Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

Kota Medan saat ini mengalami


perkembangan dalam sektor industri
yang merupakan lapangan usaha utama
dalam struktur perekonomian kota medan
dengan kontribusi sebesar 14,28% (BPS
Kota Medan). Berdasarkan hal tersebut
pemerintah
menyediakan
kawasankawasan industri dengan manajemen
terpadu.
Perkembangan
tersebut
diikuti
dengan meningkatnya persentase jumlah
buruh di kota Medan sebanyak 2% dari
29% - 31% (Survey Angkatan Kerja
Februari 2011 Februari 2012). Tidak
semua buruh yang bekerja bertempat
tinggal dekat dengan kawasan industri,
bahkan adapula buruh yang berasal dari
luar kota Medan. Buruh harus menempuh
jarak yangcukup jauh untuk sampai di
tempat
kerjanya
menyebabkan
berkurangnya jam istirahat yang dapat
mempengaruhi kesehatan serta kinerja
dari buruh yang dapat mempengaruhi
hasil produksi baik secara kualitatif
maupun kuantitatif.
Pendapatan buruh yang relatif
rendah akan semakin memberatkan
beban buruh jika harus mengeluarkan
biaya transportasi yang sekarang semakin
mahal akibat kenaikan harga BBM. Oleh
sebab itu buruh dengan penghasilan yang
relatif rendah akan cenderung mencari
permukiman yang dekat dengan lokasi
kerjanya dengan harga yang lebih murah
sehingga
berpotensi
munculnya
permukiman kumuh di daerah sekitar
kawasan industri yang banyak tersebar
di wilayah utara Kota Medan sebanyak
43 titik kawasan kumuh dengan luas
230,05 ha (RTRW Kota Medan, 2010).
Pemerintah kota Medan telah
melaksanakan
Kepres
No.22/2006
tentang program nasional rumah susun
1000
tower.
Tetapi
pengelolaan,
aksesibilitas dan kelengkapan fasilitas
belum terlaksana dengan baik untuk
dapat menunjang aktivitas penghuni.
Ruang ruang didalam rumah susun
yang jauh dari standart kenyamanan
disebabkan dimensi ruang yang sempit
dan kondisi iklim di sekitar lokasi

kawasan industri yang cendurung panas


dengan kualitas udara yang tidak baik.
Solusi untuk mewadahi setiap aktivitas
buruh dengan kualitas ruang yang
nyaman, serasi dan selaras maka
direncanakan rumah susun yang berada
dekat dengan kawasan industri dengan
penerapan tema arsitektur bioklimatik.
Arsitektur bioklimatik merupakan
suatu pendekatan yang mengarahkan
arsitek untuk mendapatkan penyelesaian
desain dengan memperhatikan hubungan
antara
bentuk
arsitektur
dengan
lingkungan iklim daerah tersebut.
Dengan strategi perancangan tersebut,
bangunan dapat memodifikasi iklim luar
yang tidak nyaman menjadi iklim ruang
yang nyaman tanpa banyak menkonsumsi
energi serta mengurangi ketergantungan
terhadap sumber energi yang tidak dapat
diperbaharui.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Prinsip

Prinsip
Arsitektur
Bioklimatik Menurut Kennet Yeang
Konsep bioklimatik yang diusung
oleh Kenneth Yeang dalam merancang
bangunan tinggi menjadi tolak ukur
dalam proses perancangan massa
bangunan rumah susun. Prinsip prinsip
desain bioklimatik menurut yeang yaitu :
1. Penempatan posisi service core
penting dalam merancang bangunan
tingkat tinggi. Service core bukan hanya
sbagian dari struktur, tetapi juga dapat
mempengaruhi
kenyamanan
termal
karena berfungsi sebagai penghambat
panas matahari. Posisi core dapat
diklasifikasikan dalam tiga bentuk, yaitu
core pusat, Core ganda dan core tunggal.

