Anda di halaman 1dari 11

KAJIAN ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA

PADA IKLIM TROPIS


Studi Kasus : Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah),
di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Purwanto dan Rahil Muhammad Hasbi


Program Studi Arsitektur, Universitas Mercu Buana, Jakarta-Indonesia
e-mail: pooer_jakarta@yahoo.com

ABSTRACT
Colonial architecture came to Indonesia occurred mixture of European architecture,
with the adaptation process and form a Dutch architecture during the colonial era in
Indonesia. This architecture has been adapted to the local climate. To make the building
fit with the environment as well as convenient for life.
The purpose of this research is to know how the adaption is implemented in colonial
building, in this case is the Museum National Indonesian (Museum Gajah). The research
is focused at elements the architecture which related to adaption proses with the climate
such as: orientation of the building, sketch, walls, opening doors and windows, floors,
roof, ceiling and shape of the building. The research of these related to materials that
have been used, size, form and orientation.
Keywords: Dutch colonial architecture in a tropical climate

ABSTRAK
Arsitektur kolonial datang ke Indonesia terjadi percampuran dari arsitektur Eropa, dengan
proses adaptasi dan membentuk arsitektur Belanda pada masa penjajahan di Indonesia.
Arsitektur ini telah beradaptasi dengan iklim setempat. Untuk membuat bangunan yang cocok
dengan lingkungan serta nyaman untuk hidup.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana adaptasi yang diterapkan di
bangunan kolonial, dalam hal ini adalah Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah).
Penelitian ini difokuskan pada elemen arsitektur yang berkaitan dengan Proses adaptasi
dengan iklim seperti: Orientasi bangunan, Denah, Dinding, Bukaan pintu dan jendela, Lantai,
Atap, Plafond dan Bentuk bangunan. Penelitian ini berkaitan dengan bahan-bahan yang telah
digunakan, ukuran, bentuk dan orientasi.
Kata Kunci: Arsitektur kolonial Belanda pada Iklim tropis

1 LATAR BELAKANG
Pada awal abad 17 perancangan Gaya Eropa yang memiliki empat musim diterapkan di
wilayah tropis, perancangan dengan naluri bertahan hidup dengan terpaksa maka
menempatkan masalah keamanan lebih tinggi dibandingkan dengan kenyaman, lambat laun
arsitektur menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Pada abad 20 Belanda bersama
dengan Rusia, Perancis dan Jerman menjadi pusat perhatian pada seni arsitektur di Eropa
(Handinoto,1997), kehadiran arsitek Belanda di Indonesia dimulai dengan seorang Gothic
Revivalist yang bernama Peter.JH Cuypers (1827-1921). Pengikut aliran Art Nouveau H.P.

Hal. 1

Berlage (1856-1934). Kemudian disusul dengan aliran Amsterdam Scholl dengan tokohnya
seperti Michel de kler.
Bangunan museum nasional Indonesia (Museum Gajah), awal berdirinya Bataviaasch
Genootschape Van Kunten pada tanggal 24 April 1778, Seorang pendiri dan ilmuwan Belanda
Jacob Conelis Matthieu Radermacher yang menyubangkan rumah tinggalnya di jalan kali besar
Jakarta kota. Bangunan Museum Nasional Indoensia (Museum Gajah) di bangun di atas tanah
26.500 m, pada tahun 1862 dan baru di buka untuk umum tahun 1868.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengetahui bentuk adaptasi arsitektur kolonial Belanda
terhadap iklim tropsi seperti : Orientasi bangunan, Denah, Dinding, Bukaan Pintu dan Jendela,
Lantai, Atap, Plafond dan Bentuk bangunan.

