Anda di halaman 1dari 23

PRODUKTIVITAS SEKTOR PUBLIK

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Manajemen Sumber Daya Manusia 2

Disusun oleh:

Deni Andriana

2014053750

Deni Ardiansyah

2014052302

Dewi Listiani

2014055391

Dina Tri Rukmana

2014054000

Joni Supandi

2014055081

Putri Komala Sari

2014052188

Rangga Darmawan

2014055310

Ria Oktavia

2014052618

Riyanti Indah Sari

2014053822

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PAMULANG
BANTEN
2016
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, yang
telah melimpahkan rahmat, karunia dan hidyah-Nya kepada penyusun sehingga
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Sholawat serta salam semoga
tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para keluarga-Nya, para sahabat-Nya dan
para pengikut-Nya hingga akhir zaman nanti.
Manajemen sumber daya manusia pada umumnya untuk memperoleh
tingkat perkembangan yang setinggi-tingginya, hubungan kerja yang serasi antara
karyawan dan penyatupaduan sumber daya manusia secara efektif atau tujuan
efesiensi dan kerjasama sehingga diharapkan akan meningkatkan produktivitas
kerja pada suatu perusahaan atau instansi tersebut.
Makalah ini kami susun dengan tujuan agar para pembaca dapat
mengetahui

fungsi

dari

produktivitas

disektor

publik

yang

belakangan ini banyak disorot dan mendapat perhatian khusus


dari masyarakat luas.
Kami menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, dan
oleh sebab itu kami berharap kritik serta saran yang bersifat membangun untuk
memperbaiki penyusunan makalah ini. Semoga dengan disususnnya makalah ini,
kami harap dapat memperluas wawasan dan pengetahuan para pembaca.
Amin.

Pamulang, 22 April 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar.................................................................................................... 2
Daftar Isi.............................................................................................................. 3
BAB I. PENDAHULUAN
1.
2.
3.
4.

Latar Belakang........................................................................................
Identifikasi Masalah................................................................................
Rumusan Masalah...................................................................................
Tujuan Penulisan.....................................................................................

4
5
5
6

BAB II. PEMBAHASAN


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pengertian Produktivitas ........................................................................


Faktor Determinasi Produktivitas ..........................................................
Konsep Efektivitas Organisasi ...............................................................
Ruang Lingkup Produktivitas ................................................................
Peranan Manajer SDM Terhadap Produktivitas .....................................
Cara Meningkatkan Produktivitas ..........................................................
Kendala Produktivitas di Indonesia .......................................................

7
9
10
12
14
16
19

BAB III. PENUTUP


1. Kesimpulan............................................................................................. 21
2. Saran........................................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Manajemen sumber daya manusia pada umumnya untuk memperoleh


tingkat perkembangan yang setinggi-tingginya, hubungan kerja yang serasi
antara karyawan dan penyatupaduan sumber daya manusia secara efektif atau
tujuan efesiensi dan kerja sama sehingga diharapkan akan meningkatkan
produktivitas kerja pada suatu perusahaan atau instansi tersebut (Sunyoto,
2012: 1). Sumber daya manusia mengandung dua hal yaitu dipandang dari
kualitas usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan dalam proses produksi
dalam jangka waktu tertentu, untuk meningkatkan barang dan jasa.
Dalam memanajemen suatu kegiatan itu tidaklah mudah seperti yang
kita bayangkan, baik kegiatan dalam suatu organisasi ataupun kegiatan yang
ada pada suatu perusahaan. Tanpa adanya manajemen yang baik kita tidak
akan bisa menjalankan suatu kegiatan yang sesuai dengan tujuan.
Dalam suatu perusahaan tujuan awal adalah meraih keberhasilan yang
berdampak pada kemajuan suatu perusahaan. Salah satu ukuran keberhasilan
kinerja individu, organisasi atau perusahaan terletak pada produktivitasnya.
Apabila produktivitasnya tinggi atau bertambah, maka suatu organisasi atau
perusahaan tersebut bisa dikatakan berhasil. Apabila lebih rendah dari standar
atau menurun, bisa dinyatakan tidak atau kurang berhasil (Wibowo, 2007:
109).
Lynch dan kordis (1988) yang menyatakan bahwa organisasi yang
akan mampu bersaing dan dapat bertahan dalam gelombang perubahan yang
sedang melanda dunia adalah organisasi yang memiliki tingkat produktivitas
yang tinggi. Organisasi yang dianggap prima adalah organisasi yang mampu
menciptakan mekanisme untuk meningkatkan nilai tambah dari seluruh aset,
potensi dan sumber daya organisasi. Sebaliknya organisasi atau perusahaan
yang memiliki tingkat produktivitas yang rendah secara perlahan ataupun
cepat akan kalah dalam arena pertandingan usaha dan akhirnya akan runtuh
tidak berdaya (Mulyadi, 2003: 234).
Perusahaan atau suatu wirausahawan yang sukses harus memiliki
kemampuan dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas, apabila
produktivitasnya tinggi, dan untuk mencapai produktivitas yang tinggi sumber

