Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II

Topik

: Semen Seng Fosfat

Kelompok

: B5

Tgl. Praktikum

: 7 September 2016

Pembimbing

: Endanus Harijanto, drg., M.Kes

NAMA:
1.
2.
3.
4.
5.

Cindy Ramadhan Putri


Komang Fenny Gita T
Agnes Melinda Wong
Sheila Amalia Balamash
Astila Fitriana

021511133076
021511133077
021511133078
021511133079
021511133080

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016

1. TUJUAN
1.1.

Dapat memanipulasi semen seng fosfat yang digunakan untuk basis


dan luting dengan cara yang tepat.

1.2.

Dapat mengamati perbedaan konsistensi antara semen seng fosfat


sebagai basis dan luting.

1.3.

Dapat mengamati perbedaan setting time antara semen seng fosfat


sebagai basis dan luting.

2.

CARA KERJA
2.1. Bahan yang digunakan
a Bubuk dan cairan semen seng fosfat (Elite Cement 100)

Gambar 1. Bubuk dan cairan semen seng


fosfat (Elite Cement 100)

Vaselin

Gambar 2. Vaselin
1

2.2. Alat yang digunakan


a. Glass slab (kaca tebal)
b. Kaca tipis
c. Spatula semen
d. Stopwatch
e. Cetakan sampel
f. Celluloid strip
g. Kuas kecil
h. Cutter
i. Timbangan digital
j. Jarum gillmore
k. Plastic filling instrument

Gambar 3. Glass lab

Gambar 4. Kaca tipis

Gambar 5. Spatula semen

Gambar 6. Plastic
filling instrument

Gambar 7. Cetakan sampel

Gambar 8. Jarum Gillmore

Gambar 9. Timbangan digital

2.3. Cara Kerja

2.3.1. Semen Seng Fosfat sebagai Luting


a

Botol semen seng fosfat dikocok perlahan/ gentle (Powers & Wataha 2008,
p.149), kemudian ditimbang pada timbangan digital. Bubuk semen seng
fosfat diambil sebanyak 1 sendok takar (rasio sesuai aturan pabrik),
kemudian diletakkan di atas glass slab dan dibagi menjadi beberapa bagian
(sesuai aturan pabrik). Botol bubuk semen seng fosfat ditimbang lagi pada
timbangan digital untuk mengetahui berat bubuk semen seng fosfat yang
sudah diambil.

Botol cairan semen seng fosfat ditimbang pada timbangan digital,


kemudian botol diputar/swirl (Power & Wataha 2008, p.149) dan dipegang
secara vertikal terbalik untuk diteteskan tanpa penekanan (tergantung
merek) sebanyak 3 tetes (rasio sesuai aturan pabrik) pada glass slab. Botol
cairan semen seng fosfat ditimbang lagi untuk mengetahui berat cairan

yang telah diteteskan.


Bubuk semen seng fosfat bagian pertama dimasukkan ke dalam cairan dan
diaduk menggunakan spatula semen secara memutar, menekan, dan
spreading selama 10 detik. Stopwatch diaktifkan pada saat bubuk dan
cairan semen seng fosfat mulai diaduk. Bubuk semen seng fosfat bagian
kedua ditambahkan dan diaduk dengan cara yang sama, demikian
seterusnya sampai semua bubuk semen seng fosfat habis teraduk dan
homogen. Lama pengadukan bubuk dan cairan semen seng fosfat hingga

homogen memerlukan waktu sesuai aturan pabrik.


Adonan semen seng fosfat dikumpulkan jadi satu. Spatula semen
dimiringkan dengan sudut 45oC terhadap glass slab. Adonan semen seng
fosfat diambil dan ditarik ke atas (tanpa jatuh) membentuk bentukan
menyerupai tali (string) setinggi 1 inci. Konsistensi adonan semen tersebut
merupakan konsistensi untuk luting (penyemenan).

2.3.2. Semen Seng Fosfat sebagai Basis


Cara manipulasi semen seng fosfat sebagai basis sama seperti cara
manipulasi semen seng fosfat sebagai luting . Yang membedakan adalah:
a

Rasio bubuk dan cairan semen seng fosfat sebagai basis lebih besar

dibanding sebagai luting.


