Anda di halaman 1dari 12

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV.

Lidah Buaya

DATA JURNAL
a. Judul Jurnal

: Penentuan Jumlah dan Lokasi Gudang Yang Optimal Dengan


Menggunakan Metode Cluster

b. Penulis

: i. Sulistyaningsih Jati Murti


ii. Azizah Aisyati
iii. Bambang Suhardi
Jurusan Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

c. Nama Jurnal

: Performa

d. Tahun Terbit, Vol

: 2004, Vol 3 No. 1:1-8

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya


Kajian Implikasi Teori Lokasi terhadap Pemilihan Lokasi Pergudangan Industri (Studi
Kasus: CV. Lidah Buaya Detergent Cream)

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan teori ekonomi pembangunan Rostow, bangsa yang mencapai
pembangunan tahap perkembangan industrialisasi telah melampaui proses transformasi dari
tahap tradisional (primer) ke tahap industri (sekunder) Rostow dalam Jhingan, 1999). Hal ini
dikarenakan sektor industri mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap
pertumbuhan ekonomi.
Perkembangan industrialisasi di Indonesia semakin berkembang dari tahun ke tahun.
Terutama sektor industri fabrikasi yang meliputi industri proses kimia dan industri
manufaktur yang mengalami percepatan yang ditandai dengan adanya persebaran dan
peran kegiatan industri di masing-masing kabupaten/kota. Sehingga tingkat persaingan
antar industri semakin tinggi. Dalam industri, salah satu kunci utama kesuksesan industri
tersebut adalah proses distribusi. Proses distribusi produk merupakan suatu upaya
produsen untuk menyampaikan produknya ke tangan konsumen dengan sistem yang
terencana dan terprogram. Proses pendistribusian produk yang baik harus seefisien dan
seefektif mungkin, sehingga volume produksi, kapasitas gudang dan alokasi produk pada
setiap daerah di dalam wilayah distribusinya mencapai tingkat keseimbangan yang baik.
Untuk itulah diperlukan perencanaan distribusi yang baik (Firmansyah, 1997).
CV. Lidah Buaya Detergent Cream sebagai salah satu perusahaan yang sedang
berkembang di Magelang, Jawa Tengah, juga tidak terlepas dari masalah pergudangan. Hal
ini dikarenakan CV. Lidah Buaya memproduksi sabun detergent cream dan plastik, yang
merupakan salah satu kebutuhan harian dalam masyarakat yang memerlukan fungsi
gudang dalam mendistribusikan produknya. CV. Lidah Buaya Detergent Cream telah
mempunyai 5 (lima) buah gudang yang tersebar di Pekalongan, Purwokerto, Semarang,
Magelang dan Tasikmalaya. Dengan demikian CV. Lidah Buaya Detergent Cream
memerlukan suatu perencanaan yang baik dalam hal penentuan jumlah dan lokasi gudang
agar terjadi proses distribusi yang lancar dari pabrik ke konsumen akhir.
1.2 Tujuan
Tujuan penulisan Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan

adalah untuk

mengetahui implikasi teori lokasi terhadap pemilihan lokasi pergudangan CV. Lidah Buaya
Detergent Cream.

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya

KONSEP DASAR TEORI LOKASI


2.1 Definisi Industri Proses Kimia
Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.41 Tahun 1996, Industri merupakan
kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi,
dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya,
termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri (Badan Pusat Statistik).
Industri proses kimia adalah industri yang mengolah bahan baku/bahan mentah
menjadi suatu hasil/produk dengan memanfaatkan proses-proses kimia (Anonim, 1999)
Proses-proses kimia yang dilakukan dalam industri proses kimia adalah reaksi kimia dan
peristiwa kimia fisik. Definisi lain dari industri proses kimia adalah suatu kesatuan aktivitas
manusia yang dimulai dari pengolahan sumber daya alam, lalu mengubahnya ke dalam
berbagai bahan, baik yang berupa bahan konsumsi maupun obyek untuk diolah kembali,
dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan umat manusia (Arhidayat, 2008)
2.2 Definisi Teori Lokasi
Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spasial order) kegiatan ekonomi
atau ilmu yan mnyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang langka, serta
hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap lokasi berbagai jenis usaha/kegiatan lain
baik ekonomi maupun sosial (Tarigan, 2005)
2.3 Teori Lokasi
Pertimbangan utama dalam penetuan lokasi pergudangan indusri adalah pada biaya
transportasi yang rendah serta kedekatan lokasi pergudangan dengan pasar. Beberapa
tinjauan teori terkait dalam penetuan lokasi pergudangan industri adalah sebagai berikut:
a. Teori Lokasi Industri dari Alfred Weber (1909)
Teori yang dikemukakan oleh Weber didasarkan atas prinsip minimasi biaya. Weber
menyatakan bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi
dan tenaga kerja dimana penjumlahan semuanya harus minimum. Tempat dimana
total biaya transportasi dan

tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan

tingkat keuntunganyang maksimum. Menurut Weber ada tiga faktor yang


mempengaruhi lokasi industri, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan
kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi. Dalam menjelaskan keterkaitan biaya

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya


transportasi dan bahan baku, Weber menggunakan konsep segitiga lokasi atau
locational triangle untuk memperoleh lokasi yang optimmum.

Gambar 1. Segitiga Weber dalam Menentukan Lokasi Industri


Sumber: Survei Literature, 2015

b. Theory of Optimal Industrial Location dari August Losch (1936)


Teori Losch melihat persoalan dari sisi permintaan (pasar), berbeda dengan Weber
yang melihat persoalan dari sisi penawaran (produksi). Sehingga Losch lebih
menyarankan untuk lokasi produksi berada dekat dengan pasar.

Gambar 2. Pola Roda Bergerigi Melingkari Kota Sentral Menurut Losch


Sumber: Survei Literature, 2015

c. Teori Subtitusi Isard dari Walter Isard (1956)


Teori Isard merupakan pengembangan dari Teori Weber. Masalah lokasi merupakan
penyeimbangan antara biaya dengan pendapatan yang dihadapkan pada situasi
ketidakpastian yang berbeda-beda. Ishard menekankan pemilihan lokasi pada faktor
jarak, aksesibilitas, da keuntungan aglomerasi sebagai hal yang utama dalam
pengambilan keputusan. Penempatan lokasi juga berorientasi atau memiliki
kecenderungan pada faktor yang mendukunganya, antara lain adalah orientasi
terhadap bahan baku, sumber energi, tenaga kerja, transportasi, dan pasar.
d. Model Gravitasi
Adalah model yang paling banyak digunakan untuk melihat besarnya daya tarik dari
suatu potensi yang berada pada suatu lokasi. Model ini sering digunakan untuk

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya


melihat kaitan potensi suatu lokasi dan besarnya wilayah pengaruh dari potensi
tersebut. Model ini dapat digunakan untuk menentuka lokasi yang optimal.

ALASAN PEMILIHAN LOKASI


Berdasarkan analisis peneliti, untuk menyelesaikan masalah penentuan lokasi
gudang CV. Lidah Buaya Detergent Cream dapat digunakan model penentuan lokasi
fasilitas majemuk. Hal ini dikarenakan CV. Lidah Buaya Detergent Cream telah mempunyai
5 (lima) gudang yang tersebar di Pekalongan, Purwokerto, Semarang, Magelang dan
Tasikmalaya.
Masalah mendasar dalam melakukan analisis lokasi fasilitas majemuk,

adalah

bagaimana cara membebankan kebutuhan pelanggan terhadap lokasi potensial fasilitas,


karena terdapat banyak alternatif pembebanan jika dihadapkan pada masalah pelanggan
yang tersebar serta fasilitas yang banyak. Pada prinsipnya metode cluster merupakan
metode pengelompokan pasar terdekat, selanjutnya dilakukan analisis tentang lokasi
fasilitas potensial melalui central of gravity.
Maka, sesuai dengan kondisi eksisting yang ada digunakanlah metode cluster untuk
menganalisis lokasi gudang distribusi yang tepat dengan menggunakan beberapa variabel
diantaranya:
a.

Biaya transportasi total


Yaitu biaya transportasi inbound maupun outbound. Inbound yaitu biaya
transportasi untuk mengangkut produk atau komoditi dari pabrik ke gudang.
Sedangkan biaya transportasi outbound yaitu ongkos transportasi untuk
mengangkut produk atau komoditi dari gudang ke agen (penyalur).

b. Biaya simpan (carrying cost)


Biaya simpan adalah semua biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan adanya
proses penyimpanan suatu barang.
c. Biaya tetap gudang
Perhitungannya adalah penjumlahan dari ongkos-ongkos depresiasi, gaji
pegawai, listrik, perawatan, administrasi, PBB dan asuransi.
Sehingga dari biaya yang dikeluarkan dari ketiga jenis pengeluaran, ditotal dan
menghasilkan biaya total pengeluaran, sehingga akan diketahui jumlah dan lokasi
gudang yang optimum.

