Anda di halaman 1dari 16

Category Archives: Tugas Pertama

Fungsi Geographic Information System dalam Perencanaan Kota


31 AGUSTUS 2014 10:58 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

NIM : 15413072
Yang dapat dilihat dari GIS (Geographic Information Systems) yang dikenal sejak tahun 1980an ini sangat berguna
bagi dunia Perencanaan Kota karena memiliki banyak manfaatnya bagi dunia Perencanaan Kota, terutama dalam
pembuatan sebuah peta. GIS sangat penting dalam menentukan suatu koordinat posisi geografis suatu tempat atau
obyek saat ini, yang kemudian dipermudah dengan adanya teknologi GPS. Hal ini sangat membantu dalam
menentukan suatu letak posisi geografis ataupun letak suatu tempat.
Sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola, dan menampilkan informasi
bereferensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya dalam sebuah database. Para Planner juga
memasukkan orang yang dapat membangun dan mengoperasikannya, dan data sebagai bagian dari sistem ini.
GIS sangat unik bagi kita unuk aplikasinya dan dapat dipakai dengan sangat cepat dikuasai aplikasi kebutuhan kerja.
GIS juga dapat di manfaatkan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan berkolerasi dengan analisis data spasial
melalui sistem informasi geografis.
GIS dengan gvSIG
CGIS ini juga setelah diperhatikan merupakan sistem pertama di dunia dan hasil dari perbaikan aplikasi pemetaan
yang memiliki kemampuan timpang susun (overlay), penghitungan, pendig italan/pemindaian (digitizing/scanning),
mendukung sistem koordinat national yang membentang di atas benua Amerika , memasukkan garis
sebagai arcyang memiliki topologi dan menyimpan atribut dan informasi lokasional pada berkas terpisah.
Dapat dianalisis untuk menghasilkan peta informasi digital tentang penggunaan lahan dan tutupan lahan, sensus
atau hidrologi tabel data dapat dikonversi ke bentuk maplike dan berfungsi sebagai lapisan informasi tematik dalam
GIS. Pada dasarnya GIS menampilkan dan memberikan percepatan data-data yang diinginkan oleh pengguna
dimana terdahulu hanya menggunakan metode manual namun saat ini menggunakan metode digital (Komputerisasi).
Contoh aplikasi GIS di PDAM digunakan untuk collecting, editing, evaluasi dan monitoring seluruh data-data jaringan
pipa dan accessories (valve, hydrant, reducer, dan lain-lain). Data-data jaringan pipa yang dahulu tersimpan secara
manual dalam as built drawing, dengan aplikasi GIS ini di digitasi atau digambar kedalam komputer. Penggambaran
letak/posisi pipa dan accessories didasarkan pada peta dasar digital (topografi), sehingga data yang dihasilkan
sangat presisi atau sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dilapangan.
GIS dapat digunakan untuk menggambarkan karakteristik permukaan, subsurface, dan atmosfer dari titik-titik
informasi secara dua atau tiga dimensi. Contohnya GIS dapat membuat peta isopleth atau garis kontur yang
mengindikasikan perbedaan curah hujan. GIS juga bisa mengenali dan menganalisis hubungan spasial yang ada
antara data spasial yang tersimpan secara digital. Relasi topologi ini membuat pemodelan spasial dan analisa yang
komplek dapat dilakukan. Relasi topologi yang dimodelkan dengan GIS dapat meliputi adjacency, containment, dan
proximity. Dengan pemodelan topologi ini kita dapat mendeteksi keberadaan lokasi SPBU, pasar, atau pabrik yang
letaknya dekat suatu area seperti persawahan, atau rawa-rawa.
Selain itu, fungsi GIS juga dapat digunakan untuk mensimulasikan rute material sepanjang jaringan linier. Variabel
seperti kemiringan, batas kecepatan, diameterpiap dapat dimasukkan kedalam pemodelan jaringan supaya

merepresentasikan aliran fenomena secara akurat. Pemodelan jaringan ini umumnya digunakan dalam perencanaan
transportasi, pemodelan hidrologi, serta infrastruktur.
GIS juga bisa digunakan untuk pemodelan kartografi. Pemodelan kartografi (cartographic modelling) dapat
didefinisikan sebagai suatu proses dimana layer tematik dibuat, diproses, dan dianalisa, pada suatu lingkup area
yang sama. Operasi pada peta hasil pemodelan kartografi dapat digabungkan dengan algoritma untuk
mensimulasikan atau mengoptimasi suatu model.
Dan oleh karena itu, GIS juga akan dapat dengan sangat baik berfungsi bila seseorang ingin merancang membangun
suatu kota, hal ini dikarenakan penjelasan diatas mengenai GIS. dengan CGIS pula kita bisa menentukan bagaimana
positioning dari suatu objek di wilayah kita.

sumber : http://planologiunikom.blogspot.com/2011/11/gis-perencanaan-wilayah-dan-kota.html
GIS pada Perencanaan
31 AGUSTUS 2014 7:39 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

NIM : 15413096

Apa sih GIS/SIG itu???


SIG merupakan suatu bidang kajian ilmu yang dapat digunakan oleh berbagai disiplin ilmu sehinggaa computer
system for capturing, managing, integrating, manipulating, analysing and displaying data which is spatially referenced
to the Earth). ESRI sebagai suatu vendor besar yang bergerak dalam bidang GIS mendefinisikan GIS sebagai
kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi dan personil yang
dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, memuktahirkan, memanipulasi, menganalisis dan
menampilkan semua bentuk informasi yang mempunyai referensi geografi. Berdasarkan International GIS Dictionary,
pengertian dari SIG adalah sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanggil kembali,
mengolah, menganalisis dan menghasilkan data yang bereferensi geografis atau data geospatial.
Secara umum, fungsi GIS yang sangat penting adalah kemampuan untuk menganalisis data, terutama data spasial
yang kemudian menyajikannya dalam bentuk informasi spasial berikut data atributnya yang bisa mendukung dalam
pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan
transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya.GIS (Geographic Information System) atau biasa dikenal
dengan SIG (Sistem Informasi Geografi) adalah aplikasi pengolahan data spatial dengan menggunakan sistem
komputerisasi dengan menggabungkan antara data grafis dengan data atribut obyek menggunakan peta dasar digital
(basic map) bergeoferensi bumi. Secara umum pengertian SIG adalah; Suatu komponen yang terdiri dari perangkat
keras, perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk
memasukan, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, meng-integrasikan, menganalisa
dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis. Berikut adalah pengertian tentang Sistem
informasi dari beberapa pendapat para ahli
1.

Aronaff (1989) : SIG adalah sistem informasi yang didasarkan pada kerja komputer yang memasukkan,
mengelola, memanipulasi dan menganalisa data serta memberi uraian.

2.

Burrough (1986) : SIG merupakan alat yang bermanfaat untuk pengumpulan, penimbunan, pengambilan
kembali data yang diinginkan dan penayangan data keruangan yang berasal dari kenyataan dunia.

3.

Murai (1999) : SIG sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanggil
kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data bereferensi geografis atau data geospatial, untuk
mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya
alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya.

4.

Prahasta : SIG merupakan sejenis software yang dapat digunakan untuk pemasukan, penyimpanan,
manipulasi, menampilkan, dan keluaran informasi geografis berikut atribut-atributnya.

5.

Petrus Paryono : SIG adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan, manipulasi dan
menganalisis informasi geografi.

