Anda di halaman 1dari 8

PENINGKATAN MUTU LIMBAH SAWIT UNTUK PAKAN TERNAK MELALUI PROSES FERMENTASI

Edial Afdi

Balai Pengkajian Teknotogi Pertanian Sumatera Barat

ABSTRACT

Improving nutritive value of palm oil waste for feedstuff through fermentation process . The cost of feedstuff is the largest part incattle breeding bussiness . In addition, most of them are imported from ahers countries . To reduce the cost attempt for using alternative source as feed raw material such as palm oil sludge (P0S) and palm kernel meal (PKM) has to be done . The main constraints of these materials for feed use are its low nutrition value and its high rough fiber content . Fermentation is one method to improve their quality . Using Aspergilus niger in fermentation of solid state substrate increase rough prtein, phosphorous, ash and metabolic energy, decrease fat content and rough fiber content. Increasing of content anddigestibelity of protein after fementation is very significant both for (P0S) and (PKM) . These increasing will be higher if it is folowed by enzimatic process (anaerob) .

Key words : Palm waste, nutritve quality improveme, fermentatation .

PENDAHULUAN

aLam usaha peternakan, biaya pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha

D ternak unggas . Pada usaha ternak ayam ras petelur biaya pakan adalah 80 % dari biaya produksi (Nurtini et al ., 1988), pada itik pedaging 53 % (Sinurat et al ., 1993) dan pada itik petetur sebesar 61' % (Lasmini et at ., 1992) . Harga pakan yang tinggi ini merupakan penyebab kerugian pada usaha peternakan unggas .

Untuk menekan biaya tersebut perlu diusahakan dengan mencari sumber bahan baku yang Lebih murah dan mudah . Penggunaan bahan pakan Lokal hasit pertanian dan hasit ikutan pertanian mungkin dapat mengurangi biaya pakan . Penggunaan bahan pakan lokal untuk pakan unggas umumnya memberikan keuntungan karena bisa menekan biaya produksi . Akan tetapi pemanfaatannya seringkali dibatasi karena kandungan serat yang tinggi dan adanya protein yang sulit dicerna (Tangendjaja, 1997) . Salah satu sisa hasit pertanian yang banyak terdapat di Indonesia adalah sisa atau limbah pengolahan kelapa sawit yaitu Lumpur kelapa sawit (LKS) dan bungkil inti sawit (BIS) . Badan Pusat Statistik (2003) melaporkan bahwa datam setahun Indonesia menghasilkan Lumpur sawit sebanyak 3,8 juta ton dan bungkil inti sawit sebesar 4,3 juta ton . Jumlah ini akan terus bertambah dengan bertambahnya produksi minyak sawit . Limbah sebanyak ini akan menjadi masalah kalau tidak dikelola dengan balk. Sementara kedua limbah ini sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai pakan unggas .

diterapkan .

Pemanfaatan limbah sawit untuk pakan ternak ruminansia telah banyak Penggantian dedak padi dengan Lumpur sawit dalam ransum sapi perah sampai 100% tidak mempengaruhi pertumbuhan dan produksi susu, bahkan ada kecenderungan kadar proteinnya naik (Sutardi, 1991) . Penggunaan Lumpur sawit dalam pakan domba dapat memberikan tingkat kecernaan protein yang cukup tinggi (Devendra, 1977), sementara pemakaian bungkil inti sawit untuk domba sampai 22 % tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, daya cerna protein dan retensi nitrogen (Agustin, 1996) . Namun pemakaian limbah sawit untuk pakan ternak unggas sangat terbatas disebabkan oleh nilai gizinya yang rendah (tingginya serat kasar dan adanya protein yang sulit dicerna) . Untuk peningkatan pemakaian limbah sawit ini dalam ransum pakan unggas, sangat perlu dilakukan peningkatan nilai gizinya .