2 METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini yang digunakan bersifat kualitatif berdasarkan studi literature
dilaksanakan secara deskriptif, penelitian kualitatif dengan analisa data secara sistematis di
bantu gambar-gambar dan survey lapangan (observasi), pada bangunan yang diteliti serta
dideskritifkan dengan mengurai, menerangkan atau menafsirkan, berdasarkan teori kemudian
diambil kesimpulan.
Pengumpulan data literature berupa pengetahuan mengenai Teori Iklim tropis, Teori
Arsitektur Tropis, Teori Arsitektur Eropa, Teori Arsitektur Kolonial Belanda. Data tersebut
kemudian dibandingkan dengan data yang didapat pada saat survey lapangan (observasi).
Adapun langkah-langkah penelitian ini meliputi dua tahap yaitu kepustakaan (Literatur) dan
observasi (survey lapangan). Kemudian dilanjutkan dengan hasil dan pembahsan sehingga
didapat kesimpulan.

2.1. Landasan Teori


1. Iklim Tropis & Pengertian tropis
Indonesia terletak pada daerah katulistiwa yaitu cenderung menerima lintasan matahari di
atasnya, maka suhu udara rata-rata sangat tinggi tidak sebanding dengan permukaan bumi,
Daerah yang suhu udaranya tinggi dinamakan daerah panas (daerah tropic) atau iklim panas
lembab (Georg.Lippsmeier, 1980, Marcus Gartiwa, 2011).
Tropis merupakan kata yang berasal dari Bahasa yunani, yaitu tropikos Garis balik yang
meliputi sekitar 40% dari luas seluruh permukaan bumi yaitu garis lintang 23-27, Utara
Selatan. Dengan kata lain, Arsitektur tropis merupakan arsitektur yang berada di daerah tropis
dan telah beradaptasi dengan iklim tropis (Georg. Lippsmeier, 1994, Marcus Gartiwa, 2011).
2. Arsitektur Tropis
Arsitektur tropis yaitu salah satu ilmu arsitektur yang mempelajari tentang arsitektur yang
berorientasi pada kondisi iklim dan cuaca, serta dampak ataupun pengaruh terhadap
lingkungan sekitar. Bangunan dengan karakter tropis, memiliki beberapa persyaratan sebagai
berikut : harus memiliki view dan orientasi bangunan yang sesuai dengan standard tropis,
mengunakan bahan atau bagian pendukung kenyamanan pada kondisi tropis, seperti :
sunshading, sunprotection, sunlouver serta memperhatikan standard bukaan terhadap
lingkungan sekitar (window radiation), serta memiliki karakter atau ciri khas yang mengekspos
bangunan sebagai bangunan tropis, dengan mengunakan material atau pun warna-warna yang
berbeda (Syarif Hidayat).
3. Arsitektur Eropa
Pada zaman modern awal (1600-1800 M) dengan kedatangan pedagang Eropa seperti orang
Portugis, Belanda, Spanyol dan orang Inggris kebumi Nusantara. Peningkatan hegomoni
(politik) kolonial dan dominasi orang Eropa, diimbangi dengan pertumbuhan peran orang Cina
sebagai perantara di sektor-sektor perdagangan jasa dan manufaktur. Pada awal abad ke 17
perancangan ala Eropa yang memiliki empat musim diterapkan langsung kekawasan tropis.
Hal. 2

Bangunan yang memiliki tipologi ini antara lain seperti : pos-pos perdagangan, benteng militer
dan kota yang dilindungi. Alasan di balik perencanaan dan perancangan dengan unsur
arsitektur seperti ini adalah naluri bertahan hidup yang terpaksa menempatkan masalah
keamanan lebih tinggi dibandingkan dengan kenyamanan (Peter J.M.Nas dan Martien de
Vietter, 2007).
Ciri-ciri bangunan seperti ini terdapat pada bagian depan yang rata tanpa beranda, jendelajendela besar, dinding bata tebal, lebihan atap pendek dan bukaan atap yang sedikit untuk
ventilasi tidak mampu memberikan keteduhan yang memadai, ventilasi silang, dan
perlindungan terhadap hujan tropis, cahaya matahari yang terik langsung masuk kedalam
ruangan melalui jendela-jendela kaca yang lebar, namun kelembaban yang tinggi tidak dapat
dikurangi karena ventilasi silang yang kurang, dan kepengapan didalam bangunan dan sangat
tidak memenuhi syarat kenyamanan bagi manusia.