Teknologi SIG menggunakan informasi digital yang didapatkan dari metode pembuatan data digital. Metode
pembuatan yang umum digunakan adalah digitization, yaitu peta cetak atau rencana survey yang ditransfer ke dalam
bentuk media digital menggunakan program komputer (Computer aided drafting, CAD) serta kapabilitas
georeferencing. SIG dapat digunakan untuk menggambarkan karakteristik permukaan bumi baik secara dua dimensi
atau tiga dimensi. Istilah SIG kerap digunakan dalam bidang PWK (Perencanaan Wilayah dan Kota). SIG memiliki
pengertian sebagai suatu sistem informasi yang terintegrasi dan secara khusus digunakan untuk mengelola berbagai
data yang mempunyai suatu informasi dalam bentuk spasial keruangan (Dr.Sasongko, SE,MS,).
Inilah Salah satu bentuk teknologi komputer yang secara luas telah digunakan untuk meningkatkan proses
perencanaan wilayah dan kota. Banyak implementasi dari SIG berhasil menunjukkan peningkatan dan perbaikan
yang signinfikan pada proses pengambilan keputusan karena SIG dapat menyediakan informasi kuantitatif dan
kualitatif yang dibutuhkan pada proses perencanaan wilayah dan kota. Selain itu, GIS menawarkan kerangka yang
solid untuk mendukung proses pengambilan keputusan jika digunakan sebagai komponen utama pada Sistem
Informasi Perencanaan. Penggunaan GIS bersama-sama dengan teknik pemodelan komputer dapat memperluas
cakupan dari proses analisa dan proses pengambilan keputusan pada perencanaan wilayah dan kota. Selain itu,
kombinasi SIG dengan teknik simulasi-mikro (microsimulation) dapat digunakan untuk memodelkan dan
mensimulasikan perubahan-perubahan karakteristik perkotaan seperti perubahan penggunaan lahan.
Sistem Informasi Geografis dalam perencanaan tata ruang menjadi suatu solusi untuk dapat melihat aspek daerah
secara utuh dan lengkap dalam manajemen pembangunan. Dalam Sistem Informasi Geografis data spasial seperti
zona lahan dan ruas jalan pada peta-peta akan memiliki atribut data yang berisi informasi yang dapat disesuaikan
dengan kebutuhan. Data spasial tersebut juga dapat digabungkan dengan data spasial lainnya sehingga menjadi
layer-layer yang berisi data yang saling melengkapi. Penggunaan Sistem Informasi Geografis memerlukan standarstandar teknis seperti sistem proyeksi peta, jenis-jenis layer agar rencana tata ruang yang dihasilkan dapat terjaga
tingkat keakurasiannya dan berguna dalam memudahkan perencanaan perkotaan maupun pengembangan
lanjutannya.
Peranan GIS
Fungsi dasar peta (GIS) adalah menempatkan sesuatu sesuai keberadaan atau kejadiannya di muka bumi. Beberapa
keuntungan lain yang didapat dari GIS antara lain; dengan GIS terutama jika menggunakan komputer maka
perubahan yang terjadi bisa digambarkan dengan cepat jika dibandingkan dengan cara manual yang harus
menggambarkan segala sesuatunya dari awal semisal menggambar peta desa manual dan kemudian menambahkan
informasi baru tersebut. Dengan GIS, sejak awal peta desa menjadi obyek tersendiri yang terpisah dari obyek lainnya
misal lokasi satu rumah, di mana bisa dipakai lagi untuk keperluan lain.
GIS mempunyai fungsi penyimpanan yang terstruktur sesuai keinginan si pemakai. Sehingga dengan begitu
beberapa hal yang tidak perlu (misal penggambaran manual dan pengulangan) menjadi tidak selalu diperlukan,
sehingga pekerjaan bisa lebih sederhana dan efektif. Selain itu perubahan-perubahan informasi bisa dimasukan dan
digambarkan secara cepat karena menggunakan komputer.
Disamping itu semua, fungsi sangat penting adalah kemampuan GIS untuk menganalisa informasi-informasi

geografis dalam memahami fenomena ruang yang terjadi dan kemudian hal tersebut menjadi acuan untuk
pengambilan keputusan di berbagai tingkatan kehidupan.
Hal ini juga ditunjang dengan maksud, latar belakang, dan metode-metode atau pengetahuan yang terlibat di dalam
proses melakukan GIS. Contoh, GIS bisa memetakan trend atau pola sesuatu, dia bisa menggambarkan di mana
saja wilayah-wilayah yang rentan bencana di suatu kabupaten setelah menganalisa data-data/peta curah hujan,
lereng, jenis tanah, tutupan lahan, dan kejadian bencana sebelumnya hanya dalam waktu singkat.
Perencanaan wilayah sangatlah terbantu dengan adanya GIS, seperti dalam merencanakan pembangunan sarana
kesehatan di suatu maka seorang perencana harus melihat akan kondisi eksisting lokasi yang akan dibangun.
Kemudian menganalisa mengenai persebaran penduduk dan juga radius pelayanan masyarakat berdasarkan data
GIS yang ada. Dalam hal ini tentunya keberadaan GIS sangatlah membantu dalam perencanaan.
Bahkan GIS digunakan juga untuk hal-hal yang bersifat sosial kemasyarakatan, di dalam pemberdayaan masyarakat
misalnya, beberapa organisasi non pemerintah menggunakan GIS dalam pemetaan partisipatif bersama masyarakat
desa. Ini bisa membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat atas apa yang ada dan terjadi di wilayah
mereka.
Selain itu juga GIS menghasilkan alat komunikasi yang efektif, peta bisa digunakan sebagai alat negosiasi dan
bahkan bisa mempengaruhi keputusan-keputusan di tingkat pemerintah atas suatu lokasi. Sebagai alat berbagi
informasi.
Itulah mengapa dalam GIS juga diperlukan sense of art atau rasa seni baik itu seni dalam arti teknik-teknik
penggambaran yang bagus maupun seni mengkomunikasikan (berkomunikasi). Mungkin peta akan lebih hidup jika
disertai dengan foto-foto yang berhubungan.
Penyusunan tata ruang merupakan tugas besar seorang perencana kota dan melibatkan berbagai pihak yang dalam
menjalankan tugas tidak terlepas dari data spasial. Data spasial yang dibutuhkan dalam rangka membuat suatu
perkiraan kebutuhan atau pengembangan ruang jangka panjang adalah bervariasi mulai dari data yang bersifat
umum hingga detail. Bentuk data spasial untuk kegiataan penataan ruang umumnya berupa peta digital dan peta
analog yang masing-masing mempunyai karakteristik dan spesifikasi yang berbeda, dimana jenis dan ruang lingkup
serta kedetailan rencana tata ruang sangat menentukan. Peranan data penginderaan jauh dan Sistem Informasi
Geografis (SIG) menjadi semakin jelas dalam penyusunan tata ruang. Dalam penyusunan tata ruang dibutuhkan
informasi spasial yang semakin rinci yang dapat diidentifikasi. Kedua hal ini sangat berpengaruh kepada jenis data
penginderaan jauh. Beberapa contoh penginderaan jauh antara lain penyusunan peta tata lingkungan, peta tata
ruang, peta tata guna lahan dan peta desain guna lahan.
Penggunaan teknologi GIS dalam pengelolaan konstruksi bangunan dapat membantu managemen proyek melihat
kemajuan proyek melalui pangkalan data dengan menampilkan informasi gambar dan atribut secara bersamaan.
Teknologi informasi ini dapat melakukan pertanyaan (query), pencarian (search) dan perbaikan yang dapat dilakukan
dengan mudah dan cepat. Untuk pengaplikasian GIS dalam proyek konstruksi bangunan, maka perlu dibangunkan
pangkalan data GIS terlebih dahlulu. Pembangunan pangkalan data GIS dilakukan seperti membagikan setiap lantai
bangunan menjadi beberapa sektor ruang, setiap lantai diwakili sebagai lapisan (layer) dan setiap komponen
bangunan seperti tiang, balok, pondasi, bukaan dan seterusnya disimpan dalam pangkalan data dengan atribut yang
menjelaskan setiap komponen yang terkait seperti tanggal dimulai pekerjaan, tanggal diperkirakan selesai, jenis
bahan yang digunakan, ukuran atau posisi dan sebagainya .
Melalui sistem interface GIS yang didesain khusus, pihak pelaksana proyek bisa mendapatkan informasi untuk setiap
elemen konstruksi dan menampilkannya pada layar dengan mudah, misalnya melihat status konstruksi dengan
melihat elemen bangunan dalam sektor yang sedang dibangun, sektor yang bermasalah ataupun sektor yang
memerlukan perhatian atau penanganan secepatnya. Dalam prosedur request for information (RFI), pihak kontraktor
akan mengemukakan masalah yang dihadapi mengenai suatu elemen bangunan kepada pengawas proyek untuk
mendapat kepastian. Melalui sistem teknologi GIS pihak pengawas akan mendapatkan lansung elemen tersebut dari
pangkalan data dan memindahkan informasi tersebut kepada pihak konsultan arsitek dengan secepatnya.
Setiap elemen yang mempunyai RFI bisa dilihat lokasinya langsung pada gambar bangunan. Lokasi strategis untuk
crane pengangkut material bangunan juga dapat dilakukan dengan menggunakan perintah (command) buffer dari
beberapa posisi lahan yang direncanakan. Selain itu, teknologi GIS juga dapat membantu pihak managemen
memantau kualitas pekerjaan pembangunan konstruksi bangunan dengan mengambil gambar foto atau rekaman

