Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angka kecelakaan lalu lintas yang semakin meningkat lebih sering disebabkan
oleh kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan perlengkapan berkendaran
dan mematuhi peraturan lalu lintas. Selain itu jumlah kendaraan yang bertambah
banyak memadati jalan sehingga bisa memicu terjadinya kecelakaan tersebut. Salah
satu akibat dari kecelakaan lalu lintas adalah fraktur. Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas pada stuktur tulang, patahan tadi mungkin tidak lebih suatu retakan,
biasanya patahan tulang tersebut lengkap dengan fragmen fragmen tulangnya
bergeser. Jika kulit di atasnya masih utuh di sebut fraktur tertutup sedangkan salah
satu rongga tubuh tertembus di sebut fraktur tertbuka. Salah satu penyebab fraktur
adalah adanya tekanan atau hantaman yang sangat keras dan di terima secara
langsung oleh tulang ( Appley,1995). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes RI tahun 2007 di
Indonesia terjadi kasus fraktur yang disebabkan karena cedera antara lain karena
kecelakaan lalu lintas, jatuhdan trauma benda tajam/tumpul. Dari 20.829 kasus
kecelakaan lalu lintas, yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang (8,5%). Dari
45.989 peristiwa terjatuh yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang (3,8%). Dari
14.127 trauma benda tajam/tumpul yang mengalami fraktur sebanyak 236 orang
(1,7%) (Depkes RI,2007).
Fraktur colles adalah fraktur antebrachii yang khas, fraktur metafisis distal
radius dengan jarak kurang lebih 2,5cm dari permukaan sendi distal radius, dislokasi
fragmen distalnya kearah posterior/dorsal, subluksasi sendi radioulnar distal, avulsi
dari prosesus stiloideus ulna (Mansjoer 2000). Tulangradius sangat rentan terhadap
cedera baik sebagai fraktur ligament atau intra-artikular, dengan atau tanpa
subluksasi atau dislokasi. Dalam kasus penanganan pada kondisi fraktur dibedakan
menjadi 2 yaitu metode konservative dan operatif. Metode konservative

menggunakan OREF (Open Reduction External Fixation) yaitu dengan fiksasi yang
dipasang di luar tubuh/ anggota gerak yang cedera (gips, spalk, bandage, dll),
sedangkan metode operative dengan ORIF (Open Reduction Internal Fixation) yaitu
penggunaan fiksasi yang dipasang di dalam tubuh dapat berupa plat and screws, nail,
narrow, whire, dll).
Dalam kasus fraktur, sebenarnya terdapat proses alam untuk menyatukan
tulang yang patah menjadi sambung kembali dan tidak harus dilakukan immobilisasi,
namun tujuan dari immobilisasi adalah untuk meringankan nyeri, memastikan bahwa
penyatuan terjadi dalam posisi baik sesuai dengan bentuk semula, memungkinkan
gerakan lebih awal, dan mengembalikan fungsi (Appley, 2005). Akibat yang
ditimbulkan dari fraktur colles salah satunya adalah stiffness wrist joint. Immobilisasi
yang lama menggunakan fiksasi eksternal GIPS pada sendi wrist dapat menyebabkan
stiffnessjoint atau kaku sendi, stiffness atau kaku sendi tidak hanya pada sendi
wristnya saja namun dapat mengenai sendi-sendi yang berada pada distal sendi
wristnya

seperti

Metacarpophalangeal,

proksimal

interphalang,

dan

distal

interphalang. Kekakuan sendi terjadi karena oedem dan fibrosis pada kapsul, ligamen
dan otot di sekitar sendi atau perlekatan jaringan lunak satu dengan yang lain maupun
dengan tulang yang berada di bawahnya. Hal ini diperburuk dengan immobilisasi
yang lama dimana sendi tidak dilakukan latihan untuk memulihkan gerakan (Appley,
1995).
Pergelangan tangan merupakan alat gerak yang sering digunakan untuk
melakukan aktivitas sehari-hari. Dalam fraktur ini jika keterlambatan mendapatkan
penanganan akan mengalami beberapa masalah yang akan menganggu aktifitas
fungsional pada penderita. Fisioterapi sebagai salah satu tenaga medis mempunyai
peran yang sangat penting dalam mengatasi permasalahan yang ditimbulkan dari
tindakan operasi yang dilakukan. Dalam hal ini fisioterapi berperan penting untuk
mengurangi nyeri dan meningkatkan lingkup gerak sendi penderita agar tidak terjadi
keterbatasan gerak, deformitas dan mengembalikan aktifitas fungsional pada
penderita.

1.2 Rumusan Masalah


1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
1.5 Ruang Lingkup