Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH KULTUR SEL

PEMICU I

PENGEMBANGAN KULTUR SEL DALAM ERA


KEMAJUAN BIOTEKNOLOGI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kultur Sel

OLEH
KELOMPOK 4

EVIANA

(1406566685)

HARIS ABDUL AZIS

(1406605755)

MUHAMMAD GALIH

(1406533554)

RETNO WIDYATI

(1406533491)

YASMIN EKAPRATIWI

(1406533610)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI BIOPROSES


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Pemicu I :Pengembangan Kultur Sel
Dalam Era Kemajuan Bioteknologi.
Makalah ini membahas mengenai kultur sel, meliputi teknik-teknik yang digunakan
dalam kultur sel, faktor yang mempengaruhi kultur sel, media kultur sel, dan aplikasi kultur
sel. Selain itu, makalah ini membahas tentang tanaman jati emas yang dikembangkan dengan
teknik kultur jaringan, syarat yang harus dimiliki untuk kultur jaringan, keuntungan yang
diperoleh, dan cara pengoptimalannya.
Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa penulis tidak dapat terlepas dari kesalahan
dalam menulis makalah ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
mata kuliah Kultur Sel yaitu Ibu Dr. Dianursanti S.T., M.T. serta asisten dosen yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis. Penulis berharap, makalah ini dapat menerangkan
konsep kultur sel dengan baik kepada pembaca.

Depok, 27 September 2017

Tim Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

Daftar Gambar

Daftar Tabel

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang

Tujuan Pembelajaran

Peta Konsep

BAB II Isi
Pembahasan nomor 1

Pembahasan nomor 2

Pembahasan nomor 3

Pembahasan nomor 4

Pembahasan nomor 5

10

Pembahasan nomor 6

12

Pembahasan nomor 7

15

Pembahasan nomor 8

22

BAB III Penutup


Kesimpulan

27

Saran

27

Daftar Pustaka

29

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Media Kultur Sel .............................................................................. 10
Gambar 2 Jenis pengaduk pada labu spinner ................................................... 17
Gambar 3 Sel beku yang nantinya akan dilelehkan. ......................................... 21
Gambar 4 Teknik Mikropropagasi: dari eksplan diinisiasi langsung untuk
membentuk multiplikasi tunas; eksplan dapat berasal dari jaringan meristem,
pucuk atau tunas samping . ................................................................................. 22
Gambar 5 Seleksi In Vitro ................................................................................ 23
Gambar 6 Contoh-contoh metabolit sekunder .................................................. 24
Gambar 7 Produksi antibiotik dari e-coli ......................................................... 25
Gambar 8 Stem Cell........................................................................................... 26

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Kandungan Utama Serum dan Konsentrasinya....................................... 9
Tabel 2 Adherent Culture vs. Suspension Culture ............................................ 13
Tabel 3 Keuntungan vs Kerugian Media Bebas Serum .................................... 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kultur sel merupakan salah satu komponen penting dalam aplikasi-aplikasi yang
akan dihadapi oleh mahasiswa program Teknologi Bioproses kedepannya. Seperti yang kita
ketahui, mahasiswa program Teknologi Bioproses berfokus pada pengolahan/penggunaan
makhluk hidup/ sel makhluk hidup seperti sel alga, sel bakteri, dsb. Karena itulah
pengembangbiakan sel-sel tersebut sangat penting untuk mampu melakukan proses produksi
dengan menggunakan sel-sel tersebut. Oleh karena itulah, kemampuan mengkultur sel ini
diangkat menjadi salah satu keahlian utama yang harus dikuasai oleh mahasiswa Teknologi
Bioproses agar dapat diaplikasikan di lingkungan kerja.
Di masa modern, kebutuhan pasar untuk bibit varietas unggul sangat
tinggi.Masyarakat menginginkan mendapatkan sesuatu dengan kualitas tinggi namun dengan
harga yang murah juga. Karena bibit dari suatu varietas unggul yang dihasilkan jumlahnya
sangat terbatas sedangkan bibit tanaman yang dibutuhkan jumlahnya sangat banyak,
dibutuhkanlah proses penyediaan bibit unggul. Salah satu teknologi harapan yang banyak
dibicarakan dan telah terbukti memberikan keberhasilan adalah melalui teknik kultur
jaringan. (Indriyanto, G., 1987)
Kultur jaringan adalah metode perbanyakan vegetatif dengan menumbuhkan sel,
organ atau bagian tanaman dalam media buatan secara steril dengan lingkungan yang
terkendali. Teknik kultur jaringan merupakan suatu metode mengisolasi bagian tertentu dari
tanaman seperti protoplas, sel, sekelompok sel, jaringan dan atau organ yang kemudian
menumbuhkannya pada kondisi aseptik yang terkontrol sehingga bagian-bagian tersebut
dapat tumbuh dan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap. (Ahloowalia B 1986)
Salah satu kebutuhan masyarakat adalah bahan baku untuk pembuatan furnitur,
rumah, dll. Untuk membuat furniture yang berkualitas tinggi, biasanya produsen
menggunakan pohon jati emas.Jati emas dikatakan memiliki tekstur yang lebih mudah
dibentuk, namun tetap kuat (Anonim, 2011). Jati emas jelas menjadi primadona sebagai
budidaya tanaman semenjak ia terlahir dari riset laboratorium terhadap sistem kultur jaringan
dari bibit unggul. Keunggulan yang didapat dari jati emas antara lain tidak membutuhkan
lamanya waktu panen.
Pada makalah kali ini, pengetahuan mengenai kultur jaringan, termasuk kelebihan
kultur jaringan, perbedaannya dengan makhluk hidup yang tumbuh secara alami, pembuatan
4

media buatan untuk kultur, faktor-faktor pendukung dalam kultur jaringan, metode kultur
jaringan, dan aplikasi kultur jaringan.
1.2

Tujuan Pembelajaran
1. Mengetahui alasan dan keunggulan kultur jaringan
2. Mengetahui perbedaan produk hasil kultur jaringan dengan produk yang tumbuh
secara alami
3. Mengetahui sifat yang harus dimiliki sebagai syarat untuk dapat dikultur
4. Mampu mengidentifikasi dan membedakan jenis-jenis media kultur beserta kelebihan
dan kekurangannya
5. Mengetahui cara pembuatan media buatan
6. Mengetahui dan memahami metode-metode/teknik-teknik kultur jaringan
7. Mengetahui dan menjelaskan aplikasi-aplikasi dari pengembangan kultur jaringan

