Anda di halaman 1dari 12

KEPERAWATAN SISTEM PERKEMIHAN II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


ABSES PERINEFRITIK
Oleh:
Kelompok 4
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Dessy Nur Milata


Dita Eka C
Fitria Gita N
Meylisa Kusuma D
Puspitasari A
Sarah Anindhita

(101.0019)
(101.0025)
(101.0043)
(101.0071)
(101.0087)
(101.0101)

ABSES
Abses adalah rongga yang berisi nanah. Tanda utamanya dari suatu abses adalah
fluktuasi, meskipun tidak selalu terdeteksi. Rasa hangat yang terlokalisir, bengkak dan nyeri
tekan langsung pada rongga abses adalah tanda yang khas juga. (Eliastam, Michael.1998 :
183)
Terapinya memerlukan insisi dan drainase cairan purulen. Antibiotik dapat sebagai
tambahan tapi bukan terapi primer. (Schwartz .2000 : 49)
Abses disebabkan oleh flora bacterial campuran yang berkisar sekitar 2,5 spesies
bakteri 1,6 diantaranya merupakanbakteri anaerob sementara 0,9 lainnya adalah bakteri aerob
atau fakultatif. Bakteri komensal dari tempat-tempat disekitarnya merupakan penyebab abses
yang biasa ditemukan sehingga spesies bakteri dalam abses secara tipikal merupakan spesies
yang ditemukan dalam flora normal. (Richard N.mitchell.2008 : 230)
Abses Ginjal
Abses ginjal bisa disebabkan oleh bakteri yang berasal dari suatu infeksi yang terbawa
ke ginjal melalui aliran darah atau akibat suatu infeksi saluran kemih yang terbawa ke ginjal
dan menyebar ke dalam jaringan ginjal.
Abses di permukaan ginjal (abses perinefrik) hampir selalu disebabkan oleh pecahnya
suatu abses di dalam ginjal, yang menyebarkan infeksi ke permukaan dan jaringan di
sekitarnya. Gejala dari abses ginjal adalah:

a)
b)
c)
d)

Demam, menggigil.
Nyeri di punggung sebelah bawah.
Nyeri ketika berkemih.
Air kemih mengandung darah (kadang-kadang).

Abses Perinefrik (Abses perirenal)

Abses perinefrik adalah abses renal yang meluas kedalam jaringan lemak disekitar
ginjal. Ini dapat diakibatkan oleh infeksi ginjal, seperti pielonefritis atau dapat terjadi secara
hematogen ( menyebar melalui aliran darah ) yang berasal dari bagian mana saja di tubuh.
Organisme penyebab mencangkup Staphylococcus, proteus dan E.coli. kadang-kadang
infeksi menyebar dari area yang berdekatan, seperti divertikulatis atau apendisitis. (Smeltzer.
2001 : 1437)
Abses perinefrik sering terjadi akibat penyebaran hematogen atau sekunder akibat
obstruksi renal dan pada penderita diabetes lebih rentan (Pradip R. Patel.2007 :157)
Abses perinefrik/pionefrosis memiliki karakteristik nyeri tekan akut, timbul tandatanda sistemik, namun abses jarang menjadi besar. (Pierce A, Grace & Neil R. Borley. 2006 :
35)
Abses perinefrik terdiri atas abses diluar ginjal yang biasanya dibebabkan oleh infeksi
diluar pielum. Sering disertai batu pielum. Berangsur-angsur abses menjadi besar sampai
dapat diraba. Pada pemeriksaan ditemukan piuria dan pada pemeriksaan ultrasonografi dilihat
ruang abses diluar ginjal. ( Sjamsuhidajat.2010 : 866)
Terapi terdiri atas penyaliran, sering ginjal sudah tidak berfungsi lagi sehingga
nefrektomi harus dianjurkan. ( Sjamsuhidajat.2010 : 866)
Pasien abses perinefrik yang harus mendapat perhatian lebih adalah dengan nyeri
sudut kostovertebra yang hebat, rigiditas otot-otot daerah panggul, massa daerah panggul atau
demam tinggi, terutama jika infeksinya resisten terhadap terapi antibiotika. ( Eliastam,
Michael.1998 : 165)

