Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM GEOLOGI FISIS

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Geologi Fisis yang diampu
oleh Ir. Dwiyanto, M.T

Disusun Oleh :
Arga Brahmantyo
(J2D009027)

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Geologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang mempelajari dan

mengembangkan pengetahuan yang berkaitan dengan kebumian seperti, bentuk muka


bumi, material penyusun bumi, jenis batuan, sifat-sifat fisika dan kimia, bentuk batuan,
proses pembentukannya dan sejarah bumi serta geologi terapannya seperti Geologi
Minyak dan Gas Bumi, Geologi Teknik, Hidro Geologi, Geologi Tata Lingkungan,
Geologi Tambang dan lain-lain. Teknik Geologi berperan sebagai wahana pengkajian
dan pemanfaatan sumberdaya alam (mineral, energi, dan air) serta penerapan
kerekayasaan, lingkungan hidup, dan mitigasi bencana alam.
Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang
bentuk batuan hasil dari proses deformasi. Proses ini terjadi akibat adanya gaya didalam
bumi. Geologi struktur lebih mekankan pada studi mengenai unsur-unsur struktur
geologi, misalnya perlipatan (fold), rekahan (fracture), sesar (fault), dan sebagainya,
sebagai bagian dari satuan tektonik.
Fisika merupakan ilmu dasar yang banyak diterapkan di kehidupan sehari-hari
salah satunya diterapkan untuk mempelajari struktur bawah permukaan bumi. Cabang
ilmunya dinamakan geofisika. Didalam geofisika kita menerapkan hukum-hukum fisika
dalam mempelajari bumi, akan tetapi belum cukup jika hanya menerapkan hukum
fisika. Untuk mempelajari bawah permukaan secara lebih akurat diperlukan
kerjasamanya antara geofisika dan geologi sehingga dapat memahami betul mengenai
bawah permukaan.
Seperti sudah dijelaskan diatas Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Matematika
mengadakan pratikum geologi fisis untuk menunjang ilmu geologi fisis yang ada di
dalam mata kuliah. Pratikum ini didasari rasa keingin tahuan mahasiswa akan
penampakan struktur geologi dan batuan secara nyata di lapangan tidak hanya gambar
pada presentasi

1.2

1.3

Tujuan
Mengetahui struktur geologi pada daerah penelitian
Mengetahui sifat fisik litologi pada daerah penelitian
Menerapkan teori geologi fisis pada daerah penelitian
Waktu Pelaksanaan
Hari
: Minggu
Tanggal
: 30 Desember 2012
Lokasi
: Bayat, Klaten, Jawa Tengah

BAB II
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

2.1

Geologi Regional Daerah Bayat


Lokasi daerah Bayat berada kurang lebih 25 km di sebelah timur kota

Yogyakarta dan terletak sekitar 13 km di sebelah tenggara Klaten Jawa Tengah.. Secara
umum fisiografi Bayat dibagi menjadi dua wilayah yaitu wilayah di sebelah utara
Kampus Lapangan terutama di sisi utara jala raya Kecamatan Wedi yang disebut
sebagai area Perbukitan Jiwo (Jiwo Hills), dan area di sebelah selatan Kampus
Lapangan yang merupakan wilayah Pegunungan Selatan (Southern Mountains). Berikut
akan diberikan penjelasan mengenai kedua daerah tersebut:

Gambar 2.1 Lokasi daerah Bayat (dalam kotak hitam), kurang lebih 25 km sebelah
timur Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan geologi dan stratigrafi
daerah

penelitian,

menggunakan peta

dilakukan

dengan metode Pemetaan

Geologi Permukaan

Topografi Skala 1:25000 Sebagai Peta Dasar.

Bentang alam derah penelitian merupakan bentuk lanjut dari suatu Pegunungan
Lipatan, terdiri dari perbukitan homoklin, perbukitan lipatan, perbukitan intrusi dan
perbukitan lembah antiklin dengan sungai-sungai konsekuen, subsekuen dan obsekuen
mengalir yang secara membentuk pola aliran dendritik.

