Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Psikosa secara sederhana dapat didefinisikan sebai suatu gangguan jiwa
dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Keadaa ini dapat
digambarkan bahwa psikosa ialah gangguan jiwa yang serius, yang timbuk karena
penyebab organik ataupun emosional (fungsional) dan yang menunjukkan
ganggua

kemampuan

berpikir,

bereakasi

secara

emosional,

mengingat,

berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai dengan kenyataan itu,


sedemikian rupa sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari
sangat terganggu. Psikosa ditandai oleh perilaku yang regresif, hiudp perasaan
tidak sesuai , berkurangnya pengawasan terhadap impuls-impuls serta waham dan
halusinasi.
Sindrom klinis akut dan sejenak dengan ciri penurunan taraf kesadaran,
gangguan kognitif, gangguan persepsi, termasuk halusinasi & ilusi, khas adalah
visual juga di pancaindera lain, dan gangguan perilaku, seperti agitasi. Delirium
bisa timbul pada segala umur, tetapi sering pada usia lanjut. Sedikitnya 10% dari
pasien lanjut usia yang dirawat inap menderita delirium; 15-50% mengalami
delirium sesaat pada masa perawatan rumah sakit. Delirium juga sering dijumpai
pada panti asuhan. Bila delirium terjadi pada orang muda biasanya karena
penggunaan obat atau penyakit yang berbahaya mengancam jiwanya.
II. TUJUAN PEMBUATAN
A. TUJUAN UMUM
Untuk memahami dan mengetahui tentang Delirium pada lansia mencakup
Teorits maupun Asuhan Keperawatan
B. TUJUAN KHUSUS
1. Untuk Mengetahui Teoritis dari Delirium ( Defeenisi, Etiologi, Patofisiologi,
Manifestasi Klinis, dan Terapi)
2. Untuk Mengetahui pemberian Asuhan Keperawatan pada penderita (lansia)
Delirium
3. Untuk memenuhui tugas yang diberikan oleh dosen Keperawatan Jiwa II

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

DEFENISI
Delirium adalah keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya
terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan
dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi
dan tidak mampu berfikir secara jernih. Sindrom klinis akut dan sejenak dengan
ciri penurunan taraf kesadaran, gangguan kognitif, gangguan persepsi, termasuk
halusinasi & ilusi, khas adalah visual juga di pancaindera lain, dan gangguan
perilaku, seperti agitasi. Gangguan ini berlangsung pendek dan ber-jam hingga
berhari, taraf hebatnya berfluktuasi, hebat di malam hari, kegelapan membuat
halusinasi visual & gangguan perilaku meningkat. Biasanya reversibel.
Penyebabnya termasuk penyakit fisik, intoxikasi obat (zat). Diagnosis biasanya
klinis, dengan laboratorium dan pemeriksaan pencitraan (imaging) untuk
menemukan penyebabnya. Terapinya ialah memperbaiki penyebabnya dan
tindakan suportif.
Delirium juga disebut Kondisi bingung akut (Acute Confusional State) dan
demensia merupakan penyebab yang paling sering dan gangguan atau hendaya
kognitif, walaupun gangguan afektif (seperti depresi) juga bisa mengganggu
kognisi. Delirium dan demensia merupakan dua gangguan yang berbeda, namun
sering sukar dibedakan. Pada keduanya, fungsi kognitif terganggu, namun
demensia biasanya memori yang terganggu, sedangkan delirium daya
perhatiannya yang terganggu.
Beberapa ciri khas membedakan kedua gangguan tersebut (lihat tabel I).
Delirium biasanya disebabkan oleh penyakit akut atau keracunan obat (kadang
mengancam jiwa orang) dan sering reversibel, sedangkan demensia secara khas
disebabkan oleh perubahan anatomik dalam otak, berawal lambat dan biasanya
tidak reversibel. Delirium bisa timbul pada pasien dengan demensia juga.

