Anda di halaman 1dari 13

ZONASI RAWAN BENCANA MARIN DI PANTAI BARAT

PROPINSI SULAWESI SELATAN


Nasiah dan Suprapta
Jurusan Geografi FMIPA Universitas Negeri Makassar
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menggambarkan persebaran tingkat kerawanan bencana
marin di wilayah pantai, 2) menentukan cara-cara pengelolaan wilayah pantai yang sesuai
dengan karakteristik pantai. Penelitianini dilakukan dengan teknik purposif sampling dengan
pendekatan bentuklahan. Hasil penelitian yaitu ; Tingkat kerawanan bencana marin yang
termasuk kategori tinggi sepanjang 49,80 km (13,39 %) yang tingkat sedangsepanjang
239,88 km (64,50 %), dan tingkat rendah sepanjang 82,22 km (22,11 %). Tingkat kerawanan
bencanamarin tingkat tinggi tersebar di wilayah Kabupaten Pinrang, tingkat rendah tersebar
di wilayah KabupatenPangkajene Kepulauan dan Kabupaten Maros. Tingkat sedang tersebar
di wilayah Kabupaten Pinrang, KotaParepare, Kabupaten Barru, Kota Makassar, dan
Kabupaten Takalar. Bentuk arahan mengenai cara-cara pengelolaan Pantai Barat untuk
mengantisipasi bencana marin yaitu : tanaman tapak kambing pada wilayahbentuklahan gisik
dan beting gisik, pembudidayaan terumbu karang pada wilayah pantai beting karang,
mangrovepada wilayah rataan pasut dan muara sungai, talut/tembok pada wilayah pantai
denudasional Kata kunci : bencana marin, pantai barat, Sulawesi Selatan
I. PEMBAHASAN
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki 17.508 buah pulau yang
dihubungkan oleh laut dan selat, sehingga Indonesia termasuk Negara yang memiliki
garis pantai yang panjang, yaitu 80.791 km (Sunarto, 1999). Pantai dengan jalur lebar
bervariasi dimulai dari kedudukan muka air laut terendah meluas ke darat hingga
dipengaruhioleh aktivitas laut (Bird, 1970). Wilayah pantai di Indonesia berkembang dengan
pesat denganberbagai keperluan di antaranya sebagai daerah permukiman, penduduk,
pelabuhan,kawasan industri, perikanan, pertanian dan kawasan wisata (Sunarto, 1999).
Sekitar75% jumlah kota di Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 100 juta jiwa
terletak diwilayah pantai (Soegijoko & Kusbiantoro,1997). Hal itu menandakan pantai dan
lautan mempunyai peranan penting bagi kehidupan.Akibatnya wilayah pantai di Indonesia
banyak mengalami masalah seperti erosi, abrasi, akresi,maupun intrusi air asin yang
masing-masing wilayah memiliki tingkat kerawanan bencana.29Zonasi Rawan Bencana
Marin di Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan. Pengembangan suatu wilayah pantai
sangatperlu memperhatikan karakteristik wilayahnyayaitu
mengelolah
berdasarkan
kemampuankondisi alamnya.
Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan memiliki wilayah yang luas dan genesis
pantainya bervariasi dengan garis pantaisepanjang kurang lebih
371,90 km.
Genesiswilayah Pantai Barat Sulawesi Selatanbervariasi dari utara Pinrang dipengaruhi
olehstruktur dataran dengan proses fluviomarin,Parepare dipengaruhi kuat oleh
strukturgunungapi, Barru, Pangkep, Maros, Makassar,dan Takalar struktur dataran aluvial
denganproses fluviomarin. Oleh karena genesisnyaberlainan, maka dimungkinkan sekali

