Anda di halaman 1dari 36

KARYA TULIS ILMIAH

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP PEREMPUAN


Diajukan Sebagai Tugas Praktek Asistensi Pengantar Ilmu Komputer
Semester Satu Tahun Ajaran 2016

YULIANA JAO
H 111 16 013 (PIK-0129)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


JURUSAN MATEMATIKA
PROGRAM STUDI MATEMATIKA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

KARYA TULIS ILMIAH

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP PEREMPUAN


Diajukan Sebagai Tugas Praktek Asistensi Pengantar Ilmu Komputer
Semester Satu Tahun Ajaran 2016

YULIANA JAO
H 111 16 013 (PIK-0129)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


JURUSAN MATEMATIKA
PROGRAM STUDI MATEMATIKA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
2

LEMBAR PENGESAHAN
Karya Ilmiah yang berjudul Kekerasan dalam Rumah Tangga terhadap
Perempuan telah disahkan dan disetujui pada :
Hari

Tanggal

Disetujui oleh :

Pembimbing I

Pembimbing II

RAHMAWATI SUCIYATI, S.

MUSLIH ZAENAL, S. Si

Pd
NIP. 187625648 0098712 6
NIP. 1429987623 897768 8 999

013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya sehingga makalah dengan judul kekerasan dalam rumah tangga
terhadap perempuan ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis berterima kasih
juga kepada Kak Nirmasalasari selaku asisten lab Pengantar Ilmu Komputer yang
memberikan tugas ini sebagai tugas asistensi lab Pengantar Ilmu Komputer dan
juga kepada Kak Irwan Budiansyah yang telah membimbing penulis dalam
menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
Penulis sangat mengharapkan makalah ini dapat berguna dalam menambah
wawasan dan pengetahuan kita mengenai dampak yang ditimbulkan dari
kekerasan rumah tangga terhadap perempuan, dan juga cara yang dapat dilakukan
untuk meminimalkan atau mengurangi kasus-kasus kekerasan rumah tangga yang
marak terjadi.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih terdapat
kekurangan dan kelemahan serta keterbatasan pengetahuan, sehingga kritik dan
saran dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Harapan
penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Makassar, September 2016

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN.....................................................................................ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iv
DAFTAR TABEL....................................................................................................v
BAB 1 : PENDAHULUAN.....................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................3
C. Tujuan.............................................................................................................3
D. Manfaat..........................................................................................................4
BAB II : LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR....................................5
A. Landasan Teori............................................................................................5
A.1. Definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga menurut para ahli.........5
A. 2. Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga.......................6
A.3. Undang-undang Mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga......10
A.4. Contoh kasus kekerasan dalam rumah tangga ...........................12
B. Kerangka Pikir..........................................................................................15
BAB III : METODE PENULISAN.......................................................................16
A. Jenis Penelitian..........................................................................................16
B. Populasi......................................................................................................17
C. Instrumen Penelitian.................................................................................17

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.....................................20


A. Hasil Penelitian..........................................................................................20
A.1. Hal yang melatarbelakangi kekerasan dalam rumah tangga terhadap
perempuan................................................................................. 20
A.2. Dampak yang dirasakan korban dari kekerasan yang dialaminya.......20
A.3. Cara menyelesaikan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh
perempuan................................................................................. 21
B. Pembahasan...............................................................................................22
B.1. Hal yang melatarbelakangi kekerasan dalam rumah tangga terhadap
perempuan................................................................................. 22
B.2. Dampak yang dirasakan korban dari kekerasan yang dialaminya.......24
B.3. Cara menyelesaikan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh
perempuan................................................................................. 25
BAB V : PENUTUP...............................................................................................27
A. Simpulan.......................................................................................................27
B. Saran.............................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................29

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Ria usai melaporkan kasus KDRT yang dialaminya ke Polda Jambi .....................
8
Gambar 2.2 Sepriana membelakangi kamera saat mengadu ke Polresta Palembang..................
9
Gambar 2.3 Kerangka Pikir Makalah..........................................................................................
10
Gambar 4.1 Diagram persentase faktor yang melatarbelakangi kekerasan Rumah tangga.........
13

DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Dampak yang akan dialami korban...................................................................
12