Gambar 1: Ruko Merah, Batavia di jl. Kali besar barat, No.107, Jakarta Barat
Sumber : Peter J.M. Nas, 2007

Pada awal abad ke 19, Gaya arsitektur neo-kelasik di Indonesia mendapatkan sebutan Gaya
Imperium dengan bentuk bangunan bergaya Yunani yang dicampur dengan pengunaan tiangtiang bergaya Romawi serta Reinansance. Arsitektur ini muncul karena para arsitek dari Eropa
masih terpengaruh pada kejayaan arsitektur klasik. Arsitektur Imperum juga banyak
dipergunakan untuk menunjukkan kekuasaan, kemegahan, kemakmuran dan kekayaan.
Arsitektur ini digunakan untuk menunjukkan status social dari pemilik bangunan dan
dipergunakan pada bangunan pemerintahan dan militer. Gaya Imperium akhirnya tersingkir
pada akhir abad 19, sejalan dengan diperkenalkannya politik etis di Eropa (Rahil M. Hasbi,
2007).

Gambar 2: Istana Bogor, Van Imhoof


Sumber : http://www.skyscrapercity.com

Hal. 3

Sejak awal abad 19, arsitektur mulai survivalist, abad ke 18 berangsur-angsur mulai digantikan
dengan arsitektur yang menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Kondisi hidup yang
tidak nyaman menjadi alasan utama perubahan ini, demi kenyamanan fisik di lingkungan yang
baru, arsitek mulai menggunakan bahan bangunan setempat (Peter J.M.Nas dan Martien de
Vietter, 2007).
Adaptasi arsitektur yang muncul dalam rancangan atap dan bagian depan rumah,
sebagaimana tampak dalam arsitektur, Atap piramida yang jauh lebih besar memungkinkan
penyerapan panas yang jauh lebih banyak sekaligus mencegah transmisinya kedalam
ruangan. Ventilasi yang lebih baik dimungkinkan oleh celah-celah diantara tiap genting dan
bukaan yang memisahkan atap dari bagian dinding. Atap yang lebih curam memungkinkan air
hujan tropis mengalir lebih deras ketanah. Lebihan atap dibuat lebih lebar, membentuk
beranda-beranda besar yang melindungi penghuni dari terik matahari dan tetesan air hujan
yang terbawa oleh angina. Langit-langit tinggi yang berasal dari Eropa masih dipertahankan
dengan alasan interior lebih besar pasti lebih sejuk dibandingkan interior dirumah dengan lagitlangit rendah. Bukaan-bukaan pintu dan jendela dibuat lebih besar dan baik daun pintu dan
jendela dilengkapi dengan kisi-kisi menyudut (louvre), demi menjamin ventilasi silang yang
efektif. Adaptasi ini memungkinkan kondisi hidup didalam bangunan jauh lebih dinikmati dan
nyaman untuk iklim setempat (Peter J.M.Nas dan Martien de Vietter, 2007).
3. Arsitektur Belanda
Negara Belanda ke Indonesia pada awalnya untuk berdagangan, dengan membentuk
persatuan VOC (Vereeningde Oost Indische Compagnie) tahun 1602, kehadiran orang belanda
di Indonesia mulai berkembang secara nyata, kurang lebih satu abad bereka sibuk untuk
berdagang. Perlu kita sadari Indonesia merupakan kepulauan yang sangat kaya dan indah,
memiliki flora dan fauna berwarna-warni, persedian tambang, pertanian perkebunan dan hasil
rempah-rempah, lambat laun Belanda menguasai Indonesia sebagai Negara Jajahan (Rahil M.
Hasbi, 2007).
Salah satu contoh bangunan di Belanda yaitu : Prins Alexander Sticting merupakan karya
kedua, Maclaine Pont, tahun 1922 di Belanda; Yulianto Sumalyo, tahun 1988).

