Anda di halaman 1dari 10

SEJARAH PERKEMBANGAN SEDIMENTOLOGI

Meskipun sedimentologi merupakan sebuah ilmu yang relatif muda, namun pengetahuan
manusia tentang sedimen telah ada sejak lama. Manusia primitif mengetahui sifat dan kegunaan
batuapi (flint) yang mereka pakai sebagai pisau, mata anak panah, dan mata tombak. Mereka
juga mengetahui kegunaan praktis dari lempung sebagai bahan baku gerabah dan manfaat oker
(ocher) sebagai zat pewarna. Sebagian tata peristilahan lama yang muncul sebelum
berkembangnya ilmu pengetahuanmisalnya cobble, pebble, dan flintmasih tetap digunakan
sampai sekarang.
Tulisan tertua yang mengungkapkan berbagai bentuk spekulasi tentang proses sedimentasi alami
dapat ditemukan dalam karya orang-orang Yunani kuno (Krynine, 1960). Walau demikian,
tulisan-tulisan itu belum bisa dipandang sebagai karya ilmiah.
Pemelajaran batuan sedimen pada mulanya merupakan pemelajaran stratigrafi, berupa penelitian
lapangan yang dilakukan untuk mengetahui geometri umum (ketebalan dan penyebaran) tubuh
sedimen. Salah satu buah pikiran penting dalam per-kembangan stratigrafi dipersembahkan oleh
William Smith (1815), seorang insinyur dan surveyor otodidak, melalui karyanya: peta geologi
Inggris. Peta itu disusun berdasarkan hasil penelitian Smith selama bertahun-tahun dengan
menempuh perjalanan sejauh 11.000 mil. Itulah tulisan pertama yang berhasil merekam
penyebaran dan urut-urutan batuan sedimen di suatu daerah. Sumbangan pemikiran penting dari
Smith adalah penggunaan fosil untuk korelasi. Dari penjelasan di atas kita dapat memaklumi
bahwa sedimentologi berakar pada stratigrafi. Karena itu, tidak mengherankan apabila pada saat
ini kita masih melihat eratnya kaitan antara stratigrafi dan sedimentologi. Para ahli stratigrafi
masa lalu banyak menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam mengembangkan pengetahuan
tentang sedimen. Pemikiran-pemikiran tersebut sebagian diwujudkan dalam bentuk tulisan,
misalnya dalam buku Principles of Stratigraphy karya Grabau (1913) dan Treatise of
Sedimentation karya Twenhofel (1928).
Pemelajaran sedimen sebagai disiplin tersendiri, terpisah dari stratigrafi, dimulai dengan
terbitnya surat terbuka Henry Clifton Sorby (1879) kepada Presiden Geological Society of
London yang berjudul On the structure and origin of limestones. Meskipun ketertarikan Sorby