Gambar 1. Core pusat, Core ganda


(Sumber: Yeang, 1994:28)
2. Menetukan orientasi bangunan pada
bangunan tinggi sangat penting untuk
1

menciptakan konservasi energi. Secara


umum, konfigurasi bangunan dengan
bukaan mengarah utara dan selatan dapat
memberikan
keuntungan
dalam
mengurangi insulasi panas.

(Sumber: Yeang, 1994:28)

(Sumber: Yeang, 1994:28)


3. Penempatan bukaan pada jendela
sebaiknya menghadap kearah utara dan
selatan pada sisi terluar bangunan. Jika
memperhatikan alasan estetika, curtain
wall bisa digunakan pada fasad bangunan
yang tidak menghadap matahari.

6. Hubungan terhadap landscape yaitu


lantai dasar pada bangunan tropis
seharusnya lebih terbuka keluar dan
menggunakan ventilasi yang alami
karena hubungan lantai dasar dengan
lingkungan sekitar juga penting. Atrium
dalam ruangan pada lantai dasar dapat
membuat ruangan lebih sejuk.

Gambar 6. Hubungan terhadap landscape


(Sumber: Yeang, 1994:28)
Gambar 3. Penempatan bukaan jendela
(Sumber: Yeang, 1994:28)
4. Penggunaan balkon membuat area
tersebut menjadi bersih dari panel panel
sehingga mengurangi sisi panas pada
bangunan. Balkon juga berfungsi sebagai
area penghijaun yang dapat dijadikan
pembayangan sinar matahari.

Gambar 4. Penggunaan balkon


(Sumber: Yeang, 1994:28)
5. Desain pada dinding menggunakan
membran
yang
menghubungkan
bangunan dengan lingkungan sehingga
dapat dijadikan sebagai kulit pelindung.
Material bangunan merupakan salah satu
aspek dalam insulator panas.

7. Menggunakan alat pembayang pasif


adalah esensi pembiasan sinar matahari
pada dinding yang menghadap matahari
secara langsung pada daerah tropis
berada disisi timur dan barat sedangkan
penerapan croos ventilation berfungsi
untuk meningkatkan udara segar dan
mengalirkan
udara
panas
keluar
bangunan.

Gambar 7. Alat pembayang pasif


(Sumber: Yeang, 1994:28)

III. METODE PERANCANGAN


Metode yang digunakan pada proses
perancangan rumah susun sederhana
sewa dengan tema arsitektur bioklimatik
menurut Kenneth Yeang di Kota Medan
adalah :

menghubungkan tapak dengan kawasan


indusri medan.
BELAWA
N
150
170 TAPAK
m
m

1. Menggunakan metode deskriftif analisis


yaitu diawali dengan mengidentifikasi
potensi dan masalah yang ada di sekitar
tapak, lingkungan sekitar, penghuni,
serta kendala pada rumah susun yang
sudah ada.
2. Metode kualitatif dan kuantitatif yang
dilakukan
dengan
tujuan
untuk
menentukan solusi dan konsep dari setiap
permasalahan yang ditemukan.
3. Pengumpulan data primier dan sekunder
yang berkaitan dengan perancangan
rumah susun dengan konsep bioklimatik.
4. Pengumpulan data dengan cara observasi
langsung ke proyek sejenis dan studi
komparasi objek.
5. Pada tahapan perancangan hal-hal yang
dijadikan parameter mendesain Rumah
Susun Sederhana Sewa di Kota Medan
adalah hasil proses analisis dan sintesa
yang
akan
diperhatikan
dalam
perancangan tapak,tata masa bangunan,
peletakan
vegetasi
di
sekitar
bangunan,sistem pencahayaan
serta
penghawaan alami yang diterapkan pada
bangunan dan ruang. Teknik peyajian
gambar perancangan akan menggunakan
gambar
secara
digita
dengan
menggunakan aplikasi autocad dan
sketch up.
IV. ANALISA PERANCANGAN
4.1 Analisa Lokasi Tapak
Tapak terletak di jalan Platina 1,
Kelurahan Titi Papan, Kecamatan
Medan Deli, Kota Medan dengan luas
22.000 m2 . Tapak termasuk dalam WPP
B dan Zona R-1 dengan peruntukan
lahan
terdiri
dari
perumahan,
perdagangan dan perkebunan. Lokasi
tapak berada di tengah permukiman
penduduk dan hanya dilintasi oleh jalan
sekunder dengan lebar jalan 6 m yang