1.3 Peta Konsep

BAB II

PEMBAHASAN
1. Dapatkan anda menjelaskan mengapa tanaman jati emas banyak dikembangkan
dengan teknik kultur jaringan? Bagaimana bila ditumbuhkan secara alamiah?
Keunggulan yang didapat dari jati emas antara lain tidak membutuhkan lamanya
waktu panen. Hal ini dicapai dengan inovasi teknologi kultur jaringan,panen yang di masa
silam mesti menunggu sekitar 40 hingga 50 tahun, kini hanya perlu 15 tahun, dan bahkan
bisa panen hanya dalam kurun 7 tahun seusai pembibitan.Saat mencapai 7 tahun, jati emas
memiliki lingkar pohon 27 cm dan tinggi pohonnya bisa sampai 16 meter. Di samping itu,
jati emas tidak merepotkan hal penanaman juga proses pemeliharaannya pun terbilang
mudah, apalagi karena jati emas tidak rawan penyakit. Bentuk batang hasil kultur jaringan
lebih lurus dan silindris, juga pertumbuhan pohon relatif seragam. Untuk mencapai semua
keunggulan itulah kultur jaringan dilakukan pada tanaman jati emas.(Anonim, 2011)
Apabila ditumbuhkan secara alamiah, bibit jati akan tumbuh dengan kelajuan
pertumbuhan yang lama, sehingga akan mempersulit memenuhi kebutuhan pasar akan
kayu jati. Ketersediaan jati yang tumbuh secara alami jumlahnya semakin menurun akibat
dari tidak adanya keseimbangan antara penebangan dan penanaman kembali dan akan
membuat kerusakan lingkungan. (Seika, 2011)

2. Apakah semua tanaman dapat dibudidayakan dengan kultur jaringan? Sifat apa
yang dimiliki tanaman sehingga dapat dilakukan kultur jaringan?
Pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman ini berdasarkan teori sel seperti yang
dikemukakan oleh Schleiden, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan
mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotensi Sel, yaitu bahwa setiap sel memiliki
kemampuan untuk beregenerasi membentuk individu baru pada kondisi yang sesuai.
Suatu sel atau irisan jaringan tanaman disebut eksplan.
Syarat-syarat (Ahlowalia, 2016) :
1. Jaringan tersebut sedang aktif pertumbuhanya,diharapkan masih terdapat zat tumbuh
yang masih aktif sehingga membantu perkembangan jaringan selanjutnya
2. Eksplan yang diambil berasal dari bagian daun, akar, mata tunas, kuncup, ujung
batang, dan umbi
3. Eksplan yang diambil dari bagian yang masih muda (bila ditusuk pisau akan terasa
lunak sekali.
7

4. Memiliki sifat induk yang baik yang diinginkan

3. Dapatkah anda menjelaskan keunggulan dari dilakukannya kultur jaringan ini?


Tujuan dari teknik kultur jaringan ini diantaranya
1. Memperbanyak tanaman dalam jumlah yang banyak dalam waktu singkat;
menghasilkan varietas-varietas baru;
2. Memodifikasi genotipe tanaman pada kegiatan pemuliaan tanaman;
3. Mengeliminasi penyakit tanaman agar diperoleh bibit yang bebas penyakit

Keunggulan dari teknik kultur jaringan ini diantaranya


1.

Mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat,
yang mempunyai sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan induknya,.

2. Memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul jumlah yang dihasilkan banyak, tidak
terbatas,
3. Bibit terhindar dari hama penyakit,
4. Perbanyakan tumbuhan/kultur jaringan dapat dilakukan secara cepat dan hemat waktu,
5. Pengadaan bibit tidak tergantung musim,
6. Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak,
7. Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah

4.

Salah satu upaya mengoptimalkan pertumbuhan dari sel-sel tanaman tertentu


(pembibitan) melalui penyediaan media secara buatan, bagaimana hal ini
dilakukan?
Salah satu upaya pengoptimalan pertumbuhan sel tanaman dengan metode kultur sel
dilakukan dengan penggunaan media secara buatan. Hal ini disebabkan karena pada
media buatan, dilakukan penambahan nutrisi dan zat-zat yang dapat mendukung
pertumbuhan tanaman secara optimum. Zat yang terdapat pada medium sebagai upaya
mengoptimalkan pertumbuhan diantarnya:

Garam Anorganik
Garam anorganik berperan dalam menjaga tekanan osmotic dan membantu
dalam pengaturan potensial membrane dengan ion sodium, potassium dan kalsium.

Asam Amino
Asam amino adalah building blocks protein dan merupakan komponen
wajib dalam media kultur sel. Asam amino esensial harus terdapat pada media
karena sel tidak dapat mensintesisnya sendiri. Asam amino non-esensial juga dapat
8

ditambahkan pada medium untuk menggantikan asam amino lain yang habis
ketika pertumbuhan serta mempertahankan kelangsungan hidup sel.

Carbohydrates, Lipid, dan Asam Lemak


Karobihodrat, lipid, dan asam lemak merupakan sumber energy dari sel.

Proteins and Peptides


Protein yang sering terdapat pada media adalah albumin dan aprotinin.
Albumin berperan sebagai pengikat air, garam, asam lemak bebas, hormone, dan
vitamin lalu mentransfernya diantara sel dan jaringan. Aprotinin merupakan
pelindung dalam system kultur sel, dimana ia berperan menstabilan pH, resisten
terhadap suhu tinggi dan melakukan degradasi dengan enzim proteolitik.

Vitamins
Vitamin penting untuk pertumbuhan dan proliferasi sel. Vitamin tidak
dapat disintesis dalam jumlah yang cukup oleh sel sehingga merupakan suplemen
penting yang dibutuhkan dalam kultur jaringan.

Antibiotik
Antibiotik sering digunakan untuk mengontrol pertumbuhan kontaminan
bakteri dan jamur. Namun, penggunaan rutin antibiotik untuk kultur sel tidak
dianjurkan karena antibiotic dapat menyebabkan resistensi. Selain itu, antibiotik
juga dapat mengganggu metabolisme sel-sel sensitif.

Tabel 1 Kandungan Utama Serum dan Konsentrasinya (Keterangan: Diperoleh dari Culture
Conditions and Types of Growth Media for MammalianCells oleh Z. Yang dan H.R. Xiong,
2012, Biomedical Tissue Culture.)

Oleh karena itu, pada medium buatan sering ditambahkan serum. Serum merupakan
salah satu komponen yang paling penting dari media kultur sel dan berfungsi sebagai
sumber asam amino, protein, vitamin (vitamin terutama yang larut dalam lemak seperti A,
D, E, dan K), karbohidrat, lipid, hormon, faktor pertumbuhan , mineral, dan elemen. Serum
yang sering digunakan diantaranya Calf Serum (CS) dan FBS (Fetal Bovine Serum).
Media pertumbuhan normal biasanya mengandung 2-10% serum. Suplementasi media
dengan serum berfungsi memberikan nutrisi dasar untuk sel, menyediakan beberapa faktor
pertumbuhan dan hormon yang terlibat dalam promosi pertumbuhan dan fungsi sel khusus,
menyediakan beberapa protein yang mengikat seperti albumin, transferin, yang dapat
membawa molekul lain ke dalam sel. menyediakan mineral, seperti Na +, K +, Zn2+, Fe2+,
meningkatkan viskositas menengah sehingga melindungi sel dari kerusakan mekanis
selama agitasi dari kultur suspense, dan bertindak buffer.
5.

Apa yang dapat anda jelaskan terkait dengan jenis media kultur dan bagaimana
keunggulan dan kekurangan dari masing-masing media tersebut?
Berdasarkan Media kultur sel berdasarkan sifatnya digolongkan menjadi media alami
dan media buatan (artificial).