pada batuan sedimen telah muncul sejak 1850, namun surat tersebut dan makalahnya yang
berjudul On the structure and origin of the non-calcareous stratified rocks (terbit pada 1880)
saja yang dipandang para ahli sebagai dua tonggak penting yang menandai kelahiran
sedimentologi sebagai sebuah disiplin ilmu baru. Sorby memperkenalkan studi sayatan tipis
sebagai salah satu teknik penelitian batuan sedimen. Teknik itu kemudian digunakan sebagai
salah satu teknik paling mendasar dalam penelitian petrologi, baik penelitian petrologi batuan
sedimen, maupun penelitian petrologi batuan beku dan batuan metamorf. Karena itu, Sorby
dipandang sebagai Bapak Petrologi. Pemikiran Sorby jauh melampaui rekan-rekan seangkatannya. Karyanya tentang pemakaian lapisan silang-siur dalam perekonstruksian paleogeografi tidak
banyak dipahami rekan-rekannya dan baru dapat dibuktikan kesahihannya pada pertengahan
abad 20.
Studi sayatan tipis kemudian lebih banyak dikembangkan oleh para ahli petrologi batuan beku,
khususnya para ahli petrologi Jerman seperti Rosenbusch dan Zirkel. Sebaliknya, teknik itu
justru agak diabaikan oleh para ahli yang menggeluti batuan sedimen. Hal itu mungkin terjadi
karena generasi ahli sedimen saat itu lebih terdidik sebagai ahli stratigrafi, bukan ahli petrologi
sedimen atau ahli sedimentologi. Namun, masih ada beberapa orang yang dapat dipandang
sebagai pengecualian, misalnya Lucien Cayeux dari Perancis. Studi sayatan tipis batuan sedimen,
yang pernah ditinggalkan, kini ini kembali mendapat perhatian yang cukup serius dari kalangan
ahli batuan sedimen. Hal ini mungkin berkaitan dengan berkembangnya sedimentologi sebagai
suatu cabang ilmu geologi tersendiri yang telah menghasilkan generasi baru yang benar-benar
ahli dalam sedimentologi.
Pada akhir abad 19 serta awal abad 20, para ahli petrologi sedimen (kecuali Cayeux) lebih
banyak menujukan perhatian mereka pada pemelajaran mineralogi sedimen, khususnya mineral
berat (BJ > 2,85). Studi mineral berat umumnya dilakukan oleh para ahli Eropa. Hasil penelitian
Illing (1916), yang menunjukkan bahwa endapan sedimen dalam cekungan tertentu cenderung
mengandung kumpulan mineral berat tertentu, telah mendorong munculnya apa yang disebut
sebagai korelasi mineral berat (heavy-mineral correlation). Kegunaan mineral berat sebagai
alat korelasi dan penerapannya dalam korelasi bawah permukaan dalam kegiatan eksplorasi
migas telah menambah daya tariknya. Puncak fasa perkembangan studi mineral berat ditandai
dengan terbitnya Principles of Sedimentary Petrography karya Milner (1922). Buku itu pernah

dijadikan rujukan oleh para ahli yang ingin mempelajari mineral detritus dalam pasir. Makin
lama pemelajaran mineral berat makin kurang diminati para ahli sedimen. Hal itu terjadi karena:
(1) timbulnya keraguan akan kesahihan korelasi yang didasarkan pada kehadiran mineral berat
seperti yang diajukan oleh Sidowski dan Weyl; (2) adanya perkembangan baru, yakni pemakaian
mikrofosil dan well logs sebagai alat korelasi bawah permukaan. Agaknya sebab kedua itulah
yang mengakhiri era studi mineral berat.
Pada 1919, thesis master C. K. Wentworth yang berjudul A Field and Laboratory Study of
Cobble Abrasion diterbitkan dalam Journal of Geology. Wentworth, yang pada waktu itu
merupakan mahasiswa pasca sarjana pada University of Iowa, mengembangkan satu ancangan
baru untuk meneliti material sedimen. Dia juga mampu mendefinisikan kebundaran sebagai
suatu sifat fisik partikel sedimen yang dapat diukur. Kuantifikasi sifat itu mampu menggantikan
penilaian subjektif yang sebelum-nya digunakan oleh para ahli sedimentologi dalam menentukan
kebundaran. Lebih jauh lagi, kuantifikasi memicu munculnya data kuantitatif serta
memungkinkan dilakukannya studi laboratorium terhadap proses sedimentasi, misalnya abrasi
kerakal. Dengan demikian, Wentworth membawa sedimentologi untuk memasuki era
pengukuran dan percobaan terkontrol. Benar, bahwa sebelumnya telah ada ahli sedimentologi
yang melakukan berbagai percobaan, misalnya saja analisis besar butir yang dilakukan oleh
Daubree, namun penelitian-penelitian itu tidak memberikan pengaruh yang berarti pada
pemikiran para ahli sedimentologi saat itu sehingga mereka umumnya masih tetap melakukan
penelitian secara kualitatif dan agak subjektif.
Makalah pertama karya Wentworth itu kemudian disusul oleh sejumlah makalah lain yang
menunjukkan kepada semua pihak betapa bergunanya metoda tersebut dalam penelitian sedimen.
Selama dua dasawarsa berikutnya, metoda kuantatif diterapkan oleh banyak ahli sedimentologi
terhadap sifat-sifat sedimen yang lain. Ledakan data kuantitatif itu pada gilirannya menimbulkan
kebutuhan para ahli akan adanya metoda-metoda yang memungkinkan mereka dapat mengambil
intisari yang terkandung didalamnya untuk menghasilkan butir-butir pengetahuan baru. Metoda
yang dibutuhkan itu telah tersedia, yakni metoda statistika yang pada waktu itu masih terus
dikembangkan oleh banyak ahli statistika dan matematika.