Konsistensi semen seng fosfat sebagai basis tercapai apabila adonan semen
seng fosfat menyerupai bentuk putty dan dapat dibentuk menjadi bola /
bulatan dan tidak melekat pada glass lab.

2.3.3. Uji Setting Time Semen Seng Fosfat


a

Celluloid strip diletakkan diatas kaca tipis, kemudian diatas celluloid strip

diletakkan cetakan sampel.


Adonan semen seng fosfat yang telah homogen dimasukkan ke dalam

cetakan dengan bantuan plastic filling instrument hingga penuh.


Permukaan adonan semen seng fosfat ditutup celluloid strip dan kaca tipis,
kemudian ditekan dengan jari.
4

Kaca tipis dilepas. Celluloid strip dilepas kalau sudah dapat dilepas dengan
mudah dan tidak lengket pada adonan semen. Permukaan semen seng fosfat
siap dilakukan uji setting time. Jarum Gillmore ditekankan pada permukaan
semen seng fosfat dengan interval tiap 5 detik. Bekas tekanan dari jarum
Gillmore tidak boleh ditempat yang sama. Uji setting time dilakukan hingga
semen seng fosfat setting ditandai dengan tidak ada bekas tekanan dari

jarum Gillmore.
Pengukuran nilai setting time dimulai awal pencampuran bubuk dan cairan
semen seng fosfat hingga semen setting.

3. HASIL PRAKTIKUM
Tabel 3.1.
Setting time semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai basis

Berat
awal
(gram)

BUBUK
Berat
Akhir
(gram)

82,55 gr

CAIRAN
Berat
Akhir
Selisih
(gram)

Selisih

Berat awal
(gram)

82,19 gr

0,36 gr

41,93 ml

41,81 ml

0,12 ml

6 menit

82,18 gr

81,75 gr

0,43 gr

41,81 ml

41,69 ml

0,12 ml

5 menit
45 detik

81,75 gr

81,36 gr

0,39 gr

41,70 ml

41,61 ml

0,09 ml

4 menit
51 detik

0,11 ml

5 menit
32 detik

RATA - RATA

0,39 gr

RATA - RATA

Setting
Time

Praktikum semen seng fosfat sebagai basis dengan perbandingan bubuk dan
cairan 1 sendok takar no.3 : 2 tetes cairan yang dilakukan sebanyak 3 kali. Dari total 3
percobaan dihasilkan rata-rata setting time 5 menit 32 detik dari rata-rata berat bubuk
0,39 gram dan berat rata-rata cairan 0,11 ml.

Tabel 3.2.
Setting time semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai lutting

Berat
awal
(gram)

BUBUK
Berat
Akhir
(gram)

78,01 gr
81,37 gr

CAIRAN
Berat
Akhir
Selisih
(gram)

Selisih

Berat awal
(gram)

