Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses penambangan bawah tanah, salah satu hal yang penting adalah
dibuatnya ventilasi tambang, agar para pekerja di dalam tambang tidak kehabisan udara segar.
karena dapat menyebabkan hilangnya nyawa para pekerja. oleh karena itu perlunya
pengaturan ventilasi yang sesuai dengan kebutuhan.
Ventilasi adalah pengendalian pergerakan udara, arah dan jumlahnya. Meskipun tidak
memberikan kontribusi langsung ke tahap operasi produksi, ventilasi yang kurang tepat
seringkali akan menyebabkan efisiensi yang lebih rendah dan produktivitas pekerja menurun,
tingkat kecelakaan meningkat, dan tingginya tingkat ketidakhadiran.
1. Fungsi Ventilasi Tambang
Ventilasi tambang berfungsi untuk : Menyediakan dan mengalirkan udara segar
kedalam tambang untuk keperluan menyediakan udara segar (oksigen) bagi pernapasan para
pekerja dalam tambang dan juga bagi segala proses yang terjadi dalam tambang yang
memerlukan oksigen. Melarutkan dan membawa keluar dari tambang segala pengotoran dari
gas-gas yang ada di dalam tambang hingga tercapai keadaan kandungan gas dalam udara
tambang yang memenuhi syarat bagi pernapasan.
Menyingkirkan debu yang berada dalam aliran ventilasi tambang bawah tanah hingga
ambang batas yang diperkenankan. Mengatur panas dan kelembaban udara ventilasi tambang
bawah tanah sehingga dapat diperoleh suasana / lingkungan kerja yang nyaman. Udara
diperlukan tidak hanya untuk bernafas tetapi juga untuk membubarkan kontaminasi kimia
dan fisika (gas, debu, panas, dan kelembaban).
Di seluruh dunia, praktik ventilasi tambang sangat diatur, terutama pada tambang
yang mengandung gas (noncoal) tambang batubara dan, dan ketetapan lainnya terkait untuk
jumlah udara yang dibutuhkan untuk mencairkan emisi diesel, asap peledakan, radiasi, debu,
emisi baterai, dan banyak kontaminanasi lainnya. Untuk menjaga ventilasi yang sesuai
sepanjang berlangsungnya tambang, perencanaan awal harus diperhitungkan karena sangat
penting untuk kedepannya.
Perencanaan kemajuan ventilasi melibatkan dua faktor utama pertimbangan: (1) Total
tingkat Volume aliran udara yang dibutuhkan untuk tambang, dan distribusi memuaskan dan
ekonomis, (2) tekanan yang dibutuhkan pada kipas. Sebuah sistem ventilasi harus dirancang
dengan baik, efektif, fleksibel, dan ekonomis.
2. Prinsip Ventilasi Tambang
Pada pengaturan aliran udara dalam ventilasi tambang bawah tanah, berlaku hukum
alam bahwa; Udara akan mengalir dari kondisi bertemperatur rendah ke temperatur panas.
Udara akan lebih banyak mengalir melalui jalur-jalur ventilasi yang memberikan tahanan
yang lebih kecil dibandingkan dengan jalur bertahanan yang lebih besar. Hukum-hukum
mekanika fluida akan selalu diikuti dalam perhitungan dalam ventilasi tambang.
Makalah Ventilasi Tambang

3. Lingkup Bahasan Ventilasi Tambang


Pengaturan./Pengendalian kualitas udara tambang. Dalam hal ini akan dibahas
permasalahan persyaratan udara segar yang diperlukan oleh para pekerja bagi pernafasan
yang sehat dilihat dari segi kualitas udara (Quality control). Pengaturan/pengendalian
kuantitas udara tambang segar yang diperlukan oleh pekerja tambang bawah tanah.
Dalam hal ini akan dibahas perhitungan untuk jumlah aliran udara yang diperlukan
dalam ventilasi dan pengaturan jaringan ventilasi tambang sampai perhitungan kapasitas dari
kipas angin Pengaturan suhu dan kelembaban udara tambang agar dapat diperoleh lingkungan
kerja yang nyaman. Dalam hal ini akan dibahas mengenai penggunaan ilmu yang
mempelajari sifat-sifat udara atau psikrometri (psychrometry).
Dalam membahas pengaturan ventilasi tambang yang bersifat mekanis perlu juga
dipahami masalah yang berhubungan dengan kemungkinan adanya aliran udara akibat
ventilasi alami, yaitu antara aliran udara sebagai akibat perbedaan temperatur yang timbul
secara alami.
4. Pengertian Mengenai Udara Tambang Udara segar
Normal yang dialirkan pada ventilasi tambang terdiri dari ; Nitrogen, Oksigen,
Karbondioksida, Argon dan Gas-gas lain seperti terlihat pada tabel di bawah.
Kualitas Udara Tambang
Udara tambang meliputi campuran antara udara atmosfir dengan emisi gas-gas dalam
tambang serta bahan-bahan pengotornya. Parameter kualitas udara meliputi gas, debu,
temperatur serta kelembaban udara.Standar udara yang bersih adalah udara yang mempunyai
komposisi sama atau mendekati dengan komposisi udara atmosfir pada keadaan normal.
Udara segar normal yang dialirkan pada ventilasi tambang terdiri dari Nitrogen, Oksigen,
Karbondioksida, Argon dan Gas-gas lain. Komposisi udara segar dapat dilihat pada tabel 3.1.

