Anda di halaman 1dari 2

Antropologi dan Sejarah

April 13, 2011 by Sri Fitri Ana in TEORI ANTROPOLOGI 2.


Antropologi dan sejarah di dalamnya berisi berbagai pandangan tentang pengertian sejarah
dan penjelasan budaya. Berbagai tokoh ahli mempunyai penjelasan yang berbeda.
Frans Boas
Menganut aliran historis particularis. Menurut pendapatnya sejarah mengacu pada prosesproses dinamik yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Historis dalam hal ini walaupun
dipengaruhi oleh hal yang tidak ada kaitannya dengan dinamika masyarakat itu sendiri.
Kebudayaan hanya dapat dipahami sebagai hasil perkembangan sejarah (historical growth).
Rangkaian unik apa yang menjadikan situasi budaya yang dapat ditemui saat ini. Tetapi
masalahnya bila sebuah kejadian dikatakan unik, maka kejadian tersebut tidak dapat
dipahami dengan mengacu pada kejadian-kejadian yang berada dalam kategori yang sama.
Selain itu, data yang diperlukan tidak selalu dapat diperoleh.
Oleh karena itu, menurut Frans Boas, perlu data dari science yang melihat keserupaan dan
keteraturan dalam proses-proses yang berlangsung. Sejarah memperlihatkan apa yang
dihadapi oleh suatu kebudayaan pada waktu-waktu tertentu, tetapi tidak memperlihatkan
bagaimana semua itu diterima atau dimodifikasi. Sejarah adalah necessary condition untuk
penjelasan budaya, tetapi tidak berupa sufficient condition. Penjelasan budaya terdiri dari
history dan science.
Lesli White
Menganut aliran evolusi universal. Menurutnya, sejarah memerhatikan kejadian-kejadian dari
aspek waktu (kronologi). Penjelasan budaya menyangkut 3 hal :
1. Analisis evolusi, yang dilakukan bila perhatian ada pada kemunculan bentuk-bentuk
(forms) baru dari yang lama. Misalnya pendapat yang mengacu pada Marcel Mauss dan
Emile Durkheim, aliran strukturalis, tentang bagaimana masyarakat muncul dari kepercayaan
terhadap totem, kategori-kategori yang muncul dari kepercayaan.
2. Analisis formal-fungsional, yang dilakukan bila ingin mempelajari proses dan struktur,
yang satu mendukung atau mempengaruhi yang lainnya. Misalnya hubungan antara peran dan
status antar pranata.
3. Analisis sejarah, yang dilakukan bila perhatian ada pada kemunculan satu kejadian,
pihak-pihak yang berperan.
Semua bentuk analisis adalah perlu (necessary condition) dalam penjelasan budaya. Lesli
White ingin mengetahui semua evolusi masyarakat di dunia (universal evolution).
Alfred L. Kroeber

Menurut pendapat Kroeber, perhatian sejarah bukan pada urutan-urutan kejadian dalam kurun
waktu, melainkan pada descriptive integratiom, yakni setiap gejala diperlakukan utuh,
tidak dipilah-pilah sebagaimana dapat dilakukan oleh science yang positivist. Misalnya
dalam penelitian survey, pertanyaan dari permasalahan penelitian, variabelnya, sudah
ditentukan peneliti sebelumnya. Seharusnya kita tidak fokus pada sesuatu yang kita anggap
penting, padahal oleh masyarakat tidak penting, dan yang penting menurut mereka tidak
tercakup dalam penelitian kita.
Kroeber menggunakan pendekatan konfigurasi, yang dalam penelitian kita menemukan
susunan-susunan kejadian yang merupakan manifestasi sebuah tatanan atau sebuah kode.
Filsafat, dalam melihat sesuatu dengan menggunakan hubungan sebab akibat, yaitu suatu
kejadian terjadi karena sebab peristiwa yang lain. Kroeber tidak melihat urutan kejadian,
tetapi utuh, dan dilihat kaitannya dengan kejadian lain. Hubungan analisis sejarah bertujuan
untuk menemukan pola-pola. Misalnya saja seorang pemimpin yang naik tahta pada waktu
krisis dan menimbun kekayaan, kemudian diminta turun dan pada akhirnya rakyat sendiri
yang kebingungan karena terjadi kekosongan kekuasaan. Hal tersebut merupakan konfigurasi
kejadian, tidak hanya terjadi pada satu negara, tetapi pada masyarakat manapun.
Pandangan mengenai sejarah :
1. Rangkaian kejadian yang unik, yang harus di ungkap untuk setiap kasus yang dikaji,
sejarah tidak memberikan keseluruhan penjelasan, tetapi harus dilengkapi.
2. Rangkaian kejadian, tetapi tidak harus terkait dengan urutan waktu. Sejarah adalah
upaya mempertalikan berbagai kejadian sehingga tampak pola atau sistem.
Descriptive integration merupakan tujuan tersendiri.
3. Kejadian-kejadian yang berulang-ulang.
4. Tidak relevan, tidak sesuai dengan antropologi. Misalnya pendekatan kognitif, aspek
sejarah tidak ada sama sekali yang penting analisis kategorisasi manusia.