Abses perinefrik ini biasanya mengikuti perforasi dari infeksi ginjal atau abses
kedalam rongga perinefrik. Pasien datang dengan demam tinggi dan abdomen yang keras.
Pada radiografi tidak terlihat adanya bayangan psoas dan tulang belakang mencembung
kearah lesi. Terapi membutuhkan drainase dan antibiotika jangka panjang. (Schwartz.2000:
586)
Etiologi
Beberapa agen bakteri penyebab abses perirenal, meliputi Esherichia coli, Proterus,
dan Staphylococcus aureus. Beberapa bakteri gram negatif lain dapat menyebabkan infeksi
ini meliputi Klebsiella, Enterobacter, Pseudomonas, Serratia, dan Citrobacter spesies.
Penyebab lainnya adalah jamur, terutama Candida biasanya terjadi pada pasien
dengan diabetes. Faktor predisposisi mencakup pembedahan (termasuk transplantasi ginjal)
dan terapi antibiotik berkepanjangan. (Musttaqin. 2012 : 122)

Manifestasi Klinis
Manifestasi yang terjadi sering akut awitan, disertai menggigil, demam, lekositosis,
nyeri tumpul atau teraba massa di panggul : nyeri abdomen dan nyeri tekan sudut
konstovertebral sakit berat.
Penatalaksaannya dengan insisi abses, didrainase dan kultur serta sensivitas dari
seluruh cairan darinase diperiksa. Terapi antimikrobial yang tepat diresepkan.
Drain biasanya dimasukkan dan dibiarkan diruangan perinefrik sampai drainase
signifikan keluar seluruhnya. Karena cairan drainase biasanya banyak, maka diperlukan
penggantian balutan luar dengan sering. Seperti pada penanganan abses disetiap tempat,
pasien dipantau terhadap adanya sepsis, masukan dan haluaran cairan, dan respons umum
terhadap penanganan. (Smeltzer. 2001 : 1438)
Patofisiologi
Mekanisme yang paling umum terjadi untuk abses bakteri gram-gram negatif adalah
pecahnya abses kortikomedular, sementara mekanisme yang paling umum untuk
pengembangan infeksi staphylococcal adalah pecahnya abses kortikal ginjal. Temuan ini
sering diamati dalam hubungan dengan operasi ginjal sebelumnya seperti nephrectomy

parsial atau nefrolisiasis atau paling sering, sebagai komplikasi diabetes mellitus (Bolkier,
1991). (Musttaqin. 2012 : 122)
Pasien dengan penyakit ginjal polikistik yang menjalani hemodialisis mungkin sangat
rentan untuk mengembangkan abses perirenal 62% dari kasus. Faktor predisposisi untuk
abses perirenal meliputi neurogenik kandung kemih, refluks vesicoureteral, obstruksi
kandung kemih, nekrosis papiler ginjal, TBC saluran kemih, trauma ginjal, imunosupresi, dan
penyalahgunaan narkoba suntikan.
Ketika pecah, infeksi abses perirenal melalui fasia gerota ke riuang pararenal, keadaan
tersebut mengarah pada pembentukan abses pararenal. Abses parerenal juga dapat disebabkan
oleh gangguan dari pancreas, usus, hati, kantung empedu, prostat, dan rongga pleura, dan
mereka mungkin disebabkan oleh osteomielitis tulang rusuk yang berdekatan atau tulang
belakang.
Respons terbentuknya abses pada perineal akan memberikan manifestasi reaksi lokal
yang sistemik. Reaksi lokal memberikan respons inflamasi lokal dengan adanya keluhan
nyeri kostovetebral. Respons sistemik akan menimbulkan masalah peningkatan suhu tubuh,
kelemahan fisik umum, serta ketidakseimbangan nutrisi dan kecemasan. (Musttaqin. 2012 :
122)
Pengkajian Anamnesis
Keluhan utama yang sering dikeluhkan bervariasi meliputi keluhan infeksi kulit atau
infeksi saluran kemih. Infeksi bisa diikuti dalam 1-2 minggu dengan demam dan nyeri pada
pinggang atau kostovertebra.( Musttaqin. 2012 :122)
Keluhan nyeri daerah pingggang atau kostovertebra misalnya disertai adanya
peningkatan suhu tubuh, demam, sampai menggigil. Pasien mengeluh adanya massa pada
daerah pinggang disertai penurunan nafsu makan. Keluhan lainnya adalah nyeri perut,
disuria, penurunan berat badan, malaise, dan gejala gastrointestinal seperti mual dan muntah.
Pada pengkajian riwayat penyakit dahulu penting bagi perawat untuk mengkaji
apakah ada riwayat penyakit seperti adanya penyakit bisul atau karbunkel pada daerah tubuh
lainnya, adanya riwayat demam sampai menggigil. Kaji apakah pasien pernah menderita
penyakit diabetes mellitus. Penting untuk dikaji mengenai riwayat pemakaian obat-obatan
masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat kemudian dokumentasikan.
Pada pengkajian psikososiokultural, adanya nyeri, benjolan pada pinggang dan
pemeriksaan diagnostik yang akan dilakukan akan memberikan dampak rasa cemas pada
pasien. (Musttaqin. 2012 :123)

