Anda di halaman 1dari 49

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

di PT. INDONESIA POWER UJP BANTEN 3 LONTAR


Jl. Ir. Sutami, Desa Lontar, Kec. Kemiri, Kab. Tangerang 15530

EFISIENSI AIR PREHEATER UNIT 2 DI PLTU BANTEN 3


LONTAR
Disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Praktik Kerja Lapangan/Seminar pada
Semester VII

Disusun Oleh :
Loni Novia Amelia
121724016

DEPARTEMEN TEKNIK KONVERSI ENERGI


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan
rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan laporan kerja praktik dengan judul Efisiensi
Air Preheater Unit 2 di PLTU Banten 3 Lontar.
Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan untuk mata kuliah
Kerja Praktik Program Studi Teknologi Pembangkit Tenaga Listrik, Departemen Teknik
Konversi Energi Politeknik Negeri Bandung.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan rasa terima kasih yang tidak terkira
kepada kedua orang tua tercinta yang telah membesarkan, mendidik penulis dengan doa
dan kasih sayang serta dukungan moril maupun materiil kepada penulis.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis banyak menerima bantuan berupa
bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Alvin Mizrawan Tarmizi, S.T. selaku Ahli Muda Efisiensi di PLTU Banten 3
Lontar yang telah membimbing di lapangan,
2. Bapak Tobat Martin Leonardo selaku Supervisor Senior Condition Based
Maintenance di PLTU Banten 3 Lontar yang telah membimbing selama
pelaksanaan kerja praktek,
3.

Mas Andi Rinaldi Hasan selaku pembimbing di lapangan,

4. Bapak Budi Putranto selaku Supervisor Senior SDM yang telah membantu proses
perizinan Kerja Praktik,
5. Seluruh Engineer, staf dan karyawan PLTU Banten 3 Lontar khususnya bagian
Condition Based Maintenance yang telah berbagi ilmu dan pengalam selama
pelaksanaan kerja praktik,
6. Pihak-pihak lain yang turut membantu penulis baik secara langsung maupun tidak
langsung selama penyusunan laporan ini,

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna adanya, karena masih
banyak kekurangan baik dari segi ilmu maupun susunan bahasanya. Oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi menyempurnakan laporan ini.
Akhir kata, semoga karya ini dapat lebih bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan.
Bandung, September 2015

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I
I.1.
I.2.
I.3.
I.4.
I.5.
I.6.
I.7.
BAB II

PENDAHULUAN.................................................................................1
Latar Belakang Masalah........................................................................1
Perumusan Masalah...............................................................................1
Tujuan....................................................................................................1
Batasan Masalah....................................................................................2
Tempat dan Waktu Pelaksanaan............................................................2
Metoda Pengumpulan Data...................................................................2
Profil Singkat Perusahaan.....................................................................2
LANDASAN TEORI............................................................................9

II.1. Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Uap................................................9


II.2. Perpindahan Panas...............................................................................11
BAB III
III.1.
III.2.
III.3.
III.4.
III.5.
III.6.
III.7.
BAB IV

AIR PREHEATER..............................................................................15
Pengenalan Air Preheater (APH).........................................................15
Fungsi dan Prinsip Kerja APH............................................................16
Komponen-komponen Air Preheater..................................................19
Kerugian-kerugian yang terjadi pada Air Preheater (Losses).............21
Diagram Alir APH...............................................................................23
Sistem Interlock dan Permissive.........................................................26
Instruksi Kerja Pengoperasian APH....................................................27
PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN................................38

IV.1. Data Parameter....................................................................................38


IV.2. Pengolahan Data..................................................................................40
IV.3. Pembahasan.........................................................................................44
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN...........................................................45

I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Efisiensi thermal suatu pembangkit secara keseluruhan dapat ditingkatkan dengan
memanaskan udara pembakaran terlebih dahulu. Jika udara untuk proses pembakaran di
dalam furnace tidak dipanaskan terlebih dahulu, maka dibutuhkan energi yang lebih besar
untuk menaikkan temperatur pada saat proses pembakaran. Maka itu, akan dibutuhkan
lebih banyak bahan bakar solar untuk start up firingnya yang akan meningkatkan biaya
operasi dan menurunkan efisiensi pembangkit.
Pada umumnya, setiap Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang menggunakan boiler
berkapasitas besar selalu dilengkapi dengan Air Preheater (APH). Air Preheater
merupakan peralatan bantu dalam PLTU yang berfungsi sebagai alat untuk memanaskan
udara sebelum digunakan proses selanjutnya (contohnya untuk udara pembakaran di
boiler). Tujuannya adalah menaikkan menaikkan effisiensi termal dari suatu proses.
PLTU Banten 3 Lontar merupakan salah satu pembangkit yang menggunakan Air
Preheater. Tipe APH yang digunakan adalah Ljunstrom Trisector Airpreheater. APH
rentan mengalami penurunan kinerja seperti kebocoran (air leakage), dan menurunnya
kemampuan penyerapan panas akibat fouling dan plugging. Kinerja APH dapat diketahui
dengan menghitung Gas Side Efficiency pada APH. Dalam laporan kerja praktik ini
dibahas mengenai perhitungan efisiensi Air Preheater Unit 2 dari hasil Performance Test.
Sehingga

judul yang diangkat untuk laporan kerja praktik ini adalah Efisiensi Air

Preheater Unit 2 di PLTU Banten 3 Lontar.


Perumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Apa yang dimaksud dengan Air Preheater ;


Apa jenis Air Preheater yang digunakan di PLTU Lontar;
Bagaimana prinsip kerja Air Preheater di PLTU Lontar;
Berapa nilai Gas Side Efficiency pada Air Preheater Unit 2 di PLTU Lontar
secara aktual.

Tujuan

1.
2.
3.
4.

Memahami penjelasan tentang Air Preheater;


Mengetahui jenis Air Preheater yang digunakan di PLTU Lontar;
Memahami prinsip kerja Air Preheater di PLTU Lontar;
Menghitung dan mengetahui nilai Gas Side Efficiency pada Air Preheater Unit
2 di PLTU Lontar secara aktual.

Batasan Masalah
Pembahasan dalam laporan Kerja Praktik ini dibatasi hanya untuk mengetahui
perhitungan Gas Side Efficiency pada Air Preheater di PLTU Lontar Unit 2 secara aktual.
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Kegiatan kerja praktik ini dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus sampai dengan 11
September 2015 di PT Indonesia Power Unit Jasa Pembangkitan (UJP) Banten 3 Lontar
yang terletak di Desa Lontar Kecamatan Kemiri Kabupaten Tanggerang Provinsi Banten.
Metoda Pengumpulan Data
Beberapa metode yang penulis gunakan dalam mendapatkan informasi pada
penyusunan laporan Kerja Praktik ini adalah sebagai berikut :
1. Observasi
Metode observasi dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung
terhadap peralatan dan proses operasi yang dijadikan objek permasalahan.
2. Wawancara
Metode wawancara dilakukan dengan mengadakan tanya jawab langsung atau
diskusi kepada tenaga ahli yang terkait dengan bidang objek yang diamati.
3. Studi Literatur
Metode studi literatur dilakukan dengan membaca buku-buku manual
operasional, jurnal, laporan, dan buku-buku pendukung lainnya.