BAB I
PENDAHULUAN
8

A. Latar Belakang
Setiap manusia dilahirkan dengan ciri khas masing-masing, untuk itulah
sifat manusia juga berbeda-beda. Perbedaan ini juga terkait dengan interaksi sosial
yang dilakukan oleh manusia. Interaksi sosial sendiri dikategorikan menjadi dua
jenis, yaitu interaksi sosial secara langsung dan interaksi sosial secara tidak
langsung. Interaksi sosial secara langsung dapat dilakukan oleh individu dengan
individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok maupun dengan
menggunakan perantara alat komunikasi. Sedangkan yang dimaksud dengan
interaksi sosial secara tidak langsung adalah interaksi yang dilakukan melalui
pihak perantara atau media lain secara tidak langsung, misalnya menyampaikan
kabar melalui surat.
Manusia tidak dapat hidup sendiri, oleh sebab itulah ia melakukan
interaksi dengan sesamanya. Namun dalam pelaksanaannya interaksi yang
dilakukan oleh manusia tidak selamanya akan berjalan mulus. Kadang terjadi
konflik atau masalah-masalah yang tidak diharapkan oleh manusia. Dalam
menyelesaikan suatu konflik tersebut sudah tentu dibutuhkan solusi atau jalan
keluar yang disepakati bersama-sama oleh kedua pihak. Cara penyampaian solusi
tersebut dapat dicapai jika ada komunikasi antar mereka. Namun terkadang dalam
menyampaikan solusi tidak semua dapat diselesaikan dengan cara yang positif.
Ada yang berbentuk negatif namun tidak dapat juga menyelesaikan masalah,
contohnya kekerasan dengan melakukan kekerasan.

Kekerasan sendiri terbagi menjadi berbagai jenis, baik secara fisik maupun
psikis. Kekerasan sering dinilai sebagai jalan keluar dari suatu masalah namun
pada kenyataannya kekerasan justru akan mendatangkan kerugian bagi kedua
pihak yang bertengkar. Kekerasan dapat terjadi pada berbagai kalangan, seperti
pada para wakil rakyat, para pelajar, dan juga pada perempuan. Kekerasan yang
dialami oleh perempuan sering kali didapatkannya dalam kehidupan berumah
tangganya. Kekerasan tersebut kemudian lebih dikenal dengan kekerasan dalam
rumah tangga. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, salah satunya karena
kedudukan laki-laki yang dinilai lebih tinggi dari kedudukan perempuan.
Apapun bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan, semuanya
memberi dampak negatif bagi dirinya. Dampak negatif tersebut adalah
mempengaruhi mereka secara fisik maupun psikologis. Para korban bisa saja
merasa diasingkan dari lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat.
Bahkan ada juga korban yang mencoba untuk bunuh diri karena sudah tidak tahan
lagi mengalami kekerasan.

10

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang penulis ajukan dalam penulisan makalah,
maka terdapat beberapa rumusan masalah yang selanjutnya akan dibahas lebih
lanjut dalam makalah ini, yaitu :
1. Apa yang melatarbelakangi kekerasan rumah tangga terhadap wanita?
2. Apa dampak yang dirasakan dari kasus kekerasan ini?
3. Bagaimana cara menyelesaikan masalah kekerasan rumah tangga terhadap
wanita?

C. Tujuan
Kekerasan rumah tangga yang marak terjadi menarik perhatian berbagai
pihak untuk terlibat dalam mengurangi kasus-kasus kekerasan rumah tangga.
Sering kali jalan keluar yang diambil oleh pihak keamanan tidak membuat jera
para pelaku sehingga penulis mengangkat masalah ini dengan tujuan:
1. Mengidentifikasi penyebab kekerasan rumah tangga terhadap perempuan
2. Mengetahui dampak dari kekerasan rumah tangga terhadap perempuan.
3. Memberikan solusi untuk mengurangi persentase kekerasan rumah tangga
terhadap perempuan dari tahun ke tahun
4. Meminimalkan kasus kekerasan rumah tangga terhadap perempuan.

D. Manfaat
Dari tujuan yang dituliskan oleh penulis, makalah ini juga dibuat dengan
manfaat sebagai berikut :

11

1. Dapat menjadi sumber referensi bagi penulisan makalah selanjutnya dengan


tema yang sama.
2. Dapat menjadi sumber referensi dalam mencari solusi terbaik dalam kasuskasus kekerasan dalam rumah tangga yang dialami perempuan-perempuan
Indonesia.

BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

12

A. Landasan Teori
A.1. Definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga menurut pendapat para ahli.
Pengertian Kekerasan adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun
integritas keutuhan mental psikologi seseorang. Kekerasan rumah tangga
terkhususnya terhadap istri sering kita jumpai bahkan dalam jumlah yang tidak
sedikit. Dari banyaknya kekerasan yang terjadi, hanya sedikit yang dapat
diselesaikan secara adil. Hal ini karena dalam masyarakat masih berkembang
pandangan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tetap menjadi rahasia atau aib
rumah tangga yang sangat tidak pantas jika diangkat dalam permukaan atau tidak
layak dikonsumsi oleh publik.
Menurut Salim dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia 1991 (Salim, 1991)
istilah kekerasan berasal dari kata keras yang berarti kuat, padat dan tidak
mudah hancur, sedangkan bila diberi imbuhan ke maka akan menjadi kata
kekerasan yang berarti: (1) perihal/sifat keras, (2) paksaan, dan (3) suatu
perbuatan yang menimbulkan kerusakan fisik atau non fisik/psikis pada orang
lain.
Menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), Pengertian KDRT (Kekerasan dalam
Rumah Tangga) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan
yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara seksual, fisik,
psikologi atau penelantaran rumah tangga termasuk juga hal-hal yang
mengakibatkan pada ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya
kemampuan untuk bertidak, rasa tidak percaya atau penderitaan psikis berat pada
seseorang.

13

Kekerasan terhadap perempuan telah menjadi isu global dan merupakan


pelanggaran hak asasi manusia, hal ini terdapat di dalam Pasal 1 Deklarasi
Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan Perserikatan
Bangsa-Bangsa, 1993 yang berbunyi: "Setiap tindakan berdasarkan perbedaan
jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau
penderitaan perempuan secara fisik, seksual, dan psikologis, termasuk ancaman
tindakan tertentu, pemaksaan, perampasan kemerdekaan secara sewenangwenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi".
Secara kesimpulan menurut penulis kekerasan dalam rumah tangga
terhadap perempuan adalah semua tindakan yang mengakibatkan penderitaan
secara fisik maupun mental yang diperoleh perempuan dalam interaksinya di
dalam keluarga.
A. 2. Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Menurut undang-undang tentang kekerasan dalam rumah tangga,
kekerasan dalam rumah tangga terbagi menjadi empat, yaitu kekerasan secara
fisik, kekerasan secara psikis, kekerasan seksual, dan kekerasan ekonomi.
a. Kekerasan fisik
Kekerasan secara fisik terbagi lagi menjadi dua yaitu, kekerasan fisik
ringan dan kekerasan fisik berat. Kekerasan Fisik Ringan, berupa menampar,
menjambak, mendorong, dan perbuatan lainnya yang mengakibatkan cedera
ringan, rasa sakit dan luka fisik yang tidak masuk dalam kategori berat, dan
melakukan repitisi kekerasan fisik ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis
kekerasan berat. Sedangkan yang termasuk dalam kekerasan fisik secara berat
adalah kekerasan yang mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :

14

1. Tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari


2. Pingsan
3. Luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit disembuhkan atau yang
menimbulkan bahaya mati
4. Kehilangan salah satu panca indera.
5. Mendapat cacat.
6. Menderita sakit lumpuh.
7. Terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih
8. Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan
9. Kematian korban.

b. Kekerasan psikis
Sama halnya dengan kekerasan fisik, kekerasan secara psikis juga ada
yang tergolong kasus berat dan juga ringan. Kekerasan Psikis Berat, berupa
tindakan pengendalian, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan
penghinaan, dalam bentuk pelarangan, pemaksaan dan isolasi sosial; tindakan
dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina; penguntitan; kekerasan dan
atau ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis; yang masing-masingnya

15

bisa mengakibatkan penderitaan psikis berat berupa salah satu atau beberapa hal
berikut.
1. Gangguan tidur atau gangguan makan atau ketergantungan obat atau
disfungsi seksual yang salah satu atau kesemuanya berat dan atau
menahun.
2. Gangguan stres pasca trauma.
3. Gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa
indikasi medis).
4. Depresi berat atau destruksi diri.
5. Gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan realitas seperti
skizofrenia dan atau bentuk psikotik lainnya.
6. Bunuh diri.
Kekerasan Psikis Ringan, berupa tindakan pengendalian, manipulasi,
eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam bentuk
pelarangan, pemaksaan, dan isolasi sosial; tindakan dan atau ucapan yang
merendahkan atau menghina; penguntitan; ancaman kekerasan fisik, seksual dan
ekonomis;yang masing-masingnya bisa mengakibatkan penderitaan psikis
ringan, berupa salah satu atau beberapa hal di bawah ini:
1. Ketakutan dan perasaan terteror
2. Rasa tidak berdaya, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk
bertindak
3. Gangguan tidur atau gangguan makan atau disfungsi seksual
4. Gangguan fungsi tubuh ringan (misalnya, sakit kepala, gangguan pencernaan
tanpa indikasi medis)
5. Fobia atau depresi temporer

c. Kekerasan seksual
Ada berbagai jenis kekerasan seksual yang umum terjadi, kekerasan
seksual berat, berupa:

16

1.

Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ


seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang

menimbulkan rasa muak/jijik, terteror, terhina dan merasa dikendalikan.


2.
Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat
3.

korban tidak menghendaki.


Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan

atau menyakitkan.
4.
Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran
5.

dan atau tujuan tertentu.


Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi

6.

ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi.


Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat
yang menimbulkan sakit, luka,atau cedera.
Kekerasan Seksual Ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal seperti
komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan dan atau secara
non verbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya
yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat
melecehkan dan atau menghina korban. Melakukan repitisi kekerasan seksual
ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat.

d. Kekerasan ekonomi
Kekerasan Ekonomi Berat, yakni tindakan eksploitasi, manipulasi dan
pengendalian lewat sarana ekonomi berupa:
1. Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran.
2. Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya.
3. Mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas
dan atau memanipulasi harta benda korban.

17

Kekerasan ekonomi ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang


menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak
terpenuhi kebutuhan dasarnya.
A.3. Undang-undang Mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan yang semakin marak terjadi mengundang perhatian beebagai
pihak. Segala usaha dilakukan untuk mengurangi persentase kasus yang terjadi.
Salah satunya dengan adanya undang-undang tentang sanksi yang akan diberikan
dan juga perlindungan terhadap korban. Berdasarkan UU ini, korban berhak
mendapatkan (pasal 10):
a. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat,
lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan
penetapan perintah perlindungan dari pengadilan
b. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis
c. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban
d. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat
proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
Sedangkan ketentuan pidana penjara atau denda bagi pelaku diatur dalam
Bab VIII mulai dari pasal 44 pasal 53. Lama waktu penjara dan juga besarnya
denda berbeda-beda sesuai dengan tindak kekerasan yang dilakukan. Dalam
proses

pengesahan

UU

ini,

bab

mengenai

ketentuan

pidana

sempat

dipermasalahkan karena tidak menentukan batas hukuman minimal, melainkan


hanya mengatur batas hukuman maksimal. Sehingga dikhawatirkan seorang
pelaku dapat hanya dikenai hukuman percobaansaja.
Meskipun demikian, ada dua pasal yang mengatur mengenai hukuman
minimal dan maksimal yakni pasal 47 dan pasal 48. Kedua pasal tersebut
mengatur mengenai kekerasan seksual. Pasal 47: Setiap orang yang memaksa

18

orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual


sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 4 tahun dan pidana penjara paling lama 15 tahun atau denda paling
sedikit Rp 12.000.000 atau denda paling banyak Rp 300.000.000
Pasal 48: Dalam hal perbuatan kekerasan seksual yang mengakibatkan
korban mendapatkan luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali,
mengalami gangguan daya pikir atau kejiwaan sekurang-kurangnya selama 4
minggu terus menerus atau 1 tahun tidak berturut-turut, gugur atau matinya janin
dalam kandungan, atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan pidana penjara paling
lama 20 tahun atau denda paling sedikit Rp 25.000.000 dan denda paling banyak
Rp 500.000.000

A.4. Contoh kasus kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan


a. Kasus pertama Selain Dianiaya, Korban KDRT Petojo Tak Dinafkahi
Remaja 16 tahun, FR diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah
tangga (KDRT) yang dilakukan suami sirinya, Kurnia Ramadhani (21). FR juga
diketahui tak pernah dinafkahi Kurnia selama 11 bulan. Hal itu diungkapkan FR
ketika ditemui di kediamannya di Jalan Pembangunan Dalam 01 RT 07/ RW 01 no
61, Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat. FR menuturkan, selama 11 bulan hidup
berumah tangga dengan suaminya, FR hanya diberi nafkah selama 2 bulan. Untuk
menghidupi kedua adiknya yang masih tinggal dengannya, FR hanya
memanfaatkan uang sewa dari rumah kontrakan berukuran 5x5 meter persis di
samping rumahnya. Dalam sebulan itu, FR hanya mendapat penghasilan sebesar
Rp 650 ribu. "Saya tinggal sama 2 adik saya, sehari-hari dia nggak pernah ngasih
19

uang untuk biaya anak saya. Saya cuma dapat uang dari rumah kontrakan saya,"
kata FR. Selain tak mendapat nafkah dari suami, FR juga kerap menerima
ancaman dan kekerasan setelah dirinya melahirkan anak pertama. Puncak
ancaman dan kekerasan yang dialami FR terjadi ketika Kurnia meminta FR untuk
menggugurkan kandungan anak keduanya dengan alasan tak mempunyai biaya.
Bahkan pada saat itu Kurnia mengancam akan membakar milik FR. "Dia sering
mukulin saya kalau tidak mau menggugurkan kandungan seperti ditonjokin,
ditamparin, ditendang, ditonjok, sampai rambut saya digunting. Setelah dicek
ternyata saya tidak hamil. Padahal dia sempat mengancam kalau tidak digugurkan
maka rumah ini akan dibakar," tutup FR.

b. Kasus kedua Anggota DPRD Jambi Dilaporkan ke Polisi Lakukan KDRT

Gambar 2.1 Ria, usai melaporkan kasus KDRT yang dialaminya ke Polda Jambi.

