Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1 Latar belakang
Farmakognosi merupakan bagian, biokimia, dan kimia sintesis sehingga ruang lingkupnya
menjadi luas.
Dalam kehidupan sehari-sehari kita ketahui bahwa banyak masyarakat didunia ini sudah
banyak sebagian dari tanaman sebagai pengobatan,memanfaatkan tanaman sebagai
makanan..
Sejalan kemajuan teknologi, kita sebagai masyarakat indonesia khususnya seorang farmasi
harus mempelajari dan selalu mengembangkan pengetahuan kita tentang tanaman obat serta
alangkah baiknya kita juga dapat mengerti cara pembuatan simplisia yang dapat digunakan
untuk pengobatan.

2. Tujuan percobaan
Pembuatan simplisia daun salam :
1.Pemanenan daun salam terbaik untuk pembuatan simplisia
2. Pencucian daun salam untuk pembuatan simplisa
3. Pengeringan daun salam untuk pembuatan simplisia
4. Penghalusan simplisia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1 Teori Umum
Pengertian Simplisia
Pengertian simplisia menurut Departemen Kesehatan RI adalah bahan
alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses
apa pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah
Dikeringkan (Dapertemen kesehatan RI :1989).
Penggolongan Simplisia
Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
a. Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh,
bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya,
misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus. Eksudat tanaman
adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara
tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa
zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu
dipisahkan/diisolasi dari tanamannya.
b. Simplisia Hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh
atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan
kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu
(Mel depuratum).
c. Simplisia Pelikan atau Mineral
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan
pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara
sederhana dan belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan
serbuk tembaga ( Dep.Kes RI,1989).

Pemilihan simplisia daun salam


Tanaman daun salam dapat ditemukan dari dataran rendah sampai
pegunungan dengan ketinggian 1800 m diatas permukaan laut. Pohon salam
yang biasanya tumbuh liar dihutan dan pegunungan bisa mencapai ketinggian
25 meter dan lebar pohon 1,3 meter. Pohon salam juga dapat tumbuh
dipekarangan pekarangan rumah dengan keadaan tanah yang gembur.Daun
rasanya kelat dan astrigen.
Cara Pembuatan Simplisia
a. Pemanenan
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus
bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering.Alat yang
digunakan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau
tanah yang tidak diperlukan. Seperti rimpang, alat untuk panen dapat
menggunakan garpu atau cangkul. Bahan yang rusak atau busuk harus
segera dibuang atau dipisahkan. Penempatan dalam wadah (keran-jang,
kantong, karung dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan
tidak menumpuk dan tidak rusak. Selanjutnya dalam waktu pengangkutan
diusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan, karena
dapat menyebab-kan terjadinya proses fermentasi/ busuk. Bahan juga
harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang, tikus dan binatang
peliharaan).
Dalam pemanenan daun salam kita memilih daun yang masih
segar dan yang memliki rentang daun agak tua dengan warna daun hijau
tua,dengan ukuran daun yang lebar

dalam pemanenan kali ini kita

mengambil daun salam pada jam 09.00 pagi dengan udara sejuk,sehingga
daun tidak terlalu banyak mengandung embun.
b. Penanganan Pasca Panen
Pasca panen merupakan kelanjut-an dari proses panen
terhadap tanaman budidaya untuk membuat bahan hasil panen tidak
mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan untuk
diproses selanjutnya.

Untuk memulai proses pasca panen perlu

diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang


ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Selama proses
pasca panen sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan
bahan yang digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan
perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Tujuan dari pasca panen
ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu, efek
terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.
Dalam pengambilan atau pemanenan daun salam kita juga membersih
tangan kita serta wadah terlebih dahulu, kita tempatkan daun salam pada
tempat yang kering dan bersih.
c. Penyortiran (segar)
Penyortiran segar dilakukan setelah selesai panen dengan tujuan
untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing, bahan yang
tua dengan yang muda atau bahan yang ukurannya lebih besar atau lebih
kecil. Bahan nabati yang baik memiliki kandungan campuran bahan
organik asing tidak lebih dari 2%. Proses penyortiran pertama bertujuan
untuk memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang muda dan yang tua
serta untuk mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam bahan.
Walaupun dalam pemanenan kita sudah memilih daun yang segar
dalam proses kali ini kita tetap masih memilih daun salam dari yang
terbaik untuk yang terbaik dari yang kita panen tadi. Kita juga
mebersihkan kotoran yang melekat pada daun.
Kita juga menghilangkan tangkai daun pada daun salam.
d. Pencucian
Pencucian bertujuan menghilang-kan kotoran-kotoran dan
mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada bahan.Pencucian harus
segera di-lakukan setelah panen karena dapat mempengaruhi mutu bahan.
Pen-cucian menggunakan air bersih seperti air dari mata air, sumur atau
PAM. Penggunaan air kotor menye-babkan jumlah mikroba pada bahan
tidak akan berkurang bahkan akan bertambah. Pada saat pencucian perhatikan air cucian dan air bilasan-nya, jika masih terlihat kotor ulangi