Profil Singkat Perusahaan


I.1.1. Sejarah Singkat PT. Indonesia Power
PT Indonesia Power atau biasa disebut PT IP merupakan salah satu anak
perusahaan BUMN PT PLN ( Persero ) yang menjalankan usaha komersial pada
bidang pembangkitan tenaga listrik di indonesia. Saat ini Indonesia Power
2

merupakan perusahaan pembangkitan listrik dengan daya terbesar di Indonesia.


Cikal bakal perusahaan ini adalah PT Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali I
(PLN PJB I), yang didirikan pada tanggal 3 Oktober 1995 sebagai anak perusahaan
PLN yang waktu itu baru saja berubah statusnya dari Perum menjadi Persero. Pada
tanggal 3 Oktober 2000, PJB I berubah nama menjadi PT Indonesia Power.
Indonesia Power

mengelola 8 Unit Bisnis Pembangkitan: Priok, Suralaya,

Saguling, Kamojang, Mrica, Semarang, Perak-Grati dan Bali. Bisnis utama IP


adalah pengoperasian pembangkit listrik di Jawa dan Bali di 8 lokasi dalam bidang
unit usaha pembangkitan, unit usaha pembangkitan IP diberi nama Unit Bisnis
Pembangkitan (UBP).
PT Indonesia Power selain memiliki Unit Bisnis Pembangkitan tersebut juga
mempunyai bisnis jasa pemeliharaan pembangkit listrik yang diberi nama Unit
Bisnis Pemeliharaan (UBHar) yang berkantor di jalan KS Tubun, Jakarta. IP juga
mempunyai anak perusahaan yang bergerak di bidang trading batubara yaitu PT
Artha Daya Coalindo. Sedangkan PT Cogindo Daya Bersama adalah anak
perusahaan IP yang bergerak di bidang co-generation dan energy outsourcing.
Dalam mensukseskan kegiatan bisnis perusahaan, PT IP merumuskan visi dan misi
beserta tujuan dari pendirian perusahaan. Dengan visi dan misi tersebut diharapkan
perusahaan dapat selalu mengembangkan diri dan selalu berbenah menuju masa
depan yang lebih baik menjadi perusahaan pembangkitan tenaga listrik yang besar
di masa yang akan mendatang. Visi dan misi perusahaan tersebut antara lain :

Visi

Menjadi Perusahaan Publik dengan Kinerja kelas Dunia dan bersahabat dengan
Lingkungan.

Misi

Melakukan

usaha

dalam

bidang

pembangkitan

tenaga

listrik,

serta

mengembangkan usaha-usaha lainnya yang berkaitan, berdasarkan kaidah

industri dan niaga yang sehat, guna menjamin keberadaan dan pengembangan
perusahaan dalam jangka panjang
I.1.2. Profil Singkat PLTU Banten 3 Lontar
PLTU Lontar saat ini merupakan bagian dari Unit Jasa Pembangkitan (UJP) yang
dikelola oleh PT Indonesia Power. Unit ini dikenal dengan nama PT Indonesia
Power UJP PLTU Banten 3 Lontar. PLTU Lontar memiliki 3 unit dengan masing
masing unit memiliki kapasitas 315 MW. PLTU ini terletak di jalan Ir Sutami Desa
Lontar Kecamatan Kemiri Kabupaten Tangerang provinsi Banten. Seperti PLTU
pada umumnya, PLTU Lontar ini memanfaatkan uap dari boiler yang kemudian
menggerakan turbin yang dikopel langsung ke generator dengan daya
pembangkitan maksimal 315 MW. PLTU Lontar memiliki komponen utama Boiler
dengan tipe vertical water tube, Tiga buah turbin yaitu High Pressure Turbine,
Intermediate Pressure Turbine, dan Low Pressure Turbine yang dihubungkan dalam
satu shaft, Kondensor dengan tipe Single Shell Double Pass Steam Surface. Bahan
bakar untuk membangkitkan uap di boiler menggunakan batu bara jenis Middle
Rank Coal dan Low Rank Coal. Sedangkan untuk pembangkitan listriknya
menggunakan generator dengan merek Dongfang Electric.tipe QFSN-300-2-20-B.

