Anda di halaman 1dari 29

AUDIT DENGAN TUJUAN TERTENTU

MAKALAH AUDIT KEUANGAN NEGARA

Disusun Oleh :
Kelompok III Kelas STAR BPKP II AP-1
Hari FDay
Nofria Melsi
Hari Purnama Kini

Pengajar :
Dr. H. Yuskar, SE, MA, Ak. CA
Dr.H. Cris Kuntadi, SE, MM, CA, CPA, Ak.

JURUSAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN


PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS ANDALAS

2014
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum. Wr.Wb
Puji Syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas
rahmat-Nya maka Penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah
yang berjudul Audit Dengan Tujuan Tertentu. Penulisan makalah ini
merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Audit Keuangan Negara.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada dosen mata kuliah Bapak Dr. H. Yuskar, S.E., MA., Ak. CA dan
Bapak Dr. H. Cris Kuntadi, SE., MM., CA, CPA, Ak yang telah membantu
dalam penyelesaian penyusunan ini.
Dalam penulisan makalah ini, penulis merasa masih banyak
terdapat

kekurangan

baik

pada

teknis

penulisan

maupun

materi,

mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan
saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat dan
menambah pengetahuan khususnya bagi penulis dan pembacanya.
Wassalamualaikum.Wr.W
b.

Padang, April 2014


Penulis

PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU


1. Latar Belakang
Dinamika masyarakat saat ini yang semakin kritis membuat
penyelenggaraan negara semakin dituntut menunjukan transparansi
dan akuntabilitasnya. Transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan
negara dapat dilakukan dengan pelaporan berbagai program dan
kegiatan pemerintah serta hasil hasilnya. Agar semakin dipercaya,
laporan dari pemerintah ini terlebih dahulu diperiksa oleh instansi
berwenang, dimulai dari pemeriksaan oleh pengawas internal seperti
Inspektorat daerah, kementrian, dan lembaga, sampai pengawas
eksternal seperti Badan Pemeriksa Keuangan.
Namun, untuk menunjukan akuntabiltitas penyelenggaraan
negara berikut sumber daya-sumber daya yang digunakan, tidak
cukup hanya dengan pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah
saja. Berbagai aspek operasional dan kegiatan pemerintah juga
memerlukan evaluasi dan pemeriksaan. Berbagai aspek lain yang
perlu di evaluasi adalah pencapaian hasil, efektifitas, efisiensi,
ketaatan terhadap aturan dan hukum, penyelewengan keuangan
negara,

serta

berbagai

dugaan

pelanggaran

lainnya

dalam

penyelenggaraan negara.
Agar

pemeriksaan

tersebut

dapat

berjalan

sesuai

yang

diharapkan, maka telah dikeluarkan pedoman dan standar bagi aparat


pemeriksa/pengawasan dalam menjalankan tugasnya. Salah satu
pedoman

yang

dikeluarkan

tersebut

adalah

Peraturan

Badan

Pemeriksa Keuangan (BPK) Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Standar


Pemeriksaan

Keuangan

Negara

(SPKN).

Aturan

ini

merupakan

pedoman bagi BPK dan instansi lainnya yang melakukan pemeriksaan


atas nama BPK, serta dapat juga diterapkan sebagai panduan bagi
instansi pemerintah lainnya dalam menetapkan aturan pemeriksaan.

Peraturan

BPK

Nomor

Tahun

2007

ini

merupakan

penyempurnaan dari standar audit pemerintahan (SAP) 1995 yang


dirasa tidak dapat memenuhi tuntutan dinamika masa kini. Terlebih
lagi sejak adanya reformasi konstitusi di bidang pemeriksaan maka
untuk memenuhi amanat Pasal 5 Undang-undang Nomor 15 Tahun
2004

tentang

Pemeriksaan

Pengelolaan

dan

Tanggung

Jawab

Keuangan Negara dan Pasal 9 ayat (1) huruf e Undang-undang Nomor


15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, BPK menyusun
standar pemeriksaan yang dapat menampung hal tersebut. Dengan
penerapan standar pemeriksaan ini diharapkan hasil pemeriksaan BPK
dapat lebih berkualitas yaitu memberikan nilai tambah yang positif
bagi pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Selanjutnya
akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat
Indonesia seluruhnya.
Standar audit dengan tujuan tertentu diatur dalam Keputusan
Kepala BPK ini. Standar tersebut mencakup standar umum, standar
pelaksanaan

pemeriksaan

keuangan

dan

standar

pelaporan

pemeriksaan keuangan. Dalam makalah ini kami membandingkan


praktek

penyusunan

laporan

hasil

pemeriksaan

dengan

tujuan

tertentu dengan ketentuan yang terdapat pada SPKN yang diterbitkan


BPK.

2. Kajian Teori
a. Pengertian dan Jenis Pemeriksaan (audit)
Menurut Peraturan BPK No. 1 Tahun 2007 tentang SPKN Pasal 1
ayat 5: Pemeriksaan adalah proses identifikasi masalah, analisis,
dan

evaluasi

profesional

yang

dilakukan secara

berdasarkan

kebenaran, kecermatan,

standar
kredibilitas,

independen,

pemeriksaan,
dan

objektif,

dan

untuk menilai

keandalan

informasi

mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.


Lampiran 1 Pendahuluan SPKN Paragraf 12 menyatakan: Setiap
pemeriksaan dimulai dengan penetapan tujuan dan penentuan jenis

pemeriksaan yang akan dilaksanakan serta standar yang harus diikuti


oleh pemeriksa. Jenis pemeriksaan sebagaimana diuraikan dalam
Standar Pemeriksaan ini, adalah: pemeriksaan keuangan, pemeriksaan
kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu
Dalam Pendahuluan SPKN masing-masing jenis pemeriksaan
dijelaskan sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Keuangan
Pemeriksaan
keuangan.

keuangan

Pemeriksaan

adalah

pemeriksaan

keuangan

tersebut

atas

laporan

bertujuan

untuk

memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance)


apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, dalam
semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif
selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Pemeriksaan Kinerja
Pemeriksaan

kinerja

adalah

pemeriksaan

atas

pengelolaan

keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi


dan

efisiensi

melakukan

serta

pemeriksaan

pemeriksaan

kinerja,

aspek

efektivitas.

pemeriksa

juga

Dalam
menguji

kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan


serta pengendalian intern.
3. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu adalah pemeriksaan yang
bertujuan untuk memberikan simpulan atas suatu hal yang
diperiksa. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dapat bersifat:
eksaminasi (examination), reviu (review), atau prosedur yang
disepakati (agreed-upon procedures ). Pemeriksaan dengan tujuan
tertentu meliputi antara lain pemeriksaan atas hal-hal lain di
bidang keuangan, pemeriksaan investigatif, dan pemeriksaan atas
sistem pengendalian intern.

Sedangkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan


membagi jenis audit menurut tujuan pelaksanaan audit sebagai
berikut:
1. Audit Keuangan
Audit keuangan adalah audit atas laporan keuangan. Audit
(pemeriksaan) keuangan bertujuan untuk memberikan informasi
kepada pihak-pihak yang berkepentingan tentang kesesuaian
antara laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen (dalam
hal ini pemerintah) dengan standar akuntansi yang berlaku (dalam
hal ini standar akuntansi pemerintahan/SAP). Hasil audit laporan
keuangan adalah opini (pendapat) audit mengenai kesesuaian
laporan keuangan dengan SAP.
2. Audit Kinerja/Audit Operasional
Audit (pemeriksaan) kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan
keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi
dan efisiensi serta pemeriksaan aspek perundang-undangan serta
pengendalian intern. Audit kinerja efektivitas. Dalam melakukan
audit kinerja, auditor juga menguji kepatuhan terhadap ketentuan
menghasilkan temuan, simpulan dan rekomendasi.
Kriteria yang digunakan dalam audit kinerja adalah keekonomisan,
keefisienan dan keefektifan.
3. Audit dengan Tujuan tertentu
Audit (pemeriksaan) dengan tujuan tertentu adalah pemeriksaan
yang

tidak

termasuk

dalam

pemeriksaan

keuangan

dan

pemeriksaan kinerja/audit operasional. Sesuai dengan definisinya,


jenis audit ini dapat berupa semua jenis audit selain audit
keuangan dan audit
operasional. Dengan demikian dalam jenis audit tersebut termasuk
diantaranya audit ketaatan dan audit investigatif.

b. Perbedaan antara Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu dan


Pemeriksaan Kinerja
Lampiran VII SPKN tentang Standar Pemeriksaan Nomor 6
Standar Pelaksanaan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu Paragraf 02
Apabila tujuan pemeriksaan adalah untuk menentukan apakah suatu
hal telah sesuai atau tidak sesuai dengan suatu kriteria, pemeriksa
harus melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Apabila tujuan
pemeriksaan adalah untuk menentukan apakah suatu hal telah sesuai
atau tidak sesuai dengan suatu kriteria dan memberikan rekomendasi
atau perbaikan atas hal tersebut maka pemeriksa harus melakukan
pemeriksaan kinerja.

c. Penggunaan Standar Atestasi IAI pada Pemeriksaan Dengan


Tujuan Tertentu
Standar Pemeriksaan memberlakukan setiap standar pekerjaan
lapangan pada standar atestasi yang di tetapkan IAI kecuali ditentukan
lain. (Paragraf 03)
Dalam Paragraf 04 dinyatakan bahwa:
Untuk pemeriksaan dengan tujuan tertentu, Standar Pemeriksaan
memberlakukan dua pernyataan standar pekerjaan lapangan
perikatan/penugasan atestasi SPAP yang ditetapkan IAI berikut ini:
a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika
digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
b. Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar
rasional bagi simpulan yang dinyatakan dalam laporan.

d. Komunikasi Pemeriksa
Paragraf 06

Pernyataan standar pelaksanaan tambahan

pertama adalah: Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi


yang berkaitan dengan sifat, saat, dan lingkup

pengujian serta

pelaporan

akan

yang

direncanakan

atas

hal

yang

dilakukan

pemeriksaan, kepada manajemen entitas yang diperiksa dan atau


pihak yang meminta pemeriksaan .
Paragraf 08 Pemeriksa harus menggunakan pertimbangan
profesionalnya

untuk

menentukan

bentuk,

isi

dan

intensitas

komunikasi. Bentuk komunikasi tertulis adalah bentuk yang lebih baik.


Pemeriksa dapat mengkomunikasikan informasi yang dipandang perlu
dengan memuatnya dalam program pemeriksaan. Komunikasi yang
dilakukan pemeriksa harus didokumentasikan.
Paragraf 11
Pemeriksa harus mengkomunikasikan tanggung jawabnya dalam
penugasan pemeriksaan, antara lain kepada:
a. Manajemen entitas yang diperiksa.
b. Lembaga/badan yang memiliki fungsi pengawasan terhadap
manajemen atau pemerintah seperti DPR/DPRD,
dewan
komisaris, komite audit, dewan pengawas.
c. Pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab terhadap
hal yang diperiksa.
Paragraf 12 Pemeriksa sebaiknya melakukan juga komunikasi
dengan pemeriksa/pengawas dan/atau manajemen entitas yang
diperiksa. Komunikasi tersebut

dapat berupa

pemahaman atas

informasi yang terkait dengan obyek pemeriksaan dan pengendalian


intern entitas yang diperiksa
.
e. Pertimbangan terhadap Hasil Pemeriksaan sebelumnya
Paragraf 15 Pernyataan standar pelaksanaan tambahan kedua
adalah: Pemeriksa harus mempertimbangkan

hasil pemeriksaan

sebelumnya serta tindak lanjut atas rekomendasi yang signifikan dan


berkaitan dengan hal yang diperiksa.
Paragraf 16

Pemeriksa harus memperoleh informasi dari

entitas yang diperiksa untuk mengidentifikasi pemeriksaan keuangan,


pemeriksaan kinerja, pemeriksaan dengan tujuan tertentu, atau studi
lain yang sebelumnya telah dilaksanakan yang berkaitan dengan hal
yang diperiksa.

Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi tindak lanjut

yang

telah dilakukan berkaitan dengan temuan dan rekomendasi yang


signifikan. Dengan memahami tindak lanjut atas rekomendasi yang
signifikan,

pemeriksa

dapat

mengevaluasi

hal

yang

diperiksa.

Pemeriksa harus mengguna kan pertimbangan profesionalnya dalam


menentukan:
1) periode yang harus diperhitungkan,
2) lingkup pekerjaan pemeriksaan yang diperlukan untuk
memahami tindak lanjut temuan signifikan yang mempengaruhi
pemeriksaan, dan
3) pengaruhnya
terhadap
penilaian
risiko
dan
prosedur
pemeriksaan dalam perencanaan pemeriksaan.
Paragraf 17

Besarnya manfaat yang diperoleh

dari

pemeriksaan tidak terletak pada temuan pemeriksaan yang dilapor


kan atau rekomendasi yang dibuat, tetapi terletak pada

efektivitas

penyelesaian yang ditempuh oleh entitas yang diperiksa. Manajemen


entitas yang

diperiksa bertanggung jawab untuk menindaklanjuti

rekomendasi serta
sistem

informasi

menciptakan dan memelihara suatu proses dan


untuk

memantau

status

tindak

lanjut

rekomendasi pemeriksa dimaksud. Jika manajemen tidak


cara

semacam

manajemen

itu,

pemeriksa

memantau

status

wajib
tindak

memiliki

merekomendasikan
lanjut

atas

atas
agar

rekomendasi

pemeriksa.
Paragraf

18

Pemeriksa

perlu

memperhatikan

bahwa

berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,


manajemen dapat memperoleh sanksi bila tidak melakukan tindak
lanjut

atas

rekomendasi

perbaikan

sebagai

hasil

sebelumnya. Oleh sebab itu, pemeriksa harus


manajemen

telah

menyiapkan

secara

memadai

pemeriksaan

menilai apakah
suatu

sistem

pemantauan tindak lanjut pemeriksaan yang dilakukan oleh berbagai


pemeriksa, baik intern maupun ekstern, pada entitas tersebut. Selain
itu, pemeriksa perlu memastikan bahwa seluruh lini manajemen
entitas telah mengetahui dan memantau hasil pemeriksaan yang
terkait

dengan

unit

dibawah

kendalinya.

Pemantauan

tersebut

dilakukan oleh manajemen, dan bukan hanya oleh pengawas entitas


yang bersangkutan.
f. Pengendalian Intern
Pernyataan standar pelaksanaan tambahan ketiga adalah:
Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam
bentuk eksaminasi dan merancang prosedur untuk mencapai tujuan
pemeriksaan, pemeriksa harus memperoleh pemahaman
memadai

tentang

pengendalian

intern

yang

yang sifatnya material

terhadap hal yang diperiksa.


Paragraf 20 Dalam merencanakan suatu Pemeriksaan Dengan
Tujuan

Tertentu

dalam

bentuk

memperoleh suatu pemahaman

eksaminasi,
atas

pemeriksa

pengendalian

harus

intern yang

berkaitan dengan hal yang diuji yang bersifat keuangan maupun nonkeuangan. Pengendalian intern tersebut terkait dengan:
a) Efektivitas dan efisiensi kegiatan, termasuk penggunaan sumber
daya entitas.
b) ingkat

keandalan

pelaporan

keuangan,

termasuk

laporan

pelaksanaan anggaran dan laporan lain, baik untuk intern maupun


ekstern.
c) Kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.
d) Pengamanan aktiva.
g.

Merancang
Penyimpangan

Pemeriksaan
dari

untuk

Ketentuan

Mendeteksi
Peraturan

Terjadinya

Perundangan-

undangan; Kecurangan (Fraud), serta Ketidakpatutan (Abuse)


Pernyataan standar pelaksanaan tambahan keempat adalah:
a.

Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam


bentuk eksaminasi,

pemeriksa harus merancang pemeriksaan

dengan tujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai guna


mendeteksi

kecurangan

dan

penyimpangan

dari

ketentuan

peraturan perundang-undangan yang dapat berdampak material


terhadap hal yang diperiksa.
b.

Dalam merencanakan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu dalam


bentuk reviu atau prosedur yang disepakati, pemeriksa harus
waspada

terhadap

situasi

atau

peristiwa

yang

mungkin

merupakan indikasi kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan


peraturan perundang-undangan.

Apabila ditemukan indikasi

kecurangan dan/atau penyimpangan dari ketentuan peraturan


perundang-undangan yang secara material mempengaruhi hal
yang diperiksa, pemeriksa harus menerapkan prosedur tambahan
untuk memastikan bahwa kecurangan dan/atau penyimpangan
tersebut telah terjadi dan menentukan dampaknya terhadap hal
yang diperiksa.
c.

Pemeriksa harus waspada terhadap situasi dan/atau peristiwa


yang

mungkin

merupakan

indikasi

kecurangan

dan/atau

ketidakpatutan, dan apabila ditemukan indikasi tersebut serta


berpengaruh signifikan terhadap pemeriksaan, pemeriksa harus
menerapkan

prosedur

tambahan

untuk

memastikan

bahwa

kecurangan dan/atau ketidakpatutan tersebut telah terjadi dan


menentukan dampaknya terhadap hasil pemeriksaan.
Unsur-Unsur Temuan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
Temuan

pemeriksaan

dengan

tujuan

tertentu,

seperti

kelemahan dalam pengendalian intern, kecurangan, penyimpangan


dari ketentuan peraturan perundang-undangan atau ketidakpatutan,
pada umumnya mengandung unsur-unsur kondisi, kriteria, dan akibat,
juga sebab dari masalah yang ditemukan. Akan tetapi, suatu temuan
tidak harus mengandung

unsur akibat dan atau sebab sepanjang

temuan tersebut memenuhi tujuan pemeriksaan.


