Anda di halaman 1dari 2

Nama : Muhammad Sulthon

Kelas : II Reguler A
NIM

: P27820114030

Contoh Kasus Kendala Komunikasi antara Perawat dengan Klien


Perawat A, laki-laki berusia 24 tahun, suku jawa, mengalami kesulitan untuk
berkomunikasi dengan salah satu kliennya, yakni Ny. S yang baru melakukan mastektomi.
Ny. S sering diam jika bertemu dengan perawat A, bahkan memalingkan mukanya sebagai
tanda penolakan terhadap kedatangan perawat A. Jika dilihat, perawat A dan Ny. S
mendapatkan berbagai hambatan sehingga proses komunikasi yang dilakukan tidak berjalan
dengan semestinya. Hubungan antara perawat A dan Ny. S yang tidak baik dapat disebabkan
oleh berbagai faktor seperti kesenjangan antara perawat dengan klien, sikap, serta adanya
resisten dan transferens pada diri klien.

Analisis Kasus
Pada kasus Ny. S ini, beliau baru saja melakukan mastektomi karena sebuah alasan
medis. Pasca operasi, Ny. S belum terbiasa dengan keadaan yang ada pada dirinya, apalagi
beliau adalah seorang wanita. Kemungkinan untuk terjadinya depresi atau sejenisnya dapat
terjadi. Selain itu, perbedaan jenis kelamin antara klien dan perawat ternyata dapat
menimbulkan hambatan tersendiri. Ny. S mungkin malu jika dirawat oleh perawat A,
ditambah lagi masalah kesehatan yang dialamainya adalah hal yang cukup krusial bagi
seorang wanita. Kecanggungan, rasa malu, rasa tertekan dan masih belum percaya dengan
keadaan yang terjadi membuat Ny. S akhirnya resisten dan cenderung transferens terhadap
perawat A. Hal ini ditunjukkan dengan sikap penolakannya terhadap kehadiran perawat A.
Ny. S juga menunjukkan sikap ketidaksukaannya pada perawat A dengan diam dan
memalingkan muka jika bertemu dengan perawat tersebut. Hal itu mungkin terjadi sebagai
bentuk ekspresi dari rasa ketidaksukaannya, rasa malu, dan tertekan.
Dalam kasus tersebut terdapat beberapa hal yang menyebabkan kendala dalam
berkomunikasi antara perawat dengan klien, yaitu:
1. Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab kegelisahan
yang dialaminya.
Dalam hal ini, perubahan akan persepsi sangat diperlukan klien. Namun, klien tetap
berusaha menjauh dari perawat dikarenakan perawat di anggap memberikan tindakan
yang tidak bermanfaat (menurut klien) dan membuat malu klien.
2. Transferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap
terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya di masa
lalu. Sifat yang paling menonjol adalah ketidaktepatan respon klien dalam intensitas dan
penggunaan mekanisme pertahanan yang maladaptif.

Klien merasa tindakan yang petugas kesehatan dalam menangani penyakitnya dulu tidak
berdampak baik, sehingga klien harus masektomi.
3. Kesenjangan Antara Perawat dan Klien
Kesenjangan yang dimaksud di sini adalah berbagai perbedaan yang ada antara diri
perawat dengan klien yang dapat mengganggu berjalannya proses komunikasi. Hal ini
tentu berpengaruh besar dikarenakan masalah yang dialami oleh klien sangat krusial
untuk wanita. Sehingga ketika perawat tersebut memiliki perbedaan dalam hal jenis
kelamin dan usia, hal itu juga berdampak dalam persepsi klien terhadap tindakan yang
dilakukan oleh perawat.
Dalam kasus ini, perawat A dituntut untuk sering memberikan health educatian
untuk klien. Seni perawat untuk mengekspresikan perasaan yang sebenarnya secara spontan
juga harus baik. Di samping itu perawat juga harus mampu menghargai klien dengan
menerima klien apa adanya. Menghargai dapat dikomunikasikan melalui duduk bersama
klien yang sedih, minta maaf atas hal yang tidak disukai klien, dan menerima permintaan
klien untuk tidak menanyakan hal-hal tertentu. Memberi alternatif ide untuk pemecahan
masalah. Tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat pada fase awal hubungan dengan
klien, terutama pada pasien yang klien itu sendiri sudah tidak merasa hidupnya berguna lagi.
Perawat A perlu menganalisa teknik komunikasi yang tepat setiap kali ia
berhubungan dengan klien. Melalui komunikasi verbal dapat diungkapkan informasi yang
akurat tetapi aspek emosi dan perasaan tidak dapat diungkapkan seluruhnya secara
verbal. Dengan mengerti proses komunikasi dan menguasai berbagai keterampilan
berkomunikasi, diharapkan perawat dapat memakai dirinya secara utuh (verbal dan non
verbal) dan perbedaan perbedaan persepsi dapat teratasi sehingga komunikasi terapeutik
kepada klien dapat terjalin.