Anda di halaman 1dari 3

Ada 3 bangunan bersejarah di kota Manado dan masih berfungsi, meskipun

tidak lagi berfungsi sebagai mana tujuan bangunan itu dibangun. Bangunanbangunan bersejarah tersebut, adalah: a) Bank Indonesia (sebelumnya Javasche
Bank); b) ex Bioskop "Benteng"; dan c) bangunan Minahasaraad. Penelitian ini
menggunakan pendekatan tipologi, melalui tahapan penelitian sebagai berikut: (a)
pengamatan pada lokasi pengamatan; (b) mengidentifikasi setiap bangunan
berdasarkan gaya arsitektur dan kemudian menyesuaikan dengan teori yang
berkaitan dengan tipologi wajah bangunan; (c) diklasifikasikan gaya bangunan; dan
(d) mengambil kesimpulan. Dari hasil analisis disimpulkan bahwa ternyata gaya
arsitektur transisi adalah gaya arsitektur kolonial Belanda yang dominan
memengaruhi 3 gaya bangunan bersejarah, melalui elemen yang berbeda, yaitu:
67% elemen denah pada bangunan Bank bangunan Bank Indonesia (Javasche Bank)
dan bangunan ex Bioskop Benteng, dan 67% elemen tampak pada bangunan
Minahasaraad.
Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia merupakan fenomena budaya yang
unik, percampuran budaya antara penjajah dan budaya Indonesia yang tidak ada di
tempat lain, termasuk negara-negara bekas jajahan lainnya (Sumalyo, 1995).
Keunikan bangunan ini dapat dilihat pada bangunan-bangunan peninggalan kolonial
Belanda, yang menurut hasil identifikasi dan analisis Handinoto (2010), gaya
arsitektur masa itu, dibagi menjadi tiga gaya arsitektur, yaitu:1) Indische Empire
Style;2) gaya "Arsitektur Transisi; dan 3) gaya" Indo-Eropa ".
Ciri-ciri gaya arsitektur Indische Empire, sebagai berikut (Hadinoto, 2010: 149):
a. Lantai berbentuk rencana simetri
b. Di tengah ada ruang tengah, yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur
lain.
c. Kamar Central secara langsung berkaitan dengan teras depan dan belakang (Voor
Galerij dan Achter)
d. Teras biasanya sangat luas dan pada salah satu ujung ada deretan Yunani atau
kolom gaya Romawi (Doric, Ionic, Corinthian).
e. Dapur, kamar mandi/WC, penyimpanan dan area layanan lainnya adalah bagian
yang terpisah dari bangunan utama dan terletak di bagian belakang.
f. Kadang-kadang di samping bangunan utama ada paviliun, yang digunakan
sebagai kamar tidur tamu.
Bangunan gaya arsitektur transisi sebagian besar dirancang oleh inspektur
bangunan yang bekerja ganda pada departemen pengembangan pemerintah
Belanda (Handinoto 2010: 128). Menurut Handinoto (2010: 1414) gaya arsitektur
transisi tidak hanya bangunan ala militer, tetapi juga gaya bangunan umum atau
pemerintah lainnya yang dibangun pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20,
seperti: bangunan kantor PTT (Pos, Telegraaf en Telefoon) di Jogyakarta (dirancang
pada tahun 1910 dan dibangun pada tahun 1912); Kantor pos Medan (1909), dan
markas "Nillmij" Jakarta (1909).