Bekas memar merah akibat tercakar kuku, masih tampak di leher Ria. Ibu
satu anak itu, mengaku baru saja mendapat aksi kekerasan dari suaminya
berinisial A dan adik A. Menurut Ria, A merupakan seorang anggota DPRD salah
satu kabupaten di Jambi. Bertemu awak media, Ria pun menceritakan, jika
kasusnya itu sudah dilaporkan ke Polda Jambi. Tuturnya, kasus KDRT yang
diterimanya terjadi pada Minggu (10/1) malam sekitar pukul 23.45, di rumahnya
kawasan perumahan Valencia, Mendalo. "Awalnya saya datang masuk rumah.
20

Setelah di rumah, saya lihat suami saya itu sedang berduaan dengan seorang
wanita,"ujarnya memulai percakapan, Senin (11/1). Sebagai seorang istri, Ria pun
tak dapat membendung kemarahannya. Apalagi, ketika dilihatnya, A tengah asik
bercumbu dengan wanita lain, di rumahnya sendiri. "Saya marah benar. Saya
lempar mereka berdua,"terangnya. Aksi lempar itu membuat kaget A. dengan
sigap, A lalu bangun dan mengejar ria."Saya ketakutan, lalu berusaha lari dari
mereka," jelas Ria. Naas bagi Ria, A ternyata berhasil menangkapnya, A lalu
mempelintir tangannya. A tidak sendirian, adiknya pun juga ikut memberikan
kekerasan dengan cara mencekek leher Ria hingga menimbulkan bekas memar,
adik A saat itu juga sempat menampar mukanya. Tidak sudah di situ saja, A juga
mengeluarkan kata cacian terhadap Ria, A kata Ria, juga meludahi mukanya.

c. Kasus ketiga Sepriana Jadi Korban Penganiayaan Suami Demi Buah Hati

Gambar 2.2 Sepriana membelakangi kamera saat mengadu ke Polresta Palembang.

Sepriana (28), warga Jalan Silaberanti, Kelurahan Silaberanti, Kecamatan


SU I, mengadu ke Polresta Palembang, Rabu (16/4/2014). Ia melaporkan

21

suaminya berinisial AI (32), karena telah menganiaya dirinya hingga mengalami


sejumlah luka lebam. Ibu rumah tangga ini, membawa serta ketiga anaknya yang
masih kecil saat mengadu ke polisi. Kepada polisi, dia mengaku penganiayaan
yang dialaminya terjadi di rumah kontrakan mereka, Jalan Kapten Cek Syeh RT 4,
Kelurahan 18 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT), Selasa (15/4/2014) pukul 08.30.
Menurutnya, anaknya ribut dan suaminya marah sampai memukul anaknya itu.
Karena tidak tega melihat anaknya dipukul, korban berusaha mencegah. Tapi,
justru dirinya yang menjadi sasaran amarah sang suami. "Perbuatan ini sudah
sering dilakukan dia. Dulu sempat saya laporkan, tapi saya cabut lagi laporan,
karena suami saya janji akan merubah sikapnya. Sekarang saya tidak lagi tahan,"
ungkap Sepriana. Kasat Reskrim Polresta Palembang Komisaris Djoko Julianto
mengatakan, laporan korban ini akan segera ditindaklanjuti. Djoko menilai,
perbuatan sang suami sudah dapat dikatagorikan kedalam kekerasan dalam rumah
tangga.
B. Kerangka Pikir

Rumah Tangga

Suami

Harmonis

Istri

KDRT

Cekcok
22

Kajian Buku

Kasus

Hasil
Gambar 2.3 Kerangka Pikir Makalah

BAB III
METODE PENULISAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah deskriptif.
Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang tujuannya untuk
menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau dimaksudkan
untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan
sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan
dengan masalah dan unit yang diteliti antara fenomena yang diuji. Dalam
penelitian ini, peneliti telah memiliki definisi jelas tentang subjek
penelitian dan akan menggunakan pertanyaan who dalam

23

menggali informasi yang dibutuhkan. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah


menghasilkangambaran akurat tentangsebuah kelompok,menggambarkan me
kanisme sebuah proses atau hubungan, memberikan gambaran lengkap baik
dalam bentuk verbal atau numerikal, menyajikan informasi dasar akan suatu
hubungan, menciptakan seperangkat kategori dan mengklasifikasikan subjek
penelitian, menjelaskan seperangkat tahapan atau proses, serta untuk
menyimpan informasi bersifat kontradiktif mengenai subjek penelitian.

B. Populasi
Populasi yang kami ambil berdasarkan metode kajian buku adalah
perempuan Indonesia pada tahun 2012/2013 yang menjadi korban kekerasan
dalam rumah tangga
C. Instrumen Penelitian

Tes
Instrumen
Penelitian

Non Tes

Wawancara
Angket
Kajian Buku

Gambar 3.1 Bagan Instrumen Penelitian.