Unsur

Tabel 3.1 Komposisi Udara Segar


Persen Volume

Persen Berat (%)

Nitrogen (N2)

(%)
78,09

Oksigen (O2)

20,95

23,14

Karbondioksida CO2)

0.03

0,046

Argon (Ar), dll

0,93

1,284

75,53

(sumber : Hartman, 1982)

Dalam perhitungan ventilasi tambang selalu dianggap bahwa udara segar normal terdiri
dari : Nitrogen = 79%, dan Oksigen = 21%. Disamping itu dianggap bahwa udara segar akan
selalu mengandung karbondioksida (CO2) sebesar 0,03%. Udara dalam ventilasi tambang
selalu mengandung uap air, tidak pernah ada udara yang benar-benar kering. Karena itu akan
selalu ada istilah kelembaban udara.

Makalah Ventilasi Tambang

Jenis Jenis Ventilasi Tambang


Jenis-jenis ventilasi dapat digolongkan berdasarkan beberapa hal berikut ini antara
lain :

Penggolongan berdasarkan metode pembangkitan daya ventilasi, terdiri dari : ventilasi


alami dan ventilasi mesin.

Penggolongan berdasarkan tekanan ventilasi pada ventilasi mesin, terdiri dari :


ventilasi tiup dan ventilasi sedot.

Penggolongan berdasarkan letak intake dan Outake airway, terdiri dari : ventilasi
terpusat dan ventilasi diagonal.
1.

Ventilasi Alami (natural ventilation)

Jika suatu tambang memiliki dua shaft yang saling berhubungan pada kedalaman
tertentu, sejumlah udara akan mengalir masuk ke dalam tambang meskipun tanpa alat
mekanis. Ventilasi alam disebabkan udara pada downcast shaft lebih dingin dari udara pada
upcast shaft. Dan juga dipengaruhi oleh perbedaan tekanan dan densitas udara antara dua
shaft yang saling berhubungan tersebut.
Ventilasi alami terjadi karena perbedaan temperatur di dalam dan luar stope.
Temperatur di dalam stope akan mempengaruhi terjadinya ventilasi alami. Apabila terdapat
perbedaan temperatur intake airway dan return airway yang ketinggian mulut pit intake dan
Outakenya berbeda, akan timbul perbedaan kerapatan udara di dalam dan di luar stope atau
udara di intake airway dan return airway yang berbeda temperaturnya, yang akan
membangkitkan aliran udara.
2.

Ventilasi Mekanis (artificial / mechanical ventilation)

Ventilasi mekanis adalah jenis ventilasi dimana aliran udara masuk ke dalam tambang
disebabkan oleh perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh alat mekanis. Yang dimaksud
peralatan ventilasi mekanis adalah semua jenis mesin penggerak yang digunakan untuk
memompa dan menekan udara segar agar mengalir ke dalam lubang bawah tanah. Yang
paling penting dan umum digunakan adalah fan atau mesin angin.
Mesin angin adalah pompa udara, yang menimbulkan adanya perbedaan tekanan
antara kedua sisinya, sehingga udara akan bergerak dari tempat yang tekanannya lebih tinggi
ke tempat yang lebih rendah. Pada proses menerus dapat dilihat bahwa mesin angin
menerima udara pada tekanan tertentu dan dikeluarkan dengan tekanan yang lebih besar.
Jadi mesin angin adalah perubah energi dari mekanis ke fluida, dengan memasok
tekanan untuk mengatasi kehilangan tekan (head losses) dalam aliran udara. Pergerakan udara
di tambang bawah tanah dibangkitkan dan diatur oleh pembangkit tekanan yang disebut
ventilator atau mesin angin. Mesin angin yang memasok kebutuhan udara untuk seluruh
tambang dinamakan mesin angin utama (main fan).
Mesin angin yang digunakan untuk mempercepat aliran udara pada percabangan atau
suatu lokasi tertentu di dalam tambang, tetapi tidak menambah volume total udara di dalam
tambang disebut mesin angin penguat (booster fans), sedangkan mesin angin yang digunakan
pada lokasi kemajuan atau saluran udara tertutup (lubang buntu) dinamakan mesin angin
Makalah Ventilasi Tambang

