, perawatan di rumah sakit, rehabilitasi,absenteisme, kerusakan mesin,
peralatan dan bahan akibat kecelakaan, terganggunya pekerjaan dan cacat yang
menetap.
Tujuan akhir dari penerapan keselamatan kerja adalah mencapai kecelakaan
kerja nihil (zero accident). Perusahaan yang dapat mencapai kecelakaan kerja nihil
adalah perusahaan yang bebas dari kerugian baik manusia maupun benda.
c. Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Dibuatkannya Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
adalah sesuatu yang sangat penting dan harus. Karena hal ini akan menjamin
dilaksanakannya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Dalam konteks bangsa Indonesia, kesadaran K3 sebenarnya sudah ada


sejak pemerintahan colonial Belanda, misalnya pada tahun 1908, parlemen
Belanda mendesak Pemerintah Belanda memberlakukan K3 di Hindia Belanda
yang ditandai dengan penerbitan Veiligheids Reglement, Staatsblad No. 406
Tahun 1910. Selanjutnya, Pemerintah Belanda menerbitkan beberapa produk
hukum yang memberikan perlindungan bagi keselamatan dan kesehatan kerja
yang diatur secara terpisah berdasarkan masing-masing sector ekonomi.
Namun sekaaerang Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
yang terutama di Indonesia adalah Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja, sedangkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan
adalah Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pengaturan
hukum K3 dalam konteks diatas adalah sesuai dengan sector/bidang usaha,
misalnya P.M.P No. 7 Tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan, kebersihan serta
Penerangan di Tempat Kerja.
2. Kecelakaan Kerja
Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak
dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan
dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia dan atau harta benda (Depnaker,
1999:4). Kecelakaan kerja (accident) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak
diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atas kerugian
terhadap proses (Didi Sugandi, 2003:171).
Menurut undang-Undang nomor 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga
Kerja pasal 1 ayat 6, Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung
dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja,
demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah
menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar
dilalui. Kecelakaan Kerja adalah sesuatu yang tidak terduga dan tidak diharapkan
yang dapat mengakibatkan kerugian harta benda, korban jiwa / luka / cacat maupun
pencemaran. Kecelakaan kerja merupakan kecelakaan yang terjadi akibat adanya
hubungan kerja, (terjadi karena suatu pekerjaan atau melaksanakan pekerjaan).

Kecelakaan kerja juga dapat didefinisikan suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan
tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda
tentunya hal ini dalat mengakibatkan kerugian jiwa serta kerusakan harta benda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja dibedakan atas
3 macam yaitu :
1. Faktor manusia
Faktor manusia meliputi aturan kerja, kemampuan kerja (usia, masa
kerja/pengalaman, kurang cakap). Disiplin kerja, perbuatan-perbuatan yang
mendatangkan kecelakaan. Kesalahan-kesalahan disebabkan pekerja dank arena
sikap yang tidak wajar seperti terlalu berani, sembrono, lalai, melamun, tidak mau
bekerja sama, tidak mengindahkan instruksi, dll.
2. Faktor Mekanik dan lingkungan
Faktor Mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi dengan
alat pelindung, alat pelindung tidak dipakai, alat-alat kerja yang telah rusak.
Lingkungan kerja yang kurang nyaman, pencahayaan yang tidak sempurna,
terdapat kesilauan dan tidak ada pencahayaan setempat, ventilasi yang tidak
sempurna sehingga ruangan kerja berdebu, lembab yang tinggi sekaligus pekerja
kurang nyaman bekerja, lantai yang kotor dan licin, cara menyimpan bahan baku
dan alat kerja tidak pada tempatnya, dll.
2.2 Potensi Bahaya Fisik
1. Kebisingan
Diartikan sebagai segala bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat memberi
pengaruh negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan seseorang maupun suatu
populasi. Aspek yang berkaitan dengan kebisingan antara lain jumlah energi bunyi,
distribusi frekuensi, dan lama pajanan.
Kebisingan dapat menghasilkan efek akut seperti masalah komunikasi,
turunnya konsentrasi, yang pada akhirnya mengganggu job performance tenaga
kerja. Pajanan kebisingan yang tinggi (biasanya >85 dBA) pada jangka waktu

tertentu dapat menyebabkan tuli yang bersifat sementara maupun kronis. Tuli
permanen adalah penyakit akibat kerja yang paling banyak terjadi. Berdasarkan
frekuensi, tingkat tekanan bunyi, tingkat bunyi dan tenaga bunyi maka bising dibagi
dalam 3 kategori :