Gambaran

Delirium

Demensia

Riwayat

Penyakit akut

Penyakit kronik

Awal

Cepat

Lambat laun

Sebab

Terdapat
penyakit
lain Biasanya penyakit otak kronik
(infeksi,
(spt
Alzheimer,
demensia
dehidrasi, guna/putus obat
vaskular)

Lamanya

Ber-hari/-minggu

Ber-bulan/-tahun

Perjalanan sakit

Naik turun

Kronik progresif

Taraf kesadaran

Naik turun

Normal

Orientasi

Terganggu, periodic

Intak pada awalnya

Afek

Cemas dan iritabel

Labil tapi tak cemas

Alam pikiran

Sering terganggu

Turun jumlahnya

Bahasa

Lamban, inkoheren, inadekuat Sulit menemukan istilah tepat

Daya ingat

Jangka
nyata

Persepsi

Halusinasi (visual)

Halusinasi
sundowning

Psikomotor

Retardasi, agitasi, campuran

Normal

Tidur

Terganggu siklusnya

Sedikit
tidurnya

Atensi
kesadaran

pendek

terganggu Jangka pendek


terganggu

& Amat terganggu

&

panjang

jarang

kecuali

terganggu

siklus

Sedikit terganggu

Reversibilitas

Sering reversible

Umumnya tak reversibel

Penanganan

Segera

Perlu tapi tak segera

Catatan: pasien dengan demensia amat rentan terhadap delirium, dan delirium
yang bertumpang tindih dengan demensia adalah umum

II.

ETIOLOGI
Penyebab delirium:
1. Alkohol, obat-obatan dan bahan beracun
2. Efek toksik dari pengobatan
3.

Kadar elektrolit, garam dan mineral (misalnya kalsium, natrium atau


magnesium) yang tidak normal akibat pengobatan, dehidrasi atau penyakit
tertentu

4.

Infeksi akut disertai demam

5.

Hidrosefalus bertekanan normal, yaitu suatu keadaan dimana cairan yang


membantali otak tidak diserap sebagaimana mestinya dan menekan otak

6.

Hematoma subdural, yaitu pengumpulan darah di bawah tengkorak yang


dapat menekan otak.

7.

Meningitis, ensefalitis, sifilis (penyakit infeksi yang menyerang otak)

8.

Kekurangan tiamin dan vitamin B12

9.

Hipotiroidisme maupun hipotiroidisme

10. Tumor otak (beberapa diantaranya kadang menyebabkan linglung dan


gangguan ingatan)
11. Patah tulang panggul dan tulang-tulang panjang
12. Fungsi jantung atau paru-paru yang buruk dan menyebabkan rendahnya kadar
oksigen atau tingginya kadar karbon dioksida di dalam darah
13. Stroke.
III. PATOFISIOLOGI
Banyak kondisi sistemik dan obat bisa menyebabkan delirium, contoh
antikolinergika, psikotropika, dan opioida. Mekanisma tidak jelas, tetapi
mungkin terkait dengan gangguan reversibilitas dan metabolisma oxidatif otak,
abnormalitas neurotransmiter multipel, dan pembentukan sitokines (cytokines).
Stress dari penyebab apapun bisa meningkatkan kerja saraf simpatikus sehingga
mengganggu fungsi kolinergik dan menyebabkan delirium. Usia lanjut memang
dasarnya rentan terhadap penurunan transmisi kolinergik sehingga lebih mudah
terjadi delirium. Apapun sebabnya, yang jelas hemisfer otak dan mekanisma
siaga (arousal mechanism)dari talamus dan sistem aktivasi retikular batang otak
jadi terganggu.
Terdapat faktor predisposisi gangguan otak organik: seperti demensia,
stroke. Penyakit parkinson, umur lanjut, gangguan sensorik, dan gangguan
multipel. Faktor presipitasi termasuk penggunaan obat baru lebih dan 3 macam,
infeksi, dehidrasi, imobilisasi, malagizi, dan pemakaian kateter buli-buli.
Penggunaan anestesia juga meningkatkan resiko delirium, terutama pada
pembedahan yang lama. Demikian pula pasien lanjut usia yang dirawatdi bagian
ICU beresiko lebih tinggi.

