Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam praktik pelayanan kesehatan, perawat adalah tenaga kesehatan yang
paling dekat dengan klien. Hal ini karena perawat tidak hanya memberikan asuhan
keperawatan medis, tetapi juga memberikan asuhan keperawatan lain, seperti
asuhan latar belakang budaya. Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah
keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus
memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan,
sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan,
dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya
atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002).
Latar belakang budaya sangat erat kaitannya dengan asuhan keperawatan.
Dalam masalah ini, latar belakang budaya sangat mempengaruhi asuhan
keperawatan yang akan diberikan pada klien. Misalnya pemberian nutrisi yang
sesuai dengan kebutuhan klien dengan memperhatikan kebudayaan yang dimiliki
oleh klien. Namun, dewasa ini tidak sedikit perawat yang mengabaikan aspek
budaya dalam memberikan asuhan keperawatan. Berlatar belakang dari masalah
tersebut, penulis tertarik untuk membahas masalah dan mengangkat judul
Pandangan Nutrisi dalam Perspektf Budaya Kesehatan
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pandangan nutrisi dalam perspektif budaya kesehatan?
2. Bagaimanakah konsep makanan dalam konteks budaya?
3. Apa saja peranan-peranan simbolik dari makanan?
4. Bagaimana hubungan pembatasan budaya terhadap kecukupan gizi?
5. Bagaimanakah hasil penelitian tentang nutrisi pada ibu hamil dan nifas di
masyarakat Jawa?
1

6.

Bagaimanakah cara mengkaji nutrisi pasien?

1.3 Tujuan Tulisan


Tujuan dari tulisan laporan ini :
1. Untuk mengetahui pandangan nutrisi dalam perspektif budaya kesehatan
2. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana konsep makanan dalam
konteks budaya
3. Untuk mengetahui dan memahami peranan-peranan simbolik dari makanan
4. Untuk mengetahui dan memahami hubungan pembatasan budaya terhadap
kecukupan gizi
5. Untuk mengetahui hasil penelitian tentang nutrisi pada ibu hamil dan nifas
di masyarakat Jawa
6. Untuk mengetahui dan mengaplikasikan cara mengkaji nutrisi pasien
1.4 Manfaat Tulisan
Manfaat dari penulisan laporan ini ada dua :
1. Manfaat Secara Praktik
Pembaca

dapat

mempraktikkan

langsung

di

masing-masing

kebudayaannya, bagaimana seharusnya bersikap terhadap pemberian


nutrisi dalam perspektif budaya kesehatan.
2. Manfaat Secara Teori
Mengembangkan pengetahuan dan wawasan mengenai nutrisi dalam
perspektif budaya kesehatan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pandangan Nutrisi dalam Perspektif Budaya Kesehatan
2

Makanan adalah zat yang kita makan sehari-hari, yang mengandung nilai gizi
dan juga kandungan lain di dalam makanan yang tidak mengandung gizi sama
sekali. Makanan merupakan kebutuhan primer yang sangat penting bagi tubuh,
dalam ilmu gizi fungsi makanan terdiri dari :
a) Memenuhi kebutuhan jiwa
Memberi rasa kenyang
Memenuhi kebutuhan naluri kepuasan jiwa
Memenuhi kebutuhan sosial budaya
b) Sebagai fungsi biologis
Pemberi tenaga
Mendukung sel-sel berbentuk pertumbuhan tubuh
Mendukung pertumbuhan sel-sel / mengganti bagian-bagian sel yang