prosesalam (erosi, abrasi, sedimentasi, intrusi air asindan tsunami), serta tingkat kerawanan
bencanamarin yang berlang-sung di wilayah tersebut juga berlainan.
II. METODE PENELITIAN
Bahan yang dipergunakan dalam penelitian
ini meliputi: Peta Rupabumi skala 1:50.000,
Peta Geologi skala 1:250.000, Peta Potensi
Airtanah skala 1:250.000, Peta Tanah skala
1:500.000, Peta Penggunaan Lahan 1:100.000,
Peta Lingkungan Laut Nasional skala 1:500.000,
lembar Sulawesi Selatan. Alat yang di gunakan
yaitu; Theodolit, EC meter, kompas Geologi,
GPS, Anemometer, Fish Pinder, Abney Level,
Roll meter, Thermometer, Stopwatch, botol
Nansen (botol sampel air), layang-layang arus,
dan Camera digital, dan Kuesioner dan daftar
ceklist.
Data yang dikumpulkan dalam pene-litian ini yaitu data primer dan data sekunder.
Data primer yaitu data yang diperoleh dari
pengamatan dan pengukuran lapangan, dan
data sekunder yaitu data yang diperoleh
dari instansi terkait. Data sekunder yang
dikumpulkan meliputi ; data iklim (curah hujan,
suhu udara, kecepatan angin, dan arah angin),
data lingkungan laut, pasang surut, serta jumlah
penduduk. Untuk memperoleh data primer akan
dilakukan dengan teknik pengambilan sampel
secara purposif dengan mem-pertimbangkan
satuan bentuklahan, proses geomorfik yang
berlangsung, dan bentuk penggunaan lahan.
Data primer yang akan dikumpulkan meliputi:
bentuk pantai, tipe pantai, tipe batuan, relief

pantai, proses pantai (perubahan garis pantai,


abrasi dan akresi pantai), bangunan pantai,
gelombang (tinggi, kecepatan, dan panjang
gelom-bang), arus susur pantai (arah dan
kecepatan), arah pantai, bentuk penggunaan
lahan, dan kondisi penduduk (data demografi,
meliputi luas wilayah, jumlah dan kepadatan
penduduk).
Penelitian ini dilaksanakan melalui tiga
tahap yaitu tahap pra lapang, tahap kerja
Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran
31Zonasi Rawan Bencana Marin di Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
Jurnal Geografi, Vol. 3 No. 1 / Januari 2010
Hidrodinamik
Morfodinamik
Ekodinamik
Geodinamik
Bencana
Intrusi air laut
Bentuklahan
Tingkat kerawanan bencana marin
Tingkat kepentingan
Cara Pengelolaan
wilayah pantai
- Kepadatan penduduk
- Penggunaan lahan
Erosi
Abrasi Sedimentasi
Abrasi
Tsunami

Morfologi pantai
Material pantai
Proses geomorfik
Struktur geologi
Kronologi
lapang, dan tahap pasca lapang. Pada tahap
pra lapangan dilakukan Studi kepustakaan
yang relevan, hasil-hasil penelitian yang
terdahulu, majalah-majalah, brosur-brosur
yang ada kaitannya dengan objek peneli-tian.
Mengurus izin penelitian dan orientasi lapang
untuk mengetahui gambaran secara umum.
Mengumpulkan bahan dan alat-alat penelitian,
seperti foto udara pankromatik hitam putih,
citra SPOT 4,

peta rupabumi, peta geologi,

peta penggunaan lahan, peta tanah, data iklim


(curah hujan, suhu udara, kecepatan dan arah
angin), data lingkungan laut (pasang surut,
peta kedalaman laut / batimetrik, dan peta arus
laut). Menyiapkan peralatan dan yang akan
digunakan dalam interpretasi foto udara seperti
stereoskop cermin, plastik transparan dan spidol.
Interpretasi citra digunakan komputer dengan
program Er-Mapper. Interpretasi citra SPOT 4,
dibantu dengan peta geologi, peta rupabumi,
peta penggunaan lahan untuk membuat peta
bentuklahan. Menyusun dan menggambar
peta satuan bentuklahan tentatif. Menentukan
titik sampel secara purposif pada setiap satuan
bentuklahan.

Tahap kerja lapang dilakukan penge-cekan hasil interpretasi maupun peta yang
dikumpulkan sebelumnya; melakukan
pengamatan dan pengukuran parameter geologi,
geomorfologi, oseanografis, hidro-logis, dan
tanah; pengambilan sampel sedimen dan air
untuk kepentingan analisis laboratorium;
melakukan wawancara pada masyarakat tentang
keadaan air sumurnya, dan keadaan tentang
gempa bumi. Pengumpulan data penduduk
menggunakan data sekunder di kantor statistik.
Pada tahap pasca lapangan dilakukan
analisis sampel sedimen dan air di labora-torium;
pengolahan data primer, data sekunder dan data
laboratorium; analisis mengenai karakteristik
fisis dan non fisis di pantai; penaksiran tingkat
kerawan bencana marin didasarkan pada
penjumlahan harkat variabel bencana marin dan
tingkat kepen-tingan; dan penggambaran peta
tingkat kerawanan bencana marin serta menen-tukan cara pengelolaan wilayah pantai.
III. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
3.1 Tingkat Kerawanan Bencana Marin di
Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
Tingkat kerawanan bencana marin di Pantai
Barat Propinsi Sulawesi Selatan didasarkan
pada