Peningkatan mutu pakan dapat dilakukan dengan peningkatan mutu tanaman itu sendiri, secara mekanis, kimia, biologi dan kombinasi dari semua itu (Kompiang, 1993) . Fermentasi

Prosiding Peternakan 2006

163

yang merupakan proses biokimia (kombinasi kimia dan biologi) sudah diketahui luas dapat meningkatkan mutu bahan makanan, yang akhir-akhir ini sudah pula dikembangkan terhadap pakan . Fermentasi telah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi (protein dan energi metabolisme) bungkil ketapa (Sinurat et al ., 1996) dan ampas kirai (Antawidjaja et al ., 1997) . Fermentasi tepung singkong dengan menggunakan Trichoderma pseudokoningii menghasilkan peningkatan protein dari 1,28 % menjadi 14,32 % bahan kering (Balagopatan dan Padmaja, 1998). Peningkatan nilai gizi bahan akibat proses fermentasi selanjutnya akan meningkatkan kecernaannya (Winarno, 1980) .

Dalam makalah ini diuraikan pengunaan teknologi fermentasi untuk meningkatkan nilai gizi limbah ketapa sawit, sehingga diharapkan dapat digunakan dalam ransum ternak unggas .

PENINGKATAN MUTU PAKAN DENGAN PROSES FERMENTASI

Bahan pakan yang ada di negara berkembang termasuk Indonesia kaya dengan karbohidrat dan serat serta miskin protein (Kompiang, 1993) . Namun berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan nilai gizinya, yang difokuskan terhadap peningkatan kecernaannya . Peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara mekanis (perajangan, penggilingan) atau dengan perlakuan kimia ( perendaman dengan asam atau alkali) . Cara mekanis dan kimia ini pada umumnya hanya meningkatkan kecernaan pakan tanpa merubah kandungan nutriennya, tetapi dengan fermentasi disamping meningkatkan kecernaan, dan meningkatkan kandungan vitamin tertentu . Dengan menggunakan berbagai mikro organisme dan penambahan senyawa nitrogen organik dalam proses fermentasi substrat padat, karbohidrat dapat dirobah menjadi protein . (Spicer, 1971 ; Senez, 1985) .

ketersediaan asam amino juga

Prinsip fermentasi tersebut telah banyak digunakan terhadap bahan makanan dan pakan . Sebagai contoh misalnya dengan fermentasi mengunakan berbagai mikroorganisme, kandungan protein ubikayu dapat ditingkatkan dari 3 % menjadi 11-17 % (Hutagatung dan Tan, 1978), bahkan dalam skala laboratorium menggunakan A . niger dapat meningkat kandungan proteinnya sampai 40 %, dan mempunyai kecernaan yang lebih balk serta dapat dipakai dalam formulasi pakan ayam pedaging sampai 10 % tanpa menghasilkan efek samping (Kompiang et a! .,1992) .

Fermentasi tidak saja meningkatkan nilai gizi bahan tetapi juga dapat menghitangkan atau mengurangi antinutrisi seperti mengurangi kandungan pitat (Sudarmadji dan Markakis, 1977), sebagai akibat akitifitas pitase dari mikroba yang dipakai dalam fermentasi . Fermentasi dapat juga menyebabkan detoksifikasi sebagian dari shorgum dan calliandra akibat berkurangnya senyawa tanin setelah fermentasi (Purwadaria et al ., 1991) .

Proses fermentasi tersebut secara umum melibatkan pembersihan bahan baku, pencampuran dengan mineral, pemasakan untuk sterilisasi dan gelatinisasi karbohidrat guna memudahkan terjadinya fermentasi oleh mikroba, diikuti dengan penambahan inokulum mikroba kemudian diperam selama 2-3 hari (Kompiang, 1994). Dengan prinsip yang sama proses fermentasi diterapkan pula terhadap limbah sawit (Purwadaria et al ., 1998) seperti Gambar 1 .