Arsitektur Indo-Eropa diarahkan pada bangunan yang memiliki bentuk


campuran arsitektur Nusantara dan arsitektur modern disesuaikan iklim, bahan
bangunan dan teknologi yang berkembang pada saat itu (Handinoto 2010:86). Gaya
arsitektur Indo-Eropa yang didirikan oleh arsitek Henri Maclaine Pont, Thomas
Karsten, dan Hendrik Petrus Berlage. Institut Teknologi Bandung adalah bangunan
menganut gaya arsitektur Indo-Eropa.
Bank Indonesia (ex Javasche Bank)
Gedung Bank Indonesia memiliki dua lantai, di mana lantai pertama terdiri
atas pintu masuk, ruang tamu, kasir, ruang pembukuan, ruang kotak penyimpanan,
dan toilet . Seluruh ruang di lantai dua digunakan sebagai ruang kantor. Denah
lantai simetri, tidak ada teras, dan menggunakan elemen penahan cahaya berbentuk atap datar yang terbuat dari beton. Dari hasil analisis elemen denah bangunan,
menun-jukkan bahwa 67% dipengaruhi oleh gaya arsitektur kolonial modern. Bata
adalah material utama kolom dan dinding bangunan. Penggunaan material kayu,
terutama pada rangka atap, pintu, dan kusen. Pada lantai dua bangunan Javasche
Bank sudah mengguna-kan material beton. Hasil analisis elemen mate-rial
bangunan, diperoleh bahwa Minahasaraad. dipengaruhi oleh 33% gaya Indische
Empire Style dan 33% gaya Arsitektur Transisi. Menggunakan struktur rangka
(kolom dan balok), dan dinding hanya berfungsi sebagai penutup. Memiliki perisai
dan konstruksi atap pelana, dimana bangunan dua lantai yang menggunakan
konstruksi beton. Hasil analisis elemen konstruksi bangunan, diperoleh bahwa
bangunan dipengaruhi oleh 22% gaya Indische Empire dan 22% gaya Arsitektur
Kolonial modern.
Bangunan ex Bioskop Benteng
Denah bangunan bioskop saat ini tidak simetris tetapi lebih bervariasi
(Gambar. 4). Namun, jika dilihat dalam bentuk awal, titik keseimbangan bangunan
ex bioskop Benteng, terletak di sisi kiri dan kanan gedung. Sejak sekitar tahun 1952
-1954, bangunan itu dibangun kembali dan mengubah bentuk dengan meletakkan
titik keseimbangan di tengah bangunan. Bangunan dua lantai tanpa teras yang
mengelilingi bangu-nan dan menggunakan penahan sinar matahari meskipun tidak
pada semua jendela. Dari analisis elemen denah lantai bangunan, mem-bangun
rencana menunjukkan bahwa ex bioskop "Benteng" dipengaruhi 67% gaya
arsitektur kolonial modern. bahwa bangunan dipengaruhi oleh 33% gaya Indische
Empriredan 33% gaya Arsitektur kolonial modern. Sistem konstruksi pada bangunan ex bioskop "Benteng" menggunakan sistem kontruksi kolom dan balok dengan
atap beton datar. Dari analisis elemen sistem konstruksi menunjukkan bahwa 22%
gaya arsitektur transisi (1890-1915).
Bangunan Minahasaraad
Minahasaraad memiliki denah lantai simetris, ada ruang tengah yang
dikelilingi oleh ruang utama. Menggunakan elemen penahan sinar di teras belakang
dan jendela tapi tidak pada seluruh jendela. Beberapa jendela tidak meng-gunakan
unsur penahan cahaya terutama pada jendela dibagian barat bangunan (Gambar.5).

Dari analisis elemen denah lantai, menunjukkan bahwa 50% dipengaruhi gaya
arsitektur transisi (1890-1915).
Tampak bangunan simetris dan tidak meng-gunakan kolom, bangunan sederhana
tidak banyak menggunakan ornamen rumit. Bang-unan Minahasaraad dibangun
pada tahun 1930 (masuk pada abad ke-19). Menurut Soekiman (2014), abad ke-19
yang dikenal sebagai periode eklektik, yaitu suatu periode, di mana gaya hidup
menerapkan perspektif praktis. Ketika itu, orang lebih peduli dengan fungsi dan
bekerja tidak lagi menyajikan keindahan tapi kegunaan karya. Demikian pula
bangunan Minahasaraad, banguna yang sangat sederhana namun masih ada
ornamen yang digunakan yaitu fasad (gevel). Darianalisis elemen bahan bangunan
pada, diperoleh bahwa bangunan Minahasaraad dipe-ngaruhi dua gaya arsitektur
kolonial dengan persentase yang sama, yaitu: 33% gaya Indische Emprire dan 33%
gaya arsitektur transisi .