Kajian pustaka atau kajian buku dalam penelitian, baik penelitian pustaka
maupun penelitian lapangan mempunyai kedudukan yang sangat penting. Bahkan

24

tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kajian pustaka merupakan merupakan


variabel yang menentukan dalam suatu penelitian. Karena akan menentukan
cakrawala dari segi tujuan dan hasil penelitian. Di samping itu, berfungsi
memberikan landasan teoritistentang mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan
dalam kaitannya dengan kerangka pengetahuan. Oleh karena itu, pengertian kajian
pustaka umumnya dimaknai berupa ringkasan atau rangkuman dan teori yang
ditemukan dari sumber bacaan (literatur) yang ada kaitannya tema yang akan
diangkat dalam penelitian.
Tujuan utama kajian pustaka adalah untuk mengorganisasikan penemuanpenemuan peneliti yang pernah dilakukan. Hal ini penting karena pembaca akan
dapat memahami mengapa masalah atau tema diangkat dalam penelitiannya. Di
samping itu, kajian pustaka juga bermaksud untuk menunjukkan bagaimana
masalah tersebut dapat dikaitkan dengan hasil penelitian dengan pengatahuan
yang lebih luas.
Secara lebih rinci tujuan kajian pustaka, dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.

Menentukan dan membatasi permasalahan penelitian.

2.

Meletakkan penelitian pada perspektif sejarah dan asosiasoinal.

3.

Menghindari replikasi yang tidak disengaja dan tidak perlu. Replikasi yang
tidak sengaja terhadap penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti perlu
dihindari karena hanya merupakan pemborosan.

4.

Menghubungkan penemuan dengan pengatahuan yang ada dan ususlan


untuk penelitian lebih lanjut.

25

Karena tujuan ini, kajian pustaka bukanlah proses yang mudah dilakukan.
Pembuatan kajian pustaka menuntut pemahaman yang komprehensif dari peneliti
tentang pengatahuan yang pernah ditulis oleh orang lain dalam bidang yang
menjadi konsepnya. Kajian pustaka meliputi kegiatan mencari, membaca,
mengevaluasi, menganalisis dan membuat sistesis laporan-laporan penelitian dan
teori, serta melaporkan amatan dan pendapat yang berhubungan dengan penelitian
yang direncanakan.
Dalam kajian pustaka dimuat esensi-esensi hasil penelitian literatur yaitu
berupa teori-teori. Uraian teori yang disusun bisa dengan kata-kata penulis secara
bebas dengan tidak mengurangi makna teori tersebut, dapat juga dalam bentuk
kutipan dari tulisan orang lain, yaitu kutipan langsung tanpa mengubah kata-kata
atau tanda bacaan, kemudian dianalisis dibandingkan dan dikonstuksikan, teoriteori dan temuan-temuan itu harus relevan dengan permasalahan penelitian yang
akan dilakukan. Kegunaannya adalah untuk bahan acuan penelitian. Kebenaran
yang diperoleh dari penelitian tersebut karena ada acuan disebut kebenaran
koherensi, artinya terdapat relevansi dengan teori-teori yang telah dikemukakan
para ahli terdahulu.

26

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
A.1. Hal yang melatarbelakangi kekerasan dalam rumah tangga terhadap
perempuan
Kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi karena dilatarbelakangi oleh
banyak hal baik hal sepele maupun hal besar. Dalam kajian buku yang penulis
baca maka faktor terbesar adalah faktor ekonomi.

27

Gambar 4.1 Diagram persentase faktor yang melatarbelakangi kekerasan dalam rumah tangga

A.2. Dampak yang dirasakan korban dari kekerasan yang dialaminya


Dampak yang dirasakan korban bukan hanya luka-luka dan memar di
sekujur tubuhnya, tapi juga ada dampak kesehatan lainnya dan dampak
psikologis, seperti :

Tabel 4.1 Dampak yang akan dialami korban.

28

A.3. Cara menyelesaikan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh
perempuan
Melihat banyaknya kasus kekerasan yang terjadi, maka penulis berupaya
memunculkan penyelesaian masalah yang paling efektif dalam membantas
munculnya kasus-kasus selanjutnya, yaitu :
- Pemerintah pusat dan daerah lebih memprioritaskan kebijakan bagi
-

perlindungan perempuan dari tindak kekerasan, diskriminasi.


Pemerintah mengesahkan undang-undang tambahan dan mengamandemen
undang-undang perlindungan korban agar lebih jelas sanksi yang akan

diberikan.
Pemerintah menganggarkan alokasi dana untuk penyediaan layanan terpadu
bagi

perempuan

korban

kekerasan

dalam

rumah

tangga

dalam

mengembalikan kondisinya.
Pemerintah memberikan bimbingan sosial dan agama pra nikah bagi para
pasangan dalam menjalani kehidupan berumah tangga dan menyelesaikan

konflik.
Masyarakat memberikan bantuan berupa pendekatan secara khusus bagi

korban.
Para pelaku kekerasan diberi rehabilitas dan sanksi yang tegas agar tidak

mengulangi perbuatannya.
Masyarakat diajak bekerja sama agar jika melihat kejadian kekerasan dalam

rumah tangga segera melaporkan ke yang berwajib.