Occupational noise (bising yang berhubungan dengan pekerjaan) yaitu bising


yang disebabkan oleh bunyi mesin di tempat kerja, missal bising dari mesin

ketik.
Audible noise (bising pendengaran) yaitu bising yang disebabkan oleh frekuensi

bunyi antara 31,5-8,00 Hz.


Impuls noise (impact noise = bising impulsive) yaitu bising yang terjadi akibat
adanya bunyi yang menyentak, missal pukulan palu, ledakan meriam, tembakan
bedil.
Selanjutnya dengan ukuran intensitas bunyi atau decibel ini dapat ditentukan

apakah bunyi itu bising atau tidak. Dari ukuran-ukuran ini dapat diklasifikasikan
seberapa jauh bunyi-bunyi di sekitar kita dapat diterima/dikehendaki atau tidak
dikehendaki/bising.

Jenis bunyi

Skala Intensitas Desibel Batas Dengar


Tertinggi

Halilintar
Meriam
Mesin Uap
Jalan yang ramai
Pluit
Kantor gaduh
Radio
Rumah gaduh
Kantor pada umumnya
Rumah tenang
kantor perorangan
Sangat tenang, suara daun jatuh
Tetesan air

120 DB
110 DB
100 DB
90 DB
80 DB
70 DB
60 DB
50 DB
40 DB
30 DB
20 DB
10 DB

Menurut SK Dirjen P2M dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman


Departemen Kesehatan RI Nomor 70-1/PD.03.04. Lp. (Petunjuk Pelaksanaan
Pengawasan Kebisingan yang Berhubungan dengan Kesehatan Tahun 1992). Tingkat
kebisingan diuraikan sebagai berikut :

Tingkat kebisingan sinambung setara (Equivalent Contiuos Niose Level


Leq) adalah tingkat kebisingan terus menerus (steady noise) dalam ukuran
dBA, berisi energi yang sama dengan energi kebisingan terputus-putus dalam

satu periode atau interval waktu pengukuran


Tingkat kebisingan yang dianjurkan dan maksimum yang diperbolehkan
adalah rata-rata nilai modus dari tingkat kebisingan pada siang, petang, dan

malam hari.
Tingkat ambient kebisingan (Backgorund noise level) atau tingkat latar
belakang kebisingan adalah rata-rata tingkat suara minimum dalam keadaan
tanpa gangguan kebisingan pada tempat dan saat pengukuran dilalukan, jika
diambil nilainya dari distribusi statistic adalah 95% atau L-95.
Kebisingan mempengaruhi kesehatan antara lain dapat menyebabkan

kerusakan pada indera pendengaran sampai kepada ketulian. Dari hasil penelitian
diperoleh bukti bhwa intensitas bunyi yang dikategorikan bising dan yang
mempengaruhi kesehatan (pendengaran) adalah diatas 60 dB. Oleh sebab itu para
karyawan yang bekerja di pabrik dengan intensitas bunyi mesin diatas 60 dB maka
harus dilengkapi dengan alat pelindung (penyumbat) telinga demi mencegah
gangguan pendengaran.
Disamping itu, kebisingan juga dapat mengganggu komunikasi. Dengan
suasana yang bising memaksa pekerja berteriak di dalam berkomunikasi dengan
pekerja lain. Kadang-kadang teriakan atau pembicaraan yang keras ini dapat
menimbulkan salah komunikasi (miss communication) atau salah persepsi terhadap
orang lain.
Oleh karena sudah biasa berbicara keras di lingkungan kerja sebagai akibat
lingkungan kerja yang bising ini, maka kadang-kadang di tengah-tengah keluarga
juga terbiasa berbicara keras. Bisa jadi timbul salah persepsi di kalangan keluarga

karena dipersepsikan sebagai sikap marah. Lebih jauh kebisingan yang terus
menerus dapat mengakibatkan gangguan

BAB III

HASIL
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA