Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejahatan dapat mengintai kita dimana saja dan kapan saja, kejahatan bisa saja terjadi
bila ada kesempatan. Kejahatan juga dapat diartikan sebagai suatu tingkah laku yang
bertentangan dengan undang undang, jika dilihat dari sudut pandang sosiologis, maka
kejahatan dapat diartikan sebagai perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si
penderita, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan,
ketentraman dan ketertiban. Banyak upaya yang sudah dilakukan pemerintah untuk
menekan munculnya tindak kejahatan dikalangan masyarakat, namun masih saja
dianggap kurang oleh masyarakat karena angka tindak kriminalitas masih tinggi. Selain
peran pemerintah, peran masyarakat juga diperlukan dalam memberantas tindak
kejahatan, butuh kesadaran dari individu masing masing bahwa melakukan tindak
kriminalitas akan dikenakan sanksi, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun
kehidupan beragama.
Salah satu faktor yang dapat mencegah tindak kejahatan adalah arsitektur. Teori dari
Vitruvius dapat dijadikan dasar dasar mencegah kejahatan dengan kejahatan. Arsitektur
dikatakan dapat mencegah tindak kejahatan karena arsitektur berperan penting dalam
perilaku spasial dan modal sosial, yang artinya arsitektur sangat berpengaruh terhadap
perilaku individu pada suatu ruang dan arsitektur juga berpengaruh terhadap bagian
bagian dari organisasi sosial seperti kepercayaan, norma, dan jaringan yang dapat
meningkatkan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan tindakan yang
terkoordinasi. Arsitektur memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku sosial,
budaya dan lingkungan hidup. Peran arsitektur sangat besar terhadap perubahan, baik
perubahan ke arah positif juga perubahan ke arah sebaliknya, hal ini yang mendasari
pentingnya arsitektur dalam mencegah tindak kejahatan di masyarakat.

Profesi Arsitek | 1

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang diatas, maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Apa saja kejahatan yang dapat dicegah dengan arsitektur?
2. Bagaimana cara mencegah kejahatan dengan arsitektur?
3. Bagaimana hubungan teori Vitruvius dengan mencegah kejahatan melalui
arsitektur?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan diatas, tujuan dari penulisan makalah
ini antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui jenis jenis kejahatan yang dapat dicegah dengan
arsitektur.
2. Untuk mengetahui cara mencegah kejahatan dengan arsitektur.
3. Untuk mengetahui hubungan teori Vitruvius dengan mencegah kejahatan
melalui arsitektur.

1.4 Manfaat Penulisan


Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat seperti berikut:
a. Bagi Penulis
Dapat memperluas pengetahuan penulis mengenai bagaimana mencegah
kejahatan dengan arsitektur, serta apa saja teori dari Vitruvius yang terkait
dengan mencegah kejahatan dengan arstitektur dan bagaimana hubungannya.
b. Bagi pembaca
Diharapkan bagi pembaca bisa memanfaatkan makalah ini sebagai referensi
dalam merancang suatu bangunan dan juga menerapkan pencegahan kejahatan
pada rancangan arsitekturnya.

Profesi Arsitek | 2

1.5 Metodologi Penulisan


Tahap pertama, penulis melakukan pengumpulan data melalui berbagai sumber,
baik dari literature, majalah, wawancara, maupun media elektronik. Selanjutnya, penulis
menyusun kerangka pembahasan disertai data-data yang telah diperoleh dan kemudian
dikembangkan dengan bahasa sendiri oleh penulis tanpa merubah maksud dari data yang
sudah ada.

1.6 Sistematika Penulisan


Adapun sistematika penulisan yang digunakan oleh penulis kali ini dengan
pembahasan 4 (empat) bab. Pada Bab I penulis akan menguraikan apa yang melatar
belakangi topik yang dibahas beserta rumusan masalah, tujuan, manfaat penulisan,
metodologi penulisan, dan sistematika penulisan. Pada Bab II penulis akan membahas
tinjauan pustaka yang akan digunakan untuk membahas topik makalah ini. Bab III
merupakan bagian pembahasan dari topik makalah, dan merupakan inti dari makalah ini,
dan pada Bab IV terdapat bagian penutup yang berisikan kesimpulan dan saran.

Profesi Arsitek | 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian arsitektur
Arsitektur adalah ilmu dan seni perencanaan dan perancangan lingkungan
binaan (artefak), mulai dari lingkup makroseperti perencaan dan perancangan kota,
kawasan, lingkungan, dan lansekaphingga lingkup mikroseperti perencanaan dan
perancangan bangunan, interior, perabot, dan produk. Dalam arti yang sempit,
arsitektur sering kali diartikan sebagai ilmu dan seni perencanaan dan perancangan
bangunan. Dalam pengertian lain, istilah arsitektur sering juga dipergunakan untuk
menggantikan istilah hasil-hasil proses perancangan
( Rapoport 1979 : 4)

2.2

Sejarah Arsitektur
Istilah arsitektur mulai diperkenalkan pada sekitar abad I sebelum masehi.
Marcus Vitruvius Pollio (88 SM 26 SM), yang kemudian dijuluki sebagai Bapak
Arsitektur, memperkenalkan istilah arsitektur melalui bukunya yang berjudul De
Architectura. Namun, pada dasarnya, sejak generasi pertamanya manusia sudah
berarsitektur, dalam batas pengertian bahwa arsitektur berkaitan dengan perencanaan
dan perancangan lingkungan binaan. Jejak-jejak peninggalan arsitektur dari masa
lampau, yang dapat dilacak pada saat ini, menunjukkan bahwa umat manusia telah
berarsitektur (menghasilkan lingkungan binaan) sejak ribuan tahun sebelum masa
kehidupan Vitruvius, ditandai dengan banyaknya artefak yang berasal dari masa-masa
sebelum kehidupan Vitruviusantara lain berupa hasil-hasil karya arsitektur suku
Maya, Toltec, Aztec, Inca, Cina, Jepang, India, Mesopotamia, dan Mesir.
Sebagai suatu bidang karya, sampai dengan abad 19, arsitektur masih belum
dipisahkan secara tegas dari berbagai bidang lainnya. Tokoh-tokoh perencana dan
perancang lingkungan binaanseperti Michelangelodapat berperan sebagai arsitek,
pelukis,

pemahat/pematung,

konstruktor.

Pada

perkembangan

kemudian,

Profesi Arsitek | 4

bidang engineering dan arsitektur mulai dipisahkan dari bidang lainnya. Pada 1880-an
terjadi pemisahan keahlian bidang arsitekturdengan lingkup penekanan pada aspek
bentuk, ruang, dan fungsidengan keahlian bidang engineeringdengan lingkup
penekanan pada aspek struktur dan konstruksi dalam perhitungan dan pelaksanaan
pembangunan. Di Indonesia, pendidikan keahlian arsitektur mulai mandiri sejak awal
dekade 1950, ditandai dengan berdirinya Jurusan Arsitektur pada Institut Teknologi
Bandung.

2.3

Arsitektur Sebagai Ilmu Dan Seni


Sebagai suatu seni, arsitektur tidak dapat dilepaskan dari berbagai kaidah seni.
Prinsip-prinsip keindahan yang juga merupakan kaidah dasar di dalam bidang seni
lainnyaseperti kesatuan, keseimbangan, keserasian, iramajuga dipergunakan
sebagai kaidah dasar di dalam arsitektur. Perwujudan arsitektur merupakan hasil
manifestasi nilai-nilai seni. Itu sebabnya, pada sebagian perguruan tinggi di
mancanegara, arsitektur dikelompokkan ke dalam fakultas seni atau sejenisnya.
Berbeda dengan bidang seni rupa atau seni lainnya yang dikelompokkan ke
dalam seni murni (pure art), arsitektur dikelompokkan pada seni terpakai (applied
art). Pengelompokan arsitektur ke dalam seni terpakai ini tidak dimaksudkan untuk
mengartikan bahwa seni lainnya bukanlah seni yang tidak terpakai atau seni yang
tidak bermanfaat, namun lebih dimaksudkan pada kenyataan bahwa arsitektur sebagai
bidang seni yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan wadah yang akan
dipergunakan manusia di dalam melakukan kegiatannya. Berbeda dengan orientasi
seni lukisyang menghasilkan karya berwujud dua dimensi (dwimatra)dan seni
pahat atau seni patung yang menghasilkan karya berwujud massa tiga dimensi
(trimatra), orientasi arsitektur adalah menghasilkan karya ruang dan massa tiga
dimensi (trimatra) yang menekankan hakikat dan keberadaan serta efek ruang sebagai
wadah yang akan dipergunakan manusia di dalam melakukan kegiatannya.
Sebagai suatu ilmu, arsitektur tidak dapat dilepaskan dari berbagai kaidah
keilmuan maupun bidang ilmu lainnya. Karena merupakan ilmu perencanaan dan
perancangan lingkungan binaan yang menjadi wadah bagi kegiatan manusiayang
lengkap dengan seluruh sifat manusiawinyamaka arsitektur tidak dapat dilepaskan
dari kaidah berbagai ilmu yang menyangkut aspek kemanusiawianseperti psikologi,

Profesi Arsitek | 5

sosiologi, antropologi, filsafat, ergonomi, dan ekonomi. Perwujudan hasil karya


arsitektur merupakan penerapan kaidah berbagai ilmu yang menyangkut aspek
kemanusiawian tersebut. Oleh karena itu, calon arsitek juga perlu bidang-bidang ilmu
tersebut. Pada sebagian perguruan tinggi di mancanegara, arsitektur dikelompokkan
ke dalam fakultas sosial atau sejenisnya.
Karena merupakan ilmu perencanaan dan perancangan lingkungan binaan
yang akan dibangun dengan cara atau rekayasa ataupun teknologi tertentu dan yang
harus menjamin keselamatan bagi manusia pemakainya maka arsitektur tidak dapat
dilepaskan dari kaidah ilmu teknikseperti struktur dan konstruksi, rekayasa dan
teknologi pembangunan Itu sebabnya, pada sebagian perguruan tinggi, arsitektur
dikelompokkan ke dalam fakultas teknik atau sejenisnya.

2.4

Vitruvius
Vitruvius adalah seorang penulis romawi, arsitek, dan juga seorang ahli mesin
selama ia melakukan wajib militer untuk Romawi. Sedikit tentang kehidupan
Vitruvius, nama panggilannya adalah Marcus. Sejarah kehidupannya dapat ditemukan
pada karyanya yang masih bertahan, yaitu buku berjudul De Architectura. Lahir di
masyarakat Romawi, Vitruvius kemudian menjadi seorang arsitek dan ahli mesin. Ia
kemudian mengabdikan dirinya untuk militer dibawah kekuasaan Julus Caesar di kota
Hispania dan Gaul.
Sebagai seorang ahli mesin di bidang militer ,spesialisasinya adalah membuat
mesin perang untuk angkatan bersenjata Romawi. Pada tahun-tahun terakhir masa
pemerintahan kaisar Augustus, melalui saudara perempuannya Octavia Minor,
mendorong Vitruvius untuk pensiun dari pekerjaannya. Octavia juga menjamin
kebebasan finansialnya. Setelah Augustus wafat, Vitruvius memutuskan untuk
pensiun. Kemudian, ia menuliskan karya-karyanya dibawah perlindungan Octavia.
Tanggal kematiannya tidak diketahui, hal ini menunjukkan bahwa dia hanya
menikmati sedikit popularitas selama hidupnya.
Buku De architectura adalah karyanya yang paling fenomenal. Saat ini lebih
dikenal dengan nama The Ten Book on Architecture, adalah karya bangsa Yunani
yang dipersembahkan untuk kaisar Augustus. Buku ini adalah satu-satunya buku
utama dalam arsitektur yang bisa bertahan dari zaman Yunani. Dikarenakan banyak

Profesi Arsitek | 6

karya-karya yang musnah karena peperangan dan lain hal. Selain dikenal melalui
tulisannya, ia juga adalah seorang arsitek. Satu-satunya bangunan yang diketahui
dirancang oleh Vitruvius, adalah Basilika di Fanum Fortunae, cikal bakal dari kota
Fano.
Basilika adalah bangunan yang dipakai untuk pengadilan, bangunan
administrasi, pernah pula beralih fungsi menjadi gereja pada masa Kristen awal.
Basilika sudah lama hancur, namun pemerintah Yunani melakukan usaha untuk
merekonstruksinya kembali. Hal yang paling terkenal dalam bukunya, De
architectura, bahwa sebuah bangunan harus memenuhi tiga aspek, yaitu firmitas,
utilitas, dan venustas. Yang dimaksud di sini adalah harus kuat atau tahan lama
(dalam hal ini mempunyai struktur yang kuat), kelengkapan fungsi, dan yang terakhir
adalah keindahan atau estetika. Menurut Vitruvius, arsitektur adalah tiruan dari apa
yang terjadi di alam. Seperti burung yang membangun sarangnya, manusia juga
membangun tempat tinggalnya dari bahan-bahan alam, yang memberikan mereka
tempat berlindung atau berteduh dari alam itu sendiri.
Untuk membuat sebuah karya seni bangunan yang sempurna, bangsa Yunani
kuno menemukan tiga aturan arsitektural yaitu Doric, Ionic, dan Corinthian. Aturan
tersebut memberikan kesempurnaan dalam proporsi bangunan. Puncaknya adalah
memahami proporsi dari karya seni terhebat, yaitu tubuh manusia. Hal ini yang
membawa Vitruvius membuat Vitruvian Man, yang digambar dengan cemerlang oleh
Leonardo da Vinci. Digambarkan,tubuh manusia di dalam lingkaran dan persegi
(bentuk pokok pola geometri dari aturan alam semesta ), melambangkan sebuah
proporsi yang sempurna.
Vitruvius kadang salah diartikan sebagai arsitek pertama, tetapi lebih tepatnya
mendefinisikan ia sebagai arsitek Romawi pertama, yang berhasil membuat catatan
atau buku yang bisa bertahan, sehingga dapat diturunkan kepada generasi berikutnya.
Dapat dicatat pula bahwa Vitruvius mempunyai pengetahuan yang lebih luas dari
arsitek modern, dikarenakan arsitek Romawi banyak mempelajari berbagai macam
disiplin ilmu pengetahuan. Pada era modern mereka dapat disebut sebagai ahli mesin,
arsitek, arsitek lansekap, dan artist yang digabungkan. Secara etimologi, kata arsitek
diambil dari bahasa Yunani yang berarti ahli atau pembuat. Buku pertama dari
The Ten Books misalnya, berhubungan dengan banyak subjek yang sekarang dikenal

Profesi Arsitek | 7

dalam cakupan arsitektur lansekap. Padahal pada saat itu belum dikenal ilmu
arsitektur lansekap.
Buku De Architectura karya Vitruvius ditemukan kembali pada tahun 1414,
oleh Poggio Bracciolini. Edisi pertamanya ditulis kembali di Roma oleh Fra Giovanni
Sulpitius pada 1486. Kemudian diikuti penerjemahan ke dalam bahasa Italia (como,
1521), Prancis (jean martin, 1547), Inggris, Jerman (walter H. Ryff, 1543), Spanyol
dan beberapa bahasa lain, sehingga karyanya menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Buku ini dengan cepat menjadi inspirasi utama bagi arsitektur renaissance, barok, dan
neoklasik.
Dalam buku A History of Architecture Theory (Hanno-Walter Kruff, 1994;
21), diuraikan bahwa sebenarnya sebelum Vitruvius, teori arsitektur Barat telah
pernah terungkap yaitu pada zaman Yunani dan Romawi namun karena karakteristik
data yang bersifat fana maka Dunia Barat menetapkan era Vitruvius-lah yang
dianggap sebagai cikal bakalnya teori arsitektur Barat ( britanica : 2015).
Karya tulis Vitruvius terbagi dalam sepuluh buku sehingga diberi
tajuk Sepuluh Buku Arsitektur (The Ten Books on Architecture), yaitu :

1. Buku I menguraikan tentang pendidikan bagi arsitek. Didalamnya dimuat halhal yang berhubungan dengan dasar-dasar estetika serta berbagai prinsip
tentang teknik bangunan, mekanika, arsitektur domestik bahkan sampai
perencanaan perkotaan.
2. Buku II memaparkan evolusi arsitektur utamanya yang berkaitan bengan
masalah material.
3. Buku III, tentang bangunan peribadatan.
4. Buku IV menguraikan berbagai tipe bangunan peribadatan khususnya yang
berhubungan dengan tata atur (orders) dan teori proporsi.
5. Buku V memuat tentang bangunan-bangunan fasilitas umum seperti teater.
6.