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum pasien lemah dan terlihat sakit berat denagn tingkat kesadran
biasanya compos metis. Pada TTV sering didapatkan adanya perubahan suhu tubuh
meningkat, frekuensi denyut nadi mengalami peningkatan, frekunsi meningkat sesuai dengan
peningkatan suhu tubuh dan denyut nadi. Tekanan darah tidak terjadi perubahan secara
signifikan kecuali adanya penyakit hipertensi renal.
(Musttaqin. 2012 :124)
Pemeriksaan Fisik Fokus
1. Inspeksi : Terdapat pembesaran pada daerah kostovertebral. Pada abses yang mengenai kedua
ginjal sering didapatkan penurunan urine output karena terjadi penurunan dari fungsi ginjal.
Pasien mungkin mengalami nyeri pada saat melakukan fleksi panggul kesisi kontralateral.
2. Palpasi : Didapatkan adanya massa pembesaran ginjal pada area konstovertebra.
3. Perkusi : perkusi pada sudut kontovertebra memberikan stimulus nyeri lokal disertai suatu
penjalaran nyeri ke pinggang dan perut. (Musttaqin. 2012 :124)
Pengkajian Diagnostik
1. Laboratorium : Pemerikasaan urinalisis menunjukkan adanya piuria dan hematuria, kultur
urine menunjukkan kuman penyebab infeksi, sedangkan pada pemeriksaan darah terdapat
leukositosis dan laju endap darah yang meningkat.
2. Radiografi : Pemeriksaan foto polos abdomen mungkin didapatkan kekaburan pada daerah
pinggang, bayangan psoas menjadi kabur, terdapat bayangan gas pada jaringan lunak,
skoliosis, atau bayangan opak dari suatu batu di saluran kemih. Pemeriksaan CT scan dapat
menunjukkan adanya cairan pus didalam perirenal.
3. Radiografi : Pemerikasaan foto polos abdomen mungkin didapatkan kekaburan pada daerah
pinggang, bayangan psoas menjadi kabur, terdapat bayangan gas pada jaringan lunak,
skoliosis, atau bayangan opak dari suatu batu di saluran kemih. Pemerikasaan Ct scan dapat
menunjukkan adanya cairan pus didalam parirenal.
4. Ultrasonografi : Pemeriksaan menunjukkan cairan abses. (Musttaqin. 2012 :124)
Penatalaksanaan Medis
1. Drainase abses perkutan. Aspirasi drainase perkutan dengan panduan ultrasonografi
memberikan manifestasi kerusakan jaringan minimal. Hasil drainase dilakukan kultur, serta
sensitivitas dari seluruh cairan drainase. Keuntungan drainase perkutan meliputi :
menghindari anestesi umum dan bedah, lebih diterima baik fisik maupun psikososial oleh
pasien, biaya rendah, mempermudah perawat pascaprosedur, serta memperpendek hari rawat.
Sementara itu, kerugiannya meliputi : infeksi jamur, pembentukan kalsifikasi, drainase buntu
oleh drainase purulen, terbentuk rongga retroperitoneal, serta emfisematous dalam ginjal.