164

Edial Afdi

Lumpur sawit

Pencampuran dengan air dan mineral

Pemasakan

i

Penambahan inokulum

i

Fermentasi

Pemanenan

1

Pengeringan

Penggilingan

'Gambar 1. Diagram alir proses fermentasi lumpur kelapa sawit

FERMENTASI LUMPUR KELAPA SAWIT

Lumpur kelapa sawit merupakan satah satu limbah industri pengolahan minyak sawit yang banyak diproduksi di Indonesia . Peningkatan produksi minyak kelapa sawit seperti CPO akan meningkatkan pula limbahnya, seperti Lumpur ketapa sawit dan bungkit inti sawit masing- masing sebesar 45 % dan 2 % dari jumlah produksi minyak sawit (Aritonang, 1984).

Lumpur kelapa sawit adalah bahan buangan yang dihasilkan selama proses pemerasan atau ekstraksi minyak (Aritonang, 1984) merupakan suatu emulsi yang mengandung sekitar 4-5 % padatan tertarut ; 0,5-1,0 % sisa minyak dan 95 % air (Hutagalung dan Jalaluddin, 1982) . Hasil analisis kimia Lumpur kelapa sawit menunjukkan bahwa nilai nutrisinya bervariasi seperti pada Tabet 1 .

Tabel 1 . Komposisi kimia lumpur kelapa sawit (LKS).

Kisaran

Komponen

89,50

Bahan kering (%)

9,6-13,9

Protein kasar(%)

11,6-21,3

Lemak (%)

11,4- 24,3

Serat kasar (%)

3,8-4,7

Energi kkal/g Mineral :

0,28-069

Kalsium(%)

(mg/kg)

Oil -0,44

Fospor(%)

0,18-0,36

Maknesium(%) Mangan(mg/kg)

 

54 - 70

29

- 45

Tembaga (mg/kg)

Besi Seng (mg/kg) Sumber : Aritonang, 1984 .

1500 - 1900 900- 1300

Prosiding Peternakan 2006

165

Tingginya serat kasar dalam Lumpur kelapa sawit menjadi faktor pembatas datam pemanfaatannya untuk bahan pakan ternak monogastrik (Hutagalung, 1978), dimana untuk ransum ayam hanya dapat diberikan 5 % (Sinurat et al ., 2000), sedangkan untuk ayam petelur bisa lebih tinggi tanpa mengganggu produksi telur, bobot telur, efisiensi penggunaan pakan dan kualitas tetur (Yeong dan Azizah,1987) . Peningkatan nilai gizi Lumpur sawit metalui fermentasi diharapkan pula dapat meningkat prosentase pemakaiannya dalam ransum ternak .

Beberapa penelitian fermentasi untuk meningkatkan nilai gizi lumpur ketapa sawit telah dilakukan. Pasaribu, dkk . (1998) metaporkan bahwa kandungan protein kasar dan protein sejati Lumpur kelapa sawit setelah difermentasi selama 3 hari meningkat berturut-turut menjadi lebih 22 % dan hampir 17 % (Tabel 2) .

Tabel 2. Perubahan kandungan protein dan serat lumpur kelapa sawit setelah difermentasi aerob dengan kapang Aspergilus Niger. Protein kasar (%)

Bahan

Protein sejati

(%)

Serat diterjen

(%)

Serat diterjen netrat

(%)

Tanpafermentasi

11,94

10,44

44,20

 

62,77

Sesudah fermentasi :

 

A.

Niger BPT

22,59

16,70

44,74

 

52,07

A.

Niger NRRL 337

22,07

16,96

39,94

 

53,99

Sesudah enzimatis

 

A. Niger BPT

A. Niger NRRL

23,16

16,94

 

42,25

48,76

 

22,78

16,78

3.6,44

45,49

Sumber : Pasaribu dkk, 1988.

Lumpur kelapa sawit seperti lama fermentasi, suhu ruang fermentasi dan lama proses fermentasi . Fermentasi pada suhu ruang selama 2 hari lebih baik dibandingkan dengan 3 dan 4 hari (Pasaribu et al ., 1988) . Untuk mendapatkan mutu yang lebih balk suhu perlu ditingkatkan . Fermentasi pada suhu 28°C selama 5 hari akan meningkatkan protein Lumpur kelapa sawit sampai 24,1 % (Saono, 1974), bahkan Rahmadhani (1998) metaporkan bahwa kandungan protein kasar dapat mencapai 24,8 % dan protein sejati mencapai 16,1 % apabita difermentasi pada suhu 28 °C dengan kadar air substrat 60 % .