IV. MANIFESTASI KLINIS


Ciri utama dari delirium adalah tidak mampu memusatkan perhatian.
Penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan dalam
mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang baru
saja terjadi. Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan bingung

dengan tempat dimana mereka berada. Fikiran mereka kacau, mengigau dan
terjadi inkoherensia.
Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri.
Beberapa penderita mengalami paranoia dan delusi (percaya bahwa sedang
terjadi hal-hal yang aneh) Respon penderita terhadap kesulitan yang dihadapinya
berbeda-beda; ada yang sangat tenang dan menarik diri, sedangkan yang lainnya
menjadi hiperaktif dan mencoba melawan halusinasi maupun delusi yang
dialaminya.
Gejala utama ialah kesadaran menurun. Kesadaran yang menurun ialah
suatu keadaan dengan kemampuan persepsi perhatian dan pemikiran yan
berkurang secara keseluruhan (secara kuantitatif). Gejala-gejala lainnya :
Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:
1. Konsentrasi dan memfokus
2. Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian
3. Kesadaran naik-turun
4. Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
5. Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain
6. Bingung menghadapi tugas se-hari-hari
7. Perubahan kepribadian dan afek
8. Pikiran menjadi kacau
9. Bicara ngawur
10. Disartria dan bicara cepat
11. Neologisma
12. Inkoheren
Gejala termasuk:
1. Perilaku yang inadekuat
2. Rasa takut
3. Curiga
4. Mudah tersinggung
5. Agitatif
6. Hiperaktif
5

7. Siaga tinggi (Hyperalert)

Atau sebaliknya bisa menjadi:


1. Pendiam
2. Menarik diri
3. Mengantuk
4. Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah
5. Pola tidur dan makan terganggu
6. Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu

V.

PEMERIKSAAN DIAGNOSIS
Biasanya klinis. Semua pasien dengan tanda dan gejala gangguan fungsi
kognitif perlu dilakukan pemeriksaan kondisi mental formal. Kemampuan atensi
bisa diperiksa dengan:
1. Pengulangan sebutan 3 benda
2. Pengulangan 7 angka ke depan dan 5 angka ke belakang (mundur)
3. Sebutkan nama hari dalam seminggu ke depan dan ke belakang (mundur)
4. Ikuti kriteria diagnostik dari lCD-10 atau DSM-IV-TR
5. Confusion Assessment Method (CAM)
6. Wawancarai anggota keluarga
7. Penggunaan obat atau zat psikoaktif overdosis atau penghentian mendadak.

VI. PROGNOSIS
Morbiditas dan mortalitas lebih tinggi pada pasien yang masuk sudah
dengan delirium dibandingkan dengan pasien yang menjadi delirium setelah di
Rumah Sakit. Beberapa penyebab delirium seperti hipoglikemia, intoxikasi,
infeksi, faktor iatrogenik, toxisitas obat, gangguan keseimbangan elektrolit.

Biasanya cepat membaik dengan pengobatan. Beberapa pada lanjut usia susah
untuk diobati dan bisa melanjutjadi kronik

VII. PENATALAKSANAAN MEDIS


Terapi diawali dengan memperbaiki kondisi penyakitnya dan menghilangkan
faktor yang memberatkan seperti:
1. Menghentikan penggunaan obat
2. Obati infeksi
3. Suport pada pasien dan keluanga
4. Mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan pasien
5. Cukupi cairan dan nutrisi
6. Vitamin yang dibutuhkan
7. Segala alat pengekang boleh digunakan tapi harus segera dilepas bila sudah
membaik, alat infuse sesederhana mungkin, lingkungan diatur agar nyaman.
8. Obat:
a. Haloperidoi dosis rendah dulu 0,5 1 mg per os, IV atau IV
b. Risperidone0,5 3mg perostiap l2jam
c. Olanzapine 2,5 15 mg per os 1 x sehari
d. Lorazepam 0,5 1mg per Os atau parenteral (tak tersedia di Indonesia),
Perlu diingat obat benzodiazepine mi bisa memperburuk delirium
karena efek sedasinya.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
I.