rusak
Mengukur methabolisme zat-zat gizi / kaseimbangan cairan serta

asam basa tubuh


Sebagai pertahanan tubuh
Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi
normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Nutrisi
didapatkan dari makanan dan cairan yang selanjutnya diasimilasi oleh tubuh.
Terdapat enam kategori zat makanan, yaitu air, karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, dan mineral. Kebutuhan energy dipenuhi dengan metabolisme
karbohidrat, protein, dan lemak. Air adalah komponen tubuh yang vital dan
bertindak sebagai penghancur zat makanan, melarutkan dan membawa nutrisi ke
seluruh tubuh, membantu proses pencernaan, penyerapan, sirkulasi dan
pengeluaran kotoran serta membantu mengatur temperatur tubuh.. Vitamin dan
mineral tidak menyediakan energy, tetapi penting untuk proses metabolism dan
keseimbangan asam basa.
Selain hal tersebut, yang berhubungan dengan asupan nutrisi adalah
berhubungan dengan apa yang disukai dan tidak disukai, kepercayaan-kepercayaan
terhadap apa yang dapat dimakan dan tidak dimakan, dan keyakinan-keyakinan
dalam hal yang berhubungan dengan keadaan kesehatan dan penganggalan
spiritual, telah ditanamkan sejak usia muda. Dari kenyataan itulah maka dapat
3

disimpulkan bahwa makanan dan kebiasaan makan tidak dapat dilepaskan dari
budaya.
2.2 Makanan dalam Konteks Budaya
Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa budaya menentukan
makanan dan kebiasaan makan, maka penting bagi kita untuk bisa membedakan.
Pengertian makanan dalam dua konsep yang berbeda, yakni konsep biokimia dan
konsep budaya. Dalam konsep biokimia, makanan disebut juga nutrient yang
berarti suatu zat yang mampu memelihara dan menjaga kesehatan organism yang
menelannya. Sedangkan dalam konsep budaya makanan disebut juga sebagai food
yang berarti suatu pernyataan yang sesungguhnya mengatakan suatu zat sesuai
dengan kebutuhan gizi seseorang. Suatu contoh, tikus hutan di Manado dapat
dianggap sebagai santapan lezat, di Bali sebaliknya daging sapi bukanlah pilihan
yang tepat untuk penduduk yang mayoritas agamanya Hindu. Di Negara Muslim
seperti negara-negara di Timur Tengah, daging unta juga menjadi alternative selain
daging kambing sedangkan di negara-negara non muslim seperti Amerika, Inggris,
Australia daging babi adalah daging yang sering dikonsumsi. Dari contoh tersebut
maka jelaslah bahwa apa yang layak dianggap sebagai food tidaklah bersifat
universal.
Selain food dan nutrient, ada istilah-istilah lain yang memiliki makna
berbeda dalam konsep budaya dan fisiologis yakni nafsu makan dan lapar. Istilah
nafsu makan adalah suatu konsep budaya yang menjelaskan apa yang seseorang
perlukan untuk memuaskan nafsu tersebut. Istilah lapar adalah konsep fisiologis
yang menggambarkan suatu kekurangan gizi yang dasar. Suatu contoh,
kebanyakan orang Indonesia makan nasi untuk bisa memuaskan nafsu makannya,
sebaliknya di negara-negara Barat orang lebih memilih makanan yang berasal dari
gandum.
Hubungan yang unik antara makanan dan budaya juga tercermin dalam
cara-cara orang mengklasifikasikan makanan. Misalnya saja masyarakat Jawa
yang biasanya membuat bancaan atau kenduri dalam rangka syukuran yang
4