Gambar 3: Prins Alexander Stichting, Bangunan kedua Machlaine, tahun 1922 di Belanda
Sumber : Jessyp 1975, Yulianto, 1988

Ciri ciri bangunan di Belanda bangunannya memanjang, terdiri dari dua lantai, halamannya
cukup luas, dindingnya dibuat dari bata merah ekspos, tampak depan yang terdiri dari lima
trave, simetris dengan pintu masuk, jendela jendela berirama monoton, atap berkemiringan
tajam serta penekanan pada pintu masuk utama (Yulianto Sumalyo, 1998).
Dari pendapat Akihary (1990), Handinoto & Soehargo (1996), dan Nix (1994) dapat di
simpulkan bahwa arsitektur kolonial Belanda di bagi menjadi 2 priode yaitu, (Marcus Gartiwa,
2011) :
1. Voor 1900
Rumah tinggal Kolonial bergaya Voor 1900 paling banyak ditemukan pada kasus rumah tinggal
Kolonial di Ngamarto, yaitu 6 kasus, rumah tersebut di bangun tahun 1850-1880. Gaya Voor
Hal. 4

1900 bukan haya digunakan pada rumah Kolonial Belanda, tetapi juga pada rumah Kolonial
milik Cina dan pribumi.
Rumah kolonial Cina lebih rumit dibandingkan dengan rumah Kolonial Belanda. Hal tersebut
untuk menaikan status sosial dengan menggunakan hiasan yang lebih rumit sebagai bukti
kemampuan ekonomi dan selera seni yang tinggi. Bentuk - bentuk sederhana yang disesuaikan
dengan kemampuan pribumi. Penggunaan bahan-bahan yang tanggap terhadap iklim, adanya
material besi menjadi salah satu ciri yang menonjol pada bangunan bergaya Voor 1900.
2. NA 1900
Gaya tersebut berkembang pada tahun 1881-1910, rumah bergaya NA 1900 digunakan pada
rumah kolonial milik Cina dan pribumi sedangkan rumah kolonial Belanda menggunakan gaya
bangunan Romantiek pada kurun waktu yang sama.
Badan bangunan sangat sedikit ditemukan pada bouvenlicht, lubang angin, hiasan pada kaca
pintu dan jendela. Penggunaan bahan dari material besi jarang digunakan dan bahan dari kaca
motif dan warna yang paling banyak digunakan. Motif baru yang lebih sering dinilai dengan
motif modern karena tidak ada suatu tolak ukur yang jelas.
pagar serambi, penonjolan pondasi dan hiasan kaki bangunan hilang sama sekali dan bagian
kaki yang dihias hanya pada kaki bangunan bagian dalam, yaitu lantai. Tidak seperti halnya
bangunan bergaya Voor 1900 yang setiap ruang menggunakan motif yang berbeda, motif lantai
yang digunakan hanya menggunakan satu jenis motif pada semua ruang dalam.
Helen Jessup Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia dibagi 4 periode yaitu :
1. Abad 16 sampai tahun 1800-an
Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda) dibawah kekuasaan
perusahaan dagang Belanda, VOC. Arsitektur Kolonial Belanda selama periode ini cenderung
kehilangan orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda. dimana bentuknya cenderung
panjang dan sempit, atap curam dan dinding depan bertingkat bergaya Belanda di ujung teras,
Bangunan tidak mempunyai orientasi bentuk yang jelas, tidak beradaptasi dengan iklim dan
lingkungan setempat. Contohnya kediaman Reine de Klerk (Sebelumnya Gubernur Jendral
Belanda) di Batavia (Marcus Gartiwa, 2011).
2. Tahun 1800-an (awal abad ke 19) sampai dengan tahun 1902
Pemerintahan Belanda mengambil alih Hindia Belanda dari VOC. Perkembangan Arsitektur
Modern di Belanda tidak sampai gemanya ke Indonesia. Pada saat itu di Hindia Belanda
terbentuk gaya arsitektur sendiri yang dipelopori oleh Gubernur Jendral HW yang dikenal
dengan the empire style, atau Ducth Colonial Villa : Gaya Arsitektur Neo-Klasik yang melanda
Eropa (terutama Perancis) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia
Belanda yang bercitra Kolonial yang disesuaikan dengan lingkungan lokal, Iklim dan material
yang tersedia pada masa itu (Marcus Gartiwa, 2011).
perkembangan selanjutnya yaitu perkembangan Indische Architectur atau dikenal dengan
nama Landhuise yang merupakan tipe rumah tinggal diseluruh Hindia Belanda pada masa itu
dan memiliki karakter arsitektur seperti :
1. Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar diserambi tengah yang menuju keruang
tidur dan kamar-kamar lainnya.
2. Pilar menjulang keatas (Gaya Yunani) dan terdapat gevel atau mahkota di atas serambi
depan dan belakang.
3. Mengunakan atap prisai.
3. Tahun 1902 - 1920-an
Kaum Liberal Belanda pada masa itu antara 1902 mendesak politik etis diterapkan di tanah
jajahan. Sejak itu pemukiman orang belanda di Indonesia tumbuh dengan cepat. Indishe
Architectur menjadi terdesak dan sebagai gantinya muncul standard Arsitektur Modern yang
berorientasi ke Belanda (Marcus Gartiwa, 2011).
Ciri dan karakter Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia pada tahun 1900-1920-an yaitu :
Hal. 5

