Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahirabbilalaamiin, puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat


Allah SWT, karena atas berkat limpahan rahmat, karunia dan hidayahNya-lah kami dapat
menyelesaikan makalah Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan Plasenta Previa
Selain bertujuan untuk memenuhi tugas, makalah ini juga disusun dengan maksud agar
pembaca dapat memperluas ilmu dan pengetahuan tentang bagaiamana teori tentang
plasenta previa serta asuhan kebidanannya.
Kami juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada dosen
pembimbing yang telah membimbing kami. Tak lupa pula ucapan terima kasih kami
sampaikan rekan-rekan yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini.
Kritik dan saran selalu kami harapkan demi penyempurnaan makalah selanjutnya. Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca dan dapat
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.....

Makassar , September 2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah
uterus, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Sedangkan pada
keadaan normal letak plasenta ada di bagian atas uterus.
Frekuensi plasenta previa pada primi gravida yang berumur > 35 tahun kira-kira
10 kali lebih sering dibandingkan dengan primi gravida yang berumur < 25 tahun. Pada
grande multipara yang berumur > 35 tahun kira-kira 4 kali lebih sering dibandingkan
dengan grande multipara yang berumur < 25 tahun, frekuensi plasenta previa pada primi
gravida yang berumur > 35 tahun kira-kira 2 kali lebih besar dibandingkan dengan primi
gravida yang berumur < 25 tahun pada para 3 atau lebih yang berumur < 25 tahun. Selain
menutupi jalan lahir, plasenta previa juga dapat mengakibatkan antepartum bleeding yang
dapat membahayakan ibu dan janin. Adapun etiologi dari plasenta previa itu sendiri tidak
selalu jelas dapat diterangkan, bahwasannya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan
atrofi pada desidua akibat persalinan yang lalu dapat menyebabkan plasenta previa
tidaklah selalu benar, karena tidak nyata dengan jelas bahwa plasenta previa didapati untuk
sebagian besar pada penderita dengan paritas tinggi. Pemeriksaan yang akurat adalah
dengan USG karena tidak menimbulkan bahaya bagi ibu dan janin dan hasilnya sangat
akurat. Penanganan plasenta previa dengan penanganan konservatif, partus pervaginam
dan seksio sesarea.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan plasenta previa ?
2. Bagaimana klasifikasi dari plasenta previa ?
3. Apa etiologi dari plasenta previa ?
4. Bagaimana patofisiologi dari plasenta previa ?
5. Bagaimana tanda dan gejala dari plasenta previa ?
6. Apa pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk menegakan diagnosa plasenta
pravia ?
7. Bagaimana kriteria diagnosa untuk plasenta previa ?
8. Bagaimana penanganan pada kasus plasenta previa ?
C. Tujuan
1. Mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan plasenta previa.
2. Mampu menyebutkan klasifikasi dari plasenta previa.
3. Mampu menyebutkan etiologi dari plasenta previa.
4. Mampu menjelaskan dan memahami patofisiologi dari plasenta previa.
5. Mampu mengetahui tanda dan gejala dari plasenta previa.
6. Dapat menyebutkan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk menegakan
diagnosa plasenta pravia.
7. Mampu menyebutkan kriteria diagnosa untuk plasenta previa.
8. Mampu mengatahui penanganan pada kasus plasenta previa.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
1. Menurut Sarwono Prawiroharjo (2009), plasenta previa adalah plasenta yang
berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga menutupi
seluruh atau sebagian ostium uteri internum. Sejalan dengan bertambah besarnya
rahim dan meluasnya segmen bawah rahim ke arah proksimal memungkinkan
3

plasenta yang berimplementasi pada segmen bawah rahim ikut berpindah


mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi.
2. Plasenta yang berimplementasi diatas atau mendekati ostium servis internal
terdapat 4 macam plasenta previa berdasarkan lokasinya yaitu.
a.
b.
c.
d.

Plasenta previa totalis ostium internal ditutupi seluruhnya oleh plasenta


Plasenta previa partialis ostium internal di tutupi oleh sebagian plasenta
Plasenta previa marginalis tepi plasenta terletak ditepi ostium internal
Plasenta previa letak rendah plasenta berimplementasi disegmen bawah uterus
sehingga tepi plasenta terletak dekat dengan ostium.

3. Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat


abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau
seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal). ( Mochtar, 1998:269 )
4. Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal yaitu segmen bawah uterus
sehingga dapat mnutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. (Mansjoer,
1999: 276)
5. Menurut Cunningham (2006), plasenta previa merupakan implantasi plasenta di
bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum, serta menimbulkan
perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim.
6. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah
uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir
(FKUI, 2000).

B. Klasifikasi
1. Menurut harry Oxorn & william R. Forte, (2010)
a. Berdasarkan luasnya
Totalis : seluruh plasenta melekat pada miyometrium
Partial : ada satu atau lebih cotyletdon atau sebagian cotyledon yang
melekat.
b. Berdasarkan salamnya
Accreta : plasenta melekat pada miometrium. Tidak ada garis pembelahan.
Increta : vili chorialis menembus otot uterus tapi tidak pada keseluruhan
sebelahnya.

Percreta : vili chorialis menembus dinding uterus dan dapat menimbulkan


perforasi lapisan serosa dapat terjadi ruptur uteri. Pernah dilaporkan kausu
vili khorealis tumbuh menembus dinding vesika urinaria sehingga

menyebabkan hemeturia yang nyata.


2. Menurut Sarwono Prawiroharjo, (2010)
1. Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi
seluruh ostium uteri internum.

Gambar 1 : Plasenta Previa Total

2. Plasenta previa parsial adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium


uteri internum.

Gambar 2 : Plasenta Previa Partial

3. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berada pada


pinggir osteum uteri internum.