h. Dokumentasi Pemeriksaan
Pernyataan standar pelaksanaan tambahan kelima adalah:
Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumentasi

pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja pemeriksaan. Dokumentasi


pemeriksaan yang terkait dengan

perencanaan, pelaksanaan, dan

pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk


memungkinkan
mempunyai

pemeriksa

hubungan

yang

berpengalaman

dengan

pemeriksaan

tetapi

tidak

tersebut

dapat

memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan tersebut dapat menjadi


bukti yang mendukung pertimbangan dan simpulan pemeriksa.
Penyusunan dokumentasi pemeriksaan harus cukup terinci
untuk memberikan pengertian yang jelas tentang tujuan, sumber dan
simpulan yang dibuat oleh Pemeriksa, dan harus diatur sedemikian
rupa sehingga jelas hubungannya dengan temuan dan simpulan yang
ada dalam laporan hasil pemeriksaan.
Dokumentasi pemeriksaan memungkinkan dilakukannya reviu
terhadap

kualitas

pelaksanaan

pemeriksaan,

yaitu

dengan

memberikan dokumentasi pemeriksaan tersebut kepada pereviu, baik


dalam bentuk dokumentasi tertulis maupun dalam format elektronik.
Organisasi pemeriksa harus menjaga dengan baik dokumentasi
yang berkaitan dengan setiap pemeriksaan. Organisasi pemeriksa
harus mengembangkan kebijakan dan kriteria yang jelas guna
menghadapi situasi bila ada permintaan dari pihak ekstern yang
meminta akses terhadap dokumentasi, khususnya yang berhubungan
dengan situasi di mana pihak ekstern mencoba untuk mendapatkanny
a secara tidak langsung kepada

pemeriksa mengenai hal-hal yang

tidak dapat mereka peroleh secara langsung

dari entitas yang

diperiksa. Kebijakan dimaksud perlu mempertimbangkan ketentuan


peraturan

peru

ndang-undangan

yang

berlaku

bagi

organisasi

pemeriksa atau entitas yang diperiksa.


i. Pernyataan Standar Pelaporan Pemeriksaan dengan Tujuan
Tertentu.

Standar Pemeriksaan memberlakukan setiap standar pelaporan


pada standar atestasi yang ditetapkan IAI kecuali ditentukan lain.
Untuk

pemeriksaan

dengan

tujuan

tertentu,

Standar

Pemeriksaan memberlakukan empat pernyataan standar pelaporan


perikatan/penugasan atestasi dalam SPAP yang ditetapkan IAI sebagai
berikut:
a) Laporan

harus

menyebutkan

asersi

yang

dilaporkan

dan

menyatakan sifat perikatan atestasi yang bersangkutan.


b) Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai apakah
asersi disajikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau
kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat pengukur.
c) Laporan

harus

menyatakan

semua

keberatan

praktisi

yang

signifikan tentang perikatan dan penyajian asersi.


d) Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi yang
disusun berdasarkan kriteria yang disepakati atau berdasarkan
suatu perikatan untuk melaksanakan prosedur yang disepakati
harus berisi suatu pernyataan

tentang keterbatasan pemakaian

laporan hanya oleh pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau


prosedur tersebut.
Standar Pemeriksaan menetapkan standar pelaporan tambahan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu sebagai berikut:
a. Pernyataan kepatuhan terhadap Standar Pemeriksaan (lihat
paragraf 05 s.d. 07).
b. Pelaporan
kecurangan,

tentang

kelemahan

penyimpangan

dari

pengendalian
ketentuan

intern,
peraturan

perundang-undangan serta ketidakpatutan (lihat paragraf 08


s.d. 15).
c. Pelaporan tanggapan dari pejabat yang bertanggung jawab
(lihat paragraf 16 s.d. 20).
d. Pelaporan informasi rahasia (lihat paragraf 21 s.d. 23).
e. Penerbitan dan pendistribusian laporan
(lihat paragraf 24 s.d. 29).

hasil pemeriksaan

j. Pernyataan Kepatuhan Terhadap Standar Pemeriksaan


Pernyataan standar pelaporan tambahan pertama adalah:
Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa pemeriksaan
dilakukan sesuai dengan Standar Pemeriksaan.
Pernyataan standar ini mengacu kepada Standar Pemeriksaan
yang berlaku, yang harus diikuti oleh pemeriksa selama melakukan
pemeriksaan.

Jika

pemeriksa

tidak

dapat

mengik

uti

Standar

Pemeriksaan, pemeriksa dilarang untuk menyatakan demikian. Dalam


situasi demikian, pemeriksa harus mengungkapkan alasan tidak dapat
diikutinya

standar

tersebut

dan

dampaknya

terhadap

hasil

pemeriksaan.
Standar Pemeriksaan memberlakukan standar atestasi yang
ditetapkan

oleh

IAI

dengan

beberapa

penyesuaian

pernyataan.

Pernyataan standar yang tercantum dalam Standar Pemeriksaan ini


merupakan standar tambahan. Apabila suatu pemeriksaan dengan
tujuan tertentu dilaksanakan sesuai dengan Standar Pemeriksaan ini,
maka pemeriksaan dengan tujuan tertentu tersebut dengan sendirinya
telah memenuhi standar atestasi yang ditetapkan oleh IAI.
K.

Pelaporan
Kepatuhan

Tentang

Kelemahan

Terhadap

Pengendalian

Ketentuan

Intern

Peraturan

dan

Perundang-

Undangan
Pernyataan
Laporan

Hasil

standar

pelaporan

Pemeriksaan

dengan

tambahan
tujuan

kedua
tertentu

adalah:
harus

mengungkapkan:
a. kelemahan pengendalian intern yang berkaitan dengan hal
yang diperiksa,
b. kepatuhan

terhadap

ketentuan

peraturan

undangan termasuk pengungkapan atas

perundang-

penyimpangan

administrasi, pelanggaran atas perikatan perdata, maupun

penyimpangan yang mengandung unsur tindak pidana yang


terkait dengan hal yang diperiksa,
c. ketidakpatutan yang material terhadap hal yang diperiksa.
Dalam melaporkan pengendalian intern, kepatuhan terhadap
ketentuan

peraturan

perundang-undangan

atau

ketidakpatutan,

pemeriksa harus menempatkan temuan pemeriksaan dalam perspektif


yang wajar. Untuk memberikan dasar bagi pengguna laporan hasil
pemeriksaan dalam mempertimbangkan kejadian dan konsekuensi
kondisi tersebut, hal-hal yang diidentifikasi harus dihubungkan dengan
hasil pemeriksaan secara keseluruhan, dan jika memungkinkan, dapat
dinyatakan dalam satuan mata uang. Sejauh memungkinkan, dalam
menyajikan temuan, pemeriksa harus mengembangkan unsur-unsur
kondisi, kriteria, akibat, dan sebab untuk membantu manajemen
entitas yang diperiksa atau pihak berwenang dalam memahami
perlunya mengambil tindakan perbaikan. Berikut ini adalah pedoman
dalam melaporkan unsur-unsur temuan:
a. Kondisi; memberikan bukti mengenai hal-hal yang ditemukan
oleh

pemeriksa

di

lapangan.

