Anda di halaman 1dari 13

Nama : Deni Yusrizal

NIM

: 1404205012

Kelas : A

ARSITEKTUR INDONESIA
Essay Studi Ekskursi Arsitektur 2016
IDENTITAS OBJEK

Nama : Museum Fatahillah / Museum Sejarah Jakarta


Lokasi : Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat (Kota Tua)

U
Via Google Earth

Tahun dibangun : 1620 oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen


Diresmikan : 1626 oleh Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier(Ketika itu
berfungsi sebagai balai kota Pemerintahan Belanda)

Gambar 1 Tampak
Depan Museum
Fatahillah
Sumber: Dokumen
Pribadi (Deni Yusrizal,
2016)

Menurut wikipedia, Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum


Sejarah Jakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah
No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.
Sumber yang sama juga mengatakan, gedung ini dahulu merupakan Balai
Kota Batavia VOC (bahasa Belanda: Stadhuis van Batavia) yang dibangun pada
tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu
menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua
sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai
kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai
penjara.

Gambar 2 Bagian Bangunan Museum Fatahillah


Sumber: Dokumen Pribadi (Deni Yusrizal, 2016)
Sayap Kiri

Sayap Kanan

Menurut Indonesia Kaya, pembangunan gedung ini sendiri dimulai pada


era Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen, pada tahun 1620 dan selesai pada
tahun 1626 era Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier . Kondisi tanah Jakarta
yang labil membuat gedung ini sempat anjlok, sehingga dilakukan beberapa kali
usaha pemugaran hingga peresmiannya.
Menurut wikipedia, pada awalnya gedung ini hanya bertingkat satu dan
pembangunan tingkat kedua dilakukan kemudian. Akibat tanah yang labil, solusi
mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu adalah tidak

mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm).
Menurut suatu laporan, 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada
tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masingmasing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu beberapa perbaikan
dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga
menjadi bentuk yang kita lihat sekarang ini.
Sumber yang sama mengatakan bahwa, selain digunakan sebagai stadhuis,
gedung ini juga digunakan sebagai Raad van Justitie' (dewan pengadilan). Pada
tahun 1925-1942 setelah aktivitas Balai Kota dipindahkan ke Koningsplein Zuid
(Sekarang Jl. Medan Merdeka No. 8-9, Jakarta Pusat), gedung ini dimanfaatkan
sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945
dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 gedung ini
menjadi markas Komando Militer Kota (KMK) I, lalu diubah kembali menjadi
KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968, gedung ini diserahkan kepada Pemda
DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30
Maret 1974.
Selain penjelasan di atas, menurut Silva (2016), pada waktu itu bangunan
tersebut selain menjadi balai kota juga memiliki fungsi sebagai Pengadilan,
Kantor Catatan Sipil, tempat warga beribadah di hari Minggu, dan Dewan
Kotapraja (College van Scheppen).
Menurut sumber yang sama, kemudian sekitar tahun 1919 untuk
memperingati berdirinya batavia ke 300 tahun, warga kota Batavia khususnya
para orang Belanda mulai tertarik untuk membuat sejarah tentang kota Batavia.
Lalu pada tahun 1930, didirikanlah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia
Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala hal tentang sejarah kota
Batavia. Sehingga sebelum diserahkan pada pemerintah DKI Jakarta pada tahun
1974, balaikota pun pernah menjadi Museum Oud Batavia yang diresmikan tahun
1936 oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan dibuka
untuk umum tahun 1939.
Menurut wikipedia, seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi
dengan lapangan yang dinamakan stadhuisplein'. Menurut sebuah lukisan uang
dibuat oleh pegawai VOC yang bernama Johannes Rach yang berasal dari

Denmark, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang


merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari
Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada
tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan
pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu
dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur
di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan
kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu 'Taman Fatahillah
untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.

Gambar 3 Air Mancur Di Taman


Fatahillah Memiliki Cerita
Sejarah Tersendiri
Sumber: Dokumen Pribadi (Deni
Yusrizal, 2016)

Menurut wikipedia, objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara


lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan
Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17
sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat
Tiongkok, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksikoleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang
Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan
Ruang Batavia. Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi,
numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes
(menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi
kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si
Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum

Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan
pada zaman penjajahan Belanda.
Berhubung pada saat kami berkunjung adalah pukul 16.00 sehingga
rombongan studi ekskursi arsitektur 2016 tidak bisa masuk ke dalam karena
Museum Fatahillah sudah tutup.

Gambar 4 Meriam Si Jagur yang Dianggap Memiliki


Kekuatan Magis
Sumber: Dokumen Pribadi (Deni Yusrizal, 2016)

Dari segi arsitekturnya, menurut wikipedia, Arsitektur bangunannya bergaya


abad ke-17 bergaya neoklasik.