Gambar 1 Media Kultur Sel (Sumber: microbeonline.com, 2012)

Media Alami
Media alami terdiri atas secara cairan biologis alami. Contoh sumber biologis yang
digunakan yaitu cairan tubuh seperti plasma, serum, dan getah bening; ekstrak jaringan
seperti ekstrak dari hati, limpa, sumsum tulang, leucocyes, dan embrio ayam; gumpalan
plasma; dan ekstrak embrio sapi. Keuntungan dari media alami ini adalah karena bersifat
alami, media ini baik dan dapat digunakan untuk berbagai jenis kultur sel; mengandung kaya
10

nutrisi, somatomedin, dan hormone; dan memiliki tekanan osmotic dan pH yang mirip
dengan lingkungan alaminya. Kerugian utama media alami adalah reproduksi yang buruk
karena tidak diketahuinya komposisi yang tepat dari media, toksisitas dan sterilitas
Media Buatan (Artificial)
Media buatan (artificial) dibuat dengan menambahkan nutrisi (organik dan
anorganik), vitamin, garam, O2 dan fase gas CO2, protein serum, karbohidrat, dan kofaktor.
Media buatan menjaga pH fisiologis sekitar 7 dengan bantuan sistem buffering. Jenis media
buatan diantaranya:
Basal Medium
Basal Medium adalah medium sederhana, seperti nutrient agar. Terdiri atas
pepton, ekstrak daging, sodium chloride dan air. Pada media basal, ditambahkan
serum didalamnya. Keuntungan dari media basal adalah karena ditambahkan serum,
maka media ini sangat kaya nutrisi yang menyebabkan pertumbuhan sel secara
optimum. Kerugiannya adalah kandungan serum yang kompleks, dapat berupa zat
yang tidak cocok dengan sel yang dikultur sehingga dapat menghambat
pertumbuhannya.
Reduced Serum Media
Reduced Serum Media pada dasarnya merupakan formulasi basal media yang
diperkaya dengan nutrisi dan faktor berasal dari hewan, sehingga mengurangi jumlah
serum yang diperlukan. Keuntungannya yaitu mengurangi efek yang tidak diinginkan
dari serum dalam percobaan kultur sel namun tetap menyediakan nutrisi serum yang
dibutuhkan.
Serum-Free Media
Serum-free media (SFM) menghilangkan masalah dengan menggunkan serum
(darah) hewan dengan mengganti serum dengan formulasi nutrisi dan hormone yang
memadai. Formula serum-free media dapat digunakan untuk banyak kultur primer dan
cell line, seperti pembuatan protein rekombinan dari Chinese Hamster Ovary (CHO).
Keuntungan dari penggunaan Serum-free media yaitu dapat membuat media selektif
untuk sel spesifik dengan memilih kombinasi factor tumbuh tertentu dan kinerja yang
konsisten. Sedangkan kerugiannya yaitu lambatnya pertumbuhan, membutuhkan
reagen yang lebih murni dan membutuhkan formulasi media untuk sel spesifik
tertentu.

11

Protein Free Media


Protein-free media tidak mengandung protein apapun dan hanya mengandung
zat non-protein. Formula seperti MEM, RPMI-1640 adalah contoh dari protein-free
media. Dibandingkan dengan serum-supplemented media, mengurangi resiko penyakit
yang tularkan oleh protein sehingga produk hasil kultur sel lebih aman.
6. Hal-hal apakah yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kultursel?
1.

Sistem Kultur
Penggunaan sistem kultur yang tepat sangatlah penting untuk mengembangkan
suatu kultur sel.
Adherent Culture

Suspension Culture

Sesuai untuk sebagian besar jenis sel, Hanya


termasuk kultur primer.

sesuai

untuk

sel

yang

diadaptasikan dengan kultur suspensi


dan lini sel lain yang nonadhesive/non
perekat.

Membutuhkan passaging secara periodik Lebih mudah untuk passaging, tetapi


tetapi

mudah

diamati

di

mikroskop.

bawah membutuhkan perhitungan sel setiap


hari dan pengecekan hidup/matinya sel
untuk mengikuti pola pertumbuhannya;
kultur

dapat

diencerkan

untuk

merangsang pertumbuhan.
Sel dipisahkan secara enzimatis atau Tidak membutuhkan pemisahan secara
mekanis.

enzimatis atau mekanis.

Pertumbuhan sel dibatasi oleh area Pertumbuhan dibatasi oleh konsentrasi


permukaan yang juga dapat membatasi sel dalam medium, memudahkan scapeyield produk
Membutuhkan

up/peningkatan
vessel

yang

diperlakukan kultur jaringan.

sudah Dapat di pertahankan dalam vessel


kultur yang belum diperlakukan kultur
jaringan, namun membutuhkan agitasi
(kocok atau aduk) untuk pertukaran gas
yang memadai.

12

Digunakan untuk
produk

secara

sitologi,
kontinu

memanen Digunakan
dan

untuk

produksi

protein

untuk dalam jumlah besar, batch harvesting

penelitian.

dan penelitian.

Tabel 2 Adherent Culture vs. Suspension Culture (Sumber: Handbook Cell Culture Basic)

2.

Media Kultur
Medium kultur adalah komponen terpenting pada lingkungan kultur, karena medialah

yang memberikan nutrisi, faktor-faktor pertumbuhan, hormon untuk pertumbuhan sel serta
meregulasikan pH dan tekanan osmotik pada kultur.
Untuk keperluan standardisasi, media yang berkualitas dan kebutuhan yang tinggi maka
media dibagi menjadi tiga kelas:
a. Basal Media
b. Reduced-Serum Media
c. Serum-Free Media (SFM)
Salah satu keuntungan utama menggunakan media bebas serum adalah
kemampuannya untuk membuat media menjadi selektif untuk jenis sel tertentu
dengan memilih kombinasi yang tepat dari faktor pertumbuhan.
Keuntungan
Meningkatan

penentuan

Kerugian
(lebih Media

membutuhkan

formulasi

terdefinisi)

spesifik untuk masing-masing sel

Lebih konsisten kinerjanya

Pertumbuhan lebih lambat

yang

Purifikasi lebih mudah dan downstream Perlu reagen dengan kemurnian yang
processing

tinggi

Dapat menentukan fungsi selular lebih


baik
Produktivitas lebih tinggi
Dapat dikontrol lebih mudah dengan
respons fisiologis
Meningkatkan deteksi mediator selular
Tabel 3 Keuntungan vs Kerugian Media Bebas Serum (Sumber: Handbook Cell Culture Basic)

13

d. Serum
Penggunaan serum dapat memberikan banyak keuntungan. Namun dengan
menggunakan serum, media memiliki sejumlah kelemahan termasuk biaya tinggi,
masalah dengan standarisasi, spesifisitas, variabilitas, dan efek yang tidak diinginkan
seperti rangsangan atau penghambatan pertumbuhan dan / atau fungsi sel pada kultur
sel tertentu.
Jika serum tersebut tidak diperoleh dari sumber yang terpercaya, kontaminasi juga
dapat menimbulkan ancaman serius bagi sukses percobaan kultur sel.
3.