daya manusia harus mampu bekerja atau mampu melakukan kegiatan yang
mempunyai nilai ekonomis. Menaikan produktivitas dapat dilakukan dengan
memperbaiki rasio produktivitas dengan menghasilkan lebih banyak keluaran
atau output yang lebih baik dengan tingkat masukan sumber daya tertentu
(Blecher, 1987: 3). Dan dalam pencapaian produktivitas yang tinggi perlulah
usahausaha dan perlu memperhatikan berapa hal-hal sehingga mendapatkan
hasil yang optimal. Oleh karena itu, pentingnya mengelola produktivitas
dalam menentukan keberlangsungan suatu kegiatan, maka dalam makalah ini
akan dijelaskan mengenai produktivitas tersebut, pengertian faktor-faktor serta
peran sumber daya manusia dalam meningkatkan produktivitas.

2. Identifikasi Masalah
Dalam

penulisan

makalah

ini,

penulis

memaparkan

tentang

produktivitas sektor publik. Dimulai dari pengertian produktivitas, faktor


determinasi produktivitas, konsep efektivitas organisasi, ruang lingkup
produktivitas, peranan Manajer sumber daya manusia (SDM) terhadap
produktivitas, cara meningkatkan produktivitas hingga kendala produktivitas
yang terjadi di Indonesia.

3. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, kami merumuskan
masalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa pengertian dari produktivitas ?


Apa saja yang menjadi faktor determinasi produktivitas ?
Bagaimana konsep efektivitas organisasi ?
Bagaimana ruang lingkup produktivitas ?
Apa saja peran Manajer SDM terhadap produktivitas ?
Bagaimana cara meningkatkan produktivitas ?
Apa saja kendala produktivitas di Indonesia ?

4. Tujuan Penulisan
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan
tujuan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mengetahui pengertian dari produktivitas,


Mengetahui faktor-faktor determinasi produktivitas,
Mengetahui konsep efektivitas organisasi,
Mengetahui ruang lingkup produktivitas,
Mengetahui peran dari Manajer SDM terhadap produktivitas,
Mengetahui cara meningkatkan produktivitas,
Mengetahui kendala produktivitas di Indonesia, dan
Memenuhi nilai tugas dari mata kuliah manajemen sumber daya
manusia 2.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Produktivitas
Batasan produktivitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang,
tergantung pada tujuan masingmasing organisasi, yang bergerak dibidang
profit ataupun untuk customer jatisfaction atau juga organisasi publik ataupun
swasta.

Pengertian produktivitas dapat diartikan secara umum sebagai tingkat


perbandingan antara hasil keluaran (output) dengan memasukkan (input)
Bernandin dan Russell (1993). John Soeprihanto berpendapat bahwa
produktivitas diartikan sebagai perbandingan antara hasil hasil yang dicapai
dengan keseluruhan sumber daya yang dipengaruhi atau perbandingan jumlah
produksi (output) dengan sumber daya yang digunakan (input) (Toni
Setiawan, 2012: 148). Menurut Parmiti (2000: 202) menyatakan secara umum
produktivitas adalah menunjuk pada rasio output terhadap input mencangkup
biaya produksi dan biaya peralatan, sedangkan output bisa terdiri dari
penjualan, pendapat dan kerusakan.
Sedangkan pengertian produktivitas secara filosofi, dan menurut
Dewan Produktivitas Nasional produktivitas merupakan sikap mental yang
selalu berusaha dan mempunyai pandangan bahwa suatu kehidupan hari ini
lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Secara
teknis produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai dan
keseluruhan sumber daya yang dipergunakan, dengan membandingkan jumlah
yang dihasilkan dengan setiap sumber yang digunakan, produktivitas adalah
ukuran yang menunjukkan pertimbangan antara input dan outputyang
dikeluarkan (Sunyoto, 2012: 41).
Secara konseptual, produktivitas adalah hubungan antara keluaran atau
hasil organisasi dengan masukan yang diperlukan. Produktivitas dapat
dikuantifikasi dengan membagi keluaran dengan masukan. Menaikkan
produktivitas dapat dilakukan dengan memperbaiki rasio produktivitas,
dengan menghasilkan lebih banyak keluaran atu output yang lebih baik
dengan tingkat masukan sumber daya tertentu (Blecher, 1987: 3).
Produktivitas sering diukur dalam bentuk masukan dan keluaran ekonomi.
Akan tetapi, masukan dan keluaran sumber daya manusia dan sosial juga
merupakan faktor penting. Jika perilaku organisasi lebih baik, dapat
memperbaiki kepuasan kerja sehingga terjadi peningkatan hasil sumber daya.
Bila dikelompokkan akan dijumpai tiga tipe dasar produktivitas
(Gasperz. 2000). Tiga tipe dasar ini merupakan model pengukuran

produktivitas yang paling sederhana berdasarkan pendekatan rasio outputinput, yaitu:


1. produktivitas parsial,
perbandingan dari keluaran terhadap salah satu faktor masukan.
sebagai contoh, produktivitas tenaga kerja (perbandingan dari keluaran
dan masukan tenaga kerja) merupakan salah satu ukuran produktivitas
parsial. pada pengukuran produktivitas parsial produktivitas unit proses
secara spesifik dapat diukur.
2. produktivitas faktor-total,
perbandingan dari keluaran dengan jumlah tenaga kerja dan modal.
keluaran bersih adalah keluaran total dikurangi jumlah barang dan jasa
yang dibeli. berdasarkan faktor di atas jenis input yang digunakan dalam
pengukuran produktivitas faktor total hanya tenaga kerja dan modal.
3. produktivitas total,
perbandingan dari keluaran dengan jumlah keseluruhan faktorfaktor masukan, pengukuran total produktivitas faktor mencerminkan
pengaruh bersama seluruh masukan dalam menghasilkan keluaran.
dari ketiga jenis produktivitas, baik keluaran maupun masukan harus
dinyatakan dalam bentuk ukuran nyata berdasarkan harga konstan pada
periode dasar, dengan tujuan untuk menghilangkan pengaruh perubahan harga,
sehingga hanya jumlah dari masukan dan keluaran saja yang dipertimbangkan.
2. Faktor Determinasi Produktivitas
Banyak faktor lingkungan kerja yang mempengaruhi produktivitas
baik secara langsung maupun tidak langsung. Heidjrachman (1987:117)
menjelaskan

faktor-faktor

utama

yang

memberikan

pengaruh

pada

produktivitas. Faktor yang berpengaruh secara langsung pada produktivitas


adalah:
1. pengembangan teknologi,
2. bahan baku, dan
3. prestasi kerja pada pekerja sendiri.
sedangkan faktor yang berpengaruh tidak langsung (faktor lingkungan)
meliputi:

1. faktor kemampuan kerja, yang dipengaruhi oleh keterampilan dan


pengetahuan pekerja,
2. faktor motivasi, memberi pengaruh langsung pada prestasi kerja
pekerja,
3. kondisi sosial pekerja, mendapatkan pengaruh dari keadaan organisasi
baik yang formal maupun informal,
4. organisasi formal yang mempengaruhi kondisi sosial pekerja, dapat
berasal dari kondisi struktur organisasinya, iklim kepemimpinan,
efisiensi organisasi, kebijakan personalia, tingkat upah, evaluasi
jabatan, penilaian prestasi, latihan dan system komunikasi dalam
organisasi,
5. organisasi informal, perananya akan dipengaruhi oleh tujuan,
keterikatan anggotanya dan ukuran organisasi informasi tersebut,
6. kebutuhan individu pekerja, sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi
pada umumnya situasi individu pekerja, aktivitas diluar pekerjaan,
persepsinya terhadap situasi, tingkat aspirasi, latar belakang
budayanya dan latar belakang pengalamannya, dan
7. kondisi fisik pekerja yang berpengaruh pada motivasi kerjanya,
banyak ditentukan oleh tata letak, system penerangan, temperatur
udara, system ventilasi, waktu istirahat, system keamanan serta musik
pengantar kerja yang mungkin ada ditempat kerjanya.

3. Konsep Efektivitas Organisasi


Kata efektif berasal dari bahasa inggris yaitu effective yang berarti
berhasil, atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah
popular mendefinisikan efektivitas sebagai ketetapan penggunaan, hasil guna
atau menunjang tujuan. Definisi efektivitas sebagai tingkat pencapain
organisasi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Efektivitas Organisasi
adalah konsep tentang efektif dimana sebuah organisasi bertujuan untuk
menghasilkan.
Organisasi

dapat

disebut

efektif

ketika

dapat

melaksanakan

kewajibannya dalam memenuhi:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

kepuasan pelanggan,
mencapai visi organisasi,
pemenuhan aspirasi,
menghasilkan keuntungan bagi organisasi,
pengembangan sumber daya manusia organisasi, dan
aspirasi yang dimiliki, serta memberikan dampak positif bagi
masyarakat di luar organisasi.
Menurut

Bemard

(1938:20)

efektivitas

organisasi

merupakan

kemahiran dalam sasaran spesifik dari organisasi yang bersifat objektif (if it
accomplished

its

specific

objective

aim).

Schein

dalam

bukunya

organizational psychology mendefinisikan efektivitas organisasi sebagai


kemampuan untuk bertahan, menyesuaikan diri, memelihara diri dan juga
bertumbuh, lepas dari fungsi-fungsi tertentu yang dimiliki oleh organisasi
tersebut.
Empat hal yang menggambarkan tentang efektivitas, yaitu:
1. mengerjakan hal-hal yang benar, di mana sesuai dengan yang
seharusnya diselesaikan sesuai dengan rencana dan aturannya,
2. mencapai tingkat di atas pesaing, di mana mampu menjadi yang
terbaik dengan lawan yang lain sebagai yang terbaik,
3. membawa hasil, di mana apa yang telah dikerjakan mampu
memberikan hasil yang bermanfaat, dan
4. menangani tantangan masa depan.
Jadi dapat dikatakan bahwa efektivitas selalu berkaitan dengan tujuan.
Efektivitas merupakan salah satu dimensi dari produktivitas (hasil) yaitu
mengarah pada pencapaian unjuk kerja yang maksimal, yaitu pencapaian
target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Efektivitas adalah
suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan
waktu) telah dicapai. Di mana makin besar persentase target yang dicapai,
makin tinggi efektivitasnya.
Berdasarkan pendekatanpendekatan dalam efektivitas organisasi yang
telah dikemukakan sebeumnya maka dapat dikatakan bahwa faktorfaktor
yang mempengaruhi efektivitas organisasi adalah sebagai berikut :
1. adanya tujuan yang jelas,
2. stuktur organisasi,

10

3. adanya dukungan atau partisipasi masyarakat, dan


4. adanya sistem nilai yang dianut.
Faktorfaktor

yang

mempengaruhi

organisasi

harus

mendapat

perhatian yang serius apabila ingin mewujudkan suatu efektivitas. Richard M


Steers (1985: 209) menyebutkan emapt faktor yang mempengaruhi efektivitas
sebagai berikut:
1. karakteristik organisasi adalah hubungan yang sifatnya relatif tetap
seperti susunan sumber daya manusia yang terdapat dalam organisasi.
Struktur merupakan cara yang unik menempatkan manusia dalam
rangka meniptakan subuah organisasi. Dalam struktur, manusia
ditempatkan sebagai bagian dari suatu hubungan yang relatif tetap
yang akan menentukan pola interaksi dan tingkah laku yang
berorientasi pada tugas,
2. karkteristik lingkungan, mencakup dua aspek. Aspek pertama adalah
lingkungan eksternal yaitu lingkungan yang berada diluar batas
organisasi dan sangat berpengaruh pada organisasi, terutama dalam
pembuatan keputusan dan pengambilan tindakan,
3. karakteristik pekerja merupakan faktor yang paling berpengaruh
terhadap efektivitas. Didalam diri setiap individu akan ditemukan
banyak perbedaan, akan tetapi kesadaran individu akan perbedaan itu
sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi, dan
4. karakteristik manajemen adalah strategi dan mekanisme kerja yang
dirancang untuk mengkondisikan semua hal yang di dalam organisasi
sehingga efektivitas tercapai.

4. Ruang Lingkup Produktivitas


Ruang lingkup Produktivitas menurut Sumath (1984) ada empat ruang,
yaitu:
1. ruang lingkup perusahaan / organisasi,

11

manfaat dari pengukuran produktivitas dalam ruang lingkup


a.
b.
c.

perusahaan atau organisasi adalah digunakan untuk:


perencanaan sumber daya perusahaan/organisasi,
mengetahui efisiensi penggunaan sumber daya perusahaan / organisasi,
membandingkan tingkat produktivitas antarperusahaan/organisasi dalam

d.

kategori tertentu,
menentukan target tingkat produktivitas pada masa yang akan datang

e.

secara realistis,
membantu dalam menentukan strategi perbaikan produktivitas berdasarkan
kesenjangan antara tingkat produktivitas yang direncanakan dengan
tingkat produktivitas yang nyata berhasil dicapai, dan
f. merencanakan tingkat keuntungan dalam perusahaan / organisasi.
2. ruang lingkup industri,
faktor-faktor yang diperhitungkan disini adalah faktor-faktor yang
mempengaruhi dan berhubungan dengan suatu jenis industri yang sama.
Keuntungan pengukuran produktivitas dalam ruang lingkup industri ini

a.

adalah digunakan untuk:


mengukur kinerja ekonomi suatu negara, dimana pengukuran produktivitas
dapat mengidentifikasi industri-industri yang berkembang dan tertinggal di
suatu negara, sehingga dapat diketahui sektor-sektor industri yang

b.
c.

memerlukan perhatian khusus,


meramalkan trend pertumbuhan industri dimasa yang akan datang,
menganalisis kinerja suatu perusahaan, dengan membandingkan kinerja
masing-masing perusahaan dengan kinerja industri yang bersangkutan di
dalam suatu negara, dan
d. menganalisis tenaga kerja, yang meliputi tenaga kerja, proyeksi
tenaga kerja dimasa yang akan datang, kecenderungan ongkos
tenaga kerja dan pengaruh teknologi tinggi terhadap ketersediaan
kesempatan tenaga kerja.
3. ruang lingkup nasional,
pengukuran produktivitas pada tingkat nasional memiliki beberapa
keuntungan antara lain digunakan untuk:
a. meramalkan tingkat pendapatan nasional,
b. mengukur indeks pertumbuhan, terutama produktivitas tenaga
kerja. Produktivitas tenaga kerja meningkat memiliki arti bahwa
tiap tenaga kerja menghasilkan sejumlah barang dan jasa yang
12

lebih besar, sehingga pendapatan nyata untuk tiap tenaga kerja juga
meningkat, dan
c. mengukur efisiensi, dimana dapat dilihat aliran sumber daya dalam
suatu negara.
4. ruang lingkup internasional,
dengan semakin saling tergantungnya negara-negara didunia yang
ditandai dengan mengalirnya arus barang, teknologi dan jasa antar negara,
serta dengan meningkatnya persaingan, maka perbandingan produktivitas
ditingkat internasional dapat digunakan sebagai alat untuk memahami dan
mengevaluasi pengaruh produktivitas dari negara-negara yang saling
bersaing. Ukuran yang digunakan dalam mengukur produktivitas
internasional ini adalah GNP (Gross National Product) dan GDP (Gross
Domestic Product).

5. Peranan Manajer SDM Terhadap Produktivitas


Peranan Manajer SDM sangat dibutuhkan dalam peningkatan
produktivitas, apalagi disektor publik. Kinerja dan semangat Manajer, akan
menjadi panutan bagi para pegiawai lain, Semangat bagi perbaikan
produktivitas didalam pemerintahan membuka peluang bagi peranan yang
lebih luas.
Departemen kepegawaian / manajer SDM mempunyai kesempatan
untuk menyumbangkan usaha bagi perbaikan produktivitas dalam tiga hal:
Pertama, banyak proyek yang melibatkan beberapa macam management by
objectives (MBO), dan penyusunan standar pekerjaan yang merinci kinerja
pegawai minimal yang dapat diterima. Bila sistem penilaian kinerja mengukur
apa yang sebenarnya pekerja lakukan, ketimbang macamnya orang (dapat
dipercaya, jujur, dan sebagainya), ada kemungkinan tidak ada lagi yang
berkompeten untuk menasehati penyusunan tujuan atau standar kinerja dari
pada departemen kepegawaian. Departemen kepegawaian memiliki posisi
yang unik untuk membandingkan dan menyarankan penyesuaian didalam

13

standar-standar kinerja yang berasal dari berbagai departemen didalam


pemerintah.
Bidang kedua yang bisa dilakukan intervensi oleh manajer dalam
upaya meningkatkan produktivitas adalah melalui motivasi. Perbaikan
produktivitas berkaitan langsung dengan motivasi pegawai. Berbagai program
yang diperkirakan mampu mewujudkan tujuan peningkatan motivasi tersebut,
antara lain mencakup:
1.
2.
3.
4.
5.

work incentives,
job design,
job-related performance assessment,
realistic training goals and workable designs, dan
alternative work schedules.

Hal-hal tersebut diatas dianggap perlu mendapat perhatian dalam


upaya meningkatkan motivasi pekerja dan kemampuannya untuk bekerja.
Untuk menjalankan program-program yang berkaitan dengan bidang-bidang
tersebut dalam rangka peningkatan produktivitas, diperlukan pemahaman yang
mendalam tentang motivasi pekerja, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
kepuasan kerja, teori keadilan, bagaimana orang belajar, dan bagaimana
organisasi dan unit-unit kerja berubah, dan juga menentang terhadap
perubahan. Pengetahuan mengenai ilmu sosial terapan, psikologi, sosiologi,
antropologi, psikologi sosial, ilmu komunikasi dan ilmu politik, dirasakan
sangat perlu untuk dimiliki oleh para manajer.
Ketiga, program-program untuk mendorong motivasi harus didukung
oleh pengetahuan mengenai keuangan, harus mampu menaksir dampak
keuangan dari hasil-hasil program. Biaya program pelatihan pegawai baru, dan
waktu yang terpakai untuk itu, justru harus diperhitungkan secara masak oleh
manajer. Wawancara-wawancara yang realistik mengenai pekerjaan perlu
diperhatikan agar terhindar dari penerimaan pekerja-pekerja yang tidak
berkualitas, dan yang tidak tahan lama. Pengetahuan mengenai bagaimana
mempertahankan pekerja yang baik dan berkualitas, dan bagaimana
mengurangi pergantian yang terus-menerus, perlu dimiliki manajer agar
terhindar dari biaya-biaya kerugian.