Pelaporan

lingkup

atau

kedalaman dari kondisi dapat membantu pengguna laporan


dalam memperoleh perspektif yang wajar.
b. Kriteria; memberikan informasi yang dapat digunakan oleh
pengguna laporan hasil pemeriksaan untuk mene ntukan
keadaan seperti apa yang diharapkan. Kriteria akan mudah di
pahami apabila

dinyatakan secara wajar, eksplisit, dan

lengkap, serta sumber dari kriteria dinyatakan dalam laporan


hasil pemeriksaan.
c. Akibat; memberikan hubungan yang

jelas dan logis untuk

menjelaskan pengaruh dari perbedaan antara ap a yang


ditemukan oleh pemeriksa (kondisi) dan apa yang seharusnya
(kriteria). Akibat lebih mudah dipahami bila dinyatakan secara
jela s, terinci, dan apabila memungkinkan, dinyatakan dalam

angka. Signifikansi dari akibat yang dilaporkan ditunjukkan


oleh bukti yang meyakinkan.
d. Sebab; memberikan bukti yang meyakinkan mengenai faktor
yang menjadi sumber perbedaan antara kondisi dan kriteria.
Dalam

melaporkan

mempertimbangkan

sebab,

apakah

pemeriksa

bukti

yang

ada

harus
dapat

memberikan argumen yang meyakinkan dan masuk akal


bahwa sebab yang diungkapkan meru pakan faktor utama
terjadinya perbedaan. Dalam situasi temuan terkait dengan
kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undang
an dimana tidak dapat ditetapkan dengan logis penyebab
temuan

ters

ebut,

pemeriksa

tidak

diharuskan

untuk

mengungkapkan unsur sebab ini.


Kelemahan Pengendalian Intern
Pemeriksa

harus

melaporkan

ling

kup

mengenai pengendalian intern dan kelemahan

pemeriksaannya
signifikan yang

ditemukan selama pemeriksaan. Apabila pemeriksa menemukan


kelemahan pengendalian intern yang tidak signifikan, pemeriksa harus
menyampaikan kelemahan tersebut dengan surat yang ditujukan
kepada manajemen entitas yang diperiksa. Jika pemeriksa sudah
menyampaikan hal tersebut, pemeriksa harus menyatakan demikian di
dalam laporan hasil pemeriksaan.
Dalam pemeriksaan dengan tujuan tertentu dapat terjadi
bahwa kelemahan signifikan dalam pengendalian intern merupakan
faktor yang mempengaruhi temuan dan simpulan pemeriksa.
Pemeriksa harus menjelaskan lingkup pengujian pemeriksaan
atas kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan hal yang diperiksa.
L.

Kepatuhan
undangan

terhadap

Ketentuan

Peraturan

Perundang-

Standar

Pemeriksaan

mengharuskan

pemeriksa

untuk

melaporkan kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan


perundang-undangan kepada pihak yang berwenang sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Dalam hal pemeriksa menyimpulkan bahwa ketidakpatuhan
atau pe-nyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan
telah terjadi atau kemungkinan telah terjadi, maka

BPK harus

menanyakan kepada pihak yang berwenang tersebut dan atau ke pada


penasehat hukum apakah laporan mengenai adanya informasi tertentu
tentang penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan
tersebut akan mengganggu suatu proses penyidikan atau proses
peradilan. Apabila laporan pemeriksaan akan mengganggu proses
penyidikan atau peradilan tersebut, BPK harus membatasi laporannya,
misalnya pada hal-hal yang telah diketahui oleh umum (masyarakat).
M. Pelaporan Tanggapan dari Pejabat yang Bertanggung Jawab
Pernyataan

standar

pelaporan

tambahan

ketiga

adalah:

Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya kelemahan dalam


pengendalian intern, kecurangan, penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan, dan ketidakpatutan, harus dilengkapi
tanggapan dari pimpinan atau pejabat yang bertanggung jawab pada
entitas yang diperiksa mengenai temuan dan simpulan serta tindakan
koreksi yang direncanakan.
Pemeriksa harus memuat tanggapan pejabat tersebut dalam
laporan hasil pemeriksaannya. Pemeriksa harus meminta pejabat
yang bertanggung jawab untuk memberikan tanggapan tertulis
terhadap temuan dan simpulan termasuk mengungkapkan tindakan
perbaikan yang direncanakan oleh manajemen entitas yang diperiksa.
Tanggapan yang diperoleh harus dievaluasi secara seimbang
dan obyektif. Tanggapan yang berupa suatu janji atau rencana untuk
tindakan perbaikan tidak boleh diterima sebaga i alasan untuk
menghilangkan temuan yang signifikan atau simpulan yang diambil.

Apabila tanggapan dari entitas yang diperiksa bertentangan


dengan temuan dan simpulan dalam laporan hasil pemeriksaan dan
menurut pemeriksa, tanggapan tersebut tidak

benar atau apabila

rencana tindakan perbaikannya tidak sesuai dengan temuan dan


simpulan, maka pemeriksa harus menyampaikan ketidaksetujuannya
atas tanggapan dan rencana tindakan perbaikan tersebut beserta
alasannya.