Meskipun metoda pengukuran besar butir sedimen klastika (analisis mekanik) sudah
digunakan secara luas dalam disiplin ilmu lain, khususnya ilmu tanah, namun metoda itu baru
dikembangkan untuk pemelajaran sedimen pada akhir abad 19. Masuknya metoda itu ditandai
dengan terbitnya karya tulis Udden (1899, 1914). Kedua karya tulis Udden itu termasuk tulisan
pertama yang mencoba menjelaskan sejarah endapan sedimen berdasarkan hasil analisis besar
butir (untuk mengetahui sejarah perkembangan penelitian besar butir, lihat karya tulis Krumbein,
1932). Metoda analisis dan penerapan teknik-teknik statistika untuk analisis besar butir
kemudian disempurnakan dan dikembangkan lebih jauh oleh Krumbein dan ahli-ahli lain.
Lahirnya geokimia sebagai cabang ilmu geologi baru menyebabkan munculnya metoda dan data
observasi baru mengenai berbagai hal yang banyak menarik perhatian para ahli sedimentologi.
Sebagian besar penelitian geokimia pada mulanya diarahkan pada penelitian kuantitatif untuk
mengetahui penyebaran unsur-unsur kimia di alam, termasuk penyebarannya dalam batuan
sedimen. Lambat laun data tersebut menuntun para ahli untuk memahami apa yang disebut
sebagai siklus geokimia (geochemical cycle) serta penemuan hukum-hukum yang mengontrol
penyebaran unsur dan proses-proses yang menyebabkan timbulnya pola penyebaran unsur seperti
itu.
Baru-baru ini, kimia nuklir (nuclear chemistry) menyumbangkan sebuah jam dan
termometer yang pada gilirannya membuka era penelitian baru terhadap sedimen. Unsur-unsur
radioaktif, khususnya 14C dan 40K, memungkinkan dilakukannya metoda penanggalan langsung
terhadap batuan sedimen tertentu. Metoda 14C, yang dikembangkan oleh Libby, dapat diterapkan
pada endapan resen. Metoda 40K/40Ar terbukti dapat diterapkan pada glaukonit, felspar autigen,
mineral lempung, dan silvit yang ditemukan dalam endapan tua. Analisis isotop dapat digunakan
untuk menentukan temperatur purba. Metoda Ureyberdasar-kan nisbah 16O/18O yang
merupakan fungsi dari temperaturdapat dipakai untuk menaksir temperatur pembentukan
cangkang fosil yang ada dalam endapan bahari. Meskipun jam dan termometer tersebut
masih memperlihatkan kekeliruan, namun harus diakui bahwa keduanya telah memberikan
kontribusi yang berarti terhadap pemelajaran sedimen.
Vant Hoff adalah orang pertama yang memanfaatkan azas fasa untuk mempelajari kristalisasi
larutan garam dan pem-bentukan endapan garam. Mulanya penelitian eksperimental terhadap