Beberapa faktor mempengaruhi hasit fermentasi

Dengan suhu yang lebih tinggi lagi proses fermentasi dapat dipercepat . Sinurat et al ., 1988 mengatakan bahwa fermentasi LKS selama 3 hari pada suhu 32°C lebih balk dibandingan dengan suhu 28°C, dimana suhu 32° C merupakan suhu terbaik untuk memfermentasi Lumpur kelapa sawit . Pada suhu inijuga diperoleh produk dengan daya cerna bahan kering dan protein tertinggi. Nilai daya cerna protein setelah fermentasi meningkat menjadi 21,7 % jauh lebih tinggi daripada tanpa fermentasi yang hanya sebesar 11 % . Peningkatan ini hampir dua kali lipat sehingga akan lebih menguntungkan dalam pembuatan LKS (Bintang et al ., 2000) .

Peningkatan nitai gizi Lumpur kelapa sawit ini akan lebih nyata lagi apabila setelah fermentasi dikuti pula dengan proses enzimatis atau proses anaerob . Hasil penelitian Pasaribu et al ., 1988 setelah fermentasi dan diikuti dengan proses enzimatis kandungan protein kasar dapat mencapai 23,16 % dan protein sejati 16,94 % . Sementara hasil penelitian Bintang et al . (2000) mencapai 21,9 % . Lebih penting Lagi terjadi penurunan kadar serat sampai 36,44 % (Tabel 2) . Proses enzimatis setelah fermentasi juga dapat meningkatkan energi metabolisme dari 1,383 KkaL/kg tanpa enzimatis dan 1,555 Kkal/kg dengan proses enzimatis(Bintang et al .,

2000).

FERMENTASI BUNGKIL INTI SAWIT KELAPA

Bungkil inti kelapa sawit adalah salah satu hasil ikutan industri kelapa sawit dimana produksinya cukup metimpah . Karena itu upaya penggunaan limbah ini untuk pakan telah pula

1 66

Edial Afdi

dilakukan yakni sebagai sumber energi atau protein . (Devendra, 1977) . Namun demikian bungkil inti ketapa sawit dikenal sebagai pakan yang kurang disukai ternak karena sifatnya yang kering dan kasar seperti pasir serta tingginya serat kasar (Ravindran dan Blair, 1992). Batas penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum ayam broiler dilaporkan bervariasi dari 5- 20%(Ahmad, 1982 :Kamal,1984) dan dapat digunakan hingga 40 % dalam ransum ayam petelur (Perez et al ., 2000 dalam Sinurat dan Manurung, 2005) . Peningkatan mutu bungkil inti sawit diharapkan dapat pula meningkatkan pemakaiannya dalam ransum unggas .

Seperti halnya Lumpur sawit, peningkatan mutu bunkil inti sawit dapat ditakukan dengan fermentasi . Fermentasi terhadap BIS menyebabkan adanya perubahan kandungan nutrisi bahan, dimana kandungan protein kasar fospor dan abu serta energi metabolisme BIS terfermentasi dan cenderung naik (Tabel 3) .

Tabet 3. Kandungan gizi bungkil inti kelapa sawit sebelum dan sesudah fermentasi dengan AspergilusNiger. Peningkatan(%)

Sebelum fermentasi

Sesudah fermentasi

Komponen

 

21,70

19,750

-8,97

Serat kasar( %) Energi metabotisme (kkal/kg)

2,087

2,413

15,62

Abu (%)

3,50

7,750

121,43

Kalsium (%)

0,350

.2,78

Forpor (%)

0,36

 

0,880

23,94

Lemak (%)

0,71

9,60

6,700

.30,21

Protein kasar( %)

14,19

25,060

76,60

Protein sejati( %)

18,990

33,83

 

14,19

Sumber : Bintang et al ., (1999) .