Urutan urutan stratigrafi mulai dari Satuan Metamorfi berumur Pretersier


sampai satuan berumur Miosen tengah tersingkap dengan baik. Di Perbukitan Jiwo,
diatas Satuan Morfologi ber umur Pratersier terletak secara tidak selaras satuan-satuan
batugamping dan batupasir laut dangkal yang berumur Eosen Tengah, Formasi
Wungkal dan Formasi Gamping. Secara tidak selaras dia tas Formasi Gemping terletak
satuan-satuan endapan turbidit laut dalam yang berumur Oligosen Akhir sampai Miosen
Awal ( zona N.2 N8) yaitu formasi Kebo, Formasi Butak, Formasi Semilir dan
Formasi Nglanggran, satuan-satuan mana terletak pada zona Pengunungan Selatan
Jawa Timur. Semua satuan tersebut, secara tidak selaras ditutupi oleh satuan
batugamping yang berumur Mosen Tengah ( zona N-12), yaitu Formasi Oyo. Di Daerah
penelitian juga terjadi pengintrusian diorit dan diabas diperkirakan terjadi pada awal
Miosen Tengah dan intrusi diorit yang diperkirakan terjadi pada kala Pliosen.
Fisiografi
Secara fisiografis Perbukitan Bayat merupakan suatu inlier dari batuan Pra Tersier
dan Tersier di sekitar endapan Kuarter, yang terutama terdiri dari endapan flufiovulkanik dari Merapi. Elevasi tertinggi dari Puncak-puncak yang ada tidak lebih dari
400 meter diatas muka laut, sehingga perbukitan tersebut dapat disebut perbukitan
rendah. Perbukitan itu tersebar menurut jalur yang arahnya berbeda. Di bagian barat
(Jiwo Barat), jalur puncak-puncak bukit berarah utara selatan, yang diwakili oleh
puncak-puncak Jabalkat, Kebo, Merak, Cakaran, Budo Sari, dan Tugu dengan di bagian
paling utara membelok ke arah barat, yaitu daerah perbukitan Kampak. Di sebelah
timur (Jiwo Timur) arah jalurnya adalah barat-timur, dengan puncak-puncak Konang,
Pendul dan Temas, dengan percabangan kearah utara, yang terwakili oleh puncak
Jokotuo dan Bawak.
Daerah perbukitan yang tersusun oleh batu gamping menunjukkan perbukitan
memanjang dengan pegunungan yang tumpul sehingga kenampakan puncak tidak
begitu nyata. Tebing-tebing perbukitannya tidak terlalu terbiku sehingga alur-alur tidak
banyak dijumpai. Sebagai contoh adalah perbukitan Bawak-Temas di Jiwo Timur dan
perbukitan Tugu-Kapak di Jiwo Barat. Untuk daerah yang tersusun oleh batuan
metamorf, ini terisi oleh campuran endapan pasir Merapi, endapan lempung hitam dan
endapan rombakan dari Pegunungan Selatan. Endapan lepas yang berumur kuater ini
diduga menutup lembah sesar yang membatasi Pegunungan Selatan dengan perbukitan

Jiwo. Jenis dan arah gerakan sesar ini belum diketahui dengan pasti karena
singkapannya saat ini belum ditemukan.
Stratigrafi
Batuan tertua yang tersingkap didaerah Perbukitan Jiwo adalah kompleks batuan
metamorf yang diduga berumur Pra Tersier. Kompleks Batuan ini merupakan basement
dari cekungan sedimen Paleogen, dan merupakan salah satu batuan yang tertua di Jawa,
serupa yang dijumpai di daerah Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah dan Ciletuh
di Jawa Barat. Endapan Paleogen yang dijumpai berupa batupasir dengan sisipan
batugamping yang kaya akan foraminifera besar. Batuan tersebut diterobos oleh tubuh
batuan beku yang terutama terdiri dari mikrodiorit.
Kompleks batuan metamorf yang merupakan batuan tertua di perbukitan Jiwo
terutama berupa filit, sekis dan marmer. Filit dan sekisnya menunjukkan foliasi yang
secara umum mempunyai jurus barat-daya timur laut. Kedudukan filit terhadap sekis
sangat sukar ditentukan karena kebanyakan singkapan sudah lapuk dan di banyak
tempat terpotong oleh sesar yang sangat kompleks. Disamping itu dijumpai pula kuarsit
yang mempunyai kedudukan baik memotong maupun sejajar atau mengisi celah
diantara bidang foliasi. Erosi dari kuarsit ini menghasilkan butiran kuarsa susu,
berukuran kerikil sampai berangkal dan merupakan penciri khas daerah batuan
metamorf.
Struktur Geologi
Struktur-struktur geologi yang bekembang di daerah Bayat

adalah struktur

lipatan dan sesar-sesar naik, turun dan sesar mendatar. Struktur Geologi tersebut
berkembang diperkirakan akibat bekerjanya gaya kompresi berarah hampir utaraselatan yang kemungkinan berlangsung dalam dua periode, pada awal kala Miosen
Tengah sebelum Formasi Oyo diendapkan dan pada kala Pliosen setelah Formasi Oyo
diendapkan. Bahan Galian yang terdapat di daerah Bayat yang memiliki nilai ekonomis
adalah marmer, batu gamping, lempung, breksi tufa dan batuan beku.

