Anda di halaman 1dari 8

2.

2 Pola Hubungan Dokter-Pasien


Relasi pasien dan dokter adalah proses utama dari praktik kedokteran.
Terdapat banyak pandangan mengenai hubungan relasi ini. Pandangan yang
ideal, seperti yang diajarkan di fakultas kedokteran, mengambil sisi dari proses
seorang dokter mempelajari tanda-tanda, masalah, dan nilai-nilai dari
pasien, maka dari itu dokter memeriksa pasien, menginterpretasi tanda-tanda
klinis, dan membuat sebuah diagnosis yang kemudian digunakan sebagai
penjelasan kepada pasien dan merencanakan perawatan atau pengobatan.
Hubungan antar dokter-pasien yaitu dokter dianggap mempunyai pengetahuan
dan keterampilan untuk mendiagnosa dan menyembuhkan penyakit, dalam hal
ini terjadi interaksi profesional.
Sri Praptianingsih mencatat bahwa hubungan dokter dengan pasien dapat
berkembang dalam tiga pola, yaitu engineering, paternalistik, dan kontrak
sosial. Pola engineering dilandasi kesadaran bahwa dokter adalah orang
profesional dan menjalankan tugas profesinya secara objektif. Pola paternalistik
dokter dianggap sebagai orang yang memiliki tanggung jawab profesi sekaligus
tanggung jawab moral. Status dokter atau tenaga medis diposisikan sebagai
orang yang mengetahui tindakan terbaik untuk pasien. Pada pola kontrak sosial,
kerja sama antara pasien, kesepakatan atau kesepahaman antara kedua belah
pihak, termasuk hak dan kewajibannya, dilakukan setelah keduanya ada

kesepakatan (baik tertulis maupun tidak tertulis). Pola ini merupakan perpaduan
antara pola engineering maupun paternalistik.
2.2.1 Hubungan Dokter-Pasien Menurut Solis
Solis seorang guru besar Philipina dalam bidang Legal Medicine dan
Medical Jurisprudence, menyebutkan ada tiga pola hubungan antara
dokter dan pasien, yaitu :
a. Activity-Passivity Relation
Tidak ada interaksi antara dokter dan pasien karena pasien sangat
pasif dan dokter menguasai penuh dalam menentukan pengobatan
pasien. Pola seperti ini terdapat dalam situasi emergensi dimana
pasien tidak sadar.
b. Guidance-Cooperation Relation
Meskipun pasien sakit, pasien sadar dan dapat mengemukakan
pendapat. Disini dokter dan pasien dapat berdiskusi pengobatan yang
akan dilakukan. Dokter berada dalam posisi kepercayaan
c. Mutual Participation Relation
Pasien berpikir ia secara yuridis sama dengan dokter dan bahwa
hubungannya

dengan

dokter

bersifat

perjanjian

dinegosiasikan antara pihak yang sama. Dokter biasanya merasa


bahwa pasien tidak

kooperatif dan sulit,

sedangkan

pasien

menganggap dokter tidak simpatik dan kurang memahami pasien.


Activity-passivity relation dapat ditemukan dalam prototip hubungan
orang tua dan anak yang masih kecil, yang hanya menerima segala
sesuatu yang dilakukan oleh orangtua. Hubungan ini paling dikenal

sejak profesi kedokteran mulai mengenal kode etik yaitu sejak


Hippocrates.
Guidance-cooperative relation atau hubungan membimbing dan
kerjasama dapat ditemukan dalam prorotip hubungan orang tua dan
remaja. Orang tua member nasihat dan membimbing, sedangkan anak
yang sudah remaja itu mengikuti nasihat dan bimbingan orangtuanya.
Akan tetapi, adanya kekuasaan yang dimiliki oleh pihak yang satu
(pengetahuan kedokteran) dan kemampuan atau kemauan yang dimiliki
pihak lainnya untuk menuruti nasihat dan bimbingan, maka ada
kemungkinan dilakukannyapenyalahgunaan situasi atau keadaaan oleh
pihak yang lebih berkuasa.
Mutual participation relation dapat ditemukan dalam prototip
hubungna antara orang dewasa. Dalam hal ini, dapat dilihat adanya
pencerminan bahwa semua manusia memiliki hak dan martabat yang
sama. Hubungan ini lebih didasarkan pada struktur social yang
demokratis dan yang merupakan perjuangan hidup bagi sebagian besar
umat manusia sepanjang masa. Dalam hubungan ini, kedua pihak saling
bergantung berlandaskan proses identifikasi pengenalan yang sangat
kompleks, sehingga diperlukan adanya keterbukaan satu sama lain.
Masing-masing memperlakukan pihak lawan sebagai dirinya, agar suatu
hubungan yang serasi dan seimbang dapat dipertahankan. Kedua belah

pihak

memiliki

kekuasaan

yang

hampir

sama

karena

saling

membutuhkan.
2.2.2

Hubungan Dokter-Pasien Menurut Solis


Selain itu, juga dikemukakan oleh Solis (1980 : 33) seorang Guru

Besar Philipina dalam bidang Legal Medicine dan Medical Jurisprudence,


tiga pola hubungan antara dokter dan pasien, yaitu :
1) Activity-Passivity Relation. Tidak terdapat interaksi antara dokter
dengan pasien karena pasien tidak dapat berkontribusi dalam
hubungan ini. Hubungan ini merupakan pola karakteristik dalam
situasi kegawatdaruratan saat pasien tidak sadarkan diri.
Jika dihubungkan dengan prototip hubungan yang dikemukakan oleh
Szasz dan Hollender, maka dapat disimpulkan bahwa activitypassivity relation dapat ditemukan pada prototip hubungan orangtua
dan anak yang masih kecil, yang hanya menerima segala sesuatu
yang dilakukan orangtua terhadapnya. Hubungan ini, paling dikenal
sejak profesi kedokteran mulai mengenal kode etik, yaitu sejak
Hippocrates (469-377 SM).
2) Guidance-Cooperation Relation. Meskipun pasien sakit, dia tetap
sadarkan diri dan memiliki perasaan dan aspirasi sendiri. Semenjak
pasien merasa nyeri, cemas, dan merasakan berbagai gejala
berbahaya lainnya, dia mencari pertolongan dan siap serta mau untuk