Struktur Organisasi PT Indonesia Power UBOH Banten 3 Lontar

GENERAL
MANAGER

AHLI TATA KELOLA


PEMBANGKIT

MANAGER OPERASI

MANAGER
PEMELIHARAAN

MANAGER

MANAGER

ENGINEERING DAN

ADMINISTRASI

MANGEMENT ASET

MANAJER
ADMINISTRASI

SUPERVISOR SENIOR

SUPERVISOR SENIOR

SUPERVISOR

SDM DAN

KEUANGAN

SENIOR LOGISTIK

PELAKSANA SENIOR

PELAKSANA SENIOR

PELAKSANA

PELAKSANA

ADMINISTRASI SDM

PAJAK DAN

SENIOR LOGISTIK

ADMINISTRASI

DAN DIKLAT

AKUNTANSI

DAN GUDANG

PENGADAAN

PELAKSANA

PELAKSANA SENIOR

KESEKRETARIATAN

ANGGARAN DAN

SEKRETARIAT

KEUANGAN
PELAKSANA
FASILITAS

PELAKSANA
KEAMANAN DAN
HUMAS

MANAJER
ENGINEERING DAN
MANAGEMEN ASET
AHLI MADYA
ENGINEERING

SUPERVISIOR

SUPERVISIOR

SENIOR

SENIOR CONDITION

RELIABILITY

BASED

AHLI MADYA

MAINTENANCE

ENGINEERING BOILER

AHLI MUDA

DAN AUXILIARY

AHLI MUDA
RELIABILITY DAN

KONTROL DAN
INSTRUMEN

CONDITION BASED

AHLI MADYA

MAINTENANCE

MANAGEMENT

ENGINEERING COAL

RESIKO

&ASH HANDLING

PELAKSANA

PELAKSANA SENIOR

SENIOR

CONDITION BASED

RELIABILITY

MAINTENANCE

AHLI MADYA
ENGINEERING
LISTRIK

MANAGEMENT

AHLI MADYA

RESIKO

ENGINEERING
KONTROL DAN
INSTRUMENT

AHLI MUDA

EFFICIENCY
AHLI MUDA
KONTRAK
MANAJER
PEMELIHARAAN

SUPERVISOR

SUPERVISOR SENIOR

SENIOR

SENIOR

PERANCANGAN DAN

PEMELIHARAAN

PEMELIHARAAN

PEMELIHARAAN

PENGENDALIAN

MESIN COAL &

LISTRIK

DAN KONTROL

PEMELIHARAAN

SUPERVISOR

SUPERVISOR

SUPERVISOR

SENIOR

SENIOR

PEMELIHARAAN
MESIN

ASH HANDLING

INSTRUMEN

TEKNISI SENIOR

TEKNISI

TEKNISI SENIOR

TEKNISI SENIOR

AHLI MUDA

TURBIN

SENIOR

LISTRIK

KONTROL DAN

PERENCANAAN

INSTRUMEN

DAN EVALUASI
PEMELIHARAAN
AHLI MUDA

MEKANIS BOP

TEKNISI

TEKNISI

TEKNISI

TEKNISI

SENIOR

SENIOR

LISTRIK

KONTROL

OUTAGE

BOILER

MEKANIK

DAN

MANAGEMEN

COAL & ASH

INSTRUMEN

T
AHLI MUDA

TEKNISI
MESIN

TEKNISI
HANDLING

INVENTORI

MESIN

KONTROL

BAB I
LANDASAN TEORI
Air Preheater merupakan salah satu komponen pendukung dalam sistem PLTU.
Pembahasan yang akan dilakukan pada bagian ini meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Uap
secara umum, teori-teori yang relevan terhadap Air Preheater, dan standar yang digunakan
oleh industri untuk perhitungan efisiensi Air Preheater.
Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Uap
PLTU adalah suatu pusat pembangkit thermal yang menggunakan uap sebagai
fluida kerjanya. Di dalam PLTU terjadi siklus tertutup yaitu fluida yang digunakan sama
dan berlangsung secara berulang-ulang. Siklus yang terjadi di dalam PLTU adalah sebagai
berikut :
Air pengisi boiler dipompa oleh boiler feed pump (BFP) melalui high pressure
heater (HPH) kemudian masuk ke water drum di boiler hingga memenuhi seluruh
permukaan panas di dalam boiler. Kemudian air dipanaskan oleh gas panas hasil
pembakaran antara bahan bakar (batubara) dengan udara pembakaran, sehingga dihasilkan
uap. Uap ini masih bersifat jenuh sehingga perlu dilakukan pemanasan lanjut hingga

menjadi uap kering. Proses pemanasan lanjut terjadi di primary superheater kemudian
dilanjutkan di secondary superheater.
Uap hasil produksi boiler dengan temperatur dan tekanan tertentu diarahkan untuk
memutar steam turbine sehingga menghasilkan daya mekanik berupa putaran. Pada
pembangkit listrik dengan kapasitas besar, steam turbine dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
high pressure turbine (HP turbine), intermediet pressure turbine (IP turbine), dan low
pressure turbine (LP turbine). Uap panas dari boiler pertama kali digunakan untuk
memutar HP turbine. Setelah keluar dari HP turbine uap panas dipanaskan lagi di reheater
dan kemudian dialirkan ke IP turbine. Setelah dari IP turbine, uap panas langsung menuju
LP turbine. Generator yang dikopel langsung dengan turbin berputar menghasilkan energi
listrik sebagai hasil dari perputaran medan magnet dalam kumparan.
Dari LP turbine, uap dikondensasikan di dalam kondensor memakai fluida air
pendingin yang berasal dari air laut. Setelah uap terkondensasi menjadi air kondensat, air
kondensat dialirkan menuju LP heater oleh condensate pump untuk dipanaskan, kemudian
masuk ke economizer lalu ke water drum. Demikian siklus ini dinamakan siklus tertutup.
II.1.1. Siklus Rankine
Siklus rankine digunakan pada pembangkit listrik yang menggunakan media uap air
sebagai fluida kerjanya. Air dipanaskan menjadi uap yang selanjutnya uap tersebut
meggerakkan turbin. Bahan bakar yang digunakan untuk membuat uap dapat
berupa gas alam, solar, residu, dan batu bara. Namun ada pula uap jadi yang berasal
dari pnas bumi dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin uap. Namun uap yang
dipanaskan olah bahan bakar mempunyai tekanan dan temperatur yang lebih tinggi
dibandingkan dengan uap yang dihasilkan dari panas bumi.
Siklus rankine banyak digunakan untuk pembangkit termal yang menggunakan uap
sebagai media penggerak turbin. Ada empat peralatan utama utama pada
pembangkit dengan sistem siklus rankine, yaitu :
a.
b.
c.
d.

Boiler
Turbine
Condenser
Boiler Feed Pump

Boiler merupakan alat untuk memanaskan air hingga menjadi uap dengan suhu dan
tekanan yang tinggi sesuai dengan yang dipersyaratkan. Selanjutnya uap yang siap
tersebut masuk ke turbin untuk menggerakan generator. Uap yang keluar dari turbin
akan memiliki energi yang sudah jauh berkurang dibanding saat masuk turbin. Uap
8

tersebut masih bercampur kondensat dan didinginkan di salam kondensor untuk


dirubah fasanya menjadi cair kembali. Pendingin kondensor yang banyak
digunakan pada PLTU adalah air laut, namun ada pula yang menggunakan air
sungai. Siklus rankine sederhana dapat dilihat pada gambar 1.
Air menjadi fluida kerja pada siklus rankine dan mengalami siklus tertutup (close
loop cycle) artinya secara berkelanjutan air pada akhir proses siklus masuk kembali
ke proses awal siklus. Pada siklus rankine, air mengalami empat proses sesuai
gambar diatas, yaitu :
Proses C D : Fluida kerja atau air dipompa dari tekanan rendah ke tinggi dan
pada proses ini fluida kerja masih berfase cair sehingga pompa tidak membutuhkan
input tenaga yang terlalu besar. Proses ini dinamakan proses kompresi-isentropik
karena saat dipompa secara ideal tidak ada perubahan entropi yang terjadi.
Proses D F : Air bertekanan tinggi tersebut masuk ke boiler untuk mengalami
proses dipanaskan secara isobarik (tekanan konstan). Sumber panas didapatkan dari
luar seperti pembakaran batubara, solar, atau juga reaksi nuklir. Di dalam boiler air
mengalami perubahan fase dari cair, campuran cair dan uap, serta 100% uap kering.
Proses F G : proses ini terjadi pada turbin uap. Uap kering dari boiler masuk ke
turbin dan mengalami proses ekspansi secara isentropik. Energi yang tersimpan di
dalam uap air dikonversi menjadi energi gerak pada turbin.
Proses G C : Uap air yang keluar dari turbin uap masuk ke kondensor dan
mengalami kondensasi secara isobarik. Uap air diubah fasenya menjadi cair
kembali sehingga dapat digunakan kembali pada proses siklus.
Perpindahan Panas
Perpindahan panas dapat didefinisikan sebagai proses berpindahnya suatu energi
(kalor) dari satu daerah ke daerah lain akibat adanya perbedaan temperatur pada daerah
tersebut. Pada umumnya ada tiga bentuk mekanisme perpindahan panas yang diketahui,
yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.
II.1.2. Perpindahan Panas Secara Konduksi
Perpindahan panas secara konduksi adalah proses perpindahan kalor dimana
kalor mengalir dari daerah yang bertemperatur tinggi ke daerah yang bertemperatur
rendah dalam suatu medium (padat, cair atau gas) atau antara medium-medium
yang berlainan yang bersinggungan secara langsung sehingga terjadi pertukaran
energi dan momentum. Dalam aliran panas konduksi, perpindahan energi terjadi
9

karena hubungan molekul secara langsung tanpa adanya perpindahan molekul yang
cukup besar.