14

6. Cara Meningkatkan Produktivitas


Telah ditemukan banyak cara untuk meningkatkan produktivitas,
terutama yang dikembangkan dan diterapkan diorganisasi-organisasi privat,
antara lain melalui: quality circle, job redesign, contracting out, alternative
work schedules, demand analysis dan sebagainya. Semua cara atau langkahlangkah yang dilakukan tersebut pada dasarnya dapat dikategorikan ke dalam
tiga kelompok, yaitu:
1. perubahan pada proses pekerjaan,
2. perubahan pada pekerjanya, dan
3. perubahan pada pilihan atau keputusan manajemen (Rosen,
1993:6).
Pendekatan pertama lebih menekankan pada bagaimana pekerjaan
diorganisasikan dan kemudian diproses, atau dengan kata lain pendekatan ini
lebih memfokuskan pada kegiatan operasional. Melalui perbaikan sistem atau
mekanisme penyelesaian tugas, diharapkan pelaksanaan pekerjaan menjadi
lebih simpel, cepat, dan sistematis. Dengan demikian pembenahan di bidang
ini akan membawa dampak langsung berupa penyelesaian pekerjaan dengan
lebih cepat dan praktis.
Sedangkan pada pendekatan kedua, peningkatan produktivitas lebih
ditekankan pada bagaimana meningkatkan kontribusi para pegawai. Kegiatankegiatan yang biasa dilaksanakan antara lain training, penyempurnaan sistem
insentif, pengembangan karir, quality circle, dan lain-lain. Dengan pendekatan
pada aspek manusianya ini diharapkan akan menumbuhkan motivasi kerja
yang lebih tinggi di kalangan petugas (baik yang dibelakang meja maupun
yang dilapangan) dan pada gilirannya akan menghasilkan perilaku pelayanan
yang lebih baik kepada masyarakat. Dari aspek yang kedua ini ditengarai
banyak memberikan kontribusi secara langsung terhadap kinerja atau
produktivitas layanan birokrasi pemerintah.

15

Dan pendekatan yang ketiga (terakhir) fokus pada pengembangan


pilihan-pilihan manajerial dalam rangka memenuhi keinginan pelanggan
dalam lingkungan yang selalu berubah, tidak pasti dan penuh tantangan ini.
Dalam hal ini dituntut adanya daya tanggap atau responsiveness yang tinggi
dari para manajer publik terhadap setiap permasalahan atau kebutuhan yang
berkembang di masyarakat baik yang sudah tereksplisitkan maupun yang
masih bersifat laten.
Menyimak langkah-langkah yang dikemukan diatas, maka esensi
peningkatan produktivitas sektor publik adalah melakukan perubahan dalam
situasi dimana nuansa politik sangat kental. Hal ini melibatkan sangat
banyak aktivitas dan pemikiran mulai dari langkah-langkah motivasional
sampai dengan perhitungan-perhitungan matematis guna menghasilkan
strategi-strategi pengembangan yang tepat.
Sementara Jarrett (1982) dalam buku yang ditulis Robert Denhardt
(1991:268) menyatakan bahwa upaya peningkatan produktivitas disektor
publik hendaknya difokuskan pada tiga hal sebagai berikut:
1. meningkatkan level of service dengan tetap mempertahankan biaya
pada level yang konstan,
2. menjaga level service seperti saat ini dengan mengupayakan
penurunan biaya, dan
3. meningkatkan performance dan tingkat service sementara secara
simultan berusaha untuk menurunkan biaya.
Dalam upaya peningkatan produktivitas, berikut dijelaskan beberapa
langkah yang dapat ditempuh, menurut Robert Denhardt (1991: 268) sebagai
berikut:
1. identifikasi area yang sudah siap untuk segera ditingkatkan
produktivitasnya. Program apapun juga, hendaknya dimulai dari yang
kecil. Hal ini sangat memungkinkan untuk memulai dari hal-hal yang
secara langsung memberikan hasil, mengingat dari sektor inilah kita
dapat secepatnya melakukan saving dan juga keberhasilan yang
diperoleh dalam lingkup kecil tersebut akan mendorong semangat bagi
bidang-bidang lainnya,
16

2. penempatan model dalam wilayah yurisdiksi yang berbeda. Apapun


organisasinya, akan sangat membantu apabila kita mengetahui apa
yang telah dialami dan dijalankan oleh organisasi lain berkaitan
dengan masalah-masalah yang serupa,
3. mendefinisikan peran dari masing-masing pihak yang terlibat dalam
perencanaan

dan

implementasi

program.

