Anda di halaman 1dari 6

Kosmologi Masyarakat Nias

Dalam masyarakat Nias sebelum masuknya agama menganut kepercayaan akan


adanya 3 (tiga) dunia, yakni :
Dunia atas atau dunia leluhur;
Dunia manusia dan
Dunia bawah.
Kosmologi masyarakat Nias ini merupakan gambaran pandangan dari masyarakat tentang
asal-usul nenek moyang suku Nias yang berasal dari Teteholi Anaa (langit) yang diturunkan
ke bumi di puncak gunung sekarang di kenal dengan nama Boro Nadu, yang berada di
Kecamatan Gmo Kabupaten Nias Selatan.
Pengaruh Kosmologi ini terlihat jelas dalam bentuk arsitektur tradisional Nias, baik itu dalam
bentuk rumah adatnya maupun dalam pola perkampungan. Dalam bentuk rumah adat,
masyarakat Nias menepatkan bagian atas dari pada bangunannya sebagai tempat yang paling
dihormati (disucikan).
Dalam pola perkampungan, semakin tinggi letak kampung berada, semakin dekat dengan
dunia atas, yang berarti semakin aman dan sejahtera kampung tersebut.

Gambar 9 : Ilustrasi Kosmologi masyarakat Nias

Dunia atas, dunia manusia dan dunia bawah digambarkan oleh masyarakat Nias dalam bentuk
perkampungannya. Gambaran Teteholi Anaa (langit) diperlihatkan dengan gerbang atau
jalan menuju ke kampung.
Tatanan Ruang, Bentuk dan Filosofi(Makna/Simbol)

Arsitektur
Rumah adat di Nias dibuat dengan ukuran lebih kecil dari rumah-rumah adat aslinya,
adalah mewakili rumah adat dari Nias Selatan. Rumah yang berbentuk empat persegi panjang
dan berdiri di atas tiang ini menyerupai bentuk perahu. Begitu pula pola perkampungan,
hiasan-hiasan bahkan peti matinya pun berbentuk perahu. Dengan bentuk rumah seperti
perahu ini diharapkan bila terjadi banjir maka rumah dapat berfungsi sebagai perahu. Untuk
memasuki rumah adat ini terlebih dahulu menaiki tangga dengan anak tangga yang selalu
ganjil 5 7 buah, kemudian memasuki pintu rumah yang ada dua macam yaitu seperti pintu
rumah biasa dan pintu horizontal yang terletak di pintu rumah dengan daun pintu membuka
ke atas. Pintu masuk seperti ini mempunyai maksud untuk menghormati pemilik rumah juga
agar musuh sukar menyerang ke dalam rumah bila terjadi peperangan.
Ruangan pertama adalah Tawalo yaitu berfungsi sebagai ruang tamu, tempat bermusyawarah,
dan tempat tidur para jejaka. Seperti diketahui pada masyarakat Nias Selatan mengenal
adanya perbedaan derajat atau kasta dikalangan penduduknya, yaitu golongan bangsawan
atau si Ulu, golongan pemuka agama atau Ene, golongan rakyat biasa atau ono embanua dan
golongan Sawaryo yaitu budak. Di bagian ruang Tawalo sebelah depan dilihat jendela
terdapat lantai bertingkat 5 yaitu lantai untuk tempat duduk rakyat biasa, lantai ke 2 bule
tempat duduk tamu, lantai ketiga dane-dane tempat duduk tamu agung, lantai keempat
Salohate yaitu tempat sandaran tangan bagi tamu agung dan lantai ke 5 harefa yakni untuk
menyimpan barang-barang tamu. Di belakang ruang Tawalo adalah ruang Forema yaitu ruang
untuk keluarga dan tempat untuk menerima tamu wanita serta ruang makan tamu agung. Di
ruang ini juga terdapat dapur dan disampingnya adalah ruang tidur.
Rumah adat Nias biasanya diberi hiasan berupa ukiran-ukiran kayu yang sangat halus dan
diukirkan pada balok-balok utuh. Seperti dalam ruangan Tawalo yang luas itu interinya
dihiasi ukiran kera lambang kejantanan, ukiran perahu-perahu perang melambangkan
kekasaran. Dahulu, di ruangan ini juga digantungkan tulang-tulang rahang babi yang berasal