bekerja sama dengan dokter. Dokter menyadari dirinya berada dalam


posisi yang dipercaya oleh pasien.
Jika dihubungkan dengan prototip hubungan yang dikemukakan oleh
Szasz dan Hollender, maka guidance-cooperative relation atau
hubungan membimbing dan kerja sama dapat ditemukan dalam
prototip hubungan orangtua dan remaja. Orangtua memberi nasihat
dan membimbing, sedangkan anak yang sudah remaja mengikuti
nasihat dan bimbingan orangtuanya, akan tetapi ada kekuasaan yang
dimiliki oleh pihak satu (pengetahuan kedokteran) dan kemampuan
atau kemauan yang dimiliki oleh pihak lain untuk menuruti nasihat
dan

bimbingan,

maka

ada

kemungkinan

dilakukannya

penyalahgunaan situasi atau keadaan oleh pihak yang lebih berkuasa.


3) Mutual Participation Relation. Pasien berpikir dirinya sama dengan
dokter dan hubungan pasien dengan dokter merupakan kerja sama
antara kedua belah pihak.
Jika dihubungkan dengan prototip hubungan yang dikemukakan oleh
Szasz dan Hollender, maka mutual participation relation dapat
ditemukan dalam prototip hubungan antara orang dewasa. Dalam hal
ini, dapat dilihat adanya pencerminan bahwa semua manusia
memiliki hak dan martabat yang sama.
Dalam hubungan ini, kedua belah pihak saling bergantung
berlandaskan proses identifikasi pengenalan yang sangat kompleks,

sehingga diperlukan adanya keterbukaan satu sama lain. Masingmasing memperlakukan pihak lawan sebagai dirinya sendiri, agar
suatu hubungan yang serasi dan seimbang dapat dipertahankan.
Kedua belah pihak memiliki kekuasaan yang hampir sama karena
saling membutuhkan.
Pola

hubungan

mutual

participation

relation

selain

besar

kemungkinannya terjadi pada waktu pemeriksaan medis (medical


check up), juga terjadi dengan pasien yang berpenyakit menahun
(kronis), seperti penyakit gula, penyakit jantung koroner, penyakit
arthritis, dan sebagainya. Hal ini disebabkan dalam hubungan
semacam itu pasien dapat menceritakan pengalamannya sendiri
berkaitan dengan penyakitnya, dan dapat membantu dokter secara
aktif dalam menentukan keadaan yang sebenarnya, sehingga dapat
diberikan nasihat dan pengobatan yang tepat. Dalam hal ini pasien
secara sadar dan aktif berperan dalam pengobatan terhadap dirinya.
2.2.3

Hubungan Dokter-Pasien Menurut David Ozar


Seseorang yang sangat berpengaruh dalam bidang etika kedokteran

gigi, David Ozar, telah menulis mengenai tiga model profesionalisme dan
kewajiban professional dalam bidang Kedokteran Gigi yaitu commercial
model, guild model, dan interactive model.

1) Commercial model
Model ini dasar pikirannya adalah perawatan kedokteran gigi
merupakan suatu perdagangan, dengan dokter gigi sebagai penjual
jasa dan pasien sebagai pembeli jasa.
2) Guild model
Dasar pikiran dari guild model adalah bukan bisnis, tetapi melihat
bidang kedokteran gigi sebagai suatu profesi. Pada model ini,
profesi merupakan hal yang terpenting, dan pelaku profesi ini harus
berlaku atau bersikap seperti peran dalam profesinya (dokter).
3) Interactive model.
Model ini melihat sumber pembuat keputusan dan dasar kebenaran
untuk kewajiban dokter gigi dan hak pasien baik sebagai prinsip
pasar bebas (perdagangan) maupun melihat kedokteran gigi sebagai
profesi. Model ini menganggap dokter sebagai yang terbaik di
bidangnya dan pasien sebagai pemilik dan pemilih yang harus
berkontribusi dalam mencapai sukses dari perawatannya. Dalam
interactive model, hubungan antara dokter dengan pasien yaitu
bersama-sama membuat keputusan, dibandingkan dengan kompetisi
pada commercial model atau unilateral expertise, seperti dalam
guide model.

Ketiga model umum ini sangat berguna untuk mendeskripsikan


hubungan umum dokter gigi dan pasien secara umum dan alami.
Penting juga untuk mempertimbangkan beberapa kewajiban konkrit
dokter gigi terhadap pasien, antara lain kewajiban untuk memberi
tahu kebenaran dan menepati janji kepada pasien. Kewajiban ini
tercantum dalam peraturan etika pula. Terdapat satu klarifikasi
mengenai tugas dan kewajiban, dimana hal ini bergantung pada
tiap-tiap individu, hukum, dan moral. Kedua hal ini dapat berubah
bila terdapat penyesuaian.