95m
M

65m

135
100
m

PUSAT

KIMII

KOTA

Gambar 8. Lokasi tapak

Pada sebelah barat tapak berbatasan


dengan jalur perlintasan kereta api yang
merupakan sumber utama kebisingan di
sekitar tapak. Kondisi disekitar tapak
memiliki sarana dan prasana lingkungan
yang baik dan berada dekat fasilitas
fasilitas umum yang dapat mendukung
fungsi bangunan rumah susun.
4.2 Analisa Orientasi Matahari Terhadap
Bangunan
Kondisi klimatologi Kota Medan
menurut Stasiun BMG Sampali suhu
minimum berkisar antara 23,0 C 24,1
C dan suhu maksimum berkisar antara
30,6 C 34 C. Sinar matahari selain
banyak manfaat juga dapat memberi
pengaruh kurang baik terhadap aktivitas
dalam bangunan.

08.00

13.00

16.00

Gambar 9. Analisis pembayangan tapak


Pada gambar 9 dapat dilihat sisi
bagian massa bangunan yang terkena
paparan sinar matahari secara langsung
dan arah pembayangan pada jam tertentu.
3

Kondisi ini nantinya dimanfaatkan dalam


merancang peletakan massa bangunan
rusunawa agar lebih memaksimalkan
pemanfaatan pembayangan tersebut.
Bagian massa bangunan yang terkena
paparan sinar matahari secara langsung
dapat di antisipasi dengan pembuatan
pelindung
matahari
dengan
mengaplikasikan secondary skin untuk
meminimalisir radiasi panas matahari
kedalam bangunan.
4.3 Analisa Orientasi Angin Terhadap
Bangunan
Pada daerah tropis, angin yang
terjadi merupakan angin musiman yaitu
bertiup dari arah barat laut ke tenggara
dengan membawa butir-butir air yang
kemudian menjadi hujan.
U

Gambar 11. Pergerakan angin terhadap


massa bangunan
4.4 Analisa Bentuk Massa Bangunan
Berdasarkan teori bioklimatik yang
diungkapkan oleh Kenneth Yeang bahwa
bentuk bangunan yang sesuai untuk
konsep bioklimatik ialah bentukan yang
dinamis untuk memperlancar pergerakan
arah angin masuk ke dalam bangunan.
Khusus daerah tropis, rasio bangunan
yang disarankan ialah bentuk memanjang
dengan perbandingan x:y atau lebar:
panjang ialah 1:3 ke arah timur-barat .
Bangunan dibuat secara terbuka dengan
jarak yang cukup diantara bangunan
tersebut memperlancar pergerakan udara.

Gambar 10. Pergerakan angin tropis


Angin ini bersifat basah dan mempunyai
suhu
yang
rendah
serta
dapat
dimanfaatkan untuk pendingin udara
alami. Demikian juga sebaliknya ketika
musim kemarau angin berhembus dari
tenggara ke barat laut. Angin ini bersifat
kering dan cenderung panas. Angin inilah
yang
perlu
dikendalikan
untuk
menciptakan microclimate yang nyaman.
Menurut Kenneth Yeang, teknik
memanfaatkan pergerakan angin dalam
bangunan dapat diterapkan melalui
orientasi bangunan atau dengan previling
winds yang merupakan pemecahan massa
bangunan
untuk
menjadi
jalan
pergerakan angin untuk masuk ke dalam
bangunan dengan perbandingan antara
inlet - outlet sebesar 1 : 2 maka angin
akan leluasa masuk ke dalam ruangan
sehingga udara dalam ruangan terasa
sejuk karena kecepatan angin akan
semakin tinggi ketika melintasi ruang
ruang yang sempit. Hal ini dapat dilihat
pada gambar 11.