Beberapa

program

diorientasikan hanya pada departemen tertentu, sementara programprogram lain bersifat lintas departemental,
4. merumuskan tujuan dan sasaran secara realistis. Sebagai catatan,
bahwa program peningkatan produktivitas di sektor publik berangkat
dari tuntutan untuk mengerjakan yang lebih banyak dengan lebih
sedikit (doing more with less),
5. memilih diantara alternatif
mengimplementasikan

program

yang

program produktivitas

ada.

disarankan

Dalam
untuk

menyesuaikan solusi dengan permasalahan yang dihadapi,


6. mengantisipasi permasalahan. Banyak permasalahan yang dapat
muncul dalam melaksanakan program peningkatan produktivitas.
Sebagian besar permasalahan muncul sebagai akibat adanya
misconception mengenai apa dan untuk apa program itu dijalanan dan
apa saja yang dapat dilakukan,
7. mengimplementasikan program. Setelah secara cermat menganalisis
kebutuhan akan program peningkatan produktivitas dan memutuskan
kegiatan apa saja yang akan dilakukan, masalah berikutnya adalah
bagaimana mengimplementasikannya, dan
8. Mengevaluasi program. Sebagian besar

program

peningkatan

produktivitas memerlukan investasi dalam bentuk finansial dan waktu.


Jenis informasi yang perlu dikumpulkan sejak awal adalah berapa
penurunan biaya yang dapat dicapai, berapa peningkatan output yang
dapat dihasilkan, atau adakah peningkatan kepuasan masyarakat
terhadap suatu pelayanan publik. Informasi-informasi tersebut dapat
dilaporkan secara periodik kepada legislator atau pengambil
keputusan yang lain.

17

7. Kendala Produktivitas di Indonesia


Mencermati

langkah-langkah

yang

ditempuh

dalam

rangka

peningkatan produktivitas sektor publik sebagaimana diuraikan diatas,


tentunya tidak lepas dari antisipasi dan penanganan terhadap hambatanhambatan ataupun kendala yang dihadapi disetiap setting negara yang
bersangkutan. Dalam hal ini faktor yang patut untuk diperhatikan salah
satunya adalah faktor budaya dan kondisi mental profesionalisme dikalangan
birokrat atau organisasi-organisasi penyelenggara pelayanan publik tersebut.
Dimulai dari gaya kepemimpinan (style of leadership), partisipasi dan
komitmen anggota (employee involvement and commitment) terhadap kualitas
pelayanan, perancangan mekanisme pekerjaan yang sederhana dan tidak
costly, serta lain-lain atribut yang cenderung merugikan birokrasi karena dapat
menimbulkan opini publik yang negatif ketimbang positif. Hal itu semua
apabila kita cermati selalu berpulang pada struktur mental birokrasi dan
budaya yang berkembang didalamnya.
Beberapa hal yang dapat menjadi hambatan atau kendala dalam rangka
peningkatan produktivitas disektor publik ini antara lain adalah (dalam
Berman, 1998:20-22):
1. adanya kesalahan dalam memahami permasalahan. upaya-upaya
seperti Reinventing Government melalui Total Quality Management,
reengeenering, dan lain-lain nampaknya tidak sungguh-sungguh
dijalankan mengingat akar permasalahan yang sebenarnya lebih
bersifat politis bukannya masalah administratif atau manajerial
(Frederickson, 1994 dalam Berman, 1998:19),
2. masalah kepemimpinan. Hampir semua strategi

peningkatan

produktivitas memerlukan support atau dorongan dari manajemen


puncak, tanpa itu semua keputusan-keputusan penting tidak dapat
dirumuskan dan upaya peningkatan produktivitas hanya tinggal slogan
tanpa kenyataan,
3. masalah yang berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia.
Sebagaimana kita sadari bersama bahwa sulit bagi organisasi
pemerintah di Indonesia untuk menerapkan reward system yang
18

menghargai prestasi dan memberikan punishment kepada yang tidak


berprestasi,
4. keterbatasan

sumberdaya.

ini

termasuk

masalah

klise

atau

konvensional, namun fakta masih menunjukkan faktor inilah yang


paling dominan melatarbelakangi kurang produktifnya organisasi
sektor publik,
5. hambatan personal. Hal ini terkait dengan adanya daya tolak setiap
orang khususnya pimpinan yang akan menghadapi perubahan. Ia
selalu cenderung merasa was-was
kompensasinya

mereka

cenderung

atau cemas
bersikap

dan sebagai
defend

atau

mempertahankan status quo.