77,67 gr

0,34 gr

42,17 ml

41,93 ml

0,24 ml

13 menit
10 detik

80,90 gr

0,47 gr

41,61 ml

41,49 ml

0,17 ml

10 menit

0,20 ml

11 menit
55 detik

RATA - RATA

0,40 gr

RATA - RATA

Setting
Time

Praktikum semen seng fosfat sebagai luting dengan perbandingan bubuk dan
cairan 1 sendok takar no.3 : 3 tetes cairan yang dilakukan sebanyak 2 kali. Dari total 2
percobaan dihasilkan rata-rata setting time 11 menit 55 detik dari rata-rata berat bubuk
0,40 gram dan berat rata-rata cairan 0,20 ml.
4. ANALISA HASIL PRAKTIKUM
Pada praktikum kali ini kami melakukan sebanyak 2 kali percobaan
penggunaan semen seng fosfat sebagai lutting dan 3 kali percobaan penggunaan
semen seng fosfat untuk basis. Berdasarkan hasil praktikum di atas, dapat dilihat
bahwa rata-rata setting time pada percobaan penggunaan semen seng fosfat sebagai
basis lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata setting time semen seng fosfat yang
digunakan sebagai lutting. Rata-rata setting time pada percobaan penggunaan semen
seng fosfat sebagai basis adalah 5 menit 32 detik, sedangkan rata-rata setting time
pada percobaan lutting adalah 11 menit 55 detik. Hal ini disebabkan oleh cairan yang
digunakan dalam percobaan basis lebih sedikit atau bubuk yang digunakan lebih besar
daripada yang digunakan dalam percobaan lutting. Dengan kata lain, perbandingan
bubuk dan cairan yang semakin besar inilah menyebabkan setting time pada
percobaan basis lebih cepat jika dibandingkan dengan percobaan lutting. Setting time
yang lebih lama pada percobaan penggunaan lutting ini berguna karena pada proses
penyemenan/lutting, semen memang diharapkan memiliki flow yang baik dan
diperlukan waktu yang lebih lama agar semen tersebut mampu menjangkau hingga
daerah marginal dari suatu restorasi sebelum setting atau mengeras. Sedangkan pada
percobaan basis, digunakan perbandingan bubuk dan cairan yang lebih besar sehingga
didapatkan konsistensi yang lebih kental dan diharapkan lebih kuat karena digunakan
dibawah restorasi untuk melindungi pulpa terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh
panas, galvanic shock, dan iritasi kimia oleh bahan restorasi yang sedang digunakan.
6

Bahan yang digunakan untuk basis juga harus mempunyai kekuatan yang cukup untuk
menahan gaya kondensasi selama penempatan restorasi dan untuk menahan adanya
kepatahan yang ditimbulkan oleh tegangan induksi restorasi selama pengunyahan.
5. TINJAUAN PUSTAKA
Materi atau bahan-bahan yang digunakan untuk memperbaiki atau
memulihkan struktur gigi alami harus memiliki karakteristik pembasahan yang baik
sehingga kekuatan ikatan yang tinggi dengan stuktur alami dapat terjadi. Ekspansi
dan kontraksi dari material harus sama dengan bahan terikat.
Materi yang digunakan salah satunya adalah semen. Semen secara luas
digunakan dalam kedokteran gigi untuk beragam aplikasi. Beberapa produk terutama
digunakan bagi orang lain untuk lapisan sementara dengan menggunakan teknik
aplikasi lutting. Selain itu kelebihan lainnya adalah digunakan untuk saluran akar
penyegelan sebagai bagian dari pengobatan endodontik dan beberapa semen juga
spesifik dirumuskan sebagai bahan filling. (McCabe, 2008, hal. 267)
Semen seng fosfat adalah bahan semen tertua dan telah memiliki catatan klinis
yang sukses sehingga dijadikan sebagai standar untuk bahan semen terbaru.
(Anusavice, 2013, hal. 316) Seng fosfat telah banyak digunakan sebagai semen untuk
dudukan casting dan memperbaiki band ortodontik, dan sebagai dasar isolasi termal
di bawah restorasi gigi logam, karena konduktivitas termal semen ini kira-kira sama
dengan enamel dan jauh lebih kecil dari logam. Tes screening in vitro menunjukkan
bahwa semen seng fosfat memunculkan reaksi sitotoksik yang kuat sampai sedang
yang menurun seiring waktu. Pelucutan ion seng dan pH rendah mungkin
menjelaskan efek ini. Pembersihan kelebihan semen dengan filtrasi dentin terbukti
melindungi pulpa dari sebagian besar efek sitotoksik. (Craigs, 2012, hal. 123)
Komposisi
Semen seng fosfat terdiri dari bubuk dan cairan yang diletakkan pada botol
yang terpisah dan dicampurkan sebelum dipakai. Komponen reaktif utama dari bubuk
adalah seng oksida. Bubuk semen seng fosfat mengandung 75% seng oksida dan lebih
dari 13% magnesium oksida. Sedangkan cairannya merupakan larutan yang terdiri
dari 38%-59% asam fosfat, 30%-55% air, 2%-3% aluminium fosfat, dan sekitar lebih
dari 10% seng fosfat. Cairan tersebut mengontrol pH dan kecepatan reaksi cairanbubuk (asam-basa). Semakin kecil/halus ukuran partikel, semakin cepat semen
setting. (Anusavice, 2013, hal. 316)
Ketika dicampur, asam fosfat melarutkan seng oksida, yang bereaksi dengan
fosfat aluminium dan membentuk gel seng aluminofosfat pada permukaan partikel
7