Massa
Banguna
n

Gambar 12. Bentukan massa bangunan


Massa bangunan berbentuk persegi
seperti yang terlihat pada gambar 12
berorientasi mengarah 20 ke arah timur
laut mengikuti bentuk tapak pada zona
lahan pembangunan rusunawa yang
terdiri dari 3 twin block.

Keterangan :
Area publik
Hunian
Gambar 13. Pembagian lantai rusunawa
Massa bangunan kemudian dibagi
menjadi 4 lantai (Gambar 13) karena
rusunawa kategori Low Rise dengan
4

ketinggian bangunan maksimal 4 lantai.


Setiap lantai memiliki fungsi masingmasing yaitu lantai 1 berfungsi sebagai
area publik sementara Lantai 2,3 dan 4
berfungsi sebagai hunian yang terdiri dari
3 type unit rusunawa untuk menjaga
privasi penghuni rusunawa.

Keterangan :
Area publik
Hunian
Sirkulasi penghubung
Sirkulasi vertikal
Sirkulasi horizontal
Gambar 14. Pembagian lantai rusunawa
Pada gambar 14 massa bangunan kemudian
dikembangkan menjadi simetri ganda dengan
sirkulasi penghubung antara massa bangunan.
Massa banggunan terdiri dari sirkulasi
horizontal yaitu selasar dan sirkulasi vertikal
yaitu tangga.

V. KONSEP PERANCANGAN
5.1 Penerapan Arsitektur Bioklimatik
Menurut Kenneth Yeang Pada Bentukan
Masssa Bangunan Rumah Susun

Orientasi Bangunan
Untuk
menentukan
orientasi
bangunan berdasarkan kondisi iklim
terdapat dua poin penting yaitu
berdasarkan arah peredaran matahari dan
berdasarkan arah angin. Orientasi
bangunan didasarkan dari orientasi
terbaik pada daerah tropis yaitu diagonal
kiri dari arah tegak lurus utara-selatan.
1.

Gambar 15. Orientasi bangunan

Kondisi eksisting tapak menghadap ke


timur laut-barat daya (Gambar 15)
sehingga jika memaksakan massa
bangunan mengarah utara selatan posisi
bangunan akan canggung karena
permukaan terluas bangunan tidak
menghadap kejalan utama serta bangunan
yang tidak sesuai dengan lingkungannya.
Selain itu, pada skenario ini akan tercipta
ruang ruang luar dengan bentukan yang
tidak menguntungkan serta potensi fungsi
bernilai rendah dan cenderung menjadi
dead space.
Oleh karena itu posisi bangunan
mengarah
kejalan
utama
dengan
pertimbangan view dari dalam dan luar
tapak serta pengoptimalan fungsi antara
bangunan dan ruang luar. Sementara itu
untuk mengatasi permasalah orientasi
bangunan
tersebut
dengan
cara
meletakkan bentangan terpanjang pada
setiap unit hunian rumah susun
menghadap ke utara-selatan sebagai
upaya
untuk
memaksimalkan
penghawaan dan pencahayaan alami ke
dalam setiap unit hunian.
2.

Penempatan Core (Tangga)


Penempatan core dalam prinsip
arsitektur bioklimatik menurut kenneth
yeang pada skenario rusunawa diartikan
sebagai penempatan sirkulasi vertikal.
Bangunan berpotensi terkena paparan
sinar matahari secara langsung pada
bagian timur dan barat (Gambar 16) .