1. Mengunakan Gevel (gable) pada tampak depan bangunan. Bentuk gable sangat bervariasi
seperti curvilinear gable, stepped gable, pediment (dengan entablure).
2. Penggunaan tower pada bangunan, mulanya digunakan pada bangunan gereja, namun
kemudian diterapkan pada bangunan umum dan menjadi model pada Arsitektur Kolonial
Belanda pada abad ke 20. Bentuknya bermacam-macam : Bulat, Segi empat ramping,
serta bentuk-bentuk yang dikombinasikan dengan gevel depan.
3. Penggunaan Dormer pada bangunan
4. Penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis : Ventilasi yang lebar dan tinggi, serta serambi
sepanjang bangunan sebagai antisipasi dari hujan dan sinar matahari.
4. Tahun 1920-an sampai tahun 1940-an
Ketika gerakan modernisme arsitektur bergerak di Eropa awal abad 20-an, Indonesia menjadi
bahan laboratorium, untuk bereksperimen munculnya arsitektur baru (neues Bauen). pada
tahun 1920-1940-an para arsitek Belanda yang bekerja di Indonesia mencoba melakukan
inovasi dalam seni bangunan yang berbeda dari apa yang lazimnya dilakukan di negeri asal
mereka yang beriklim subtropis.

2.2. Kajian Analisa


1. Kajian Objek penelitian : Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah).
Bangunan Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) awal berdirinya Bataviaasch
Genootschape Van Kunten pada tanggal 24 April 1778, Seorang pendiri dan ilmuwan Belanda
Jacob Conelis Matthieu Radermacher, yang menyumbangkan rumah tinggalnya di jalan kali
besar, Jakarta kota. Bangunan museum nasional Indoensia (Museum Gajah) di bangun di atas
tanah 26.500 m, pada tahun 1862 dan baru di buka untuk umum tahun 1868. Bangunan
Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) memiliki dua unit bangunan yaitu :
Bangunan unit A (bangunan lama) dan Bangunan unit B (bangunan baru).
Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) bagi bangsa Indonesia sangat penting maka
pada tanggal 17 September 1962, lembaga kebudayaan Indonesia secara resmi menyerahkan
pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, kemudian menjadi Museum Pusat
berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/O/1979 pada
tanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat dirubah menjadi Museum Nasional Indonesia (Museum
Gajah). Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) sebagai lembaga resmi pemerintah
dibawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. Depertemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Hal. 6