BAB III
KEGIATAN DALAM PRAKTIKUM
3.1.

Metodologi Pengambilan Data

3.1.1

Alat

Peralatan yang digunakan pada Praktikum Geologi Fisis kali ini adalah sebagai
berikut :

Kompas Geologi
digunakan untuk menentukan arah, besar sudut dan kedudukan lapisan batuan.

Gambar 3.1 kompas Geologi

Palu Geologi (pick point dan chisel point)


pick point: digunakan untuk mengambil sample batuan yang
berjenis batuan beku dan batuan metamorf.

Gambar 3.2 pick point


-

Chisel point : digunakan untuk mengambil batuan yang


berjenis batuan sediment.

Gambar 3.3 chisel point

Buku Catatan Lapangan


Unutuk mencatat berbagai kenampakan yang ada dan data-data yang diperlukan
dalam pembuatan laporan nantinya

Lup ( kaca pembesar )


Digunakan untuk membantu dalam mengamat struktur batuan.

Gambar 3.4 Lup

Kamera
Digunakan untuk mnegabadikan kenampakan dan sample batuan dll.

Kantong sample
Digunakan untuk tempat atau pembungkus sample suatu batuan.

3.1.2 Bahan

Peta topografi daerah Bayat skala 1 : 25000


Digunakan untuk menentukan lokasi dan untuk pengeplotan data.

Peta Geologi daerah Bayat skala 1 : 25000


Digunakan untuk mengetahui kondisi geologi daerah Bayat sebelumnya.

Kantong Sampel
Digunakan untuk tempat sampel batuan

3.1.3 Tahap Pekerjaan Lapangan

Mencari singkapan atau outcrop yang baik untuk dilakukan pengamatan


Mengamati singkapan dari jarak jauh dan jarak dekat
Mencatat, mengukur, dan mendeskripsi kondisi singkapan di lapangan
Mengambil foto singkapan di lapangan
Mengambil sampel batuan pada singkapan di lapangan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Stasiun 1 Gunung Liwed

Pada stasiun pertama in terdapat 3 jeni batuan yang nampak pada lokasi. Yang
pertama adalah batuan metamorf . Batuan metamorf yang ditemukan berjenis batuan
metamorf schist yang mempunyai ciri berwarna kecoklatan, terdapat foliasi dimana
mulai terlihat adanya penjajaran antara mineral pipih (kuarsa) dan mineral granular.
Batuan metamorf ini mempunyai kelapukan berkisar (60%) dan terdapat urat kuarsa di
dalamnya. Batuan metamorf schist terjadi akibat adanya tekanan dan temperatur yang
tinggi yang mengenai batuan asalnya, tekanan yang lebih dominan sehingga terjadi
penjajaran mineral atau foliasi pada batuan ini. Proses metamorfisme ini menimbulkan
urat kuarsa yang terbentuk dalam batuan metamorf ini, karena hal tersebut mineral
kuarasa terlarutkan sehingga mengisi rekahan yang ada. Struktur geologi yang muncul
pada umumnya berupa kekar.

Gambar 4.1 Batuan Metamorf


Batuan selanjutnya yang aada pada stasiun 1 gunung Liwed ini berupa batuan diorite.
Batuan ini muncul akibat adanya hasil dari subduksi ( tumbukan antara 2 lempeng,
yakni lempeng samudra dan benua) yang menimbulkan peleburan parsial pada kedua
lempeng akibat gesekan tekanan yang ada. Batuan ini mempunyai ciri warna relatif
cerah dan berbentuk cenderung prismatik memanjang dan ada juga yang berbentuk
agak bulat. Pada batuan ini mempunyai mineral hornblende berwarna hitam dengan
tingkat pelapukan 60%. Batuan ini termasuk kedalam batuan beku hasil dari
pembekuan magma, dari warna yang cerah batuan ini dapat diinterpretasikan magma
intermediet. Struktur geologi yang meneybabkan batuan deorite ini menyudut adalah

adanya shear joint, tetapi secara umum berupa kekar akibata adanya gaya tektonik yang
mengenainya.

Gambar 4.2 Batuan deorite


Pada stasiun 1 juga ditemukan intrusi batuan beku yang menunjang keatas akibat
adanya subduksi. Batuan beku in mempunyai ciri berwarna putih cerah dan berbentuk
memanjang. Batuan beku ini mempunyai kelapukan sekitar 70%..