Dengan dilakukan fermentasi akan meningkatkan kandungan proteinnya . Hat yang sama juga dibuktikan oleh Rahmadhani (1998) bahwa fermentasi Lumpur sawit akan meningkatkan protein kasar dan protein sejati masing-masing sebesar 24,8 % dan16,1 % .

Peningkatan mutu BIS juga dipengaruhi oteh jenis mikroba, dimana nilai kecernaan bahan kering dan kecernaan protein meningkat dari 40,65 % menjadi 45 % dan 50,78 untuk produk fermentasi masing-masing menggunakan A . niger tipe liar dan NRRL 337. kecernaan protein BIS dengan fermentasi naik dari 63,87 % menjadi 73,05 dan 74,91 % untuk NRRL 337.

masing-masing produk yang menggunakan A . niger liar dan

Nilai

Apabila setelah fermentasi diikuti puta dengan proses enzimatis, kandungan gizi BIS ini masih dapat ditingkatkan . Penelitian Supriati, dkk (1998) menyatakan bahwa protein kasar dapat ditingkatkan tagi, sementara lemak dan serat kasat terjadi penurunan (Tabel 4 .)

Tabet 4. Kadar protein kasar, protein sejati dan serat diterjen netral (SDN) BIS sebelum dan sesudah fermentasi.

Parameter

Proses

Aspergilus niger

Tanpa fermentasi

Liar

14,19

NRRL 337

Protein kasar

 

25,17

25,55

 

Fermentasi 3 hari Enzimatis 2 hari

35,61

36,43

 

13,59

Protein sejati

Tanpa fermentasi

 

19,75

20,25

 

Fermentasi 3 hari Enzimatis 2 hari

24,35

25,06

 

63,96

SDN

Tanpa ermentasi

 

57,14

Fermentasi 3 hari

57,42

Enzimatis 2 had Sumber : Supriati et al., (1998) .

53,12

51,94

Pada proses enzimatis pemecahan bahan yang tidak dapat dicerna lebih dominan menyebabkan meningkatnya nilai KBK .

Prosiding Peternakan 2006

167

KESIMPULAN

Fermentasi sudah lama digunakan untuk meningkatan mutu gizi makanan dan pakan ternak . Fermentasi tidak saja meningkatkan zat gizi yang diperlukan dan menurunkan kandungan zat pembatas tetapi juga dapat meningkatkan kecernaan zat gizi tersebut . Dengan fermentasi tersebut limbah kelapa sawit seperti lumpur ketapa sawit (LKS) dan bungkil inti kelapa sawit (BIS) dapat puta ditingkatkan mutu gizinya, sehingga diharapkan penggunaannya dalam ransum unggas dapat ditingkatkan . Fermentasi subtrat padat dengan A . niger terhadap Lumpur kelapa sawit akan meningkatkan kandungan protein dan kecernaannya dua kati lipat dan menurunkan serat kasarnya Lebih kurang 3 %. Peningkatkan nilai gizi limbah ketapa sawit ini akan lebih signifikan apabila setelah fermentasi diikuti pula dengan proses enzimatis (anaerob) .

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, F. 1996 . Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit (palm kernel cake) dalam ransum domba terhadap daya cerna protein dan retensi nitrogen . Jurnal Peternakan dan Lingkungan . 2 (1) : 21-24.

Ahmad, M .Y . B . 1982 . The feeding value of palm kernel cake for broiler . Mardi Res . Bull . 10 (1): 120-126.

Antawidjkaja, T ., I .A .K . Bintang, Supriati, A .P . Sinurat, dan I .P . Kompiang . 1997 . Penggunaan ampas kirai (Metroxylon sago) dan hasil fermentasinya sebagai bahan .

Aritonang, D. 1984 . Pengaruh pengunaan bungkil inti sawit dalam ransum babi yang sedang tumbuh . Disertasi Doktor . Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor . Bogor

Badan Pusat Statistik . 2003 . Statistik Indonesia 2003 . Badan Pusat Statistik Indonesia Jakarta.