video setiap tahap pekerjaan konstruksi kemudian dapat disimpan dalam pangkalan data GIS yang dihubungkan
dengan elemen atau ruang yang berkenaan.
GIS juga dapat melakukan analisis apabila terjadinya keterlambatan pekerjaan dan menampilkan bagian bangunan
yang efisien ataupun yang tidak efisien dan menghubungkannya dengan biaya yang telah digunakan. Selain itu GIS
juga mamapu menganalisis dampak biaya pembangunan apabila terjadi keterlambatan pekerjaan dan dapat
mengetahui mengapa hal tersebut terjadi. Keberhasilan dalam pekerjaan konstruksi bangunan bermakna tercapainya
tujuan pembangunan fisik bangunan sesuai dengan anggaran biaya yang tersedia serta selesai dalam jangka waktu
yang telah ditetapkan.
Spatial Data For Urban Planning
31 AGUSTUS 2014 7:07 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Pada hakekatnya, perencanaan kota yaitu penataan dan pengaturan ruang dalam lingkup kota yang terbentuk oleh
beberapa lingkungan dan kawasan fungsional. Seorangplanner dituntut untuk bisa memaksimalkan penggunaan
lahan yang ada agar bisa digunakaan seefektif mungkin.
Dalam merencanakan suatu kota, dibutuhkan beberapa data untuk membentuk rencana dengan tujuan untuk
mengendalikan kondisi sosial dari perkotaan yang sudah diprediksi sebelumnya dari data-data yang ada. Salah satu
data yang dibutuhkan dalam merancang sebuah kota adalah data spasial.
Data spasial adalah sebuah data yang berorientasi geografis dan memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar
referensinya. Data spasial meliputi topografi, jalan, dan batas-batas administrative. Dalam merencanakan suatu kota
kita membutuhkan data numeric seperti jumlah keluarga atau jumlah pedagang di suatu kota. Dengan menggunakan
data spasial, data tersebut akan lebih mudah didapat.
Penggunaan Geographical Information System (GIS) sekarang mulai diperhatikan dalam perencanaan suatu kota.
Survey mengatakan bahwa masih banyak perencanaan kota yang belum mengoperasikan GIS. Hal ini semakin
menjadi masalah yang mendesak karena peggunaan GIS dalam berbagai aspek perencanaan kota sangatlah penting
dalam penggunaan atribut bangunan dan penggunaan lahan.
Atribut bangunan meliputi seberapa tinggi bangunan dilihat dari banyaknya lantai bangunan, fungsi bangunan, dan
struktur bangunan. Untuk penggunaan lahan dapat dibagi menjadi lahan masyarakat, lahan pemukiman, lahan
industri, dan lahan pertanian. Data-data tersebut harus diinput secara manual dan individual berdasarkan survey
ditempat.
Oleh NIM: S4113001
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
source: https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&ved=0CD4QFjAC&url=http%3A%2F
%2Fwww.nilim.go.jp%2Fenglish%2Fannual%2Fannual2011%2F28.pdf&ei=Jfr7U4qkN428uATh5IDwBg&usg=AFQjCNF4fBiR2waWuvoRq2hKGiZS8v7d9g
Peran Informasi Spasial Untuk Perencanaan Kota yang Berkelanjutan
31 AGUSTUS 2014 6:16 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Baru saja, dunia telah menyambut 7.000.000.000 penduduknya. Hal ini diprediksi bahwa kita akan tumbuh menjadi 9
miliar orang pada tahun 2050. Saat ini, lebih dari setengah penduduk dunia hidup di daerah perkotaan dan urbanisasi
akan tetap berlanjut di masa depan. Profesor ekonomi Harvard, Glaeser, dengan yakin berpendapat bahwa populasi
ini dapat memiliki konsekuensi magis untuk bisnis dan inovasi. Dengan demikian, keberlanjutan adalah masalah inti
untuk perencana tata ruang saat ini. Namun, keberlanjutan ini memerlukan lebih dari arsitektur hijau atau bahan
bangunan re-use (aspek planet). Sebuah kota misalnya juga harus menjadi tempat yang menarik untuk tinggal (aspek
individu) dengan potensi ekonomi untuk perusahaan penduduk (aspek keuntungan).

Praktek perencanaan tata ruang sangat mempengaruhi lingkungan kita. Mengingat pentingnya perencanaan kota,
keberlanjutan dapat diartikan sebagai pola pikir yang diperlukan perencana. Dalam jaringan masyarakat saat ini,
informasi geografis memiliki peran yang semakin penting untuk mencapai pola pikir ini. Dalam tulisan ini penulis ingin
meneliti bagaimana informasi spasial dapat memacu diskusi tentang perencanaan kota yang berkelanjutan. Hal itu
dilakukan dengan cara menganalisis data goegrafis, lingkungan, data sosial ekonomi dan real estate. Interpretasi
yang cermat dari data geografis menjadi informasi spasial sangat penting untuk kualitas hasil akhir. Hal ini sering
diremehkan oleh para perencana tata ruang. Dengan menggunakan area studi kasus (kota Apeldoorn, Belanda),
penulis menunjukkan bagaimana informasi goegrafis dapat digunakan dalam pengambilan keputusan strategis untuk
pengembangan kota berkelanjutan. Enam visualisasi spasial (emisi karbon dioksida, liveability, kepadatan rumah,
jasa, pendapatan, rata-rata nilai hunian) dari berbagai aspek keberlanjutan digunakan untuk menunjukkan
bagaimana informasi geografis dapat digunakan dalam perencanaan tata ruang. Dapat disimpulkan bahwa informasi
spasial dapat mendukung pengambilan keputusan dalam proses perencanaan dan keputusan kebijakan bantuan
untuk mengidentifikasi kemungkinan alternatif tindakan tidak berkelanjutan di wilayah perencanaan. Diperlukan
adanya data geografis untuk menafsirkan dan kerjasama pembangunan multidisiplin yang berkelanjutan.

Keberlanjutan yang dimaksud adalah suatu konsep umum yang mencakup banyak aspek sosial, ekonomi dan
lingkungan ekologis. Hal ini membuat kebijakan yang efektif untuk mengembangkan kota yang berkelanjutan sebagai
tantangan yang serius. Peta-peta yang disajikan dalam makalah bukanlah teknologi inovatif, penulis juga tidak
berpura-pura bahwa mereka mewakili keberlanjutan Apeldoorn. Namun, peta yang ada dapat diharapkan
memberikan informasi berharga yang dapat digunakan untuk mengembangkan kebijakan yang berkelanjutan pada
skala lokal.