Kelima permasalahan yang menjadi penghambat dalam upaya
peningkatan public productivity di Indonesia, pada dasarnya bersumber pada
aspek manusianya. Selaku aktor politik maupun sebagai pelaksana kebijakan
sekaligus perumus kebijakan di bidang pelayanan publik ternyata tidak banyak
berubah. Pergantian rezim pemerintahan dari orde baru ke orde reformasi yang
pada awalnya adalah untuk melakukan pembenahan terhadap kinerja birokrasi
pemerintah, ternyata tidak kunjung membuahkan hasil. Walaupun dapat
dimaklumi bahwasanya perubahan tersebut tidak dapat dilakukan serta merta,
namun tanda-tanda ke arah perbaikan masih belum nampak. Hal ini tentunya
perlu mendapat atensi dan kontribusi yang besar dari seluruh komponen
bangsa, untuk bersama-sama mencari upaya pemecahannya. Komitmen untuk
membangun dan meningkatkan produktivitas sektor publik tidak cukup dari
pucuk pimpinan (pusat) namun juga pimpinan di setiap level dan lini,
khususnya jajaran pemerintah lokal (kabupaten dan kota).

BAB III

19

PENUTUP

1. Kesimpulan
Batasan produktivitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang,
tergantung pada tujuan masingmasing organisasi, yang bergerak dibidang
profit ataupun untuk customer jatisfaction atau juga organisasi publik ataupun
swasta.
Pengertian produktivitas dapat diartikan secara umum sebagai tingkat
perbandingan antara hasil keluaran (output) dengan memasukkan (input)
Bernandin dan Russell (1993). John Soeprihanto berpendapat bahwa
produktivitas diartikan sebagai perbandingan antara hasil hasil yang dicapai
dengan keseluruhan sumber daya yang dipengaruhi atau perbandingan jumlah
produksi (output) dengan sumber daya yang digunakan (input) (Toni
Setiawan, 2012: 148). Menurut Parmiti (2000: 202) menyatakan secara umum
produktivitas adalah menunjuk pada rasio output terhadap input mencangkup
biaya produksi dan biaya peralatan, sedangkan output bisa terdiri dari
penjualan, pendapat dan kerusakan.
Sedangkan pengertian produktivitas secara filosofi, dan menurut
Dewan Produktivitas Nasional produktivitas merupakan sikap mental yang
selalu berusaha dan mempunyai pandangan bahwa suatu kehidupan hari ini
lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Secara
teknis produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai dan
keseluruhan sumber daya yang dipergunakan, dengan membandingkan jumlah
yang dihasilkan dengan setiap sumber yang digunakan, produktivitas adalah
ukuran yang menunjukkan pertimbangan antara input dan outputyang
dikeluarkan (Sunyoto, 2012: 41).

20

Banyak faktor lingkungan kerja yang mempengaruhi produktivitas


baik secara langsung maupun tidak langsung. Heidjrachman (1987:117)
menjelaskan

faktor-faktor

utama

yang

memberikan

pengaruh

pada

produktivitas. Faktor yang berpengaruh secara langsung pada produktivitas


adalah pengembangan teknologi, bahan baku, dan prestasi kerja pada pekerja
sendiri.

2. Saran
Berdasarkan isi dari makalah yang telah dibahas diatas mengenai
produktivitas disektor publik, bahwa suatu organisasi atau perusahaan yang
akan mampu bersaing dan dapat bertahan dalam gelombang perubahan yang
terus terjadi adalah organisasi atau perusahaan yang memiliki produktivitas
yang tinggi, yang mana hasil dari pemasukanya (input), penjualannya lebih
besar dibandingkan dengan biaya pengeluarannya (output). Namun sebaliknya
dengan organisasi yang memiliki tingkat produktivitas yang rendah secara
perlahan atau akan runtuh atau tidak mampu bersaing dengan yang lainnya
apabila tidak adanya perubahan dan peningkatan produktivitasnya.

21

DAFTAR PUSTAKA

Handoko, Hani. 1987. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia Edisi
Kedua. Yogyakarta: PT. Graha Ilmu

Sofyadi, Heman. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: PT.


Graha Ilmu

google.com. diakses pada tanggal 19 April 2016 pukul 15:23:17 WIB

22

slides.share.com. diakses pada tanggal 17 April 2016 pukul 10:35:57 WIB

23

Anda mungkin juga menyukai