Pemahaman persamaan kedudukan antara perempuan dan laki-laki di

masyarakat.
Pemberian bantuan hukum bagi korban dalam menuntut haknya di
pengadilan.

29

B. Pembahasan
B.1. Hal yang melatarbelakangi kekerasan dalam rumah tangga terhadap
perempuan
Berdasarkan data tabel maka didapatkan bahwa faktor terbesar yang
melatarbelakangi kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan adalah
ekonomi. Ekonomi menjadi faktor penting dalam membangun suatu rumah
tangga, alasannya sudah jelas karena tanpa uang yang cukup maka mustahil
mereka dapat membiayai kehidupan sehari-hari. Ada tiga hal yang sering
terjadi dalam faktor eknomi ini. Pertama, seorang suami yang berpenghasilan
sedikit akan marah ketika istrinya meminta uang belanja dan akan berujung
pada kekerasan.
Kedua, suami yang pengangguran dan tidak memiliki penghasilan
maka ia akan menggantungkan hidupnya pada istrinya yang biasanya masih
mendapatkan uang dari orang tuanya. Hal ini diperparah jika sang suami adalah
seorang pemabuk dan penjudi. Jika sang istri tidak memberikan uang, maka
sang suami akan marah dan akhirnya sang istri mendapat perlakuan tidak baik.
Itulah dua hal yang sering terjadi dalam faktor ekonomi.
Ketiga, isti sering kali menjadi tulang punggung keluarga dan
membiayai keuangan suaminya. Meskipun dmeikian, suami bukannya merasa
tidak enak karena perannya tergantikan oleh istri namun mereka sering kali
justru memanfaatkan hal tersebut. Mereka memanfaatkan istri yang benarbenar mencintainya dengan memperdaya mereka. Hal yang terburuk, mereka
juga memiliki selingkuhan di luar pengetahuan sang istri.
Faktor terbesar kedua adalah perselingkuhan dan cemburu.
Pernikahan di usia muda sering belum dibekali dengan penguasaan emosi yang

30

baik. Terkadang suami tidak cukup bijak dalam menyikapi kehidupan bersosial
istrinya. Misalnya, sang istri hanya bergaul dengan teman laki-lakinya atau
bersosial dengan majikannya, namun suami memiliki rasa curiga yang salah
dan akhirnya bertindak kasar pada istrinya. Bukan hanya itu, suami juga
mengamcam sang istri jika masih bergaul dengan temannya.
Faktor selanjutnya adalah mabuk. Hal ini memilki hubungan erat
dengan faktor ekonomi. Seperti yang diketahui, seorang pengkomsumsi miras,
memiliki emosi yang meluap-luap apalagi ketika ia berada di bawah pengaruh
alkohol. Saat itulah sering kali seseorang tidak dapat mengendalikan
kelakuannya dan berbuat kasar pada orang di sekitarnya.
Faktor terakhir adalah kesal. Faktor ini dapat muncul karena
adanya perbedaan pendapat yang terjadi antara suami dan istri. Faktor ini juga
erat kaitannya dengan faktor-faktor yang lain. Sehingga sering kali faktor ini
dikaitkan dengan faktor-faktor lainnya.
B.2. Dampak yang dirasakan korban dari kekerasan yang dialaminya
Dampak yang dirasakan korban terbagi dua, yaitu dampak kesehatan dan
dampak

psikis.

Kekerasan

dengan

intensitas

berulang-ulang,

akan

menimbulkan kerusakan organ-organ dalam tubuh. Misalnya saja, seseorang


yang mengalami kekerasan seksual akan mengalami disfungsi organ seks
karena sering kali dipaksa saat berhubungan. Juga dapat terserang HIV/Aids
jika sang suami seorang yang suka berganti-ganti pasangan. Kekerasan yang
dialami setiap hari tentunya akan membuat aliran darah dalam tubuh terganggu
sehingga tubuh dapat kekurangan oksigen dan akhirnya timbullah asma.
Dampak psikis yang dapat terjadi misalnya sulit percaya pada
orang lain karena mengalami trauma dan menganggap semua orang sama
seperti suami yang selalu memperlakukannya dengan buruk. Adapula

31

ketakutan dan rasa cemas berlebih ketika bertemu orang baru atau orang yang
berperawakan sama seperti suaminya. Orang-orang yang mengalami kekerasan
dalam rumah tangga, akan menjauhkan dirinya dari kehidupan sosial dan lebih
suka sendiri. Ia merasa dirinya sudah tak berharga dan tak ada artinya lagi
sehingga akan berujung pada niat untuk bunuh diri.