Gambar 2.1. Perpindahan panas konduksi pada dinding (J.P. Holman,hal: 33)
Persamaan dasar untuk konduksi satu-dimensi dalam keadaan stedi dapat ditulis :
T
q k =k A
......................................................................................(2.1)
x
di mana : qk

: laju perpindahan panas dengan cara konduksi, Watt

: luas perpindahan panas, m2

:gradien suhu pada penampang, K

: jarak dalam arah aliran panas, m

: konduktivitas thermal bahan, W/m K

II.1.3. Perpindahan Panas Secara Konveksi


Perpindahan panas secara konveksi adalah proses transport energi dengan
kerja gabungan dari konduksi panas, penyimpanan dan gerakan mencampur.
Konveksi sangat penting sebagai mekanisme perpindahan energi antara permukaan
benda padat dan cairan atau gas.
Perpindahan energi dengan cara konveksi dari suatu permukaan yang suhunya di
atas suhu fluida sekitarnya berlangsung dalam beberapa tahap. Pertama, panas akan
mengalir dengan cara konduksi dari permukaan ke partikel-partikel fluida yang
berbatasan. Energi yang berpindah dengan cara demikian akan menaikkan suhu dan
energi dalam partikel-partikel fluida ini. Kemudian partikel-partikel fluida tersebut
akan bergerak ke daerah yang bersuhu rendah didalam fluida di mana mereka akan
bercampur dengan, dan memindahkan sebagian energinya kepada, partikel-partikel
fluida lainnya. Dalam hal ini alirannya adalah aliran fluida maupun energi. Energi
sebenarnya disimpan di dalam partikel-partikel fluida dan diangkut sebagai akibat
10

gerakan massa partikel-partikel tersebut. Mekanisme ini untuk operasinya tidak


tergantung hanya pada beda suhu dan oleh karena itu tidak secara tepat memenuhi
definisi perpindahan panas. Tetapi hasil bersihnya adalah angkutan energi, dan
karena terjadinya dalam arah gradien suhu, maka juga digolongkan dalam suatu
cara perpindahan panas dan ditunjuk dengan sebutan aliran panas dengan cara
konveksi.
Laju perpindahan panas dengan cara konveksi antara suatu permukaan dan suatu
fluida dapat dihitung dengan hubungan :
q=h A s (T s T ) ..................................................................................(2.2)
Menurut

cara

menggerakkan

alirannya,

perpindahan

panas

konveksi

diklasifikasikan menjadi dua, yakni konveksi bebas (free convection) dan konveksi
paksa (forced convection). Bila gerakan fluida disebabkan karena adanya perbedaan
kerapatan karena perbedaan suhu, maka perpindahan panasnya disebut sebagai
konveksi bebas (free / natural convection). Bila gerakan fluida disebabkan oleh
gaya pemaksa / eksitasi dari luar, misalkan dengan pompa atau kipas yang
menggerakkan fluida sehingga fluida mengalir di atas permukaan, maka
perpindahan panasnya disebut sebagai konveksi paksa (forced convection).
Persamaan (2.4) mendefinisikan tahanan panas terhadap konveksi. Koefisien
pindah panas permukaan h, bukanlah suatu sifat zat, akan tetapi menyatakan
besarnya laju pindah panas didaerah dekat pada permukaan itu.

Gambar 2.2 Perpindahan Panas Konveksi

11

Perpindahan konveksi paksa dalam kenyataanya sering dijumpai, kaarena dapat


meningkatkan efisiensi pemanasan maupun pendinginan satu fluida dengan fluida
yang lain.
II.1.4. Perpindahan Panas Secara Radiasi
Perpindahan panas radiasi adalah proses di mana panas mengalir dari benda yang
bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah bila benda-benda itu terpisah di
dalam ruang, bahkan jika terdapat ruang hampa di antara benda - benda tersebut.
Semua benda memancarkan panas radiasi secara terus-menerus. Intensitas pancaran
tergantung pada suhu dan sifat permukaan. Energi radiasi bergerak dengan
kecepatan cahaya (3 x 108 m/s) dan gejala- gejalanya menyerupai radiasi cahaya.
Memang menurut teori elektromagnetik, radiasi cahaya dan radiasi thermal hanya
berbeda dalam panjang gelombang masing-masing. Untuk mengitung besarnya
panas yang dipancarkan dapat digunakan rumus sebagai berikut :
q r=e A (T 14T 24 ) ..............................................................................(2.3)
di mana : qr

: laju perpindahan panas dengan cara radiasi, Watt

: emitansi permukaan kelabu

: luas permukaan, m2

T1

: konstanta dimensional, 0,174. 10-8 BTU/h ft2 oC


: Temperatur Benda kelabu, K

T2
: Temperatur Benda hitam yang mengelilinginya, K
Khusus untuk benda hitam sempurna menurut Hukum Steven Bolzman persamaan
seperti berikut :
4
q r= A T .............................................................................................(2.4)

12

BAB II
AIR PREHEATER
Pengenalan Air Preheater (APH)
Air Preheater (APH) merupakan peralatan bantu dalam PLTU yang berfungsi
sebagai pemanas awal udara baik udara primer (Primary air) maupun sekunder (Secondary
air), sampai ke tingkat temperatur tertentu sehingga dapat terjadi pembakaran optimal
dalam boiler. Dalam prosesnya, Air Preheater ini menggunakan gas buang (flue gas) hasil
pembakaran di boiler sebagai sumber panasnya, kemudian mentransfer panas tersebut ke
aliran udara melalui elemen pemanas berputar (rotating heat exchanger).
Air Preheater (APH) secara umum didefisikan sebagai alat untuk memanaskan
udara sebelum digunakan proses selanjutnya (contohnya untuk udara pembakaran di
boiler). Tujuan utama dari air preheater adalah menaikkan effisiensi termal dari suatu
proses.
Pada PLTU batubara menggunakan air preheater untuk memanaskan udara primer
dan udara sekunder dengan pemanas dari udara gas buang melalui elemen sector plate.
PLTU Lontar menggunakan APH tipe Ljunstrom Trisector Airpreheater. APH tipe ini
terdiri dari 3 partisi sector plate yang terdiri dari primary air (dingin), secondary air
(dingin) dan gas buang (panas). Pada tipe APH ini pembagian gas buang 50%, secondary
air 35% dan primary air 15%. 1 unit APH terdiri dari 2 set motor penggerak, motor utama
dan aux. Motor dikontrol menggunakan frequently converter.

Gambar 3.1 Boiler APH (Flue Gas and Air System)


Fungsi dan Prinsip Kerja APH
Fungsi APH adalah untuk memanaskan udara secondary dan udara primary. APH
menyerap panas dari gas buang melalui elemen sector plate dan memindahkan panas ke

13

udara secondary dan primary yang masuk ke dalam APH dengan cara memutar elemen
plate secara kontinyu (continuously rotating heat transfer elements)
Pada satu unit APH terdiri dari 1 set pilot bearing (direct bearing) dan thrust
bearing (block bearing) dengan sistem pelumasan menggunakan pompa hidrolik sistem
sirkulasi. Untuk membersihkan jelaga pada sector elemen APH dan untuk mencegah korosi
akibat kandungan sulfur batubara digunakan sootblower. Tipe sootblower yang digunakan
adalah tipe long, tiap APH terdiri dari 1 buah sootblower. Pada APH juga dilengkapi
dengan fire detector menggunakan infrared. Jika terjadi kebakaran atau timbul api di dalam
APH maka akan dideteksi oleh infrared dan dipadamkan menggunakan sootblower. Pada
APH juga dilengkapi dengan Ash Hopper yang digunakan untuk menampung abu sisa gas
buang yang jatuh dari sector plate. Secara umum air preheater diklasifikasikan menjadi
dua tipe, yaitu : Tubular Air Preheater dan Regenerative Air Preheater.
III.1.1. Tubular Air Preheater
Air preheater jenis ini biasanya terdiri dari sejumlah tube steel dengan
diameter 40 sampai 65 mm dengan cara las dalam penyambungannya atau di
sambung pada tube plate di ujungnya. Baik gas ataupun udara dapat mengalir
melalui tube. Tubular Preheaters terdiri dari tabung-tabung yang di susun sejajar
(Straight tube bundles) melewati saluran outlet dari boiler dan terbuka pada setiap
sisi akhir saluran (ducting).
Ducting atau saluran gas buang yang berasal dari furnace melewati seluruh
preheaters tubes, transfer panas yang terjadi dari gas buang untuk udara bakar di
dalam preheater. Udara ambien di paksa oleh fan untuk melewati di salah satu
ujung pada saluran dari tubular air preheater dan udara yang dipanasi pada ujung
lainnya dari dalam sudah berupa udara panas yang mengalir ke dalam boiler dan
digunakan untuk udara pembakaran guna menaikkan efisiensi thermal boiler.