Konteks spasial dan visi yang jelas pada keberlanjutan artinya dapat membantu untuk menerjemahkan dan
mengintegrasikan indikator spasial yang berbeda ke dalam kebijakan dan rencana yang efektif. Misalnya, konteks
dari sebuah desa akan menuntut kriteria lain daripada layanan di daerah pusat kota besar. Menetapkan tujuan
tentang tipe keberlanjutan apa yang ingin kita capai untuk konteks tertentu dapat membuat informasi spasial lebih
berharga dalam mendukung pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Namun, interpretasi yang cermat terhadap
indikator sangat penting ketika menggunakannya untuk pembangunan berkelanjutan. Penafsiran yang salah dari
informasi spasial dapat menyebabkan kesimpulan yang salah pada kebijakan berkelanjutan yang paling diinginkan
dalam daerah tertentu.

Oleh NIM 15413095

Sumber : https://www.fig.net/pub/fig2012/papers/ts07g/TS07G_broekhof_vanmarwijk_5985.pdf
Manfaat Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam Perencanaan Wilayah dan Kota
31 AGUSTUS 2014 5:35 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Sistem informasi geografis adalah suatu sistem yang berbasis komputer dengan kemampuan menangani data
bereferensi geografis, yang meliputi pemasukan, pengelolaan atau manajemen data (penyimpanan dan pengaktifan
kembali), manipulasi dan analisis, serta keluaran data. Pengertian lain tentang GIS atau Sistem Informasi Berbasis
Pemetaan dan Geografi adalah sebuah alat bantu manajemen berupa informasi berbantuan komputer yang berkait
erat dengan sistem pemetaan dan analisis terhadap segala sesuatu serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka
bumi.

SIG memungkinkan untuk membuat tampilan peta serta menggunakannya untuk keperluan presentasi khususnya
dalam kajian Perencanaan Wilayah dan Kota . SIG memungkinkan untuk menggambarkan dan menganalisa
informasi dengan cara pandang baru, mengungkap semua keterkaitan yang selama ini tersembunyi, pola, dan
kecenderungannya.
Untuk mendukung suatu Sistem Informasi Geografis, pada prinsipnya terdapat dua jenis data, yaitu:
1.

Data spasial, yaitu data yang berkaitan dengan aspek keruangan dan merupakan data yang menyajikan
lokasi geografis atau gambaran nyata suatu wilayah di permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan dalam
grafik, peta, atau pun gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) atau
dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.

2.

Data non-spasial, disebut juga data atribut, yaitu data yang menerangkan keadaan atau informasi-informasi
dari suatu objek (lokasi dan posisi) yang ditunjukkan oleh data spasial. Salah satu komponen utama dari
Sistem Informasi Geografis adalah perangkat lunak (software). Perangkat lunak ini berfungsi sebagai alat yang
dapat membantu dalam memvisualisasikan, mengeksplorasi, menjawab query, dan menganalisis data secara
geografis

Manfaat GIS dalam Perencanaan Wilayah dan Kota


1.

Inventarisasi Sumber Daya Alam. Melalui penerapan GIS, dapat diidentifikasi tentang potensi-potensi alam
yang tersebar di suatu wilayah. Identifikasi ini akan memudahkan dalam pengelolaan sumber alam untuk
kepentingan orang banyak.

2.

Disaster Management. Artinya, aplikasi GIS dapat digunakan untuk melakukan pengelolaan rehabilitasi
pasca bencana. Misalnya, saat bencana tsunami menerjang Aceh dan Nias, Badan Rehabilitasi
Rekonstruksi Aceh Nias (BRR Aceh-Nias) menggunakan GIS untuk memetakan kondisi terkini dan
menentukan prioritas pembangunan di lokasi yang paling parah kerusakannya.

3.

Penataan Ruang & Pembangunan sarana-prasarana. Manfaat teknologi GIS yang ketiga ini dapat berbentuk
banyak hal. Mulai dari analisis dampak lingkungan, daerah serapan air, kondisi tata ruang kota, dan masih
banyak lagi. Penataan ruang menggunakan GIS akan menghindarkan terjadinya banjir, kemacetan,
infrastruktur dan transportasi, hingga pembangunan perumahan dan perkantoran.

4.

Investasi Bisnis dan Ekonomi juga merupakan manfaat yang bisa didapatkan dari aplikasi GIS. Dengan
adanya peta informasi daerah, dapat ditentukan arah pembangunan. Dan para investor pun bisa menentukan
strategi investasinya berdasarkan kondisi geografis yang ada, kondisi penduduk dan persebarannya, hingga
peta infrastruktur dan aksesibilitas.

5.

GIS dapat digunakan untuk memprediksi pergerakan asap akibat kebakaran hutan atau asab limbah
beracun. GIS juga bisa digunakan untuk memprediksi perkembangan daerah berpopulasi tinggi, yang
membantu perencanaan pembangunan fasilitas public.

6.

GIS dapat digunakan sebagai alat bantu, baik sebagai tools maupun bahan tutorial utama yang interaktif,
dan menarik dalam usaha untuk meningkatkan pemahaman, pembelajaran dan pendidikan mengenai ide-ide
atau konsep-konsep lokasi, spasial/keruangan, kependudukan dan unsur-unsur geografis yang terdapat di
permukaan bumi berikut data-data atribut yang menyertainya.

7.

GIS memiliki kemampuan-kemampuan untuk mengurai unsur-unsur yang terdapat di permukaan bumi
dalam bentuk layer atau coverage data spasial. Dengan layer ini permukaan bumi dapat direkonstruksi kembali
atau dimodelkan dalam bentuk nyata (real world seperti tiga dimensi) dengan menggunakan data ketinggian
beserta layer tematik yang diperlukan.

8.

GIS memiliki kemampuan-kemampuan yang sangat baik dalam menvisualisasikan data spasial beserta
atribut-atributnya. Model warna, bentuk dan ukuran simbol yang diperlukan untuk merepresentasikan unsurunsur permukaan bumi dapat dilakukan dengan mudah.

9.

Hampir semua operasi termasuk analisisnya yang dimiliki oleh perangkat GIS terutama desktop GIS dapat
dilakukan secara interaktif dengan bantuan menu-menu dan help yang bersifat user friendly.

GIS dapat menurunkan data-data secara otomatis tanpa keharusan untuk melakukan interprestasi secara
manual. Dengan demikian GIS dengan mudah dapat menghasilkan peta-peta lainnya dengan hanya
memanipulasi atribut-atributnya.

Perangkat lunak GIS saat ini juga menyediakan fasilitas untuk berkomunikasi dengan alikasi-aplikasi
perangkat lunak lainnya sehingga dapat bertukar data secara dinamis melalui fasilitas OLE (Object Linking
and Embedding) maupun driber ODBC (Open Database Connectivity).

GIS, pada saat ini sudah dapat diimplementasikan sedemikian rupa sehingga dapat bertindak sebagai mapserver atau GIS-server yang siap melayani permintaan baik dari clients melalui jaringan lokal (intrabet)
maupun jaringan internet (web-based).

GIS sangat membantu pekerjaan-pekerjaan yang erat kaitannya dengan bidang-bidang spasial dan geoinformasi. Oleh karena itu, pada saat ini hampir semua disiplin ilmu terutama yang terkait dengan informasi
spasial juga mengenal dan menggunakan GIS sebagai alat bantu analisis dan presentasi yang menarik.