biasanya terdiri dari nasi putih yang dilengkapi sayur mayor dan lauk pauk seperti
temped an ikan asin. Sebaliknya di negara-negara Barat untuk memperingati
kesuksesan seseorang biasanya dirayakan dengan tost minuman keras. Di
Indonesia menu sarapan biasanya adalah nasi, sedangkan dinegara-negara Barat
menunya biasanya sereal dicampur susu segar. Jadi dari contoh-contoh tersebut
bahwa tiap masyarakat memiliki system klasifikasi makanan yang berbeda.
2.3 Peranan-Peranan Simbolik dari Makanan.
Makanan dalam perspektif budaya mempunyai fungsi simbolik, ada empat
peranan simbolik makanan yang dibahas dalam Purnell dan Paulanka (2003), yaitu
:
a. Makanan sebagai ungkapan ikatan sosial.
Seringkali kita temui dalam masyarakat, menawarkan dan memberikan
makanan sama artinya dengan menawarkan kasih sayang, perhatian dan
persahabatan. Biasanya hal itu dibalas dengan menerima makanan yang
ditawarkan. Sebaliknya menolak tawaran ataupun pemberian dapat diartikan
permusuhan atau menyatakan kemarahan. Sebagai contoh di sebuah kelompok
masyarakat apabila ada warga baru, maka warga tersebut memperkenalkan diri
dengan memberikan makanan pada semua warga, hal tersebut merupakan tanda
awal persaudaraan.
b. Makanan sebagai ungkapan dari kesetiakawanan kelompok.
Di Amerika, sebagai lambang persatuan nasional, pada malam Thanksgiving
biasanya disuguhkan kalkun, buah cranberries, pudding jagung dan pie labu
kuning. Semua hidangan itu adalah hidangan yang dimakan oleh para leluhur
kaum pendatang bangsa Amerika, sehingga untuk memperingati perjuangan
leluhur mereka dihidangkanlah santapan-santapan tersebut. Di Indonesia tumpeng
merupakan hidangan dalam memperingati hari-hari penting, bisa merupakan
lambing kesetiaan, lambing pengabdian atatu persatuan kelompok. Misalnya pada
saat malam perayaan kemerdekaan, pada saat panen padi masyarakat Jawa selalu
membuat tumpeng untuk dewi padi atau Dewi Sri dan sebagainya.
c. Makanan sebagai identitas dan stress.
5

Jenis makanan tertentu merupakan lambang identitas diri seseorang sehingga


manakala seseorang menghadapi stress makanan tersebut dapat member rasa
ketentraman. Dapat dimaklumi bila seseorang yang bepergian jauh ke luar negeri
memiliki kecenderungan untuk mencari makanan yang biasa ia makan di
negaranya sendiri karena ia tidak usah khawatir akan rasa dan keamanan makanan
tersebut.
Contoh kasus yang berhubungan dengan hal tersebut misalnya Jhon yang
berkebangsaan Amerika sedang berkunjung ke Indonesia, kemudian dirawat di
rumah sakit karena kecelakaan, pada pagi hari Jhon diberikan sarapan nasi dan
lauk, Jhon menolak sebab di negaranya dia tidak terbiasa melakukan hal tersebut
sehingga ia meminta pengganti yaitu roti dan telur ceplok.
d. Simbolisme makanan dalam bahasa.
Bahasa mencerminkan hubungan-hubungan psikologis yang sangat dalam
diantara makanan, persepsi kepribadian dan keadaan emosional. Dalam bahasa
Indonesia ungkapan seperti kecil-kecil cabe rawit, sudah banyak makan garam,
muka masam, dan senyum manis merupakan contoh makanan dapat juga
dijadikan symbol dalam melukiskan sifat dan watak manusia.
2.4 Pembatasan Budaya terhadap Kecukupan Gizi
Walaupun sumber-sumber makanan sebenarnya sudah terdapat di sekitar
masyarakat

pada

kenyataannya

masih

banyak

masyarakat

yang

belum

memanfaatkan sumber-sumber itu secara efektif, akibatnya timbul kekurangan


gizi. Berikut ini akan dibahas mengenai hubungan antara pembatasan budaya dan
kecukupan gizi :
a. Kegagalan melihat hubungan antara makanan dan kesehatan.
Masyarakat Adhola mempunyai kepercayaan bahwa tidak ada penyakit
yang disebabkan kekurangan jenis makanan tertentu. Di Afrika, telur tidak
diberikan pada anak-anak kecil karena dipercaya akan membawa dampak
yang negative baik bagi anak laki-laki maupun anak perempuan.
Kasus yang berhubungan dengan hal tersebut adalah sebuah kajian
yang dilakukan Pratiwi (2006) di rumah sakit B pada pasien post operasi
bedah umum tentang kebiasaan makan, menurut sebagian besar dari
6

