Anda di halaman 1dari 22

Pemeriksaan

1. Anamnesis
Anamnesis harus meliputi semua gangguan endokrin pada ibu selama kehamilan, derajat
maturitas/ prematuritas umur kehamilan, ibu mengkonsumsi hormone dari luar, juga cara
yang digunakan untuk membantu reproduksi dan atau kontrasepsi yang digunakan selama
kehamilan. 2,4,5
Riwayat keluarga digunakan untuk mengskrining beberapa kelainan urologi, kematian
neonatal yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, anomaly organ genital, pubertas dini,
amenorrhea, infertilitas pada keluarga dekat atau terkaitan keluarga. 2,4,5
Riwayat keluarga menetukan apakah terdapat ciri tertentu yang ditentukan secara genetic
atau bersifat familial. Kalau perlu, tanyakanlah tentang kejadian-kejadian yang
mengungkapkan

penyimpangan

dari

pertumbuhan

dan

perkembangan

normal

Tanyakanlah berapa berat badannya pada umur-umur tertentu, erupsi gigi, ukuran-ukuran
pertumbuhan (tinggi badan, lingkar kepala), dan kejadian fisiologis seperti timbulnya
menarke dan perkembangan pubertas. 2,4,5
2. Pemeriksaan fisik
Dari penampilan fisik nya memperlihatkan tanda-tanda seperti wanita ; 2

- Tumbuhnya payudara,
- pertumbuhan rambut
kurang,
- lengan dan kaki
extrim panjang
sehingga seluruh
tubuh tampak tinggi,
- suara tinggi seperti
wanita,
- testis kecil,
- alat genital externa tampak
normal terbentuk, tetapi
spermatozoa biasa nya tidak
terbentuk.

Target height / mid parental height :

Laki laki = {TB ayah + (TB Ibu + 13 )} x


Perempuan = {TB Ibu + (TB ayah 13 )} x
-

Prakiraan tinggi dewasa ( potensi tinggi genetik) dapat dihitung dari midparental height ;

dengan rumus : Potensi tinggi genetik = mid parental height 8,5 cm ( Potensi tinggi genetik
adalah: Rentang nilai tinggi badan akhir seseorang akibat dari kedua orang tua biologis ) 2
-

Distribusi Lemak, Otot dan Jaringan Ikat

Wanita normal mempunyai pusat gaya berat di daerah pinggul dan relative mempunyai lebih
banyak lemak daripada otot. Otot lebih dominan pada pria, dengan masa terbesar yang berpusat
di sekitar bahu. 2
-

Sifat-sifat Kulit

Penyakit genetic, hormonal, atau gizi selama pertumbuhan dan perkembangan menyebabkan
kelainan bentuk yang tersebar luas dan khas. 2
-

Kematangan Seksual

Perkembangan seksual wanita mencerminkan efek androgen dan estrogen. Perkembangan


seksual pria hanya mencerminkan efek androgen sahaja. Gangguan perkembangan beberapa ciri
tertentu mencerminkan kekurangan atau ketidakefektifan rangsangan masing-masing hormone.
Jumlah hormone abnormal atau produksi hormone pada waktu yang abnormal juga dapat berefek
pada tinggi badan melalui efeknya pada epifisis tulang. 2
-

Inspeksi Penis

Jika perlu, tarik prepusium kea rah atas (hal ini seharusnya mudah dan tidak menimbulkan sakit)
untuk melihat orifisum uretra, terutama keberadaan duh/ secret. Orifisum uretra menyerupai
suatu celah dan jika celah nin dibuka dengan melakukan pengurutan di sepanjang celah aksis
tersebut, mukosa uretra yang berwarna agak kemerahan tanpa dosertai perlepasan secret
seharusnya terlihat2
-

Palpasi Skrotum dan Isinya

Skrotum merupakan suatu kantung otot yang tipis yang berisi testis dan struktur terkait.
Pemeriksaan testis seharusnya berada dalam keadaan pasien berbaring dan kemudian berdiri.
Testis kiri biasanya lebih rendah dibandingkan testis kanan. Epididimis menempel pada
permukaan atas dan permukaan posterior atas testis. Epididimis membawa spermatozoa ke vas
deferens yang menuju ke atas melalui kanalis inguinalis dan bergabung dengan vesika seminalis
tepat di sebelah lateral prostat.2
-

Testis yang tidak turun atau ektopik

Jika salah satu sisi skrotum tidak mengandung testis (meskipun pasien berdiri), testis yang tidak
turun atau ektopik tersebut harus dicari yang dapat berada apakah terdapat di daerah inguinal,
femoral atau perineal. Pada beberapa keadaan, testis berada di dalam perut dan tidak dapat
diraba, serta memiliki kecenderungan untuk menjadi suatu keganasan.2
-

Testis yang kecil

Jika kedua testis kecil, kemungkinan terdapat keadaan-keadaan yang sifatnya bilateral seperti
kegagalan ransangan hipofisis atau disfungsi testis primer yang dapat terjadi pada sindrom
Klinefelter atau eunuchchoidism2
Perkembangan Perempuan

Sindrom Klinefelter

Normal

Perkembangan Laki-laki
Normal

XX

XXY

XY

Ovarium berkembang

Testis kecil saat pubertas

Testis berkembang

Androgen tidak diproduksi

Produksi androgen menurun

Androgen diproduksi

Duktus Wolfii regresi

Duktus Wolffii berkembang

Duktus Wolffii berkembang

Duktus Mulleri berkembang

Duktus Mulleri regresi

Duktus Mulleri regresi

Genitalia eksterna perempuan

Genitalia eksterna laki-laki

Genitalia eksterna laki-laki

dengan penis kecil

Feminisasi saat pubertas

Maskulinisasi saat pubertas

Maskulinisasi saat pubertas

dengan produksi androgen


menurun
Table : Perbandingan anak laki-laki dan perempuan normal dengan pasien Sindrom Klinefelter