campuran yang dapat menghasilkan kristal, terutama sistem silikat temperatur tinggi, dilakukan
oleh para ahli petrologi batuan beku dan metamorf. Baru pada beberapa dasawarsa terakhir ini
saja hal itu menarik perhatian para ahli sedimen. Sebagai contoh, Milton & Eugster (1959)
memakai ancangan itu untuk meneliti endapan non-marin dan mineral-mineral yang mencirikan
Green River Formation di Wyoming dan Colorado. Zen (1959) menunjukkan bahwa azas fasa
yang dikemukakan oleh Gibbs dapat diterapkan untuk menganalisis hubungan antara mineral
lempung dan mineral karbonat. Hasil penelitian Zen kemudian diterapkan oleh Peterson (1962)
terhadap larutan karbonat di bagian timur Tennessee. Perkembangan metoda yang relatif baru itu
dapat dibaca dalam karya tulis Eugster (1971).
Berbagai kajian teoritis dan eksperimental tentang stabilitas mineral pada berbagai kondisi
oksidasi-reduksi (Eh) dan pH dilakukan oleh Garrels dan beberapa ahli lain (lihat Garrels &
Christ, 1965). Penelitian aspek-aspek geokimia sedimen banyak menambah pengertian kita
tentang endapan sedimen. Buku-buku yang membahas tentang topik-topik geokimia sedimen
antara lain adalah Geochemistry of Sediments karya Degens (1965) dan Principles of Chemical
Sedimentology karya Berner (1971).
Penelitian sedimen resen merupakan hal esensil untuk memahami sedimen purba. Hal itu pada
hakekatnya merupakan konsekuensi logis dari teori uniformitarisme yagn dikemukakan oleh
James Hutton. Dengan pengecualian untuk Walther, Thoulet, dan beberapa ahli lain, para ahli
sedimen hingga beberapa tahun terakhir umumnya masih mengabaikan aspek ini. Pengetahuan
kita tentang sedimen resen, khususnya sedimen bahari, sebagian besar diperoleh dari hasil-hasil
penelitian oseanografi. Penelitian oseanografi pertama, dan mungkin yang paling terkenal,
adalah Ekspedisi Challenger. Terbitnya laporan Ekspedisi Challenger pada 1891 menandai
berdirinya oseanografi sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri. Laporan itu antara lain berisi data
tentang penyebaran dan sifat sedimen bahari, khususnya sedimen yang ada di dasar laut-dalam.
Ekspedisi-ekspedisi lain yang dilaksanakan dengan memakai kapal peneliti Gazelle, Meteor,
Blake, dan lain-lain makin menambah data dan pengetahuan kita mengenai sedimen bahari.
Selama beberapa tahun terakhir makin banyak ahli geologi yang berpendapat bahwa penelitian
sedimen resen banyak membantu perkembangan sedimentologi. Stetson (dari Woods Hole) dan
Shepard (dari Scripps) adalah dua ilmuwan yang banyak memberikan sumbangan pemikiran dan
membangkitkan kembali ketertarikan orang terhadap endapan bahari. Sedimen delta dan litoral