4.2

Gambar 4.3 Intrusi batuan beku


Stasiun 2 Gunung Pendul
Daerah sekitar puncak Pendul adalah satu-satunya tubuh bukit yang seluruhnya

tersusun oleh batuan beku. Kondsi morfologinya cukup kasar mirip perbukitan batuan

metamorf, namun relief yang ditunjukkan puncak-puncaknya tidak sekuat perbukitan


metamorf.
Batuan metamorf Pra Tersier dan batuan Paleogen diterobos oleh tubuh batuan
beku yang terutama terdiri dari mikrodiorit. Karena singkapan utama batuan beku ini
terdapat di G.Pendul, maka untuk selanjutnya secara umum akan disebut sebagai
Mikrodiorit Pendul atau Formasi Pendul. Selain berupa mikrodiorit, batuan beku ini
menunjukkan variasi berupa diorit, dasit dan monzonit tetapi dalam jumlah yang lebih
sedikit. Batuan beku ini telah mengalami retakan dan pelapukan. Pelapukan yang
dimiliki oleh batuan mikrodiorit gunung pendul berkisar sedang 65%. Retakan
kebanyakan telah mengalami pengisian yang berupa kalsit. Akibat retakan tersebut
maka terjadi pelapukan mengulit bawang (sphaeroidal weathering) yang banyak
dijumpai di lereng selatan dan timur G.Pendul. Batuan beku yang termasuk dalam
Formasi Pendul tersebut bersifat menerobos batuan yang lebih tua.

Gambar 4.4 Formasi mikrodiorit Gunung Pendul


4.3

Stasiun 3 Gunung Semangu


Di daerah Semangu Batuan metamorf membentuk perbukitan, perbukitannya

menunjukkan relief yang lebih nyata, dengan tebing-tebing terbiku kuat. Kuatnya
penorehan tebing tersebut berakibat bahwa di kaki perbukitan ini banyak teronggok
endapan hasil erosi yang dikenal sebagai endapan colluvial. Puncak-puncak perbukitan
yang tersusun oleh batuan metamorf ini kelihatan lebih menonjol dan beberapa
diantaranya cenderung berbentuk kerucut. Batuan metamorf schist terbentuk akibat
adanya tekanan dan temperatur yang tinggi, yang mengenai batuan asalnya, namun
tekanan lebih dominan sehingga terjadi penjajaran mineral atau foliasi pada batuan ini.
Urat kuarsa yang terbentuk pada batuan ini merupakan hasil dari proses metamorfisme.

Di

lokasi

sekis

ini terdapat

sebagai

fragmen

dalam

batulempung

Eosen

Formasi Wungkal-Gamping. Hasil analisis petrografi menunjukkan, bahwa mineralogi


penyusun sekis ini antara lain mineral kuarsa (40-55%), felspar (10-15%), muskovit
(10-35%), dan sedikit mineral opak.

Gambar 4.5 Batuan schist Gunung Semangu


4.3

Stasiun 3 Gunung Watu Prahu


Di sebelah utara Gunung Pendul tepatnya di daerah Watuprahu dijumpai

singkapan batu gamping nummulites, berwarna abu-abu dan sangat kompak, di sekitar
batu gamping nummulites tersebut terdapat batu pasir berlapis. Singkapan batuan beku
di Watuprahu (sisi utara Gunung Pendul) secara stratigrafi di atas batuan Eosen yang
miring ke arah selatan. Batuan beku ini secara stratigrafi terletak di bawah batu pasir
dan batu garnping yang masih mempunyai kemiringan lapisan ke arah selatan.

Gambar 4.6 Batuan beku di Gunung Watuprahu


Di daerah Watuprahu dijumpai fosil foraminivera, fosil coraline algae dan
echinoid. Algae tersebut biasanya membentuk struktur lapisan yang konsentris seperti
bola (oncoid) dengan inti foraminifera besar, menunjukkan hasil pengendapan laut
dangkal yang tetapi karena adanya pertemuan antara 2 lempeng, yaitu Eurasian Plate
(lempeng benua Eurasia) dengan Indo-Australian Plate (Lempeng Samudera IndoAustralia) yang mempengaruhi daerah ini. Ke arah atas, batu gamping ini berubah
menjadi batupasir yang bersifat gampingan dan mengandung fosil foraminifera
plangton yang berjumlah sedikit dengan pengawetan yang buruk.
Fosil foraminifera

Gambar 4.7 Fosil numulites

4.4

Stasiun 4 Gunung Jokotuo


Gunung Jokotuo ini terletak di perbukitan Jiwo bagian Timur, lereng sebelah

utara. Lokasi ini merupakan bukitkecil disebelah utara situs watuprahu. Daerah jokotou
ini dulunya merupakandaerah pertambangan bagiwarga sekitar.
Pada daerah ini dijumpai singkapan marmer-sekis-filit berupa tebing. Batuanini
merupakan batuan tertua di Pulau jawa sebagai batuan dasar yang terbentuk pada
zaman pra tersier. Batuan ini tersingkap karena adanya proses tektonik.
Batu sekis-filit yang dijumpai distasiun pengamatan ini berwarnacoklat yang
menandakan

batuansekis

yang

dijumpai

sedah

mulaimelapuk,

batuan

asal

shale,memiliki struktur foliasi, bertekstur lepidoblastik karena pipih dan panjang.