14

sumber : http://en.citizendium.org/wiki/Air_preheater
Gambar 3.2 Tubular Air Preheater

III.1.2.Regenerative Air Preheater


Regenerative air preheater merupakan tipe heater dengan rotating plate
yang terdiri dari plat-plat yang tersusun secara sedemikian rupa dan dipasang di
dalam sebuah casing yang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu dua bagian( bisector type), tiga bagian (tri-sector type) atau empat bagian (quart-sector type).
Setiap sector dibatasi dengan seal yang berguna untuk membatasi aliran udara/gas
yang mengalir. Seal memungkinkan elemen-elemen yang ada didalamnya dapat
berputar pada semua sektor, tetapi tetap menjaga agar kebocoran gas/udara antar
sektor dapat diminimalisir sekaligus memberikan jalur pemisah antara udara bakar
dengan gas buang.

15

Gambar 3.3 Air Preheater Tipe Tri-sector, Tipe Quart-Sector, dan Concentric-Sector.
Tri-sector adalah jenis yang paling banyak digunakan pada pembangkit
modern saat ini (Gb 3.2). Dalam desain tri-sector, sektor terbesar (biasanya
mencangkup sekitar setengah dari penampang casing) dihubungkan dengan outlet
boiler (economizer) berupa gas buang yang masih memiliki temperatur tinggi. Gas
buang mengalir diatas permukaan elemen, dan kemudian mengalir menuju ke dust
collectors untuk menangkap debu-debu yang terbawa oleh gas buang sebelum di
buang menjadi tumpukan gas buang. Sektor kedua, yang lebih kecil dihembuskan
udara ambien oleh fan yang selanjutnya melewati elemen pemanas yang berputar
dan udara mengambil panas darinya sebelum masuk ke dalam ruang bakar untuk
pembakaran. Sektor ketiga, yang terkecil digunakan untuk pemanas udara ambien
yang nantinya akan diarahkan ke pulverizer membawa campuran batubara dengan
udara ke boiler untuk pembakaran.

16

Komponen-komponen Air Preheater


III.1.3.Elemen Pemanas (Heating Surface)
Elemen pemanas yang berupa lempengan-lempengan plat metal yang terbagi
menjadi 2 bagian secara vertikal yaitu sisi atas Hot End layer dan sisi bawah Cold
End layer. Plat itu terpasang pada suatu poros yang di susun pada kompartemen
silindris yang terbagi secara radial yang semua bagiannya di sebut sebagai rotor.
Rotor ini berputar dalam ruangan yang memiliki sambungan duct di kedua sisinya
satu sisi di aliri gas buang, sisi lain berisi udara baik primer maupun sekunder. Saat
rotor diputar, setengah bagiannya memasuki saluran gas buang dan menyerap
energi panas yang terkandung di dalamnya sedangkan setengah bagian yang lain
mentransfer panas dari elemen ke udara pada sisi saluran udara sehingga
menghasilkan udara panas yang selanjutnya akan dipasok ke furnace.
III.1.4.Penggerak Rotor
Rotor digerakkan oleh motor listrik yang diletakkan di luar elemen pemanas.
Penggerak rotor dihubungkan pada central, dan terdapat dua motor penggerak. Dua
motor tersebut dihubungkan central melalui gearbox dengan yang dihubungkan
oleh kopling feksibel pada gearbox kedua. Gearbox kedua menggunakan roda gigi
cacing (worm gear) dengan dua langkah, yang pertama dengan rasio 43/4 dan yang
kedua 59/4. Setelah kecepatan berkurang dengan dua gearbox, rasionya menjadi
1444.5/1, keluaran main motor menjadi 1,07 rpm dan auxilliary menjadi 0,5 rpm.
III.1.5.Seal Rotor
Seal (perapat) berfungsi sebagai pencegah kebocoran fluida baik udara maupun gas
buang yang melewati elemen panas pada saat operasi. Pada kondisi normal aliran
udara memilki level tekanan yang lebih tinggi dari aliran gas. Hal inilah yang
rawan akan kebocoran. Seal rotor dalam APH terdiri dari:
III.3.3.1

Radial Seal
Seal radial terpasang sesuai dengan posisi rotor yang posisinya terhadap
plate rotor dapat di setting dan mempunyai standar sesuai dengan desain
manufaktur. Dalam mensetting juga memperhatikan expansi rotor akibat

17

temperature tinggi. Radial seal berfungsi untuk mereduksi kebocoran


langsung dari area udara ke gas buang.
III.3.3.2

Axial Seal
Axial seal dipasang pada sisi luar dari rotor memanjang dari sisi hot end
sampai dengan cold end. Seal bekerja sama dengan radial seal untuk
meminimalkan gap antara rotor dengan seal.

III.3.3.3

Circumferential seal

Letaknya disekeliling dan pusat rotor. Fungsi utama adalah mencegah


kebocoran udara atau gas buang saat berputarnya rotor, dalam melakukan
fungsi ini di bantu axial seal.

Gambar 3.4 Sistem Seal pada Air Preheater


III.1.6.Bearing
Pada sisi bagian atas dan bawah rotor inner drum, terdapat roller guide bearing dan
auto centred roller thrust bearing yang dipsang untuk menahan beban rotor arah
horizontal dan beban axial vertical.
18

19

Kerugian-kerugian yang terjadi pada Air Preheater (Losses)


Adanya kerugian-kerugian (losses) yang terjadi mengakibatkan penurunan kinerja
dari air preheater. Kerugian-kerugian yang sering ditemukan antara lain, adanya faktor
pengotoran (fouling factor) dan kebocoran udara (air leakage).
III.1.7.Fouling Factor (Faktor Pengotoran)
Faktor pengotoran ini sangat mempengaruhi perpindahan panas pada heat
exchanger. Pengotoran ini dapat terjadi endapan dari fluida yang mengalir, juga
disebabkan oleh korosi pada komponen dari heat exchanger akibat pengaruh dari
jenis fluida yang dialirinya. Selama heat exchanger ini dioperasikan pengaruh
pengotoran pasti akan terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut dapat menganggu
atau memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga dapat menurunkan ataau
mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut.
Beberapa faktor yang dipengaruhi akibat pengotoran antara lain :
1) Temperatur fluida
2) Temperatur dinding plat
3) Kecepatan aliran fluida
Tabel 3.1 Daftar Faktor Pengotoran Normal
Jenis Fluida

