Anda di halaman 1dari 23

2

Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

LAPORAN INDIVIDU
Solvent Evaporate
Herba Sambiloto (Andrographis panucilata)

Disusun oleh :
Nama

: Mukarram Mudjahid

NIM

: N 111 14 077

Kelompok

:1B

Golongan

: Selasa Pagi

Asisten

: Muhammad Ihwan Syam

Makassar
2016

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Proses evaporasi telah dikenal sejak dahulu, yaitu untuk membuat
garam dengan cara menguapkan air dengan bantuan energi matahari dan
angin. Evaporasi adalah salah satu kaedah utama dalam industri kimia
untuk memekatkan larutan yang encer.. Evaporasi bertujuan untuk
memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tidak mudah
menguap dan pelarut yang mudah menguap.
Evaporator mempunyai dua prinsip dasar, untuk menukar panas
dan untuk memisahkan uap yang terbentuk dari cairan. Evaporator
umumnya

terdiri

dari

tiga

bagian,

yaitu

penukar

panas,

bagian evaporasi(tempat di mana cairan mendidih lalu menguap), dan


pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan ke dalam
kondenser (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke peralatan lainnya.
Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa
padatan atau larutan berkonsentrasi. Larutan yang sudah dievaporasi bisa
saja terdiri dari beberapa komponen volatil (mudah menguap)
Evaporator

juga

digunakan

dan

diaplikasikan

dalam

industri kimia dan industri makanan. Pada industri kimia, contohnya garam
diperoleh dari air asin jenuh (merupakan contoh dari proses pemurnian)
dalam evaporator. Evaporator mengubah air menjadi uap, menyisakan
residu mineral di dalam evaporator. Uap dikondensasikan menjadi air

yang sudah dihilangkan garamnya. Pada sistem pendinginan, efek


pendinginan diperoleh dari penyerapan panas oleh cairan pendingin yang
menguap dengan cepat (penguapan membutuhkan energi panas).
Evaporator

juga

digunakan

untuk

memproduksi

air

minum,

memisahkannya dari air laut atau zat kontaminasi lain.


I.2. Maksud Percobaan
Mengetahui

dan

memahami

cara

atau

tahap-tahap

dalam

menguapkan pelarut ekstrak Herba Sambiloto (Andrographis panucilata)


I.2. Tujuan Percobaan
Memahami cara menguapkan pelarut ekstraksi

sampel Herba

Sambiloto (Andrographis panucilata)


I.3. Prinsip Percobaan
1.3.1 Rotary Evaporator
Prinsip utama alat ini terletak pada pemanasan dan penurunan
tekanan disertai dengan pemutaran lab alas bulat,

sehingga pelarut/

penyari dapat menguap pada suhu di bawah titik didihnya.


1.3.2 Kipas Angin
Prinsip utama alat ini yakni mempercepat proses penguapan
dengan memanfaatkan angin sebagai sumber penguapannya sehingga
pelarut yang bersifat Volatil dapat lebih mudah menguap.

1.3.3 Water Bath


Prinsip

utama

alat

ini

yakni

menguapkan

pelarut

dengan

memanfaatkan sumber panas pada ppenangas air, dengan adanya


pemanasan pada penangas dapat menguapkan pelarut dengan optimal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Evaporasi
Evaporasi secara umum dapat didefinisikan dalam dua kondisi,
yaitu: (1) evaporasi yang berarti proses penguapan yang terjadi secara
alami, dan (2) evaporasi yang dimaknai dengan proses penguapan yang
timbul akibat diberikan uap panas (steam) dalam suatu peralatan.
Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan dari pada liquid
(cairan) dengan penambahan panas (Robert B. Long,1995).
Evaporasi dilaksanakan dengan menguapkan seluruh bagian
pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya
lebih tinggi atau konsistensi ekstrak yang lebih pekat. Menurut farmakope
Indonesia edisi III dikenal tiga macam ekstrak yaitu (5) :
1. Ekstrak cair : adalah ekstrak yang diperoleh dari hasil penyarian bahan
alam masih mengandung larutan penyari.
2. Ekstrak kental : adalah ekstrak yang telah mengalami proses
penguapan, dan tidak mengandung cairan penyari lagi, tetapi
konsistensinya tetap cair pada suhu kamar.
3. Ekstrak kering : adalah ekstrak yang telah mengalami proses
penguapan dam tidak mengandung pelarut lagi dan mempunyai
konsistensi padat (berwujud kering).
Berikut ini merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi laju
evaporasi yakni :