bantu (auxiliary fans). Berdasarkan cara menimbulkan udaranya serta letak mesinnya,
ventilasi mekanis dibedakan menjadi tiga metode yaitu :
1. Metode hisap (exhaust system)
Sistem exhausting akan memberikan hembusan udara yang berkebalikan dengan
sistem forcing, yaitu bertekanan negatif ke front kerja. Tekanan negatif yang dimaksud disini
adalah tekanan yang dihasilkan oleh proses penghisapan udara.Pada sistem exhausting, fan
diletakkan dekat dengan front kerja, sehingga dapat memudahkan kerjanya dalam menghisap
udara dari front kerja tersebut.
2. Metode hembus (forcing sytem)
Sistem forcing akan memberikan hembusan udara bertekanan positif ke front kerja.
Tekanan positif berarti aliran udara ini mempunyai tekanan lebih besar dibanding udara di
atmosfer. Pipa/saluran ventilasi ini menghubungkan fan dengan front kerja
3. Metode hisap hembus (overlap system)
Sistem ini merupakan gabungan dari sistem exhausting dan forcing. Berbeda dengan
kedua sistem diatas, sistem ini menggunakan 2 fan yang memiliki tugas berbeda satu sama
lain. Ada fan yang bertugas menyuplai udara ke front (intake fan), ada fan yang bertugas
untuk menghisap udara dari front (exhausting fan). Tetapi exhaust fan dipasang lebih mundur
(lebih jauh) dari front penambangan. Sedangkan duct akhir dari intake fan dipasang lebih
dekat dengan front penambangan. Hal ini untuk mencegah agar udara yang disuplai langsung
dihisap oleh exhaust fan sehingga udara akan memiliki waktu untuk bersirkulasi pada front
penambangan.
3.

Ventilasi Bantu (Auxiliary Ventilation)

Udara ventilasi yang disalurkan ke terowongan utama maupun ventilasi permuka


kerja penambangan biasanya dilakukan dengan membawa udara masuk (intake air) secara
langsung melalui jalan udara sepanjang penampang terowongan. Ventilasi juga dapat
dilaksanakan dengan mengirimkan angin/udara yang dibangkitkan oleh kipas angin lokal, air
jet dan lain-lain, dengan menggunakan saluran udara (air duct) ke lokasi yang tidak dapat
dipenuhi oleh ventilasi utama, seperti pada lokasi terowongan buntu (lokasi pembuatan
lubang maju). Dilihat dari segi fasilitas peralatan, ventilasi bantu dapat dibagi menjadi
ventilasi saluran udara, brattice, dan static air mover.
B.

Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :


1. Mengetahui perhitungan keperluan udara segar
2. Mengetahui berapa banyak oksigen untuk manusia beraktivitas
3. Mengetahui sifat-sifat gas
4. Mengetahui cara pengendalian gas tambang bawah tanah

Makalah Ventilasi Tambang

C.

Manfaat

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas semester genap mata kuliah Ventilasi
Tambang. Di samping itu, makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca dan
juga dapat mengembangkan kemampuan sehingga mempunyai pandangan luas tentang
Ventilasi Tambang.

BAB II
Makalah Ventilasi Tambang

PEMBAHASAN
1. Perhitungan udara segar
Pada sistem pernafasan manusia, oksigen dihisap dan karbondioksida dibebaskan.
Jumlah yang diperlukan akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya aktifitas fisik
dan dapat dihitung pula kuantitas udara segar minimum yang dibutuhkan seseorang untuk
proses pernafasan berdasarkan kandungan oksigen minimum yang diperkenankan dan
kandungan karbondioksida maksimum yang masih diperbolehkan.
Perlu juga dalam hal ini didefenisikan arti angka bagi atau nisbah pernafasan
(respiratory quotient) yang didefenisikan sebagai nisbah antara jumlah karbondioksida yang
dihembuskan terhadap jumlah oksigen yang dihirup pada suatu proses pernafasan.
Pada manusia yang bekerja keras, angka bagi pernafasan ini (respiratory quotient)
sama dengan satu, yang berarti bahwa jumlah CO2 yang dihembuskan sama dengan jumlah
O2 yang dihirup pada pernafasannya. Tabel 5 berikut memberikan gambaran mengenai
keperluan oksigen pada pernafasan pada tiga jenis kegiatan manusia secara umum.
Kebutuhan Udara Pernafasan