Gambar 3 : Plasenta Previa Marginal


C. Etiologi
Menurut harry Oxorn & william R. Forte, (2010)
1. Faktor maternal
a. Gravida berusia lanjut
b. Multiparitas placenta anccreta jarang dijumpai diantara
primigravida
2. Faktor-faktor uterus
a. Bekas sectio caesaria. Sering plasenta tertanam dalam jaringan
cicatrix uterus.
b. Bekas pembedahan uterus.
c. Bekas curettage uterus yang terutama setelah kehamilan atau
abortus.
d. Bekas pengeluaran plasenta secara manual
e. Bekas endometritis.
3. Faktor-faktor plasenta
a. Plasenta previa
b. Implantasi cornual
D. Patofisiologi
Menurut Prawirohardjo (2009) pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya
pada trimester ketiga dan mungkin juga lebih awal, oleh karena telah mulai
terbentuknya segmen bawah rahim, tampak plasenta akan mengalami pelepasan.
Sebagaimana diketahui tampak plasenta terbentuk dari jaringan maternal, yaitu bagian
dari desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan melebarnya
istmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi disitu
sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak
plasenta. Demikain pula pada serviks mendatar (effacement) dan membuka
(dilatation) dan bagian tapak plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi itu akan
6

terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervilus
dari plasenta. Oleh karena pembentukan segmen bawah rahim itu perdarahan pada
plasenta previa betapa pun pasti akan terjadi (unavoidable bleeding). Perdarahan
ditempat itu relative dipermudah dan diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim
dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat karena elemen otot yang
dimilikinya sangat minimal, dengan akibat pembuluh darah pada tempat itu tidak akan
tertutup dengan sempurna. Perdarahan akan berhanti karena ada pembekuan kecuali
ada laserasi mengenai sinus yang besar dari plasenta pada mana perdarahan akan
berlangsung lebih banyak dan lebih lama , oleh karena pembentukan segmen bawah
rahim itu berlangsung progesif dan bertahap , maka laserasi baru akan akan
mengulang terjadinya perdarahan. Demikianlah perdarahan akan berulang tanpa
sesuatu sebab lain (causeless). Darah akan keluar berwarna merah segar tanpa rasa
nyeri (pain less) .
Pada plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum. Sebaliknya, pada
plasenta previa parsialis atau

letak rendah, perdarahan baru terjadi pada waktu

mendekati atau mulai persalinan. Perdarahan pertama biasanya sedikit tapi cenderung
lebih banyak pada perdarahan berikutnya. Untuk berjaga jaga hal tersebut perlu
dipertimbangkan. Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada kehamilan dibawah 30
minggu tetapi lebih separuh kejadiannya pada umur kehamilan pada 34 minggu ke
atas. Berhubung tempat perdarahan terletak dekat dengan ostium uteri internum, maka
perdarahan lebih mudah mengalir

ke luar rahim dan tidak terbentuk hematoma

retroplasenta yang mampu merusak jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin
ke dalam sirkulasi maternal. Dengan demikian, sangat jarang terjadi koagulopati pada
plasenta previa.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bahwa rahim yang
tipis mudah di invasi oleh pertumbuhan dari trofoblas , akibatnya plasenta melekat
lebih kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan inkreta,
bahkan plasenta perkreta yang perkembangan vilinya bisa sampai menembus ke buli
buli dan per rektu bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan inkreta lebih sering
terjadi pada uterus yang pernah bedah sesar. Bawah rahim dan serviks yang rampuh
mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot yang terdapat disana. Kedua kondisi
ini berpotensi

meningkatakan perdarahan pasca persalinan pada plasenta previa,

misalnya pada kala 3 karena plasenta sukar terlepas yang sempurna atau setelah uri
lepas karena segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi .
7

Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak umur kehamilan 20


minggu, saat segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis.
Umumnya terjadi pada trimester 3 karena segmen bawah uterus lebih banyak
mengalami perubahan. Pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan servik
menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau
karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat di hindarkan
karena ketidak mampuan serabut otot

segmen bawah uterus untuk berkontraksi

seperti pada plasenta letak normal. Pada plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri
internum perdarahanyerjadi lebih awal dalam kehamilan oleh karena segmen bawah
rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian terbawah yaitu pada ostium uteri internum.
Sebaliknya, pada plasenta previa parsialis atau letak rendah perdarahan baru terjadi
pada waktu mendekati atau mulai persalinan. Berhubung tempat perdarahan terletak
dekat dengan ostium uteri internum, maka perdarahan lebih mudah mengalir keluar
rahim dan tidak membentuk hematoma retroplasenta yang mampu merusak jaringan
lebih luas dan melepaskan tromboplastin kedalam sirkulasi maternal. Dengan
demikian, sangat jarang terjadi koagulopati pada plasenta previa.
Dalam keadaan normal, desidua basalais terletak diantara miometrium dan
plesenta. Lempeng pembelahan bagi pemisahan plasenta berada dalam lapisan desidua
basalis yang mirip spons. Pada plasenta ancreta, desidua basalis tidak ada sebagian
atau seluruhnya sehingga plasenta melekat langsung pada miometrium. Vili tersebut
bisa tetap superfisial pada otot uterus atau dapan menembus lebih dalam. Keadaan ini
bukan terjadi karena sifat invasif tropoblast yang abnormal melainkan karena adanya
efek pada desidua pada daerah superfisial miometrium tumbuh sejumlah besar seluruh
vena dibawah plasenta. Ruptur sinus-sinus ini yang terjadi ketika plasenta dikeluarkan
secara paksa akan menimbulkan pendarahan dalam jumlah yang banyak.
E. Tanda dan Gejala
Menurut Sarwono Prawirohardjo ciri yang menonjol pada plasenta previa
adalah perdarahan uterus yang keluar dari vagina tanpa rasa nyeri. Perdarahan
biasanya terjadi pada akhir trimester kedua keatas. Perdarahan pertama berlangsung
tidak banyak dan berhenti sendiri. Perdarahn kembali terjadi tanpa sesuatu sebab yang
jelas setelah beberapa waktu kemudian, jadi berulang. Pada setiap pengulangan terjadi
perdarahan yang lebih banyak bahkan seperti mengalir. Pada plasenta letak rendah
perdarahan baru terjadi pada awal mulai persalinan perdarahan bisa sedikit sampai
banyak mirip pada solusio plasenta. Perdarahn diperhebat berhubung segmen bawah
8