3. Pemeriksaan penunjang
Analisis Sperma
Analisa sperma merupakan salah satu pemeriksaan awal yang dilakukan pada kasus infertilitas
(susah dapat anak). Masalah sperma (semen) terdapat pada lebih dari 1/3 pasangan infertil. Pada
saat dilakukan analisa, hal-hal berikut diperiksa : volume, waktu mencairnya, jumlah sel sperma
per mililiter, gerakan sperma, PH, jumlah sel darah putih dan kadar fruktosanya (gula). Hasil
4

analisa sperma bisa menetukan apakah : ada masalah reproduksi (infertilitas), vasektomi berhasil
dan apakah reversal (menyambung kembali) vasektomi berhasil.3
Sebelum dilakukan pengambilan sampel sperma (semen) harus melakukan abstinen/tidak
mengeluarkan sperma/ ejakulasi 2 - 5 hari sebelumnya. Hal ini bertujuan agar sperma dalam
kondisi paling baik. Jangan kelamaan, karena jika sampai 1-2 minggu maka justru sperma jadi
kurang aktif. Di samping itu juga harus menghindari konsumsi alkohol. 3
Jika sampel diambil dirumah, maka sudah harus sampai di lab dalam waktu satu jam. Hindari
sampel dari terkena sinar matahari langsung dan jangan terlalu panas/terlalu dingin. Jika udara
dingin. simpan wadah penampungnya menempel di tubuh(dalam kantung jaket dll agar hangat).
Jangan masukkan kedalam lemari es. Agar hasil pemeriksaan lebih baik, dilakukan analisa 2-3
kali dengan hari yang berbeda dalam waktu 3 bulan. 3

Volume

Waktu
mencair

Jumlah
sperma

Bnetuk
sperma

Normal:

minmal 2 mL - 6,5 mL per ejakulasi

Abnorm
al:

Volume yang rendah atau bahkan yang berlebih dapat


menyebabkan masalah kesuburan

Normal:

Kurang dari 60 menit

Abnorm
al:

Masa mencair yang lama bisa merupakan tanda


infeksi.

Normal:

20150 juta per mL

Abnorm
al:

Jumlah yang rendah kadang masih bisa menghasilkan


keturunan secara normal.

Normal:

Minimal 70% memiliki bentuk dan struktur normal.

Abnorm
al:

Sperma yang gak normal bentuknya kurang daru 15


% disebut Teratozoopsermia. Ini juga mempersulit
5

kehamilan.
Gerakan
sperma

pH

Normal:

Minimal 60% sperma bergerak maju ke depan atau


minimal 8 juta sperma per-mL bergerak normal maju
ke depan.

Abnorm
al:

Jika sebagian besar geraknya tidak normal akan


menyebabkan masalah fertilitas.

Normal:

Semen pH of 7.18.0

Abnorm
al:

An abnormally high or low semen pH can kill sperm or


affect their ability to move or to penetrate an egg.

Sel darah Normal:


putih

Kadar
fruktosa

Tidak ada sel darah putih atau bakteri.

Abnorm
al:

Bakteri dan sel darah putih yg banyak menunjukkan


adanya infeksi.

Normal:

300 mg per 100 mL ejakulat

Abnorm
al:

Tidak adanya fruktosa memperlihatkan tidak adanya


veikuls seminalis atau blokade pada organ ini.

Faktor2 yang bisa mempengaruhi akurasi pemeriksaan : 3

Obat2an (Cimetidine, sulfasalazine, nitrofurantoin)

Kafein, alkohol, kokain, marijuana, dan merokok.

Herbal seperti dosis tinggi echinacea.

Sampel dingin/panas.
6

Terkena radiasi .

Tidak terkumpul sempurna (terbaik dengan masturbasi).

Pengujian Gen
Untuk melakukan pengujian genetika, pertama-pertama DNA harus diisolasi dulu dari salah
satu sel.DNA relative stabil dan bisa diperoleh dari setiap sel hidup dengan sebuah nucleus.
Jenis sel yang digunakan adalah sel darah putih kerana mudah diperoleh dari sampel
darah.Dalam kasus lain bisa digunakan sel janin atau sel sumsum tulang. 4-5
Analisis Kromosom
Analisis kromosom (karyotyping) dilakukan untuk mencari kerusakan pada sebuah
kromososm dari gen tertentu. Paling sering digunakan untuk mengevaluasiDNA dari
pasangan yang memiliki riwayat keguguran atau mendeteksi adanya keabnormalan pada
janin. Biasanya, analisis kromososm dilakukan dari beberapa sel untuk mencegah kesalahan
yang mungkin terjadi akibat adanya pertumbuhan sel yang abnormal setelah dikeluarkan dari
tubuh. 4-5

Analisis DNA
AnalisisDNA paling sering dilakukan untuk memeriksa gangguan gen tunggal seperti fibrosis
sistik dan hemophilia. SesudahDNA diisolasi dari sampel sel, dengan enzim pemotong yang
bekerja seperti gunting molekul,DNA dipotong menjadi 4-8 frgamen dasar Salah satu teknik
7