pencucian/pembilasan sekali atau dua kali lagi.Perlu diperhatikan bahwa


pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mung-kin untuk
menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan.
Pencucian bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain.
Perendaman bertingkat
Perendamana biasanya dilakukan pada bahan yang tidak banyak
mengandung kotoran seperti daun, bunga, buah dll. Proses perendaman
dilakukan beberapa kali pada wadah dan air yang berbeda, pada rendaman
pertama air cuciannya mengandung kotoran paling banyak.

Saat

perendaman kotoran-kotoran yang melekat kuat pada bahan dapat


dihilangkan langsung dengan tangan. Metoda ini akan menghemat penggunaan air, namun sangat mudah melarutkan zat-zat yang terkandung
dalam bahan.
Kita ambil daun salam yang telah dibersihkan kemudian kita
cuci daun salam dengan air mengalir. Dimana pencucian kita lakukan
sebanyak 5 kali dengan pembersihan tidak terlalu kasar supaya daun
salam tidak rusak tetapi kita memberihkan daun salam dengan sebersih
mungkin.
Dan kemudian kita tiriskan supaya kadar air berkurang dengan
cara di angin anginkan hingga kira kira 15 menit kita ambil dan kita
timbang daun salam sebanyak 1kg.
e. Perajangan
Perajangan pada bahan dilakukan untuk mempermudah proses
selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan, penyulingan minyak atsiri
dan penyimpanan. Perajangan biasanya hanya dilakukan pada bahan yang
ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rim-pang, batang, buah
dan lain-lain. Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang digunakan
dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan. Perajangan
terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang terkandung dalam bahan.
Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam bahan
agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan

kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.Ketebalan


perajangan untuk rimpang temulawak adalah sebesar 7 8 mm, jahe,
kunyit dan kencur 3 5 mm. Perajangan bahan dapat dilakukan secara
manual dengan pisau yang tajam dan terbuat dari steinlees ataupun dengan
mesin pemotong/ perajang. Bentuk irisan split atau slice tergantung
tujuan pemakaian. Untuk tujuan mendapatkan minyak atsiri yang tinggi
bentuk irisan sebaiknya adalah membujur (split) dan jika ingin bahan
lebih cepat kering bentuk irisan sebaiknya me-lintang (slice).
Dalam perajangan daun salam kita melakukanya dengan cara
manual yaitu mensuwir suwir daun dimana setiap daun kita potong
menjadi 4-6 bagian daun.
f. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau pengolahan
pada bahan dengan cara mengurangi kadar air, sehingga proses pembusukan dapat terhambat. Dengan demikian dapat dihasilkan simplisia
terstandar, tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam waktu yang lama
Dalam proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan
berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu diperhati-kan.
Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan. Pada
umumnya suhu pengeringan adalah antara 40 60 C dan hasil yang baik
0

dari proses pengeringan adalah simplisia yang mengandung kadar air


10%. Demikian pula de-ngan waktu pengeringan juga ber-variasi,
tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu
ataupun bunga.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pro-ses

pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan mengguna-kan


sinar matahari), kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak
saling menumpuk). Penge-ringan bahan dapat dilakukan secara tradisional
dengan menggunakan sinar matahari ataupun secara mo-dern dengan
menggunakan alat pe-ngering seperti oven, rak pengering, blower ataupun
dengan fresh dryer.

Pengeringan hasil rajangan dari temu-temuan dapat dilakukan


dengan menggunakan sinar matahari, oven, blower pada suhu 30 50 C.
0

Pengeringan pada suhu terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif,


sehingga mutunya dapat menurun.. Selain kedua jenis pengeri-ng tersebut
juga terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir sama
dengan suhu ruang, tempat tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari
alat ter-sebut waktu pengeringan selama 3 hari. Untuk daun atau herba,
penge-ringan dapat dilakukan dengan me-nggunakan sinar matahari di
dalam tampah yang ditutup dengan kain hitam, menggunakan alat
pengering fresh dryer atau cukup dikering-anginkan saja.
Pengeringan dapat menyebabkan perubahan-perubahan hidrolisa
enzi-matis, pencokelatan, fermentasi dan oksidasi.