Temperatur
Temperatur

yang

berfluktuasi

dari

kisaran

normalnya

dapat

mempengaruhi

pertumbuhan sel pada kultur. Sel mamalia harus diinkubasi pada 37 1C sedangkan sel
serangga harus dipertahankan suhunya pada 25 2C untuk mencapai pertumbuhan yang
optimum. Sel unggas perlu dipertahankan pada 38C untuk pertumbuhan maksimum dan
akan tumbuh lebih perlahan pada 37C. Pada hewan berdarah dingin, sel lininya dapat
menoleransi suhu pada kisaran 15-26C
4.

pH
Kebanyakan/sebagian besar sel bersifat sangat sensitif terhadap kondisi dari pH pada

lingkungannya.Kondisi yang terlalu asam atau terlalu basa dapat menyebabkan kerusakan
pada sel. Kisaran pH optimum untuk kebanyakan sel mamalia adalah sekitar 7.2
0.2.Namun, beberapa lini sel tumbuh lebih baik dengan kondisi yang lebih asam yaitu
sekitar pH 7.0-7.4, sedangkan beberapa lini sel fibroblast yang normal lebih optimal kondisi
lingkungan yang lebih basa yaitu sekitar pH 7.4-7.7. Di sisi lain, sel serangga dapat tumbuh
dengan baik pada rentang pH 6.2 0.1.
5.

Karbon Dioksida (CO2)


Media kultur sel mamalia biasanya berisi sistem penyangga yang membutuhkan CO2

dari atmosfir untuk mempertahankan kondisi pH. Biasanya, sistem penyangga ini
didapatkan dengan menyertakan buffer basa CO2-bikarbonat atau organik.
Perubahan pH yang signifikan dapat terjadi jika kadar CO2 yang memadai tidak
dipertahankan. Sekitar 5% dari CO2 pada kultur biasanya cukup di untuk sebagian besar
sistem kultur.

14

Media kultur sel serangga, maupun beberapa media mamalia seperti Medium L-15
(Leibovitz), berisi sistem penyangga yang tidak bergantung pada CO2. Kultur ini harus
terkena kondisi atmosfer.
6.

Kelembapan
Untuk vesselkultur yang harus memiliki penutup yang longgar untuk pertukaran gas,

tingkat kelembaban juga penting. Kelembaban yang rendah dapat menyebabkan penguapan
air dari media yang mengakibatkan meningkatnya konsentrasi kadar garam dan kondisi yang
menyebabkan lisis sel.
7.

Kandungan Konsentrasi Nutrisi


Karena jenis sel yang berbeda dan sejumlah sel memiliki kebutuhan gizi yang berbeda-

beda, sulit untuk memiliki satu sistem media yang akan memuaskan semua kultur. Kinerja
sel yang tidak memuaskan (pertumbuhan yang buruk, lampiran yang rendah dan/atau
pengelupasan monolayer) sering terjadi jika persyaratan gizi sel tidak terpenuhi dengan baik.
8.

Penghambat pada Kultur Sel


Sitotoksisitas dan kontaminasi adalah dua penghambat yang paling utama yang dapat

timbul selama proses kultur sel.


Toksisitas sel atau sitotoksisitas adalah penghambatan pertumbuhan sel karena
konsentrasi yang berlebihan dari bahan tertentu.Sitotoksisitas dapat disebabkan oleh media,
serum atau suplemen.
Kontaminasi mikroba datang dalam berbagai bentuk termasuk bakter gram+ve dan
gram-ve. Antibiotik seperti gentamisin, streptomisin dan penisilin sering digunakan dalam
media kultur sel untuk mengontrol/mempertahankan rendahnya kontaminasi. Antibiotik juga
bisa sitotoksik bila digunakan pada konsentrasi tinggi dan kultur dengan tingkat serum yang
rendah atau kultur yang tidak terdapat serum sangat rentan terhadap masalah inisehingga
produk hasil kultur sel lebih aman.
7.Metode-metode/teknik apa sajakah yang dapat dikembangkan dalam kultur jaringan?
a. Methods Subculturing Adherent Cells
Material yang dibutuhkan

Wadah kultur yang mengandung adherent

Medium pertumbuhan lengkap, dipanaskan hingga 37C

Tubes steril sekali pakai berukuran 15-mL


15

Inkubator 37C dengan kelembapan 5% CO2

Larutan garam seimbang seperti Dulbeccos Phosphate Buffered Saline (DPBS),


tidak mengandung kalsium, magnesium, dan fenol merah

Reagen pemisah seperti tripsin atau TrypLE Express

Reagent dan peralatan untuk menentukan jumlah sel yang layak dan sel total
Countess Automated Cell Counter, Trypan Blue dan hemacytometer, or Coulter
Counter (Beckman Coulter)

Prosedur untuk Subkultur Adherent Cell


1. Lepaskan dan buang media kultur sel yang telah terpakai dari wadah kultur.
2. Cuci sel menggunakan larutan garam seimbang tanpa kalsium dan magnesium
(sekitar 2 mL per 10 cm2 luas permukaan area). Tambahkan larutan pencuci ke sisi
wadah berlawanan dengan lapisan sel yang melekat untuk menghindari gangguan
pada lapisan sel, dan goyangkan wadah bolak-balik beberapa kali.
3. Catatan: Pencucian menghilangkan jejak serum, kalsium, dan magnesium yang
akan menghambat aksi reagen disosiasi.
4. Lepaskan dan buang larutan pencuci dari wadah
5. Tambahkan disosiasi reagen yang telah dipanaskan seperti tripsin atau TrypLE
ke sisi labu; gunakan cukup reagen untuk menutupi lapisan sel (sekitar 0,5 mL per
10 cm2). Kocok perlahan wadah untuk melapisi lapisan sel.
6. Inkubasi wadah kultur pada suhu kamar selama kurang lebih 2 menit. Perhatikan
bahwa waktu inkubasi yang sebenarnya bervariasi dengan cell line yang digunakan.
7. Amati sel di bawah mikroskop. Jika sel-sel kurang dari 90% terpisah, tingkatkan
waktu inkubasi beberapa menit, periksa disosiasi setiap 30 detik.
8. Ketika 90% dari sel-sel telah terpisah, memiringkan wadah untuk jangka minimal
waktu untuk memungkinkan sel untuk mengering. Tambahkan setara dengan 2
volume (dua kali volume digunakan untuk reagen disosiasi) medium pertumbuhan
lengkap yang telah dipanaskan. Sebarkan media menggunakan pipet diatas
permukaan lapisan sel beberapa kali.
9. Transfer sel ke tabung 15-mL kemudian sentrifugasi pada 200 g selama 5 sampai
10 menit. Perhatikan bahwa kecepatan sentrifugasi dan waktu bervariasi
berdasarkan jenis sel.
10. Suspensi pelet sel dalam volume minimal medium pertumbuhan lengkap dan buang
sampel untuk perhitungan.
16

11. Tentukan jumlah sel dan persen viabilitas menggunakan Hemasitometer, counter
sel dan tripan biru pengecualian, atau Countess Automated Sel Kontra.
12. Encerkan

sel

suspensi

sesuai

dengan

kepadatan

penyemaian

yang

direkomendasikan untuk cell line, dan pipet volume yang sesuai ke dalam
pembuluh kultur sel baru, dan mengembalikan sel-sel ke inkubator.
b. Metode Subkultur Sel Suspensi
Berbeda dengan metode subkultur adharet cells, metode subkultur sel suspensi
cenderung tidak rumit. Secara proses keseluruhan metode ini lebih cepat dan tidak
menyebabkan stress yang berlebih pada sel sampel yang akan dikultur.
Pada metode ini secara umum terdapat dua pilihan wadah utama tempat mengkultur sel,
yaitu labu shaker dan labu spinner. Labu shaker kurang direkomendasikan untuk treatment
kultur jaringan dibandingkan labu spinner. Pada labu spinner terdapat dua desain. Desain
pertama memiliki batang pengaduk sedangkan desain kedua memiliki vertical impeller. Baik
kedua desain memiliki dua tutup samping yang bisa dibuka untuk menyediakan pertukaran
gas dengan lingkungannya.