dari babi-babi yang dipotong pada waktu pesta adat dalam pembuatan rumah tersebut.
Menurut cerita, di ruangan ini dahulu digantungkan tengkorak kepala manusia yang
dipancumg untuk tumbal pendirian rumah. Tapi setelah Belanda datang, kebiasaan tersebut
disingkirkan. Untuk melengkapi ciri khas adat istiadat Nias adalah adanya batu loncat yang
disebut zawo-zawo. Bangunan batu ini dibuat sedemikian rupa untuk upacara lompat batu
bagi laki-laki yang telah dewasa dalam mencoba ketangkasannya.
Omo hada asli tidak menggunakan paku, melainkan pena dan pasak kayu, sebagaimana
rumah knock down atau bongkar pasang. Bahan kayu yang digunakan merupakan pilihan,
diperoleh dari hutan-hutan di Nias. Sekarang susah mencari kayu-kayu pilihan untuk
membangun rumah adat, sudah habis dari hutan, ungkap Zebua. Syukurlah, rumbia untuk
atap rumah masih dapat dibuat dari nyiur sehingga bumbungannya tetap tampak unik.
Bumbungan kelihatan jadi semakin unik dengan adanya satu hingga dua tuwu zago, yaitu
jendela di bagian atap sebagai ventilasi dan sumber cahaya bagi rumah. Tuwu zago ini
terdapat di atap bagian depan dan belakang bumbungan.
Tiang Kayu dan Simbol Omo Hada. Setiap omo hada memiliki enam tiang utama yang
menyangga seluruh bangunan. Empat tiang tampak di ruang tengah rumah, sedang dua tiang
lagi tertutup oleh papan dinding kamar utama. Dua tiang di tengah rumah itu disebut
simalambuo berupa kayu bulat yang menjulang dari dasar hingga ke puncak rumah. Dua
tiang lagi adalah manaba berasal dari pohon berkayu keras dipahat empatsegi, demikian pula
dua tiang yang berada di dalam kamar utama. Setiap tiang mempunyai lebar dan panjang
tertentu satu dengan lainnya. Semakin lebar jarak antara tiang simalambuo dengan tiang
manaba maka semakin berpengaruhlah si pemilik rumah, ungkap Yaaro Zebua lagi.
Rumah-rumah adat di Nias juga tidak memiliki jendela. Sekelilingnya hanya diberi teralis
kayu tanpa dinding sehingga setiap orang di luar rumah dapat mengetahui siapa yang berada
di dalamnya. Menurut Zebua, desain ini menandakan orang Nias bersikap terbuka, jadi
siapapun di desa dapat mengetahui acara-acara di dalam rumah, terutama yang berkaitan
dengan adat dan masalah masyarakat setempat. Biasanya pemilik rumah bersama ketua adat
duduk di bangku memanjang di atas lantai yang lebih tinggidisebut sanuhesambil
bersandar ke kayu-kayu teralis, sedangkan yang lainnya duduk di lantai lebih rendah atau
disebut sanari. Setiap acara adat akan berlangsung di dalam rumah, terlebih dulu seisi
kampung diundang dengan membunyikan faritia (gong) yang tergantung di tengah rumah.
Faritia di rumah adat Nias Selatan dilengkapi oleh fondrahi, yaitu tambur besar sebagaimana

terlihat di omo sebuarumah besar untuk raja dan bangsawandi Desa Bawomatoluo,
Teluk Dalam.