juga dipelajari secara intensif pada beberapa dasawarsa terakhir, khususnya oleh Fisk (di
Amerika Serikat), van Straaten dkk (di Belanda), serta oleh suatu kelompok studi di
Senckenberg. Recent Marine Sediments yang disunting oleh Parker Traks (1939) merupakan
salah satu bukti makin tingginya ketertarikan para ahli geologi terhadap sedimen resen. Proyek
penelitian American Association of Petroleum Geologists di Teluk Mexico, berbagai penelitian
van Straaten pada beberapa dataran pasut di Belanda, penelitian-penelitian van Andel di Sungai
Rhine dan Orinoco, penelitian-penelitian Kruit & van Andel pada delta Rhone, serta penelitian
Ginsburg pada endapan karbonat di Bahama dan Florida adalah beberapa contoh yang
menunjukkan kecenderungan para ahli untuk mempelajari sedimen resen.
Dengan beberapa pengecualian, penelitian sedimen modern sering dilakukan tanpa mengacu
pada rekaman geologi sehingga penelitian-penelitian itu gagal dalam mendapatkan informasi
yang diperlukan untuk memahami rekaman geologi yang biasa dihadapi oleh para ahli geologi
lapangan. Kegagalan itu terutama disebabkan karena sampel umumnya diambil dari bidang batas
sedimen-fluida serta hanya aspek-aspek mineralogi dan tekstur saja yang dipelajari. Penelitianpeneliitan sedimen Holosen yang lebih berguna haruslah bersifat tiga dimensi, meliputi
pengeboran yang memungkinkan diketahuinya geometri tiga dimensi dari endapan, urutan
vertikal lapisan-lapisannya, serta struktur sedimen yang ada didalamnya.
Ancangan tiga dimensional untuk mempelajari sedimen resen mendorong orang untuk meninjau
lebih jauh geometri dan penampang vertikal sedimen, baik sedimen resen maupun sedimen
purba. Bentuk dan dimensi endapan pasir merupakan salah satu hal yang banyak menarik
perhatian para ahli dan telah dijadikan tema simposium pada 1960 (Peterson & Osmond, 1961).
Demikian pula dengan morfologi terumbu modern dan purba (lihat, misalnya, Reef Issue pada
Bullentin AAPG vol. 34, no. 2).
Secara historis, stratigrafi adalah ilmu deskriptif dan tidak banyak memberi perhatian pada
genesis paket stratigrafi. Hukum Fasies Walther menyatakan bahwa pada tempat dimana tidak
ada rumpang waktu, maka sedimen-sedimen yang bersebelahan secara lateral akan terlihat
bertumpuk satu di atas yang lain dalam penampang vertikal. Sebagai hasil studi sedimen resen,
konsep ini digunakan untuk merekonstruksikan model fasies yang berkaitan erat dengan prosesproses sedimentasi, misalnya transgresi dan regresi. Hukum itu memungkinkan para ahli untuk

memahami mekanisme pembentukannya. Konsep model fasies mungkin merupakan satu-satunya


kemajuan penting dalam analisis sedimen dalam beberapa dasawarsa terakhir. Tulisan pertama
yang mengungkapkan arti penting penampang vertikal dalam perekonstruksian lingkungan
disusun oleh Visher (1965), sedangkan penjelasan yang lebih elementer disusun oleh Selley
(1970). Contoh yang sangat baik mengenai ancangan ini dalam stratigrafi dapat dilihat dalam
makalah yang disusun oleh de Raaf dkk (1965) serta Allen (1962).
Penelitian-penelitian terhadap paket vertikal tidak hanya menyangkut litologi dan fosil, namun
juga struktur sedimen. Kecenderungan orang untuk mempelajari struktur sedimen menyebabkan
munculnya sejumlah makalah yang membahas tentang genesis struktur sedimen,
penggolongannya, serta penggunaannya dalam menentukan lingkungan dan arus purba.
Penelitian struktur sedimen tidak hanya menarik karena dapat digunakan dalam analisis
lingkungan pengendapan, namun juga dapat digunakan sebagai penunjuk sistem arus pada
lingkungan tempat pengakumulasiannya. Sistem arus purba dapat direkonstruksikan dengan cara
mengukur dan memetakan struktur arus, sebagaimana pernah dilakukan oleh Sorby satu abad
yang lalu. Meskipun struktur arus telah diketahui sejak lama, namun pengukuran arah arus dari
struktur tersebut merupakan hal baru. Hasil-hasil penelitian arus purba yang terpadu mulai
dilakukan sejak dirintis oleh Hans Cloos dan murid-muridnya pada 1938. Sejak 1950, penelitian
tersebut menduduki tempat tertentu dalam kerangka penelitian sedimen secara keseluruhan.
Kecenderungan untuk mempelajari struktur sedimen mendorong para ahli untuk memahami cara
pembentukannya. Karena banyak diantara struktur sedimen itu terbentuk oleh arus, maka studi
hidrodinamika proses pembentukan sedimen dan struktur sedimen kemudian mendapat perhatian
khusus. Hal inilah yang mendorong terbitnya Primary Sedimentary Structures and Their
Hydrodynamic Interpretation (disunting oleh Middleton, 1965) serta sejumlah makalah penting
yang disusun oleh Allen (1969, 1970, 1971) dan beberapa ahli lain.
Ketertarikan pada geometri, urut-urutan vertikal, dan struktur sedimen menyebabkan terjadinya
perubahan besar dalam penelitian sedimen, yakni penekanan kembali pentingnya studi
mineralogi dan tekstur sedimen serta pengembangan studi struktur sedimen, geometri, dan uruturutan vertikal. Penelitian sedimen yang dipandang sebagai bentuk fusi dari stratigrafi dan

