Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia selalu ingin berusaha menemukan tentang kebenaran. Beberapa cara yang
digunakan untuk memperoleh tentang kebenaran tersebut, antara lain dengan
menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris.
Pengalaman-pengalaman yang didapat oleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang
diperoleh dari penalaranyang rasional. Kejadian-kejadian yang berlaku di alam ini dapat
di pahami atau dimengerti. Terkadang kebenaran itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi,
oleh sebab itu manusia selalu ingin mencari tentang kebenaran.
Struktur pengetahuan menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam mengungkap
kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat
kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi adalah pengetahuan yang terendah dalam
struktur tersebut, sedangkan tingkatan pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan rasional
dan intuitif. Pengetahuan yg terendah hanya menangkap kebenaran secara tidak lengkap
dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan inderawi dan naluri. Maka dari itu
pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi seperti
pengetahuan rasional-ilmiah agar manusia bisa melakukan dan memperoleh kebenaran
dengan jelas
Kemajuan dalam bidang kimia, fisika dan biologi membawa manfaat yang banyak
bagi kehidupan manusia. Namun disamping manfaat positif muncul pula penyalagunaan
kemajuan ilmu kimia, fisika dan biologi sehingga menimbulkan malapetaka. Perang Dunia
I yang menghadirkan bom biologis dan Perang Dunia II memunculkan bom atom
merupakan dampak negatif penyalagunaan ilmu dan teknologi.
Setiap ilmu pengetahuan akan menghasilkan teknologi yang kemudian akan
diterapkan pada masyarakat. Proses ilmu pengetahuan menjadi sebuah teknologi yang
benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tentu tidak terlepas dari si ilmuwannya.
Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pribadi ataukah
kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuan serta masalah
bebas nilai. Untuk itulah tanggung jawab seorang ilmuwan haruslah dipupuk dan berada
pada tempat yang tepat, tanggung jawab akademis, dan tanggung jawab moral.
Singkatnya dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus dapat
mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka
1

sadari. Jelaslah kiranya seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial yang terpikul
dibahunya karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup
bermasyarakat. Fungsinya selaku ilmuwan tidak hanya pada penelahaan dan keilmuan
secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuan sampai dan
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Masalah moral dalam menghadapi ekses ilmu dan tekhnologi yang bersifat merusak,
para ilmuwan terbagi kedalam dua golongan pendapat. Golongan pertama menginginkan
bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun
aksiologis. Golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilainilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaannya,
bahkan pemilihan obyek penelitian, maka kegiatan ilmuwan harus berlandaskan asas-asas
moral. Oleh karena itu kami membuat makalah moralitas ilmu pengetahuan ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas di dapatkan rumusan masalah dalam makalah ini
yaitu :
1. Apakah definisi dari Ilmuwan?
2. Bagaimanakah tanggung jawab ilmuwan terhadap ilmu yang telah didapat?
3. Bagaimanakah karakteristik Ilmu bebas nilai dan ilmu tidak bebas nilai?
4. Bagaimanakah Moralitas Ilmu itu?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas di dapatkan manfaat dalam makalah ini yaitu :
1. Untuk mendeskripsikan definisi dari Ilmuwan.
2. Untuk mendeskripsikan tanggung jawab ilmuwan terhadap ilmu yang telah didapat.
3. Untuk mendeskripsikan karakteristik Ilmu bebas nilai dan ilmu tidak bebas nilai.
4. Untuk mendeskripsikan Moralitas Ilmu.