Ciri-ciri waktu

pengering-an sudah berakhir apabila daun atau-pun temu-temuan sudah


dapat di-patahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan (simplisia) yang
sudah kering memiliki kadar air 8 10%. Dengan jumlah kadar air
tersebut kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan mau-pun
waktu penyimpanan.
Dalam pengeringan daun salam yang telah di potong kita letakkan
pada tampah yang telah dilapisi dengan almunium foil. Kita sebar daun
salam dengan rata supaya mengering keseluruhan.
Proses pengeringan kita lakukan pada jam 08.00 pagi hingga jam
10.00 pagi dalam proses kita juga sering membalik balikan daun hingga
kering merata.Kita melakukan pengeringan hingga hari ke 3 dan di oven
dengan suhu=40 c selama 10 menit. . Dikatakan kering hingga daun
salam berubah warna yang signifikan yaitu coklat ke abu- abuan dan daun
dapat dipatahkan.
g. Penyortiran (kering).
Penyortiran dilakukan bertujuan untuk memisahkan benda-benda
asing yang terdapat pada simplisia, misalnya akar-akar, pasir, kotoran
unggas atau benda asing lainnya. Proses penyortiran merupakan tahap
akhir dari pembuatan simplisia kering sebelum dilakukan pengemasan,

penyimpanan atau pengolahan lebih lanjut. Setelah penyortiran simplisia


ditimbang untuk mengetahui rendemen hasil dari proses pasca panen yang
dilakukan.
Dalam penyortiran pemilihan daun dari kemungkinan benda asing
yang menempel. Proses selanjutnya yaitu penimbangan pada simplisia
kering yang masih berupa potongan daun agak besar = 330g
Setelah penimbangan bahan simplisia daun potongan kemudian
kita haluskan potongan simplisia daun salam dengan blender hingga
sehalus mungkin,bersihkan blender dari serbuk dan tampung serbuk .Kita
timbang hasil hasil serbuk simplisia yaitu =310 g.
h. Pengemasan
Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang sudah dikeringkan. Jenis kemasan yang di-gunakan dapat berupa plastik, kertas
maupun karung goni.Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat menjamin
mutu produk yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit
penanganan, dapat melindungi isi pada waktu pengangkutan, tidak
beracun dan tidak bereaksi dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk
dan rupa yang menarik.
Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang isinya
menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan yang digunakan,
tanggal pengemasan, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat
bersih, metode pe-nyimpanan.
Serbuk simplisia yang telah jadi kita simpan dalam tempat pot
bersih dan kering dan kita beri label pada kemasan luar.
i. Penyimpanan
Penyimpanan simplisia dapat di-lakukan di ruang biasa (suhu
kamar) ataupun di ruang ber AC. Ruang tempat penyimpanan harus
bersih, udaranya cukup kering dan ber-ventilasi. Ventilasi harus cukup
baik karena hama menyukai udara yang lembab dan panas. Perlakuan simplisia dengan iradiasi sinar gamma dosis 10 kGy dapat menurunkan
jumlah patogen yang dapat meng-kontaminasi simplisia tanaman obat.

Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri simplisia
selama penyimpanan 3 6 bulan. Jadi sebelum disimpan pokok utama
yang harus diperhati-kan adalah cara penanganan yang tepat dan higienes.
Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpanan
simplisia adalah :
a. Gudang harus terpisah dari tem-pat penyimpanan bahan lainnya
ataupun penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik.
b. Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau kemungkinan masuk air hujan.
c. Suhu gudang tidak melebihi 30 C.
0

d. Kelembabab udara sebaiknya di-usahakan serendah mungkin (65 C)


0

untuk mencegah terjadinya penyerapan air. Kelembaban udara yang


tinggi dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme se-hingga
menurunkan mutu bahan baik dalam bentuk segar maupun kering.
e. Masuknya sinar matahari lang-sung menyinari simplisia harus
dicegah.
f. Masuknya hewan, baik serangga maupun tikus yang sering me-makan
simplisia yang disimpan harus dicegah.(Anonim : 2009)

2 Klasifikasi
Klasifikasi Daun Salam

POLYANTHI FOLIUM

NTA

: Syzygium polyanthi

KELUARGA

: Myrtaceae

ZBU

:Mintyak atsiri, tanin

KHASIAT

: Anti diare

BAGIAN

: Daun

SIMPAN

: Dalam wadah tertutup baik dan terlindung dari


cahaya

CIRI CIRI

: Bila diremas berbau harum, berbentuk lonjong


sampai elips, atau bulat telur sungsang, pangkal
lancip sedangkan ujung lancip sampai tumpul,
panjang 5-15 cm, lebar 35-36 mm, terdapat 6-10
urat daun lateral, pangkal daun 5-12 mm.