petrologi sedimen ini disebut sedimentologi (Doeglas, 1951). Bentuk studi yang baru ini pada
gilirannya telah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya studi lapangan yang selama ini
kurang diperhatikan.
Lahirnya sedimentologi telah menyebabkan bertambah luasnya ruang lingkup studi sedimen: dari
hanya sekedar studi lingkungan pengendapan menjadi studi cekungan. Analisis cekungan
mengaitkan tektonik dan sedimentasi. Studi sedimentasi sekarang meliputi studi sistem arus
purba, pemetaan fasies, dan perekonstruksian paleogeografi. Konsep-konsep yang dikembangkan menekankan bahwa sistem penyebaran klastika menyebabkan terbentuknya sifatsifat skalar dan vektoral yang dapat digunakan untuk merekonstruksikan konfigurasi cekungan,
kondisi-kondisi sedimentasi, dan paleogeografi. Jadi, konsep itu menyatukan seluruh metoda dan
konsep petrologi sedimen lama dengan hasil-hasil studi modern untuk memformulasikan modelmodel cekungan. Adanya model-model cekungan memungkinkan diperolehnya pemahaman
yang lebih baik mengenai pengisian cekungan sedimen dan memungkinkan para ahli untuk
membuat berbagai prediksi tentang penyebaran dan karakter sedimen, meskipun sedimen itu
tidak terlihat secara langsung.
Bersamaan dengan perkembangan analisis arus purba, selama beberapa dasawarsa terakhir
(terutama sejak akhir Perang Dunia II) terjadi juga perkembangan yang pesat dalam kuantifikasi
dan pemetaan fasies. Adanya hubungan yang erat antara fasies dengan keberadaan migas telah
menjadi pemicu pengembangan lebih lanjut konsep fasies. Suatu simposium yang disponsori
oleh Geological Society of America pada 1948 merupakan salah satu bukti betapa tingginya
ketertarikan para ahli pada studi fasies. Atlas sinoptik yang berisi peta-peta fasies Fanerozoikum
di Amerika Serikat disusun oleh Sloss dkk (1960).
Studi cekungan sedimen, pengamatan isi dan perekonstruksian sejarahnya, telah membawa para
ahli untuk sampai pada masalah evolusi benua. Hubungan antara sedimentasi dan tektonik,
antara kraton dan geosinklin, serta antara sedimentasi dengan tektonik lempeng, telah menjadi
masalah-masalah besar yang menarik perhatian para ahli. Ketertarikan akan kaitan antara
sedimentasi dengan tektonik sebenarnya telah ada sejak lama, misalnya saja hal ini pernah
menjadi topik bahasan Bertrand (1897) dan Tarcier (1937). Namun, orang baru tertarik kembali
pada masalah tersebut setelah terbit karya-karya Krynine (1942, 1951), Pettijohn (1943), Ronov

