Anda di halaman 1dari 3

TUGAS KELOMPOK PENGANTAR BISNIS

STUDI KASUS TENTANG


ETIKA BISNIS PERUSAHAAN

KELOMPOK 1
Ketua Kelompok : I Wayan Tresna Wira Sentana (1607521026) (06)
Anggota Kelompok : Ni Made Purni Utari (1607521039) (17)
Kadek Ayu Yuliawati (1607521041) (19)
Ni Luh Sintya Yulianingsih (1607521042) (20)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
BUKIT JIMBARAN
2016

CONTOH PELANGGARAN ETIKA BISNIS PADA PERUSAHAAN

Toshiba merupakan perusahaan multinasional yang berdiri pada tahun 1938. Pertama
bernama Tokyo Shibaura Electric K.K. hingga pada tahun 1978 berubah nama menjadi Toshiba
Corporation. Perusahaan ini bermarkas di Tokyo, Jepang. Awalnya, Toshiba berorientasi pada produk
lampu pijar, tetapi Toshiba berkembang sangat pesat sampai seperti sekarang yang berorientasi pada
produk produk semikonduktor, terutama produk mesin cuci, pendingin ruangan, televisi, serta
produk PC atau Personal Computer yang kita kenal sebagai gadget dalam kehidupan sehari hari,
karena dari pengamatan kami sehari hari, produk Toshiba yang telah disebutkan di atas yang paling
banyak digunakan konsumen. Karena kontribusi penjualan produk produk andalannya tersebut,
Toshiba mampu menjadi perusahaan semikonduktor terbesar nomor 7 di dunia.
Namun, perusahaan ini diguncang skandal besar pada tahun 2015 lalu. Toshiba diduga
memanipulasi laporan keuangannya. Ini berawal dari dibatalkannya pembayaran dividen para
pemegang saham Toshiba oleh manajemen Toshiba. Dibatalkannya pembayaran dividen para
pemegang saham Toshiba tersebut menyebabkan para pemegang saham mencurigai adanya salah
kelola atau manipulasi keuangan perusahaan. Penyelidikan internal pun dilakukan dan hasilnya,
memang terjadi manipulasi data keuangan oleh pihak Toshiba sendiri hingga menyebabkan para
direksi yang dipimpin oleh CEO Toshiba pada saat itu, Hisao Tanaka mengundurkan diri pada bulan
September 2015 akibat skandal keuangan tersebut (Reuters US, 8 Mei 2015).
Setelah terungkapnya skandal keuangan perusahaan ke publik, berdampak sangat besar bagi
Toshiba. Dampak yang langsung bisa dirasakan perusahaan yang bermarkas di Minato, Tokyo,
Jepang ini adalah nilai jual Toshiba di bursa saham Tokyo (Nikkei) anjlok, dan para para pemegang
saham berbondong bondong menjual saham Toshiba di bursa saham. Dampak lain yang dirasakan
Toshiba setelah itu adalah turunnya nilai penjualan produk Toshiba, terutama pada penjualan personal
computer (PC). Dari laporan keuangan terbaru yang dilaporkan oleh perusahaan pada Februari 2016,
bisnis PC mengalami kerugian sebesar US$ 6.000.000.000 atau 81.6 triliun rupiah (Detik, 17 Februari
2016).
Dari kejadian skandal keuangan Toshiba yang terjadi pada tahun 2015 yang lalu, kami
berpendapat bahwa kejadian tersebut merupakan pelanggaran etika bisnis. Jika kita mengacu kepada
tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis yang ditulis oleh Von der Embse
dan R.A. Wagley dalam bukunya yang berjudul Advanced Management Journal (1988), dari
pendekatan pertama, yaitu utilitarian approach yang berbunyi setiap tindakan harus didasarkan pada
konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang
dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan
dan dengan biaya serendah-rendahnya. Dari penjelasan tersebut, perusahaan Toshiba telah
menciptakan produk yang membantu pekerjaan manusia yang semakin lama semakin kompleks, dan
sampai saat ini, jika menilik pada pendekatan utilitarian approach ini, tidak ada laporan bahwa
perusahaan ini melakukan pelanggaran.
Dari sisi pendekatan kedua, yaitu Individual Rights Approach yang berbunyi setiap orang
dalam tindakan dan kelakuannya memiliki hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun
tingkah laku tersebut harus dihindari apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan
hak orang lain. Dalam hal ini, perusahaan Toshiba sudah melanggar atau bisa dibilang tidak etis

dalam hal ini karena tidak ada pemegang saham yang mau percaya jika diberi laporan keuangan yang
ternyata merupakan hasil manipulasi tersebut, dengan adanya kejadian tersebut, otomatis terjadi
benturan hak yang mana perusahaan tidak mau para pemegang saham melepas saham perusahaannya,
sementara para pemegang saham pasti akan melepas saham perusahaan karena mereka dalam hal ini
pemegang saham intinya sudah tidak percaya lagi dengan perusahaan tersebut, sehingga terjadi
benturan hak, dan dari sana kami berpendapat kalua perusahaan Toshiba telah melanggar pendekatan
nomor 2 dan secara etika, kami berpendapat bahwa perusahaan Toshiba tidak etis.
Dari sisi pendekatan ketiga, yaitu Justice Approach yang berbunyi para pembuat keputusan
mempunyai kedudukan yang sama, dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada
pelanggan baik secara perseorangan ataupun secara kelompok. Dari pernyataan tersebut, terlihat
bahwa Toshiba sudah tidak memberikan pelayanan yang baik terhadap pelanggan dalam hal ini
pemegang saham. Ini dibuktikan dari apa yang telah dilakukan oleh para direksi perusahaan Toshiba
yang memanipulasi laporan keuangan yang dalam asumsi kelompok kami dilakukan untuk
memberikan detail mengenai kondisi keuangan serta prospek masa depan perusahaan yang alih alih
membuat para pemegang saham puas dan senang dengan gambaran tersebut, tetapi pada akhirnya
membuat para pemegang saham melepas saham Toshiba tersebut karena perusahaan melakukan
manipulasi data laporan keuangan.
Dari apa yang telah dijelaskan di atas, kelompok kami berkesimpulan bahwa perusahaan
Toshiba secara teknis telah melakukan pelanggaran etika bisnis. Kami berharap kejadian itu kita
jadikan cermin bahwa integritas sangat diperlukan dalam perusahaan dan orang orang yang berada
di dalamnya agar kejadian seperti perusahaan Toshiba tersebut tidak terulang lagi di masa yang akan
datang.