BAB III
METODE KERJA
Alat dan bahan
Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu
1. Ember
2. Tampah
3. Blender
4. Oven
5. Baskom
6. Pot simplisia
7. Almunium foil
8. Sendok tanduk

Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
1. Daun salam
2. Air

2. Cara kerja

1. Panen
Pada pukul 09.00 pagi

2.Persortiran 1

3.Pencucian

Pemilihan daun yang agak tua


berwarna hijau tua dan lebar.

Dicuci dengan air mengalir


sebanyak 5 kali. Timbang
1kg

4.Perajangan
Di suwir jadi 4-6
bagian

5.Pengeringan
Dibawah matahari
selama 3 hari pukul
07.00-09.00 dan di oven
dengan suh 40c

6.Pensortiran 2
Pemisahan dari benda
asing. Timbang = 330g

Selama 10 menit

7.Penyimpanan
Pada wadah tertutup baik dan
terhindar dari cahaya matahari

8.Pengemasan
Pada tempat kering dan
bersih.

BAB IV
HASIL

Hasil praktek

Serbuk

Berat serbuk

Basah

1 Kg
330 g

Kering
310 g
Serbuk

BAB V
PEMBAHASAN

Daun salam memang sudah tidak asing lagi bagi kita. Kita sudah sering menjumpainya di
setiap masakan guna memperkaya rasa. Dan pada kesempatan kali ini kelompok kita
mendapat tugas untuk pembuatan simplisia daun salam yang berupa serbuk hasil akhirnya.
Dimana dalam ilmu kefarmasian farmakognosi daun salam sendiri digunakan untung
mengatasi diare.
Pembuatan simplisia daun salam kita membutuhkan daun salam basah sebesar 1kg dengan
cara pemilihan daun yang baik dan berkualitas. Setelah tahap pemanenan dan pensortiran
yaitu tahap pencucian, dalam proses ini kita mencuci daun salam dengan sebersih mungkin
menggunakan air mengalir yang dibilas sebanyak 5x setelah itu kita tiriskan.
Proses selanjutnya yaitu perajangan, dalam tahap ini kita merajang secara manual yaitu
dengan cara mensuwir dimana satu daun menjadi 4-6 lembar potongan yang kemudian kita
jemur selama 3 hari dan proses pengoven barulah kita haluskan menggunakan blender
sehalus mungkin dan masuk wadah bersih dan kering.

BAB VI
PENUTUP
Kesimpulan

Pembuatan simplsia daun salam yang semula berat basah sebanyak 1kg menjadi 330g berat
simplisia cacahan kering adalah penyusutan simplisia yang terjadi karena penyusutan kadar
air dalam simplisia pada proses pengeringan sehingga simplisia terhindar dari mikroba yang
menyebabkan pembusukan dan hal lain yang tidak memungkinkan.
Hasil akhir yaitu 310g serbuk yang kemungkinan serbuk terbang ataupun menempel pada
tempat lain.
Simplisia ini akan diserahkan pada dosen farmakognosi guna bahan pembelajaran lanjutan
farmakognosi.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.

DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.walisongo.ac.id/4176/3/093711016_bab2.pdf
https://www.scribd.com/doc/193749475/Proposal-Jadi-Ekstrak-Daun-Salam
https://www.google.co.id/search?
q=daun+salam&oq=daun+salam&aqs=chrome.0.69i59j69i64l3j69i57j69i61l3.3507j0j4&sourceid
=chrome&es_sm=122&ie=UTF-8#q=nama+lain+daun+salam

Tugas makalah
Praktikum farmakognosi

Pembuatan simplisian Daun Salam

Disusun oleh :
1. Wahyuni erika O

151251476

2. Weny ika Septarini151251477


3. Wike agustin ari w.

151251478

4. Yolla rovita p.c

151251479

5. Yuliana fitriani

151251480

AKADEMI FARMASI JEMBER


Jl. PANGANDARAN NO. 42 TELP & FAX (0331) 7864470
ANTIROGO- JEMBER
About these ads