Anda di halaman 1dari 11

Jalur Pembentukan Metabolit Sekunder

Senyawa metabolit sekunder diproduksi melalui jalur di luar biosinthesa


karbohidrat dan protein. Ada tiga jalur utama untuk pembentukan metabolit
sekunder, yaitu 1) jalur Asam Malonat asetat, 2) Asam Mevalonat asetat dan 3)
Asam Shikimat.
a. Jalur Asam Malonat
Senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan melalui jalur asam malonat
diantaranya: asam lemak (laurat, miristat, palmitat, stearat, oleat, linoleat,
linolenic), gliserida, poliasetilen, fosfolipida, dan glikolipida.
Tanaman yang menghasilkan senyawa ini antara lain: Jarak pagar, kelapa sawit,
kelapa, jagung, kacang tanah, zaitun, bunga matahari, kedelai, wijen, kapas,
coklat, dan alpukat.
b. Jalur Asam Mevalonat
Senyawa metabolit sekunder dari jalur ini diantaranya adalah Essential oil,
Squalent, Monoterpenoid, Menthol, Korosinoid, Streoid, Terpenoid, Sapogenin,
Geraniol, ABA, dan GA3.
c. Jalur Asam Sikhimat
Metabolit sekunder yang disintesis melalui jalur asam shikimat diantaranya
adalah Asam Sinamat, Fenol, Asam benzoic, Lignin, Koumarin, Tanin, Asam amino
benzoic dan Quinon.

Biosintesis metabolit sekunder sangat beragam tergantung dari goIongan senyawa yang
bersangkutan. Jalur yang biasanya dilalui dalam pembentukan metabolit sekunder ada tiga
jalur, yaitu jalur asam asetat, jalur asam sikimat, dan jalur asarn mevalonat.
1. JaIur asam asetat
Poliketida meliputi golongan yang besar bahan alami yang digolongkan bersarna
berdasarkan pada biosintesisnya. Keanekaragaman struktur dapat dijelaskan sebagai turunan
rantai poli--keto, terbentuk oleh koupling unit-unit asam asetat (C 2) via reaksi kondensasi,
misalnya
n CH3CO2H
[CH3C0]n Termasuk poliketida adalah asam temak, poliasetilena, prostaglandin, antibiotika
makrolida, dan senyawa aromatik seperti antrakinon dan tetrasiklina. Pembentukan rantai
poli--keto dapat digambarkan sebagai sederet reaksi Claisen, keragaman melibatkan urutan
-oksidasi dalam metabolisme asam lemak. Jadi, 2 molekul asetil-KoA dapat ikut serta datam
reaksi Claisen membentuk asetoasetil-KoA, kemudian reaksi dapat berlanjut sampai
dihasilkan rantai poli--keto yang cukup (Gambar 37). Akan tetapi studi tentang enzim
yang terlibat dalam biosintesis asam Iemak belum terungkap secara rinci. Namun demikian,
dalam pembentukan asam lemak melibatkan enzim asam Iemak sintase seperti yang dibahas
di atas.
Mengenai reaksi-reaksi yang terjadi pada jalur asam asetat tercantum dalam Gambar 3
6.
2. Jalur asam sikimat
Jalur asam sikimat merupakan jafur alternatif menuju senyawa aromatik, utamanya Lfenilalanin. L-tirosina. dan L-triptofan. Jalur ini berlangsung dalam mikroorganisme dan
tumbuhan, tetapi tidak berlangsung dalam hewan, sehingga asam amino aromatik merupakan
asam amino

Gambar 3 6. Biosintesis via jalur asetat (Dewick, 1997)