Komposisidari batuan ini ialah adanyamineral mika yangmenyebabkan bentuknya

berlembar-lembar dan adanya sekis yang bermetamorosis menjadi filit yang disebut
sekis-filitSedangkan batu marmer yang ditemukan di daerah ini berwarna
putih, berstuktur

foliasi,

dan

bertekstur

granuloblastik.

Seharusnya

batu

marmer memiliki struktur massif, namun karena diapit oleh sekis filit maka
akanmenyebabkan waktu bermetamorfosis kedua batuan ini menjadi bersamaan.
Batumarmer ini berasal dari batugamping dengan komposisi mineral karbonat.

Gambar 4.8 Gunung Jokotuo

4.6 Lokasi Penelitian 6 (Perbukitan Sinklin dan Antiklin)


Pada musim hujan kenampakan pada daerah ini tidak begitu terlihat dikarenakan
banyaknya pohon yang tumbuh pada daerah tersebut sehingga kenampakan sinklin dan
antilin tidak terlihat jelas. Kenampakan antiklin terlihat sebagai puncak sedangkan
siklin terlihat sebagai lembah. Kenampakan antiklin dan siklin terlihat jelas pada
musim kemarau karena jumlah pohon yang berkurang.

Gambar 4.9 Antiklin dan Siklin

BAB VII
PENUTUP

7.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan fieldtrip Bayat 2009/2010 kali ini didapat


kesimpulan berupa data-data sebagai berikut:
7.1.1. STA 1
a.LP 1
Lokasi ini terletak di daerah Watu Perahu yang terletak di antara dua
buah bukit yakni Bukit Pendul dan Sukit Semangu. Di daerah ini
dijumpai batuan sedimen karbonatan yang membentuk seperti perahu
terbalik. Batu ini tersusun oleh biota laut berupa fosil numulites yang
terendapkan bersama material gamping.
b.LP 2
Tidak jauh berbeda dengan LP 1 daerah ini dijumpai batuan sedimen
klastik yang tersususn oleh material gamping dan fosil numulites. Batuan
ini terbentuk di daerah laut, setelah itu batuan ini mengalami
pengangkatan oleh tenaga endogen sehingga batuan ini terletak di daratan
dan batuan ini tidak terlihat jenis perlapisannya karena sudah mengalami
kerusakan oleh tenaga tersebut.
c.LP 3
Pada STA 1 LP3 ini dijumpai batuan metamorf dengan strukttur
foliasi dengan jenis foliasi schistosic. Memiliki tekstur kristaloblastik.
Komposisi mineral utamanya adalah mika(muskovit dan biotit) dan kalsit
sebagai mineral tambahan. Nama batuannya adalah Sekis Mika (W.T.
Huang, 1962)

7.2. Saran
7.2.1. Praktikan lebih mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam
praktikum
7.2.2. Dalam melakukan praktikum seharusnya praktikan lebih aktif dan
melakukan percobaan secara bergantian.

7.2.3. Praktikan diharapkan menguasai terlebih dahulu atau setidaknya tau tentang
daerah yang akan diobservasi.
7.2.4 Praktikan sebaiknya lebih memperhatikan sesuatu yang disampaikan oleh
dosen maupun asisten daripada langsung melakukan penelitian atau
pengambilan data.
7.2.5

Praktikan lebih memperhatiakn efisiensi waktu sehingga praktikum


berjalan sesuai rencana.

DAFTAR PUSTAKA

Graha, Doddy Setia. 1987. Batuan dan Mineral. Penerbit Nova : Bandung.
Staf Asisten Mineralogi. 1995 . Buku Petunjuk Praktikum Mineralogi. Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Geologi UGM : Yogyakarta.
Tim Asisten Mineralogi. 2009. Geologi Regional Daerah Kecamatan Bayat,
Kabupaten Klaten dan Format Catatan Lapangan Fieldtrip Mineralogi TA
2008/2009. UNDIP : Semarang.