Buku VI mengulas tentang keberadaan rumah pribadi.

7. Buku VII berisikan penggunaan material bangunan sedangkan pada


8.

Buku VIII berisi tentang sistem perolehan atau pasok air.

9.

buku IX mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan astronomi dan

10. Buku X menjelaskan tentang konstruksi, mekanika dan permesinan.

Profesi Arsitek | 8

Kesepuluh buku diatas mempunyai berbagai ragam pengantar yang pada


intinya terdiri dari sosok Vitruvius, fungsi dari suatu perlakuan secara runtut atas
suatu hala atau yang lazim disebut treatis dan berbagai problematika arsitektur secara
umum.
Dalam hal ini Vitruvius tampak berhasil menampilkan konsepsi yang
pada zamannya tergolong kontemporer. Tentang berbagai kesepakatan (treatis) dalam
dunia arsitektur yang pada masa itu banyak diimplementasikan untuk melayani
Dinasti Agustus (27 BC 270 AD). Di dalam buku ini juga didiskusikan tentang
metode dan berbagai aspek linguistik melalui berbagai ungkapan material yang
variatif. Dalam buku III misalnya, Vitruvius menetapkan unsur simetri sebagai prinsip
pertama di dalam penataan bangunan.
Prinsip berikutnya adalah proporsi perbandingan bagian yang terdapat dalam
satu benda atau bentuk yang terutama diaplikasikan pada tiang-tiang yang oleh
Vitruvius dikelompokan menjadi berbagai jenis sesuai dengan temuannya di kuil
Romawi. Di sini bagian-bagian bangunan yang berhubungan dengan tiang dan balok
diatasnya mendapat perhatian penuh. Dalam buku yan ke IV, Vitruvius
mengemukakan asal-usul ketiga order dan proporsi Capital Corintian. Dari sini ia
lebih jauh menjabarkan ornamen order tersebut serta melanjutkannya dengan
penjelasan mengenai proporsi Kuil Doric. Pembagian ruangan, penghadapan kuil
yang harus kebagian langit Barat (bila ada upacara perngorbanan pelaksanaan acara
akan menghadap ke Timur) juga diaturnya. Ketentuan tersebut berhubungan dengan
pintu yang juga tunduk pada kaidah proporsi dan tata letak vertikal maupun
horizontal. Di dalam buku Vitruvius yang ke X, pada bagian pengantarnya, diuraikan
hubungan antara prakiraan dan biaya riil bangunan. Dia juga memperhitungkan
adanya jasa arsitek yang diasumsikan akan memberikan tambahan biaya
pembangunan sekitar 25 %. Di dalam pengantar ini juga diuraikan berbagai tekanan
penting seperti matematika.

2.5

Firmitas, Utilitas, Dan Venustas


Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan
sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik

Profesi Arsitek | 9

haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan


Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan
koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur
lainnya. ( Budi Sukada,2006)
Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi,
estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri
di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

1. Firmitas
Durability will be assured when foundations are carried down to the solid ground
and materials wisely and liberally selected;
(Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)
Firmitas yang dimaksud Vitruvius mencakup penyaluran beban yang baik dari
bangunan ke tanah dan juga pemilihan material yang tepat. Vitruvius menjelaskan
setiap material yang ia pakai dalam bangunannya, seperti batu bata, pasir, kapur,
pozzolana, batu dan kayu. Setiap material dijelaskan mulai dari karakteristik dari tiap
jenis-jenisnya hingga cara mendapatkanya/membuatnya. Kemudian, ia menjelaskan
metode membangunnya (konstruksi).

2. Utilitas
convenience, when the arrangement of the apartments is faultless and presents no
hindrance to use, and when each class of building is assigned to its suitable and
appropriate exposure;..
(Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)
Sedangkan, pada utilitas yang ditekankan adalah pengaturan ruang yang baik,
didasarkan pada fungsi, hubungan antar ruang, dan teknologi bangunan (pencahayaan,
penghawaan, dan lain sebagainya). Pengaturan seperti ini juga berlaku untuk penataan
kota. Misalnya : dimana kita harus menempatkan kuil, benteng, dan lain-lainya di
ruang kota.

Profesi Arsitek | 10

3. Venustas
and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and
when its members are in due proportion according to correct principles of
symmetry.
(Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)
Proporsi

dan

simetri

merupakan

faktor

yang

dianggap

Vitruvius

mempengaruhi keindahan. Hal ini ia dasarkan pada tubuh manusia yang setiap
anggota tubuhnya memiliki proporsi yang baik terhadap keseluruhan tubuh dan
hubungan yang simetrikal dari beberapa anggota tubuh yang berbeda ke pusat tubuh.
Hal ini, kemudian, diilustrasikan oleh Leonardo daVinci pada Vitruvian Man.

2.6

Pengertian Kejahatan
Kejahatan bukan merupakan peristiwa hereditas (bawaan sejak lahir, warisan),
juga

bukan merupakan warisan biologis.

Tindak kejahatan bisa dilakukan

siapapun, baik wanita maupun pria, dengan tingkat pendidikan yang berbeda. Tindak
kejahatan bisa dilakukan secara sadar yaitu difikirkan, direncanakan dan diarahkan
pada maksud tertentu secara sadar benar. Kejahatan merupakan suatu konsepsi yang
bersifat abstrak, dimana kejahatan tidak dapat diraba dan dilihat kecuali akibatnya
saja.
Definisi kejahatan menurut Kartono (2003 : 125) bahwa : Secara yuridis
formal, kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral
kemanusiaan (immoril), merupakan masyarakat, asosial sifatnya dan melanggar
hukum serta undang-undang pidana.
Definisi kejahatan menurut Kartono (2003 : 126) bahwa : Secara sosiologis,
kejahatan adalah semua ucapan, perbuatan dan tingkah laku yang secara ekonomis,
politis dan sosial-psikologis sangat merugikan masyarakat, melanggar norma-norma
susila, dan menyerang keselamatan warga masyarakat (baik yang telah tercakup
dalam undang-undang, maupun yang belum tercantum dalam undang-undang
pidana).
Dalam

kehidupan

bermasyarakat

terdapat

berbagai

macam

kejahatan

bergantung pada sasaran kejahatannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Salim (2005