1. Laju panas pada waktu dipindahkan ke bahan cair.


2. Jumlah panas yang dibutuhkan untuk menguapkan setiap pound cair.
3. Suhu maksimum yang diperkenankan untuk bahan cair.
4. Tekanan pada saat penguapan terjadi.
5. Perubahan lain yang mungkin terjadi di dalam bahan selama proses
penguapan berlangsung.
II.2 Evaporator
Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian
atau keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair
menjadi uap. Evaporator mempunyai dua prinsip dasar, untuk menukar
panas dan untuk memisahkan uap yang terbentuk dari cairan. Evaporator
umumnya

terdiri

dari

tiga

bagian,

yaitu

penukar

panas,

bagian evaporasi(tempat di mana cairan mendidih lalu menguap), dan


pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan ke dalam
kondenser (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke peralatan lainnya.
Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa
padatan atau larutan berkonsentrasi. Adapun beberapa alat Evaporator
yakni.
II.1.1 Rotary Evaporator
Rotary vacuum evaporator merupakan alat yang menggunakan
prinsip vacuum destilasi. Prinsip utama alat ini terletak pada penurunan
tekanan sehingga pelarut dapat menguap pada suhu dibawah titik
didihnya. Rotary evaporator lebih disukai karena mampu menguapkan

pelarut dibawah titik didih sehingga zat yang ada di dalam pelarut tidak
rusak oleh suhu yang tinggi
Alat penguap vakum (vacuum evaporator) ini digunakan untuk
menguapkan bahan-bahan yang peka terhadap suhu tinggi seperti santan,
susu, dalam industri pembuatan pasta tomat maupun industri minuman
juice. Alat ini dipakai bila menginginkan penguapan secara tepat dan
tekanan pada bahan tetap dipertahankan lebih rendah dari 1 atmosfer.
Berikut ini merupakan keuntungan dari penggunaan rotary vacuum
evaporator, diantaranya yaitu :
1. penguapan dapat dilakukan dengan menggunakan suhu lebih rendah
daripada menggunakan udara kering
2. kerusakan akibat panas dapat dikurangi
3. waktu yang diperlukan untuk proses penguapan akan lebih singkat

Berikut penjelasan menganai bagi- bagian alat dari Rovapor yakni


1. Hot plate, berfungsi sebagai pemanas dan pengatur suhu.
2. Water bath, merupakan pemanas yang menggunakan air sebagai
media pemanas,
3. Labu alas bulat umpan, berfungsi sebagai tempat umpan.
4. Ujung rotor sampel, berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel
bergantung.
5. Rotation device, berfungsi sebagai pengatur putaran ujung rotor
sampel.
6. Lubang masuk air pendingin, berfungsi sebagai berfungsi pintu masuk
bagi air kedalam kondensor yang airnya disedot oleh pompa vakum.
7. Kondensor, berfungsi untuk merubah fasa uap menjadi cair.
8.

Lubang udara untuk vakum, untuk mengkondisikan vakum maka


lubang tersebut ditutup dengan valve penutup di ujung atas
kondensor.

9. Pompa vacuum, berfungsi menghasilkan suasana vacuum pada


proses.
10.Penjepit labu penampung, berfungsi menjepit labu alas bulat
penampung bergantung.
11. Labu alas bulat penampung, berfungsi sebagai penampung hasil
penguapan.
12. Selang air pendingin keluar, berfungsi sebagai tempat air pendingin
keluar dari kondensor.

II.1.2. Water bath (penangas Air)


Water Bath merupakan salah satu alat Evaporator, Prinsip utama
alat ini yakni menguapkan pelarut dengan memanfaatkan sumber panas
pada ppenangas air, dengan adanya pemanasan pada penangas dapat
menguapkan pelarut dengan optimal.
Pada metode ini, hasil ekstraksi ditaruh dalam wadah cawan
porselen atau mangkuk kaca. Wadah kemudian ditaruh diatas penangas
yang diatur suhunya beberapa waktu.