BAB II
ISI
2.1 Definisi Ilmuwan
Dari pertumbuhan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai abad modern ini tampak
nyata bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia, suatu kegiatan melakukan sesuatu yang
dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian aktivitas yang membentuk suatu
proses. Seorang yang melakukan rangkaian aktivitas yang disebut ilmu itu kini lazim
dinamakan ilmuwan (scientist ).
Kata ilmuwan sekarang tentu bukanlah hal yang asing. Secara sederhana ia diberi
makna ahli atau pakar. Dalam kamus Indonesia, kata ilmuwan bermakna orang yang ahli
atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu, atau orang yang berkecimpung dalam
ilmu pengetahuan serta orang yang bekerja dan mendalami ilmu pengetahuan dengan
tekun dan sungguh-sungguh.
Ilmuwan merupakan profesi, gelar atau capaian professional yang diberikan
masyarakat kepada seorang yang mengabdikan dirinya pada kegiatan penelitian ilmiah
dalam rangka mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang alam semesta,
termasuk fenomena fisika, matematis dan kehidupan sosial.
Istilah ilmuwan dipakai untuk menyebut aktifitas seseorang untuk menggali
permasalahan ilmuwan secara menyeluruh dan mengeluarkan gagasan dalam bentuk
ilmiah sebagai bukti hasil kerja mereka kepada dunia dan juga untuk berbagi hasil
penyelidikan tersebut kepada masyarakat awam, karena mereka merasa bahwa tanggung
jawab itu ada dipundaknya.
Ilmuwan memiliki beberapa ciri yang ditunjukkan oleh cara berfikir yang dianut
serta dalam perilaku seorang ilmuwan. Mereka memilih bidang keilmuan sebagai profesi.
Untuk itu yang bersangkutan harus tunduk dibawah wibawa ilmu. Karena ilmu
merupakan alat yang paling mampu dalam mencari dan mengetahui kebenaran. Seorang
ilmuwan tampaknya tidak cukup hanya memiliki daya kritis tinggi atau pun pragmatis,
kejujuran, jiwa terbuka dan tekad besar dalam mencari atau menunjukkan kebenaran
pada akhirnya, netral, tetapi lebih dari semua itu ialah penghayatan terhadap etika serta
moral ilmu dimana manusia dan kehidupan itu harus menjadi pilihan juga sekaligus
junjungan utama.
2.2 Tanggung jawab ilmuwan
Ilmu menggahasilkan teknologi yang diperagakan masyarakat.penarapan ilmu
dimasyarakat juga menjadi kebekarhan bagi masyarakat dan dapat mengubah beradaban
3

bagi manusia, tetapi juga bisa menimbulkan bencana bagi manusia apabila
menyalagunakan hasil karya para ilmuwan. Disinilah pemanfaatkan dan teknologi perlu
diperhatikan sebaik-baiknya.
Dihadapkan masalah moral dan akses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak,
maka para ilmuwan bisa dinobatkan sebagai dua golongan pendapat, Ilmu harus bersifat
netral terhadap nilai-nilai baik secra ontologis maupun maupun aksiologi. Dalam hal ini
ilmuwan hanya bisa menemukan penemuan terserah mau dipakai oleh para pengguna
yang bersifat positif maupun negatif ilmu itu sifatnya netral.
1. Golongan yang pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralan sebuah ilmu seperti
pada waktu era Golileo, dan golongan yang berpendapat netralisasi ilmu hanyalah
terbatas pada metafisika keilmuwan, sedangkan penggunaan harus berdasarkan nilainilai moral.
2. Golongan yang kedua ini mendasarkan pendapatnya pada tiga hal yaitu
Ilmu secara factual digunakan secara destraktiv oleh manusia, yang dibuktikan
adanya perang dunia yang menggunakan teknologi keilmuwan yaitu terjadi Bom
atom. Yang mengahabiskan kota Nagasaki dan hirosima pada saat itu.
Ilmuwan sebagai manusia yang diberi kemampuan merenung dan menggunakan
pikirannya untuk bernalar. Kemampuan berpikir dan bernalar itu pula yang membuat kita
sebagai manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu
kemudian digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari lingkungan
alam yang tersedia di sekitar kita. Oleh karena itu tanggung jawab ilmuwan terhadap
masa depan kehidupan manusia diantaranya adalah :
a. Ilmu adalah berkembang secara pesat dan makin esoteric sehingga para ilmuwan
mengetahui akses-akses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalagunaan hasil
karya para ilmuwan.
b. Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu
dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus
revolusi genetika dan teknik pembuatan social.
Tanggung Jawab Profesional terhadap dirinya sendiri, sesama ilmuwan dan
masyarakat, yaitu menjamin kebenaran dan keterandalan pernyataan-pernyataan ilmiah
yang dibuatnya secara formal. Agar semua pernyataan ilmiah yang dibuatnya selalu
benar dan memberikan tanggapan apabila ia merasa ada pernyataan ilmiah yang dibuat
ilmuwan lain yang tidak benar.