laboratorium untuk menemukan berbagai gen atau mutasi genetic adalah teknik PCR
(polymerase chain reaction).Dengan PCR, DNA dalam jumlah sangat kecil pun mampu
diproduksi ulang dalam tabung tes. PCR juga digunakan untuk menggandakan DNA dari sel
tunggal. 4-5
Analisis Protein
Dalam beberapa kasus, secara tidak lansung perubahan DNA bisa terdeteksi melalui ada tidaknya
produk gen (yaitu protein atau enzim) dalam sampel sel tubuh, biasanya dari darah, air seni, atau
cairan ketuban atau sel. Contohnya, PKU (phenylketonuria) merupakan gangguan autusom
resesif yang langka yang disebabkan oleh hilangnya sebuah enzim (hidroksilase fenilalanin). 4-5
Manfaat tes genetika
i. Skrining pada bayi baru lahir
ii. Menguji para pembawa (carrier)
iii. Pemeriksaan diagnostic pralahir
iv. Pemeriksaan prediksi ; mengidentifikasi perubahan gen yang bisa menimbulkan penyakit
v. Memperkuat sesuatu diagnosis
PEMERIKSAAN HORMONAL
Sintesa hormone steroid seks diproduksi terutama oleh gonad dan diatur oleh dua jenis hormone
gonadotrofik yang dihasilkan oleh adenohipofise. Secara garis besar terdapat tiga hirarki
hormonal yang berperan saat pubertas pada manusia yaitu (1) Gonadotopin-releasing hormone
(GnRH) yang dihasilkan oleh hipotalamus, (2)Follicle-stimulating hormone (FSH) dan
Luteinizing hormone (LH) yang dihasilkan oleh hipofisis anterior sebagai respons atas GnRH,
dan (3) Estrogen, testosteron dan progesteron yang dihasilkan oleh ovarium atau testis sebagai
respons atasFSH dan LH. 4-5

Pemeriksaan LH danFSH
Tujuan pemeriksaanFSH dan Lh adalah untuk melihat fungsi sekresi hormone yang dikeluarkan
oleh hipotalamus dan mekanisme fisiologis umpan balik dari organ target yaitu testis dan
ovarium. KadarFSH akan meningkat pada hipogonadism, pubertas prekoksm menopause,
kegagalan diferensiasi testis, orchitis, seminoma, acromegali, sindrom Turner. Serta menurun
8

pada keadaan insufisiensi hipotalamus, disfungsi gonad, anovulasi, insufisiensi hipofise dan
tumor ovarium. Sekresi LH danFSH dikontrol oleh GnRH yang merupakan pusat kontrol untuk
basal gonadotropin, masa ovulasi dan onset pubertas pada masing-masing individu. 4-5
Estrogen
Kadar estrogen meningkat pada keadaan ovulasi, kehamilan, pubertas prekoks, ginekomastia,
atropi testis, tumor ovarium, dan tumor adrenal, kadarnya menurun pada keadaan menopause,
disfungsi ovarium, infertilitas, sindroma Turner, amenorea akibat hipopituitari, anoreksia
nervosa, keadaan stress dan sindroma testicular feminisasi pada wanita. 4-5
Testosterone
Testosteron adalah hormon steroid dari kelompok androgen. Penghasil utama testosteron adalah
testis pada jantan dan indung telur (ovari) pada betina, walaupun sejumlah kecil hormon ini juga
dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Hormon ini merupakan hormon seks jantan utama dan
merupakan steroid anabolik. Kadar androgen meningkat pada hirsustisme, amenorea
hipotalamus, dan tumor sel Sertoli.Dan menurun pada andropause, sindrom Klinefelter, aplasia
sel Leydig dan criptorchidism.4-5

Working Diagnosis
Sindrom ini pertama kali diidentifikasi dan dijelaskan oleh HarryFitch Klinefelter, Jr,
seorang dokter Amerika. Pada tahun 1942, Klinefelter dkk menerbitkan laporan tentang 9 lakilaki yang memiliki payudara membesar, rambut wajah dan tubuh jarang, testis kecil, dan
ketidakmampuan untuk menghasilkan sperma. Pada tahun 1959, penderita sindrom Klinefelter
ini ditemukan memiliki kromosom seks ekstra (genotipe XXY) daripada kromosom laki-laki
biasa (genotipe XY). 6,7
Meskipun semua pria dengan sindrom Klinefelter memiliki kromosom X tambahan, tidak
semua laki-laki XXY memiliki semua gejala. Karena tidak semua laki-laki dengan pola XXY
memiliki semua gejala sindrom Klinefelter, biasanya istilah XXY male digunakan untuk
menggambarkan penderita sindrom ini, atau kondisi XXY untuk menggambarkan gejala. 6,7
Manifestasi klinis

Infertilitas dan ginekomastia adalah dua gejala yang paling umum yang membantu diagnosis
pada pasien dengan sindrom Klinefelter. Gejala lain termasuk kelelahan, kelemahan, disfungsi
ereksi, osteoporosis, gangguan bahasa, kesulitan akademik, subnormal libido, kurang percaya
diri, dan masalah perilaku. 6,7
1. Pertumbuhan
Bayi dan anak-anak mencapai ketinggian, berat badan, dan lingkar kepala yang normal. Sekitar
25% memiliki clinodactyly. Kecepatan tinggi meningkat pada usia 5 tahun, dan orang dewasa
dengan sindrom Klinefelter biasanya lebih tinggi dari orang dewasa normal. Penderita juga
memiliki lengan dan kaki panjang yang tidak proporsional. Beberapa individu dengan varian,
Klinefelter 49XXXXY memiliki perawakan pendek 6,7
2. SSP
Berbeda dengan sindrom genetik lain yang timbul dari trisomi kromosom (misalnya,
sindromDown, trisomi 18), kemampuan kognitif umum pasien tidak dalam kisaran cacat
intelektual.
Kebanyakan laki-laki dengan kariotipe 47 XXY memiliki kecerdasan normal. Latar belakang
keluarga mempengaruhi skor intelligence quotient (IQ). Kecerdasan subnormal atau retardasi
mental dapat dikaitkan dengan kehadiran kromosom X yang lebih banyak. Sekitar 70% dari
pasien memiliki cacat perkembangan dan belajar minor. Ini mungkin termasuk kesulitan
akademik, penguasaan bahasa dan berbicara terlambat, berkurangnya memori jangka panjang,
penurunan keterampilan pengambilan data, kesulitan membaca, dyslexia, dan attention deficit
disorder . 6,7
Pasien mungkin menunjukkan masalah perilaku dan psikologis. Hal ini mungkin karena sangat
kurang percaya diri dan pengembangan psikososial atau menurunnya kemampuan untuk
mengatasi stres.
Gangguan kejiwaan melibatkan ansietas, depresi, neurosis, dan psikosis lebih umum di grup ini
daripada di populasi umum. 6,7
3. Dental
Sekitar 40% dari pasien memiliki taurodontism, yang dicirikan oleh pembesaran gigi geraham
dengan perpanjangan pulpa. Tingkat insiden adalah sekitar 1% pada laki-laki sehat.
10