responden yang ditanya menyatakan bahwa setelah operasi mereka dilarang


makan makanan yang amis-amis seperti telur, daging ikan dan sebagainya,
karena makanan tersebut akan menimbulkan gatal pada luka. Akibat dari
perilaku tersebut pasien tidak menghabiskan porsi makan dengan alasan
keyakinan tersebut. Karena makanan yang mengandung protein tidak
dikonsumsi maka menyebabkan luka post operasi tidak sembuh-sembuh.
b. Kegagalan untuk mengenali gizi pada anak.
Di Haiti ada suatu adat dimana bapak dan anak laki-laki yang paling
besar harus diladeni makan terlebih dahulu. Biasanya mereka akan memilih
makanan yang banyak mengandung protein. Akibat kebiasaan ini wanita dan
anak-anak kecil seringkali menderita kwashiorkor karena mereka makan
makanan sisa yang biasanya sedikit sekali mengandung protein. Di
masyarakat Jawa Indonesia bapak harus didahulukan makan kemudian baru
anak-anaknya.
2.5 Hasil Penelitian tentang Nutrisi pada Ibu Hamil dan Nifas di Masyarakat
Jawa.
Makanan pantangan bagi ibu hamil diantaranya makan atau minum panas
seperti teh panas, kopi panas. Sedangkan makanan yang lain adalah makanan yang
mengandung alcohol seperti durian, tape ketan, nanas dengan alasan sebab
makanan tersebut bisa membahayakan kesehatan bayi. Daging kambing dan
makanan pedas seperti yang disebutkan keluarga adalah sambal, cabe, karena
kalau makan pedas nanti bayi menjadi belekan.
Perilaku tersebut sejalan dengan pandangan dari segi kesehatan bahwa
makanan yang mengandung alcohol akan membahayakan janin, dan makanan
yang terlalu panas akan merusak mukosa saluran cerna. Budaya kesehatan yang
membahayakan sebaiknya dirubah, prinsip keperawatan dalam hal ini disebut
Culture Care Repartterning on Restructuring (Leininger, 1995). Mengenai
makanan yang dianjurkan ketika hamil adalah jamu-jamuan, sayur-sayuran,
kebanyakan keluarga mengatakan dengan jamu atau sayur ibu hamil menjadi
sehat. Salah satu ibu berkata anak saya hamil ini saya suruh makan kepala ikan
7

lele agar kepala anak menjadi bagus, minum air kelapa niar kulit anaknya putih
dan air kacang hijau agar rambut anak menjadi tebal. Perilaku ini menurut
kesehatan dianjurkan karena air kelapa mengandung elektrolit yang akan
memperkuat kontraksi otot, dan ikan lele mengandung protein yang memperbaiki
pertumbuhan janin, prinsip aplikasi keperawatannya adalah accommodation care
artinya perilaku budaya yang tidak membahayakan dihargai.
Contoh gambaran kasus penolakan nutrisi :
Peterson 40 tahun seorang warga negara Amerika yang sedang berkunjung ke
Indonesia mendampingi adiknya yang sedang penelitian di Bali. Peterson pertama
kali berkunjung ke Indonesia dan ketika hari kedua tiba di Indonesia, Peterson
harus dirawat di rumah sakit karena jatuh ketika mengendarai sepeda motor dan
didiagnosa fisura ulna sepertiga distal. Pada hari kedua dirawat, Peterson
dihidangkan sarapan berupa nasi dan kacang hijau, tetapi dia tidak menyentuh
porsi sarapan tersebut. Ketika perawat melakukan evaluasi, alasan Peterson tidak
makan adalah karena tidak mengenal makanan tersebut.
Sikap Peterson sebagai warga negara Amerika yang menolak nutrisi pada
kasus tersebut disebabkan karena gaya hidup atau kebiasaan yang berbeda.
Seorang yang tinggal di suatu tempat baru akan menghadapi berbagai perbedaan,
salah satunya adalah budaya. Cara makan, jenis makanan,dan jam makan
merupakan lingkup perbedaan nutrisi dalam keperawatan transkultural. Apabila
perawat menghadapi masalah seperti kasus Peterson, maka harus dipecahkan
dengan asuhan keperawatan transkultural.
2.6 Cara mengkaji nutrisi pasien
Gambaran kasus tentang penolakan nutrisi dalam perspektif budaya masih
sering terjadi di ruang rawat inap di sebuah rumah sakit. Sebenarnya masalah
tersebut tidak perlu terjadi apabila perawat melakukan pengkajian nutrisi dalam
perspektif budaya. Di bawah ini adalah beberapa struktur pertanyaan yang biasa