PENGKAJIAN
1. Identitas
Indentias klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa/latar
belakang kebudayaan, status
sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
2. Keluhan utama
Keluhan utama atau sebab utama yang menyebbkan klien datang berobat
(menurut klien dan atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran menurun.
3. Faktor predisposisi
Menemukan gangguan jiwa yang ada sebagai dasar pembuatan diagnosis serta
menentukan tingkat gangguan serta menggambarkan struktur kepribadian
yang mungkin dapat menerangkan riwayat dan perkembangan gangguan jiwa
yang terdapat. Dari gejala-gejala psikiatrik tidak dapat diketahui
etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan intern dan
nerologik yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan oleh keadaan jiwa
premorbidnya, mekanisme pembelaaan psikologiknya, keadaan psikososial,
sifat bantuan dari keluarga, teman dan petugas kesehatan, struktur sosial serta
ciri-ciri kebudayaan sekelilingnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau
nonpsikotik yang disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan
fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang
terutama mengenai otak (meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah
otak, tumur otak dan sebagainya) atau yang terutama diluar otak atau
tengkorak (tifus, endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi
dan sebagainya).
4. Pemeriksaan fisik
Kesadran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia. Tensi menurun,
takikardia, febris, BB menurun karena nafsu makan yang menurun dan tidak
mau makan.
5. Psikososial
a. Genogram Dari hasil penelitian ditemukan kembar monozigot memberi
pengaruh lebih tinggi dari kembar dizigot .
8

b. Konsep diri

Ganbaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran diri


karena proses patologik penyakit.

Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu.


Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian antara
satu peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu dimana
individu tidak tahun dengan jelas perannya, serta peran berlebihan
sementara tidak mempunyai kemmapuan dan sumber yang cukup.
Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan
kemampuan yang ada.
Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien
merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.
c. Hubungan sosial
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau
kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat
seperti delusi dan halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh pola hubungan
sosial khususnya dengan orang yang penting dalam kehidupan individu.
Jika hubungan ini tidak sehat maka individu dalam kekosongan internal.
Perkembangan hubungan sosial yang tidak adeguat menyebabkan
kegagalan individu untuk belajar mempertahankan komunikasi dengan
orang lain, akibatnya klien cenderung memisahkan diri dari orang lain dan
hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan kontrol
orang lain. Keadaa ini menimbulkan kesepian, isolasi sosial, hubungan
dangkal dan tergantung.
d. Spiritual
Keyakina klien terhadapa agama dan keyakinannya masih kuat.a tetapi
tidak atau kurang mampu dalam melaksnakan ibadatnmya sesuai dengan
agama dan kepercayaannya.
6. Status mental
a. Penampila klien tidak rapi dan tidak mampu utnuk merawat dirinya
sendiri.
b. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.

c.

Aktivitas motorik, Perubahan motorik dapat dinmanifestasikan adanya


peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsif, manerisme, otomatis,
steriotipi.

d. Alam perasaan
Klien nampak ketakutan dan putus asa.
e. Afek dan emosi.
Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan
perasaan tertentu karena jika langsung mengalami perasaa tersebut dapat
menimbulkan ansietas. Keadaan ini menimbulkan perubahan afek yang
digunakan klien untukj melindungi dirinya, karena afek yang telah
berubahn memampukan kien mengingkari dampak emosional yang
menyakitkan dari lingkungan eksternal. Respon emosional klien mungkin
tampak bizar dan tidak sesuai karena datang dari kerangka pikir yang telah
berubah. Perubahan afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan
ambivalen.
f. Interaksi selama wawancara
Sikap klien terhadap pemeriksa kurawng kooperatif, kontak mata kurang.
g. Persepsi
Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional terhadap
suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau kebiuh panca
indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan
pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang dan berat atau
berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering ditemukan adalah
halusinasi.
h. Proses berpikir
Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku kohern, tindakannya
cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien terhadap realitas yang tidak
sesuai dengan penilaian yang umum diterima. Penilaian realitas secara
pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif yang dikaitkan dengan
orang, benda atau kejadian yang tidak logis.(Pemikiran autistik). Klien
tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar
perubahan proses pikir yang dapat dimanifestasikan dengan pemikian
primitf, hilangnya asosiasi, pemikiran magis, delusi (waham), perubahan
linguistik (memperlihatkan gangguan pola pikir abstrak sehingga tampak
10