Ketidaksetujuan

tersebut

harus

disampaikan

secara

seimbang dan obyektif. Sebaliknya, pemeriksa harus memperbaiki


laporannya apabila pemeriksa berpendapat bahwa tanggapan tersebut
benar.
n. Pelaporan Informasi Rahasia
Pernyataan standar pelaporan tambahan keempat adalah:
Informasi

rahasia

perundang-undangan

yang

dilarang

untuk

oleh

diungkapkan

ketentuan
kepada

peraturan

umum

tidak

diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan. Namun laporan hasil


pemeriksaan

harus

mengungkapkan

sifat

informasi

yang

tidak

dilaporkan tersebut dan ketentuan peraturan perundang-undangan


yang menyebabkan tidak dilaporkannya informasi tersebut.
Informasi tertentu dapat dilarang untuk diungkapkan kepada
umum oleh ketentuan peraturan perundang-undangan. Informasi
tersebut mungkin hanya dapat diberikan kepada

pihak yang

berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan

mempunyai

kewenangan untuk mengetahuinya. Situasi lain yang berkaitan dengan


keamanan publik dapat juga mengakibatkan informasi tersebut
dilarang untuk diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan. Sebagai
contoh, informasi rinci tentang pengamanan komputer untuk suatu
program dapat dikeluarkan dari pelaporan publik guna mencegah
penyalahgunaan informasi tersebut. Dalam situasi tersebut, BPK dapat
menerbitkan satu laporan resmi yang berisi informasi di atas dan
mendistribusikannya kepada pihak yang berhak menerimanya sesuai
dengan

ketentuan

peraturan

perundang-undangan.

Apabila

memungkinkan, BPK dapat berkonsultasi dengan konsultan hukum


mengenai ketentuan permintaan atau keadaan yang menyebabkan

tidak

diungkapkannya

informasi

tertentu

dalam

laporan

hasil

pemeriksaan.
Pertimbangan

pemeriksa

mengenai

tidak

diungkapkannya

informasi tertentu tersebut harus mengacu kepada kepentingan


publik. Jika situasi mengharuskan penghilangan informasi tertentu,
pemeriksa harus mempertimbangkan apakah penghilangan tersebut
dapat mengganggu hasil pemeriksaan atau melanggar hukum. Jika
pemeriksa memutuskan untuk menghilangkan informasi tertentu,
pemeriksa harus menyatakan sifat informasi yang dihilangkan dan
alasan penghilangan tersebut.
o. Penerbitan dan Pendistribusian Laporan Hasil Pemeriksaan
Pernyataan

standar

pelaporan

tambahan

kelima

adalah:

Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan,


entitas yang diperiksa, pihak yang mempunyai kewenangan untuk
mengatur entitas yang diperiksa, pihak

yang bertanggung jawab

untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan kepa da pihak


lain yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan
sesuai dengan ketentuan peratu ran perundang-undangan yang
berlaku .
Laporan hasil pemeriksaan harus didistribusikan tepat waktu
kepada

pihak

yang

berkepentingan

sesuai

dengan

ketentuan

peraturan perundang-undangan. Namun dalam hal yang diperiksa


merupakan rahasia negara maka untuk tujuan keamanan atau
dilarang disampaikan kepada pihak-pihak tertentu atas dasar kete
ntuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pemeriksa dapat
membatasi pendistribusian laporan tersebut.
Walaupun SPAP meminta suatu laporan perikatan atestasi
untuk mengevaluasi suatu asersi berdasarkan kriteria yang disepakati
atau penerapan suatu prosedur yang disepakati harus memuat
pernyataan yang membatasi penggunaannya kepada pihak-pihak yang
telah menyepakati kriteria dan prosedur tersebut, tetapi pernyataan
tersebut tidak membatasi pendistribusian laporan.

Apabila akuntan publik atau pihak lain yang ditugasi untuk


melakukan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan, akuntan
publik atau pihak lain tersebut harus memastikan bahwa laporan hasil
pemeriksaan didistribusikan secara memadai. Jika akuntan publik
tersebut

ditugasi

pemeriksaannya,

untuk
maka

mendistribusikan

laporan

hasil

perikatan/penugasan

tersebut

harus

menyebutkan pihak yang harus menerima laporan hasil pemeriksaan


tersebut.
Apabila suatu pemeriksaan dihentikan sebelum berakhir, tetapi
pemeriksa tidak mengeluarkan laporan hasil pemeriksaan, maka
pemeriksa harus membuat catatan yang mengikhtisarkan hasil
pemeriksaannya sampai tanggal penghentian dan menjelaskan alasan
penghentian pemeriksaan. Pemeriksa juga harus mengkomunikasikan
secara tertulis alasan penghentian pemeriksaan tersebut kepada
manajemen

entitas

yang

diperiksa,

entitas

yang

meminta

pemeriksaan tersebut, atau pejabat lain yang berwenang.


Apabila akuntan publik atau
pemeriksaan

untuk

dan

atas

pihak lainnya yang melakukan

nama

BPK

berpendapat

bahwa

pemeriksaan harus dihentikan sebelum berakhir maka akuntan publik


atau pihak lain tersebut wajib mengkonsultasikan pendapatnya
tersebut

terlebih

dahulu

kepada

BPK.

Selanjutnya,

BPK

akan

memutuskan apakah pemeriksaan harus dilanjutkan atau dihentikan.

Kesesuian Pelaksanaan Audit dan Pelaporan Pada Audit dengan


tujuan Tertentu
Pada pembahasan ini Kami mengambil sampel LHP Audit investigasi

1) LAPORAN HASIL INVESTIGASI ATAS KASUS PT. BANK CENTURY


Tbk pada Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan
(LPS), Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), PT Bank
Century

Tbk,

dan

Instansi

Terkait

Lainnya

(Ringkasan

Eksekutif)
2) SPECIAL

INVESTIGATION

PARKING

SERVICES

CALIFORNIA

STATE UNIVERSITY, SAN BERNARDINO (Investigative Report


10-91 June 18, 2010)
I. LAPORAN HASIL INVESTIGASI ATAS KASUS PT. BANK CENTURY Tbk
pada Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS),
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), PT Bank Century
Tbk, dan Instansi Terkait Lainnya (Ringkasan Eksekutif
Standar Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu memberlakukan
empat

pernyataan

standar

pelaporan

perikatan/penugasan

atestasi dalam SPAP yang ditetapkan IAI sebagai berikut:


a) Laporan

harus

menyebutkan

asersi

yang

dilaporkan

dan

menyatakan sifat perikatan asersi yang bersangkutan.