rahim tidak mampu berkontraksi sekuat segmen atas rahim. Dengan demikian,
perdarahan bisa berlangsung sampai pasca persalinan. Perdarahan bisa juga
bertambah disebabkan serviks dan segmen bawah rahim pada plasenta previa lebih
rapuh dan mudah mengalami robekan. Robekan lebih mudah terjadi pada upaya
pengeluaran plasenta dengan tangan misalnya pada retentio plasenta sebagai
komplikasi plasenta ancreta .
Berhubung plasenta terletak pada bagian bawah, maka pada palpasi abdomen
sehingga ditemui bagian bawah janin masih tinggi diatas simphisis dengan letak janin
tidak dalam letak memanjang. Palpasi abdomen tidak membuat ibu hamil merasa
nyeri dan perut tidak tegang.
1. Kehamilan
a. Kebanyakan pasien memiliki kehamilan yang normal.
b. Insiden perdarahan antepartum meningkat tapi keadaan ini menyertai keadaan
plasenta previa.
c. Terjadi persalinan prematur tetapi hanya jika ditimbulkan oleh perdarahan.
d. Kadang terjadi ruptur uteri.
2. Persalinan Kala Satu dan Dua.
a. Hampir pada semua kasus ini proses ini berjalan normal
3. Kala Tiga Persalinan.
a. Retentio plasenta menjadi ciri utama.
b. Perdarahan post partum. Jumlah perdarahan tergantung pada derajat perlekatan
plasenta. Pada plasenta ancreta totalis tidak terdapat perdarahan. Pada jenis
parsial perdarahan terjadi dari pembuluh uterina yang ada dibawah daerah
terlepasnya plasenta. Segmen bagian yang masih melekat menghalangi reaksi
uterus yang sempurna. Acapkali pendarahan ditimbulkan oleh dokter
kebidanan ketika ia mencoba mengeluarkan plasenta secara manual.
c. Komplikasi yang serius tapi jarang dijumpai adalah invertio uteri. Keadaan ini
dapat terjadi secara spontan tapi biasanya diakibatkan oleh usaha yang
mengeluarkan plasenta.
d. Ruptur uterus bisa terjadi pada saat berusaha mengeluarkan plasenta.
4. Mekanisme Perdarahan
Gambaran skematis berikutnya menunjukkan bagaimana perdarahan pada
plasenta previa dapat terjadi. Karena sirkulasi retroplasentanya tetap berada di
pembukaan serviks. Setiap gerakan yang akan membentuk segmen bawah rahim pada
trimester ketiga yang menimbulkan pergeseran antara plasenta dan timbulnya
pembukaan kanalis servikalis, maka terjadi perdarahan yang bentuknya bervariasi.
Pembentukan segmen bawah rahim ini terjadi alami dan tidak sakit, oleh karena itu
ciri khas perdarahan plasenta previa adalah tidak sakit. Dari gambar skematis ini
9

jelas bahwa tidak boleh melakukan pemeriksaan dalam untuk menegakkan diagnosis
kecuali dilakukan dikamar oprasi menejelang tindakan. Dengan demikian pada setiap
perdarahan antepartum trimester ketiga, bidan tidak boleh melakukan pemeriksaan
dalam karena akan merusak keseimbangan bekuan darah dan akan menimbulkan
perdarahan baru.
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan in speculo terlebih dulu untuk mengenyampingkan kemungkinan
perdarahan yang disebabkan varices yang pecah dan kelainan cervix.
2. Pemeriksaan fornices dengan hati-hati (pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan
pada presentasi kepala)
3. USG untuk menetukan letak plasenta
4. Pemeriksaan darah : Hb
G. Diagnosa
1. Anamnesis Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung
tanpa nyeri terutama pada multi gravida, banyaknya perdarahan tidak dapat
dinilai dari anamnesis, melainkan dari pada pemeriksaan hematokrit.
2. Pemeriksaan luar Bagian bawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul
presentasi kepala, biasanya kepala masih terapung diatas pintu atas panggul
3.

mengelak kesamping dan sukar didorong ke dalam pintu atas panggul.


Pemeriksaan Inspekulo yang bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan
berasal dari osteum uteri eksternum atau dari ostium uteri eksternum, adanya

plasenta previa harus dicurigai.


4. Penentuan Letak Plasenta Tidak Langsung. Penentuan letak plasenta secara tidak
langsung

dapat

dilakukan

radiografi,

radioisotope,

dan

ultrasonagrafi.