II.1.3 Oven
Oven merupakan salah satu alat Evaporator, Prinsip utama alat ini
yakni menguapkan pelarut dengan memanfaatkan sumber panas kering
pada aliran panas yang bersumber dari oven, dengan adanya aliran panas
pada penangas dapat menguapkan pelarut dengan optimal.
Pada metode ini, hasil ekstraksi ditaruh dalam wadah cawan
porselen atau mangkuk kaca. Wadah kemudian ditaruh didalam Oven
yang diatur suhunya beberapa waktu hinggacairan penyari yang
digunakan benar- benar menguap dan kering.

II.1.4 Vakum Deksikator


Desikator adalah sebutan lain dari Eksikator. Yaitu sebuah alat
yang terbuat dari kaca berbentuk panci bersusun dua yang bagian
bawahnya diisi bahan pengering seperti silika gel sehingga pengaruh uap
air selama pengeringan dapat diserap oleh silika gel tersebut.
Desikator

vakum

merupakan

desikator

yang

dapat

mempertahankan kelembapan rendah pada tekanan tidak lebih dari 20


mmHg atau pada tekanan lain yang ditetapkan dalam monografi.
Desikator vakum pada bagian tutupnya ada katup yang bisa dibuka tutup,
yang dihubungkan dengan selang ke pompa. Hal ini juga berfungsi untuk
menyerap kelambaban udara berlebih dalam eksikator yang dikeluarkan
oleh katup. Sehingga dengan adanya silica Gel yang terdapat dalam
eksikator dan adanya katup kecil yang menjaga tekanan dalam sampel
dengan prinsip ini dapat mempercerpat penguapan bahan penyari.

II.1.5 Kipas Angin


Kipas angin menrupakan evaporator yang paling sederhana,
dimana sampel cukup dihadapkan dengan kipas pada kecepatan tertentu
dan dbiarkan mongering. Prinsip utama alat ini yakni mempercepat proses
penguapan dengan memanfaatkan angin sebagai sumber penguapannya
sehingga pelarut yang bersifat Volatil dapat lebih mudah menguap.

II.3

FAKTOR

FAKTOR

YANG

MEMPENGARUHI

PROSES

EVAPORATOR
1. Konsentrasi dalam cairan
Untuk liquida msuk evaporator dalam keadaan encer, juga semakin
pekat larutan, semakin tinggi pula titik didih larutan dan untuk ini harus
diperhatikan adanya kenaikan titik didih (KTD).
2. Kelarutan solute dalam larutan

Dengan demikian pekatnya larutan, maka konsentrasi solute


makin tinggi pula, sehingga btas hasil kali kelarutan dapat
terlampaui yang akibatnya terbentuk Kristal solute. Jika dengan
adanya hal ini, dalam evaporasi harus diperhatikan batas
konsentrasi solute yang maksimal yang dapat dihasilkan oleh

proses evaporasi.
Pada umumnya, kelarutan suatu granul/solid makin besar
dengan makin tingginya suhu, sehingga pada waktu drainage
dalam keadaan dingin dapat terbentuk Kristal yang dalam hal ini
dapat merusak evaporator. Jadi harus diperhatikan suhu

drainage.
Sensitifitas materi terhadap suhu dan lama pemanasan,
Beberapa zat materi yang dipanskan dalam evaporasi tidak
tahan terhadap suhu tinggi atau terhadap pemanasan yang
terlalu alam. Misalnya bahan-bahan biologis seperti susu, jus,
bahan-bahan farmasi dan sebagainya. Jadi untuk zat-zat

semacam ini diperlukan suatu cara tertentu untuk mengurangi

waktu pemanasan dan suhu operasi.


Pembuataan buih dan percikan
Kadang-kadang beberapa zat, seperti larutan NaOH, skim
milk dan beberapa asam lemak akan menimbulkan buih, busa
yang cukup banyak selama penguapan disertai dengan
percikan-percikan liquida yang tinggi. Buih/percikan ini dapat
terbawa oleh uap yang keluar dari evaporator dan akibatnya
terjadi kehilangan. Jadi harus diusahakan pencegahannya.

Pembentukan kerak
Banyak

larutan

kerak/endapan.

yang
Dengan

sifatnya

mudah

terbentuknya

kerak

membentuk
ini

akan

mengurangi overall heat transfer coefficient, jadi diusahakan


konsentrasi/teknikevaporator

yang

tepat

karena

pembersihan kerak atau memakan waktu atau biaya.