hasil penjumlahan harkat karakteristik

Pantai yang terdiri atas: dinamika pantai


(abrasi/erosi dan sedimen-tasi), intrusi air asin,
rawan tsunami, tingkat kepentingan (kepadatan
penduduk dan penggunaan lahan).

Abrasi/erosi dan sedimentasi. Pada musim


angin timur di wilayah Pantai Barat sebagian
besar mengalami sedimentasi yaitu sepanjang
240,43 km (64%), dan hanya 70,59 km
(18,98%) yang mengalami abrasi/erosi. Daerah
yang terabrasi tersebar di tiga kabupaten yaitu
Kab. Pinrang, Kota Makassar, dan Takalar.
Wilayah yang mengalami sedimentasi pada
musim timur (angin timur) akan mengalami
abrasi pada musim barat (angin barat). Abrasi/
erosi yang terjadi pada musim angin timur dido-minasi oleh pengerjaan arus susur pantai
pada
wilayah aluvial pantai. Hal ini berlangsung
secara terus-menerus tiap tahun.
Sebagian besar wilayah

telah mengala-mi intrusi air asin yaitu sepanjang 208,81 km

(56,14%), dan 163,09 km (43,85%) yang tidak


mengalami intrusi. Intrusi air asin tersebar 5
kabupaten yaitu Kabupaten Barru, Pangkep,
Maros, Makassar, dan Takalar. Intrusi air asin
di Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
disebabkan oleh wilayahnya sebagian besar
adalah endapan laut dan sungai (dataran
aluvial).
Wilayah Pantai Barat Propinsi Sulawesi
Selatan yang rawan tsunami kategori 1 dan 2,
yaitu Kabupaten Pinrang, kemudian kategori
3 yaitu Kab./Kota Parepare; kategori 4 Kab.
Barru, kategori 5 yaitu Kab. Barru dan Kab.
Takalar, dan kategori 6 yaitu Pangkep, Maros,
32 Zonasi Rawan Bencana Marin di Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
Jurnal Geografi, Vol. 3 No. 1 / Januari 2010

dan Makassar, Takalar. Tingkat rawan tsunami


didasarkan pada persebaran titik-titik pusat
gempa dangkal di laut yang kedalamannya
kurang dari 70 km.
Klasifikasi rawan bencana marin Pantai
Barat didasarkan pada penjumlahan harkat
karakteristik Pantai Barat dilihat pada Tabel l,
Tabel 2, dan Gambar 2. Peta Tingkat Kerawanan
Bencana Marin Pantai Barat Propinsi Sulawesi
Selatan.
Bedasarkan Tabel 2 dan Peta Tingkat
Rawan Bencana Marin menunjukkan bahwa
tingkat rawan bencana marin tertinggi tersebar
33Zonasi Rawan Bencana Marin di Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
Jurnal Geografi, Vol. 3 No. 1 / Januari 2010
di wilayah Kabupaten Pinrang dan terendah di
wilayah Kabupaten Pangkep dan Kabupaten
Maros. Panjang pantai yang tingkat kerawanan
bencana marinnya tinggi sepanjang 49,80
km (13,39%) yang tersebar di wilayah Kab.
Pinrang. Sepanjang 239,88 km (64,50%)
tingkat kerawannya sedang tersebar di wilayah
Kab. Pinrang, Parepare, Barru, Makassar, dan
Takalar. Kabupaten Maros dan Pangkajene
Kepulauan masuk kategori rawan bencana
marin tingkat rendah sepanjang 82,22 km
(22,11 %).
Tabel 1. Karakeristik Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
No. Lokasi Dinamika
Pantai Intrusi Air Asin Rawan