Jenis
Kegiatan

Laju
Pernafa
san
Per Menit

Udara
Terhirup Per
Menit dalam
in3/menit
(10-4m3/detik)

Oksigen
Terkonsumsi
cfm
-5 3
(10 m /detik)

Angka
Bagi
Pernafa
san
(respirato
ry
quotient)

Istirahat

12 18

300-800
(0,82-2,18)

0,01 (0,47)

0,75

Kerja
Moderat

30

2800-3600
(7,64-9,83)

0,07 (3,3)

0,9

Kerja Keras

40

6000 (16,4)

0,10 (4,7)

1,0

Hartman, Mine Ventilation and Air Conditioning 2nd edition 1982.p.40

Berdasarkan Tabel 5 diatas dapat dihitung jumlah udara yang dibutuhkan untuk pernafasan
seseorang di tambang dengan cara :
1) Berdasarkan nilai ambang batas minimum oksigen yaitu 19,5%
Jumlah udara yang dibutuhkan = Q cfm
Pada pernafasan, jumlah oksigen akan berkurang sebanyak 0,1 cfm
sehingga akan
dihasilkan persamaan untuk jumlah oksigen sebagai
berikut (Hartman H.L., 1982):
(Kandungan oksigen) - (Jumlah oksigen pada pernafasan) = (Kandungan oksigen minimum
untuk pernafasan)
Makalah Ventilasi Tambang

dimana :
Q
= Jumlah udara yang diperlukan (m3/dtk)
(O2 in intake) = Konsentrasi O2 di atmosfer (21%)
(O2 consumed) = Kuantitas yang dikomsumsi untuk pekerja keras (4,7x 10- 5m3/dtk)
(O2 downstream)= Nilai ambang batas O2 (19,5%)
Jadi kuantitas udara yang dibutuhkan seseorang untuk pernafasan adalah :
0,21 Q - 4,7x 10- 5m3/dtk = 0,195 Q
(0,21 0,195)Q = 4,7x 10- 5m3/dtk
0,015 Q = 4,7x 10- 5m3/dtk
Q = 3,2 x 10-3 m3/dtk/orang
Q = 6,7 cfm
2) Berdasarkan nilai ambang batas maksimum CO2 yaitu 0,5%
Dengan harga angka bagi pernafasan = 1,0 maka jumlah CO2 pada pernafasan akan
bertambah sebanyak 1,0 x 0,1 = 0,1 cfm.
Dengan demikian akan didapat persamaan :
(Kandungan CO2 maksimum dalam udara normal) -(Jumlah CO2 hasil pernafasan) =
(Kandungan CO2 dalam udara )
dimana :
Q
= Jumlah udara yang diperlukan (m3/dtk)
(CO2 in intake)
= Konsentrasi CO2 di atmosfer (0,03%)
(CO2 consumed)
= Kuantitas yang dikomsumsi untuk pekerja keras (4,7x
-5 3
10 m /dtk)
(CO2 downstream)
= Nilai ambang batas CO2 (0,5%)
Jadi kuantitas udara yang dibutuhkan seseorang untuk pernafasan adalah :
0,0003 Q + 1 . (4,7x 10- 5m3/dtk) = 0,005 Q
(0,005 0,0003)Q = 4,7x 10- 5m3/dtk
0,0047 Q = 4,7x 10- 5m3/dtk
Q = 0,01 m3/dtk/orang
Q = 21,3 cfm
Dari kedua cara perhitungan tadi, yaitu atas kandungan oksigen minimum 19,5%
dalam udara pernafasan dan kandungan maksimum karbondioksida sebesar 0,5% dalam
udara untuk pernafasan, diperoleh angka kebutuhan udara segar bagi pernafasan seseorang
sebesar 6,7 cfm dan 21,3 cfm. Dalam hal ini tentunya angka 21,3 cfm yang digunakan
sebagai angka kebutuhan seseorang untuk pernafasan.
Dalam merancang kebutuhan udara ventilasi tambang digunakan angka kurang lebih
sepuluh kali lebih besar, yaitu 200 cfm per orang = 0,1 m3/detik per orang.
2.

Oksigen yang diperlukan manusia saat beraktivitas

Manusia memerlukan oksigen agar proses respirasi sel terus berlangsung. Oksigen
adalah gas yang sangat diperlukan oleh mahkluk hidup untuk bernapas. Hasil utama
pernapasan berupa energi, hasil ini disebarkan ke seluruh bagian tubuh yang berfungsi untuk:
pertumbuhan, dan kerja organ tubuh (ber-aktivitas).