4. Karakteristik Seksual
Pasien mungkin kurang karakteristik seksual sekunder karena penurunan produksi androgen. Hal
ini menyebabkan rambut pada tubuh, wajah dan seksual jarang, high pitched voice, dan distribusi
lemak seperti wanita. 6,7
Pada akhir pubertas, 30-50% pasien hadir dengan gynecomastia, yang disebabkan oleh
peningkatan kadar estradiol dan rasio estradiol/testosteron meningkat. Risiko mendapat
karsinoma payudara minimal 20 kali lebih tinggi dari pada individu sehat. Pasien postpubertal
mungkin memiliki disgenesis testis (testis kecil, ukuran testis, <10 mL). 6,7
Infertilitas, azoospermia, atau keduanya mungkin akibat dari atrofi tubulus seminiferus. Hampir
semua individu dengan kariotipe 47 XXY infertil. Pasien dengan mosaicism sindrom Klinefelter
(46 XY/47 XXY) dapat fertil. 6,7
Pasien mungkin memiliki peningkatan frekuensi tumor sel germ extragonadal seperti karsinoma
embrional, teratoma, dan tumor sel germ mediastinum primer.
Meskipun kelainan kelamin tidak umum diamati pada pasien dengan sindrom Klinefelter, proses
asosiasi ini penting untuk diperhatikan karena sindrom Klinefelter merupakan salah satu
penyebab kelainan atau ambiguitas kelamin.Fenotipe ini meliputi kebalikan seks lengkap, true
hemaphroditism

(misalnya,

ovotestes),

testicular

feminization,

ambigu

alat

kelamin/

undervirilization (misalnya, hipospadia , mikropenis, epispadia, genitalia eksternal perempuan),


dan kelainan alat kelamin ringan. 6,7

Varian Klinefelter
1. 48, XXYY varian: Pasien biasanya memiliki keterbelakangan mental ringan,
perawakannya tinggi; eunuchoid body habitus ; rambut tubuh jarang, gynecomastia, kaki
panjang dan kurus; hipogonadisme hipergonadotropik, dan testis kecil.
2. 48, XXXY varian: Pasien biasanya memiliki keterbelakangan mental ringan sampai
sedang, keterlambatan bicara, perkembangan motorik lambat, koordinasi yang buruk,
perilaku belum matang, perawakannya normal atau tinggi, wajah abnormal (lipatan
epicanthal, hypertelorism, bibir menonjol), hipogonadisme, ginekomastia ( 33-50%),
hipoplasia penis, infertilitas, clinodactyly, dan radioulnar synostosis dan mempunyai
manfaat dari terapi testosteron.
11

3. 49, XXXYY: Pasien biasanya memiliki keterbelakangan mental sedang sampai parah,
perilaku pasif tetapi kadang-kadang agresif dan mudah marah, perawakannya tinggi, fitur
wajah dismorfik, ginekomastia, dan hipogonadisme.
4. 49,XXXXY varian: Triad klasik adalah keterbelakangan mental ringan sampai sedang,
synostosis radioulnar, dan hipogonadisme hipergonadotropik.Fitur klinis lainnya
termasuk gangguan bahasa parah, masalah perilaku, berat lahir rendah, perawakan
pendek pada beberapa individu, wajah abnormal (muka bulat pada masa bayi, fitur kasar
pada usia yang lebih tua, hypertelorism, lipatan epicanthal, prognathism), leher pendek
atau lebar, ginekomastia (jarang ), cacat jantung bawaan ( patent ductus arteriosus adalah
yang paling umum), anomali tulang (valgus genu, pes cavus, jari kelima clinodactyly),
hypotonia otot, sendi hyperextensible, alat kelamin hipoplasia, dan kriptorkismus. Testis
berukuran seperti kacang pea, cirri seks sekunder seperti infant. 6,7
Differensial Diagnosis
1. Sindrome XX male
Sindrom XX male adalah suatu kondisi di mana kromosom seks individu tidak
sesuai dengan jenis kelamin fisik orang yang terkena. Secara normal, terdapat 46
kromosom, atau 23 pasang kromosom, di setiap sel. 22 pasang yang pertama adalah sama
pada pria dan wanita. Pasangan terakhir, kromosom seks, adalah dua kromosom X pada
wanita (XX) dan X dan kromosom Y pada laki-laki (XY). Pada sindrom XX male,
penderita mempunyai kromosom wanita tetapi cirri-ciri fisik laki-laki. Sebagian besar
penderita dengan sindrom XX male memiliki gen SRY ( yang secara normal melekat di
kromosom Y ) yang melekat pada salah satu kromosom X mereka. Sisanya dari individuindividu dengan sindrom XX male tidak memiliki SRY . Oleh karena itu, gen lain pada
kromosom lain yang berperan dalam menentukan fitur fisik mereka. Pada sindrom XX
male yang disebabkan oleh gen SRY, translokasi antara kromosom X dan kromosom Y
menyebabkan terjadinya kondisi tersebut. Translokasi terjadi bila bagian dari satu
kromosom terpisah dan bertukar tempat dengan bagian kromosom yang lain. Pada
sindrom XX male, ujung kromosom Y yang mengandung SRY di translokasi ke
kromosom X. Akibatnya, embrio dengan kromosom XX dengan gen SRY translokasi
akan mempunyai karakteristik fisik dari laki-laki.4,8,9

12

Sindrom XX male terjadi pada sekitar 1 : 20.000 hingga 1 : 25.000 individu.