Tsunami
Kepadatan
Penduduk
Penggunaan
Lahan
Kabupaten Pinrang
1 Kayuangin Seimbang Tidak ada Rawan II Rendah Permukiman
2 Ujung Baru Seimbang Tidak ada Rawan I Rendah Permukiman
3 Wakka Seimbang Sedikit Rawan I Rendah Permukiman
4 Langnga Erosi Tidak ada Rawan II Rendah Permukiman
5 Parengki Sedimentasi Sedikit Rawan III Rendah Permukiman
Kota Parepare
6 Tg.Tanrangan Sedimentasi Tidak ada Rawan III Rendah Permukiman
7 Lumpue Sedimentasi Tidak ada Rawan III Rendah Rekreasi
Kabupaten Barru
8 Lojie, Tg.Bojo Sedimentasi Sedikit Rawan IV Rendah Permukiman
9 Labuangge Sedimentasi Tidak ada Rawan IV Rendah Permukiman
10 Mangkoso Sedimentasi Tidak ada Rawan V Rendah Permukiman
11 Attapangge Sedimentasi Tidak ada Rawan V Rendah Permukiman
12 Pancana Sedimentasi Intrusi Rawan V Rendah Tambak
Kabupaten Pangkep
13 Kekeang Sedimentasi Intrusi Rawan VI Rendah Tambak dan mangrove
14 Bawa Salo Sedimentasi Intrusi Rawan VI Rendah Tambak dan mangrove
15 Kessi Kebo Sedimentasi Intrusi Rawan VI Rendah Tambak dan mangrove
Kabupaten Maros
16 Babanga Sedimentasi Intrusi Rawan VI Rendah Tambak dan mangrove
17 Kurilompo Sedimentasi Intrusi Rawan VI Rendah Tambak dan mangrove
Kota Makassar
18 Rotterdam Seimbang Intrusi Rawan VI Sedang Dermaga
19 Tanjung merdeka Seimbang Intrusi Rawan VI Tinggi Tambak

20 Pantai Aakkarena Erosi Intrusi Rawan VI Tinggi Tempat rekreasi


21 Patung Layar Seimbang Intrusi Rawan VI Rendah Tambak
22 Muara Jeneberang Erosi Intrusi Rawan VI Rendah Tempat rekreasi
23 Barombong Erosi Tidak ada Rawan VI Rendah Tempat rekreasi
Kabupaten Takalar
24 Saro Erosi Intrusi Rawan VI Rendah Rekreasi
25 TopeJawa Erosi Intrusi Rawan VI Rendah Permukiman, rekreasi
26 Punaga Sedimentasi Tidak ada Rawan V Rendah Permukiman, rekreasi
Sumber : Hasil Analisis Data Primer dan Sekunder, 2009.
Tabel 2. Klasifikasi Rawan Bencana Marin di Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
No. Lokasi Dinamika
Pantai
Intrusi
Air Asin
Rawan
Tsunami
Kepadatan
Penduduk
Penggunaan
Lahan
Jumlah
Harkat
Rawan
Bencana
Kabupaten Pinrang
1 Kayuangin 2 1 5 1 5 14 Sedang
2 Ujung Baru 2 1 6 1 5 15 Tinggi
3 Wakka 2 2 6 1 5 16 Tinggi
4 Langnga 3 1 5 1 5 15 Tinggi
5 Parengki 1 2 4 1 5 13 Sedang

Kota Parepare
6 Tg.Tanrangan 1 1 4 1 5 12 Sedang
7 Lumpue 1 1 4 1 5 12 Sedang
Kabupaten Barru
8 Lojie, Tg.Bojo 1 2 3 1 5 12 Sedang
9 Labuangge 1 1 3 1 5 11 Sedang
10 Mangkoso 1 1 2 1 5 10 Sedang
11 Attapangge 1 1 2 1 5 10 Sedang
12 Pancana 1 3 2 1 5 12 Sedang
Kabupaten Pangkep
13 Kekeang 1 3 1 1 1 7 Rendah
14 Bawa Salo 1 3 1 1 1 7 Rendah
15 Kessi Kebo 1 3 1 1 1 7 Rendah
Kabupaten Maros
16 Babanga 1 3 1 1 1 7 Rendah
17 Kurilompo 1 3 1 1 1 7 Rendah
Kota Makassar
18 Rotterdam 2 3 1 2 4 12 Sedang
19 Tanjung Merdeka 2 3 1 3 4 13 Sedang
20 Pantai Akkarena 3 3 1 3 4 14 Sedang
21 Patung Layar 2 3 1 1 4 11 Sedang
22 Muara Jeneberang 3 3 1 1 4 12 Sedang
23 Barombong 3 3 1 1 4 12 Sedang
Kabupaten Takalar
24 Saro 3 3 1 1 4 12 Sedang
25 Tope Jawa 3 3 1 1 5 13 Sedang
26 Punaga 1 1 2 1 5 10 Sedang
Sumber : Hasil Analisis Data Primer dan Sekunder, Mei 2009
34 Zonasi Rawan Bencana Marin di Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
Jurnal Geografi, Vol. 3 No. 1 / Januari 2010