BAB III

biaya

METODE KERJA
III.1. Alat dan Bahan
III.1.1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rotary
Evaporator, Kipas Angin, Water Bath, Capor, Batang penaduk, Botol
Cokelat, Eksikator, labu alas bulat
III.1.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Sampel
herba Sambiloto (Andrographis panniculata), dan penyari methanol
III.2. Cara Kerja
III.2.1 Ratory Evaporator
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Diset mantel Heat dengan suhu 50-60 0, dan rotor pada rotavapor
dengan kecepatan 50 rpm
3. Dimasukkan ekstrak ke dalam labu alas bulat (dibersihkan dahulu
dengan methanol dengan Aquadest kalau perlu)
4. Dipasangkan labu pada alat rotavapor
5. Dinyalakan alat
6. Dibiarkan berapa lama hingga penyari menguap
7. Dilepas labu bila telah selesai (penyari yang didapatkan menguap
seluruhnya)
8. Dibilas sedikit dengan matanol (hexane bila perlu) untuk mengambil
sisa ekstrak dalam labu alas bulat

9. Sisa penguapan dipindahkan pada cawan porselen


10. Dikeringkan hingga didapat ekstrak.
III.2.2 Kipas Angin
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dinyalakan kipas angin dengan kecepatan tertentu
3. Diletakkan ekstarak hasil ekstraksi di depan alat
4. Dibiarkan beberapa lama hingga penyari menguapn seluruhnya
III.2.3 Water Bath
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dinyalakan water bath (penangas air)
3. Diletakkan ekstarak hasil ekstraksi di atas penanagas (water bath)
4. Dibiarkan beberapa lama hingga penyari menguap seluruhnya,
sambil sesekali di kipas untuk mempercepat penguapannya, serta
menghindari rusaknya esktrak akibat pemanasan.

BAB IV
HASIL
IV.1. Tabel Pengamatan
Nama ekstrak

Berat Sampel
(gram)

Bobot Ekstrak

20 gram

6,3 gram

Herba Sambiloto
(Andrographis
panicullata)
IV.2. Perhitungan
ekstrak Kering
x 100%
bobot Ekstrak
6,3 g
=
x 100%
20 g
= 31,5%

Rendamen =

% rendamen

IV.3. Gambar
Laboratorium Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

Penggunaan Alat Rotavapot

Laboratorium Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

Penguapan dengan Kipas Angin

Laboratorium Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

Penguapan dengan Kipas Angin

Laboratorium Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

Ekstrak hasil Rotavapor

BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan proses penguapan pelarut dengan
menggunakan berbagai metode penguapa yakni metode penguapan
dengan penurunan tekanan (rotary evaporator), metode pemanasan
sederhana (Water Bath), dan dengan metode angin- anginkan (kipas
angin). Tujuan dari praktikum ini yakni menguapkan seluruh cairan penyari
pada saat proses ekstraksi, sehingga memudahkan untuk proses
fraksinanasi selanjutnya.
Metode penguapa yang digunakan yakni menggunakan alat Rotary
Evaporator sebagai instrument penguapan pelarut. Prinsip penguapan ini
yakni dengan pemanasan dan penurunan tekanan disertai dengan
pemutaran lab alas bulat, sehingga pelarut/ penyari dapat menguap pada
suhu di bawah titik didihnya. Hal ini menyebabkan titik didih methanol
yang menurut teori 650C menjadi turun.