Tahanan Pengotoran (h F ft2 / Btu)

Air laut di bawah 125 F

0,0005

Air laut di atas 125 F

0,001

Udara industry

0,002

Air pengisi ketel terolah, di atas 125 F

0,001

Bahan bakar minyak

0,005

III.1.8.Kebocoran Udara (Air Leakage)


Kebocoran udara atau Air leakage adalah berat atau jumlah udara pembakaran yang
ikut terbawa keluar dari sisi udara bakar (air side) ke sisi gas buang (gas side).
Seluruh kebocoran diasumsikan terjadi di antara sisi udara masuk (air inlet) dan
sisi keluar gas buang (gas outlet).
20

Diagram Alir APH


APH adalah bagian dari Flue Gas and Air System, berikut diagram alirnya
yang terdapat dalam DCS:

1
2

21

3
4

Keterangan :
1. APH A (Main Motor)
3. APH B (Aux.Motor)
2. APH A (Aux. Motor)
4. APH B (Main Motor)
Gambar 3.4 DCS PID of Flue Gas and Air System

Gambar 3.5 DCS PID of APH Oil Station


PID selengkapnya dari sistem APH dapat dilihat dari gambar berikut:

22

Gambar 3.6 PID Flue Gas and Air System

Gambar 3.7 PID APH Oil Station


Sedangkan Diagram alir Sistem Power Suplai APH dapat dilihat dari gambar
berikut:
1

Keterangan:

1.
2.
3.
4.
5.

6 kV Section 1B
6 kV Section 1A
380 V Section 1B
380 V Section 1A
Bus Power Supply
APH

4
Gambar 6. DCS PID of APH Electrical

23

5
Gambar 3.8 DCS PID of APH Electrical
Sistem Interlock dan Permissive

Ada beberapa Permits yang harus dipenuhi agar peralatan di APH dapat
dioperasikan:

A. Lube Oil Pump APH


Temperatur LO 55 C
B. APH Main Motor A/B
No APH A/B Main Converter Interlock Stop
APH A/B Bearing Oil Pump is Running
APH A/B Main Power On
No APH Fire Detector or Gap Fail of A/B Side System
APH A/B Main and Aux. Converter All Stop
C. APH A/B Aux. Motor
No APH A/B Aux Convertor Interlock Stop
APH A/B Bearing Oil Pump is Running
APH A/B Aux. Power On
No APH Fire Detector or Gap Fail of A/B Side System
APH A/B Main and Aux. Convertor All Stop

Instruksi Kerja Pengoperasian APH


IK Pengoperasian APH berdasar Revisi terbaru (tahun 2014) adalah sebagai
berikut:

Gambar 3.9 Boiler APH (Flue Gas and Air System Display)

24

Keterangan :

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Keterangan
APH A main converter
APH A aux. converter
APH A main converter interlock button
APH A aux converter interlock button
APH A main / aux converter selector button
APH A main converter first out
APH A main converter start permit
APH A main converter first out
APH A main converter start permit
APH B main converter
APH B aux. converter
Penunjukan arus APH B main converter
Penunjukan arus APH B aux. converter
APH B gap control
APH Fire Alarm
APH A gap control
APH A inlet flue gas damper
APH A outlet primary air damper
APH A secondary air damper
Differential press inlet / outlet APH
Diffenrential temperatur inlet /outlet APH
Differential temperatur inlet / outlet secondary air

25

Gambar 3.10 Air Preheater Oil Station

Keterangan :
NO
1
2

Keterangan
APH Block / Support bearing oil pump
APH Radial / Direct / Guide bearing oil pump

III.1.9.Persiapan Start
No

C/L

C/L

C/L

C/L

C/L

Kegiatan

checklist

Siapkan IK-BLT-UNIT-001 Pengoperasian Air


Preheater
Pastikan checklist pengoperasian Air Preheater sudah
dilaksanakan.
Siapkan alat komunikasi operator. (Handi Talkie)
Siapkan alat tulis dan alat recorder data. (Logsheet &
Logbook)
Pastikan tagging pada peralatan sudah release.

26

Breaker Main & Aux. Converter APH motor energize.


(X0BMB06D2/X0BMC06D2)

LL

Breaker Lube oil Direct & Block bearing motor pompa


energize.(10BMB06A2&10BMC06A2)

Periksa breaker Seal gap A1 A2 A3 & B1 B2 B3 energize.


(X0BMB04D1)

C/L

Periksa APH Fire detecting Cabinet energize. (10BMB05B1)

27

Suplai Udara instrument


Periksa Level lube oil Direct & Block bearing (100 mm), gear
box (100mm)

10

Block Bearing : 100 mm


Periksa Level Lube oil support Bearing

11

12

Periksa cooling water system lube oil, manual valve inlet &
return valve open.

28

- Cooler Lube oil Block bearing

- Cooler Lube oil Direct

bearing
Periksa udara instrument emergency converter dalam kondisi
open (standby).

13

Periksa Seal gap A1 A2 A3 & B1 B2 B3 pada level 9-10 mm

14

C/L

Seal Gap pada panel lokal

15

Seal Gap di lokal

Periksa dan siapkan panel lokal APH, Power ON, Reset Semua

29

Alarm dan Release Push Button

A. Panel Lube Oil APH


B. Panel Main APH B
C. Panel Main APH A
D. Panel Seal Gap APH B
E. Panel Seal Gap APH A
Periksa Emergency push button sudah release

16

17

C/L

Informasikan kepada Supervisor operasi bahwa APH siap di start

30

III.1.10.
NO
1

C/L
CC

Start

Kegiatan
Pastikan start permit main converter APH telah terpenuhi :

checklist

Bila permit telah terpenuhi, tampilan permit berubah dari


merah ke hijau

CC

Reset pada bagian FO bila permit sudah terpenuhi semua.


Pastikan interlock button main / aux. Converter tidak aktif (

CC

button 3 dan 4 berwarna hijau)


Pastikan selector Main / Aux. Converter telah dipilih
(button 5 berwarna merah untuk selector A dan hijau untuk

CC

selector B )
Pastikan semua parameter pressure dan temperatur inlet
outlet APH (flue gas, primary air, secondary air dalam

CC

kondisi normal )
(Button 20, 21, 22, 23 menunjuk angka)
Pastikan bearing lube oil APH telah siap dioperasikan.
Lube oil bearing APH terdiri dari 2 unit pompa direct
bearing / guide bearing dan 1 unit pompa block bearing

CC

untuk masing masing APH.


Pastikan tidak terdapat alarm APH oil station fault alarm
(gambar2 no 3) , jika terdapat alarm pastikan jenis alarm

C/L

dan reset
Untuk pertama kali start pompa direct bearing (gambar2 no
1) dan block bearing (gambar2 no 2) akan menunjukkan
kondisi fault/standby (indikasi pompa berwarna kuning
berkedip). Pompa akan otomatis start (indikasi pompa
berwarna merah) pada saat temperatur lube oil mencapai
55C dan secara otomatis akan stop / kondisi standby pada

C/L

saat temperatur lube oil bearing telah mencapai 35C.