Bahan Bangunan dan Teknik Konstruksi


Bahan bangunan dan Teknik Kosnstruksi Rumah Adat Nias Selatan yaitu :
1. Bentuk dasar persegi
2. Lebar rumah 10 meter, panjang 15 meter, tinggi 9-13 meter;
3. Pintu masuk dari sebelah bawah. Sisi depan dan belakang agak lurus;
4. Jarak antara tiang-tiang rumah tidak selalu sama;
5. Jarak antara dua barisan tiang di depan lebih lebar ; orang bisa berjalan di tengah;
6. Jarak antara tiang-tiang di belakang lebih rapat; beban rumah di lebih besar;
7. 8 lembar papan Siloto (seloto) melintang di atas 62 tiang dari muka ke belakang;
8. 1 Siloto di ujung kiri dan 1 di ujung kanan @ 6 tiang : 2 x 6 = 12 tiang;
9. 2 Siloto berikut sebelah kiri dan kanan @ 8 tiang : 4 x 8 = 32 tiang ;
10. 2 Siloto di pertengahan rumah @ 9 tiang : 2 x 9 = 18 tiang;
11. Jumlah tiang (diluar tiang-tiang penunjang) 12 + 32 + 18 = 62 tiang

Rumah-rumah di Nias Selatan dibuat dari bahan kayu yang diberi corak seperti kapal
perang.Atap yang curam dengan bukaan atap yang dapat dibuka, berfungsi memasukkan

sinar matahari ke ruang dalam serta memberikan sirkulasi udara yang baik. Atap ini memiliki
kekhasan tersendiri karena tidak ditemukan di bagian Nusantara lainnya. Atap rumah
dibangun tinggi dari bahan serat palem, yang kemudian seiring masuknya pengaruh
modernitas mulai ditinggalkan dan beralih ke atap seng. Rumah-rumah vernakular di Nias,
walaupun tidak bereaksi ketika digoyang-goyang sebagaimana dahulu rumah di Aceh, secara
bijak dirancang dengan prinsip tahan gempa. Di bagian kaki bangunan kolom-kolom terbagi
menjadi dua jenis, yaitu kolom struktur utama yang berdiri dalam posisi tegak dan kolom
penguat yang terletak dalam posisi silang-menyilang membentuk huruf X miring. Balok kayu
ataupun batu besar sengaja diletakkan di sela- sela kolom penguat sebagai pemberat untuk
menahan bangunan dari terpaan angin. Sedangkan ujung atas kolom tegak Kolom-kolom
diagonal, tanpa titik awal maupun akhir, jalin-menjalin untuk menopang bangunan berdenah
oval dengan kantilever mengelilingi seluruh sisi lantai denah. Bagaikan sabuk, rangkaian
balok dipasang membujur sekeliling tubuh bangunan. Di atas sabuk bangunan, sirip-sirip
tiang dinding berjarak 80 sentimeter dipasang berjajar dengan posisi miring ke arahluar. Di
antara sirip-sirip dipasang dinding pengisi dari lembaran papan.Penggunaan kolong memang
bukan satu-satunya di Nias. Di beberapa wilayah Nusantara,kolong di samping mengemban
fungsi struktur juga menciptakan ruang yang cukup efektif untukmenyiasati masalah
kelembapan yang ditimbulkan iklim tropis.Kolong juga dapat menghindari kontak langsung
penghuni dengan tanah yang cenderungbecek saat hujan. Berbeda dari daerah lain, di Nias
kolong tidak menjadi ruang positif yang berfungsi sebagai tempat menenun, menyimpan
barang, atau memelihara ternak, melainkan benar-benar mengemban fungsi struktural.
Kolom-kolom ini berukuran cukup besar sehingga kekokohannya bukan saja mampu
mempertinggi angka keamanan bangunan terhadap gempa, tetapi secara psikologis juga
memberi perasaan aman bagi penghuninya sebab di atas kolom berdiri dengan megah
bangunan berskala besar dengan atap menjulang.

DAFTAR PSTAKA
http://travel.detik.com/read/2011/05/13/115541/1638952/1025/arsitekturtradisional-nias-selatan
http://rumahtradisionalniasutara.blogspot.co.id/
http://arsitektur.blog.gunadarma.ac.id/?p=316
http://dokumen.tips/documents/arsitektur-tradisional-nias.html