Proses penguapan dimulai dengan mengatur fungsi alat sesuai


dengan yang dikehendaki. Dimana suhu pemanasan, dan kecepatan
putaran Rotor diatur 500C dan 50 rpm. Alat kemudian dihidupkan dibiarkan
bekerja selama 20 menit. Pada proses ini perlu diperhatikan penggunaan
labu alas bulat yang multi dengan 4 labu sekalgus dan terdapat beberapa
jenis ekstrak berbeda didalmnya. Agar diwaspadai terjadinya Bumping
atau berpindahnya cairan ke wadah yang lain akibat perubahan suhu
mendadak pada labu saat alat mulai dinyalakan.
Setelah proses evaporasi selesai, labu alas bulat kemudian
dilarutkan esktrak yang berada dalam labu alas bulat dengan methanol
(Bila perlu dengan Hexane), penambahan methanol guna melarutkan
kembali ekstrak yang tertinggal dalam labu alas bulat, sehingga
didapatkan %rendamen yang optimal. Hasil peguapan yang belum
menguap seluruhnya kemudian dipindahkan ke dalam cawan porselen
untuk diuapkan secara lebih sederhana, yakni menggunakan kipas angin
atau dengan pengginaan water bath.
Pada praktikum ini digunakan alat evaporator dengan kipas angin,
dimana sampel cukup dihadapkan dengan kipas pada kecepatan tertentu
dan dbiarkan mongering. Prinsip utama alat ini yakni mempercepat proses
penguapan dengan memanfaatkan angin sebagai sumber penguapannya
sehingga pelarut yang bersifat Volatil dapat lebih mudah menguap.
Pada praktikum ini juga digunakan metode evaporasi (penguapan
pelarut) dengan metode pemanasan sederhana (water bath). Prinsip

utama alat ini yakni menguapkan pelarut dengan memanfaatkan sumber


panas pada ppenangas air, dengan adanya pemanasan pada penangas
dapat menguapkan pelarut dengan optimal. Pada metode ini, hasil
ekstraksi ditaruh dalam wadah cawan porselen atau mangkuk kaca.
Wadah kemudian ditaruh diatas penangas yang diatur suhunya beberapa
waktu. sehingga pelarut yang bersifat Volatil dapat lebih mudah menguap.
Adapun hasil dari proses penguapan nantinya akan terlihat bentuk
ekstrak dengan konsistensi yang berbeda beda sesuai dengan jenis at
yang terkandung dalam ektrak. Dimana hasil penguapan kemudian ditaruh
dalam wadah desikator yang dilengkapi dengan silica gel yang telah aktif.
Namun sebelumnya hasil ekstrak dalam cawan porselen terlebih dahulu
dilapisi dengan plastic wrap atau aliminium foil. Ini bertujuan untuk
menghindarkan ekstrak dari kondisi kelembaban yang tinggi yang
berpotensi munculnya kontaminan berupa mikroba yang tidak diinginkan
serta menjaga agar kelembaban dalam deksikator tetap dalam kondisi
yang normal.

BAB VI
PENUTUP
VI.1. Kesimpulan
Pada tahapan penguapan pelarut methanol yang terdapat dalam
ekstrak Herba Sambiloto (Andrographis panicullata) digunakan alat Rotary

Evaporator, kipas Angin, dan water bath dengan tujuan mendapatkan


ekstrak murni yang memiliki konsentrasi lebih pekat. Dengan % rendamen
sebesar 31,5%
VI.2. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan ialah :

Untuk asisten, sebaiknya dalam proses praktikum berlangsung

praktikan tetap diawasi oleh asisten agar praktikan tetap tertib


Untuk Laboratorium, alat-alat dan penyari yang digunakan
sebaiknya disiapkan lebih banyak lagi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Emilan, Tommy.dkk. 2011. Konsep Herbal Indonesia : Pemastian Mutu
Produk Herbal. Depok : UI Program Studi Magister Ilmu Herbal
Fakultas Farmasi.
2. Direktorat Jendral.1989. Materi Medika Indonesia Jilid V . Jakarta :
Depkes RI
3. Direktorat Jendral.1995. Materi Medika Indonesia. Jakarta: Depkes RI
4. Direktorat Jendral. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta : Depkes RI.
5. Pangestu,Ayu dan Setyo Wuri Handayani. 2011. Rotary Evaporator
dan Ultra Violet Lamp. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
6. Tim Dosen Fitokimia. 2016. Penuntun Praktikum Fitokimia. Fakultas
Farmasi. UNHAS. Makassar
7. Sudjadi. 2006. Penguapan pelarut. UGM Press : Yogyakarta

LAMPIRAN
Skema Kerja
Ditimbang simplisia 100 g

Filtrat diambil dan


diuapkan penyarinya
Ditimbang
bobot kertas
ekstrak
Saringdiperoleh
dengan
hingga
ekstrak
kental
saring
yang kental

Dibasahkan sampel dengan sedikit penyari lalu


diaduk,kemudian dimasukkan sisa penyari

Rendam selama 3 dan diaduk 2-3 kali sehari selama 2 menit