Pastikan tidak terdapat alarm fire dan gap fail (start permit
No APH Fire detector or gap fail A/B side), (gambar 1 no
14, 15, 16)
Jika terdapat alarm pastikan di lokal aman dan tidak

31

terdapat perbaikan,jika sudah aman RESET,


1

5
6

Status alarm gap fail A1 fault, A2 fault, A3 fault dan B1


fault, B2 fault, B3 fault
Nilai seal gap APH A/B di lokal A1, A2, A3, B1, B2, B3
(0 mm 9mm)

Nilai Normal 9 mm
3 Tombol force up jika nilai gap tidak sesuai < 9 mm
4 Selector switch manual / auto
5 Lampu indikator fault seal gap A1, A2, A3, B1, B2, B3
6 Tombol reset alarm seal gap
Jika sudah siap antara lokal dan CCR maka APH di start
dengan menekan gambar 1 (Main Converter) ---> START
--- > ACK. Arus motor akan stabil saat frekuensi motor

10

C/L

sudah naik sampai 50 Hz.


Bila tidak ada kelaian, interlock pada aux motor dan
lakukan test interlock

III.1.11.
NO
1

C/L
C

Monitoring

Kegiatan
Perhatikan APH yang sudah beroperasi akan berwarna

checklist

merah dan menunjukkan arus, arus normal pada APH adalah

32

13 A 15 A
Perhatikan

33

44

C/L

Putaran motor APH normal atau tidak, (APH A

Clockwise, APH B Counter clockwise)


Tidak terdapat suara gesekan antar plate elemen di tiap

sector
Ukuran seal gap antar sector (Primary secondary),
(Primary flue gas), (secondary flue gas) normal 9-

10 mm
Perhatikan level lube oil motor gear box, guide

bearing, block bearing > 50%


Perhatikan panel APH tidak ada alarm, jika ada

pastikan di lokal aman.


Monitoring arus APH, lube oil bearing APH agar selalu
standby dan tidak terdapat alarm.
Catat parameter operasi APH secara periodik pada logsheet
CCR dan lokal. Jika terdapat penyimpangan pada parameter
operasi laporkan Supervisor operasi.

III.1.12.
NO

C/L

Stop

Kegiatan
Stop Normal : Pastikan temperatur inlet fluegas APH <120

checklist

C, APH aman untuk di stop


Stop Emergency (satu sisi APH) :
11

C/L

Close damper fluegas inlet APH (X0HNA10AA001aX0HNA10AA001b / X0HNA20AA001a-

X0HNA20AA001b)
- Lepas interlock standby Aux. Converter APH
- Stop APH dari emergency push button
Lepas interlock standby Aux. Converter APH
Jika telah siap antara operator CCR dan Lokal, maka

operator CCR melakukan stop dengan cara tekan gambar 1

-- > STOP -- > ACK-- > OPDIS.


Jika stop fault/ gagal, stop dari emergency push button.
Pastikan di lokal motor berhenti berputar secara sempurna

dan tidak ada suara abnormal.


Lube oil guide bearing, blok bearing stop jika temperatur oil
< 35 C

III.1.13.
NO
1.

C/L
C

Penormalan Setelah Stop

Kegiatan
Close damper damper yang berhubungan langsung dengan

checklist

APH baik dari Primary, secondary, flue gas

33

Hubungi bagian pemeliharaan jika terdapat kerusakan

peralatan
Hubungi pemeliharaan kontrol instrumen jika ada kesalahan

logika pada sistem kontrol APH


Kembalikan peralatan kerja sesuai dengan tempatnya

BAB III
PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai perhitungan efisiensi Air Preheater PLTU Unit
2 Lontar secara aktual berdasarkan ASME PTC 4.3 beserta pembahasan dan analisanya.
Data Parameter

Parameter

Symbo
l

Unit

Value

Fuel Analysis as Fired based

Fuel Higher Heating Value


34

Higher Heating Value [AR)

He

Higher Heating Value [AR)

Hf

kcal/kgf

kJ/kg-f

4.636,00

19.410,00

Ultimate analysis

Carbon

MpCF

wt%

Hydrogen

MpHF

wt%

Nitrogen

MpNF

wt%

Oxygen

MpO
2F

Sulphur

Ash

Moisture

Total

MpSF

MpAs
F
MpM
F

wt%

wt%

wt%

wt%

wt%

48,12

3,56

0,78

13,29

0,33

5,22

28,70
100,00

35

Ash Analysis
Unburned Carbon in Bottom Ash
[Mass % of dry refuse)
Unburned Carbon in Economizer
Hopper [Mass % of dry refuse)
Unburned Carbon in Flyash [Mass
% of dry refuse)

UCb

wt%

2,66

UCe

wt%

UCf

wt%

0,17

xUCb

wt%

0,10

xUCe

wt%

xUCf

wt%

Ash Split
Bottom Ash [% of total refuse)
Economizer Hopper [% of total
refuse)
Flyash [% of total refuse)

0,90

Combustibles in Ash
MpC

Percent Carbon in Fuel

48,12

Economizer Outlet

O2 (% vol dry)

DVpO2
14

2,00

36

Air Heater Oulet

O2 (% vol dry)

DVpO2
15

3,88

Air and Gas Temperature

FD Fan Temperature Outlet

TFDf
out

30,01

PA Fan Temperature Outlet

TPAf out

41,11

Secondary air flow ratio

XpFrA2

100,00

332,48

337,45

Primary air flow ratio

XpFrA1
h

Secondary AH Outlet air


temperature

Primary AH Outlet air temperature

TAH2ou
t
TAH1ho
ut

AH Inlet air mean temperature

Taen

41,11

AH Inlet gas temperature

TFgEn

360,02

TFgLvCr

185,36

AH outlet gas temperature


(corrected = excluding leakage)
Pengolahan Data

Unburned Carbon in Fuel


37

MpUbC =

MpCRs x MFrRs

= 0,42 x 0,05
= 0,02 %

Unburned Carbon in the Residu, percent


MpCRs = [ UCb x xUCb ] + [ UCe x xUCe ] +[UCfx xUCf ]
= [ 2,66 x 0,10 ] +[0,17 x 0,90]
= 0,42 wt%

Mass Fraction of spent sorbent per mass of fuel


MpAsF
MFrRs = (100MpCRs)
=

5,22
(1000,42)

= 0,05 kg /kg

Carbon burned
MpCb
= MpCFMpUBC
= 48,120,02
= 48,10 wt

Theorithical Air
MFrThACr

[
[
[
[

][
]
][
]

][

11,51 x MpCb
4,31 x MpSF
34,3 x MpH 2 F
+
+

100
100
100

4,32 x MpO 2 F
100

][

11,51 x 48,10
4,31 x 0,33
34,3 x 3,56
+
+

100
100
100
4,32 x 13,29
100

6,04

kg
fuel
kg

Theoritical air per moles/mass fuel as fired


MFrThACr
MoThACr
=
28,963
=

6,04
28,963

38

mol
fuel
kg

Moles of Dry Products from The Combustion


MpCb
MpSF
MpN 2 F
100
100
100
MoDPc
=
+
+
12,011
32,066
28,013

0,21

[ ][ ][ ]
[ ][ ][ ]
48,10
0,33
0,78
100
100
100
+
+
12,011
32,066
28,013

0,04

mol
fuel
kg

Excess Air (Economizer Outlet)