Sebagian besar, sekitar 90%, mempunyai SRY terdeteksi dalam sel mereka. 10% sisanya
adalah SRY negative. Sindrom XX male dapat terjadi dalam berbagai latar belakang etnis
dan biasanya terjadi sebagai peristiwa sporadis, tidak diwarisi dari ibu dan ayah. Pria
dengan sindrom XX male dan SRY positif terlihat seperti laki-laki. Mereka memiliki fitur
fisik laki-laki termasuk tubuh, alat kelamin, dan testis. Semua laki-laki sindrom XX male
adalah infertile (tidak dapat memiliki anak kandung) karena mereka tidak memiliki gen
lain pada kromosom Y yang terlibat produksi sperma. Pria dengan sindrom XX male
biasanya lebih pendek daripada rata-rata laki-laki, karena mereka tidak memiliki gen
tertentu pada kromosom Y yang terlibat dalam ketinggian. 4,8,9
Individu-individu dengan 46XX hadir dengan kondisi yang mirip dengan
Klinefelter, seperti testis kecil dan panjang kaki yang abnormal. Pada pasien XX male
yang SRY negatif, kebanyakannya menderita hipospadia dan kriptokismus ( undescenden
testis ). Kadang-kadang memiliki beberapa organ wanita seperti rahim dan saluran tuba.
Mereka juga dapat menderita gynecomastia , atau perkembangan payudara selama
pubertas , dan pubertas juga bisa tertunda. Mereka tidak subur dan lebih pendek dari ratarata . 4,8,9
Sebagian kecil penderita sindrom XX male dengan SRY negatif merupakan
hermafrodit sejati ( true hermaphrodite ) . Ini berarti mereka mempunyai jaringan testis
dan ovarium pada gonad mereka. Mereka biasanya dilahirkan dengan alat kelamin
ambigu , dimana alat kelamin bayi memiliki kedua karakteristik laki-laki dan perempuan.
Sindrom XX laki-laki dan hermafrodit sejati dapat terjadi dalam keluarga yang sama,
menunjukkan adanya kelainan genetic yang terjadi pada kedua-duanya
Diagnosis :
Untuk penderita dengan sindrom XX male yang memiliki alat kelamin ambigu ,
hipospadia , dan / atau testis tidak turun , diagnosis dicurigai saat lahir . Untuk penderita
sindrom XX male yang mempunyai fitur laki-laki normal, diagnosis dapat dicurigai
sewaktu pubertas ketika perkembangan payudara terjadi. Banyak pria tidak tahu bahwa
mereka memiliki sindrom XX male sampai mereka mencoba untuk memiliki anak
mereka sendiri, tetapi tidak mampu untuk melakukannya, dan oleh karena itu dievaluasi
13

untuk infertilitas . Bila kondisi ini diduga dalam laki-laki, pemeriksaan kromosom dapat
dilakukan pada sampel kecil jaringan seperti darah atau kulit. Hasil penelitian
menunjukkan kromosom seks yang normal, atau kromosom XX. Selanjutnya tes genetik
tersedia dan diperlukan untuk menentukan apakah gen SRY ada. 4,8,9
Beberapa individu yang terkena memiliki SRY yang ditemukan dalam jaringan testis,
tetapi tidak dalam sel darah mereka. Ini disebut mosaicism . Kebanyakan laki-laki hanya
menguji SRY dalam darah dan bukan jaringan testis mereka. Oleh karena itu, beberapa
orang yang berpikir bahwa mereka adalah penderita sindrom XX male yang SRY nya
negative, tetapi sebenarnya merupakan mosaik dan mempunyai gen SRY dalam gonad
mereka.
2. Hipogonadism
Hipogonadisme pada pria adalah suatu kondisi yang hasil dari ketidakmampuan testis
untuk menghasilkan hormon seks testosteron, sperma atau keduanya. Sebagai bagian dari
sistem reproduksi mereka, laki-laki memiliki organ genital eksternal yang disebut testis. Jika
testis menghasilkan testosteron terlalu sedikit, maka baik pertumbuhan organ seksual atau
fungsi mereka terganggu. Hormon ini juga memainkan peran penting dalam pengembangan
dan pemeliharaan khas karakteristik fisik maskulin. 4,8,9
Hipogonadisme pada laki-laki terbagi atas dua, yaitu hipogonadisme primer dan
sekunder. Hipogonadisme primer yang juga dikenal sebagai kegagalan testis primer, berasal
dari kelainan di testis. Penyebab umum dari hipogonadisme primer termasuk sindrom
Klinefelter, kelainan bawaan dari seks kromosom X dan Y, kriptokismus ( undescended testis
), hemochromatosis, akibat dari terlalu banyak zat besi dalam darah, cedera pada testis,
operasi hernia sebelumnya, pengobatan kanker dan proses penuaan. 4,8,9
Hipogonadisme sekunder disebabkan oleh gangguan pada kelenjar pituitari yang
terhubung ke otak dan berperan dalam mengontrol produksi hormon. Jika pesan kimiawi dari
kelenjar pituitari ke testis tidak dikirim, akan terjadi gangguan fungsi testis. Kondisi ini bisa
terjadi akibat dari cacat pada perkembangan kelenjar pituitari, penyakit radang tertentu, dan
penggunaan obat-obatan tertentu yang digunakan dalam pengobatan gangguan kejiwaan dan
penyakit gastroesophageal reflux. 4,8,9