Profesi Arsitek | 11

: 47) bahwa : Jenis kejahatan menurut sasaran kejahatannya yaitu : Kejahatan


terhadap badan (pembunuhan, perkosaan, penganiayaan), kejahatan terhadap harta
benda (perampokan, pencurian, penipuan), kejahatan terhadap ketertiban umum
(pemabukan, perjudian), kejahatan terhadap keamanan Negara.
Sebagian kecil dari bertambahnya kejahatan dalam masyarakat disebabkan
karena beberapa faktor luar, sebagian besar disebabkan karena ketidakmampuan dan
tidak

adanya

keinginan

dari

orang-orang

dalam

masyarakat

untuk

menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Menurut


Budianto (dalam Forum, 2007 : 19) bahwa : Salah satu penyebab tingginya
tingkah kejahatan di Indonesia adalah tingginya angka pengangguran, maka
kejahatan akan semakin bertambah jika masalah pengangguran tidak segera diatasi.
2.7 12
Rekayasa untuk melawan kejahatan secara alami, artinya tanpa melibatkan polisi,
bertolak dari pikiran untuk menciptakan arus orang orang yang bisa saling mengawasi
dan membantu. Perbuatan jahat akan jarang dilakukan mata orang banyak. Dengan
demikian, kehadiran orang orang saja sudah merupakan sarana untuk menangkal
kejahatan.
Berdasarkan pemikiran tersebut, suatu rancangan lingkungan hendaknya diarahkan
pada penciptaan suatu kondisi sociopetal, yaitu dimana orang ditarik untuk berkumpul
dan mendorong terjadinya kontak antar mereka. Ini berlawanan dengan kondisi
sociofugal, dimana justru orang didorong untuk memencar (Donald Black, 1980)
Berdasarkan pemikiran tersebut berkumpulnya banyak orang di suatu tempat
diyakini sebagai cara menciptakan kesempatan untuk saling mengawasi dan membantu.
Dengan perkataan lain, terjadilah suatu pengawasan lami terhadap terjadinya kejahatan.
Kembali kepada apa yang telah disinggung diatas, di sini orang didorong untuk saling
membantu satu sama lain, sehingga terciptalah keadaan nasyarakat membantu dirinya
sendiri atau self-help .
Arsitektur Sociopetal : Jika gagasan di atas dapat diterima, maka para arsitek dan
perencana kota (urban planners) seyogyanya juga memasukkan variable control
kejahatan ini dalam perencanaannya.

Profesi Arsitek | 12

Konsekuensinya adalah lebih banyak menciptakan tempat di mana arus mnusia bisa
mengalir dan kejadian kejadian berlangsungdalam alam terbuk, serta teramati oleh mata
banyak orang. Secara sadar dan sistematis diadakan tempat tempat dimana orang bisa
berkumpul seperti taman, tempat bermain, lobi, da lain lain.
Karena Arsitektur yang berwawasan keamanan mendorong terjadinya control social
alami, setiap kali diusahakan agar pertemuanantara orang orang bisa diamati oleh orang
banyak. Penyendirian (exclusiveness) ditekan. Dengan demikian rancangan ruang ruang
interior hendaknya juga bisa diamati dari jalan. Rancangan bagi jendela dan lorong
lorong di hall, taman dalam rumah / ruangan dan sebagainya dibuat transparan.
Di sisi lain, diusahakan agar tempat tempat perhentian, seperti bangku bangku di
taman dan pemberhentian bus dikurangi . Koridor atau gang gang juga dikurangi,
demikian pula kamar kamar yang berbentuk bundar lenih diunggulkan daripada
berbentuk segi empat. Tempat tempat duduk di bus, di lobi, juga dirancang lebih
menimbulkan kebersamaan (sociability).
Kontrol seperti itu terjadi melalui transparasi artinya, hubungan atau pertemuan
antar orang yang memungkinkan terjadinya kejahatan sedapat mungkin tidak luput dari
control dan mata orang banyak.

Profesi Arsitek | 13

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kejahatan yang Dapat Dicegah dengan Arsitektur


Kejahatan merupakan tindakan yang dianggap melanggar hukum yang sedang
berlaku di masyarakat. Kejahatan dapat terlihat sebagai tindakan menghilangkan
ataupun merampas sebagaian atau seluruh hak dan wewenang seseorang. Kejahatan
bersifat merugikan karena dilakukan secara paksa terhadap orang lain yang tidak
menginginkan tindakan tersebut terhadap mereka. Tindak kejahatan dapat dilakukan
siapapun, baik pria maupun wanita, secara sadar ataupun tidak sadar dengan tingkat
pendidikan yang berbeda pula.
Kejahatan memiliki konsep yang abstrak karena tindakanya tidak dapat
didasarkan pada penglihatan ataupun perabaan saja, hanya akibat yang ditimbulkan
saja yang dapat terlihat secara jelas. Tindak pindana terhadap kejahatan itu pula masih
bersifat diragukan, pandangan dan persepsi seseorang terhadap sebuah peristiwa
berbeda-beda sehingga pedoman yang dijadikan pembenaran dalam memberikan
hukuman tehadap pelakunyapun menjadi kurang relevan.
Selain hukuman yang diberikan dianggap tidak sepadan, dalam penyelidikan
dan pembuktian terhadap seseorang yang melakukan kejahatan atau pelaku kejahatan
sangat sulit. Seseorang baru dapat dikatakan bersalah apabila terdapat bukti-bukti kuat
yang dapat dilihat secara nyata dan ditunjukan kepada khalayak umum mengenai
tindak kejahatan yang telah dilakukan. Bukti yang kuat juga harus diseimbangkan
dengan adanya pelaporan secara resmi kepada pihak-pihak yang terkait.
Secara umum ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya sebuah
kejahatan. Pertama adalah faktor yang berasal atau terdapat dalam diri si pelaku yang
maksudnya bahwa yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan sebuah kejahatan
itu timbul dari dalam diri si pelaku itu sendiri yang didasari oleh faktor keturunan dan
kejiwaan (penyakit jiwa). Faktor yang kedua adalah faktor yang berasal atau terdapat
di luar diri

pribadi si pelaku. Maksudnya adalah: bahwa yang mempengaruhi

seseorang untuk melakukan sebuah kejahatan itu timbul dari luar diri si pelaku itu
sendiri

yang didasari oleh faktor rumah tangga dan lingkungan. Adapun faktor

Profesi Arsitek | 14

penyebab yang mendominasi terjadinya tindak pidana pelecehan seksual yang


dilakukan terhadap anak di bawah umur adalah: 1. Faktor keinginan 2. Faktor
kesempatan 3. Faktor lemahnya iman. Sifat dasar manusia yang berkaitan dengan
timbulnya tindak kejahatan dalam masyarakat.
Pada dasarnya terdapat alternatif perancangan kota untuk dapat mencegah
tindak kriminal yang biasa dikenal dengan istilah CPTED (Crime Prevention Through
Enviromental Design) yang diusung oleh kriminolog C. Ray Jeffery pada tahun 1971.
Tidak lama kemudian, prinsip-prinsip Jeffery diadopsi oleh seorang arsitek bernama
Oscar Newman pada tahun 1972 dengan bukunya Defensible Space Crime
Prevention Through Urban Design yang lebih mengarah pada desain lingkungan
untuk mencegah kriminalitas. Walau tidak berbicara pada domain arsitektur dan
perencanaan secara utuh pada tulisan ini, namun barangkali kita sama-sama perlu
untuk mengetahui apa saja prinsip CPTED agar dapat dipertimbangkan sebagai
bentuk perencanaan dan pembangunan lingkungan kedepan.
Secara umum prinsip-prinsip CPTED terbagi menjadi empat, yaitu:
Pertama, pengawasan alamiah (natural surveillance). Sebuah konsep desain
yang ditujukan agar setiap orang yang tidak dikenal dapat diamati dengan mudah dari
banyak sudut pandang. Konsep ini umumnya dapat diaplikasikan pada kawasan parkir
dan pintu masuk rumah atau kawasan. Posisi pintu dan jendela yang terhubung
langsung secar visual dengan jalan dan kawasan parkir kendaraan, pedestrian yang
terbuka, garasi kendaraan yang mudah dilihat serta pencahayaan yang cukup terang
dimalam hari.
Kedua, penegasan kawasan (territorial reinforcement). Sebuah desain secara
fisik

dapat

menciptakan

lingkungan

yang

mempunyai

pengaruh

terhadap

penggunanya. Pengguna kemudian dilatih untuk mengembangkan kepekaan terhadap


zona-zona yang berada di kawasannya. Aplikasi dari konsep ini dapat berupa garis
properti atau pagar yang membatasi antara kawasan privat dan kawasan publik.
Secara detail aplikasi ini dapat berbentuk tanaman, desain paving block, dan gapura
atau pintu masuk.
Ketiga, kendali akses secara alamiah (Natural Access Control). Konsep ini
ditujukan untuk mereduksi kemungkinan kejahatan dengan cara menghambat akses