2. Terapi bedah. Pada kondsi tertentu, seperti abses fistula ginjal-enterik, mungkin memerlukan
intervensi bedah segera.
3. Pemberian antimikroba yang sesuai dengan hasil uji sensivitas yang bersifat bakterisidal, dan
berspektrum luas. Drain biasanya dimasukkan dan dibiarkan di ruang perirenal sampai
seluruh drainase signifikan keluar seluruhnya. Seperti pada penanganan abses disetiap
tempat, pasien dipantau terhadap adanya sepsis, intake dan ouput cairan, serta respons umum
terhadap penanganan dang anti balutan sesering mungkin.
4. Simtomatik, untuk menurunkan keluhan nyeri dan demam. (Musttaqin. 2012 :125)

Diagnosa Keperawatan
1.
2.
3.

Diagnosa keperawatan yang sering muncul adalah :


Nyeri berhubungan dengan pasca drainase abses, proses inflamasi, kontraksi otot efek
sekunder adanya abses renal.
Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik sekunder adanya abses renal
Ketidakseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan

intake nutrisi
4. Gangguan activity daily living (ADL) berhubungan dengan kelemahan fisik secara umum
5. Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit, ancaman, kondisi sakit, dan perubahan
kesehatan (Musttaqin. 2012 :125)

WOC (Web of Caution

Malpraktek Dalam Kasus Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan


Ny. T usia 45 tahun dua hari yang lalu telah menjalani operasi abses perinefrik (fistula
ginjal enterik) di ginjal sebelah kiri. Namun setelah dilakukan pembedahan, pasien selalu
mengeluhkan nyeri yang sangat hebat di pinggang sebalah kirinya tersebut. Perawat yang
menangani Ny. T hanya memberitahukan bahwa itu mungkin efek dari operasi, nanti juga
hilang sendiri dan perawat tersebut tidak mengkaji data/informasi secara adekuat tehadap
pasien tersebut. Rawat luka operasi sudah dilakukan sesuai jadwal, pasien juga terpasang
drainase untuk memeriksa kultur cairan yang keluar, penggantian balutan luar juga sering
dilakukan, kebutuhan cairan pasien pun terpenuhi sesuai advice dokter, namun walaupun

diberikan analgesik untuk meredakan nyeri, pasien masih mengeluhkan nyeri. Akhirnya
dokter pun menyarankan Ny. T untuk dilakukan foto abdomen. Dari situ diketahui bahwa di
tempat yang beberapa hari lalu dioperasi terdapat lembaran kasa yang tertinggal. Dokter pun
menjadwalkan operasi pengeluaran benda asing tersebut. Ny. T pun terpaksa harus dioperasi
kembali untuk mengeluarkan kasa yang tertinggal tersebut agar tidak membahayakan
kesehatannya. Hal tersebut sudah barang tentu merupakan suatu tindakan malpraktik yang
dilakukan oleh tenaga medis.