esensial yang harus terdapat dalam diet manusia maupun hewan. Zantara pusat adalah asam
sikimat, suatu asam yang ditemukan dalam tanaman IlIicium sp. beberapa tahun sebelum
perannya dalam metabolisme ditemukan. Asam ini juga terbentuk dalam mutan tertentu
dari Escherichia coli. Adapun contoh reaksi yang terjadi dalam biosintesis asam polifenolat
tercantum dalam Gambar 3 7. Dalam biosintesis L-triptofan dan asam 4-hidroksibenzoat
juga terjadi zantara asam korismat.
Gambar 3 7. Jalur sikimat dalam biosintesis asam polifenolat (Dewick, 1997)
3. Jalur asam mevalonat
Terpenoid merupakan bentuk senyawa dengan keragaman struktur yang besar dalam
produk alami yang diturunkan dan unit isoprena (C5) yang bergandengan dalam model
kepala ke ekor (head-to-tail), sedangkan unit isoprena diturunkan dari metabolisme asam
asetat oleh jalur asam mevalonat (mevalonic acid : MVA). Adapun reaksinya adalah sebagai
berikut.
Gambar 3 8. Jalur asetat dalam pembentukan IPP yang merupakan batu bata pembentukan
terpenoid via asam mevalonat (Dewick, 1997)
Dalam makalah ini, kami akan lebih memfokuskan pada biosintesis asam shikimat
ALUR ASAM SHIKIMAT
Suatu senyawa yang tak terduga pentingnya, diisolasi pada tahun 1885 dari
buah Illicium religiosum. Senyawa itu diberi nama asam shikimat(shikimic acid), suatu nama
yang berasal dari kata shikimi-no-ki, yaotu suatu jenis tanaman dalam bahasa jepang. Asam
shikimat didapatkan dari suatu penyelidikan yang mendalam oleh para peneloti setelah itu,
dan itu merupakan suatu zat antara kunci dalam biosintesis asam asam amino aromtik, Lfenilalanin, L- tirosin dan L- triptofan, pada tanaman dan mikroorganisme ( hewan tingkat
tinggi tidak dapat mensintesis de novo melalui alur ini).
Alur biosintetik melalui asam shikimat ke asam-asam amino aromatic, diperlihatkan
dalam skema 5.1. (asamnya disajikan sebagai anion) dan disebut jalur asam shikimat atau
alur shikimat. Asalnya adalah metabolisme karbohidrat dengan beberapa sifat yang menarik,
yang sebagian besar diketahui dari penyelidikan yang rinci atas tahap-tahap yang dilalui.
Tahap pertama adalah kondensasi tipe aldo stereospesifik antara fosfoenolpirupat dan Deritrose-4-fosfat yang menghasilkan 3-deoksi-D-arabinoheptulosonat 7-fosfat(5.3;DAHP), di
mana penambahan terjadi pada muka-si dari ikatan rangkap pada (5.1) dan muka-re dari
gugus karbonil pada (5.2)
Penutupan cincin pada DAHP menghasilkan dehydroquinic acid (DHQ). Mekanisme
untuk reaksi ini digambarkan dalam skema 5.3, dimana disamping reduksi dan oksidasi,
terjadi eliminasi-syn fosfat anorganik, dan pada langkah terakhir diikuti dengan suatu reaksi
aldol intramolekuler, melalui suatu suatu status transisi mirip kursi(5.11). DHQ mengalami
dehidrasi reversible dan menghasilkan asam dehidrosikhimat. Penambahan dan eliminasi air
berlangsung secara cis yang tidak lazim dan dipostulasikan terjadi dalam urutan dua langkah,
yang melibatkan enamin, yang dibentuk melalui gugus-keto dalam.