10.00

14.00

Gambar 16. Bidang yang menerima


radiasi matahari langsung
Untuk mengurangi pengaruh radiasi
matahari
langsung
terhadap
unit
rusunawa dilakukan dengan cara
menempatkan posisi tangga pada bagian
sudut bangunan
sebagai penghalang
panas yang masuk kedalam bangunan
(Gambar 17). Sirkulasi vertikal juga
berfungsi sebagai alternatif pencapaian
menuju setiap unit rusun dikarenakan
panjang rusunawa 80 m.
5

mengurang
langsung.
mengurang
langsung.

radiasi

matahari

secara

radiasi

matahari

secara

Gambar 17. Penempatan posisi tangga


3.

Hubungan Terhadap Landscape


Mengadaptasi dari bangunan tropis
Indonesia, bahwa untuk mengurangi
kelembaban dalam bangunan dan
pengoptimalan penghawaan alami dapat
diatasi
dengan
bangunan
sistem
panggung.

Gambar 18. Pengangkatan massa


bangunan untuk mengurangi heat island
Sistem panggung sebagai kelancaran
pergerakan angin yang akan mengurangi
efek heat island (Gambar 18) sehingga
memungkinkan tetap terjadinya aliran
udara dan evaporasi terhadap lingkungan.
Bagian kolong bangunan dimanfaatkan
untuk
fungsi
pengelola,
fasilitas
pendukung, ruang
service disertai
dengan penggunaan taman dalam
(courtyard) untuk menciptakan iklim
mikro di sekitar massa bangunan.
Penempatan Bukaan Jendela
Penempatan
bukaan
jendela
harusnya menghadap utara selatan
untuk pemanfaatan sirkulasi udara dan
pengurangan terhadap radiasi matahari ke
bangunan, namun dengan pertimbangan
efisiensi hubungan massa bangunan
dengan
lingkungannya
orientasi
bangunan tetap mengarah ke jalan utama
yaitu pada arah timur laut barat daya
namun dengan menempatkan bentangan
terpanjang mengarah pada sisi luar
bangunan agar dapat memaksimalkan
penghawaan dan pencahayaan alami serta

Gambar 19. Penempatan jendela


5.

Menggunakan Alat Pembayang Pasif


Menurut
Kenneth
Yeang,
pembayang sinar matahari adalah esensi
pembiasan sinar matahari pada dinding
bangunan. Dalam Penerapannya setiap
type unit rusun dipososisikan pada tiap
lantai sehingga luasan terbesar menutupi
unit yang kecil sementara unit terbesar
diposisikan pada setiap ujung block
massa agar terlindung oleh tangga
(Gambar 20 & 21).

Gambar 20. Zona lantai 2 & 4 bangunan

4.

Type 24
2

Type 36
2

Type 48
m2

Gambar 21. Zona 3 bangunan


Pada skenario ini unit rusunawa
berfungsi sebagai media pembayangan
sinar matahari yang masuk kedalam
ruangan sementara bagian tengah
bangunan merupakan ruang bersama
yang menjadi perantara antar ruang luar
dan ruang dalam.

Hasil dari penyusunan unit rusunawa


menghasilkan pembayangan yang dapat
mengontrol perolehan radiasi matahari
sesuai kebutuhan seperti yang terlihat
pada gambar 22.

dengan menggunakan material tersebut


penyerapan radiasi matahari yang dapat
membawa panas akan semakin kecil.
Desain pada dinding bangunan juga
menggunakan material rooster untuk
memperlancarkan sirkulasi udara dalam
ruangan (Gambar 24).

Gambar 22. Hasil pembayangan


6.

Penggunaan Balkon
Dalam perancangan rusunawa ini,
balkon ditarik dedalam unit sebagai
media konservasi energi. Balkon
membatasi pencahayaan langsung yang
masuk kedalam unit dalam artian cahaya
yang masuk kedalam unit merupakan
cahaya hasil pantulan sehingga tetap
menjaga suhu dalam ruang nyaman.
Balkon juga berfungsi sebagai media
penangkap angin dengan bukaan yang
lebar pada sisi luar bangunan (Gambar
23).