Makalah Ventilasi Tambang

Zat sisa pernapasan berupa karbondioksida dan uap air yang akan dikeluarkan dari
tubuh. Lalu, berapakah jumlah oksigen yang kita butuhkan untuk bernapas? Volume udara
yang kita butuhkan untuk bernapas ketika istirahat berbeda ketika kita kerja keras. Volume
tersebut dapat kita ketahui melalui kapasitas paru-paru.
Kapasitas paru-paru dapat diuraikan sebagai berikut.
1.
Udara tidal yaitu udara yang keluar masuk paru-paru pada saat pernafasan biasa. Jumlah
volume udaranya sebesar 50 ml.
2.
Udara komplementer yaitu udara yang masih dapat dihirup setelah
inspirasi biasa, Besar volume udaranya 1500 ml.
3.
Udara suplementer yaitu udara yang masih dapat dikeluarkan setelah melakukan
ekspirasi biasa. Besar volume udaranya sekitar 1500 ml.
4.
Kapasitas Vital paru-paru yaitu kemampuan paru-paru untuk
melakukan respirasi sekuat-kuatnya atau merupakan jumlah udara
tidal, udara komplementer dan udara suplementer. Jadi besarnya
volume kapasitas vital paru-paru kurang lebih 4000 ml.
5.
Kapasitas Total paru-paru yaitu seluruh udara yang dapat ditampung oleh paru-paru.
Dari pernyataan di atas, maka dalam sekali bernafas manusia menghirup sebanyak
500 ml udara. Namun, tak semua udara tersebut terdiri dari oksigen. Hanya 20% dari udara
tersebut yang berupa oksigen. Sedangkan sisanya, yaitu sekitar 79% berupa nitrogen. Selama
1 menit manusia menghirup udara sekitar 20 kali (dalam keadaan normal atau tidak
melakukan aktivitas berat).
Berikut perhitungannya:
Jumlah udara oksigen yang dihirup dalam sekali bernafas = 20% X 500 ml = 100 ml.
Jumlah O2 yang dihirup dalam 1 menit = 100 ml X 20 kali = 2000 ml = 2 l.
1 jam = 60 menit.
1 hari = 24 jam = 24 X 60 menit = 1440 menit.
Jadi dalam sehari manusia menghirup O2 sebanyak = 2 l X 1440 = 2880 l.
3. Sifat-sifat gas
Gas yang biasanya terdapat dalam tambang baik itu tambang batubara maupun non
batubara terdiri dari oksigen, karbon dioksida, methan, hidrogen sulfida, nitrogen oksida dan
gas-gas lainnya. Gas-gas pengotor utama antara lain (Bambang H., 2002):
1) Methan (CH4)
Gas Methan merupakan gas yang selalu berada dalam tambang batubara dan sering
menjadi sebagai sumber terjadinya ledakan tambang batubara bawah tanah. Campuran gas
methan dengan udara disebut firedamp. Apabila kandungan methan dalam udara tambang
bawah tanah mencapai 1 % maka seluruh hubungan mesin listrik harus dimatikan, dan pada
konsentrasi 5% - 15% gas ini akan meledak. Gas ini mempunyai berat jenis yang lebih kecil
dari pada udara dan karenanya selalu berada pada bagian atas dari jalan udara.
Methan merupakan gas yang tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
mempunyai rasa. Pada saat proses pembatubaraan terjadi , gas methan terbentuk bersamasama dengan gas karbondioksida. Gas methan ini akan tetap berada dalam lapisan batubara
selama tidak ada perubahan tekanan padanya. Terbebasnya gas methan dari suatu lapisan
batubara dapat dinyatakan dalam suatu volume persatuan luas lapisan batubara, tetapi dapat
juga dinyatakan dalam suatu volume persatuan waktu. Terhadap kandungan gas methan yang
Makalah Ventilasi Tambang