14

Gejala :Efek dari hipogonadisme terutama ditentukan oleh tahap kehidupan di mana ia
terjadi. Jika gonad menghasilkan terlalu sedikit hormon selama perkembangan awal janin,
pertumbuhan atau fungsi organ seks eksternal dan internal mungkin terganggu. Hal ini dapat
menyebabkan kondisi di mana jenis kelamin anak tidak jelas dengan pemeriksaan luar pada
saat lahir. Selama pubertas, gejala hipogonadisme memperlambat pertumbuhan dan
mempengaruhi perkembangan normal.Perubahan fisik dapat mencakup menurunnya
perkembangan massa otot, kurangnya pendalaman suara, gangguan dari pertumbuhan testis,
penis dan rambut tubuh, serta terjadinya pembesaran dari payudara ( ginekomastia ). Gejala
umum lainnya termasuk fisikal yang tinggi dan proporsi tubuh yang abnormal. Pada orang
dewasa, hipogonadisme dapat mengakibatkan disfungsi ereksi, ketidaksuburan, penurunan
pertumbuhan rambut tubuh dan janggut, peningkatan lemak tubuh, pengembangan jaringan
payudara dan penurunan ukuran atau ketegasan dari testis, otot dan massa tulang
(osteoporosis). 4,8,9
Perubahan mental dan emosional juga dapat terjadi pada hipogonadisme. Apabila kadar
testosteron menurun, sebagian pria mungkin mengalami tanda-tanda dan gejala yang mirip
dengan gejala menopause pada wanita. Ini termasuk hot flashes, penurunan dorongan
seksual, iritabilitas, depresi dan kelelahan.
Diagnosis :
Deteksi dini pada anak laki-laki dapat membantu mencegah pubertas tertunda, dan pria
dewasa akan lebih terlindungi terhadap osteoporosis dan kondisi terkait lainnya. Oleh karena
itu, penting untuk melakukan pengujian hipogonadisme jika ada gejala yang hadir. Untuk
mengevaluasi hipogonadisme, pengujian dilakukan di pagi hari, karena biasanya kadar
testosteron paling tinggi di pagi hari. Jika tes konfirmasi kadar testosteron rendah, pengujian
laboratorium lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengetahui apakah adanya gangguan testis.
Studi ini dapat mencakup pengujian hormon, analisis air mani, pencitraan hipofisis, studi
genetik dan biopsi testis. 4,8,9
Etiologi
Kromosom seks tambahan pada pria dengan hasil sindrom Klinefelter dari non-disjungsi
selama meiosis dan mungkin berasal dari ayah(40 sampai 50%), atau ibu(50 sampai 60%). Ini
kontras dengan sindrom Down, yang disebabkan terutama oleh nondisjunction ibu dan pusaka
15

ekstra kromosom 21 dari ibu. Meskipun sindrom Klinefelter meliputi konsekuensi klinis tertentu
yang dapat diamati pada pria dengan kariotipe XXY, ada varian kariotipe yang dapat mencakup
kromosom X tambahan (misalnya, XXXY, XXXXY) atau X tambahan dan kromosom Y
(misalnya, xxyy). Pria dengan kariotipe ini memiliki fenotipe yang sama tetapi sering lebih parah
dibandingkan dengan mereka dengan kariotipe XXY. 9
Manifestasi fisik dari sindrom Klinefelter relatif moderat dibandingkan dengan trisomi
autosom (misalnya, sindrom Down) karena ketika kromosom X tambahan yang hadir, satu
didominasi dilemahkan. Namun, kromosom X seluruh tidak aktif. Karena jumlah kromosom X
meningkat, tingkat keparahan fenotipik meningkat juga. Akibatnya, perkembangan kognitif dan
gonad

terganggu,

dan

manifestasi

kardiovaskuler

dan

tulang

sering

hadir.

Mosaicism terjadi pada 15 persen pria dengan kromosom X tambahan dan umumnya
menghasilkan fenotipe lebih ringan. Ketika mosaicism terjadi, sel-sel dengan dua atau lebih
kariotipe didistribusikan. Paling sering, sejumlah kromosom yang normal (46, XY) diidentifikasi
dalam sel-sel dari sampel yang juga mengandung sel-sel hyperdiploid (yaitu, sebuah Klinefelter
atau Klinefelter varian kariotipe). Dalam venipuncture standar, bagaimanapun, rasio normal
untuk sel darah putih hyperdiploid tidak mencerminkan semua jaringan, dan tingkat keparahan
fenotipik tidak dapat diantisipasi. 9
EPIDEMIOLOGI
Sekitar satu dari 1.000 anak laki-laki lahir dengan kromosom X tambahan-47, XXY, kariotipe
yang menyebabkan Klinefelter syndrome. Kariotip ini dideteksi pada atau sebelum kelahiran
dalam 10 persen anak laki-laki yang menderita sindrom Klinefelter, dan ditemukan pada 25%
orang dewasa yang mengelami kelainan ini.Dulu dikatakan bahwa hampir semua lelaki dengan
kariotip 47,XXY akan infertile. 9
Sindrom Klinefelter terhitung 3% menjadi penyebab infertiltas pada pria dengan oligospermia
atau azoospremia (5-10 persen). Secara umum, berat ringannnya malformasi pada Sindrom
Klinefelter tergantung jumlah kromosom X. Retardasi mental dan hipogonadisme lebih berat
pada pasien dengan kariotip 49,XXXXY dibandingkan dengan 48,XXXY. 9