Gambar 5 Museum Fatahillah Jaman Dulu


Sumber:
http://s227.photobucket.com/user/hibryda/media/museumfatahilah.jpg.html

Menurut beberapa catatan yang tidak diketahui sumbernya, pada awal


dibangunnya Museum Fatahillah ini tidak merujuk ke pada arsitektur neo-klasik.
Kemungkinan setelah beberapa kali renovasi terdapat perubahan bentuk seperti
yang terlihat saat ini yaitu memiliki langgam arsitektur kolonial dan beberapa
elemen mengadopsi dari gaya neoklasik. Hal ini mungkin berhubungan dengan
adanya periodisasi Arsitektur Kolonial Belanda menurut Helen Jessup dalam
Handinoto (1996: 129-130) dalam Artha yang membagi periodisasi perkembangan
arsitektur kolonial Belanda di Indonesia dari abad ke 16 sampai tahun 1940-an
menjadi empat bagian, yaitu:
1. Abad 16 sampai tahun 1800-an
Pada waktu ini Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische
(Hindia Belanda) di bawah kekuasaan perusahaan dagang Belanda yang
bernama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Selama periode
ini arsitektur kolonial Belanda kehilangan orientasinya pada bangunan
tradisional di Belanda serta tidak mempunyai suatu orientasi bentuk
yang jelas. Yang lebih buruk lagi, bangunan-bangunan tersebut tidak
diusahakan untuk beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat.
2. Tahun 1800-an sampai tahun 1902
Ketika itu, pemerintah Belanda mengambil alih Hindia Belanda dari
perusahaan dagang VOC. Setelah pemerintahan Inggris yang singkat
pada tahun 1811-1815. Hindia Belanda kemudian sepenuhnya dikuasai
oleh Belanda. Indonesia waktu itu diperintah dengan tujuan untuk
memperkuat kedudukan ekonomi negeri Belanda. Oleh sebab itu,
Belanda pada abad ke-19 harus memperkuat statusnya sebagai kaum
kolonialis dengan membangun gedung-gedung yang berkesan grandeur
(megah). Bangunan gedung dengan gaya megah ini dipinjam dari gaya
arsitektur neo-klasik yang sebenarnya berlainan dengan gaya arsitektur
nasional Belanda waktu itu.
3. Tahun 1902-1920-an
Antara tahun 1902 kaum liberal di negeri Belanda mendesak apa yang
dinamakan politik etis untuk diterapkan di tanah jajahan. Sejak itu,
pemukiman orang Belanda tumbuh dengan cepat. Dengan adanya

suasana tersebut, maka indische architectuur menjadi terdesak dan


hilang. Sebagai gantinya, muncul standar arsitektur yang berorientasi ke
Belanda. Pada 20 tahun pertama inilah terlihat gaya arsitektur modern
yang berorientasi ke negeri Belanda.
4. Tahun 1920 sampai tahun 1940-an
Pada tahun ini muncul gerakan pembaruan dalam arsitektur, baik
nasional maupun internasional di Belanda yang kemudian memengaruhi
arsitektur kolonial di Indonesia. Hanya saja arsitektur baru tersebut
kadang-kadang diikuti secara langsung, tetapi kadang-kadang juga
muncul gaya yang disebut sebagai ekletisisme (gaya campuran). Pada
masa tersebut muncul arsitek Belanda yang memandang perlu untuk
memberi ciri khas pada arsitektur Hindia Belanda. Mereka ini
menggunakan kebudayaan arsitektur tradisional Indonesia sebagai
sumber pengembangannya.
Elemen-elemen bangunan bercorak Belanda yang banyak digunakan
dalam arsitektur kolonial Hindia Belanda (Handinoto, 1996:165-178) dalam Artha
antara lain: a) gevel (gable) pada tampak depan bangunan; b) tower; c) dormer; d)
windwijzer (penunjuk angin); e) nok acroterie (hiasan puncak atap); f)
geveltoppen (hiasan kemuncak atap depan); g) ragam hias pada tubuh bangunan;
dan h) balustrade.