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya

Gambar 3. Jumlah Gedung Optimum


Sumber: Sutarman, 2000

Untuk pemilihan lokasi yang optimum, selain menggunakan analisa total biaya yang
dikeluarkan, juga melihat struktur distribusi yang analisanya dilakukan dengan
membentuk cluster antara pasar untuk membentuk suatu pelayanan gudang dengan
jarak yang terdekat dan penghitugan center gravity atas cluster yang terbentuk.

Gambar 4. Jaringan Distribusi


Sumber: Jurnal Terkait, 2004

Sehingga, dari hasil penentuan lokasi gudang yang sebelumnya ada lima gudang
yang mendistribusikan ke 19 agen, dioptimalkan dengan analisa yang sudah
dilakukan menjadi 8 gudang yang mendistribusikan ke 19 agen. yang lebih
menghemat keseluruhan biaya yang dikeluarkan. Dalam pembahasan jurnal,lokasi
mana saja yang akan dibangun 3 gudang tidak disertakan peta atau titik lokasi.
Hanya koordinat saja, sehingga pembaca kurang memahami. Namun analisis yang
dijelaskan cukup baik disertai dengan rumus.

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya

FAKTOR-FAKTOR LOKASI
Banyak faktor yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan
dimanakah seharusnya lokasi pergudangan industri yang tepat, seperti yang dikemukakan
oleh beberapa pakar:
a. Menurut Liang dan Wang (1991) dan Herugu (1997) atribut-atribut pemilihan lokasi
fasilitas secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu (dalam S-Y.
Chou et la, 2007):

Atribut kritis (critical attributies)


Atribut ini menentukan apakah suatu lokasi dapat dijadikan pertimbangan dalam
proses evaluasi selanjutnya atau tidak. Atribut ini harus terpenuhi an menganut
sistem gugur. Setiap alternatif lokasi harus memenuhi syarat tersebut supaya
bisa diproses lebih lanjut. Contoh dari critical attributies adalah ketersediaan
sarana dan sikap masyarakat.

Atribut obyektif (objective attributies)


Atribut ini terukur dalam ukuran rupiah atau ukuran kuantitatif lainnya yang
bersifat obyektif. Contoh dari atribut obyektif adalah biaya investasi dan biaya
buruh.

Atribut subyektif (subjective attributies)


Atribut ini bersifat kualitatif dan diukur berdasarkan opini atau perpsepsi
seseorang. Contoh dari atribut subyektif adalah kedekatan dengan pasar dan
konsumen, kestabilan politik, dan kepastian hukum.

b. Menurut Chen-Tung Chen (2001), di dalam jurnalnya yang berjudul Fuzzy Approach
To Select The Location Of The Distribution Center, menyebutkan bahwa ada lima
kriteria yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan penentuan lokasi
gudang distribusi (distribution center). Kelima kreteria tersebut yaitu:
Biaya investasi (investment cost)
Kriteria ini berhubungan dengan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk
membangun gudang distribusi.
Kemungkinan dilakukannya perluasan lokasi (expansion posibility)
Kriteria ini berhubungan dengan luas lokasi gudang distribusi (distribution center)
yang akan dibangun.
Ketersediaan sumber bahan baku (availability of acquirement material)
Kriteria ini berhubungan dengan kedekatan gudang distribusi dengan sumber ba
han baku.

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya


Ketersediaan sumber daya manusia (human resource)
Kriteria ini berhubungan dengan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia ya
ng bisa dijadikan sebagai tenaga kerja serta besarnya biaya tenaga kerja yang
dibutuhkan.
Kedekatan dengan konsumen (closeness to demand market)
Kriteria ini berhubungan dengan besarnya potensi permintaan konsumen sekitar
dan jarak antara lokasi gudang distribusi dengan lokasi konsumen.

c. Menurut Jesuk Ko (2005), di dalam jurnalnya yang berjudul Solving A Distribution