3 HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bangunan unit A, terdapat temuan bentuk adaptasi bangunan kolonial Belanda terhadap iklim tropis pada bangunan
Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

No

Elemen

Orientasi Bangunan

Denah

Dinding

Arsitektur Tropis

Arsitektur Kolonial Belanda

Perubahan

Ket : Respon
yang dapat
dilihat

Orientasi bangunan pada arsitektur tropis


yang paling optimum memanjang dari arah
Timur Barat (Marcus Gartiwa, 2011).

Orientasi bangunan pada kolonial


Belanda terdapat bangunan utama /
Induk menghadap ke halaman yang
luas, dengan dikelilingi banguan
penunjang menghadap kearah
bangunan utama (Samsudi,2000).

Berdasarkan survey dilapangan


bangunan museum nasional Indonesia
(Museum Gajah) menghadap arah
Timur Barat.

Sesuai dengan
iklim tropis

Denah pada arsitektur tropis berbentuk


persegi panjang, orientasinya terhadap
matahari lebih menguntungkan dibandingkan
dengan bujur sangkar (Georg.
Lippsmeier,1980).

Denah pada bangunan kolonial


Belanda menurut Palladio dan
Scamozzi, bentuk ruang
berdasarkan fungsi yang dibentuk
dengan ruang simetris. Menurut
Sidharta dalam The Dutch
Architectural Heritage In Indonesia
denah yang simetris terdiri banyak
ruang terdapat serambi yang lebar,
dan bangunan penunjang berjajar
memanjang (Linier), (Samsudi,
2000).

Berdasarkan survey dilapangan Denah


museum nasional Indonesia (Museum
Gajah) terdiri dari 2 unit, bangunan unit
A (Bangunan Lama) dan bangunan
unit B (Bangunan Baru), yang jadi
fokus utama penulis hanya pada
bangunan unit A (Bangunan Lama)
saja. Denah bangunan unit A terdiri
dari banyak ruang dan berbentuk
persegi panjang (kebelakang).

Sesuai
dengan iklim
tropis

Dinding pada arsitektur tropis di daerah


lembab berbeda sama sekali, di sini hanya
berfungsi untuk mencegah hujan dan angin
ketebalan dinding 10 20 cm (Georg.
Lippsmeier,1980).

Dinding pada bangunan kolonial


Belanda tebal (dua batu), dinding di
pelester dan di cat warna putih
(Peter J.M.Nas dan Martien de
Vietter, 2007).

Berdasrkan survey di lapangan Dinding


pada bangunan museum nasional
Indonesia memiliki ketebalan 40 cm
(dua batu), dinding di pelester dan di cat
warna putih.

Tidak sesuai
dengan iklim
tropis

Hal. 7

Bukaan (Pintu &


Jendela) Serta
Ventilasi.

Bukaan pintu dan jendela di daerah tropis


memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan
di daerah beriklim sedang karena sangat
menunjang pengendalian iklim mikro di
dalam bangunan. Untuk daerah tropika
kering lubang-lubang sebaiknya dibuat
sekecil mungkin. Di daerah tropika-basah
lubang pada dinding pada sisi sebelah atas
dan bawah, angin sebisa mungkin berukuran
besar (Georg. Lippsmeier,1980).
Ventilasi Silang pengudaraan ruangan yang
kontinyu didaerah tropis berfungsi terutama
untuk memperbaiki iklim ruangan, udara
yang bergerak menghasilkan penyegaran
terbaik, karena dengan penyegaran yang
baik terjadi proses penguapan yang berarti
menurunkan temperature pada kulit. Untuk
mendapatkan ventilasi silang. lubang
lubang harus dibuat pada sisi-sisi bangunan
yang berlawanan (Georg. Lippsmeier,1980).