16

Patofisiologi
Sindrom Klinefelter yang mempunyai karyotipe 47, XXY terjadi bila pasangan kromosom gagal
untuk terpisah, yaitu terjadi non-disjunction pada miosis I atau II, sewaktu proses
spermatogenesis atau oogenesis. Sekitar 10 % pasien Klinefelter merupakan tipe mosaicicm,
yaitu non-disjunction yang terjadi setelah fertilisasi terjadi ( post fertilization nondisjunction ).
Pasien dengan mosaicism biasanya mempunyai gejala klinis yang lebih ringan dan jarang
terdeteksi. Kehamilan usia lanjut serta usia bapa berperan dalam meningkatkan insidens Sindrom
Klinefelter. 7,10-1
Kromosom X mengandung gen yang berperan dalam pelbagai fungsi system tubuh termasuk
fungsi testis, perkembangan otak dan pertumbuhan. Penderita Klinefelter biasanya infertile
disebabkan kegagalan testicular primer. Penderita biasanya mempunyai kadar testosterone serum
yang rendah, kadar LH danFSH yang tinggi serta peningkatan kadar estradiol. Mereka biasanya
rentan terhadap penyakit auto-imun, diabetes, ulkus di kaki, osteoporosis, tumor ( payudaya ),
dan risiko mortalitas tinggi. Tidak diketahui sama ada peningkatan morbiditas disebabkan oleh
hipogonadisme dan hiperestrogenisme atau disebabkan fungsi kromosom X yang abnormal.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat diasumsi bahwa penderita sindrom Klinefelter
sewaktu dilahirkan adalah spermatogonia. Bagaimanapun, pada awal pubertas, spermatogonia
tersebut melalui apoptosis massif. Tiga mekanisme yang dikatakan menyebabkan kegagalan
spermatogenesis pada penderita sindrom Klinefelter : imbalance hormone intratesticular,
disfungsi sel Sertoli dan defek pada pembaruan spermatogonial stem cell. Penurunan kadar
testosterone dan peningkatan kadar estradiol merupakan symptom khas pada sindrom ini. Pada
kebanyakan pria, peningkatan kadar LH danFSH terjadi seawal usia pubertas. Hiperestrogenisme
sering terlihat pada penderita sindrom ini, dengan disertai peningkatan rasio estrogen-testosteron
dan perlambatan dari peningkatan kadar testosterone sewaktu pubertas yang berperan terhadap
karakteristik ginekomastia dan proporsi badan. 7,10-1
Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan ini adalah agar penderita sindrom Klinefelter dapat melakukan fungsi
reproduksi. Kebanyakan lelaki datang ke dokter dengan keluhan infertilitas dan mencari
pengobatan intervensi terutama ekstraksi sperma testicular (TESE) mikrobedah dengan fertilisasi
17

in vitro (IVF). Penanganan kelainan ini ditujukan pada 3 hal, yaitu; hipogonadisme,
ginekomastia, dan masalah psikososial. 12
Androgen replacement
Penggantian obat androgen Berbagai varian dan rute dapat mengobati defisiensi androgen.
Metiltestosteron, oxymetholone, dan fluoxymesterone dapat diberikan sublingually atau secara
oral, tetapi memiliki kelemahan seperti penyerapan tak menentu dan potensi untuk ikterus
kolestasis dan kurang efektif dibandingkan persiapan intramuskular. 12
Testosteron propionat short-acting: pengobatan Testosteron Enanthate dan cyclopentyl
propionate diberikan intramuskuler dan dapat menyebabkan virilisasi. Patch transdermal
testosteron normal menyerupai fluktuasi diurnal. Terapi merupakan kontraindikasi pada remaja
sebelum fusi epifisis dan pada pasien dengan kanker prostat. 12
Terapi Androgen
Pemberian testosteron (testosterone replacement) harus dimulai pada saat pubertas, sekitar
umur 12 tahun.Dosisnya ditingkatkan sampai cukup untuk mempertahankan konsentrasi
testosteron, estradiol, follicle-stimulating hormone (FSH), danL uteinizing Hormon (LH) dalam
serum sesuai umur. 12
Injeksi testosteron secara teratur dapat memacu kekuatan otot dan pertumbuhan rambut wajah,
membuat lebih banyak otot tubuh, meningkatkan nafsu seksual, memperbesar testis,
memperbaiki mood,dan perilaku dan memberikan perlindungan terhadap osteoporosis dini.
Androgen eksogen (testoteron) merupakan terapi pilihan untuk sindrom Klinefelter. Biasanya
dalam bentuk testosterone enantat (Delatestryl) atau cypionate (depo-testosteron). 12
Dosis dewasa : 200 mg IM 4 kali dalam 2-3 minggu. Dosis anak : dimulai pada usia 11- 12
tahun, 50 mg 4 kali/bulan.Dosis ditingkatkan pertahun menurut keadaan pasien, tingkat virilisasi,
pertumbuhan, kadar gonadotropin serum, sampai mencapai dosis orang dewasa.12

Infertilitas
Ada penelitian yang menemukan bahwa sindrom Klinefelter merupakan penyebab 97%
kemandulan pada laki laki. Oleh karena itu setiap usaha seharusnya dilakukan untuk memelihara
18

kesuburan pada anak-anak yang didiagnosa dengan sindrom Klinefelter. Kehilangan


sespermatogonia pada laki laki sindrom Klinefelter terjadi secara progresif. Beberapa teknik baru
seperti xenografting testis dan transplantasi stem sel spermatogonia sedang diteliti. Ada juga
program yang bertujuan untuk maturasi spermatogonia dari anak laki-laki yang menderita
sindrom Klinefelter. Waktu yang optimal untuk biopsi testis adalah ketika spermatogenesis
sedang berlangsung menuju tahap penyelesaian dan sperma yang bergerak dapat diambil.
Biasanya dilakukan pada pria yang tidak bisa ejakulasi atau tidak ada sperma dalam ejakulatnya.
Saat ini ada yang menggunakan USG skrotum dan spektroskopi MRI untuk pasien dewasa untuk
menentukan waktu yang optimal untuk biopsi testis.13
Microsurgery Testicular Sperm Extraction (Micro TESE)
Proses intracytoplasmic sperm injection ( ICS I)
Lebih dari 60 anak telah lahir setelah keberhasilan injeksi sperma intra sitoplasmik (ICSI) pada
pasangan dimana prianya menderita sindrom Klinefelter. Hanya sedikit pria dengan sindrom
Klinefelter yang memiliki sperma hidup dalam ejakulat mereka dan mampu menghasilkan
sperma untuk kriopreservasi pada kehamilan selanjutnya. 13
Terapi Okupasi dan Fisik
Terapi fisik harus direkomendasikan pada anak laki-laki yang mengalami hipotonia atau
keterlambatan kemampuan motorik yang mempengaruhi tonus otot, keseimbangan, dan
kordinasi. Terapi okupasional dianjurkan pada anak laki-laki yang mengalami dispraksia
motorik. 13
Konseling Genetika Reproduksi
Pasien dengan kariotip 47,XXY nonmosaik telah berhasil ditolong dalam hal reproduksi
sehingga dapat menghasilkan keturunan. Namun terdapat resiko genetic pada anak yang
dilahirkan. Resiko genetik pada keturunan pasien dengan kariotip 47,XXY masih belum
diketahui dan diasumsikan rendah. Resiko ini terkait dengan kromosom seks dan aneuploidi
autosomal. Konseling ini masih cukup sulit. Namun pada penelitian lanjut di dapati bahawa
penyakit ini tidak di turunkan karena hal ini terjadi akibat kesalahan kromosom setelah di buahi
yang di mana tidak terjadi non disjunction13