Secara garis besar SIG merupakan program komputer yang sangat bermanfaat khususnya dalam dunia perencanaan
wilayah dan kota terutama dalam hal penyajian informasi-informasi secara grafis. SIG dapat menyajikan suatu data
dengan jelas serta lengkap, dengan menggunakan SIG presentasi dapat disajikan dengan lebih baik karena terbantu
dengan fitur-fitur pengolahan dan penyajian data yang dimiliki oleh aplikasi SIG yang baik.

Oleh NIM 15413071


Sumber http://bagoramoh.wordpress.com/2013/04/20/manfaat-gis-terhadap-perencanaan-wilayah-dan-kota/

Perkembangan Teknologi dalam Pemanfaatan Data Spasial


31 AGUSTUS 2014 5:20 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Dewasa ini, meluasnya pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan perkembangan teknologi dalam
memperoleh, merekam, dan mengumpulkan data yang bersifat keruangan (spasial) berdampak pada perkembangan
pemanfaatan data spasial yang meningkat secara drastis. Sistem informasi atau data yang berbasiskan keruangan
pada saat ini merupakan salah satu elemen yang paling penting, karena berfungsi sebagai pondasi dalam
melaksanakan dan mendukung berbagai macam aplikasi. Data spasial merupakan salah satu item dari informasi,
dimana didalamnya terdapat informasi mengenai bumi termasuk permukaan bumi, dibawah permukaan bumi,
perairan, kelautan, dan bawah atmosfir (Rajabidfard dan Williamson, 2000). Karakteristik utama dari data spasial
adalah bagaimana mengumpulkannya dan memeliharanya untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi
yang cepat dalam pengambilan data spasial telah membuat perekaman terhadap data berubah menjadi bentuk
digital, selain itu relatif cepat dalam melakukan prosesnya.
Terdapat empat prinsip yang dapat mengidentifikasikan perubahan teknologi perekaman data spasial selama tiga
dasawarsa ini. Prinsip tersebut adalah
1. Perkembangan teknologi
2. Kepedulian terhadap lingkungan hidup
3. Konflik politik atau perang
4. Kepentingan ekonomi.
Data spasial bisa didapatkan dari citra satelit, peta analog, foto udara, data tabular, dan data survei. Terdapat dua
model dalam data spasial, yaitu model data raster dan model data vektor. Keduanya memiliki karakteristik yang
berbeda, selain itu dalam pemanfaatannya tergantung dari input dan output yang akan dihasilkan. Model data
tersebut merupakan representasi dari obyek-obyek geografi yang terekam sehingga dapat dikenali dan diproses oleh
komputer.
Oleh NIM 15413069
Sumber : ilmukomputer.org/wp-content/uploads/2007/06/dhani-dataspasial.doc
Pentingnya Data Spasial Di Dalam Pembangunan Nasional
31 AGUSTUS 2014 4:42 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Pengambilan keputusan di dalam suatu pembangunan adalah suatu proses yang harus memperhatikan faktor-faktor
ekonomi, sosial, politik, lingkungan dan sumberdaya. Berbagai kegiatan pembangunan yang terkait dengan
pengelolaan perkotaan dan pedesaan, kehutanan, pertanahan, kelautan, pertambangan, lingkungan sangat
tergantung pada ketersediaan data spasial. Demikian yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Dep. Kominfo,
Ashwin Sasongko, pada Rapat Koordinasi Infratruktur Data Spasial Nasional (IDSN). Ashwin menambahkan,
ketersediaan data dan informasi spasial Nasional pada hakekatnya merupakan tanggungjawab pemerintah, walaupun
dalam pelaksanaannya juga melibatkan swasta. Namun pengelolaan data yang dilakukan secara parsial
menimbulkan kesan berjalan sendiri-sendiri dan kurang adanya koordinasi antara pihak pemerintah dan swasta.
Pada hakekatnya IDSN adalah salah satu bagian utama yang sangat penting dari Infrastruktur Informasi Nasional
(IIN) yang keduanya senantiasa merujuk pada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang dikenal saat ini.
Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, proses pengolahan dan pemanfaatan data spasial jauh
lebih efektif, sehingga memungkinkan percepatan di dalam pembangunan Sistem Informasi Geografis (SIG). Dalam
era globalisasi, penggunaan SIG sebagai teknologi perencanaan yang dinamis dan akurat, baik ditingkat makro
maupun mikro, akan menjadi kunci daya saing Indonesia pada tataran nasional.

Secara garis besar, data spasial itu sendiri merupakan data berupa peta, grafik, maupun gambar dengan format
digital yang disimpan dalam bentuk vektor atau raster. Data spasial mempunyai dua bagian penting yang
membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi dan informasi atribut. Informasi lokasi atau informasi
spasial contohnya adalah informasi lintang dan bujur. Contohn lain dari informasi spasial yang bisa digunakan untuk
mengidentifikasi lokasi misalnya adalah Kode Pos. Sedangkan informasi atribut contohnya jenis vegetasi, populasi,
pendapatan per tahun, pertumbuhan penduduk dll.
Oleh NIM 15413073
Sumber: http://www.taputkab.go.id/page.php?news_id=496
BEBERAPA ISU PENGELOLAAN (MANAJEMEN) DATA DAN INFORMASI BAGI PERENCANAAN
PEMBANGUNAN DAERAH DALAM REPELITA VI
31 AGUSTUS 2014 3:26 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Dalam kaitannya dengan penyusunan basis data spasial dan sumber daya alam di tingkat daerah, selama ini melalui
pelaksanaan proyek LREP dan MREP yang dilaksanakan pada beberapa daerah sebenarnya telah semakin
meningkat dan kuatnya basis data spasial daerah, serta sekaligus mendukung upaya penyusunan neraca
kependudukan dan lingkungan hidup daerah (NKLD) dan neraca sumberdaya alam dan spasial daerah (NSASD) di
masing-masing daerah. Walaupun demikian, keberadaan dari berbagai jenis data spasial tersebut perlu dievaluasi
dan dikaji kembali hasilgunanya, khususnya dalam kaitannya dengan upaya pencapaian sasaran program penataan
ruang dan inventarisasi sumber daya alam yang telah ditetapkan dalam Repelita VI ini.
Dengan memperhatikan arahan yang telah dituangkan dalam Inmendagri Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penyusunan
NKLD dan NSASD, maka dalam rangka meningkatkan dayaguna dan hasilguna dari pelaksanaan kedua proyek
penyusunan data dasar sumber daya spasial daerah di atas (LREP dan MREP), paling tidak terdapat 3 indikator
keberhasilan yang akan dinilai tingkat pencapaian sasarannya, yaitu:
1. berfungsi secara efektifnya Provincial Data Center (Pusat Data Propinsi/PDP) atau Unit Informasi Spasial Propinsi
(UISP) sebagai suatu wadah koordinasi antarinstansi dalam perencanaan pembangunan di masing-masing daerah;
2. tersusunnya peta zonasi lahan dan kelautan tingkat propinsi dengan skala 1:250.000 sebagai acuan kerangka
makro
pembangunan di daerah; dan
3. tersusunnya peta perencanaan semi detail dengan skala 1:50.000 dan 1:250.000 di areal prioritas proyek LREP-II
dan MREP, yang kesemuanya diarahkan untuk dapat dipadukan dan diselaraskan dalam rangka mewujudkan NKLD
dan NSASD yang diperlukan sebagai kerangka acuan makro dan teknis dalam rangka menunjang perencanaan,
pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan sumber daya alam sebagai potensi pembangunan daerah.
Berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan peranan dan fungsi dari Pusat Data Propinsi (PDP) sebagai wadah
koordinasi perencanaan dan pengendalian data dasar sumber daya alam spasial untuk pembangunan daerah,
terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
1. Koordinasi, sinkronisasi dan integrasi berbagai data dan informasi yang terkait dengan pemetaan sumber daya
alam dan potensi daerah lainnya. Dalam hal ini, keberadaan dari peta-peta dasar spasial/geografis (SIG) yang telah
dihasilkan melalui proyek LREP dan MREP (bagi 10 propinsi pelaksana) serta data pokok pembangunan daerah
perlu dipadukan dan diselaraskan , termasuk dibakukan perangkat lunaknya seperti antara Arc-Info (LREP dan
MREP) dengan Delta-9B (data pokok), sebagaimana telah ditegaskan melalui
SE Dirjen Bangda dalam rangka menselaraskan dan menterpadukan pelaksanaan LREP dan MREP dalam rangka
menunjang penyusunan NKLD dan NSASD di masing-masing daerah.
2. Pertimbangan perlu adanya koordinasi dan optimasi keberadaan dari KPDE (kantor pengolahan data elektronik di
dati I dan dati