Gambar 2 Jenis pengaduk pada labu spinner (Sumber: Cell Culture Basics Handbook. Gibco)

Bahan-bahan yang digunakan untuk metode ini diantaranya adalah:


Media kultur yang mengandung suspensi sel
Labu shaker atau labu spinner
Media tumbuh yang baru, telah dipanaskan pada suhu 37oC
Inkubator 37oC dengan atmosfer lembab pada 5% CO2
Reagen untuk menentukan jumlah sel total
17

Prosedur suspensi sel dengan labu shaker


1. Pindahkan labu sampel dari inkubator, lalu ambil sejumlah sampel dari labu dengan
pipet steril.
2. Tentukan jumlah sel dengan menggunakan Automated Cell Counter atau cukup
dengan hemacytometer pada sampel.
3. Menghitung volume medium untuk dicampurkan dengan sampel pada labu.
4. Campurkan medium, yang telah dipanaskan sebelumnya pada suhu 37oC, ke dalam
labu kultur dengan teknik aseptik, lalu masukkan sampel.
5. Masukkan kembali labu ke dalam inkubator shaker, lalu kocok labu kembali dengan
kecepatan yang disesuaikan.
Prosedur suspensi sel dengan labu spinner
Untuk prosedur langkah proses kurang lebih sama dengan ketika menggunakan labu
shaker. Hal yang membedakannya hanyalah alat yang digunakan untuk mengkultur sampel
c. Freezing Cells
Kriopreservasi
Cell lines dalam kultur contiuous rentan terhadap penyimpangan genetik, cell lines
yang terbatas akan menua, terkontaminasi mikroba, dan bahkan cell lines terbaik yang
dikelola laboratorium dapat mengalami kegagalan karena peralatan. Karena cell lines adalah
sumber daya yang berharga dan penggantinya mahal dan memakan waktu, sangat penting
cell lines untuk dibekukan dan diawetkan untuk penyimpanan jangka panjang. Mereka harus
dibekukan sebagai stok benih dan tidak dibuat tersedia untuk penggunaan laboratorium
umum. Pengerjaan stok dapat dibuat dari stok benih beku. Jika benih unggulan habis, stok
kriopreservasi kemudian dapat berfungsi sebagai sumber untuk menyiapkan benih segar
dengan peningkatan minimum jumlah generasi dari pembekuan awal.
Metode terbaik untuk sel kultur kriopreservasi adalah menyimpan mereka dalam
nitrogen cair dalam medium lengkap dengan adanya agen cryoprotective seperti
dimetilsulfoksida (DMSO). agen cryoprotective mengurangi titik beku dari medium dan
juga memungkinkan laju pendinginan lambat, sangat mengurangi risiko pembentukan kristal
es, yang dapat merusak sel dan menyebabkan kematian sel.

18

Cara Kriopreservasi

Bekukan sel kultur dengan konsentrasi tinggi dan dengan jumlah sedikit mungkin.
Pastikan paling tidak 90% sel hidup sebelum dibekukan. Catat bahwa pembekuan
optimal tergantung pada cell line yang digunakan. .

Bekukan sel perlahan dengan mengurangi suhu sekitar 1 C per menit dengan
menggunakan -freezer atau wadah cryo-freezing seperti "Mr. Frosty, "tersedia dari
NALGENE labware (Nalge Nunc)

Selalu gunakan media pembekuan yang dianjurkan. Media pembekuan harus berisi agen
cryoprotective seperti DMSO atau gliserol.

Simpan sel beku di bawah -70 C; sel beku mulai memburuk di atas -50 C.

Selalu gunakan cryovials steril untuk menyimpan sel beku. Cryovials mengandung selsel beku dapat tersimpan terendam dalam nitrogen cair atau dalam fase gas di atas
nitrogen cair.

Selalu memakai alat pelindung diri.

Semua larutan dan peralatan yang mengalami kontak dengan sel harus steril. Selalu
menggunakan teknik steril yang tepat dan bekerja di kap aliran laminar.

Material yang dibutuhkan


Wadah kultur yang mengandung kultur sel di fase log
Medium pertumbuhan yang lengkap
Agen cryoprotective seperti DMSO (menggunakan botol yang disisihkan untuk kultur
sel, dibuka hanya di kap aliran laminar) atau medium beku seperti Synth-a-Freeze
Cryopreservation Medium atau Recovery Cell Culture Freezing Medium
Tabung kerucut sekali pakai dan steril berukuran 15 ml
Reagen atau peralatan untuk menentukan jumlah sel hidup dan sel total (e.g., Countess
Automated Cell Counter, or hemacytometer, cell counter and Trypan Blue)
Botol penyimpanan kriogenik steril (i.e., cryovials)
Ruang isopropanol atau peralatan yang dapat diatur tingkat kebekuannya
Untuk sel adherent beku, material tambahan yang dibutuhkan :
Larutan garam seimbang seperti Dulbeccos Phosphate Buffered Saline (D-PBS), tidak
mengandung calcium, magnesium, dan phenol red
Reagen pemisah seperti trypsin atau TrypLE Express, tanpa phenol red

19

Protokol untuk Kriopreservasi Sel Kultur


1. Siapkan pembekuan medium dan simpan pada suhu 2 sampai 8 C sampai digunakan.
Perhatikan bahwa media pembekuan yang tepat tergantung pada cell line.
2. Untuk adherent sel, lepaskan dengan lembut sel-sel dari wadah kultur jaringan mengikuti
prosedur yang digunakan selama subkultur. Suspensi sel dalam medium lengkap yang
digunakan sesuai jenis sel.
3. Tentukan jumlah sel dan persen viabilitas persen menggunakan Hemasitometer,
penghitung sel dan Trypan Blue exclusion, atau Countess Automated Sel Counter.
Menurut kepadatan sel hidup yang diinginkan, hitung volume yang dibutuhkan
pembekuan media.
4. Sentrifugasi suspensi sel di sekitar 100-200 g selama 5 sampai 10 menit. Secara
aseptik tuang supernatan tanpa mengganggu pelet sel. Catatan: kecepatan Sentrifugasi
dan durasi bervariasi tergantung pada jenis sel
5. Suspensi pelet sel dalam medium pembekuan dingin di kepadatan sel yang
direkomendasikan untuk jenis sel tertentu.
6. Mengeluarkan aliquot dari suspensi sel ke dalam botol penyimpanan kriogenik.
Bersamaan dengan itu, campur sel untuk mempertahankan suspensi sel homogen.
7. Bekukan sel dalam alat pembekuan, turunkansuhu sekitar 1 C per menit. Atau,
menempatkan

cryovials

mengandung

sel-sel

dalam

ruang

isopropanol

dan

menyimpannya pada -80 C semalam.