Lantai

Lantai pada arsitektur tropis lantai keras


(lantai batu) dianjurkan untuk bangunan
dengan pengudaraan alamiah karena
konstruksinya terbuka, sangat di pengaruhi
oleh iklim, ganggunan binatang kecil dan
kotoran. Lantai batu buatan yang licin
(teraso) sangat mudah dirawat dan
dibersihkan. Yang lebih murah dan lebih
sering di pakai yaitu ubin keramik atau ubin
teraso. Lapisan lantai yang dikenal luas
secara international. Untuk batu dan kayu
cocok digunakan untuk bangunan dengan
penyejuk udara penuh (Georg.
Lippsmeier,1980).

Bukaan pintu dan jendela pada


bangunan kolonial Belanda
berukuran besar dan tinggi dan
berirama monoton (Peter J.M.Nas
dan Martien de Vietter, 2007).
Ventilasi
didapat
dengan
memanfaatkan perbedaan bagian
ruangan yang berbeda suhunya,
karena berbeda tekanan udaranya.
Udara mengalir dari tekanan yang
tinggi ke tekanan rendah

Lantai pada bangunan kolonial


Belanda terdiri dari ubin marmer
berwarna biru atau merah, lantai
semen abu-abu atau berwarna
(Peter J.M.Nas dan Martien de
Vietter, 2007).

Berdasarkan survey di lapangan untuk


Bukaan pintu dan jendela pada
bangunan museum nasional Indonesia
(Museum Gajah) berukuran besar dan
tinggi dan terdapat jendela Boventlicht
serta di lapisi dengan teralis besi.

Sesuai
dengan iklim
tropis

Berdasarkan survey di lapangan Lantai


pada bangunan museum nasional
Indonesia (Museum Gajah) terdiri dari
lantai marmer, lantai kayu, lantai batu,
ubin keramik dan ubin teraso.

Sesuai
dengan iklim
tropis

Hal. 8

Atap

Atap pada arsitektur tropis merupakan


bagian terpenting dari sebuah bangunan.
berdasarkan bidang dan orientasinya atap
merupakan bagian bangunan yang paling
banyak terkena cahaya, dan merupakan
bagian yang paling bertanggung jawab
terhadap kenyamanan ruangan. Atap pelana
dan limasan dalam perancangan perlu di
perhatikan yaitu :

Atap pada bangunan kolonial


Belanda terdapat bentuk atap
limasan dan pelana dengan sudut
kemiringan 30 atau lebih
(Handinoto, 1996, Samsudi, 2000).

Berdasarkan survey di lapangan, Atap


pada bangunan museum nasional
Indonesia (Museum Gajah)
berdasarkan keterangan dari Bapak
Jay dan Bapak Darowi atap pada
bangunan museum nasional Indonesia
(Museum Gajah) dahulunya beratap
seng dan menggunakan rangka kayu
tetapi setelah mengalami renovasi atap
diganti dengan genteng dengan
kemiringan 30 (drajat), atap berbentuk
limasan dan pelana.

Sesuai
dengan iklim
tropis

Plafond pada arsitektur tropis untuk


ketinggian plafond pada bangunan minimal
2,40 M (Indri Hapsari, 2003).

Plafond pada bangunan kolonial


Belanda tinggi-tinggi yang berasal
dari Eropa masih di pertahankan
dengan alasan interior lebih besar
pasti lebih sejuk dibandingkan
interior rumah dengan langit-langit
rendah (Peter J.M.Nas dan Martien
de Vietter, 2007).