Issue dan Malpraktik Dalam Keperawatan


Menurut Guwandi (1994) dalam buku Kelalaian Medik (medical negligence)
mendefinisikan Malpractice is the neglect of a physician or nuse to apply that degree of skil
and learning on treating and nursing a patient which is customarily applied in treating and
caring for the sick or wounded similiarly in the same community. Yang dapat diartikan
bahwa malpraktik adalah kelalaian dari seorang dokter atau perawat untuk menterapkan
tingkat ketrampilan dan pengetahuannya di dalam memberikan pelayanan pengobatan dan
perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat
orang sakit atau terluka di lingkungan wilayah yang sama.
Ellis dan Hartley (1998) mengungkapkan bahwa malpraktik merupakan batasan yang
spesifik dari kelalaian (negligence) yang ditujukan kepada seseorang yang telah terlatih atau
berpendidikan yang menunjukkan kinerjanya sesuai bidang tugas/pekejaannya. Terhadap
malpraktek dalam keperawatan maka malpraktik adalah suatu batasan yang dugunakan untuk
menggambarkan kelalaian perawat dalam melakukan kewajibannya.
Ada dua istilah yang sering dibicarakan secara bersamaan dalam kaitan malpraktik yaitu
kelalaian dan malpratik itu sendiri. Kelalaian adalah melakukan sesuatu dibawah standar
yang ditetapkan oleh aturan/hukum guna melindungi orang lain yang bertentangan dengan
tindakan-tindakan yang tidak beralasan dan berisko melakukan kesalahan (Keeton, 1984
dalam Leahy dan Kizilay, 1998).
Menurut Hanafiah dan Amir (1999) mengatakan bahwa kelalaian adalah sikap yang
kurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati
melakukannya dengan wajar, atau sebaliknya melakukan apa yang seseorang dengan sikap
hati-hati tidak akan melakukannya dalam situasi tersebut.
Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa kelalaian lebih bersifat ketidaksengajaan,
kurang teliti, kurang hati-hati, acuh tak acuh, sembrono, tidak peduli terhadap kepentingan

orang lain, namun akibat yang ditimbulkan memang bukanlah menjadi tujuannya. Kelalaian
bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian itu tidak sampai membawa
kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya (Hanafiah & Amir,
1999). Tetapi jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan bahkan
merengut nyawa orang lain, maka ini dklasifikasikan sebagai kelalaian berat (culpa lata),
serius dan kriminal.
Malpraktek tidaklah sama dengan kelalaian. Malpraktik sangat spesifik dan terksait
dengan status profesional dari pemberi pelayanan dan standar pelayanan profesional
Malpraktik adalah kegagalan seorang profesional (misalnya dokter dan perawat) melakukan
sesuai dengan standar profesi yang berlaku bagi seseorang yang karena memiliki ketrampilan
dan pendidikan (Vestal,K.W, 1995). Hal ini bih dipertegas oleh Ellis & Hartley (1998) bahwa
malpraktik adalah suatu batasan spesifik dari kelalaian. Ini ditujukan pada kelalaian yang
dilakukan oleh yang telah terlatih secara khusus atau seseorang yang berpendidikan yang
ditampilkan dalam pekerjaannya. Oleh karena itu batasan malpraktik ditujukan untuk
menggambarkan kelaliaian oleh perawat dalam melakukan kewjibannya sebagai tenaga
keperawatan.
Kelalaian memang termasuk dalam arti malpraktik, tetapi didalam malpraktik tidak
selalu harus ada unsur kelalaian. Malpraktik lebih luas daripada negligence.Karena selain
mencakup arti kelalaian, istilah malpraktik pun mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan
dengan sengaja (criminal malpractice) dan melanggar Undang-undang. Didalam arti
kesengajaan tersirat ada motifnya (guilty mind) sehingga tuntutannya dapat bersifat perdata
atau pidana.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan malpraktik adalah :
1. Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang tenaga kesehatan.
2. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau melalaikan kewajibannya (negligence)
3. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Problem solving
Dalam mencegah kesalahan tersebut diatas, sebagai perawat professional jangan hanya
megira-ngira dalam membuat rencana keperawatan tanpa dipertimbangkan dengan sebaikbaiknya. Seharusnya dalam menulisan harus dengan pertimbangan yang jelas dengan
berdasarkan masalah pasien. Bila dianggap perlu, lakukan modifikasi rencana berdasarkan
data baru yang terkumpul. Rencana harus realistik, berdasarkan standar yang telah ditetapkan