Ultrasonagrafi penentuan letak plasenta dengan cara ini ternyata sangat tepat,
tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya dan tidak menimbulkan
rasa nyeri.
5. Pemeriksaan Ultrasonografi. Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan implantasi
plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium bila jarak tepi 5 cm disebut
plasenta letak rendah.
6. Diagnosis Plasenta Previa Secara Defenitif. Dilakukan dengan PDMO yaitu
melakukan perabaan secara langsung melalui pembukaan serviks pada perdarahan
yang sangat banyak dan pada ibu dengan anemia berat, tidak dianjurkan
melakukan PDMO sebagai upaya menetukan diagnosis.
10

H. Penanganan
Setiap perempuan hamil yang mengalami pendarahan dalam trimester
kedua atau ketiga harus dirawat dalam rumah sakit. Pasien diminta istirahat baring
dan dilakukan pemeriksaan darah lengkap termasuk golongan darah dan Rh. Jika Rh
negatif RhoGam perlu diberikan pada pasien yang belum pernah mengalami
sensitisasi. Jika kemudian ternyata pendarahan tidak banyak dan berhenti serta janin
dalam keadaan sehat dan masih prematur dibolehkan pulang dilanjutkan dengan rawat
rumah atau rawat jalan dengan syarat telah mendapatkan konsultasi yang cukup
dengan pihak keluarga agar dengan segera kembali kerumah sakit. Bila terjadi
perdarahan ulang, walaupun kelihatanya tidak mencemaskan. Dalam keadaan yang
stabil tidak ada keberatan pada pasien dirawat dirumah atau rawat jalan. Sikap ini
dapat diberikan sesuai dengan hasil penelitian yang mendapatkan tidak ada perbedaan
pada morbiditas ibu dan janin bila pada masing-masing kelompok diberikan rawat
inap atau rawat inap. Pada kehamilan antara 24-34 minggu diberikan steroit dalam
perawatan antenatal untuk pematangan paru janin. Dengan rawat jalan pasien lebih
bebas dan kurang stres serta biaya dapat ditekan rawat inap. Kembali diberlakukan
bila keadaan kembali serius. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah adaptasi
psikologi perempuan hamil yang memperhatikan seolah keadaan klinis dengan tandatanda vital dan hasil pemeriksaan laboratorium yang masih normal padahal bisa tidak
mencerminkan keadaannya yang sejati. Jika perdarahan terjadi pada trimester kedua
perlu diperhatikan karna perdarahan ulang biasanya lebih banyak. Jaka ada gejala
hipofolemia seperti hipotensi dan takikardi pasien tersebut mungkin telah mengalami
perdarahan yang cukup berat, lebih berat dari pada penampakannya secara klinis.
Tranfusi darah yang banyak perlu segera diberikan.
Pada keadaan yang kelihatan stabil dalam perawatan diluar rumah sakit
hubungan suami istri dan kerja rumah tangga dihindari kecuali jika setelah
pemeriksaan USG ulangan, dianjurkan minimal setelah 4 minggu, memperhatikan ada
migrasi plasenta yang menjauhi ostium uteri internum. Bila hasil USG tidak demikian,
pasien tetap dinasihati untuk mengurangi kegiatan fisiknya dan merawat ketempat
jauh tidak dibenarkan sebagai antisipasi terhadap pendarahan ulang sewaktu-waktu.
Selama rawat inap mungkin perlu diberikan transfusi darah dan terhadap pasien
11

dilakukan pemantauan kesehatan janin dan observasi kesehatan maternal yang ketat
berhubung tidak bisa diramalkan pada pasien mana dan bilamana perdarahan ulang
akan terjadi. Pendarahan pada plasenta previa berasal dari ibu karenakan keadaan
janin tidak sampai membahayakan. Pasien dengan plasenta previa dilaporkan beresiko
tinggi untuk mengalami solusio plasenta (rate ratio 13,8), sectio secaria (rate ratio
3,9), kelainan letak janin (rate ratio 2,8), dan pendarahan pasca salin (rate ratio 1,7),
sebelum laporan menganjurkan pemeriksaan maternal serum alfa vetoprotein
(MSAFP) dalam trimester kedua sebagai upaya mendeteksi pasien yang perlu diawasi
dengan ketat. Bila kadar MSAFP naik tinggi lebih dari dua kali median (2.0 multi plus
of the median) pasien tersebut mempunyai peluang 50% memerlukan perawatan
rumah sakit karena perdarahan sebelum kehamilan 30 minggu, harus dilahirkan
prematur sebelum 34 minggu hamil, dan harus dilahirkan atas indikasi hipertensi
dalam kehamilan sebelum kehamilan sebelum 34 minggu. Pada lebih kurang 20%
pasien dengan solusio plasenta datang dengan tanda his. Dalam keadaan janin masih
prematur dopertimbangkan diberikan sulfas magnesikus untuk menekan his untuk
sementara waktu sembari memberi steroit untuk mempercepat pematangan paru janin.
Tokolitik lain seperti betamimetics, calsium chanel blocker tidak dipilih berhubung
pengaruh samping bradikardi dan hipotensi pada ibu. Demikian juga dengan
endometasim tidak diberikan berhubung mempercepat penutupan ductus arteriosus.
Perdarahan pada trimester ketiga perlu pengawasan lebih ketat dengan istirahat baring
yang lebih lama dalam rumah sakit dan dalam kedaan yang serius, cukup alasan untuk
merawatnya sampai melahirkan. Serangan perdarahan ulang yang banyak bisa saja
terjadi sekalipun pasien diistirahatkan baringkan. Jika pada waktu masuk terjadi
perdarahan yang banyak perlu dilakukan terminasi, bila keadaan janin viabel. Bila
pendarahanya tidak sampai demikian banyak pasien diistirahatkan sampai kehamilan
36 minggu.

Dan bila pada amniosintesis menunjukan paru janin telah matang,

terminasi dapat dilakukan dan jika perlu melalui sectio secaria.