Tanggung Jawab Sosial, yaitu tanggung jawab ilmuwan terhadap masyarakat


yang menyangkut asas moral dan etika. Pengalaman dua perang dunia I (terkenal dengan
perang kuman) dan II (terkenal dengan bom atom) telah membuktikan bahwa ilmu
digunakan untuk tujuan-tujuan yang destruktif.
Jika ilmuwan mempunyai rasa tanggung jawab moral dan sosial yang formal,
maka konsekuensinya ilmuwan harus mempunyai sikap politik formal. Sebab sikap
politik formal merupakan konsisten dengan asas moral keilmuan serta merupakan
pengejawantahan/implementasi dari tanggung jawab sosial dalam mengambil keputusan
politis, dimana keputusan ini bersifat mengikat (authorative).
Demi pertanggungan jawaban ilmuwan terhadap masa depan umat manusia,
semua dampak negatif sains dan teknologi terus ditangani secara bersama-sama, bukan
saja oleh masyarakat ilmuwan dunia, melainkan juga oleh pemerintah semua negara,
berlandaskan suatu pandangan bahwa manusia di bumi ini mempunyai tugas untuk
mengelolanya dengan sebaik-baiknya. Maka dari itu manusia juga harus melakukan halhal Mengadakan kerjasama dengan ilmuwan dan ahli teknologi berbagai negara dalam
menerapkan pengetahuannya demi kepentingan seluruh umat manusia. Perlunya
pembangunan yang berorientasi masa depan dan wawasan lingkungan.
Ilmu merupakan hasil karya seseorang yang akan dikaji dan dikomunikasikan
kepada manusia secara terbuka. Jika hasil karya itu memenuhi syarat sebagai seorang
ilmuwan maka ia diterimah dengan terbuka sebagai bagian kumpulan ilmu pengetahuan
dan digunakan oleh masyarakat. Dengan kata lain penciptaan ilmu dengan individu tapi
secara komunikasi dan penggunaan ilmu karus harus bersifat social. Peranan individulah
yang menonjol dalam kemajuan ilmu, yang dapat saja mengubah wajah peradaban.
Ilplikasi penting dalam tanggung jawab social seoarang ilmuwan , setiap pencarian dan
penemuan kebenaran secara ilmiah harus disertai dengan landasan etis yang kukuh.
Menurut SuriSumantri (1984), proses pencarian dan penemuan kebenaran ilmiah yang
dilandasi etika, merupakan katagori moral yang menjadi dasar sikap etis seoarang
ilmuwan. Ilmuwan bukan berfungsi sebagai analisis materi kebenaran tersebut tetapi
harus juga menjadi prototipe moral yang baik.
Tanggung jawab ilmuwan tidaklah ringan. Dapatkah seorang ilmuwan bisa
memikul tanggung jawab sedemikian itu, jika batas moral yang berlaku tidak universal?
hal etis, yang menjadi landasan utama tegaknya tanggung jawab moral para ilmuwan,
memang tidak mempunyai sifat umum dan universal. Maksutnya etika tidak dapat

memberikan aturan yang universal yang konkret untuk setiap masa, kebudayaan,dan
situasi.
Etika tidak termasuk kawassan ilmu dan teknologi, tetapi berperan dalam
pengembangan ilmu dan teknologi penerapan ilmu dan teknologi memerlukan
petimbangan dari etika, bahkan etika dapat memberi pengaruh proses perkrngembangan
ilmu dan teknologi. Hal-hal penggunaan ilmu dan teknologi merupakan tanggung jawab
ilmuwan. Dalam hal ini ilmu wajib memperhatikan kodrat manusia.martabat manusia
dan menjaga keseimbangan ekosistem, bertangung jawab pada kepentingan umum, dan
bersifat universal.Contoh masyarakat menggunakan pembungkus yang dianggap praktis,
yaitu palstik tetapi masyarkat juga sadar bahwa plastic tersebut juga bisa menjadi
limbah.Saat ini sudah ditemukan teknologi umtuk mengelolah limbah plastic yang bisa
membahayakan manusia. Tanggung jawab etis ilmuan dapat memicu,menginpirasi,
memotivasi perkembangan ilmu dan teknologi
2.3 Ilmu bebas nilai dan ilmu tidak bebas nilai
Rasioamal ilmu terjadi sejak rene Descartes bersikap sepkeptis sebagai metode
yang meragukan segala sesuatu, kecuali dirinya yang sedang ragu-ragu. Sikap ini masih
berlanjut pada masa aufklarung, suatu era yang merupakan usaha manusia untuk
mencapai pemahaman rasional tentang dirinya dan alam.
Persoalanya ilmu berkembang dengan pesat apakah bebas nilai atau justru tidak
bebas nilai. Bebas nilai yang dimaksut Josep Situmorang (1996) bebas nilai artinya
tuntutan setiap kegiatan ilmiah atas didasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu
sendiri. Ilmu pengetahuan menolak campur tangan factor eksternal yang tidak secara
hakiki menentukan ilmu pengethuan itu sendiri.
1. Ilmu Bebas Nilai
Minimal sebagai tiga factor sebagai indicator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas
nilai, yaitu:
a. Ilmu harus bebas dari factor eksternal seperti factor politis, ideologis, agama,
budaya, dan unsur kemasyarakatan lainya .
b. Perlunya kebebasan ilmiah, yang mendorong terjadinya otonomi ilmu
pengaetahuan. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan untuk menentukan
diri sendiri.
c. Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan dari etis (yang sering dituding
menghambat kemajuan ilmu), karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.