100 x DVpO 2 x ( MoDPc+ ( 0,7905 xMoThACr )) /MoThACr
xpA14
=
x (20,95DVpO 2)
=

100 x 2 x ( 0,04 + ( 0,7905 x 0,21 ) ) / 0,21 x( 20,952)

= 10,32 %

CO2
DVpC0214

MpCb
12,01
MoDFg

48,10
12,01
0,23

= 17,76

Moles of dry gas


MoDFg14

=
=
=

MoDPc+ MoThACr x (0,7905+


0,04+ 0,21 x (0,7905+
0,23

Xpa
)
100

10,32
)
100

kg
fuel
kg

N2
DVpN2f14

MpN 2 F
28,013
MoDFg

39

0,78
28,013
0,23

= 0,12

Atmospheric Hydrogen
DVpN2a14
= 100DVp 02DVpC 02DVpN 2 f
= 100217,760,12
= 80,12

Excess Air

[ MoDPc ] + 0,7905[ MoThACr]


XpA15

[ MoThACr ] x
100 x [ DVpO2] x

100 x 3,88 x 0,04+0,7905 [0,21]


0,21 x (20,953,88)

= 22,27 %

CO2 (% vol dry)

[ MpCb ]
DVpC0215

12,01
MoDFg

48,10
12,01
0,25

= 15,99 %
Moles of Dry Gas
MoDFg15

= [ MoDPc ] + [ MoThACr ] x (0,7905+[ XpA]/100)


22,27
100 )
=
( 0,04+ 0,21 ) x
0,7905+

= 0,25 kg/kg fuel

N2 (% vol dry)
DVpNf215
= [MpN2F]/28,013/[ModFg]

40

0,78
=0,11
29,013
0,25

Atmospheric nitrogen
DVpN2a15
= 100 [DVpO2]-[DVpCO]-[DVpN2f]
= 100 [ 3,88 ] [ 0 ] [ 0,11 ]
= 80,02

AH Outlet Air Temperature


TaLV

([XpFRa 2] x [ TAH 2 out]+[ XpFRa 1 h] x [TAH 1 hout ])


([TAH 2 out]+[TAH 1hout ])

( 332,48 )+ (100 ) x (337,45)


= 337,45 C
( 332,48337,45 )

AH Inlet Dry Gas Per PTC 4.3


WG14

(44,01 x [DVpCO 214])+(32 x [ DVpO 214])

+(28,01 x [DVpCO 14])+(28,02 x DVpN 2 a14)


X ([MpCb ]+(12,01/ DVpCO 214)x [ MpSF ])/

(12,01 x [ DVpCO 214 ]+[DVpCO 14])


= ((44,01 x 17,76) + (32 x 2,00) + (28,02 x 80,12)) x (48,10
+ ( 12,01 / 17,76) x 0,33) / (12,01 x (17,76)
= 698,84 C

AH Outlet Dry Gas Per PTC 4.3


44,01 x [DVpCO 215]+32 x [DVpO 215]

WG15
=

+28,01 x [ DVpCO 15 ]+28,02 x [ DVpN 2 a 15]


X ([MpCb ]+(12,01/ DVpCO 215) x [MpSF ])/

(12,01 x [ DVpCO 215 ]+[ DVpCO 15])

41

= (44,01 x 15,99) + (32 x 3,88) + (28,02 x 80,02) x (48,10 +


(12,01 / 15,99 x 0,33 ) / (12,01 x (15,99 + 0) = 770,86 C
Gas Side Efficiency
AH

TG FgenTFGLvCr
TG FgenTaen

AH

360,02185,36
360,0241,11 = 54,77 %

Air Heater Leakage


WG 15WG 14
x 100
AL =
WG14
=

770,86698,84
x 100=10,31
698,84

Pembahasan
Beberapa parameter yang mempengaruhi kinerja suatu Air Preheater adalah
temperatur inlet dan outlet gas buang pada Air Preheater dan komposisi dari gas buang.
Paramater ini diperlukan untuk memastikan bahwa pengukuran temperatur udara dan gas
buang dapat mewakili rata-rata temperatur yang terdapat pada saluran tersebut. Berikut
merupakan tabel parameter kinerja APH di PLTU Lontar :
Unit 2
Flue Gas
APH

Load
(MW)
In (C)

A
B

290,13
290,13

357,16
362,88

Out
(C)
185,33
158,30

In
T

Press

171,8

(pa)
-

3
204,5

825,32
-

911,62

Gas

Air

Eff.

Leakag

(%)

e (%)

OutPress
(pa)
-3041,03
-3157,53

54,7
7

10,31

42

Sebagai salah satu komponen yang memanfaatkan panas hasil gas buang dari
boiler untuk mengurangi heat loss Air Preheater tidak dapat 100% menyuplai udara
pembakaran ke boiler, karena terdapat heat loss pada APH akibat kebocoran (air leakage),
dan menurunnya kemampuan penyerapan panas akibat fouling dan plugging. Kinerja APH
dapat diketahui dengan menghitung Gas Side Efficiency seperti yang telah dijabarkan pada
perhitungan diatas.

Seiring waktu kinerja APH pun dapat mengalami penurunan yang


bisa disebabkan oleh terbentuknya kerak, korosi, maupun kebocoran. Dari
hasil perhitungan pula dapat diketahui Gas Side Efficiency Unit 2 pada PLTU

Lontar adalah sebesar 54,77 %. Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa temperatur
outlet gas buang pada APH sisi A dan B mengalami perbedaan yang cukup jauh dari
standarnya yaitu sekitar 150 C. Tingginya temperatur outlet pada gas buang ini
disebabkan oleh pertukaran panas yang terjadi pada elemen di APH sudah mulai tidak
optimum. Untuk itu diperlukan evaluasi untuk mengetahui seberapa besar penurunan
kinerja APH mulai dari awal operasi hingga saat ini.

Untuk Air Leakage sendiri didapatkan hasil sebesar 10,31%. Air leakage
merupakan sejumlah udara yang mengalir dari sisi udara menuju sisi gas. Air Leakage bisa
disebut juga sebagai indikator dari kondisi Air Preheater Seal. Dari nilai tersebut dapat kita
ketahui apakah kondisi seal pada APH masih bagus atau tidak.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Air Preheater merupakan peralatan bantu dalam PLTU yang berfungsi sebagai alat
untuk memanaskan udara sebelum digunakan proses selanjutnya (contohnya untuk
udara pembakaran di boiler). Tujuannya adalah menaikkan menaikkan effisiensi
termal dari suatu proses.
2. Nilai Gas Side Efficiency pada Unit 2 di PLTU Lontar adalah sebesar 54,77%,
43

3. Kinerja suatu Air Preheater dipengaruhi oleh beberapa parameter yaitu temperatur
inlet dan outlet gas buang pada Air Preheater dan komposisi dari gas buang
(O2,CO2,CO),

1.
2.
3.
4.

V.2.
Saran
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi Air Preheater :
Melakukan optimasi Shootblower pada APH
Melakukan Boiler/Combustion Fine Tuning
Melakukan boiler cleaning saat inspeksi
Set up pada seal gap APH.

44

DAFTAR PUSTAKA
Air Heaters-Supplement to Performance Test Code for Steam Generating Units, PlC 4.1; ASME/ANSI PTC 4.3 - 1974; Reaffirmed 1991,The American Society of
Mechanical Engineers, New York, 1968.

45

Anda mungkin juga menyukai