Pada pasien yang pernah sectio secaria perlu ditliti dengan USG, color
doppler, atau MRI untuk melihat adanya plasenta ancretta, increata atau pancreta.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan baik oleh mereka yang ahli dan
berpengalaman. Dengan USG dapat dilihat demarkasi antara lapisan nitabuch dengan
desidua basalis yang terputus. Dengan color doppler terlihat adanya turbulensi dialiran
darah dalam plasenta yang meluas kejaringan sekitarnya. Dengan MRI dapat
diperlihatkan perluasan jaringan plasenta kedalam miometrium (plasenta inkreta dan
12

pankreta) apabila diagnosa belum pasti atau tidak terdapat fasilitas USG transvaginal
atau terduga plasenta previa marginalis atau plasenta previa partial dilakukan double
set-up examination. Bila inpartu ataupun sebelumnya bila perlu. Pasien dengan semua
klasifikasi dengan plasenta previa dalam trimester ketiga yang dideteksi dengan USG
transvaginal belum ada pembukaan pada serviks persalinannya dilakukan melalui
sectio secaria. Di lakukan apabila ada pendarahan banyak yang menhawatirkan.
Kebanyakan sectio secaria pada plasenta previa dapat dilaksanakan melalui insisi
melintang pada segmen bawah rahim bagian anterior terutama bila plasentanya
terletak dibelakang dan segmen bawah rahim telah terbentuk dengan baik. Insisi yang
demikian dapat juga dikerjakan oleh dokter ahli yang cekatan pada plasenta yang
terletak anterior dengan melakukan insisi pada dinding rahim dan plasenta dengan
cepat dan dengan cepat pula mengeluarkan janin dan mejepit tali pusat sebelum janin
sempat mengalami pendarahan (fetal exsanguination) akibat plasenta yang terpotong.
Sectio secaria klasik dengan insisi vertikal pada rahim hanyak dilakukan bila janin
dalam letak lintang atau terdapat varices yang luas pada segmen bawah rahim.
Anastesi regional dapat diberikan dan pengendalian dan tekanan darah dapat
dikendalikan dengan baik ditangan spesialis anastesi. Pertimbangan ini dilakukan
mengingat perdarahan intra oprasi dengan anastesi regional tidak sebanyak
pendarahan pada pemakaian anastesi umum namun pada pasien dengan perdarahan
berat sebelumnya anastesi umum lebih baik mengingat anatesi regional, bila
menambah berat hipotensi yang biasanya telah ada dan memblokir respon normal
simpatik terhadap hipovolemia.
Komplikasi
1. Anemia bahkan syok karena pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik,
maka pelepasan plasenta dari tempat melekatnya di uterus dapat berulang dan
semakin banyak.
2. Plasenta akreta yang perlekatannya lebih kuat tetapi vilinya masih belum masukk
ke dalam miometrium karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim dan sifat segmen ini yang tipis mudahlah jaringan trofoblas dengan
kemampuan invasinya menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke
perimetrium.
3. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah sangat
potensial untuk robek disertai oleh perdarahan yang banyak. Apabila oleh salah
satu sebab terjadi perdarahan banyak yang tidak terkendali dengan cara-cara yang
13

lebih sederhana seperti penjahitan segman bawah rahim maka pada keadaan yang
sangat gawat jalan keluarnya adalah melakukan histerektomi lokal.
4. Sering diambil tindakan operasi dengan segala konsekuensinya karena kelainan
letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi.
5. Kelahiran premature dan gawat janin karena tindakan terminasi kehamilan yang
terpaksa dilakukan dalam kehamilan belum aterm.
Menurut Prawirohardjo 2010, ada beberapa komplikasi utama yang bisa
terjadi pada ibu hamil yang menderita plasenta previa diantaranya ada yang bisa
menimbulkan perdarahan yang cukup banyak dan fatal.
1. Oleh karena pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik, maka pelepasan
plasenta dari tempat melepasnya di uterus dapat berulang dan semakin banyak, dan
perdarahan yang terjadi itu tidak dapat dicegah sehingga penderita menjadi anemia
bahkan menjadi syok.
2. Oleh karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat
segmen ini yang tipis mudahlah bagian trofoblas dengan kemampuan invasinya
menerobos kedalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi
sebagai sebab dari kejadian plasenta inkreta dan bahkan plasenta perkreta. Paling
ringan adalah plasenta akreta yang perlekatannya lebih kuat tetapi filinya masih
belum masuk kedalam miometrium. Walaupun biasanya tidak seluruh permukaan
maternal plasenta mengalami akreta ataui inkreta akan tetapi dengan demikian
terjadi retensio plasenta dan pada bagian plasenta yang sudah terlepas timbullah
perdarahan pada kala III. Komplikasi ini lebih sering pada uterus yang pernah
seksio cesaria. Dilaporkan plasenta akreta terjadi 10 % sampai 30% bagi pasien
yang pernah SC 1 kali, naik menjadi 60 samapai 65% bila telah SC 3 kali.
3. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah sangat
potensial untuk robek disertai oleh perdarahan yang banyak. Oleh karena itu, harus
sangat berhati hati pada semua tindakan manual ditempat ini misalnya pada
waktu mengeluarkan anak mmelalui insisi pada segmen bawah rahim ataupun
waktu mengeluarkan plasenta dengan tangan pada retensio plasenta. Apabila oleh
salah satu sebab terjadi perdarahan banyak yang tidak terkendali dengan cara
cara yang lebih sederhana seperti penjahitan segmen bawah rahim, ligasi arteria
uterina, ligasi arteria ovarika, pemasangan tampon atau ligasi arteria hipogastrika,
maka pada keadaan yang sangat gawat seperti ini jalan keluarnya adalah