Profesi Arsitek | 15

kepada obyek kejahatan tersebut dan menciptakan persepsi kepada calon


pelanggar/penjahat akan resiko yang harus dihadapi apabila ia melaksanakan
kejahatan tersebut. Konsep ini dapat tercipta melalui desain jalan raya, pedestrian,
pintu masuk utama dan pintu samping bangunan yang secara jelas dapat
mengindikasikan perbedaan kawasan publik dan privat serta jalur-jalur yang
dapat/boleh dilewati oleh umum, dan mampu mengurangi rasa bebas pengguna ketika
memasuki kawasan privat. Secara detail konsep ini dapat diaplikasikan melalui
elemen-elemen struktural kawasan seperti signage, pagar, dan tumbuhan.
Keempat, manajemen dan perawatan (Management and Maintenance).
Memastikan perawatan yang tepat dari lansekap, pencahayaan dan fitur lainnya tentu
sangat penting untuk memastikan bahwa unsur-unsur CPTED berjalan sesuai
fungsinya. Dengan kata lain, kegagalan atau keberhasilan untuk menjaga properti
perkotaan menjadi faktor penting dari berhasil atau tidaknya efektifitas CPTED.
Misalnya pagar yang rusak, pagar yang ditumbuhi tanaman liar, grafiti tua dan tidak
bermakna, sampah yang berserokan, jendela yang pecah, pintu yang tidak terkunci,
dan bahkan CCTV yang rusak adalah beberapa item penting yang berhubungan
dengan efektifitas CPTED. Semakin terawat prasarana keamanan perkotaan (elements
of CPTED), maka semakin efektif CPTED dapat berjalan. Selain hal diatas,
manajemen kota yang baik juga sangat penting bagi keberhasilan penerapan CPTED
karena tanpa adanya manajemen dan aturan yang jelas tidak mungkin penerapan
CPTED dapat efektif.

Profesi Arsitek | 16

3.2 Cara Mencegah Kejahatan dengan Arsitektur


Tindakan kriminalitas adalah suatu bentuk kejahatan yang marak terjadi. Kejahatan
bisa berupa hal apa saja yang tentu saja merugikan masyarakat. Tindak kriminal seperti
pencurian, pemerkosaan, bahkan pembunuhan adalah fakta-fakta kejahatan kriminal yang
terjadi dalam kehidupan saat ini. Ancaman dari tindakan kriminal ini tentu dapat
membuat masyarakat merasa takut (insecure) dan juga membatasi ruang gerak
masyarakat dalam kehidupan sosialnya. Tindakan kriminal dan rasa takut terhadap
tindakan kriminal merupakan faktor negatif yang mempengaruhi kehidupan dan
pembangunan sosial di banyak kota diseluruh dunia.
Rasa aman adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping kebutuhan
sandang, pangan, dan papan. Tentu kebutuhan akan rasa aman adalah hal yang
fundamental dan merupakan hak dasar yang harus dipenuhi bagi seluruh golongan
masyarakat baik umur, agama, atau pekerjaan. Saat ini hampir 70% penduduk didunia
tinggal di wilayah perkotaan, dan tindakan kriminal adalah masalah yang cukup kompleks
yang harus dihadapai masyarakat perkotaan.
Lingkungan yang bebas dari kejahatan dan tindak kriminal tentu dapat membuat
masyarakat memiliki kualitas hidup yang baik karena masyarakat akan merasa aman dan
nyaman dalam melakukan berbagai macam aktifitas untuk menunjang kehidupannya.
Kejahatan dan tindak kriminal adalah masalah yang mempengaruhi aktifitas sosial dan
ekonomi masyarakat dibanyak negara. Bahkan menurut World Bank, negara Amerika
Latin dan Caribbean masih dibelenggu oleh permasalahan kejahatan dan kriminalitas
yang ternyata banyak terjadi di banyak kota-kota miskin (The World Bank, 2008).
Dalam hal ini, biasanya, adanya kejahatan akan ditangani oleh kelompok Polisi.
Penangan kejahatan dengan cara menggunakan Polisi sudah lazim digunakan dalam
membasmi kejahatan. Namun, hal ini tidak memungkiri bahwa tindak kejahatan dan
kriminal segera teratasi dan lebih sedikit terjadi. Hal ini malah sebaliknya, dimana
kejahatan tersebut semakin berkembang dan meluas. Berbagai tipe kejahatan muncul
membuat

masyarakat

merasa

resah

dan

takut.

Sehingga

masyarakat

merasa

keberadaannya kurang aman dan selalu merasa waspada akan tindak kejahatan yang
mungkin akan terjadi.

Profesi Arsitek | 17

Peran aparat kepolisian dalam menangani kejahatan tidaklah cukup. Polisi bekerja
dengan pola militer yang melihat dirinya sedang berperang, yang didominasi oleh
penggunaan kekerasan atas perintah atasan untuk dilaksanakan anak buah. Reaksi atas
situasi meningkatnya kejahatan biasanya dilakukan dengan memperketat berbagai
ketentuan hukum dan memberikan kelonggaran kepada Polisi dalam menerapkan
tindakan-tindakan keras kepada orang yang diduga melakukan kejahatan, hal ini
kemudian berdampak mengancam kebebasan masyarakat yang justru harus dilindungi
Polisi. Namun, hal ini tidak bisa dilepaskan dari tugas polisi yang bertugas melindungi
masyarakatnya.
Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya suatu bentuk strategi pencegahan kejahatan
yang disusun berdasarkan tujuan yang jelas. Kerjasama antara masyarakat dan aparat
sangat diperlukan untuk memperkuat sistem tersebut. Hubungan yang baik antara
masyarakat dan aparat kepolisian bisa meminimalisir suatu sistem kejahatan tersebut di
lingkungan tersebut. Sistem yang diciptakan tersebut bisa dalam bentuk pendekatan social
yang terkait dengan arsitektur ataupun dengan mendesain suatu rancangan yang dapat
mencegah kejahatan tesebut melalui ilmu yang dipelajari dalam arsitektur dan
menggabungkan dengan berbagai metode dan pendekatan yang ada.
3.2.1 Pencegahan berdasarkan Pendekatan Sosial dalam Perancangan Arsitektur
Masyarakat khususnya kalangan praktisi umumnya beranggapan bahwa
arsitektur adalah karya cipta fisik yang semata-mata berkaitan erat dengan persoalanpersoalan teknis membangun serta keindahan, baik dalam skala kecil yaitu bangunan,
maupun skala yang lebih luas berupa kawasan, kota atau wilayah. Namun sebenarnya
arsitektur. Namun menurut YB Mangunwijaya menyatakan bahwa lingkup
permasalahan arsitektur sebenarnya 80% menyangkut masalah sosial kemasyarakatan,
hanya 20% yang menyangkut aspek teknis atau teknologi (Herlianto,1986).
Perancangan arsitektur dapat didekati dengan pendekatan sosiologi tersebut
diatas, melalui berbagai pendekatan pradigma yaitu fakta sosial, definisi sosial,
perilaku sosial, serta paradigma terpadu (Ritzer, 1980). Pada kenyataanya
perencanaan baik pada skala wilayah hingga skala perabot interior bangunan, dapat
dilihat sebagai organisasi ruang untuk berbagai tujuan, berdasarkan aturan-aturan,
misal: kebutuhan, nilai-nilai keinginan dari kelompok/individu. Aturan-aturan
Profesi Arsitek | 18