sisanya. Semen yang telat setting mengandung partikel seng oksida yang tidak
bereaksi, dibungkus dengan matriks padat yang tidak terbentuk dari seng
aluminofosfat. Kehilangan air dari cairan memperpanjang reaksi setting, sedangkan
penggabungan tambahan air selama pencampuran mempercepat reaksi. (Anusavice,
2013, hal. 316)
Setting Reaksi
Pada pencampuran bubuk dan cairan secara bersamaan akan terjadi suatu
reaksi, sehingga terbentuk seng fosfat yang relatif tidak larut sebagai berikut :
3ZnO + 2H3PO4 + H2O Zn3(PO4)2 4H2O
Hanya pada lapisan permukaan dari partikel oksida seng yang bereaksi,
meninggalkan inti yang tidak digunakan terikat oleh matriks fosfat. Reaksi ini cepat
dan eksotermik meskipun laju disesuaikan oleh adanya buffer dalam asam dan proses
khusus penonaktifan dari bubuk oksida seng yang melibatkan pemanasan dan
sintering dengan oksida lainnya yang kurang reaktif. (McCabe, 2008, hal. 273)
Faktor yang Mempengaruhi Working Time dan Setting Time
Reaksi antara seng fosfat dan asam fosfat merupakan reaksi eksotermik (reaksi
yang menghasilkan panas) sehingga membutuhkan prosedur pencampuran yang
cermat untuk meminimalisir efek panas. Reaksi eksotermik akan mempercepat setting
time karena panas yang dihasilkan akan meningkatkan energi kinetik partikel.
Semakin tinggi energi kinetik partikel, semakin cepat pergerakan partikel untuk
betumbukan dan membentuk matriks. Dengan adanya reaksi eksotermis, setting time
tetap dapat dikontrol dengan beberapa faktor, yaitu :
1. Rasio bubuk dan cairan (W/P Ratio)
Rasio bubuk dan cairan dapat dikurangi untuk menghasilkan campuran
yang lebih tipis. Namun, perubahan ini akan menghasilkan pH awal yang lebih
rendah dari semen dan itu akan mempengaruhi sifat mekanik dari semen.
(Anusavice, 2013, hal. 317).
2. Bubuk dibagi menjadi beberapa bagian
Pada saat sebelum melakukan pencampuran semen, bubuk semen dibagi
menjadi beberapa porsi kecil terhadap cairan, cara ini dilakukan agar panas dapat
dilepaskan dan mudah menguap (berkurang). Teknik ini dilakukan untuk menunda
8

sedikit setting time dan menciptakan lebih banyak working time. Karena
konsentrasi seng fosfat yang dihasilkan selama tahap awal dari setting yang tidak
cukup untuk menyebabkan peningkatan nyata dalam viskositas. (McCabe, 2008,
hal. 273) Sedikit bubuk dicampurkan terlebih dahulu dengan cairan pada
pencampuran yang pertama. Pencampuran sebagian bubuk dengan cairan pada
tahap awal akan mengurangi keasaman cairan dan memperlambat laju reaksi
dengan kenaikan berikutnya. Sementara itu, panas yang dihasilkan dari reaksi akan
cukup menghilang selama spatulasi. Jika bubuk yang digunakan pada awal
pencampuran adalah bubuk dalam jumlah banyak, pencegahan percepatan reaksi
tidak dapat terjadi karena penyerapan panas terjadi dalam waktu yang kurang
cepat. (Anusavice, 2013, hal. 317).
3. Spatulasi
Operator dapat memperpanjang spatulasi pada pencampuran bubuk yang
terakhir. Spatulasi secara efektif menghancurkan matriks setelah terbentuk, yang
berarti diperlukan waktu tambahan untuk membentuk kembali sebagian matriks.
Ini bukan metode yang disukai untuk memperpanjang working time. (Anusavice,
2013, hal. 317) Teknik spreading juga membantu material menjadi homogen.
Karena dengan melakukan spreading membuat bubuk akan mudah bercampur
dengan cairan sehingga seluruh permukaan terbasahi dan menjadi homogen.