Gambar 6 Variasi Bentuk Gavel pada Arsitektur Kolonial Belanda


Sumber: https://iketsa.wordpress.com/2010/05/29/karakteristik-arsitektur-kolonialbelanda/

Gambar 7 Variasi Bentuk Dormer pada Arsitektur Kolonial Belanda


Sumber: https://iketsa.wordpress.com/2010/05/29/karakteristik-arsitekturkolonial-belanda/

Gambar 8 Variasi Ornamen pada Arsitektur Kolonial Belanda


Sumber: https://iketsa.wordpress.com/2010/05/29/karakteristik-arsitekturkolonial-belanda/

Hal ini juga berkaitan dengan sosok dari Museum Fatahillah ini. Selain
dibangun dengan skala yang monumental, terdapat beberapa elemen pada
Museum yaitu gevel yang dalam hal ini berbentuk pedimen disertai entablature
pada bagian bawahnya, dormer, tower, dan windwijzer yang bersesuaian dengan
pendapat yang dikemukakan oleh Handinoto.

Gevel

Gambar 9 Gevel (Pedimen dan Entablature) pada


Museum Fatahillah
Sumber: Dokumen Pribadi (Deni Yusrizal, 2016)

Dormer

Gambar 10 Dormer pada Museum Fatahillah


Sumber: Dokumen Pribadi (Deni Yusrizal, 2016)

Tower

Gambar 11 Tower pada Museum Fatahillah


Sumber: Dokumen Pribadi (Deni Yusrizal, 2016)

Windwijzer

Gambar 12 Windwijzer pada


Museum Fatahillah
Sumber: Dokumen Pribadi (Deni
Yusrizal, 2016)

Adapun beberapa elemen pada Museum Fatahillah yang mengadopsi gaya


atau langgam arsitektur neoklasik adalah adanya pengulangan bentuk jendela yang
sangat mencolok di bagian depan bangunan, menggunakan skala yang
monumental, dan adanya penggunaan pilar berjenis tuskan, serta adanya bentuk
fasad yang simetris antara kiri dan kanan bangunan terlihat juga dari pola jendela
5-4-5.

10

Gambar 13 Pengulangan Bentuk Jendela yang Sangat


Mencolok - Neoklasik
Sumber: Dokumen Pribadi (Deni Yusrizal, 2016)

Gambar 14 Skala Bangunan Monumental Jika Dibandingkan


dengan Orang dan Lingkungan Sekitar - Neoklasik
Sumber: Dokumen Pribadi (Deni Yusrizal, 2016)

Gambar 15 Fasad Berbentuk Simetris Antara Kiri dan


Kanan - Neoklasik
Sumber: Dokumen Pribadi (Deni Yusrizal, 2016)

11

Gambar 15 Penggunaan Pilar Berjenis Tuskan - Neoklasik


Sumber: Dokumen Pribadi (Deni Yusrizal, 2016)

Pada akhirnya, bangunan Museum Fatahillah merupakan bangunan


peninggalan Belanda yang dulu merupakan balai kota bagi Pemerintahan Belanda.
Arsitekturnya sendiri memang merupakan langgam arsitektur kolonial Belanda di
mana langgam arsitektur ini sendiri terdapat 4 periode ketika masuk ke Indonesia
sehingga tidak serta merta langsung mendapatkan sosok yang sedemikian rupa
seperti saat ini. Adapun arsitektur kolonial sendiri juga dipengaruhi oleh langgam
arsitektur neoklasik dengan adanya beberapa elemen seperti pedimen, entablature,
dan pilar tuskan. Selain itu, adanya pengulangan bentuk pada jendela dan bentuk
fasad yang simetris juga menjadi alasan bahwa arsitektur kolonial pada Museum
Fatahillah ini dipengaruhi oleh arsitektur neoklasik.

12

DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia.

Museum

Fatahillah.

https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Fatahillah

(Tersedia

di

diakses tanggal 23

September 2016 pukul 20.00)


Indonesia Kaya. Museum Fatahillah, Belajar Sejarah Jakarta di Pusat Batavia
Lama.

(Tersedia

di

http://www.indonesiakaya.com/jelajah-

indonesia/detail/museum-fatahillah-belajar-sejarah-jakarta-di-pusatbatavia-lama diakses tanggal 23 September 2016 pukul 20.00)


Silva, Syaif. 2016. Sejarah dan Asal Mula Berdirinya Gedung Museum Fatahillah
Jakarta. (Tersedia di http://satupedang.blogspot.com/2015/02/sejarahgedung-museum-fatahillah.html#ixzz4LCcns4Zr

diakses tanggal 23

September 2016 pukul 20.00)


Handinoto. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di
Surabaya 1870-1940. Diterbitkan atas Kerja Sama Lembaga Penelitian
dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Petra Surabaya
dan

Penerbit

Andi.

Yogyakarta:

Andi

Offset

(Tersedia

https://iketsa.wordpress.com/2010/05/29/karakteristik-arsitekturkolonial-belanda/ diakses tanggal 23 September 2016 pukul 20.00)

13

di