Indikator pertama dan kedua menujjukan upaya para ilmuan untuk menjaga
objektivitas ilmiah, sedangkan indicator kedua menujukan adanya factor yang tak
terhindarkan perkembangan ilmu, pertimbangan etis. Hapir dipastikan bahwa mustahil
bagi para ilmuan untuk menafikan pertimbangan etis ini, karena setiap manusia
mempunyai hati nurani sebagai institusi moral terkecil yang ada dalam dirinya sendiri.
Ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai nilai yang letaknya di luar
ilmu pengetahuan, hal ini dapat juga di ungkapkan dengan rumusan singkat bahwa ilmu
pengetahuan itu seharusnya bebas. Maksud dari kata kebebasan adalah kemungkinan
untuk memilih dan kemampuan atau hak subyek bersangkutan untuk memilih sendiri.
Supaya terdapat kebebasan, harus ada penentuan diri dan bukan penentuan dari luar. Jika
dalam suatu ilmu tertentu terdapat situasi bahwa ada berbagai hipotesa atau teori yang
semuanya tidak seluruhnya memadai, maka sudah jelas akan di anggap suatu
pelanggaran kebebasan ilmu pengetahuan, bila suatu instansi dari luar memberi petunjuk
teori mana harus di terima. Menerima teori berarti menentukan diri berdasarkan satu
satunya alasan yang penting dalam bidang ilmiah, yaitu wawasan akan benarnya teori.
Apa yang menjadi tujuan seluruh kegiatan ilmian disini mecapai pemenuhannya. Dengan
demikian penentuan diri terwujud sunguh sungguh.Walaupun terlihat dipaksakan,
namun penentuan diri ini sungguh bebas, karena dilakukan bukan berdasarkan alasan
alasan yang kurang dimengerti subyek sendiri melainkan berdasarkan wawasan
sepenuhnya tentang kebenaran.
2. Terikat Nilai
Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai, ilmu yang terikat nilai (value bond)
memandang bahwa ilmu itu selalu terikat dengan nilai dan harus dikembangan dengan
mempertimbangkan aspek nilai dan terutama nilai.Pengembangan ilmu jelas tidak
mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai, lepas dari kepentingan-kepentingan baik politis,
ekonomis, religius, ekologis, dan lain-lain sebagainya.Dalam pandangan terikat nilai ini
kata nilai juga memiliki makna yang lebih luas.Pertama, makna nilai bukan hanya
dalam konteks baik buruk tetapi juga dalam konteks ada kepentingan atau tidak.Kedua,
terikat nilai tidak hanya berlaku bagi ilmuan tetapi juga bagi ilmu itu sendiri, sehingga
memasuki wilayah epistemologis.Keduanya saling tekait.
Sosiolog, Weber, bahwa ilmu social menyatakan harus bebas nilai, tetapi ia juga
mengatakan ilmu-ilmu social harus menjadi nilai yang relevan. Weber tidak yakin bahwa
para ilmuan social melakukan aktivitasnya seperti mengejar atau menulis bidang ilmu
social itu, mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai itu harus
7