Facility Location Problem Using An Analytic Hierarchy Process Approach, ada lima
kriteria yang berpengaruh dalam suatu proses pengambilan keputusan penentuan
lokasi gudang distribusi (distribution centre) yaitu: keadaan populasi (population
status), kondisi transportasi (transportation condition), kondisi pasar (market
environment), kondisi lokasi (location properties), dan biaya terkait (cost-related
factors). Dimana setiap kriteria terdiri dari beberapa faktor keputusan yang
berpengaruh dalam penentuan lokasi gudang distribusi. Faktor-faktor keputusan
dari setiap kriteria dapat dilihat pada tabel.
Tabel 1. Kriteria dan Faktor Keputusan Penetuan Lokasi Gudang Distribusi
Menurut Jesuk Ko

Sumber: Survei Literature, 2015

Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang menjadi penentu lokasi pergudangan
industri CV. Lidah Buaya adalah faktor lokasi kawasan yang strategis yang mampu
menjangkau wilayah agen secara efektif dan efisien sekaligus total biaya yang dikeluarkan
bisa lebih dihemat.

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya

IMPLIKASI TEORI
TERHADAP LOKASI YANG DIPILIH
Berdasarkan pembahasan pada faktor-faktor yang digunakan dan mempengaruhi
penentuan lokasi adalah biaya yang dikeluarkan dan aksesbilitas. Maka implikasi
pada beberapa teori sebagai berikut:
a. Teori Lokasi Industri dari Alfred Weber
Yang menekankan pada kedekatan dengan bahan baku dan tenaga kerja , pemilihan
lokasi pergudangan ini kurang sesuai. Karena keberadaan lokasi pergudangan tidak
mengindikasikan adanya hubungan dengan jarak bahan baku produksi. Maka Teori
Weber dikatakan kurang sesuai dengan penentuan lokasi pergudangan industri CV.
Lidah Buaya.

b. Theory of Optimal Industrial Location dari August Losch


Untuk teori Losch dinilai sesuai dengan keberadaan penentu lokasi pergudangan
industri CV. Lidah Buaya, dimana teori ini mengemukakan bahwa lokasi yang paling
optimal untuk pendirian dapat menguasai pemasarann /agen yang luas sehingga
menghasilkan pendapatan yang besar.
c. Teori Subtitusi Isard dari Walter Isard
Pada teori Subtitusi Isard yang mengemukakan keputusan pemilihan lokasi
ditentukan oleh faktor jarak, aksesbilitas, dan aglomerasi dirasa kurang menjadi
salah satu prinsip yang mendasari pemilihan lokasi pergudangan industri CV. Lidah
Buaya dikarenakan lokasi pergudangan menyebar dan tidak terjadi aglomerasi.

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya

LESSON LEARNED
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat diambil pelajaran bahwa diperlukan
pemilihan lokasi pergudangan industri dalam penentuan lokasi. Penetuan lokasi bisa saja
tidak hanya berasal dari satu teori tetapi beberapa teori. Namun dalam pembahasan jurnal
tersebut dimana yang dianggap sesuai adalah Teori Losch . Setiap teori lokasi mempunyai
kelebihan dan kekurangan sendiri, dan harus disesuaikan dengan kondisi eksisting
kawasan. Oleh karena itu, untuk menentukan lokasi secara komprehensif, diperlukan
gabungan dari beberapa pengetahuan dan disiplin ilmu.
Pemilihan lokasi yang strategis merupakan kerangka kerja yang perspektif untuk
meningkat pengembangan akrivitas ekonomi . Jika lokasi strategis, maka keuntungan yang
didapatkan juga kan lebih besar. Keberadaan suatu lokasi pergudangan industri ataupun
industri seharusnya mampu memberikan effect yang postif bagi masyarakat dan lingkungan
sekitar. Hal ini bisa termasuk seperti penyerapan tenaga kerja, pemulihan aktivitas
masyarakat sekitar yang mungkin mati, dan lain-lain.

10

Kajian Lokasi Kawasan Pergudangan CV. Lidah Buaya

DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi, Azizah. 2010. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi
Terhadap Kesuksesan Usaha Jasa (Studi Pada Usaha Jasa Mikro-Kecil di
Sekitar Kampus UNDIP Pleburan) Semarang: Universitas Diponegoro.

Christa, Maria. 2009. Penentuan Lokasi Baru Untuk Gudang Distribusi Genteng Kebumen
Di Wilayah Kota Surakarta Dan Sekitarnya Dengan Menggunakan Pendekatan
Fuzzy Simple Additive Weighting Surakarta: Universitas sebelas Maret.

Pandang, Adi. 2012. Ketergantungan Lokasi dan Keseimbangan Spasial. (tidak diterbitkan)

11

Beri Nilai