8. Transfer sel beku ke nitrogen cair, dan menyimpannya dalam fase gas di atas nitrogen
cair.

c. Melelehkan Sel Beku (Thawing Frozen Cells)


Adakalanya, kultur sel yang dibekukan butuh untuk dicairkan kembali. Proses
pencairan menyebabkan stress pada sel kultur, dan dibutuhkan teknologi serta keterampilan
yang memadai untuk menjamin agar dapat memperoleh jumlah sel yang hidup sebanyakbanyaknya. Berikut ini adalah panduan penting dalam melelehkan sel yang membeku dalam
kultur:

Lakukan proses pencairan dengan cepat (kurang dari satu menit) dalam water bath
pada suhu 37oC.

Berikutnya cairkan sel beku secara perlahan, dengan menggunakan medium tumbuh
baru yang telah dipanaskan sebelumnya.
20

Kumpulkan sel beku dalam densitas tinggi untuk mengoptimalkan pemulihan sel.

Lakukan kerja dengan prinsip teknik aseptik, serta lakukan proses dalam kap laminar
flow.

Selalu pakai peralatan pendukung kemanan kerja selama proses pencairan sel,
termasuk masker wajah dan goggle. Cryovial dalam fasa cair dapat memicu adanya
ledakan.
Beberapa medium pembekuan mengandung DMSO (Dimetil Sulfoksida), yang

merupakan pelarut organik agar tersedia zat-zat organik yang dibutuhkan sel beku untuk
tumbuh setelah dicairkan kembali. Tangani dengan baik reagen yang mengandung DMSO
dengan peralatan serta prosedur kerja yang tepat untuk menangani bahan-bahan berbahaya
seperti ini. Hal itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama kerja
berlangsung.
Pada proses pencairan sel beku, beberapa alat dan bahan utama dibutuhkan dalam
proses ini yang diantaranya adalah:

Cryovial yang mengandung sel beku

Medium tumbuh baru, sebeumnya telah dipanaskan pada suhu 37oC

Tabung steril sentrifugasi sekali pakai

Water bath pada suhu 37oC

Etanol dengan kadar 70%

Piring atau labu tempat perlakuan kultur

Gambar 3 Sel beku yang nantinya akan dilelehkan.(Sumber:static1.squarespace.com, 2016)

21

Adapun langkah-langkah pencairan sel beku dijelaskan seperti berikut. Perlu


diperhatikan bahwa prosedur ini merupakan prosedur umum dalam mencairkan sel beku
dengan sel yang dilindungi oleh cryovial. Prosedur dapat berbeda tergantung pada kultur sel
beku yang digunakan.
1. Hilangkan kandungan cryovial pada kultur sel beku dari penyimpanan nitrogen cair
dan langsung letakkan sel beku pada water bath dengan suhu 37oC.
2. Cairkan sel beku dengan cepat (kurang dari satu menit) dengan mengaduknya secara
perlahan hingga tersisa sedikit es pada kultur beku (dalam vial).
3. Pindahkan kultur ke dalam kap laminar flow. Sebelum itu, usap bagian luar kultur
(yang berada dalam vial) dengan etanol 70%.
4. Pindahkan kultur tetes demi tetes dari vial ke dalam tabung sentrifugasi yang sudah
dimasuki medium tumbuh baru
5. Sentrifugasi suspensi sel pada kisaran 200 x g selama 5-10 menit. Kecepatan dan
durasi sentrifugasi bervariasi tergantung pada jenis sel yang ada dalam suspensi.
6. Setelah sentrifugasi selesai, cek tingkat kejernihan supernatan dan visibilitas
pellet/butirannya. Tuang supernatan tanpa menggau pelletnya dengan menggunakan
teknik aseptik.
Letakkan suspensi pada medium tumbuh yang baru dengan perlahan. Lalu pindahkan
pada wadah kultur yang sesuai dan perhatikan kondisi lingkungan medium kulturnya.
8. Dapatkan anda menjelaskan aplikasi-aplikasi dari pengembangan kultur jaringan?
a. Perbanyakan sel (mikro propagasi)
Perbanyakan sel bisa dilakukan untuk sel
primer, sel lini dan sel strain. Sel lini adalah
kultur sel hasil perbanyakan/turunan dari kultur
sel primer. Sel lini yang terpilih (unggul) bisa
disimpan

dalam

kriopreservasi

jangka

panjang

(penyimpanan

beku

melalui
dingin).

Strain cell adalah kultur sel hasil seleksi (sel


terpilih) dari sel lini. Teknik ini dilakukan
dengan cara menanam eksplan berupa pucuk
beserta jaringan meristemnya yang dikenal
sebagai teknik kultur pucuk (shoot tip culture)
Gambar 4 Teknik Mikropropagasi: dari eksplan diinisiasi
langsung untuk membentuk multiplikasi tunas; eksplan
dapat berasal dari jaringan meristem, pucuk atau tunas
samping (sumber: Taji, Kumar & Lakshmanan, 2002).

22

atau menanam tunas lateral dengan satu atau lebih buku (single node and multiple node
culture). Teknik terakhir juga dikenal dengan istilah invitro layering. Sel embriogenik
diinduksi menjadi embrio somatik, kemudian dikecambahkan dan diaklimatisasi.
Perbanyakan mikro secara umum dapat diartikan sebagai usaha menumbuhkan bagian
tanaman dalam media aseptis kemudian memperbanyak bagian tanaman tersebut sehingga
dihasilkan tanaman sempurna dalam jumlah banyak. metoda ini menjadi salah satu alternatif
dalam perbanayakan tanaman secara vegetatif.

b. Seleksi In Vitro (variasi somaklonal)


Kultur sel diarahkan untuk menghasilkan selsel yang tahan/toleran pada kondisi /stress
tertentu. Kelebihan seleksi in vitro adalah lebih
efektif karena pada tingkat sel, lebih pasti karena
mutan sel dapat diregenerasikan menjadi individu
mutan independen. Seleksi in vitro lebih efesien
dan hasilnya dapat dipertanggung jawabkan,
karena melalui seleksi in vitro jutaan sel dapat
diseleksi dengan hanya menggunakan beberapa
botol kultur atau petridis, sedangkan seleksi di
lapang harus menggunakan berates - ratus
tanaman yang diuji pada areal yang lebih luas,
selain itu seleksi in vitro tidak terlalu dipengaruhi