tersebut membentuk citra ideal yang menunjukkan tingkat keterkaitan antara


organisasi ruang {spatial) dengan sosial. Implementasinya adalah memberi makna
pada ruang, baik berupa bahan, warna, bentuk, ukuran, taman, dsb. yang membantu
proses komunikasi sosial diantara anggota masyarakatnya.
Bentuk keterkaitan yang lain adalah antara waktu dengan ruang, hal ini
berkaitan erat dengan penggunaan ruang untuk aktifitas -aktifitas yang berkaitan erat
dengan kalender waktu. Dengan demikian pendekatan fakta sosial dalam arsitektur
menunjukkan bahwa norma-norma, nilai, struktur sosial masyarakat merupakan suatu
ikatan dengan lingkungan buatan sebagai suatu sistem. Lingkungan buatan sebagai
suatu yang terukur {tangible) mencerminkan aspek yang tak terukur {intangible),
sexto, saling mengikat dalam suatu model yang disebut Kerangka Ideal {Ideal
Schemata), Kerangka Ideal ini menunjukkan keterkaitan Sosial-ruang {socio-spatial).
Salah satunya adalah Teritorialitas sebagai konsep berawal dari dunia
binatang, aplikasinya pada manusia adalah: rumah, kantor, daerah tempat kerja dan
sekitarnya, halaman/daerah didepan ruang tamu, gang, benteng anak-anak, lingkungan
pemukiman. Teritorialitas tersebut dilindungi, kadang-kadang dengan perkelahian
serta berupa tanda-tanda fisik (patok). Dalam arsitektur, dengan cara simbolik
perilaku teritorialitas telah diuji pada berbagai lokasi bangunan. Ruang defensif
merupakan pengembangan lanjut dari konsep teritorialitas, yang diciptakan oleh
perancang arsitektur-peneliti Oscar Newman, yang mengindentifikasi 4 karakter
ruang yang membuat lebih defensif terhadap berbagai gangguan dan kejahatan:
1) Pengamatan dijalanan yang terjadi di perumahan : penghuni perumahan, ruang
terbuka, jalan
2) Teritorial yang kasat mata, misal: persepsi publik vs zona pribadi
3) Citra lingkungan yang menyangkut orang-orang tertentu mencakup citra
menyeluruh tentang keamanan/kebanggaan lingkungan
4) Zona aman atau pemisahan ruang aman yang diinginkan untuk aktifitas
intensif/berbahaya, perlindungan untuk keamanan dan daerah defensable

Profesi Arsitek | 19

Studi-studi ini menunjukkan bagaimana kritisnya faktor spatial dalam interaksi


kelompok dan bagaimana ekologi keseluruhan perilaku dan tempatnya harus
dipertimbangkan dalam perancangan ruang, serta diterjemahkan kedalam desain
arsitektur berbasis perilaku.
Pada prinsipnya pemahaman tentang masyarakat sebagai suatu sistem yang
terangkum dalam empat pendekatan sosiologi, diharapkan dapat membantu para
arsitek untuk mmeperoleh hasil karyanya (baik bangunan, lingkungan buatan, kota
maupun wilayah) sebagai perwujudan pemecahan masalah sosial (problem solver)
masyarakatnya, bukan semata-mata kreasi-eksperimen bentuk-imajinasi para
arsiteknya, dengan demikian karya arsitektur mampu mencerminkan sistem sosial
masyarakatnya, bukan sesuatu yang terpisah dari masyarakatnya.
Pendekatan sosiologi dalam perancangan arsitektur diharapkan memandu para
arsitek agar tidak semata-mata berfungsi sebagai Builder (pembangun,) yang
sehingga memberikan nilai tambah pada penataan lingkungan fisik buatan, tetapi
juga lebih dari itu, yaitu berfungsi sebagai Social-developer yaitu membangun
sistem sosial masyarakat melalui pendekatan tata-ruang (spatial order) baik
bangunan, tapak, kota, kawasan maupun wilayah. Dengan demikian para arsitek
dapat memberi konstribusi sebagai Agent Of Change (agen perubahan) yang positif
dalam pembangunan sosial masyarakat.
3.2.2 Pencegahan Kejahatan melalui Perancangan Arsitektur dalam Wujud Bangunan
dan Desain Terpadu
Pencegahan kejahatan selanjutnya yaitu bisa dengan desain lingkungan .
Metode ini dikenal dengan nama CPTED (Crime Prevention Technology
Environment Design). CPTED telah berkembang sebagai obyek pembelajaran
multidisiplin, dikembangkan dari teori-teori dalam bidang yang berbeda, yang
masing-masing berkontribusi terhadap hubungan antara lingkungan dan perilaku.
Setelah Perang Dunia II, teori-teori berkumpul untuk membentuk sebuah
perencanaan yang penting bagi perkotaan dan telah secara luas diakui peranannya
dan implikasinya pada konsep desain.

Profesi Arsitek | 20

Dalam konteks CPTED, profesi bidang desain, arsitektur, desain perkotaan,


lansekap arsitektur, membahas bagaimana penggunaan lahan, penempatan, dan
desain bangunan berkontribusi untuk menciptakan atau mengurangi kesempatan
untuk timbulnya kejahatan. Disiplin ilmu sosiologi, kriminologi, psikologi,
antropologi, dan geografi menganalisis bagaimana politik, ekonomi, dan kondisi
sosial memotivasi pelaku untuk melakukan kejahatan, dan bagaimana pelaku
merespon isyarat Adaptasi Crime Prevention (Wiyantara Wizaka) 53
lingkungan. Penelaahan secara psikologi sangat penting untuk mengetahui
bagaimana orang menanggapi lingkungan mereka.
Konsep Crime Prevention through Environmental Design (CPTED) terbagi
menjadi empat strategi. Pertama, pengawasan alamiah. Sebuah konsep desain yang
ditujukan agar setiap orang yang tidak dikenal dapat diamati dengan mudah dari
banyak sudut pandang. Konsep ini umumnya dapat diaplikasikan pada kawasan
parkir dan Pintu masuk rumah atau kawasan. Posisi pintu dan jendela yang
terhubung langsung secar visual dengan jalan dan kawasan parkir kendaraan,
pedestrian yang terbuka, garasi kendaraan yang mudah dilihat serta pencahayaan
yang cukup terang dimalam hari.
Kedua, penegasan kawasan. Sebuah desain secara fisik dapat menciptakan
lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap penggunanya. Pengguna
kemudian dilatih untuk mengembangkan kepekaan terhadap zona-zona yang
berada di kawasannya. Aplikasi dari konsep ini dapat berupa garis properti atau
pagar yang membatasi antara kawasan privat dan kawasan publik. Secara detail
aplikasi ini dapat berbentuk tanaman, desain paving block, dan gapura atau pintu
masuk.
Ketiga, kendali akses secara alamiah. Konsep ini ditujukan untuk mereduksi
kemungkinan kejahatan dengan cara menghambat akses kepada obyek kejahatan
tersebut dan menciptakan persepsi kepada calon pelanggar/penjahat akan resiko
yang harus dihadapi apabila ia melaksanakan kejahatan tersebut. Konsep ini dapat
tercipta melalui desain jalan raya, pedestrian, pintu masuk utama dan pintu
samping bangunan yang secara jelas dapat mengindikasikan perbedaan kawasan
publik dan privat serta jalur-jalur yang dapat/boleh dilewati oleh umum, dan