14

melakukan histerektomi total. Morbiditas dari semua tindakan ini tentu merupakan
komplikasi tidak langsung dari plasenta previa.
4. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal ini memaksa
lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala konsekuensinya.
5. Kelahiran prematur dan gawat janin sering tidak terhindarkan sebagian oleh karena
tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam kehamilan belum
aterm. Pada kehamilan < 37 minggu dapat dilakukan amniosintesis untuk
mengetahui kematangan paru janin dan pemberian kortikosteroid untuk
mempercepat kematangan paru janin sebagai upaya antisipasi.
6. Komplikasi lain dari plasenta previa yang dilaporkan dalam kepustakaan yang lain
massa perawatan yang lebih lama adalah beresiko tinggi untuk solusio plasenta
(resiko relatif 13,8), seksio cesaria (RR 3,9), kelainan letak janin (RR 2,8),
perdarahan pasca persalinan (RR 1,7), kematian maternal akibat perdarahan (50%),
dan disseminated intavaskular coagulation (DIC) 15,9%.
J.Prognosis
Prognosis ibu dan anak pada plasenta previa dewasa ini lebih baik jika
dibandingkan dengan masa lalu. Hal ini berkat diagnosis yang lebih dini dan tidak
invasif dengan USG disamping ketersediaan tranfusi darah dan infus cairan telah ada
dihampir semua rumah sakit kabupaten. Rawat inap yang lebih radikal ikut berperan
terutama bagi khusus yang pernah melahirkan dengan sectio secaria secara atau
pertempat tinggal jauh dari fasilitas yang diperlukan. Penurunan jumlah ibu hamil
dengan paritas tinggi dan usia tinggi berkat sosialisasi program keluarga berencana
menambah penurunan insiden pasien plasenta previa. Dengan demikian banyak
komplikasi maternal dapat dihindarkan. Namun, nasip janin masih belum terlepas dari
komplikasi kelahiran prematur baik yang lahir spontan maupun karena interfensi
sectio secaria. Karenanya kelahiran prematur belum sepenuhnya bisa dihindari
sekalipun tindakan konservasi diberlakukan. Pada satu penelitian yang melibatkan
93.000 persalinan oleh crane dkk (1999) dilaporkan angka kelahiran prematur 43%.
Hubungan hambatan pertumbuhan janin dan kelahiran bawaan dengan plasenta previa
belum terbukti.

15

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGIS


NY J UMUR 25 TAHUN G1 P0 A0 UMUR KEHAMILAN 30 MINGGU
DENGAN PLASENTA PREVIA
DI RUMAH SAKIT TK II PELAMONIA KOTA MAKASSAR

No. Register

: 340310

Tanggal Pengkajian

: 05 04 2015

Nama Pengkaji

jam 08.00 WITA

LANGKAH I: IDENTIFIKASI DATA DASAR.


1.

Identitas Istri/Suami

Nama

: Ny M/Tn T

Umur

: 24 tahun/26 tahun

Nikah

: 1 tahun

Suku

: Jawa/Jawa

Agama

: Islam/Islam

Pendidikan : SMA/SMA
Pekerjaan

: IRT/Wiraswasta

Alamat

: Jalan Tamalate

II. Data Biologis.


a. Keluhan utama
Ibu mengatakan perdarahan yang berwarna merah segar dan tanpa rasa nyeri sudah
dua kali ganti pembalut sejak tanggal 05-04-2015

jam 23.00 WITA.

b. Riwayat kesehatan sekarang.


Tidak ada penyakit keturunan, tidak ada riwayat penyakit yang serius, tidak ada
riwayat penyakit jantung. Penyakit menular dan menurun seperti : Asma, DM, Hipertensi.
HPHT : 02 - 09 - 2014

HTP : 09 06 2015

c. Riwayat kesehatan keluarga.


16

Ibu mengatakan dari pihak keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit Menular
dan menurunseperti: Asma, DM, Hipertensi,Paru-paru, kanker, Hepatitis,tidak ada
keturunan kembar.
d.

Riwayat menstruasi
Menarche

: 15 tahun

Siklus haid

: 28 hari

Lama haid

: 6-7 hari

Disminorhea : tidak ada


e. Riwayat Genekologi.
Tidak pernah mengalami masalah reproduksinya, ibu tidak pernah mengalami
penyakit menular seksual.
f. Riwayat sosial, ekonomi, psikologio dan spiritual.
Pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan tetangga, keluarga
selalu memahami dan mendampingi pasien, Keluarga merasa cemas dengan keadaan
ibu, ibu merasa khawatir dengan kondisinya saat ini, ibu selalu berdoa dan berharap
akan kesembuhan dirinya.
g.
1.

2.

Pola pemenuhan kebutuhan dasar.


Nutrisi Selama hamil
Frekuensi
: 3 X sehari,porsi sedang, tidak ada pantangan.
Komposisi
Istirahat

: Nasi, sayur, lauk, buah, Minum 78 gelas/hari, Susu 1 gelas.

Selama hamil
3.

: tidur malam 7-8 jam, siang 2 jam

Eliminasi Selama hamil


BAK

: 6 X / hari,bau khas,warna kuning jernih,keluhan tidak ada

BAB
4.

: 1 X/hari, bau khas, warna kuning, tidak ada keluhan

Personal higien
Selama hamil

: mandi 2 x/hari, ganti baju + celana dalam 2x/hari, Gosok gigi 2x/hr,

keramas 3x/minggu.
Pemeriksaan fisik.
Keadaan umum: Baik
kesadaran: Composmetis
TTV :
TD : 120/80 mmHg
17

N : 96x/menit
P : 24x/menit
S : 36,5 0C
BB selama hamil : 60 Kg
TB

: 165 cm

Status present.
- Rambut

: Bersih, tidak rontok.

- Muka

: Cloasma tidak ada , tidak pucat.

- Mata

: Pandangan tidak kabur,konjungtiva tidak anemis,sclera tidak ikterik.

- Hidung

: Bersih tidak ada polip

- Telinga

: Bersih ,tidak ada serumen.

- Mulut

: Tidak sariawan , tidak ada caries dentis.

- Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid.

- Dada

: Simetris, tidak ada retraksi interkostal.