II) yang mengelola SIMDA dalam menunjang SIMDAGRI , yang ditetapkan berdasarkan Kepmendagri No. 45 Tahun
1992 (sebelum
dirancangnya pembentukan PDP melalui LREP-II dan MREP). Hal ini termasuk perlu diselaraskan dan
diterpadukannya peralatan yang dimiliki oleh PDE dan PDP untuk dapat lebih optimal dimanfaatkan sebagai wadah
koordinasi antarinstansi dalam perencanaan pembangunan daerah.
3. Optimasi keberadaan staf perencana di Bappeda dan instansi terkait dati I yang telah mengikuti kursus dan
pelatihan perlu terus dijaga, dan diupayakan adanya transfer of knowledge dari mereka dalam rangka keberlanjutan
pelaksanaan kegiatan penyusunan NKLD dan NSASD, khususnya pada pasca proyek LREP dan MREP. Selain itu,
keberadaan dari beberapa tim teknis
perencanaan spasial di Bappeda yang melibatkan staf teknis purnawaktu dan paruhwaktu seperti pada Tim Physical
Planning (TPP) dan unit GIS sebagai motor penggerak PDP sangat perlu dipertimbangkan kemungkinan
pengangkatannya sebagai staf organik pemda pada pasca proyek. Selanjutnya, keberadaan dari para konsultan juga
harus dimanfaatkan secara optimal oleh Bappeda,
serta sekaligus telah mulai menerima estafet kepakaran dari para konsultan , guna menjamin keberlanjutan
kegiatan pada pasca
proyek.
4. Masih terkait dengan aspek kelembagaan, keberadaan dari beberapa tim- tim teknis dan koordinatif yang dibentuk
dalam proyek LREP dan MREP dan dengan telah dibentuknya Pusat Data Propinsi , serta Tim Penyusunan NKLD
dan NSASD sesuai dengan arahan Inmendagri Nomor 39 Tahun 1995, perlu dipertimbangkan kemungkinannya
sebagai cikal bakal (embrio) dari rencana pembentukan Tim Koordinasi Tata Ruang Daerah yang dirasakan
kebutuhannya telah semakin mendesak baik di dati I maupun dati II.
oleh : NIM 15413057
sumber : http://suprayoga.tripod.com/msi-ipb.html
Infrastruktur Data Spasial Nasional Dalam Pelaksanaan Penataan Ruang
30 AGUSTUS 2014 2:43 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Dalam penataan ruang diperlukan perangkat-perangkat analisis baik yang sifatnya software (modul-modul) maupun
hardware (peralatan-peralatan/perlengkapan) yang dapat membantu proses interpretasi, analisis dan menyimpulkan
hasil-hasil formulasi spasial. Infrastruktur data spasial adalah sebagai salah satu yang dapat membantu dalam
proses penataan ruang. Dalam proses perencanaan tata ruang suatu wilayah, mutlak diperlukan data dan informasi
baik spasial maupun non spasial yang akurat, baik dari segi data geografis murni maupun data tematik. Keakuratan
data dan kemampuan pengolahan data yang tentunya sangat besar jumlah dan ragamnya, akan menentukan
efektivitas dari sebuah perencanaan tata ruang.
Proses perencanaan tata ruang lebih bersifat sebagai pengguna (user) data spasial. Data spasial yang berupa peta
dasar dengan skala yang memadai dimana rencana struktur ruang dan rencana pola ruang akan dituangkan.
Ketersediaan peta dasar yang hingga saat ini masih terbatas, mendorong para perencana untuk berupaya mencari
alternatif lain. Dalam perencanaan tata ruang juga memerlukan data spasial yang terkait dengan kondisi fisik wilayah,
seperti kerentanan terhadap bencana, keanekaragaman hayati, oseanografi, iklim dan geofisika, serta data fisik
wilayah lainnya. Pemahaman terhadap kondisi fisik wilayah perencanaan sangat berpengaruh terhadap kualitas
rencana tata ruang, termasuk dukungan data spasial tematik lainnya yang berasal dari suatu proses kajian, analisa,
dan survai yang mendalam.
Seiring dengan perkembangan teknologi pengolahan data geografis, Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan
salah satu disiplin terkait teknologi informasi dan komunikasi yang memungkinkan penggabungan berbagai basis
data dan informasi yang dikumpulkan melalui peta, citra satelit, maupun survai lapangan, yang kemudian dituangkan
dalam layer-layer peta. Apabila SIG dikembangkan dalam jaringan komunikasi seperti internet (atau lebih dikenal
dengan sebutan SIG berbasis Web), karena melalui sistem ini mampu memberikan jangkauan yang semakin luas,

sehingga diharapkan dapat meningkatkan data sharingantar instansi, baik di pemerintah, pemerintah daerah
perguruan tinggi maupun kalangan swasta dan masyarakat.
Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) merupakan salah satu alternatif teknologi perencanaan yang dinamis dan
akurat baik di tingkat makro maupun mikro dan akan menjadi kunci daya saing Indonesia pada tataran global. IDSN
diharapkan akan mampu untuk mendorong pelaksanaan penataan ruang, khususnya dalam mendasari berbagai
kajian dan analisa dari proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang,
diantaranya melalui data sharing. Selain itu pengembangan IDSN akan mendorong kemudahan publik dalam
mengakses data dan informasi, seperti melalui web, sebagai perwujudan good governance dan bagian dari sistem
pelayanan publik.
Oleh NIM 15413102
Sumber: http://www.penataanruang.net/taru/upload/paper/070625.pdf
Aplikasi Data Penginderaan Jauh untuk Mendukung Perencanaan Tata Ruang di Indonesia
29 AGUSTUS 2014 11:21 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Perencanaan Tata Ruang wilayah merupakan suatu upaya mencoba merumuskan usaha pemanfaatan ruang secara
optimal dan efisien serta lestari bagi kegiatan usaha manusia di wilayahnya yang berupa pembangunan sektoral,
daerah, swasta dalam rangka mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang ingin dicapai dalam kurun waktu
tertentu.
Penyusunan tata ruang merupakan tugas besar dan melibatkan berbagai pihak yang dalam menjalankan tugas tidak
terlepas dari data spasial. Data spasial yang dibutuhkan dalam rangka membuat suatu perkiraan kebutuhan atau
pengembangan ruang jangka panjang adalah bervariasi mulai dari data yang bersifat umum hingga detail. Bentuk
data spasial untuk kegiataan penataan ruang umumnya berupa peta digital dan peta analog yang masing-masing
mempunyai karakteristik dan spesifikasi yang berbeda, dimana jenis dan ruang lingkup serta kedetailan rencana tata
ruang sangat menentukan
Berkaitan dengan kesiapan data spasial untuk mendukung tata ruang, ada beberapa titik kritis yang perlu
mendapatkan perhatian kaitannya dengan prosedur kerja antara lain:
1. Belum adanya format data dan skala peta dasar yang baku untuk penyusunan tata ruang dalam berbagai tingkat.
Ada perbedaan format baku peta dengan format operasional, demikian juga skala peta dikaitkan dengan jenis data
yang harus digunakan dan prosedur pengolahan data.
2. Pengalaman menunjukkan bahwa belum memadainya kesadaran akan pentingnya penyediaan data spasial yang
akurat dari kalangan pengguna. Data spasial yang akurat tidak dilihat sebagai komoditas yang strategis untuk
kepentingan jangka panjang.
3. Pembuatan atau penyusunan data spasial skala 1 : 250.000 hingga 1 : 5000 untuk tata ruang detail dilakukan
dengan anggapan peta sudah tersedia dan tidak disediakan alokasi biaya untuk pembuatan peta tersebut.
Dampaknya adalah peta yang digunakan sudah kadaluarsa.
4. Pada berbagai rencana kegiatan, ketelitian peta yang dibutuhkan kadang-kadang bukan merupakan hal yang
utama, yang diutamakan adalah penyebaran temanya. Informasi lokasi dan batas-batas fisik lebih diutamakan (bukan
kepastian koordinat), sedangkan dalam beberapa hal misalnya infrastructure management kepastian lokasi harus
dicirikan dengan ketepatan koordinat.
Kelengkapan dan kebenaran (kualitas) input data spasial akan sangat berpengaruh pada hasil atau keluarannya.
Tanpa adanya data spasial yang memadai dalam arti kualitas planimetris dan informasi kualitatif, maka proses
pengambilan keputusan tidak dapat dilaksanakan secara benar dan bertanggung jawab.