masih terperangkap dalam suatu lapisan batubara dapat dilakukan penyedotan dengan pompa.
Proyek ini dikenal sebagai seam methane drainage.
2) Karbondioksida (CO2)
Gas ini tidak berwarna, tidak berbau, tidak mendukung nyala api dan bukan
merupakan gas racun. Gas ini lebih berat dari pada udara, karenanya selalu terdapat pada
bagian bawah dari suatu jalan udara. Dalam udara normal kandungan CO 2 adalah
0,03 %(Hartman H.L.,1982). Dalam tambang bawah tanah sering terkumpul pada bagian
bekas-bekas penambangan terutama yang tidak terkena aliran ventilasi, juga pada dasar
sumur-sumur tua. Sumber dari CO2 antara lain dari pembakaran, hasil peledakan, dari lapisan
batuan dan hasil pernafasan manusia.
Konsentrasi maksimum yang diizinkan adalah 0,5 %, pada konsentrasi ini laju
pernafasan manusia mulai meningkat, pada kandungan 3 % laju pernafasan menjadi dua kali
lipat dari keadaan normal, pada kandungan 5 % laju pernafasan menjadi tiga kali lipat, pada
kandungan 10 % manusia hanya dapat bertahan beberapa menit. Kombinasi CO 2 dan udara
biasa disebut dengan blackdamp.
3) Karbon Monoksida (CO)
Gas karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
ada rasa, dapat terbakar dan sangat beracun. Gas ini banyak dihasilkan pada saat terjadi
kebakaran pada tambang bawah tanah dan menyebabkan tingkat kematian yang tinggi. Gas
ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin darah, sehingga sedikit saja
kandungan gas CO dalam udara akan segera bersenyawa dengan butir-butir haemoglobin
(COHb) yang akan meracuni tubuh lewat darah. Afinitas CO terhadap haemoglobin menurut
penelitian (Forbes and Grove, 1954) mempunyai kekuatan 300 kali lebih besar dari pada
oksigen dengan haemoglobin. Udara yang mengandung kadar CO sebesar 12.5 % - 74 %
akan meledak jika ada percikan api, gas CO dihasilkan dari hasil pembakaran, operasi motor
bakar, proses peledakan dan oksidasi lapisan batubara. Konsentrasi maksimum yang
diizinkan adalah 0.005 %
Karbon monoksida merupakan gas beracun yang sangat mematikan karena sifatnya
yang kumulatif. Misalnya gas CO pada kandungan 0.04 %dalam udara apabila terhirup
selama satu jam baru memberikan sedikit perasaan tidak enak, namun dalam waktu 2 jam
dapat menyebabkan rasa pusing dan setelah 3 jam akan menyebabkan pingsan atau tidak
sadarkan diri dan pada waktu lewat 5 jam dapat menyebabkan kematian. Kandungan gas CO
sering juga dinyatakan dalam ppm (part per milion). Sumber CO yang sering menyebabkan
kematian adalah gas buangan dari mobil dan kadang-kadang juga gas pemanas air. Gas CO
mempunyai berat jenis 0.9672 sehingga selalu terapung dalam udara.
4) Hidrogen Sulfida (H2S)
Gas ini disebut juga stinkdamp (gas busuk) karena baunya seperti telur busuk. Gas
ini tidak berwarna, mudah terbakar, merupakan gas racun dan dapat meledak pada
konsentrasi
43 % - 46 %, kadar maksimum yang diizinkan adalah 0.001%,
merupakan hasil dekomposisi dari senyawa belerang. Gas ini mempunyai berat jenis yang
sedikit lebih berat dari udara. Merupakan gas yang sangat beracun dengan ambang batas
[Threshold Limit Value (TLV) Time Weighted Average (TWA)] sebesar 10 ppm pada waktu
selang 8 jam terdedah (exposed) dan untuk waktu singkat [Threshold Limit Value (TLV)
Short Time Exposure Limit (STEL)] adalah 15 menit 200 ppm. Walaupun gas ini mempunyai
Makalah Ventilasi Tambang

10

bau yang sangat jelas, namun kepekaan terhadap bau ini akan dapat rusak akibat reaksinya
terhadap syaraf penciuman. Pada kandungan 0.01 % untuk selama waktu 15 menit, kepekaan
manusia terhadap bau ini hilang.
5) Sulfur Dioksida (SO2)
Sulfur dioksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak bisa terbakar. Dapat
menjadi gas racun apabila ada senyawa belerang yang juga terbakar. Gas ini lebih berat dari
udara. Harga ambang batas yang diizinkan 2 ppm (TLV-TWA) atau pada waktu terdedah
yang singkat (TLV-STEL) sebanyak 5 ppm.
6) Nitrogen Oksida (NOx)
Gas nitrogen sebenarnya adalah gas yang inert namun pada keadaan tekanan tertentu
dapat teroksidasi dan dapat menghasilkan gas yang sangat beracun. Gas ini terbentuk dalam
tambang bawah tanah sebagai hasil peledakan dan gas buangan dari motor bakar. NO 2
merupakan gas yang lebih sering terdapat dalam tambang dan merupakan gas racun. Harga
ambang batas ditetapkan 5 ppm, baik untuk waktu terdedah singkat maupun untuk 8 jam
kerja. Oksida nitrogen apabila bersenyawa dengan air di udara akan membentuk asam nitrat,
yang dapat merusak paru-paru apabila terhirup oleh manusia.
7) Gas Pengotor Lain
Gas yang dapat dikelompokkan dalam gas pengotor lain adalah gas Hidrogen yang
dapat berasal dari proses pengisian aki (battery) dan gas-gas yang biasa terdapat pada
tambang bahan galian radioaktif seperti gas radon.
Sifat Bermacam Gas