Terdapat dua langkah dari asam shikimat (5.7) ke 3-fosfat (5.8). kondensasi dengan
fosfoenolpiruvat (5.1) menghasilkan (5.9). jenis reaksi biologis ini sifatnya unik, karena
hanya satu contoh lain saja yang diketahui. Mekanisme yang terjadi, disajikan pada skema
5.4. Dari penyelidikan pelabelan diperoleh hasil bahwa reaksi penambahan mempunyai
sterokimia yang berlawan dengan langkah eliminasi yang terakhir tadi.
Eliminasi 1,4- konjugat asam fosfor mengubah (5.9) menjadi khorismat (5.10), suatu
reaksi yang telah ditunjukan melibatkan eliminasi trans dari dua gugus yang hilang
[hilangnya (6-pro-R)-hidrogen].
Barangkali jalur shikimat mestinya disebut alur khorismat (chorismate), karena pada
asam khorismatlah (5.10) garis tunggal biosintesis terpecah menjadi beberapa garis yang
terminalnya adalah asam asam amino aromatic vital dan senyawa senyawa yang beragan
lainnya. Namun tampaknya biosintesis beberapa metabolit microbial tertentu (bagian 7.6.1)
dapat bergeser dari garis utama, pada suatu tahapan yang dekat dengan asam dehidrokuinat
(5.4).
Aminasi asam khorismat (5.10) terjadi melalui asam anthranilat (5.13) ke triptofan
(5.14). pembentukan fenilalanin (5.17) dan tirosin (5.18), sebaliknya berlangsung melalui
asam prefenat (5.16), yang pembentukannya dari asam khorismat (5.10) = (5.15) melibatkan
penyusunan-ulang clasien yang merupakan suatu contoh biologis yang unik. Reaksi yang
sama dapat juga dicapai dengan pemanasan larutan asam khorismat berair, akan tetapi
perhitungan menunjukan bahwa enzim (khorismat mutase) dari Aerobacter
aerogenes meningkatkan laju reaksi (pada pH 7,5 dan 37 C) sampai 1,9 x 10 6 kali,
dibandingkan dengan reaksi termal biasa. Reaksi enzim ini tampaknya bukanlah reaksi yang
terpadu, tetapi melibatkan pengaturan-ulang yang bertahap seperti yang digambarkan dalam
skema 5.5
Suatu route dari asam khorismat melalui asam isokhorismat telang diketengahkan
untuk biosintesis asam asam amino m-karboksi, misalnya (5.20), yang terdapat pada
tanaman tumbuhan tingkat tinggi. Pada bakteri, asam salisilat (5.21) juga diturunkan dari
(5.19). pada mikroorganisme, merupakan suatu hal yang menarik untuk dicatat bahwa
aromatisasi zat antara alur asam shikimat dapat terjadi setelah [ seperti untuk (5.21)] atau
sebelum asam khorismat (5.10). Ini berjalan, sebagai contoh, dari asam dehidroshikimat
ke protocatechuic acid (5.22). aromatisasi dengan cara ini memungkinkan senyawa fenolat,
melalui route yang berbeda dari route yang melalui poliketida dan, pada tanaman, melalui
asam asam amino aromatic.
Pada tanaman tingkat tinggi, polimer lignin, dan berbagai metabolit sekunder
aromatic terutama alkaloid-alkaloid dan flavonoid di bentuk dari asam asam aromatic, Lfenilalanin dan atau L-tirosin [untuk beberapa jenis alkaloid seperti juga beberapa metabolit
microbial, triptofan adalah sumber dari cincin-cincin aromatiknya]. Terdapat alur alur
metabolit yang sama dari fenilalanin, dan pada beberapa tanaman, tirosin ke zat antara
fenilpropanoid (C6-C3). Langkah pertama dari fenilalanin meliputi ensim L-fenilalanin
ammonia liase (yang dikenal juga sebagai PAL), suatu ensim yang tersebar luas dan sangat
dikenal. Eliminasi ammonia berlangsung dan menghasilkan cinnamic acid (5.23). proses ini
meliputi hilangnya (3-pro-S)-proton dari L-fenilalanin (5.17) dan makanya muncul dalam
wujudnya anti [L-tirosin armonia liase berfungsi memindahkan juga (3-pro-S)-proton
dalam tirosin].
p-Coumaric acid (5.24) adalah produk yang dihasilkan melalui penghilangan
ammonia dari tirosin . yang lebih umum lagi, asam ini berasal dari hidroksilasi cinnamic

acid (5.23) yang dibentuk melalui pembuangan ammonia dari fenilalanin, hidroksilasinya
diikuti oleh pergeseran NIH yang biasa (bagian 1.3.2) baik untuk para-hidroksilasi maupun
ortho-hidroksilasi. Sampai dua gugus hidroksifenolat yang selanjutnya dapat diintroduksikan
pada (5.24), skema 5.6.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Asam sikimat merupakan suatu asam yang ditemukan dalam tanaman IlIicium
sp. beberapa tahun sebelum perannya dalam metabolisme ditemukan. Asam ini juga terbentuk
dalam mutan tertentu dari Escherichia coli.
Alur biosintetik melalui asam shikimat ke asam-asam amino aromatik. Asalnya adalah
metabolisme karbohidrat dengan beberapa sifat yang menarik, yang sebagian besar diketahui
dari penyelidikan yang rinci atas tahap-tahap yang dilalui.
Terdapat dua langkah dari asam shikimat ke 3-fosfat kondensasi dengan
fosfoenolpiruvat dan alur khorismat

Terpenoid merupakan komponen yang biasa ditemukan dalam minyak


atsiri. Sebagian besar terpenoid mengandung atom karbon yang jumlahnya
merupakan kelipatan lima. Terpenoid mempunyai kerangka karbon yang terdiri

dari dua atau lebih unit C5 yang disebut unit isopren (Sjamsul, 1986).
Berdasarkan jumlah atom C yang terdapat pada kerangkanya, terpenoid dapat
dibagi menjadi hemiterpen dengan 5 atom C, monoterpen dengan 10 atom C,
seskuiterpen dengan 15 atom C, diterpen dengan 20 atom C, triterpen dengan
30 atom C, dan seterusnya sampai dengan politerpen dengan atom C lebih dari
40.