klien regresi dan pola pikir yang sempit misalnya ekholali, clang asosiasi
dan neologisme.
i. Tingkat kesadaran
Kesadran yang menurun, bingung. Disorientasi waktu, tempat dan orang.
j. Memori
Gangguan daya ingat yang baru saja terjadi )kejadian pada beberapa jam
atau hari yang lampau) dan yang sudah lama berselang terjadi (kejadian
beberapa tahun yang lalu).
k. Tingkat konsentrasi
Klien tidak mampu berkonsentrasi
l. Kemampuan penilaian
Gangguan ringan dalam penilaian atau keputusan.
7. Kebutuhan klien sehari-hari
a. Tidur, klien sukar tidur karena cemas, gelisah, berbaring atau duduk dan
gelisah . Kadang-kadang terbangun tengah malam dan sukar tidur
kemabali. Tidurnya mungkin terganggu sepanjang malam, sehingga tidak
merasa segar di pagi hari.
b. Selera makan, klien tidak mempunyai selera makan atau makannya hanya
sedikit, karea putus asa, merasa tidak berharga, aktivitas terbatas sehingga
bisa terjadi penurunan berat badan.
c. Eliminasi
Klien mungkin tergnaggu buang air kecilnya, kadang-kdang lebih sering
dari biasanya, karena sukar tidur dan stres. Kadang-kadang dapat terjadi
konstipasi, akibat terganggu pola makan.
8. Mekanisme koping
Apabila klien merasa tridak berhasil, kegagalan maka ia akan menetralisir,
mengingkari atau meniadakannya dengan mengembangkan berbagai pola
koping mekanisme. Ketidak mampuan mengatasi secara konstruktif
merupakan faktor penyebab primer terbentuknya pola tiungkah laku
patologis. Koping mekanisme yang digunakan seseorang dalam keadaan
delerium adalah mengurangi kontak mata, memakai kata-kata yang cepat dan
keras (ngomel-ngomel) dan menutup diri.

11

9. Dampak masalah
a. Individu

Perilaku, klien muningkin mengbaikan atau mendapat kesulitan dalam


melakukan kegiatas sehari-hari seperti kebersihan diri misalnya tidak
mau mandi, tidak mau menyisir atau mengganti pakaian.

Kesejahateraan dan konsep diri, klien merasa kehilangan harga diri,


harga diri rendah, merasa tidak berarti, tidak berguna dan putus asa
sehingga klien perlu diisolasi.

Kemadirian , klien kehilangan kemandirian adan hidupketergantungan


pada keluarga atau oorang yang merawat cukup tinggi, sehingga
menimbulkan stres fisik.

II.

RUMUSAN DIAGNOSA

RESIKO

DEFISIT PERAWATAN DIRI

Cord Problem

: Gangguan Persepsi Sensorik : HALUSINASI

ETIOLOGI

ISOLASI SOSIAL

Jadi diagnosa pada delirium ini adalah :


1. Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi
2. Resiko Perilaku kekeresan
3. Isolasi Sosial

12

DAFTAR PUSTAKA
http://karyatulisilmiahkeperawatan.blogspot.com/2009/05/delirium-pada-lansia.html
http://www.lenterabiru.com/2010/02/delirium.htm
http://www.scumdoctor.com/Indonesian/disease-prevention/mentalillness/delirium/Nursing-Care-Acute-Agitated-Elderly-Delirium.html
http://www.idijakbar.com/prosiding/delirium.htm

13