diimplikasikan kedalam bagian-bagian praktis ilmu social jika praktik itu mengandung
tujuan atau rasional.Tanpa keinginan melayani kepentintgan orang, budaya, maka ilmu
social tidak beralasan untuk tidak diajarkan.Suatu sikap moral yang sedemikian itu tidak
mempunyai hubungan objektivitas ilmiah (Rizal Mutansyir dan Misnal Minir 2001)
Tokoh lain habermas sebagaimana yang ditulis Rizal Mustasir (2001)berpendirian
teori sebagai produk ilmiah tidak bebas nilai. Pendirian ini diwarisi Hebermas dari
pandangan Huseri yang melihat fakta dari objek alam diperlukan ilmu pengetahuan
sebagai kenyataan yang sudah jadi.Fakta atau objek itu sebenarnya sudah tersusun secara
sepontan dan primodial dalam pengalaman sehari-hari, dalam libenswelt atau dunia
sebagaimana dihayati. Setiap ilmu pengetahuan mengambil dari libensweltitu sejumlah
fakta sebagai fakta yang kemudian diilmiakan berdasarkan kepentingan praktis.
Habermas menegaskan lebih lanjut bahwa ilmu pengatahuan alam terbentuk
berdasarkan kepentingan teknis. Ilmu pengatahuan alam tidaklah netral, karena isinya
tidak lepas sama sekali dari kepentingan praktis. Ilmu sejarah dan hermeneutika juga
ditentukan oleh kepentingan praktis kendati dengan cara yang berbeda. Kegiatan teoritis
yangmelibatkan pola subjek selalumengandung kepentingan tertentu.Kepentingan itu
bekerja pada tiga bindang, yaitu pekerjaan.bahasa , dan otoritas. Pekerjaan merupakan
kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika, sedangkan otoritas merupakan kepentingan
ilmu social.
2.4 Moralitas Ilmu
Manusia sebagai manipulator dan articulator dalam mengambil manfaat dalam
ilmu pengetahuan. Dalam psigkologi, dikenal konsep diri dan freud menyebut sebagai
id, ego dan super ego , id adalah bagian kepribadian yang dorongan biologi
(hawa nafsu dalam agama ) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua insting: libido
(konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). Ego penyelaras antara Id dan
realitas dunia luar.super ego adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati nurani
(jalaludin Rahmat, 1989). Dalam agama ada sisi destruktif manusia, yaitu sisi angkara
murka (hawa nafsu).
Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis, mereka
dapat saja hanya mefungsikan id nya, seingga dapat dipastikan bahwa manfaat
pengetahuan diaarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Misalnya dalam pertarungan
antara id dan ego, dimana ego kalah sementara superego tidak berfungsi optimal, maka
tentu atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tidak manusia mejatuhkan
pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan
8

amatlah nihil kebaikan yang

diperolehmanusia,atau malah mungkin kehancuran. Kisah dua kali perang dunia,


kerusakan lingkungan, penipisan lapisan ozon, adalah pilihan id dari kepribadian
manusia yang mengalahkan ego maupun super egonya.
Etika adalah pembahasan mengenai baik, buruk, semestinya, benar, dan salah.
Yang paling menonjol tentang baik dan kuwajiban .keduanya bertalian denga hati nurani.
Bernaung dibahwa filasafat moral (Herman Soerwardi 1999). Etika merupakan tatanan
konsep yang melahirkan kuwajiban itu, dengan argument bahwa sesuatu tidak dijalankan
berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika
adalah seperangkat kewajiban tentang kebaikan yang melaksanakanya tidak ditunjuk.
Exekutornya menjadi jelas ketika sang subjek berhadap opsi baik atau buruk yang baik
itulah kuwajiban executor dalam kehidupan ini.
Ilmu pengetahuan yang diterapkan bertujuan untuk mempergunakan dan
menerapkan ilmu pengetahuan tersebut di dalam masyarakat untuk mengatasi masalahmasalah yang dihadapinya. Adalah sangat bijaksana apabila manusia-manusia di muka
bumi ini dapat memanfaatkan ilmunya untuk memperlajari berbagai gejala atau peristiwa
yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan
ilmu pengetahuan hendaknya membatasi diri pada hal-hal yang asasi, dan semua orang
akan menyambut gembira bila ilmu pengetahuan ini benar-benar dimanfaatkan bagi
kemaslahatan manusia.
Ilmu pengetahuan hendaknya dikembangkan manusia untuk meningkatkan
kualitas hidup manusia. Ilmu pengetahuan yang dikendalikan oleh manusia-manusia
yang tidak bermoral telah membawa maut dan penderitaan yang begitu dahsyat kepada
umat manusia, sehingga manusia di dunia ini tetap mendambakan perdamaian abadi
dengan penemuan-penemuan ilmu yang modern dan canggih ini. Descartes menyatakan
bahwa ilmu pengetahuan merupakan serba budi; Immanuel Kant menyatakan ilmu
pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman. Ilmu pengetahuan selain
tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran juga harus
mengandung nilai etis atau moral, dikatakan beretis atau bermoral adalah harus
mengandung nilai yang bermakna dan berarti, berguna bagi kehidupan manusia. Ilmu
pengetahuan bukan saja mengandung kebenaran-kebenaran tapi juga kebaikan-kebaikan.
Dalam menggerayangi hakekat ilmu, sewaktu kita mulai menyentuh nilainya
yang dalam, di situ kita terdorong untuk bersikap hormat kepada ilmu. Hormat pertamatama tak ditujukan kepada ilmu murni tetapi ilmu sebagaimana telah diterapkan dalam
kehidupan. Sebenarnya nilai ilmu terletak pada penerapannya. Ilmu mengabdi
9