Profesi Arsitek | 21

mampu mengurangi rasa bebas pengguna ketika memasuki kawasan privat. Secara
detail konsep ini dapat diaplikasikan melalui elemen-elemen struktural kawasan
seperti signage, pagar, tumbuhan dan sistem.
Keempat, penguatan target. Konsep ini ditujukan untuk menciptakan
hambatan pada setiap entri atau jalan masuk seperti jendela, pintu masuk dan pintupintu di dalam bangunan. Secara detail dapat diwujudkan dengan kunci jendela,
baut mati atau tidak dapat dibongkar pasang pada setiap pintu, serta engsel yang
kuat bagi setiap pintu dan jendela. Konsep ini cukup dapat membantu mencegah
terjadinya kejahatan dan mengurangi rasa takut bagi penghuninya sekaligus
menambah keyakinan akan kualitas rasa aman.
Adapun beberapa contoh dari penerapan CPTED ini sendiri adalah pada
Lingkungan: (1) minimalkan jumlah pintu masuk dan keluar dalm sebuah kawasan/
blok; (2) desain jalan sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi keberanian atau
rasa bebas para pengguna jalan yang melaluinya; (3) maksimalkan akses view dari
setiap rumah terhadap ruang publik di sekitarnya; (4) maksimalkan penggunaan
ruang publik oleh para penghuni di sekitarnya; (5) sediakan penerangan yang
cukup baik untuk jalan umum, pedestrian, jalan akses ke rumah, dan tempat parkir
kendaraan; (6) biasakan para penghuni untuk lebih saling perhatian dengan para
tetangganya.
Selanjutnya pada perumahan: (1) gambarkan dengan jelas perbedaan kawasan
privat dan publik melalui tanaman pembatas, kombinasi warna paving block pada
area publik dan privat, dan permainan perbedaan ketinggian; (2) ciptakan ruangruang publik yang mudah diakses secara visual dari semua arah; (3) desain
entrance atau pintu masuk dapat terlihat dan selalu dikombinasikan dengan jendela
(Wiyantara Wizaka ; (4) hindari desain lansekap yang dapat dijadikan
persembunyian bagi pelanggar/ orang yang bermaksud tidak baik; (5) ciptakan tata
cahaya buatan yang cukup baik/ terang pada setiap kawasan; (6) gunakan material
yang solid dan kuat untuk setiap pintu eksterior.
Pada apartemen: (1) sediakan ruang bersama agar setiap penghuni dapat
saling mengenal dan berkomunikasi; (2) minimalkan jumlah unit bersama yang
menggunakan pintu umum; (3) lengkapi setiap jalan masuk dengan intercom
Profesi Arsitek | 22

system; (4) ciptakan penerangan yang cukup pada setiap koridor apartemen; (5)
gunakan deadbolt lock dan peep hole pada setiap pintu unit apartemen; (6)
sediakan ruang bermain anak-anak yang mudah diawasi; (7) pasang jendela yang
memudahkan untuk pegawasan pada ruang laundry.
Tempat parkir dan garasi: (1) hindari desain tempat parkir dan garasi yang
tertutup, lokasi yang terletak di bawah tanah dan garasi bertingkat banyak; (2)
pasang tata cahaya pada posisi yang selalu menerangi garis dan papan informasi
serta posisi mobil parkir; (3) gunakan warna-warna cerah untuk meningkatkan
kualitas tata cahaya; (4) ciptakan sistem keluar dan masuk tanpa pintu otomatis; (5)
hindari kolom dan cekungan yang dapat digunakan sebagai tempat persembunyian.
Ruang publik: (1) upayakan agar ruang publik selalu digunakan oleh
penghuni terdekat dan bukan oleh orang tidak dikenal atau dari kawasan yang
berjauhan; (2) hindari tempat-tempat yang gelap serta area yang tersembunyi yang
berdekat dengan pusat aktivitas; (3) sediakan tata cahaya yang baik yang cukup
terang di malam hari; (4) hindari ruang-ruang terlindung yang dapat mengundang
orang untuk bergelandangan di area ini.
Beberapa fasilitas publik yang menjual barang-barang mewah dan fasilitas
pengambilan atau penyetoran uang seperti Bank, ATM, Toko Emas, dll. sangat
perlu untuk didesain dengan memperhatikan faktor-faktor yang menjadi potensi
munculnya kejahatan. Di Indonesia penyediaan fasilitas publik pada umumnya
lebih fokus kepada penyediaan sarana fisik dan cenderung mengabaikan potensi
kejahatan yang mungkin.

Profesi Arsitek | 23

Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan dari desain lingkungan tersebut
adalah :

Gambar 1 Bus Shelter di New York


Sumber : google image

Gambar 2 Desain Toko Emas yang akan memberi rasa aman pada Pengunjung
Sumber : google image

3.3 Hubungan Teori Vitruvius dengan Pencegahan Kejahatan melalui Arsitektur


Kejahatan dalam masyarakat dapat dicegah dengan dua cara yaitu dengan cara
kuantitatif dan kualitatif. Pencegahan kejahatan dengan cara kuantitatif merupakan
pencegahan dengan mengandalkan pihak yang berwenang dalam hal ini adalah polisi atau
aparat kemanan untuk menjalankan tugasnya dalam mencegah dan menangani kejahatan
di dalam masyarakat sehingga memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi masyarakat
itu sendiri. Namun dengan pencegahan jenis ini tentu saja belum dapat mencakup semua
kejahatan di dalam masyarakat. Dengan itu, perlu adanya pencegahan dengan cara
kualitatif yaitu dengan cara alternatif untuk mencegah kejahatan. Cara ini memerlukan

Profesi Arsitek | 24

bantuan dari masyarakat itu sendiri untuk mewujudkan pencegahan kejahatan di


lingkungan sekitarnya.
Pemolisian dalam mencegah kejahatan dipandang kurang memenuhi di dalam
pelaksanaan pencegahan tersebut, penambahan personil aparat keamanan juga kurang
memenuhi pencegahan kejahatan secara merata di masyarakat. Karena itu, diperlukan
adanya pemolisian alternatif yang dapat menimbulkan pemolisian secara alami di
masyarakat. Masyarakat dalam hal ini berperan penuh di dalam pencegahan tersebut
dimana masyarakat tidak sepenuhnya bergantung kepada pihak berwenang, melainkan
saling membantu satu sama lain. Setiap manusia memiliki hati dan nurani dimana setiap
individu selalu memiliki rasa ingin membantu satu sama lain, hal inilah yang dapat
dimanfaatkan dalam pencegahan kejahatan yang kemudian perlu adanya wadah yang
dapat memberikan peluang tersebut di dalam masyarakat. Dalam hal ini arsitektur yang
merupakan sebuah wadah untuk beraktivitas bagi manusia adalah salah satu jembatan
untuk menimbulkan peluang self help dimana masyarakat didorong untuk tidak
bergantung kepada polisinya, melainkan saling membantu satu sama lain. Dengan adanya
wadah yang tepat, maka pencegahan kejahatan secara alami akan muncul yang tentunya
menekan kejahatan yang terjadi di masyarakat.
Arsitektur memiliki fungsi sebagai wadah bagi seluruh aktivitas manusia. Dalam hal
ini arsitektur dapat dijadikan sebagai jembatan di dalam pencegahan kejahatan di
masyarakat adalah dengan cara menambahkan variable control kejahatan di dalam
perencanaan dan perancangan dari arsitektur tersebut. Output dari perencanaan dan
perancangan arsitektur untuk mencegah kejahatan di masyarakat adalah dengan
terciptanya ruang-ruang yang didalamnya terjadi aktivitas yang melibatkan orang banyak.
Setiap ruang-ruang tersebut harus dapat mewadahi manusia di dalamnya dengan dapat
mempertanggungjawabkan isi di dalamnya berdasarkan kejadian-kejadian yang
berlangsung di dalamnya agar dapat menjadi terbuka, dan teramati oleh orang-orang
banyak. Rancangan ruang-ruang tersebut dapat dibuat transparan sehingga setiap kegiatan
yang terjadi di dalamnya dapat diamati dari segala arah baik dari dalam ruang ataupun
dari luar ruangan. Perancangan tersebut dapat diimplementasikan dengan menggunakan
kaca sebagai elemen penyusun ruangan atau ruangan dibuat terbuka (intangible).
Berangkat dari pemikiran tersebut, dalam Arsitektur terdapat teori yang dapat
dijadikan pedoman dalam perancangan aristektur itu sendiri sebagaimana sebagai