35Zonasi Rawan Bencana Marin di Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan


Jurnal Geografi, Vol. 3 No. 1 / Januari 2010
Gambar 2. Peta Tingkat Kerawanan Bencana Marin Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
36 Zonasi Rawan Bencana Marin di Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan
Jurnal Geografi, Vol. 3 No. 1 / Januari 2010
3.2. Cara-Cara Pengelolan Pantai untuk
Mengantisipasi Bencana Marin
Cara pengelolaan pantai yang telah
dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk
mengantisipasi bencana marin yaitu pembuatan
talut/tembok, briker silinder, bronjong, groin, dan
tanaman mangrove. Berdasarkan karakteristik
lahan Pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan,
maka diarahkan 4 macam pengelolaan yaitu
pembudidayaan tanaman tapak kaki kambing
pada wilayah bentuklahan komplek gisik dan
beting gisik, mangrove pada muara sungai
dan rataan pasut, pembiakan terumbu karang
pada bentuk-lahan beting karang, pembuatan
tembok/ talut pada bentuklahan denudasional.
IV. KESIMPULAN DAN
REKOMENDASI
4.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat dikemukakan
dalam penelitian ini yaitu :
Tingkat kerawanan bencana marin yang 1.
termasuk kategori tinggi sepanjang 49,80
km (13,39%) yang tingkat kera-wanan
bencana marinnya sedang sepan-jang
239,88 km (64,50%). Tingkat kerawanan

bencana marin tingkat tinggi tersebar


di wilayah Kabupaten Pinrang, tingkat
kerawanannya sedang tersebar di wilayah
Kabupaten Pinrang, Parepare, Barru,
Makassar, dan Takalar. Kabupaten Maros
dan Pangkep masuk kategori rawan
bencana marin rendah sepanjang 82,22 km
(22,11%).
Cara pengelolaan pantai yang telah 2.
dilakukan pemerintah dan masyarakat
untuk mengantisipasi bencana marin yaitu
pembuatan talut/tembok, briker silinder,
bronjong, groin, dan tanaman mangrove.
Bentuk arahan cara pengelo-laan Pantai
Barat Propinsi Sulawesi Selatan untuk
mengantisipasi bencana marin yaitu
tanaman tapak kambing pada wilayah gisik
dan beting gisik, pembudidayaan terumbu
karang

wila-yah pantai beting karang,

mangrove pada wilayah rataan pasut dan


muara sungai, talut/ tembok pada wilayah
pantai denudasional.
4.2. Rekomendasi
P1. erlu melanjutkan penelitian yang lebih
detail dalam waktu yang lebih lama yang
mencakup dua musim di Pantai Barat.
Perlunya kesadaran akan pelestarian 2.
bangunan penghalang pantai baik bersifat
alami maupun buatan, seperti terumbu
karang, tanaman pantai, dinding pantai

dan bangunan lainnya, perlu dipertahankan


bahkan ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bird, E.C.F. 1970. Coast: An Introduction to
Systematic Geomorphological. The MTT
Press, Massachusetts.
Soegijoko, B.T.S., dan Kusbiantoro, B.S.
(Eds). 1997. Perencana Pembangunan Di
Indonesia. Grasindo, Jakarta.
Sunarto 1999. System Pengelolaan Wilayah
Pantai Berdasarkan Tingkat Kerawanan
Bencana Marin Di Pantai Utara Jawa
Tengah. Majalah Geografi Indonesia.
Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.