masyarakat sehingga ia menjadi sarana kemajuan. Boleh saja orang mengatakan bahwa
ilmu itu mengejar kebenaran dan kebenaran itu merupakan inti etika ilmu, tetapi jangan
dilupakan bahwa kebenaran itu ditentukan oleh derajat penerapan praktis dari ilmu.
Pandangan yang demikian itu termasuk faham pragmatisme tentang kebenaran. Di situ
kebenaran merupakan suatu ide yang berlandaskan efek-efek praktis.
Teknologi yang merupakan konsep ilmiah yang menjelma dalam bentuk konkret
telah mengalihkan ilmu dari tahap kontemplasi ke manipulasi. Dalam tahap manipulasi
ini masalah moral muncul kembali berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan
ilmiah. Dihadapkan dengan masalah moral, ilmuwan terbagi menjadi dua.
Golongan pertama menginginkan ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai
baik secara ontologis maupun secara aksiologis. Sehingga tugas ilmwan adalah
menemukan pengetahuan dan terserah pada penggunanya untuk menggunakan
pengetahuan tersebut demi tujuan baik atau buruk.
Golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilainilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya,
bahkan pemilihan obyek penelitian, maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan asasasas moral. Charles Darwin mengatakan bahwa tahapan tertinggi dalam kebudayaan
moral manusia adalah ketika kita menyadari bahwa kita seyogyanya mengontrol pikiran
kita.

10

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk
kemaslahatan manusia atau sebaliknya dapat pula disalahgunakan seperti nuklir.
Tanggung jawab para ilmuan sangat berat karena hasil karyanya untuk kemaslahatan
manusia.
Para ilmuan harus mengetahui bahwa ilmu itu bebas nilai atau ada tergantungan
nilai sehingga bisa diterapkan sesuai hakekatnya Dalam menggunakan ilmu pengetahuan,
seharusnya melihat berbagai aspek. Baik dari segi norma, sosial, dan kegunaan dari ilmu
Karena hasil dari ilmu, pasti akan berdampak besar dengan yang lainnya. tersebut.
Sehingga ilmu itu harus terikat nilai. Karena perlu di perhatikan faktor sebab dan akibat
dalam penggunaan ilmu pengetahuan. Dan juga subyek dan obyek ilmu sendiri adalah
manusia, sehingga karena manusia memiliki tatanan nilai lainnya, tentunya akan
mempengaruhi dalam penggunaan ilmu.
Kekuasaan ilmu mengharuskan seorang ilmuan memiliki landasan moral yang
kuat, memegang idiologi dalam mengembangkan dan memanfaatkan keilmuannya.

11

DAFTAR PUSTAKA
A.G.M Ilmu van Melsen. 1992. Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Alimahdi, Abu. 2011. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta Rineka Cipta.
Muis,

abdul.

2013.

Makalah

Moralitas

Ilmu

Pengetahuan.

(Online).

(https://mueis.wordpress.com/2013/05/04/makalah-moralitas-ilmu-pengetahuan/).
Diakses pada hari selasa, 31 Maret 2015, Pukul 18.08 WIB.
Mustansir, Rizal. 2012. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar .
Suhasti, Ermi. 2013. Pengantar Filsafat Ilmu.Yogyakarta.
S.Sumantri, Jujun. 2012. Ilmu dalam Persfektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

12