Suatu wilayah baik di pedasaan maupun di perkotaan menampilkan wujud yang rumit, tidak teratur dan dimensi yang
heterogen. Kenampakan wilayah perkotaan jauh lebih rumit dari pada kenampakan daerah pedesaan. Hal ini
disebabkan persil lahan kota pada umumnya sempit, bangunannya padat, dan fungsi bangunannya beraneka. Oleh
karena itu sistem penginderaan jauh yang diperlukan untuk penyusunan tata ruang harus disesuaikan dengan
resolusi spasial yang sepadan. Untuk keperluan perencanan tata ruang detail, maka resolusi spasial yang tinggi akan
mampu menyajikan data spasial secara rinci. Data satelit seperti Landsat TM dan SPOT dapat pula digunakan untuk
keperluan penyusunan tata ruang hingga tingkat kerincian tertentu, misalnya tingkat I (membedakan kota dan bukan
kota). hingga sebagian tingkat II (perumahan, industri, perdagangan, dsb.).

oleh NIM 15413060


sumber: https://docs.google.com/document/d/16nySXlpiyFwYtta9EYdxnaUie16azzrMtkT_6LA-eMU/edit?hl=in
Peranan GIS dalam Perencanaan Kota
29 AGUSTUS 2014 9:59 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

GIS atau Geographic Information System adalah kumpulan yang terorganisir dari hardware, software, informasi
geografis yang dirancang secara efisien untuk memasukkan, menyimpan, merubah, memutakhirkan data-data
berbasis geografis atau data geospasial. GIS sangat berguna untuk mengolah data-data geografis untuk kemudian
dijadikan informasi spasial. GIS dapat diibaratkan sebagai peta digital. Informasi spasial yang telah diolah oleh GIS
dapat dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan atau perencanaan suatu kota.
GIS tentunya memiliki kelebihan dibanding dengan peta manual. Perubahan-perubahan data geografis yang terjadi
dapat digambarkan dengan cepat dalam GIS. Berbeda dengan peta manual yang harus diulang dari awal jika ada
perubahan-perubahan data geografis. Selain itu GIS mempunyai sistem penyimpanan terstruktur sesuai
keinginanuser yang tentunya akan membuat kinerja pengguna lebih efektif dan efisien. Tidak hanya mengolah data
menjadi informasi, GIS juga mampu menganalisa informasi-informasi geografis yang terjadi dalam suatu ruang yang
nantinya akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Fungsi GIS dapat pula sebagai
sarana komunikasi yang efektif, layaknya peta. Maka dari itu, perlu ada nilai-nilai estetika atau sense of art dalam
mengolah data dengan GIS agar output yang dihasilkan akan lebih komunikatif.
Dalam penyusunan rencana tata ruang kota yang melibatkan banyak pihak, data spasial sangatlah dibutuhkan.
Data,mulai dari yang umum hingga spesifik, digunakan untuk memperkirakan kebutuhan ruang jangka panjang.
Untuk memenuhi kebutuhan data tersebut, maka diperlukan data penginderaan jauh dan juga sistem informasi
geografi (Geographic Information System GIS).
Oleh NIM 15413094
Sumber : http://waena-yao.blogspot.com/2013/06/peranan-gis-dalam-perencanaan-kota_11.html
Peran Informasi Geospasial
28 AGUSTUS 2014 6:22 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Informasi geospasial atau yang sering dikenal dengan data spasial adalah data yang yang memiliki referensi ruang
kebumian (georeference) dengan data atribut terletak dalam berbagai unit spasial. Informasi geospasial dapat
meliputi lokasi geografis, dimensi atau ukuran, karakteristik objek baik alam maupun manusia yang berada di
permukaan bumi yang dinyatakan dengan sistem koordinat tertentu. Saat ini, data spasial menjadi media penting
untuk perencanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan pada cakupan wilayah
continental, nasional, regional maupun lokal. Sebelum melakukan pembangunan, tentu pemerintah membutuhkan
data spasial yang akurat agar dapat menentukan arah kebijakan yang sesuai. Untuk mendukung segala aktivitas
yang berhubungan dengan ketersediaan data spasial, DPR RI telah mengesahkan Undang-Undang RI Nomor 4
Tahun 2011 tentang Undang-Undang Informasi Geospasial (UUIG).

Data spasial menjadi satu hal yang fundamental dalam berbagai proses perencanaan. Secara umum, pemerintah
akan mengetahui potensi dari masing-masing wilayah dan kota di Indonesia melalui data tersebut. Data spasial juga
berperan dalam menentukan arah kebijakan yang terkait dengan perencanaan tata ruang, perencanaan lokasi
investasi, pertahanan dan keamanan, optimalisasi objek pariwisata, dan sebagainya. Data spasial juga berperan
dalam meminimalisasi bentuk kekeliruan pada kawasan perizinan atau kawasan-kawasan yang seharusnya
mendapat perlakuan khusus.
Orientasi yang harus menjadi fokus dari adanya data spasial yaitu untuk mendukung pembangunan dari Pekerjaan
Umum (PU) dan mendukung penataan ruang.
1. Pembangunan Terkait PU
Data spasial berfungsi sebagai pengarah dari sistem informasi yang diperlukan. Pengilustrasian mengenai data
geologis seperti penyebaran penduduk, pemilihan lokasi pertanian yang cocok serta pemantauan garis pantai, dan
informasi mengenai fasilitas umum seperti jaringan jalan, serta kawasan perumahan adalah hal-hal yang meliputi
sistem informasi pendukung pembangunan. Selanjutnya, infrastruktur juga memerlukan reformasi geospasial dalam
pengembangannya. Sebagai contoh, pembangunan infrastruktur dalam kelancaran arus barang, pembangunan dan
rehabilitasi jaringan irigasi untuk ketahanan pangan, serta penyediaan infrastruktur atas dasar permukiman dan
sanitasi adalah hal yang terkait dengan reformasi geospasial dalam peningkatan infrastruktur.
2. Penataan Ruang
Disebutkan pada pasal 14 Ayat 5 huruf b pada UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, efektivitas
penerapan rencana tata ruang sangat dipengaruhi tingkat ketelitian atau kedalaman pengaturan dan skala peta
dalam rencana tata ruang. Berdasarkan bunyi ayat tersebut, maka data spasial dan peta menjadi penting karena
berkaitan dengan tingkat akurasi dan presisi. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) informasi geospasial tidak
dapat dipisahkan dengan dokumen rencana tata ruang, karena peta RTRW berfungsi sebagai model yang
menggambarkan rencana tata ruang secara spasial. Masyarakat pun harus mengetahui transparansi dari rencana
tata ruang, sebagaimana dijelaskan pada Pasal 60 UU No. 26 Tahun 2007.
Berdasarkan pemaparan yang telah disampaikan terkait peran dari informasi geospasial / data spasial, maka dalam
segala proses perencanaan, pembuatan kebijakan, atau proses pembangunan harus berdasarkan data spasial yang
akurat.
Oleh NIM 15413090
Sumber : http://bappedajakarta.go.id/?p=1163