Gambar 24. Penggunaan material rooster


8.

Penyekat Panas
Media penyekat panas pada rusun
ini berupa jaring-jaring sebagai media
tanaman rambat (Gambar 25). Selain
sebagai penyekat panas, vegetasi vertikal
ini juga sebagai alat penyaring debu dan
penyejuk
ruangan
dengan
sudut
kemirngan bidangnya mengarah ke utara
selatan.

Baja H Wiremes Thunber

Gambar 25. Penyekat


h panas gia
Gambar 23. Balkon
7.

Desain Pada Dinding


Pengolahan material pada dinding
sangat berpengaruh dalam bangunan
tanggap iklim. Material yang digunakan
dalam rusun ini selain dapat dijadikan
sebagai pelindung serta dituntut harus
efisien. Penggunaan batu bata pada
dinding dengan nilai absorbtansi radiasi
matahari = 0,89 dan menggunakan cat
berwarna putih dengan nilai absorbtansi
radiasi = 0,30 (SNI 03.6389.2000)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN


Melalui
serangkaian
tahapan
tersebut dapat disimpulkan bahwa
perancangan bentukan massa bangunan
rumah susun pendekatan bioklimatik
menurut Kenneth Yeang meliputi :
1. Orientasi bangunan ini dilakukan
untuk menentukan peletakan bukaan
kamar, yang diintegrasikan dengan
kondisi eksisting iklim terkait arah
matahari, dan arah angin. Tujuan
utamanya adalah untuk mengarahkan
bangunan agar terhindar dari penchayaan

matahari
secara
langsung,
dan
memasukkan udara menuju bangunan.

selain sebagai insulation terhadap sinar


matahari juga sebagai penyaring debu.

2. Penempatan core (Tangga) pada


sudut
bangunan
sebagai
media
penghalang radiasi matahari secara
langsung ke bangunan pada arah timur
barat.
3. Open plan dimaksudkan untuk
mengoptimalkan penghawaan alami pada
lantai bawah bangunan sehingga mampu
mengadaptasi lingkungan.

Adapun yang menjadi saran dalam


perancangan bentukan massa bangunan
rumah susun dengan penerapan arsitektur
bioklimatik adalah memahami secara
rinci karakteristik lingkungan pada tapak
baik secara lokasi, klimatologi, vegetasi,
serta kondisi sosial budaya penghuni
yang akan menempati rumah susun
tersebut.

4. Penempatan bukaan jendela dengan


bentangan terlebar pada unit hunian
mengarah ke utara selatan guna
memaksimalkan
pencahayaan
dan
penghawaan alami.

DAFTAR PUSTAKA

5. Setiap unit hunian rumah susun


dikonfigurasikan pada setiap lantai yang
membuat setiap hunian tersebut berfungsi
sebagai pembayang pasif.
6. Balkon yang ditarik kedalam unit
hunian media konservasi energi.
7. Desain pada dinding merupakan
insulator panas. Pemilihan material yang
tepat harus juga mengutamakan efisiensi
karena bangunan rumah susun ini
merupakan
bangunan
bersubsidi.
Penggunaan batu bata dan cat bewarna
putih mempunyai nilai absorbtansi
rendagterhadap radiasi matahari serta
penggunaan rooster sebagai ventilasi
alami.

Badan Pusat Statistik Kota Medan &


Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah Kota Medan (2008),
Medan Dalam Angka, Medan in
figures 2007
Draft Rencana Penyempurnaan RUTRW
Kota Medan (2008)
Kenneth Yeang, (1994), Bioclimatic
Skyscraper,London : Artemis
Kenneth Yeang, (1996), The Skyscraper
Bioclimatically Considered ,
London : Academy

8. Penyekat panas menggunakan jaring


jaring sebagai media tanaman rambat