termasuk pertimbangan yang diberikan oleh pasien. Komunikasikan secara jelas baik secara
lisan maupun dengan tulisan. Bekerja berdasarkan rencana dan dilakukan secara hati-hati
instruksi yang ada. Setiap pendapatnya perlu divalidasi dengan teliti.
Ada pula Intervention errors, yang termasuk dalam kegagalan menginterpretasikan dan
melaksanakan tindakan kolaborasi, kegagalan melakukan asuhan keperawatan secara hatihati, kegagalan mengikuti/mencatat order/perintah dari dokter atau dari supervisor. Kesalahan
pada tindakan keperawatan yang sering terjadi adalah kesalahan dalam membaca
perintah/order, mengidentifikasi pasien sebelum dilakukan tindakan/prosedur, memberikan
obat, dan terapi pembatasan (restrictive therapy). Dari seluruh kegiatan ini yang paling
berbahaya nampaknya pada tindakan pemberian obat, oleh karena itu perlunya komunikasi
baik diantara anggota tim kesehatan maupun terhadap pasien dan keluarganya.
Untuk menghindari kesalahan ini, sebaiknya rumah sakit tetap melaksanakan program
pendidikan berkelanjutan (Continuing Nursing Education).
Beberapa contoh kesalahan perawat :
1. Pada pasien usia lanjut, pasien mengalami disorientasi pada saat berada diruang perawatan.
Perawat tidak membuat rencana keperawatan guna memonitoring dan mempertahankan
keamanan pasien dengan memasang penghalang tempat tidur. Sebagai akibat disorientasi,
pasien kemudian terjatuh dari tempat tidur pada waktu malam hari dan pasien mengalami
patah tulang tungkai.
2.

Pada pasien dengan pasca bedah disarankan untuk melakukan ambulasi. Perawat secara
drastis menganjurkan pasien melakukan mobilisasi berjalan, pada hal disaat itu pasien
mengalami demam, denyut nadi cepat, dan mengeluh nyeri abdomen. Perawat melakukan
ambulasi pada pasien sesuai rencana keperawatan yang telah dibuat tanpa mengkaji terlebih
dahulu kondisi pasien. Pasien kemudian bangun dan berjalan, pasien mengeluh pusing dan
jatuh sehingga pasien mengalami trauma kepala.
Untuk mencegah hal yang bersangkutan dengan malpraktek sangat perlu bagi seorang
perawat berupaya melakukan sesuatu guna mencegah terjadinya tuntutan malpraktik yaitu
upaya mempertahankan standar pelayanan/asuhan yaqng berkualitas tinggi. Hal ini dilakukan
dalam pekerjaan sebagai perawat yaitu meningkatkan kemampuan dalam praktik
keperaweatan dan menciptakan iklim yang dapat mendorong peningkatan praktik
keperawatan., yaitu :