Balagopalan, C . and G . Padmaja . 1988 . Protein enrichment of cassava flour by solid state fermentation with Trichoderma pseudokoningii Rifai for cattle feed . Proc . of the Eigh Symposium of the International Society for Tropical Root Crops . Bangkok, Oct . 30 - Nov . 5, 1988 . p: 426 - 432 .

Bintang, I A .K ., A .P . Sinurat, T . Murtisari, T . Pasaribu, T .Purwadaria dan T . Haryati .1999 . Penggunaan bungkil inti sawit dan produk fermentasinya dalam ransum itik sedang bertumbuh .Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner . 4(3) :179-184.

Bintang, I A .K., A .P . Sinurat, T .Purwadaria dan T . Pasaribu . 2000 . Nilai gizi lumpur kelapa sawit hasil fermentasi pada berbagai proses inkubasi. Jurnal Ilmu ternak dan veteriner . 5(1) :7-11 .

Devendra, C . 1977 . Utilization of Feedingstuffs from the Oil Palm . Malaysian Society of Animal Productions . Serdang Malaysia .

Hutagalung, I .P . and P .H . Tan . 1978 . Utilization of nutrinationally improved cassava by nutrient suplementation and microbial enrichment in poultry and pigs . Prc . 4th Symp . Inter . Trop. Root Crops. p 225-230

and Jalaludin . 1982 . Feeds for farm animal from the oil palm . Universit Pertanian Malaysia, Serdang . Malay . Soc . Anim . Prod . Serdang Malaysia . PubL .No . A . 40 .

1 68

Edial Afdi

Kamal, M . 1984 . Pemanfaatan bungkil kelapa sawit sebagai bahan pakan ayam pedaging . Prosiding Seminar Pemanfaatan Limbah Pangan dan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak . LIPI. Bandung

Kompiang, I.P ., J . Darma, T . Purwadaria, A .P . Sinurat dan S . Kompiang . 1992 . Protein enrichment : Studi cassava enrichment melalui proses biologi untuk ternak ruminansia . Laporan Tahunan Balai Penelitian Ternak Bogor - ARM Project . Bogor. Indonesia.

. 1993 . Prospect of biotechniogy on improvement of nutritional quality of feed stuffs . Ind. Agric. ResEt Dev. J. 15(4): 86-90.

.1994 . Cassava : A promising protein enriched cassava as animal and fish feed. Indonesia Agr . Res . Et Dev . J . Vol . 16 (4) : 57-63

Lasmini, A ., A .R . Setioko, A .P . Sinurat dan P . Setiadi. 1992 . Pemeliharoan itik terkurung dengan itik gembala ditinjau dari segi ekonominya . Pros . Pengolahan dan Komunikasi hasil-hasil Penelitian Unggas dan Aneka Ternak . Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor . Hat. 99-101

Nurtini, S ., M .A . Wiguna dan D .M . Margaretha . 1988 . Tinjauan usaha dan prospek peternakan oyam petelur . Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Forum Peternak Unggas dan aneka ternak II . Balai Penelitian Ternak Bogor . Hat : 210-219.

Pasaribu, T ., A .P . Sinurat, T . Purwadaria, Supriati, J. Rosida

dan H . Hamid . 1998 . Peningkatan nilai gizi lumpur sawit melalui proses fermentasi : Pengaruh Jenis Kapang, Suhu don Lama Enzimatis . Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner . 3: 237-242 .

Purwadaria, T ., J .Darma, E . Wina dan T . Haryati . 1991 . Pengaruh

fermentasi A . niger terhadap sorgum dan daun kaliandra . Prosiding Pertemuan Itmiah Tahunan Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia . Bogor.