Gambar 5 Seleksi In Vitro (Sumber:


discussionbiology.com)

oleh lingkungan serta memungkinkan melakukan seleksi pada tingkat sel (Biswas et al.,
2002).
Sel ditumbuhkan pada medium kultur yang diberi agen seleksi tertentu (antibiotik, Al,
PEG dll). Sel-sel yang terseleksi dapat diperbanyak dan diregenerasikan. Seleksi in vitro
dapat dikombinasikan dengan radiasi. Seleksi in vitro telah banyak digunakan untuk
mendapatkan tanaman yang toleran terhadap cekaman kekeringan. Beberapa jenis tanaman
dilaporkan mengalami peningkatan toleransi terhadap cekaman kekeringan seperti pada
tanaman padi, Barley, gandum, raspberry, jagung, tomat (Lestari et. al., 2004; Bandurska,
2000; Bajji, et.al., 2000; Georgieva, et.al., 2004; Matheka, et. al., 2008). Teknik in vitro
melalui variasi somaklonal dan perlakuan mutasi fisik seperti iradiasi sinar gamma pada
jaringan atau sekelompok sel (kalus) merupakan alternatif untuk mendapatkan varian yang
diinginkan. Melalui seleksi in vitro varian tersebut dapat diseleksi untuk mendapatkan varian
tanaman yang toleran terhadap kekeringan (Sutjahjo, et. al., 2007).
23

c. Produksi Metabolit Sekunder


Kultur sel dapat digunakan untuk memproduksi senyawa metabolit sekunder tertentu.
Metabolit sekunder digunakan dalam industri seperti: industri farmasi, wangi-wangian, aditif
makanan, pemanis, pewarna, dan antimikroba. Sebagai contoh produksi secara komersial
senyawa shikonin dari kultur sel Lithospermum erythrorhizon. Kultur sel-sel tanaman
memproduksi senyawa biokimia (metabolit sekunder) seperti alkaloid, terpenoid, phenyl
propanoid dll.
Metabolit sekunder merupakan senyawa
yang tidak terlibat langsung dalam pertumbuhan,
perkembangan,

atau

reproduksi

makhluk

hidupyang fungsinya masih belum diketahui


secara pasti. Senyawa ini biasa digunakan untuk
pertahanan dan perkembangbiakan tanaman.
Kebanyakan senyawa metabolit sekunder ini
beracun bagi hewan. Penggolongan metabolit
sekunder berdasarkan biosentesisnya meliputi

Gambar 6 Contoh-contoh metabolit sekunder (Sumber:


nature.com)

senyawa alkaloid, fenol, dan terpenoin (Anonim, 2010).


Sel diinduksi dari jaringan penghasil metabolit target. Keuntungan dari produksi metabolit
sekunder ini adalah lebih praktis, cepat dan terkontrol. Sel primer di sub kultur lalu dibuat
kultur sel (skala kecil/skala besar). Sel-sel penghasil metabolit dapat dipanen dan diekstrak
dengan mudah. Metabolit sekunder yang dihasilkan murni dan steril jika kultur sel dan panen
dilakukan secara aseptis.
Metabolit sekunder seperti kurkumin dari tanaman kunyit dan temulawak dapat dibentuk
dengan cara menginduksi jaringan tanaman pada media yang mengandung zat pengatur
tumbuh untuk membentuk kalus. Kalus berasal dari potongan organ yang telah steril dalam
media yang telah mengadung auksin dan kadangkala sitokinin. Kalus selanjutnya diperbanyak
dengan cara kultur kalus ataupun suspensi dan dapat juga menggunakan elisitor dalam
fermentor atau bioreactor, contohnya ginseng.
Senyawa metabolit sekunder melalui kultur jaringan dapat diisolasi dari kalus atau sel.
Kandungannya dapat ditingkatkan melalui seleksi bahan tanaman atau jaringan, tingkat
pertumbuhan tanaman, pemakaian zat pengatur tumbuh dan prekusor, pemakaian mutagen
baik secara fisik maupun kimia serta manipulasi faktor lingkungan. Kalus sebagai bahan
senyawa sekunder dan produk lainnya dapat dipacu pembentukan dan pertumbuhannya
dengan pemakaian zat pengatur tumbuh 2,4D, NAA, dan sering pula direkombinasikan
24

dengan sitokinin. Adakalanya, kombinasi auksin dengan sitokinin selain slain dapat
merangsang proses pembelahan sel juga mempengaruhi kandungan senyawa sekundernya.
Pada kultur sel, kalus akan kehabisan hara yang disebabkan karena masa kultur yang
panjang yang mengakibatkan penguapan air dan unsur hara dari waktu ke waktu. Selain
kehabisan hara, sel-sel dalam kalus juga mengeluarkan persenyawaan-persenyawaan hasil
metabolit sekunder.

d. Biofarming (obat-obatan)

Gambar 7 Produksi antibiotik dari e-coli (Sumber: Saptowo, 2010)

Biofarming adalah penggunaan tumbuhan atau hewan yang telah direkayasa untuk
memproduksi substransi atau molekul baru yang telah termodifikasi. Kultur sel dapat
digunakan untuk memproduksi vaksin/senyawa berkasiat obat tertentu. Sel lini yang telah
direkayasa genetik melalui insersi gen penghasil vaksin/senyawa obat tertentu diseleksi pada
media kultur sehingga diperoleh sel strain terpilih. Sel strain dibuat kultur sel (skala
kecil/besar) sehingga menghasilkan vaksin/obat tertentu. Sel kemudian dipanen dan diekstrak.

f. Biomedical (stem cell)


Kultur sel juga dapat digunakan untuk tujuan biomedical (terapi pengobatan). Kultur stem
sel misalnya, dapat menghasilkan sel embrionik yang memiliki pluripotent. Keuntungan
biomedical melalui kultur sel adalah lebih terkontrol, terarah dan aseptis.
Berdasarkan kemampuan berdiferensiasi, stem cell dibagi menjadi:
1. Totipotent adalah sel yang dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel. Yang termasuk
dalam stem cell totipotent adalah zigot (telur yang telah dibuahi).
2. Pluripotent adalah sel yang dapat berdiferensiasi menjadi 3 lapisan germinal: ektoderm,
mesoderm, dan endoderm, tapi tidak dapat menjadi jaringan ekstraembryonik seperti
plasenta dan tali pusat. Yang termasuk stem cell pluripotent adalah embryonic stem cell
25

3. Multipotent adalah

sel yang dapat

berdiferensiasi menjadi banyak jenis sel.


Misalnya: hematopoietic stem cells.
4. Unipotent adalah

sel yang hanya dapat

menghasilkan 1 jenis sel. Tapi berbeda


dengan non-stem cell, stem cell unipoten
mempunyai sifat dapat memperbaharui
atau

meregenerasi

diri

regenerate/self-renew)

(selfGambar 8 Stem Cell (Sumber: dribnusina.com)

g. Rekayasa Genetik (Transgenik)


Kultur sel dapat pula digunakan untuk bahan rekayasa genetik/transformasi genetik. Selsel embriogenik pada kultur sel sangat bagus digunakan sebagai sel target dalam transfer gen.
Sel-sel embriogenik dapat diinsersi

dengan gen target menggunakan

penembak gen ,

mikroinjeksi, ataupun Agrobacterium. Sel-sel yang telah ditransformasi selanjutnya dapat


diregenerasikan menjadi jaringan ataupun individu secara independen. Kelebihan rekayasa
genetik menggunakan sel adalah lebih akurat (langsung ke dlm sel) dan diperoleh transforman
yang berasal dari satu sel.
Pada tanaman, gen yang telah diidentikfikasi diisolasi dan kemudian dimasukkan ke
dalam sel tanaman. Melalui suatu sistem tertentu, sel tanaman yang membawa gen tersebut
dapat dipisahkan dari sel tanaman yang tidak membawa gen. Tanaman pembawa gen ini
kemudian ditumbuhkan secara normal. Tanaman inilah yang disebut sebagai tanaman
transgenik karena ada gen asing yang telah dipindahkan dari makhluk hidup lain ke tanaman
tersebut (Muladno, 2002).
Tanaman transgenik memiliki kualitas lebih dibanding tanaman konvensional,
kandungan nutrisi lebih tinggi, tahan hama, tahan cuaca, umur pendek, dll; sehingga
penanaman komoditas tersebut dapat memenuhi kebutuhan pangan secara cepat dan
menghemat devisa akibat penghematan pemakaian pestisida atau bahan kimia lain serta
tanaman transgenik produksi lebih baik
Teknik rekayasa genetika sama dengan pemuliaan tanaman; yaitu memperbaiki sifat-sifat
tanaman dengan menambah sifat-sifat ketahanan terhadap cekaman hama maupun lingkungan
yang kurang menguntungkan; sehingga tanaman transgenik memiliki kualitas lebih baik dari
tanaman konvensional, serta bukan hal baru karena sudah lama dilakukan tetapi tidak disadari
oleh masyarakat;
26