Data Spasial dan Pengembangan Jaringan Data Spasial Nasional


28 AGUSTUS 2014 4:21 AM / TINGGALKAN KOMENTAR

Data seringkali menjadi hal krusial dalam menjalankan suatu proses perencanaan dan perancangan. Data menjadi
pondasi agar segala yang direncanakan tidak asal-asalan dan bukan hanya berlandaskan pada asumsi. Salah satu

data penting yang banyak dibutuhkan saat ini adalah data spasial. Pemanfaatan data spasial dewasa ini menjadi hal
yang penting contohnya dalam proses perencanaan dan pembangunan, tata ruang, manajerial proses tranportasi dan
penataan lingkungan. Data spasial merupakan suatu data yang memiliki acuan data pada posisi, objek, dan
hubungan diantaranya dalam ruang bumi. Data spasial merupakan salah satu item dari informasi, didalamnya
terdapat informasi mengenai bumi termasuk permukaan bumi, dibawah permukaan bumi, perairan, kelautan dan
bawah atmosfir (Rajabidfard dan Williamson, 2000a).
Menurut Rajabidfard dan Wiliamson (2000b), terdapat dua pendorong utama dalam pembangunan data spasial.
Pertama adalah pertumbuhan kebutuhan suatu pemerintahan dan dunia bisnis dalam memperbaiki keputusan yang
berhubungan dengan keruangan dan meningkatkan efisiensi dengan bantuan data spasial. Faktor pendorong kedua
adalah mengoptimalkan anggaran yang ada dengan meningkatkan informasi dan sistem komunikasi secara nyata
dengan membangun teknologi informasi spasial. Berdasarkan dua faktor pendorong itu maka data spasial dipandang
sangat penting di banyak negara baik dari pemerintah atau organisasi dalam membantu proses pembangunan.
Tujuan pemafaatan data spasial itu sendiri adalah membantu pengambilan keputusan berdasarkan kepentingan dan
tujuannya masing-masing, terutama yang berkaitan dengan aspek keruangan. Data spasial yang telah dibangun,
sedang dibangun dan yang akan dibangun perlu diketahui keberadaanya.
Data spasial membantu pembangunan dan sistem perencanaan berjalan efektif dan efisien. Adanya data spasial
yang menyediakan data akurat akan meningkatkan kualitas pembangunan nasional. Selain membantu
merencanakan pembangunan, data spasial juga akan membantu mengurangi risiko bencana yang terjadi di
Indonesia melalui data yang berbasis keruangan ini.
Dipandang memiliki peran penting, maka pemerintah membentuk suatu sistem yang terintegrasi mengenai data
spasial ini, yaitu Jaringan Data Spasial Nasional (JDSN). Jaringan Data Spasial Nasional (JDSN) adalah sistem
pengelolaan data spasial secara bersama, tertib, terukur, berkesinambungan, dan berdaya guna. JDSN, yang terdiri
atas simpul jaringan dan penghubung berfungsi sebagai sarana pertukaran dan penyebarluasan data spasial.
Pelaksanaan JDSN ini juga dipayungi oleh hukum agar data dan informasi spasial bisa betul-betul membuat
penyelenggaraan pemerintahan kita menjadi makin cerdas secara spasial. Selain itu dalam penyelengaraannya
pemerintah juga bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi agar mampu mendukung pilar-pilar JDSN terutama
dalam masalah teknologi dan SDM. JDSN akan sangat bermanfaat baik bagi pemerintah maupun dunia usaha
karena data dan informasi spasial merupakan komoditas yang strategis. Kebutuhan dan manfaat akan data dan
informasi spasial dirasakan oleh seluruh kalangan, baik institusi pemerintah, swasta, perguruan tinggi, maupun
masyarakat umum. Bagi pemerintah, integrasi data spasial akan membantu dalam melakukan analisis, seperti
penanganan bencana, epidemi, maupun peta kemiskinan.
Berdasarkan sumber, ada beberapa kendala yang ditemukan dalam penyelenggaraan JDSN sebagaimana dikutip
dari bahan paparan Direktur Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum pada Rapat Koordinasi Teknis
Sistem Informasi Geografis (Ernawi, 2007), yaitu
1.

ketersedian peta dasar sangat terbatas, khususnya peta dasar untuk perencanaan tata ruang provinsi,
kabupaten, dan kota, terlebih lagi untuk perencanaan yang sifatnya rinci,

2.

infrastruktur pertukaran data spasial,

3.

keterbatasan sumberdaya manusia (pengelola data),

4.

kejelasan mekanisme data sharing.

Sebagai persiapan menuju operasional JDSN pada 2012, berbagai pemangku kepentingan telah menyepakati
beberapa hal antara lain masing-masing instansi menyediakan data sesuai bidangnya, adanya standarisasi data dan
pengolahannya, dan adanya tim teknis dan forum pertemuan untuk membahas berbagai hal terkait JDSN.

Pengembangan JDSN haruslah lebih diintensifkan agar terjalin koordinasi lintas sektor dan lintas instansi yang efektif
dan efisien sehingga dapat mendukung pembangunan nasional secara terintegrasi.
Setelah paparan di atas mengenai data spasial dan sistem Jaringan Data Spasial Nasional (JDSN), hendaknya para
sipil akademia bekerja sama dengan pemerintah dalam menyukseskan program ini. Dangan data yang berbasis
spsialisasi diharapkan mampu mengembangkan proses pembangunan khususnya di Indonesia dan secara bersamasama mampu bermanfaat bagi masyarakat.
Oleh NIM 15413078
sumber: http://www.penataanruang.net/bulletin/index.asp?mod=_fullart&idart=208

Peran Data Spasial dalam Perencanaan


25 AGUSTUS 2014 9:10 PM / TINGGALKAN KOMENTAR

Data spasial adalah data yang diperoleh melalui pengamatan terhadap ruang tempat manusia hidup. Ruang yang
dimaksud tidak terbatas pada pengertian ruang yang selama ini kebanyakan orang pahami sebagai tempat yang
disekat oleh dinding-dinding, tetapi merupakan ruang secara umum, yakni bumi yang kita diami dan keseluruhan
benda dan makhluk hidup di dalamnya.
Dalam setiap rencana tata ruang, data spasial selalu diperlukan. tidak adanya data spasial akan menjadi masalah
dalam perencanaan tersebut, tak terkecuali dalam perencanaan wilayah desa. Data spasial digunakan untuk
memahami aspek keruangan dari sosial dan ekonomi dengan menghubungkan dua bidang tersebut dengan sumber
daya alam dan lingkungan fisik dari desa yang sedang direncanakan. Selain itu, data spasial pun bermanfaat untuk
memetakan sumber daya alam sehingga dapat ditentukan kebijakan yang tepat untuk wilayah tersebut.
GIS (Geographical Information System) adalah perangkat lunak yang berfungsi memetakan, mengolah dan
menganalisis data spasial. Aplikasi dasar dari program GIS adalah pemetaan lahan serta sumber dayanya,
menyatukan pemahaman ruang lokal dengan pengetahuan ruang secara ilmiah, pengelolaan sumber daya alam
berbasiskan penduduk, perencanaan wilayah, serta pengelolaan bencana alam di desa tersebut