dkk (1969), serta Garrels & MacKenzie (1971). Studi ini sangat besar pengaruh-nya terhadap
pengetahuan tentang cekungan dan sejarah bumi. Masalah ini sebenarnya bukan merupakan
tugas sedimentologi saja, namun semua cabang ilmu geologi. Walau demikian, dalam kaitannya
dengan hal ini, sedimentologi memegang peranan penting karena merupakan ilmu yang dapat
mengungkapkan rekaman peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu.
Dari seluruh penjelasan di atas dapat dilihat bahwa sedimentologi telah melalui empat tahap
perkembangannya, yaitu:
1. Tahap studi endapan sedimen sebagai satuan stratigrafi.
2. Pengumpulan data batuan sedimen dan pemformulasian tafsiran-tafsiran tentatif.
3. Lahirnya petrografi sedimen sebagai disiplin ilmu baru, dengan penekanan pada studi
sayatan tipis sedimen purba dan analisis laboratorium mengenai tekstur dan mineralogi
sedimen lepas.
4. Studi tiga dimensi sedimen dan batuan sedimen serta analisis lingkungan berdasarkan
geometri, penampang vertikal, dan struktur sedimen. Perkembangan ini meliputi studi
lapangan dan laboratorium sehingga lebih tepat disebut sedimentologi.
Perkembangan sedimentologi sebagai cabang ilmu geologi ditunjang dengan lahirnya sejumlah
perhimpunan profesional, didirikannya bagian sedimentologi pada lembaga-lembaga pemerintah,
berkembangnya industri migas, serta terbitnya jurnal-jurnal profesional. Pada 1920, National
Research Council membentuk Committee on Sedimentation yang pertama kali dipimpin oleh W.
H. Twenhofel. Komite itu menangani penyusunan dan penerbitan Treatise on Sedimentation
(1928, 1932), Recent Marine Sediments (1939), dan Applied Sedimentation (1950). Society of
Economic Paleontologists and Mineralogists yang didirikan sebagai bagian dari American
Association of Petroleum Geologists pada 1927 merupakan perhimpunan utama bagi para ahli
stratigrafi (ahli mikropaleontologi) dan ahli sedimentololgi Amerika Serikat. Journal of
Sedimentary Petrology yang diterbitkan sejak 1930 merupakan terbitan berkala dari
perhimpunan tersebut. International Association of Sedimentologists didirikan pada 1946.
Perhimpunan itu menerbitkan terbitan berkala yang diberi nama Sedimentology. Jurnal lain yang

khusus menampilkan makalah-makalah sedimentologi adalah Sedimentary Geology yang


pertama kali terbit pada 1967.
1.3 NILAI EKONOMIS DARI SEDIMEN
Menurut data statistik yang ada saat ini, sekitar 8590% produk mineral tahunan berasal dari
mineral sedimenter dan endapan bijih (Goldschmidt, 1937). Kenyataan itu sudah cukup
menjadi alasan untuk mempelajari sedimentologi.
Sedimen memiliki nilai ekonomis karena beberapa hal:
1. Merupakan wadah tempat dimana bahan bakar fosil (migas) serta air terkandung.
2. Merupakan material bahan bakar, misalnya batubara dan serpih minyak (oil shale).
3. Merupakan material baku industri keramik, semen portland, serta bahan bangunan.
4. Material tempat dimana mineral logam dan non-logam terakumulasi.
Selain karena materialnya yang memiliki keempat peran di atas, sedimentologi perlu dipahami
karena pemahaman tentang proses-proses pembentukan, pergerakan, dan pengendapan sedimen
sangat penting artinya dalam dunia rekayasa dan geomorfologi, terutama untuk memahami dan
mengantisipasi fenomena erosi pantai, pembuatan pelabuhan, manajemen dataran banjir, dan
erosi tanah. Jadi, tidak salah bila dikatakan bahwa untuk menjadi ahli geologi-ekonomi,
seseorang pertama-tama harus menjadi ahli sedimentologi.

Anda mungkin juga menyukai