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada dasarnya, kultur jaringan merupakan salah satu metode alternatif dalam
menumbuhkan sel dalam jumlah banyak dengan waktu yang lebih singkat. Teknik kultur
jaringan dapat digunakan pada tumbuhan karena sel tumbuhan memiliki sifat totipotensi,
yaitu kemampuan sel untuk beregenerasi membentuk individu baru pada kondisi yang sesuai.
Kelebihan penggunaan teknik kutur jaringan tanaman diantaranya: kualitas bibit yang
dihasilkan lebih baik; efisiensi dalam jumlah bibit yang dihasilkan terhadap waktu; biaya serta
proses produksi yang murah dan mudah; serta prosesnya dapat dilakukan kapan pun.
Teknik kultur jaringan dapat digunakan untuk mengembangbiakkan tanaman jati emas.
Hal itu disebabkan karena tanaman jati emas, seperti tumbuhan pada umumnya, memiliki sifat
totipotensi. Pengembangbiakan sel tanaman jati emas dapat dilakukan dengan berbagai
metode, seperti metode subkultur, metode freezing, dan metode-metode lainnya. Dengan
kultur jaringan, diharapkan dapat diperoleh tanaman jati emas yang memiliki sifat unggul
serta nilai jual yang lebih tinggi.
3.2 Saran
Sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya, penerapan teknik kultur jaringan masih
minim di Indonesia. Hanya segelintir lingkup masyarakat yang paham dan mampu
mengaplikasikan metode-metodenya dalam kehidupan sehari-hari. Sejauh ini kebanyakan
metode kultur jaringan diaplikasikan pada skala rumah tangga, seperti budi daya tanaman
tertentu yang ingin dijual. Apabila kultur jaringan dapat dimanfaatkan secara maksimal, maka
ketersediaan tumbuhan di Indonesia dapat dijaga keseimbangannya. Kejadian-kejadian seperti
pembakaran hutan, penebangan pohon secara ilegal (illegal logging), dan eksploitasi
tumbuhan lainnya dapat diminimalisir karena kebutuhan akan tanaman tersebut dapat
dipenuhi dengan adanya metode kultur jaringan.
Penulis menyarankan perlu adanya edukasi berkelanjutan terkait teknik kultur jaringan.
Dengan teknik ini masyarakat dapat mengembangbiakan tanaman-tanaman tertentu tanpa
mengganggu keseimbangan alam. Teknik ini juga dapat digunakan industri-industri besar
yang membutuhkan kayu sebagai bahan mentahnya. Dengan teknik kultur jaringan, mereka

27

dapat memperoleh kayu dalam jumlah besar dan dengan waktu yang lebih singkat tanpa harus
mengeksploitasi hutan-hutan di Indonesia.

28

DAFTAR PUSTAKA

Ahloowalia B 1986. Limitation to the use of somaclonal variation in crop improvement. In:
Semal, J. (Ed.). Somaclonal Variation and Crop Improvement. Martinus Nijhoff Publ.
Dordrecht. P.15-27.
Anonim.

2011.

Cara

Budidaya

Jati

Emas

Unggulan.

[ONLINE]

Tersedia

di

http://1001budidaya.com/, Diakses pada 16 September 2016 pukul 18.09


Anonim.Factors Affecting Culture Cell.[ONLINE].(http://www.bccresearch.com/blog/reportarchives/factors-affecting-cell-culture.html, diakses tanggal 20 September 2016, 04:12
WIB)
Anonim. 2014. Pengertian Teknik Kultur Jaringan, Keunggulan, Kelemahan, dan
Tahapannya [ONLINE] Tersedia di http://www.ebiologi.com/2015/12/Pengertian-teknikkultur-jaringan.html. Diakses pada 16 September 2016 pukul 19.29
Anonim. Cell Culture Basis Handbook. USA: Invitrogen&Gibco
Dalimonthe, S.L, 1987. Kultur jaringan sebagai sarana untuk menghasilkan metabolit
sekunder. Dalam buku Risalah Seminar Nasional Metabolit Sekunder. 1987. (Ed)
Suwijiyo pramono, D. Gunawan dan C.J. Soegihardjo, 6-9 September, Yogyakarta. PAU
Bioteknologi UGM. Hal. 157-162.
Glazer AN., Nikaido H. (2007). Microbial Biotechnology: Fundamentals Of Applied
Microbiology Second Edition. Cambridge University Press.
Heve 1999. Osmoregulatory role of proline in plant exposed to environtmental stress, In
Perssarakli, M. Handbook of Plant and Crop Stress. Second Edition, Revised and
Expanded.
Indriyanto, G., 1987. Produksi metabolit sekunder dengan teknik kultur jaringan. Dalam Buku
Risalah Seminar Nasional Metabolit Sekunder. 1987. (Ed) Suwijiyo Pramono, D.
Gunawan dan C.J. Soegiarto. 6-9 Sptember. Yogyakarta. PAU Boiteknologi UGM. Hal.
32-44.
Kumar, Sinibas. 2016. Somaclonal Variation: Isolation and Selection Techniques (With
Diagram)
[ONLINE].Tersediadihttp://www.biologydiscussion.com/biotechnology/somaclonal
variations/somaclonal-variation-isolation-and-selection-techniques-with-diagram/14809.
Diakses pada 16 September 2016 pukul 20:45
Lovelock JE, Bishop MWH. Prevention of Freezing Damage to Living Cells by Dimethyl
Ssulphoxide. Nature. 1959;183:1394-95.
29

Pacey, Laura; Stead, Shelley; Gleave, Jacqueline; Tomczyk, Kasia; Doering, Laurie (2006).
"Neural Stem Cell Culture: Neurosphere generation, microscopical analysis and
cryopreservation". Protocol Exchange.
Seika. 2015. Pengertian, Teknik dan Manfaat Kultur Jaringan [ONLINE]. Tersedia di
http://www.pintarbiologi.com/2015/01/pengertian-teknik-dan-manfaat-kulturjaringan.html. Diakses pada 16 September 2016 pukul 19.38
Meenakshi, Arora. 2013. Cell Culture Media: A Review. MATER METHODS
2013;3:175Yang, Z. dan Xiong, H.R. 2012. Culture Conditions and Types of Growth Media
for MammalianCells. Biomedical Tissue Culture.

30