B. Tangendjaya, J . Darma, D . Aritonang, A .P . Sinurat, T . Haryati, J .

Rosita, H .Hamud, Abu Bakar dan M .H . Togatorop . 1998 . Peningkatan efektifitas strain

mikroba terseleksi melalui teknik mutasi untuk proses bioteknologi pakan monogastrik . Kumpulan Hasil-Hasil Penelitian Peternakan . tahun 1996/1997 . Hat. 249-259

Rahmadhani . 1988 . Pengujian nilai gizi hasil fermentasi lumpur kelapa sawit . Skripsi Jurusan Peternakan Universitas Juanda Bogor .

Ravindran, V . And R . Blair. 1992 . Feed resources for poultry production in Asia and the Pasific II . PlantProtein Sourrces World's . Poult . Sci. J . 48 : 206-231 .

Saono, S. 1974. Pemanfaatan josad renik dalam pengolahan hasil sampingan atau sisa-sisa produk pertanian . Berita LIPI . 18 : 1-11 .

Senez, J .C . 1985 . Microbial food and feed . In Biotechnology and Bioproses Engineering . T .K . Ghose (Ed) . Indian Institute of Technology, New Delhi . p309 .

Sinurat, A .P ., A .R . Setioko, P . Setiadi dan A .Lasmini . 1993 . Tingkot pengunaan dedak padi dalam ransum itik pedaging . ILmu dan Peternakan . 6(1) : 21-26 .

, P. Setiadi, T . Purwadaria, A .R . Setioko dan J . Dharma . 1996 . Nilai gizi bungkil kelapa yang difermentasi dan pemanfaatannya dalam ransum itik Jan tan. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner . 1(3):161-168.

Prosiding Peternakan 2006

169

,T . Purwadaria, J . Rosita, H . Surachman, H . Hamid dan I .P . Kompiang . 1998 . Pengaruh suhu ruang fermentasi dan kadar air substrat terhadap nilai gizi produk fermentasi lumpur sawit. J. Ilmu Ternak dan Vet . Vol . 3 (4) :225-229.

, Pemanfaatan lumpur sawit untuk ransum unggas : 1. Lumpur sawit kering dan produk fermentasinya sebagai bahan pakan ayam broiler. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner . 5(2) :107-112 .

Ketaren, D . Zainuddin dan I .P . Kompiang . 2000 .

P .

, B .P . Manurung .2005 . Pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit untuk pakan ternak dan aplikasinya di PT. Agricinal Bengkulu . Prosiding Seminar Nasionat Inovasi Teknlogi Pertanian Mendukung Pembangunan Pertanian di Lahan Kering . Bengkulu, 11-12 Nov. 2005 . Hat. 125-133 .

Spicer, A. 1971 . Protein production by microfungi . Trop . Sci. 13 : 238 - 242 .

Sudarmadji, S . and P . Markakis . 1977 . The Phytate and phytase of soybean tempeh . J. Sci. Food Agric 28 :381-384.

Supriati, T . Pasaribu, H . Hamid dan A . Sinurat. 1998 . Fermentasi bungkil inti sawit secara substrat padat dengan menggunakan Aspergillus niger . Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3 (3) : 165-170.

Sutardi . 1991 . Aspek nutrisi 5api Bali . Prosiding Seminar Sapi Bali . Fakultas Peternakan UNHAS, Ujung Pandang . Hat. 85-109 .

Tangendjaja, B. dan P. Pattyusra . 1993 . Bungkil inti sawit dan pollard gandum tyang difermentasi dengan Rhizopus oligosporus untuk ayam pedaging . Ilmu dan Peternakan

6(2):34-38.

1997 . Produksi dan evaluasi enzim amilase, mannase, phitase dan protease untuk meningkatkan mutu gizi pakan monogastrik . Warta Plasma Nutfah Indonesia . 3 dan 4:10-11 .

Winarno, F .G . 1980 . Microbial conversion of lignocellulose Into Feed . Straw and Other Fibrous by Product as Feed . Elsevier, Amsterdam, Oxford, New York .

Yeong, S .W . and A. Azizah. 1987. Efect of processing on feeding values of palm oil mill effluent . (POME) in non ruminants . Proc .l9th ann . Conf MSAP . pp . 302-306 .

170

Edlal Afdl