4. Penggunaan glass slab yang tebal dan dingin


Lebih dingin suhu pencampuran akan menghambat reaksi kimia antara
bubuk dan cairan, sehingga menunda pembentukan matriks. Suhu glass slab harus
berada di atas titik embun; jika tidak, air mengembun, mengencerkan cairan, dan
mengurangi kekuatan tekan dan tarik dari semen seng fosfat. Penggunaan glass
slab dingin untuk pencampuran adalah metode yang paling layak unutuk
memperpanjang working time semen seng fosfat, dan ini harus diterapkan setiap
kali beberapa unit prostesis sedang disemen. (Anusavice, 2013, hal. 317).
6. PEMBAHASAN

Pada manipulasi semen seng fosfat sebagai lutting, didapatkan setting time
selama 13 menit 10 detik dengan bubuk 0,34 gram dan cairan 0,24 ml pada percobaan
pertama dan 10 menit dengan bubuk 0,47 gram dan cairan 0,17 ml pada percobaan
kedua. Konsistensi yang dihasilkan cukup encer, sedangkan pada manipulasi semen
seng fosfat sebagai basis didapatkan setting time selama 6 menit dengan bubuk 0,36
gram dan cairan 0,12 ml pada percobaan pertama, 5 menit 45 detik dengan bubuk
0,43 gram dan cairan 0,12 ml pada percobaan kedua, 4 menit 51 detik dengan bubuk
0,39 gram dan cairan 0,09 ml pada percobaan ketiga. Konsistensi yang dihasilkan
cukup padat sehingga dapat dibentuk menjadi bola.
Setting time yang didapatkan pada percobaan yang telah dilakukan sangat
menunjukkan bahwa setting time semen seng fosfat sebagai lutting lebih lama
daripada sebagai basis. Perbedaan setting time ini disebabkan karena terdapat
perbedaan pada rasio bubuk dan cairan yang digunakan. Rasio bubuk dan cairan yang
digunakan semen seng fosfat sebagai luting lebih kecil daripada sebagai basis atau
dalam arti jumlah cairan yang digunakan pada manipulasi sebagai luting lebih banyak
daripada basis. Pada manipulasi semen seng fosfat sebagai luting diperlukan hasil
campuran yang tipis, sehingga diperlukan rasio bubuk dan cairan yang lebih kecil
untuk menghasilkan konsistensi yang lebih encer. Rasio bubuk dan cairan yang lebih
kecil dapat memperpanjang setting time dan working time (Anusavice 2013, p.317).
Hal ini disebabkan karena partikel zinc oxide yang digunakan dalam reaksi menjadi
lebih banyak, sehingga pembentukan matrik yang menyelubungi partikel sisa zinc
oxide semakin cepat (Cirns 2004, p.195).
7. KESIMPULAN
Semen seng fosfat dapat digunakan sebagai basis atau luting. Semen seng
fosfat yang diaplikasikan sebagai basis memiliki konsistensi lebih kental dan juga
memiliki setting time lebih pendek daripada semen seng fosfat sebagai luting.

10

DAFTAR PUSTAKA
Sakaguchi, Ronald and John Powers. 2012. Craigs Restorative Dental Materials 13th
Edition. United States. Elsevier.
McCabe, John F and Angus W. G. Walls. 2008. Applied Dental Materials 9th Edition. . UK.
Blackwell Publishing.
Kenneth J. Anusavice, Chiayi Shen, and H. Ralph Rawls. 2013. Phillips Science of Dental
Materials 12th Edition. USA. Elsevier.

11

LAMPIRAN

12

13

14

15

16

17

18

19

Anda mungkin juga menyukai