Ada. Dimana dapat dilihat pada Pendahuluan halaman 1 (satu) yang
menyatakan bahwa:

Pemeriksaan Investigasi atas kasus PT Bank

Century Tbk (BC) dilakukan berdasarkan Undang-undang (UU) No.15


Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara dan UU No.15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Kenangan, serta memperhatikan Surat Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) No. PWf5487/DPRRI/DU2009 tanggal l September 2009
perihal Permintaan Audit Investigasif Pemeriksaan dengan Tujuan
Tertentu terhadap Bank Century. Sesuai dengan surat DPR tersebut,
pemeriksaan ini meliputi:
1) Dasar hukum, kriteria, dan proses pengambilan keputusan yang
digunakan pemerintah dalam menetapkan status Bank Century
yang berdampak sistemik;

2) Jumlah dan penggunaan Penyertaan Modal Sementara yang


telah diberikan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk
menyelamatkan Bank Century; dan
3) Status dan dasar hukum pengucuran dana setelah Peraturan
PemerintahPengganti Undang-Undang (Perppu) No.4 Tahun
2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (IPSK) ditolak
DPR.
b) Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai apakah
asersi disajikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau
kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat pengukur.
Ada. Ini dapat dilihat pada setiap paragraf terakhir setiap temuan.
Contoh, Pada halaman 4 yang menyatakan bahwa :
BI tidak menerapkan aturan dan persyaratan dalam pelaksanaan
akuisisi dan merger sebagaimana diatur dalam: (1) Surat Keputusan
(SK) Direksi BI No.32/SIIKEPIDIR tanggal 14 Mei 1999 tentang
Persyaratan dan Tata Cara Merger, Konsolidasi, dan Akuisisi Bank
Umum; (2) SK Direksi BI No.31/147/KEP/DIR tanggal 12 November
1998 tentang Kualitas Aktiva Produktif; dan 3) Peraturan Bank
Indonesia (PBI) No.2/1/PBI/2000 tanggal 14 Januari 2000 tentang
Penilaian

Kemampuan

dan

Kepatutan

(Fit

and

Proper

Test)

sebagaimana terakhir diubah dengan PBI No.5/25fPBI/2003 tanggal


10 November 2003.
c) Laporan

harus

menyatakan

semua

keberatan

praktisi

yang

signifikan tentang perikatan dan penyajian asersi.


Pada Laporan ini, Kami tidak menemukan keberatan praktisi yang
signifikan tentang perikatan dan penyajian asersi tersebut. Kami
tidak

bisa

berhubungan

memperoleh
Kerahasiaan,

LHP

lengkap

dimana

Kami

yang
hanya

kemungkinan
membahas

berdasarkan LHP ringkasan Eksekutif.


d) Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi yang
disusun berdasarkan kriteria yang disepakati atau berdasarkan
suatu perikatan untuk melaksanakan prosedur yang disepakati
harus berisi suatu pernyataan

tentang keterbatasan pemakaian

laporan hanya oleh pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau


prosedur tersebut.
Kami juga tidak menemukannya.

Pernyataan

Kepatuhan Terhadap Standar Pemeriksaan

Pernyataan standar pelaporan tambahan pertama adalah: Laporan


hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan
sesuai dengan Standar Pemeriksaan.
Ada. Ini dapat terlihat pada Pendahuluan hal. 2 yang menyatakan
bahwa Dalam pemeriksaan ini, BPK menggunakan Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh BPK tahun 2007.
Pernyataan standar pelaporan tambahan kedua adalah:
Laporan

Hasil

Pemeriksaan

dengan

tujuan

tertentu

harus

mengungkapkan:
a. kelemahan pengendalian intern yang berkaitan dengan hal yang
diperiksa,
Pada

Ringkasan eksekutif LHP ini Kami tidak

menemukan

Kelemahan Pengendalian Intern yang tersebut.


b. kepatuhan terhadap ketentuan
termasuk

pengungkapan

atas

peraturan perundang-undangan
penyimpangan

administrasi,

pelanggaran atas perikatan perdata, maupun penyimpangan yang


mengandung unsur tindak pidana yang terkait dengan hal yang
diperiksa,
Ada. Dimana dinyatakan disetiap butir temuan Pemeriksaan ini.
c. ketidakpatutan yang material terhadap hal yang diperiksa.
Ada, seperti salahsatunya terlihat pada Pembahasan temuan
halaman 4 (empat) yang menyatakan bahwa :
Pada tanggal 6 Desember 2004, BI memberikan persetujuan
merger atas ketiga bank tersebut. Pemberian persetujuan merger
tersebut dipermudah berdasarkan Catatan Direktur Direktorat

Pengawasan Bank 1/'DPWBI (SAT) kepada Deputi Gubernur/DpG


(AP) dan Deputi Gubernur Senior/DGS (AN) pada tanggal 22 Juli
2004. Bentuk kemudahan tersebut adalah: (1) SSB pada Bank CIC
yang semula dinilai macet oleh BI menjadi dinilai lancar sehingga
kewajiban pemenuhan setoran kekurangan modal oleh pemegang
saham pengendali (PSP) menjadi lebih kecil dan akhirnya CAR
seolah-olah memenuhi persyaratan merger; dan (2) Hasil Fir and
Proper Test ?'sementara atas pemegang saham (RAR) yang
dinyatakan tidak lulus, ditunda penilaiannya dan tidak diproses
lebih lanjut.
Sejauh memungkinkan, dalam menyajikan temuan, pemeriksa
harus mengembangkan unsur-unsur kondisi, kriteria, akibat, dan sebab
untuk membantu manajemen entitas yang diperiksa atau pihak
berwenang

dalam

memahami

perlunya

mengambil

tindakan

perbaikan. Berikut ini adalah pedoman dalam melaporkan unsur-unsur


temuan:
a. Kondisi
Ada pada setiap temuan-temuan Pemeriksaan
b. Kriteria
Ada pada setiap temuan-temuan Pemeriksaan
c. Akibat
Tidak dinyatakan dalam temuan pemeriksaan
d. Sebab
Tidak dinyatakan dalam temuan pemeriksaan
Pelaporan Tanggapan Dari Pejabat Yang Bertanggung Jawab
Ada, Pada lampiran I (lengkap) dan di sebagian temuan di ringkasan
eksekutif ini.