Nama

Oksigen

Si
m
bol

O2

Nitrogen

N2

Karbon
dioksida

CO2

Berat
Jenis
Udara

Sifat fisik

Pengaruh

Sumber
utama

1.105
6

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
tidak ada
rasa

Bukan
racun, tidak
berbahaya

Udara
normal

0.967
3

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
tidak ada
rasa

Bukan
racun, tapi
menyesakka
n

Udara
normal
lapisan

1.52
91

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
rasa agak

Sesak nafas,
berkeringat

Makalah Ventilasi Tambang

Perna
fasan,
lapisan,
motor
bakar,

Amban
g
Batas
TLU
TWA
(%)

0.5

Amba
ng
Batas
TLU

C
(%)

Kisar
Ledak

11

asam

Methan

Karbon
monoksid
a

Hidrogen
sulfida

Sulfur
dioksida

Nitrogen
oksida

CH
4

CO

H2S

SO2

NO
x

ledakan

0.55
45

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
tidak ada
rasa

0.96
72

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
tidak ada
rasa

Racun,
dapat
meledak

Nyala
api,
peledak
an,
motor
bakar,
oksidasi

1.19
12

Tidak
berwarna,
bau telur
busuk,
rasa asam

Racun,
Dapat
meledak

Lapisa
n air
tanah,
peledak
an

0.001

2.264

Tidak
berwarna,
bau
menggang
gu, rasa
asam

Racun

Pemba
karan
sulfida,
motor
bakar

0.0005

1.58
95

Bau
tajam,
warna
coklat,
rasa pahit

Racun

Peledak
an,
motor
bakar

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
tidak ada
rasa

Dapat
meledak

Air
pada
api,
panas
baterai

Radio aktif

Lapisan

Hidrogen

H2

0.06
95

Radon

Rn

7.665

Menyesakka
n nafas,
dapat
meledak

Lapisa
n, motor
bakar,
peledak
an

0.005

12.5
74

4 -44

5-15

0.000
5

4 74

IWL

Sumber : Hartman, Mine Ventilation and Air Conditioning,2nd edition p.52

4.

Pengendalian gas tambang bawah tanah

Makalah Ventilasi Tambang

12

Beberapa cara pengendalian yang dilakukan terhadap pengotor gas pada tambang bawah
antara lain:
1)
Pencegahan (Prevention)
a) Menerapkan prosedur peledakan yang benar
b) Perawatan dari motor-motor bakar yang baik
c) Pencegahan terhadap adanya api
2)

Pemindahan (Removal)
a) Penyaliran (drainage) gas sebelum penambangan
b) Penggunaan ventilasi isap lokal dengan kipas

3)

Absorpsi (penyerapan)
a) Penggunaan reaksi kimia terhadap gas yang keluar dari mesin
b) Pelarutan dengan percikan air terhadap gas hasil peledakan

4)

Isolasi (penyekatan)
a) Memberikan batas sekat terhadap daerah kerja yang terbakar
b) Penggunaan waktu-waktu peledakan pada saat pergantian gilir atau waktu-waktu
tertentu.

5)

Pelarutan
a) Pelarutan lokal dengan menggunakan ventilasi lokal
b) Pelarutan dengan aliran udara utama

6)

Supression (Penekanan)