dipakai sebagai pedoman dalam melakukan pengkajian nutrisi pada pasien.


Menurut Andrews dan Boyle (1995), pengkajian nutrisi meliputi:
a) Apakah pasien dalam mengkonsumsi nutrisi dipengaruhi latar belakang
budaya?
b) Apa arti makanan dan makan bagi pasien?
c) Apa yang biasanya dimakan pasien (ketika sarapan, makan siang dan
sebagainya)? Dan bagiamana type makanan pasien? (misalnya nasi, roti,
gandum, dan sebagainya)
d) Kapan waktu makan? Adakah camilan diantara waktu makan? Apa tipe
camilannya?
e) Bagaimana pasien mengidentifikasikan makanan? Apakah pasien percaya
tentang makanan sehat dan makanan tidak sehat?
f) Siapa yang menentukan jenis makanan dalam keluarga? Di mana kebiasaan
berbelanja bahan makanan?
g) Apakah pasien mempunyai kepercayaan dan pantangan terhadap makanan
tertentu?
h) Apakah ada ketentuan atau keyakinan pasien makan makanan tertentu pada
waktu tertentu pula?
i) Bagaimanakah kebiasaan pasien menggunakan peralatan makan ?
j) Apakah saat ini pasien menggunakan makanan lain sebagai terapi alternative
ketika sakit?

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Makanan yang kita konsumsi mengandung gizi dan nutrisi yang didalamnya
terdapat air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Nutrisi adalah
substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh,
pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Budaya menentukan makanan, kebiasaan
makan, dan nutrisi di dalamnya. Makanan dalam perspektif budaya mempunyai
fungsi simbolik antara lain sebagai ungkapan ikatan sosial, ungkapan kesetiakawanan
kelompok, sebagai identitas dan stress, serta simbolisme makanan dalam bahasa.
Pembatasan budaya terhadap kecukupan gizi perlu diperhatikan karena adanya
kegagalan melihat hubungan antara makanan dan kesehatan serta kurangnya
mengenali gizi pada anak. Oleh karena itu, diperlukannya pengkajian nutrisi kepada
klien agar sesuai dengan asuhan keperawatan yang dibutuhkannya.
3.2 Saran
Kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca mengenai makalah ini,
agar kami dapat menjadi lebih baik dalam pembuatan makalah-makalah kami
selanjutnya.

10

DAFTAR PUSTAKA
Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4 Vol 2. Jakarta :
EGC
Pratiwi, Arum. 2010. Buku Ajar Keperawatan Transkultural. Yogyakarta: Gosyen
Publishing
Afifah, Efy. Ringkasan Materi Keragaman Budaya Dan Perspektif Transkultural
DalamKeperawatan.http://staff.ui.ac.id/internal/132051049/material/transkult
uralnursing.pdf.
www.slideshare.net/AdiAdriansyah1/makalah-transkultural-komplit
https://id.wikipedia.org/wiki/Nutrisi

11