1. Kesadaran diri (self-awareness):

Yaitu mengidentifikasi dan memahami pada diri sendiri tentang kekutan dan kelamahan
dalam praktik keperawatan. Bila terindentifikasi akan kelemahan yang dimiliki maka
berusahalah untuk mencari penyelesaiannya. Beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu
melalui pendidikan, pengalaman langsung, atau berdiskusi dengan teman sekerja/kolega.
Apabila berhubungan seorang supervisor, sebaiknya bersikap terbuka akan kelemahannnya
dan jangan menerima tanggung jawab dimana perawat yang bersangkutan belum siap untuk
itu. Jangan menerima suatu jabatan atau pekerjaan kalau menurut kriteria yang ada tidak
dapat dipenuhi.
2. Beradaptasi terhadap tugas yang diemban
Tenaga keperawatan yang diberika tugas pada suatu unit perawatan dimana dia merasa
kurang berpengalaman dalam merawat pasien yang ada di unit tersebut, maka sebaiknya
perawat perlu mengikuti program orientasi/program adaptasi di unit tersebut. Perawat perlu
berkonsultasio dengan perawat senior yang aa diunit terbut
3. Mengikuti kebijakan dan prosedur yang ditetapkan
Seorangmperawat dalam melaksanakan tugasnya harus sealu mempertimbangkan kebijakan
dan prosedur yang berlaku di unit tersebut. Ikuti kebijakan dan prosedur yang berlaku secara
cermat, misalnya kebijakan/prosedur yang berhubungan dengan pemberian obat pada pasien.
4. Mengevaluasi kebijakan dan prosedur yang berlaku
Ilmu pengetahuan dan tehnologi keperawatan bersifat dinamis artinya berkembang secara
terus menerus. Dalam perkembangannya, kemungkinan kebijakan dan prosedur yang ada
diperlukan guna menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi. Oleh krena itu itu ada
kebutuhan untuk menyeuaikan kebijakan dan proseudr atau protokol tertentu. Untuk itu
merupakan tanggung jawab perawat profesional bekerja guna mempertahankan mutu
pelayanan sesuai dengan tuntutan perkembangan.
5. Pendokumentasian
Pencatatan perawat dapat dikatakan sesuatu yang unit dalam tatanan pelayanan kesehatan,
karena kegiatan ini dilakukan selama 24 jam. Apa yang dicatat oleh perawat merupakan
faktor yang krusial guna menghindari suatu tuntutan. Dokumentasi dalam suatu pencatatan
adalah laporan tentang pengamatan yang dilakukan, keputusan yang diambil, kegiatan yang
dilakukan, dan penilaian terhadap respon pasien.

Oleh karena setiap kasus ditentukan adanya fakta yang mednkung suatu tuntutan, maka
diperlukan pencatatan yang jelas dan relevan. Pencatatan diperlukan secara jelas, benar, dan
jelas sehingga dapat dipahami. Pedoman guna mencegah terjadinya malpraktik, sebagai
berikut :
1. Berikan kasih sayang kepada pasien sebagaimana anda mengasihi diri sendiri. Layani pasien
dan keluarganya dengan jujur dan penuh rasa hormat.
2. Gunakan pengetahuan keperawatan untuk menetapkan diagnosa keperawatan yang tepat dan
laksanakan intervensi keperawatan yang diperlukan. Perawat mempunyai kewajiban untuk
menyusun pengkajian dan melaksanakan pengkajian dengan benar.
3. Utamakan kepentingan pasien. Jika tim kesehatan lainnya ragu-ragu terhadap tindakan yang
akan dilakukan atau kurang merespon terhadap perubahan kondisi pasien, diskusikan
bersama dengan tim keperawatan guna memberikan masukan yang diperlukan bagi tim
kesehatan lainnya.
4.

Tanyakan saran/order yang diberikan oleh dokter jika : Perintah tidak jelas,masalah itu
ditanyakan oleh pasien atau pasien menolak, tindakan yang meragukan atau tidak tepat
sehubungan dengan perubahan dari kondisi kesehatan pasien. Terima perintah dengan jelas
dan tertulis.

5. Tingkatkan kemampuan anda secara terus menerus, sehingga pengetahuan/kemampuan yang


dimiliki senantiasa up-to-date. Ikuti perkemangan yang terbaru yang terjadi di lapangan
pekerjaan dan bekerjalah berdasarkan pedoman yang berlaku.
6. Jangan melakukan tindakan dimana tindakan itu belum anda kuasai.
7. Laksanakan asuhan keperawatan berdasarkan model proses keperawatan. Hindari kekurang
hati-hatian dalam memberikan asuhan keperawatan.
8.

Catatlah rencana keperawatan dan respon pasien selama dalam asuhan keperawatan.
Nyatakanlah secara jelas dan lengkap. Catatlah sesegera mungkin fakta yang anda observasi
secara jelas.

9.

Lakukan konsultasi dengan anggota tim lainnya. Biasakan bekerja berdasarkan kebijakan
organisasi/rumah sakit dan prosedur tindakan yang berlaku.( Vestal, K.W. 1995)

10. Pelimpahan tugas secara bijaksana, dan ketahui lingkup tugas masing-masing. Jangan pernah
menerima atau meminta orang lain menerima tanggung jawab yang tidak dapat anda tangani.