Berdasarkan survey di lapangan


Plafond pada bangunan museum
nasional Indonesia (Museum Gajah)
ketinggiannya 6.00 M.

Sesuai
dengan iklim
tropis

Bentuk bangunan pada arsitektur tropis


dibuat untuk memaksimalkan energy alam,
baik penghawaan dan pencahayaan (Marcus
Gartiwa, 2011).

Bentuk bangunan kolonial Belanda


tidak menetapkan panduan estetika
apa pun untuk tampilan gedunggedung. Yang jelas rancangan
harus memenuhi persyaratanpersyaratan elementer dan
fungsional peraturan di fokuskan
pada fungsi (Peter J.M.Nas dan
Martien de Vietter, 2007).

Berdasarkan survey di lapangan


Bentuk bangunan pada museum
nasional Indonesia, Secara Arsitektur
bergaya Imperium, dengan bentuk
bergaya Yunani yang di campur
dengan penggunaan tiang-tiang
bergaya romawi serta reinansance.
Arsitektur ini muncul karena para
arsitek Eropa masih terpengaruh oleh
kejayaan arsitektur klasik.

Sesuai
dengan iklim
tropis

- Pemakaian hanya di daerah hangatlembab dengan curah hujan tinggi.


- Cocok untuk daerah angin topan, jika
kemiringan atap diatas 30

Plafond

Bentuk Bangunan

Fasad bangunan bukan sekedar bentuk dua


dimensi permukaan luar saja, atau
merupakan suatu ruang transisi yang
berperan sebagai teater inteaksi antara
ruang luar dan dalam (Benjamin Stein).

Hal. 9

No

Elemen Arsitektur

Arsitektur Tropis

Orientasi Bangunan

Denah

Dinding

Bukaan (Pintu & Jendela) Serta ventilasi

Lantai

Atap

Plafond

Bentuk Bangunan

Keterangan :

(X)

Tidak sesuai iklim tropis

()

Sesuai Arsitektur tropis

4 KESIMPULAN & REKOMENDASI


4.1. Kesimpulan
1.

Berdasarkan pengamatan dilapangan serta hasil dan pembahasan pada bangunan


Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) pada bangunan unit A, Maka pada
elemen : Orientasi bangunan, Denah, Bukaan (Pintu & Jendela) serta ventilasi, Lantai,
Atap, Plafond dan Bentuk bangunan. Masih sesuai dengan iklim tropis.
Sedangkan pada elemen : Dinding tidak sesuai dengan iklim tropis.

4.2. Rekomendasi
1.

2.

Ingin mengetahui lebih dekat tentang bangunan Museum Nasional Indonesia (museum
gajah) apakah terdapat bentuk adaptasi bangunan Kolonial Belanda terhadap iklim
Tropis. Tetapi hendaknya pihak museum nasional Indonesia (museum gajah) dapat lebih
membuka pintu untuk membantu mahasiswa untuk melakukan penelitian lebih
mendalam lagi.
Pengembang Ilmu
Diperlukan penelitian lain sebagai kelanjutan penelitian ini dengan menggali berbagai
macam aspek arsitektur Kolonial Belanda terhadap iklim Tropis. Dan semua bangunan
yang ada di Museum Indonesia.

Hal. 10

5 REFERENSI

Georg. Lippsmeier, Bangunan Tropis, (1980).


Marcus Gartiwa, Dr.Ir. Iwan Sudrajat, M.Arch (Pendamping), Morfologi Bangunan dalam
Konteks Kebudayaan Bandung : Muara Indah, (1998).
Peter J.M.Nas dan Martien de Vietter, Masa Lalu dalam Masa Kini, (2007).
Rahil Muhammad Hasbi, (2007).
Syarif Hidayat M.Arch, Arsitektur Tropis, Pusat Pengembangan Ajaran UMB.
Yulianto Sumalyo, Arsitektur Kolonial Belanda Di Indonesia, Paris Perancis (1988).

Hal. 11