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Makalah Ventilasi Tambang

13

Ventilasi adalah pengendalian pergerakan udara, arah dan jumlahnya. Meskipun tidak
memberikan kontribusi langsung ke tahap operasi produksi, ventilasi yang kurang tepat
seringkali akan menyebabkan efisiensi yang lebih rendah dan produktivitas pekerja menurun,
tingkat kecelakaan meningkat, dan tingginya tingkat ketidakhadiran.
1. Perhitungan udara segar
Pada sistem pernafasan manusia, oksigen dihisap dan karbondioksida dibebaskan.
Jumlah yang diperlukan akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya aktifitas fisik
dan dapat dihitung pula kuantitas udara segar minimum yang dibutuhkan seseorang untuk
proses pernafasan berdasarkan kandungan oksigen minimum yang diperkenankan dan
kandungan karbondioksida maksimum yang masih diperbolehkan.
Perlu juga dalam hal ini didefenisikan arti angka bagi atau nisbah pernafasan
(respiratory quotient) yang didefenisikan sebagai nisbah antara jumlah karbondioksida yang
dihembuskan terhadap jumlah oksigen yang dihirup pada suatu proses pernafasan.
Pada manusia yang bekerja keras, angka bagi pernafasan ini (respiratory quotient) sama
dengan satu, yang berarti bahwa jumlah CO2 yang dihembuskan sama dengan jumlah O2 yang
dihirup pada pernafasannya.
Dalam merancang kebutuhan udara ventilasi tambang digunakan angka kurang lebih
sepuluh kali lebih besar, yaitu 200 cfm per orang = 0,1 m3/detik per orang.
2. Oksigen yang diperlukan manusia saat beraktivitas
sekali bernafas manusia menghirup sebanyak 500 ml udara. Namun, tak semua udara
tersebut terdiri dari oksigen. Hanya 20% dari udara tersebut yang berupa oksigen. Sedangkan
sisanya, yaitu sekitar 79% berupa nitrogen. Selama 1 menit manusia menghirup udara sekitar
20 kali (dalam keadaan normal atau tidak melakukan aktivitas berat).
3. Sifat-sifat gas
Sifat Bermacam Gas

Nama

Si
m
bol

Oksigen

O2

Nitrogen

N2

Berat
Jenis
Udara

Sifat fisik

Pengaruh

Sumber
utama

1.105
6

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
tidak ada
rasa

Bukan
racun, tidak
berbahaya

Udara
normal

Tidak
berwarna,
tidak

Bukan
racun, tapi
menyesakka

Udara
normal
lapisan

0.967
3

Makalah Ventilasi Tambang

Amban
g
Batas
TLU
TWA
(%)

Amba
ng
Batas
TLU

C
(%)

Kisar
Ledak

14

berbau,
tidak ada
rasa

Karbon
dioksida

Methan

Karbon
monoksid
a

Hidrogen
sulfida

Sulfur
dioksida

Nitrogen
oksida

CO2

CH
4

CO

H2S

SO2

NO
x

1.52
91

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
rasa agak
asam

Sesak nafas,
berkeringat

Perna
fasan,
lapisan,
motor
bakar,
ledakan

0.55
45

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
tidak ada
rasa

Menyesakka
n nafas,
dapat
meledak

Lapisa
n, motor
bakar,
peledak
an

0.96
72

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
tidak ada
rasa

Racun,
dapat
meledak

Nyala
api,
peledak
an,
motor
bakar,
oksidasi

0.005

12.5
74

1.19
12

Tidak
berwarna,
bau telur
busuk,
rasa asam

Racun,
Dapat
meledak

Lapisa
n air
tanah,
peledak
an

0.001

4 -44

2.264

Tidak
berwarna,
bau
menggang
gu, rasa
asam

Racun

Pemba
karan
sulfida,
motor
bakar

0.0005

1.58
95

Bau
tajam,
warna
coklat,
rasa pahit

Racun

Peledak
an,
motor
bakar

Tidak
berwarna,
tidak
berbau,
tidak ada
rasa

Dapat
meledak

Air
pada
api,
panas
baterai

Radio aktif

Lapisan

Hidrogen

H2

0.06
95

Radon

Rn

7.665

Makalah Ventilasi Tambang

0.5

5-15

0.000
5

4 74

IWL

15

4. Cara pengendalian gas tambang bawah tanah


Beberapa cara pengendalian yang dilakukan terhadap pengotor gas pada
tambangbawah antara lain:
1)
Pencegahan (Prevention)
2)
Pemindahan (Removal)
3) Absorpsi (penyerapan)
4)
Isolasi (penyekatan)
5)
Pelarutan
6)
Supression (Penekanan)

Daftar Pustaka
http://sasastem.blogspot.co.id/2014/12/ventilasi-tambang-bawah-tanah.html diakses pada
tanggal 13 maret 2016 pukul 16.30 WIB
http://myassiver.blogspot.co.id/2015/06/materi-kuliah-ventilasi-tambang_3.html diakses pada
tanggal 13 maret 2016 pukul 16.45 WIB
http://youngenterpreneurshop.blogspot.co.id/2014/05/jumlah-oksigen-yang-dihirupmanusia.html diakses pada tanggal 13 maret 2016 pukul 17.00 WIB

Makalah Ventilasi Tambang