19

Bedah
Ketika memasuki masa puber, banyak anak laki-laki yang mengalami pembesaran payudara
namun cenderung menghilang dalam waktu yang singkat. Hanya sekitar 10% pria XXY yang
memerlukan mastektomi. Mastektomi diindikasikan pada ginekomastia yang menimbulkan
tekanan psikologis pada pasien dan meningkatkan resiko kanker payudara. 13

Pencegahan
Sehingga kini di dapati langkah yang terbaik dalam menangani masalah ini adalah dengan
melakukan pemeriksaan antenalcare yang dini. Ini adalah karena sebarang kemungkinan yang
bakal terjadi kelak pada anak yang bakal di lahirkan kondisinya dapat di ketahui dengan segera
yang mungkin. Terdapat teknis seperti amniosintesis dan cytogenic amniotic fluid 13

Prognosis
Ad bonam, karena Sindrom Klinefelter merupakan kelainan genetik, sehingga tidak dapat
disembuhkan. Namun, prognosis sindrom Klinefelter umumnya baik, asalkan fungsi kehidupan
segera diatasi. Dengan adanya teknis yang serba kini, lelaki yang mengalami sindrom ini kini
mampu hidup sehat seperti lelaki normal yang lain juga. Namun demikian, lelaki dengan
sindrom ini umumnya selalu akan mengalami kematian akibat penyakit seperti kanker pada
payudara, osteoporosis dan penyakit autoimun seperti diabetes maupun hipotirodisme. 13

20

Kesimpulan
Sindrom Klinefelter adalah kelainan genetik pada laki-laki yang diakibatkan oleh kelebihan
kromosom X. Penderita sindrom klinefelter umumnya memiliki kromosom seks XXY. Sindrom
klinefelter terjadi karena nondisjungsi meiosis (meiotic nondisjunction) kromosom seks selama
terjadi gametogenesis (pembentukan gamet) pada salah satu orang tua.
Tanda khas yang umumnya membawa pasien syndrome klinefelter ini berobat adalah
karena infertilitas, namun dengan kemajuan teknologi, keluhan infertilitas sebagian besar
penderita sudah dapat diatasi. Bisa dirangsang dengan terapi androgen, hingga tindakan
microsurgery (TESE ICSI). Penanganan pasien sindrom Klinefelter akan lebih optimal bila
melibatkan kerja sama antara tim medis dan dukungan yang baik dari keluarga pasien.

21

Daftar Pustaka :
1

Suryo. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2005. Hal :
241,251.

Bickley L.S. Genitalia Pria dan Hernia.Dalam: Buku Saku PemeriksaanFisik & Riwayat
Kesehatan Bates Edisi ke-5. EGC. 2008.

Analisis

sperma.

Diunduh

dari

http://www.drdidispog.com/2009/06/analisis-

sperma.html. Pada 26 september 2011.


4

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Idrus Alwi, Marcellus SK, Siti Setiati. Genetik.Dalam: Buku
Ajar Ilmu PenyakitDalam Edisi Ke-4.FKUI. 2006

Paul JES, Matheny S C, Lewis E L. Genetics for family physicians .dalam: Current
diagnosis & treatment family medicine. Edisi ke-2. New York : McGrawHill; 2008. Hal :
537-40.

Braunwald E, Kasper DL, et all. Harrison's principles of Internal Medicine. Edisi ke-

17.New York : McGrawHill; 2008.h.2340-1


Clarke, Cyril A. Genetika Manusia dan Kedokteran. Alih bahasa dan editor, Abdul Salam

M. Sofro. Edisi ke-3. Jakarta: Widya Medika; 2005. h.79-80


Roberts, J.A.Fraser. Genetika Kedokteran: Suatu Pengantar / J.A.Fraser Roberts, Marcus

E.Pembrey; alih bahasa, Hartono. Ed.8-. Jakarta: EGC, 2005. h.203-58


Anderson PS, Wilson MC. Sindrom Klinefelter. Patofisologi : Patofisiologi : Konsep

10

Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2005.h.27


Kumar V, Cotran RS, Stanley L. Sindrom Klinefelter. Buku Ajar Patologi Robbins. Edisi-

11

7. Jakarta: EGC;2007.h.262-3
Ince S. Konseling Genetik. Alih bahasa, H.S.M. Soeatmadji; editor, Jonatan Aswari.

12

Jakarta: Widya Medika, 2003. h.25-8


Katzung B.G. The Gonadal Hormones and Inhibitors. Dalam: Basic and Clinical

13

Pharmacology 10th Edition. McGraw Hill. 2007.


Penatalaksanaan syndrome klinefelter. Diunduh dari http: //www. scribd. com/ doc/
40525712/ sindrom-klinefelter-pbl27. pada 26 september 2011.

22