- Jantung

: Normal

- Paru

: Normal

LANGKAH II : IDENTIFIKASI/MASALAH AKTUAL


1. Diagnosa.
Seorang ibu Ny.J umur 24 tahun G1 P0 A0 umur kehamilan 30 minggu janin
tunggal, hidup intrauteri, PUKI, presentasi bokong, belum masuk PAP dengan plasenta previa
totalis.
Data dasar
DS

: Ibu mengatakan umurnya 24 tahun


Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama.
Ibu mengatakan belum pernah keguguran.
Ibu mengatakan HPHT : 02-09-2014
Ibu mengatakan keluar darah dari jalan lahir, sudah 2x ganti pembalut Ibu
mengatakan cemas karena mengeluarkan darah banyak.
DO :
Keadaan umum
Kesadaran

: baik
: Compusmentis
18

Status emosional

: Stabil

TTV

:
TD
BB

: 1/70 mmHg
: 65kg

P
TB

: 22x/ menit
: 157 cm

: 80x/menit

LILA

: 24 cm

: 36,50C

- Ada pengeluaran darah pervaginam sebanyak 100cc atau 2 pembalut.


-

Pada saat palpasi dirasakan ada suatu bantalan yang mengganjal pada segmen bawah
rahim
- Bagian terendah janin masih tinggi
- Dijumpai kesalahan letak janin yaitu bukan presentasi kepala
- Tidak terdapat nyeri tekanan pada saat palpasi
- Leopold I : TFU 30 cm, pertengahan Px dan pusat, TBJ: 2790 gram
- Leopold II : PUKI
- Leopold III : Teraba bantalan pada segmen bawah rahim
- Leopold I V : Bagian terbawah janin belum masuk PAP
- DJJ : 110 x/menit
- Hb :10 gram
- HPHT

: 02/09/2014

- HTP

: 09/06/2015

Analisis dan interpretasi data


Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim
demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium uteri internum. Sejalan
dengan bertambah besarnya rahim dan meluasnya segmen bawah rahim ke arah proksimal
memungkinkan plasenta yang berimplementasi pada segmen bawah rahim ikut berpindah
mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi. (Sarwono
Prawirohardjo)
2. Diagnosa masalah
Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan terjadinya perdarahan pervaginam
karena adanya plasenta previa totalis.
LANGKAH III: ANTISIPASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL
19

Diagnosa : Plasenta Previa


DS

: Pengeluaran darah secara berlebih

DO

1. Anemia bahkan syok karena pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik, maka
pelepasan plasenta dari tempat melekatnya di uterus dapat berulang dan semakin
banyak.
2. Potensial terjadi perdarahan anterpartum pada ibu.
3. Potensial terjadi gawat janin.
4. Potensial terjadi aspeksia pada bayi.
5. Potensial partus prematurius
6. IUFD.
Analisis dan Interpretasi
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim
demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium uteri internum. Sejalan
dengan bertambah besarnya rahim dan meluasnya segmen bawah rahim ke arah
proksimal memungkinkan plasenta yang berimplementasi pada segmen bawah rahim ikut
berpindah mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi.
(Sarwono Prawirohardjo).

LANGKAH IV: TINDAKAN SEGERA/KOLABORASI


-

Kolaborasi dengan dokter segera mungkin jika terjadi komplikasi yang lebih hebat

Penatalaksanaan perdarahan antepartum

Penatalaksanaan asfiksia pada BBL

LANGKAH V: RENCANA TINDAKAN/INTERVENSI.


Diagnosa : plasenta previa
a. Tujuan:
Tanggal: 04 april 2014
1. Beritahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan
Rasional : agar ibu dapat mengetahui hasil pemeriksaan
20

2. KIE Observasi banyaknya perdarahan pervaginam dan tanda-tanda vital, ganti


pembalut bila basah, pantau gerakan janin
Rasional :agar perdarahan ibu dapat teratasi
3. Anjurkan ibu teknik relaksasi untuk memberikan rasa nyaman pada ibu dan meminta
keluarga untuk memberikan dukungan psikologis pada ibu .
Rasional :agar ibu merasa nyaman
4.Jelaskan pada ibu bahwa ibu tidak dapat melaksanakan persalinan secara normal tetapi
harus secara operasi (seksio sesarea) karena ada plasenta yang menutupi jalan lahir.
Rasional : agar ibu mengerti tentang pemeriksaan nya.
LANGKAH VI: IMPLEMENTASI
1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan tentang kondisinya saat ini, kehamilan
ibu mengalami komplikasi dimana plasenta atau ari-ari menutupi jalan lahir.
Hasil : ibu mengerti dan menyetujui tindakan yang akan dilakukan
2. Mengobservasi banyaknya perdarahan dan tanda-tanda vital, selalu memantau gerakan
janin. Jika ada perubahan seperti tidak ada gerakan atau gerakan kurang aktif seperti
biasanya maka lakukan tindakan.
Hasil : perdarahan teratasi dan tidak ada tanda-tanda perubahan.
3. Menjelaskan pada ibu untuk beristirahat total atau tirah baring, beritahu ibu untuk
tidak melakukan pekerjaan yang berat dan menjelaskan kepada ibu untuk lebih sering
miring ke kiri pada saat tidur untuk memberikan oksigenisasi penuh kepada janinnya.
Hasil : ibu mengerti dan bersedia melakukan
4. Mengajarkan ibu untuk teknik relaksasi untuk memberikan rasa nyaman pada ibu
dan meminta kelurga untuk memberikan dukungan psikologis pada ibu.
Hasil: ibu dan keluarga mengerti
5. Menjelaskan pada ibu tentang kebutuhan gizi dan nutrisi pada ibu hamil,
menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan dengan menu seimbang, memberikan
ibu tablet Fe dengan dosis 2x sehari selama 14 hari dan vitamin C dengan dosis 3 x