B.3. Cara menyelesaikan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh
perempuan
Hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah sebagai pelindung bagi
para warganya maka yang dapat dilakukannya adalah mengamandemen dan
menambahkan undang-undang perlindungan kepada perempuan. Misalnya saja
dengan melarangnya pernikahan di usia muda (setidaknya berada di atas usia
20 tahun) karena belum memiliki mental yang baik dalam membina sebuah
rumah tangga. Dan juga menambahkan sanksi-sanksi yang akan didapatkan
oleh pelaku jika melakukan suatu tindakan kekerasan. Sanksi yang diberika
tidak main-main, dapat berupa hukuman berat seperti penjara seumur hidup
atau hukuman mati. Selanjutnya memberikan para pasangan yang akan
menikah dengan bimbingan pra nikah terutama bimbingan agama bahwa
semua tindakan kekerasan adalah larangan dalam semua kekerasan. Selain itu
pemerintah juga membuat pelayanan khusus dalam membimbing para korban
dalam proses pemulihannya.
Hal yang dapat dilakukan masyarakat adalah meningkatkan
kesadaran bersosial dan kepedulian sosialnya terhadap sesama sehingga ketika
melihat suatu tindak kekerasan maka segera melapor ke aparat kepolisian.
Masyarakat juga sebaiknya tindak menjauhi korban tetapi sebaliknya

32

melakukan pendekatan agar korban mulai melupakan kekerasan yang pernah


dialaminya dan mulai membuka diri. Hal yang tak kalah penting adalah
memberikan bantuan hukum bagi korban, terutama bagi korban dengan kondisi
ekonomi yang kurang baik karena mereka sulit untuk menyewa pengacara. Ini
sama halnya seperti membentuk lembaga hukum khusus bagi korban.
Selain itu pemahaman tentang konsep laki-laki sederajat dengan
perempuan masih kurang dalam masyarakat. Banyak suami yang menganggap
dirinya berkuasa atas istrinya sehingga ia bebas dalam memperlakukan
istrinya. Ini perlu disikapi dengan benar karena dapat memunculkan pemikiran
yang salah.

BAB V
PENUTUP

33

A. Simpulan
Dari pembahasan yang telah dibahas dalam bab sebelumnya, maka penulis
menarik kesimpulan atas makalah ini, yaitu :
1. Faktor terbesar yang melatarbelakangi kekerasan rumah tangga terhadap
perempuan adalah ekonomi. Hal ini mutlak terjadi karena tanpa ekonomi
mustahil suatu rumah tangga dapat terbangun dnegan harmonis. Keluarga
dengan eknomi berkecukupan pun masih sering mengalami hal ini, apalagi
dengan keluarga yang berkekurangan.
2. Dampak yang dialami korban akibat kekerasan rumah tangga, yaitu dampak
psikis dan dampak kesehatan. Dampak psikis dapat berupa trauma
berkepanjangan dan sikap anti-sosial. Sedangkan dampak kesehatannya dapat
berupa kerusakan organ-organ vital.
3. Pemerintah dapat menindaki kasus kekerasan rumah tangga terhadap
perempuan ini dengan cara mengamandemen dan menambahkan undangundang perlindungan kepada perempuan.

B. Saran
Saran yang dapat diberikan penulis atas masalah yang dibahas dalam makalah
adalah :
1. Sebaiknya para perempuan di Indonesia mengetahui terlebih dahulu latar
belakang suami yang akan menikahinya.
2. Sebaiknya pemerintah meningkatkan perlindungan terhadap perempuan.

34

3. Sebaiknya masyarakat diberikan pengetahuan yang luas mengenai kesamaan


derajat antara perempuan dan laki-laki.
4. Dalam penulisan makalah selanjutnya, sebaiknya memperhatikan format
penulisan secara detail.

Daftar Pustaka
Anonim. (2010, Desember 26). Definisi Kekerasan. p.
http://wikipedia.org.
Herman, A. S. (2014, Januari 30). Memahami Definisi Kekerasan. p.
psikologmalang.com.
Prawira, A. E. (2015, Februari 2016). Sepriana Jadi Korban
Penganiayaan Suami Demi Lindungi Buah Hatu. p.
www.liputan6.com.
Salim. (1991). Kamus Besar Bahasa Indonesia.
35

Salim, H. (2015, Maret 21). Selain DIaniyaya Korban Juga Tak Dinafkahi.
p. www.liputan6.com.
Sutipto, H. R. (2013, November 12). 20 Jenis Penyakit yang Akana
Dialami Korban KDRT. p. www.liputan6.com.

36