Profesi Arsitek | 25

pencegah kejahatan yang terjadi di masyarakat. Teori Vitruvius adalah teori


berhubungan erat dengan pencegahan kejahatan dengan arsitektur. Teori ini terdiri dari
tiga point yang dijadikan landasan dalam mewujudkan sebuah arsitektur yang dalam hal
ini dijadikan sebagai pencegah kejahatan di masyarakat. Teori yang dikemukakan oleh
Vitruvius ini terdapat didalam bukunya yang berjudul De Architectura. Menurut
Vitruvius melalui teori yang ia buat dikatakan bahwa bangunan yang baik haruslah
memiki Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi
(Utilitas). Di dalam perencanaan dan perancangan arsitektur sebagai pencegah kejahatan,
teori ini merupakan pedoman untuk mewujudkan arsitektur dalam fungsinya sebagai
pencegah kejahatan di masyarakat.
3.3.1 Utilitas
Utilitas merupakan penekanan terhadap fungsi dari arsitektur berdasarkan kebutuhan
dari pengguna. Hubungan dari teori ini dengan pencegahan kejahatan melalui arsitektur
adalah sebagai landasan dalam membangun sebuah bangunan dimana memiliki fungsi
sebagai wadah untuk menampung kegiatan yang melibatkan orang banyak, sehingga
dapat terwujud pencegahan kejahatan secara alami dimana masyarakat dalam hal ini
sebagai pengguna dapat saling membantau dalam pencegahan kejahatan yang terjadi.
Salah satu contohnya adalah perencanaan dan perancangan arsitektur yang berfungsi
sebagai rumah tinggal. Di dalamnya ditambahkan variabel yang berfungsi sebagai
pencegahan kejahatan. Hal ini dilakukan dengan cara membuat desain yang memiliki
ruang yang dapat diakses dari beberapa arah, misalnya dalam sebuah ruang perlu adanya
kaca agar apabila terjadi kejahatan di dalamnya, maka dapat dilihat oleh masyarakat
sekitar. Selain itu juga perencanaan ruang dengan fungsi-fungsi yang berbeda seperti
fungsi ruang publik dan privat merupakan salah satu cara pencegahan kejahatan dengan
arsitektur, dengan adanya perbedaan ruang antara ruang publik dan ruang privat tersebut
maka pelaku kejahatan akan lebih berfikir dua kali dalam melakukan aksinya.
3.3.2 Firmitas
Firmitas merupakan teori yang mencakup tentang kekuatan dari sebuah bangunan
dimana terwujud penyaluran beban yang baik. Pemilihan material yang tepat juga
merupakan hal yang penting dalam mewujudkan maksud dari firmitas ini.
Dalam pencegahan kejahatan dengan arsitektur, selain fungsi dari bangunan perlu
juga kekuatan untuk dapat mewadahi kegiatan yang terdapat di dalamnya. Seperti yang

Profesi Arsitek | 26

diketahui, pencegahan kejahatan dengan arsitektur dapat dilakukan dengan cara


merancang arsitektur tersebut dengan berorientasi pada kebersamaan dari masyarakat.
Dengan kondisi demikian, kekuatan dari bangunan untuk menampung kegiatan yang
berorientasi pada kebersamaan tersebut perlu dipikirkan melalui teori firmitas ini.
Sebagai contoh, untuk pencegahan kejahatan dengan arsitektur di dalam sebuah
apartemen perlu direncanakan mengenai kekuatan dari penyusun apartmen itu sendiri
seperti struktur dan elemen penyusun dari ruang-ruang yang ada. Dengan kekuatan dari
struktur dari apartment ini diharapkan dapat melindungi manusia di dalamnya apabila
terjadi kejahatan.
3.3.3 Venustas
Venustas adalah keindahan atau estetika dari bangunan. Selain utilitas dan firmitas
diatas, venustas merupakan hal lainnya yang perlu diperhatikan tentunya dalam dunia
arsitektur. Namun dibalik itu sebenarnya venustas juga dapat menjadi faktor dalam
pencegahan kejahatan dengan arsitektur. Venustas bukan hanya semata sebagai estetika
dalam arsitektur, dalam hal ini bentuk bentuk tertentu dapat memberikan pengawasan
secara alami seperti bentuk ruang yang dibuat melingkar dapat membuat orang di
dalamnya memiliki fokus yang lebih baik dibandingkan dengan ruang persegi empat.
Venustas dalam hal ini dapat berfungsi sebagai pemberi aksen perbedaan antara
ruang-ruang tertentu seperti halnya ruang publik dan ruang privat. Sehingga dapat
terwujud kewaspadaan akan kejahatan yang akan terjadi.
Salah satu contoh aplikasi venustas dalam pencegahan kejahatan dengan arsitektur
adalah perencanaan dan perancangan sebuah rumah yang dibatasi oleh pagar dengan
desain yang menunjukan estetika tertentu. Dengan adanya pagar tersebut maka akan
membantu dalam pencegahan kejahatan.

Profesi Arsitek | 27

BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah kami paparkan di atas, adapun yang dapat
disimpulkan adalah sebagai berikut.
1. Berbagai jenis kejahatan dapat dicegah melalui arsitektur. Hal ini didasarkan kepada
adanya berbagai pendekatan atau metode dalam perancangan selanjutya diterapkan
pada desain. Hal ini dapat meminimalisir suatu kejahatan tersebut.
2. Terdapat dua cara meminimalisir kejahatan melalui arsitektur adalah dengan
pendekatan social pada perancangan arsitektur sehingga lebih teroraganisir dan
melalui CPTED (Crime Prevention Technology Environment Design) adalah melalui
desain lingkungan yang disusun untuk menghindari kejahatan tersebut dengan
berbagai metode.
3. Hubungan antara mencegah kejahatan melalui arsitektur dengan Teori Vitruvius
adalah berhubungan yaitu pada teorinya yang terkenal Utilitas, Firmitas, dan
Venustas.

4.2 Saran
Saran yang dapat kami berikan dalam pengembangan makalah ini adalah dengan
melihat arsitektur bukan hanya sebagai builder. Arsitek juga bisa menggunakan berbagai
bidang ilmu yang ada dalam merancang, misalnya melalui social. Perancangan sangat
berhubungan dengan nilai ini dalam organisasi, tata letak dan tujuan ruang tersebut, salah
satunya dalam mencegah kejahatan. Dengan mengetahui pola kehidupan social
masyarakat, setidaknya desain yang dibuat dapat meminimalisir kejahatan tersebut . Jadi,
arsitek mampu memahami berbagai bidang ilmu lainnya (tidak hanya ilmu arsitek) guna
mencapai desain yang sesuai dengan tujuan dan berbasis lingkungan.

Profesi Arsitek | 28

DAFTAR PUSTAKA

Kartini Kartono. 2003. Pemimpin Dan Kepemimpinan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Panero, Julius. 1979. Dimensi Manusia dan Ruang Interior. Jakarta : Erlangga
Synder, James C, at all 1979. Indtroduction to Architecture. Mc. Graw-Hill, Inc.
Ching, F.D.K, 2007. Architecture : Form, Space, & Order. John Wiley & Sons, Inc
Salim, H.S., H Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2005.
Arsitektur UPH, Jurnal Ilmiah. Pendekatan Sosiologi pada Perancangan Arsitektur. Tersedia
pada http://dspace.library.uph.edu:8080/bitstream/123456789/1167/2/jia-02-012005-pendekatan_sosiologi_pada_perancangan.pdf (diakses tanggal 28 Maret
2016).
Britania, Enclycopedia. 2016. Tersedia pada http://www.britannica.com/biography/Vitruvius
(diakses tanggal 28 Maret 2016).
Imusipil. 2011. Arsitektur dan Perilaku Sosial. Tersedia pada
http://www.ilmusipil.com/buku-arsitektur-dan-perilaku-sosial (diakses tanggal 28
Maret 2016).
Jogyakarta, News. Analisa dan Pencegahan Kriminalitas pada Masyarakat Perkotaan.
Tersedia pada http://jogjakartanews.com/baca/2014/10/16/2369/analisa-danpencegahan-kriminalitas-dalam-masyarakat-perkotaan- (diakses tanggal 27 Maret
2016).
Research, Binus. 2012. Adaptasi Crime Prevention Through Environment Design (CPTED):
Studi Kasus Fenomena Desain Fasilitas Publik. Tersedia pada http://researchdashboard.binus.ac.id/u (diakses tanggal 28 Maret 2016)
Universitas Atmajaya, Yogyakarta. 2011. Dunia Arsitektur. Tersedia pada
http://ft.uajy.ac.id/arsitek/dunia-ars/ (diakses tanggal 27 Maret 2016).
Wikipedia. 2016. Arsitektur. Tersedia pada https://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur (diakses
tanggal 28 Maret 2016).

Profesi Arsitek | 29