21

sehari, jika nafsu makan berkurang maka makan dengan cara porsi sedikit tapi sering
agar pemasukan cairan dan nutrisi seimbang karena adanya perdarahan.
Hasil : ibu mengerti
6. Menjelaskan pada ibu bahwa ibu tidak dapat melaksanakan persalinan secara normal
tetapi harus secara seksio sesarea karena ada plasenta yang menutupi jalan lahir.
Hasil : ibu mengerti
LANGKAH VII : EVALUASI

Tanggal : 24-03-2015 jam: 16.00 WITA

1. Ibu mengerti tentang kondisi kehamilannya saat ini, bahwa ibu mengalami sebuah
komplikasi dalam kehamilannya dimana plasenta atau uri berada pada bagian bawah
rahim ibu hamil 32 minggu, TFU pertengahan pusat-Px, DJJ (+), bagian terbawah
janin belum masuk PAP
2. Ibu mengerti apa yang ia lakukan jika terjadi perdarahan atau komplikasi kembali dan
ibu mengerti tentang perdarahan yang ia alami.
3. Ibu mengerti tentang pentingnya istirahat total atau tirah baring untuk mengurangi
terjadinya perdarahan
4. Ibu mengerti tentang kebutuhan nutrisi dan gizi bagi ibu hamil
5. Ibu mengerti tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi
6. Ibu mau mengikuti saran bidan untuk melakukan persalinan secara seksio sesarea
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGIS
NY J UMUR 25 TAHUN G1 P0 A0 UMUR KEHAMILAN 30 MINGGU
DENGAN PLASENTA PREVIA
DI RUMAH SAKIT TK II PELAMONIA KOTA MAKASSAR

No. Register

: 340310

Tanggal Pengkajian

: 05 04 2015

Nama Pengkaji

jam 08.00 WITA

Data Subjektif
1. Identitas Istri/Suami
Nama

: Ny M/Tn T

Umur

: 24 tahun/26 tahun
22

Nikah

: 1 tahun

Suku

: Jawa/Jawa

Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat

: Islam/Islam
: SMA/SMA
: IRT/Wiraswasta
: Jalan Tamalate

2. Keluhan utama
Ibu mengatakan perdarahan yang berwarna merah segar dan tanpa rasa nyeri sudah
dua kali ganti pembalut sejak tanggal 05-04-2015

jam 23.00 WITA.

Objektif
Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: Compusmentis

Status emosional

: Stabil

TTV

:
TD
BB

: 1/70 mmHg
: 65kg

P
TB

: 22x/ menit
: 157 cm

: 80x/menit

LILA

: 24 cm

: 36,50C

- Ada pengeluaran darah pervaginam sebanyak 100cc atau 2 pembalut.


-

Pada saat palpasi dirasakan ada suatu bantalan yang mengganjal pada segmen bawah
rahim
- Bagian terendah janin masih tinggi
- Dijumpai kesalahan letak janin yaitu bukan presentasi kepala
- Tidak terdapat nyeri tekanan pada saat palpasi
- Leopold I : TFU 30 cm, pertengahan Px dan pusat, TBJ: 2790 gram
- Leopold II : PUKI
- Leopold III : Teraba bantalan pada segmen bawah rahim
- Leopold I V : Bagian terbawah janin belum masuk PAP
23

- DJJ : 110 x/menit


- Hb :11 gram
- HPHT

: 02/09/2014

- HTP

: 09/06/2015

Assesment
-

Plasenta previa

Planning
Tanggal : 24-03-2015

jam: 16.00 WITA

1. Ibu mengerti tentang kondisi kehamilannya saat ini, bahwa ibu mengalami sebuah
komplikasi dalam kehamilannya dimana plasenta atau uri berada pada bagian
bawah rahim ibu hamil 32 minggu, TFU pertengahan pusat-Px, DJJ (+), bagian
terbawah janin belum masuk PAP
2. Ibu mengerti apa yang ia lakukan jika terjadi perdarahan atau komplikasi kembali
dan ibu mengerti tentang perdarahan yang ia alami.
3. Ibu mengerti tentang pentingnya istirahat total atau tirah baring untuk mengurangi
terjadinya perdarahan
4. Ibu mengerti tentang kebutuhan nutrisi dan gizi bagi ibu hamil
5. Ibu mengerti tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi
6. Ibu mau mengikuti saran bidan untuk melakukan persalinan secara seksio sesarea

24

BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri
dari ovulasi kemudian terjadi migrasi spermatozoa dan ovum dilanjutkan dengan
terjadinya konsepsi dan perumbuhan zigot hingga mencapai aterm dalam waktu
280 hari / 40 minggu. Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal,
yaitu pada segmen bawah uterus yang diklasifikasikan menjadi 4, yaitu: Plasenta
previa totalis, marginalis, parsialis dan plasenta letak rendah yang ditandai
dengan gambaran klinis berupa perdarahan tanpa alasan, tidak nyeri dengan darah
berwarna merah segar dan bagian terendah janin, sudah masuk PAP. Penanganan
pada kehamilan masih prematur dan perdarahannya tidak berbahaya, tidak
memerlukan pengakhiran kehamilan segera, indikasi SC untuk plasenta previa
totalis.
B. SARAN
1. Diharapkan dengan pembuatan asuhan kebidanan ini bisa meningkatkan upaya
kesehatan dan pengetahuan kita.
2. Dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada masyarakat.

25

DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Prawirohardjo. Sarwono, 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan bina pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Koemara, Gita, Maya. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di fasilitas Kesehatan
Dasar dan Rujukan. Jakarta: UNICEF
Muchtar, Rustam. 1998. Sinopsi Obstetri Fisiologi Jilid. Jakarta: EGC
Putra, Bayu, Pratama. 2013. Medical Review BAR Obstetrics edisi 1. Jakarta: ISBN

26