II. SPECIAL INVESTIGATION PARKING SERVICES CALIFORNIA STATE


UNIVERSITY, SAN BERNARDINO (Investigative Report 10-91
June 18, 2010)
Audit ini adalah audit investagasi dilaksanakan oleh Komite Audit The
California State University, untuk

menyelidiki dugaan pelanggaran

yang dilakukan oleh direktur Pelayan Parkir Universitas. Dalam LHP ini
tidak diungkapkan standar pemeriksaan dipakai oleh auditor .
Secara ringkas LHP ini terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :
1) Surat Pengantar LHP dari Tim Audit terhadap pimpinan Auditee
2) Ringkasan eksekutif
3) Pendahuluan, terdiri dari: dugaan Pelanggaran yang diselediki,
latar

belakang

pemasalahan,

Ruanglingkup

dan

metode

investigasi
4) Hasil dari Investigasi, terdiri dari :

Temuan dugaan pelanggaran,


Unsur-unsurnya terdiri dari: uraian Kondisi, akibat, Kriteria

Temuan tambahan.
Unsur-unsurnya terdiri dari : uraian Kondisi, Sebab, Akibat,
Kriteria

5) Rekomendasi
Terdiri dari rekomendasi Auditor dan tanggapan dari auditee.
6) Lampiran

Analisis Perbandingan LHP Special Investigation Parking Services


California State University, San Bernardino (Investigative Report
10-91 June 18, 2010) terhadap SPKN dalam pemeriksaan tujuan
tertentu.
Standar Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu memberlakukan
empat

pernyataan

standar

pelaporan

perikatan/penugasan

atestasi dalam SPAP yang ditetapkan IAI sebagai berikut:

a) Laporan

harus

menyebutkan

asersi

yang

dilaporkan

dan

menyatakan sifat perikatan asersi yang bersangkutan.


Ada, seperti yang terdapat pada Surat Pengantar LHP dari Tim Audit
terhadap pimpinan Auditee.
b) Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai apakah
asersi disajikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau
kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat pengukur.
Ada, ini terdapat bagian temuan hasil pemeriksaan.
c) Laporan

harus

menyatakan

semua

keberatan

praktisi

yang

signifikan tentang perikatan dan penyajian asersi.


Tidak ada.
d) Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi yang
disusun berdasarkan kriteria yang disepakati atau berdasarkan
suatu perikatan untuk melaksanakan prosedur yang disepakati
harus berisi suatu pernyataan

tentang keterbatasan pemakaian

laporan hanya oleh pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau


prosedur tersebut.
Kami tidak menemukannya.
Pernyataan

Kepatuhan Terhadap Standar Pemeriksaan

Pada LHP ini tidak dimuat Pernyataan Kepatuhan Terhadap Standar


Pemeriksaan.
Pernyataan standar pelaporan tambahan kedua adalah:
Laporan

Hasil

Pemeriksaan

dengan

tujuan

tertentu

harus

mengungkapkan:
a. kelemahan pengendalian intern yang berkaitan dengan hal yang
diperiksa,
Ada, ini terdapat pada temuan tambahan
b. kepatuhan terhadap ketentuan peraturan erundang-undangan
termasuk

pengungkapan

atas

penyimpangan

administrasi,

pelanggaran atas perikatan perdata, maupun penyimpangan yang

mengandung unsur tindak pidana yang terkait dengan hal yang


diperiksa,
Ada. Dimana dinyatakan disetiap butir temuan Pemeriksaan ini.
c. ketidakpatutan yang material terhadap hal yang diperiksa.
Kami tidak menemukannya.
Sejauh memungkinkan, dalam menyajikan temuan, pemeriksa harus
mengembangkan unsur-unsur kondisi, kriteria, akibat, dan sebab untuk
membantu manajemen entitas yang diperiksa atau pihak berwenang
dalam memahami perlunya mengambil tindakan perbaikan. Hal ini juga
terdapat pada LHP Special Investigation Parking Services California State
University, San Bernardino (Investigative Report 10-91 June 18, 2010) dan
LHP ini juga memuat rekomendasi hasil pemeriksaan dimana hal ini tidak
terdapat pada SPKN untuk audit dengan tujuan tertentu.
Pelaporan Tanggapan Dari Pejabat Yang Bertanggung Jawab
Ada, ini terdapat pada Bagian Rekomendasi.

PENUTUP

Pemeriksaan dengan tujuan tertentu adalah pemeriksaan yang


dilakukan dengan tujuan khusus, diluar pemeriksaan keuangan dan
pemeriksaan

kinerja.

Termasuk

dalam

pemeriksaan

ini

adalah

pemeriksaan-pemriksaan atas hal-hal lain yang bersifat keuangan,


pemeriksaan

atas

sistem

pengendalian

intern,

dan

pemeriksaan

investigatif.
Hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu adalah kesimpulan.

Dalam hal pemeriksaan investigatif, apabila diketemukan adanya indikasi


tindak pidana atau tindakan yang membawa dampak pada kerugian
Negara, BPK segera melaporkannya kepada instansi yang berwenang
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Dalam pengelolaan keuangan Negara, Audit Dengan Tujuan
tertentu ini tidak hanya dilakukan oleh BPK sebagai Pemeriksa eksternal
tapi bisa juga dilaksanakan oleh Internal Auditor seperti BPKP, Irjen
Kementerian/lembaga, Inspektorat Daerah dan SPI instansi terkait.

DAFTAR PUSTAKA

J. Elder, Randal, dkk. (2012), Jasa Audit dan Assurance, Salemba Empat,
Jakarta

Modul Auditing Diklat Pembentukan Auditor Ahli (2009) ed.5, Pusdiklatwas


BPKP, Ciawi-Bogor.
Murwanto. Rahmadi, dkk. Audit Sektor Publik. Lembaga Pengkajian
Keuangan Publik dan Akuntansi Pemerintahan.
Mardiasmo, 2005, Akuntansi Sektor Publik, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia No 01 Tahun
2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
UU No 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara