Anda di halaman 1dari 23

PAPER

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA :GLORI TEOFILUS


NIM
: 110100218

PAPER

MIOPIA PATOLOGI

Disusun oleh:
GLORI TEOFILUS
NIM: 110100218

Supervisor:

dr. Vanda Virgayanti, M.Ked (Oph), Sp.M


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP H. ADAM MALIK
MEDAN
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas rahmat dan karunia-Nya yang memberikan kesehatan dan kelapangan waktu
bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Vanda
Virgayanti, SpM, selaku supervisor yang telah memberikan arahan dan bimbingan
dalam penyelesaian makalah ini.
Makalah ini berjudul Miopia Patologi adapun tujuan penulisan makalah
ini ialah untuk memberikan informasi mengenai berbagai hal yang berhubungan
dengan Miopia Patologi.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penulis menerima segala bentuk kritikan dan saran yang bersifat
membangun. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .....................................................................................

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii


DAFTAR GAMBAR....................................................................................... iii
DAFTAR TABEL............................................................................................ iv
BAB 1 PENDAHULUAN...............................................................................

1.1.Latar Belakang................................................................................

1.2.Tujuan Penulisan.............................................................................

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA......................................................................

2.1.Miopia.............................................................................................

2.1.1. Definisi...............................................................................

2.1.2. Etiologi...............................................................................

2.1.3. Klasifikasi..........................................................................

2.1.4. Patogenesis.........................................................................

2.1.5. Diagnosis............................................................................

2.2. Miopia Patologi........................................................................... 11


2.2.1. Definisi............................................................................... 11
2.2.2. Etiologi............................................................................... 11
2.2.3. Patofisiologi....................................................................... 12
2.2.4. Manifestasi Klinis.............................................................. 13
2.2.5. Diagnosis............................................................................ 14
2.2.6. Penatalaksanaan................................................................. 16
2.2.7. Komplikasi......................................................................... 18
BAB 3 KESIMPULAN................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 20
LAMPIRAN

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Miopia berasal dari bahasa Yunani muopia yang memiliki arti menutup

mata. Miopia merupakan manifestasi kabur bila melihat jauh, istilah populernya
adalah

nearsightedness.1

Berdasarkan

gambaran

klinis,

miopia

dapat

diklasifikasikan menjadi miopia simpleks, miopia nokturnal, miopia degeneratif,


pseudomiopia, dan induced miopia.1
Miopia Patologi adalah salah satu penyebab utama kebutaan di Amerika
Serikat. Kelainan ini ditandai dengan pemanjangan mata progresif yang disertai
penipisan dan atrofi pada koroid dan epitel pigmen retina di makula. Sesuai
definisinya, miopia patologi merupakan miopia yang lebih besar dari miopia 8
dioptri.2 Miopia patologi disebut juga sebagai miopia degenerative, miopia
progresif atau miopia derajat tinggi.1
Prevalensi miopia patologi bervariasi sekitar 1-10 %, dan tidak
dipengaruhi geografis (tertinggi pada Negara Spanyol dan Jepang). 3 Miopia
patologi menyerang 2% dari populasi orang dewasa di Negara Eropa Barat dan
Amerika, dan terjadi pada 10% populasi di Negara Asia Timur.4 Miopia patologi
secara signifikan dapat menyebabkan kebutaan dan sering mengenai pada
populasi pekerja.3
1.2. Tujuan Penulisan
Makalah ini dibuat untuk mengetahui segala sesuatu yang berhubungan
dengan Miopia Patologi mulai dari definisi, penyebab, gejala, pengobatan, dan
komplikasi. Selain itu, bertujuan untuk melengkapi tugas selama mengikuti
Pendidikan Profesi Dokter di Departemen Ilmu Penyakit Mata Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam
Malik Medan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Miopia

2.1.1

Definisi
Miopia adalah kelainan refraksi pada mata di mana bayangan difokuskan

di depan retina, ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. Ini juga dapat
dijelaskan pada kondisi refraktif dimana cahaya yang sejajar dari suatu objek yang
masuk pada mata akan jatuh di depan retina, tanpa akomodasi.1

Gambar 2.1 Miopia5


(Dikutip dari NEI. National Eye Institute. [Online]. [cited Maret 2016. Available
from: https://nei.nih.gov/health/errors/miopia.)
Miopia atau sering disebut sebagai rabun jauh merupakan jenis kerusakan
mata yang disebabkan pertumbuhan bola mata yang terlalu panjang atau
kelengkungan kornea yang terlalu cekung. Miopia adalah suatu keadaan mata
yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan sehingga sinar sejajar
yng datang dibiaskan di depan retina (bintik kuning). Pada miopia, titik fokus

sistem optik media penglihatan terletak di depan makula lutea. Hal ini dapat
disebabkan sistem optik (pembiasan) terlalu kuat, miopia refraktif atau bola mata
terlalu panjang.6
2.1.2

Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, miopia dapat diakibatkan oleh beberapa hal

berikut:7
a. Miopia Aksial
Panjang aksial bola mata lebih panjang dari normal, walaupun kornea
dan kurvatura lensa normal dan lensa dalam posisi anatominya normal.
Miopia dalam bentuk ini dijumpai pada proptosis sebagai hasil dari
tidak normalnya besar segmen anterior, peripapillary myopiccrescent
dan exaggerated cincin sclera, dan staphyloma posterior.7
b. Miopia Refraktif
Mata memiliki panjang aksial bola mata normal, tetapi kekuatan
refraksi mata lebih besar dari normal. Hal ini dapat terjadi pada miopia
kurvatura. Mata memiliki panjang aksial bola mata normal, tetapi
kelengkungan dari kornea lebih curam dari rata-rata, misalnya:
pembawaan sejak lahir atau keratokonus, atau kelengkungan lensa
bertambah seperti pada hiperglikemia sedang ataupun berat, yang
menyebabkan lensa membesar.7
c. Miopia karena peningkatan indeks refraksi
Peningkatan indeks refraksi daripada lensa berhubungan dengan
permulaan dini atau moderat dari katarak nuclear sklerotik. Marupakan
penyebab umum terjadinya miopia pada usia tua. Perubahan kekerasan
lensa mengkatkan indeks refraksi, dengan demikian membuat mata
menjadi miopi.7
d. Miopia karena pergerakan anterior dari lensa
Pergerakan lensa ke anterior sering terlihat setelah operasi glaucoma
dan akan meningkatkan miopia pada mata.7

2.1.3

Klasifikasi
Berdasarkan gambaran klinis klasifikasi miopia dapat dibagi berdasarkan

tabel berikut:
Tabel 2.1 Sistem Klasifikasi Miopia1

1. Miopia Simpel
Status refraksi mata dengan miopia simple bergantung pada kekuatan optik
dari kornea dan lensa kristalin, dan panjang dari aksial. Miopia simple
merupakan miopia yang paling sering dijumpai dan dianggap sebagai suatu
proses fisiologis yang berhubungan dengan proses pertumbuhan normal dari
tiap-tiap komponen refraksi dari mata. Miopia ini paling sering dijumpai pada

anak usia sekolah atau school miopia, yaitu pada umur 8-12 tahun. Akibat
dari proses ini menimbulkan miopia ringan dan sedang.1
2. Miopia Nokturnal
Nokturnal atau miopia malam terjadi hanya pada pencahayaan yang redup.
Hal ini terutama diakibatkan oleh meningkatnya respon akomodasi yang
berhubungan dengan level cahaya. Karena kontras yang diberikan tidak
cukup untuk memberikan stimulus akomodasi, mata mengasumsikan fokus
pada kondisi gelap terhadap posisi akomodasi daripada fokus terhadap tidak
terbatas.1
3. Pseudomiopia
Pseudomiopia merupakan hasil dari peningkatan kekuatan refraksi ocular
karena berlebihnya stimulasi dari mekanisme akomodasi mata atau spasme
siliaris. Kondisi ini dinamakan demikian karena pasien hanya mengalami
miopia karena respon akomodasi yang tidak tepat.1
4. Miopia Degeneratif
Beratnya derajat miopia yang berkaitan dengan proses degenerasi dari
segmen posterior mata dikenal sebagai miopia degenerative atau miopia
patologi. Perubahan degenerasi dapat merupakan hasil dari fungsi visual yang
abnormal, seperti menurunnya ketajaman visual atau perubahan lapangan
pandang. Sekuele seperti retinal detachment dan glaucoma merupakan hal
yang sering terjadi pada miopia degeneratif.1
5. Miopia diinduksi
Miopia diinduksi atau miopia didapat merupakan hasil dari paparan berbagai
agen farmakologi, variasi level gula darah, sklerosis nuklir dari lensa
kristalin, atau kondisi kelainan lainnya. Miopia sering terjadi sementara dan
reversible.1

Derajat miopia diukur oleh kekuatan korektif lensa sehingga bayangan dapat jatuh
di retina, yang dapat diklasifikasikan menjadi:

Miopia ringan : -0.25 D s/d -3.00D

Miopia sedang: -3.25 D s/d -6.00D

Miopia tinggi : >-6.00 D.1

Klasifikasi miopia beradasarkan usia dapat dibagi menjadi sebagai berikut:

Kongenital (sejak lahir dan menetap


pada masa anak-anak)

2.1.4

Miopia onset anak-anak (di bawah usia 20 tahun)

Miopia onset awal dewasa (di antara usia 20 sampai 40 tahun)

Miopia onset dewasa (di atas usia 40 tahun).1

Patogenesis
Miopia dapat terjadi karena ukuran sumbu bola mata yang relatif panjang

dan disebut sebagai miopia aksial. Miopia dapat juga terjadi karena indeks bias
media refraktif yang tinggi atau akibat indeks refraksi kornea dan lensa yang
terlalu kuat. Dalam hal ini disebut sebagai miopia refraktif.6
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya miopia, faktor genetik
dan status refraktif. Orang yang memakai kaca mata mungkin pernah diingatkan
bahwa membaca di tempat gelap atau membaca terlalu dekat dapat merusak mata.
Penggunaan mata pada awal kehidupan terhadap pengaruhnya bagi pertumbuhan
okular dan kesalahan refraksi masih menjadi dalam penelitian. Hal ini didukung
oleh adanya bukti penggunaan mata pada jarak dekat dalam waktu yang lama
akan meningkatkan kejadian miopia. Pada penelitian pada hewan coba, dapat
dilihat adanya pengubahan pada lingkungan visual akan memicu terjadinya
perubahan sintesis mRNA dan konsentrasi dari metalloproteinase matriks. Pada
mata yang tidak ditangani dengan tepat, terbentuklah pemanjangan aksial dan
terjadilah miopia.8,9

Pemanjangan segmen posterior bola mata mulai terjadi hanya pada masa
pertumbuhan aktif dan mungkin berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa
pertumbuhan aktif. Oleh karena itu, faktor-faktor (seperti defisiensi nutrisi,
penyakit berat, gangguan endokrin, dan kesahatan umum yang terlantar) yang
mempengaruhi proses pertumbuhan umum juga mempengaruhi progresivitas
miopia.7
Faktor keluarga juga merupakan faktor predisposisi terjadinya miopia
yang merupakan kelanjutan dari proses emetropisasi. Ketika terpapar dengan
faktor miopiogenik, seperti membaca dalam jarak dekat yang lama, yang
memproduksi keadaan kabur dan menurunan fokus gambar pada retina, akan
memicu terjadinya elongasi aksial dan miopia moderat pada masa remaja. Faktor
miopiogenik lainnya seperti membaca dalam jarak dekat yang lama pada masa
kuliah atau kerja akan memicu derajat miopia yang lebih tinggi lagi.8,9

Gambar 2.2 Patogenesis Miopia7


(Dikutip dari Khurana A. Optics and Refraction. In In Comprehensive
Ophthalmology. 4th ed. New Delhi: New Age International (P) Ltd; 2007.
p. 32)

9
Gambar 2.4 Faktor miopiogenik seperti genetik, etnis
dan pengalaman visual, akan mengakibatkan
abnormalit

Gambar 2.3 Gambaran funduskopi simpel


miopia pada murid sekolah8
(Dikutip dari Fredrick DR. Miopia. British Medical J. 2002; 324: p. 1195)

Gambar 2.4 Faktor miopiogenik seperti genetik, etnis dan


pengalaman visual, akan mengakibatkan abnormalitas pertumbuhan
ocular pada miopia8

10

(Dikutip dari Fredrick DR. Miopia. British Medical J. 2002; 324: p. 1195)
2.1.5

Diagnosis
Secara klinis, keluhan yang akan muncul pada pasien adalah menurunnya

penglihatan jauh, bahkan dengan koreksi refraksi, sering dijumpai penurunan


kemampuan untuk melihat dengan jelas. Kemudian, penderita merasa tidak
nyaman ketika menggunakan lensa koreksi, dimana kacamata untuk miopia tinggi
biasanya berat dengan distorsi yang bermakna di tepi lensa, lapang pandang juga
terbatas. Penderita merasa tidak nyaman, tetapi juga tidak dapat melakukan
aktivitas tanpa kacamatanya. Selanjutnya, sering juga dijumpai degenerasi vitreus,
di mana vitreus ini lebih cair dan mempunyai prevalensi yang tinggi untuk
posterior vitreous detachment (PVD). Proses ini menyebabkan filament-filamen
vitreous meningkat sehingga tampak bentukan mengapung (floaters). Gejala lain
yang terkait dengan vitreous liquefaction adalah traksi atau tarikan vitreus pada
retina yang menghasilkan kilatan cahaya. Kebutaan pada malam hari juga dapat
dikeluhkan pada pasien dengan miopia yang tinggi di mana telah terjadi
perubahan degeneratif.7,11
Ada beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan tentang resiko
terjadinya miopia:
1) Riwayat keluarga dengan miopia
2) Keberadaan

miopia

pada

retinoskopi

nonsikloplegia

pada

bayi,

menurunnya emmetropia sebelum masuk ke masa sekolah


3) Kesalahan refraktif emmetropia sampai 0,5 D dari hiperopia
4) Berlawanan dengna adanya astigmatisme
5) Menurunnya fungsi akomodasi atau esoforia jarak dekat
6) Banyaknya jumlah kerja dalam jarak pendek pada pekerjaan sehari-hari
7) Kurvatura kornea yang curam atau panjang aksis yang tinggi dari rasio
radius kornea
8) Terdapat riwayat penurunan penglihatan ketika masih kecil

11

Tanda yang dapat ditemukan pada penderita miopia adalah:7,10


1) Bola mata yang menonjol. Bola mata yang menonjol, tampak terjadi elongasi
dan bahkan sampai eksoftalmus, terutama pada kasus unilateral. Elogasi bola
mata ini mempengarhui kutup posterior dan area sekitarnya; bagian anterior
mata sampai ekuator dapat normal.
2) Kornea besar
3) Ruang anterior dalam
4) Pupil sedikit membesar dan beraksi lambat terhadap cahaya.
5) Pada pemeriksaan fundus dapat ditemukan hal-hal berikut ini:
a.Optik disk tampak membesar dan pucat dengan sisi temporal
dikarakteristikan dengan gambaran sabit miopia. Kadang-kadang bentuk
sabit pada peripapilar ini mengelilingi diskus, di mana koroid dan retina
tertarik keluar dari margin diskus. Traksi yang kuat dari sabit ini akan
terlihat pada sisi nasal.
b.

Perubahan degeneratif retina dan koroid sering terjadi pada miopia


lanjut. Hal ini dicirikhaskan dengan adanya bercak atropik putih pada
macula dengan penumpukkan pigmen di sekelilingnya. Foster-Fuchs
spot (bercak sirkular merah gelap karena neovaskular dari subretinal dan
perdarahan koroid) dapat terlihat pada macula. Degenerasi kistoid juga
dapat terlihat pada daerah perifer. Pada kasus yang berat akan terjadi
atrofi retina total, sebagian besar pada area sentral.

c.Stafiloma posterior akibat ektasia dari sklera pada kutub posterior akan
tampak sebagai ekskavasia dengan pembuluh darah mundur ke tepi
d.

Perubahan degeneratif pada vitreous termasuk: liquefaction, vitreous


opacities, dan posterior vitreous detachment (PVD) tampak sebagai
reflex Weiss.

e.Lapangan pandang menunjukkan terjadinya kontraksi dan pada beberapa


kasus scotoma dapat terlihat.

12

f.

Pada elektroretinografi (ERG) tampak subnormal elektroretinogram


karena atrofi korioretina.

2.2. Miopia Patologi


2.2.1. Definisi
Sesuai definisinya, miopia patologi merupakan miopia yang lebih besar
dari miopia 8 dioptri.2 Miopia patologi disebut juga sebagai miopia degeneratif,
miopia progresif atau miopia derajat tinggi.1
Menurut David A. Goss, miopia patologi adalah miopia tinggi yang terkait
dengan perubahan patologi terutama di segmen posterior mata. Tingginya derajat
miopia ini disebabkan peningkatan panjang aksial bola mata.11
Menurut Georgia E. Garcia, miopia patologi adalah suatu bentuk miopia
yang meningkat cepat (4,00 D tiap tahun) dan terkait dengan perubahanperubahan abnormal di segmen posterior bola mata.11
Mata pasien dengan penyakit miopia patologi mengalami elongasi
progresif dan terjadi penipisan dan degenerasi retina, retinal pigment epithelial,
dan koroid. Lensa spheris koreksi pada pasien dengan miopia derajat tinggi adalah
lebih dari 6,0 D, atau panjang axial lebih dari 26,5 mm, pada miopia patologi
lensa spheris koreksinya lebih dari 8,0 D atau panjang axial lebih dari 32,5
mm.12
Miopia patologi merupakan penyakit yang cukup berat dan mempunyai
konsekuensi menurunya tajam penglihatan serta penyakit mata yang serius.11
2.2.2. Etiologi
Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya miopia patologi diantaranya adalah:
a. Faktor Keturunan
Penelitian ginekologis telah memberikan banyak bukti bahwa faktor keturunan
merupakan faktor etiologi utama terjadinya miopia patologi. Cara transmisi dari
miopia patologi adalah autosomal resesif, autosomal dominan, sex linked dan
derajat miopia yang diturunkan ternyata bervariasi.11

13

b. Faktor Perkembangan
Bukti yang ada menunjukkan bahwa faktor prenatal dan perinatal turut
beretinal pigment epithelialran serta menyebabkan miopia patologi. Penyakit ibu
yang dikaitkan dengan penderita miopia kongenital adalah hipertensi sistemik,
toksemia, dan penyakit retina. Faktor lain yang dianggap berhubungan dengan
miopia patologi adalah kelahiran premature yakni berat badan lahir kurang dari
2500 gram. Brain menyebutkan bahwa hal ini berkaitan dengan defek mesodermal
yang berkaitan dengan prematuritas.11
Tabel 2.2. Keadaan Sistemik yang Dapat Menyebabkan Miopia Derajat Tinggi4
Keadaan Sistemik yang Dapat Menyebabkan Miopia
Derajat Tinggi
Down syndrome
Stickler syndrome
Marfan syndrome
Prematurity
Noonan syndrome
EhlersDanlos syndrome
PierreRobin syndrome
2.2.3. Patogenesis
Menurut Duke Elder S, ada dua teori pokok yang saling bertentangan, yaitu:11
a. Teori Mekanik
Menurut teori ini miopia tinggi disebabkan karena peregangan sklera.
Peregangan ini dapat terjadi pada sklera yang normal ataupun yang sudah lemah.
Adanya konvergensi yang berlebih, akomodasi yang terus-menerus dan kontraksi
muskulus orbikularis okuli akan mengakibatkan tekanan intraokuler meningkat
yang selanjutnya menimbulkan peregangan sklera. Selain itu pada akomodasi di
mana terjadi kontraksi muskulus siliaris akan menarik koroid, sehingga
menyebabkan atropi. Konvergensi dan posisi bola mata ke arah inferior pada
waktu membaca menyebabkan pole posterior tertarik oleh nervus optikus.
Melemahnya sklera diduga juga menjadi penyebab membesarnya bola
mata. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

14

Kongesti sklera

Inflamasi sklera

Malnutrisi

Endokrin

Keadaan umum

Skleromalasia

Jadi menurut teori ini, terdapat kaitan antara timbulnya dan progresivitas
miopia dengan kebiasaan melihat dekat dan keadaan umum seseorang.
b. Teori Biologi
Teori ini timbul setelah pengamatan bahwa miopia aksial adalah herediter,
penipisan bola mata hanya di daerah pole posterior, degenerasi retina terjadi
sekunder setelah atrofi koroid dan adanya perubahan-perubahan atrofi yang tidak
sesuai dengan besarnya pemanjangan bola mata.
Vogt mengatakan bahwa faktor timbulnya miopia terdapat pada jaringan
ektodermal yaitu retina, sedangkan jaringan mesodermal di sekitarnya tetap
normal. Retina tumbuh lebih menonjol dibandingkan dengan koroid dan sklera.
Pertumbuhan retina yang abnormal ini diikuti dengan penipisan sklera dan
peregangan koroid. Koroid yang peka terhadap regangan akan menjadi atrofi.
Seperti diketahui pertumbuhan sklera berhenti pada janin berumur 5 bulan
sedangkan bagian posterior retina masih tumbuh terus sehingga bagian posterior
sklera menjadi paling tipis.11
2.2.4. Diagnosis
Penegakan diagnosis miopia patologi didasarkan pada:
a. Anamnesis
Pada anamnesis, gejala yang sering dikeluhkan penderita dengan miopia
patologi adalah menurunnya penglihatan jauh bahkan dengan pemberian
lensa koreksi, pada penderita sering dijumpai penurunan kemampuan untuk
melihat dengan jelas.11

15

Penderita merasa tidak nyaman ketika menggunakan lensa koreksi, dimana


kacamata untuk miopia derajat tinggi biasanya berat dengan distorsi yang
bermakna di tepi lensa, lapangan pandang juga terbatas. Penderita merasa
tidak nyaman, tetapi juga tidak dapat melakukan aktivitas tanpa
menggunakan kacamataya.11
b. Pemeriksaan Fisik
Pada penderita dengan miopia patologi dapat mengalami nistagmus atau
strabismus. Curtin menjumpai bahwa 28,8% penderita miopia congenital
menjadi strabismus. 89% mengalami esotropia, 11% mengalami eksotropia
serta 3% mengalami nistagmus.11
Pada sebagian besar penderita, mata akan menjadi lebih besar, kornea akan
lebih datar dan tipis, pupil akan mengalami dilatasi, bilik mata depan akan
lebih dalam. Banyak penderita akan mengalami sclera yang translusen dan
tampak biru. Badan siliaris biasanya terletak lebih posterior, lebih panjang,
datar, dan atrofi.11
c. Funduskopi
Pemeriksaan funduskopi pada miopia patologi akan dijumpai kelainan
sebagai berikut:12
a. Perubahan posisi diskus optikus
b. atrofi peripapillar korioretina
c. Lacquer Crack, ruptur spontan lamina elastis membrane Bruch yang
tampak berwarna putih kekuningan, biasanya terletak pada ujung posterior,
dan tersusun linier atau stellata.
d. Perdarahan subretinal yang dalam, bulat dan terisolasi, sebagai akibat dari
terbentuknya lacquer crack.
e. Forster-Fuchs spots, suatu bintik gelap akibat dari hiperplasia retinal
pigment epithelial subretinal atau intraretinal, juga akibat dari respon
terhadap choroidal neovascularization kecil yang tidak berkembang.
f. Stafiloma posterior, ektasia yag terlokalisir pada sklera, koroid, and retinal
g.
h.
i.
j.
k.

pigment epithelial
Atrofi dan elongasi badan siliar
Gyrates area, akiabat atrofi retinal pigment epithelial dan koroid
cystoid, paving-stone, dan degenerasi latis
penipisan atau pembentukan lubang pada bagian perifer retina
penipisan atau perubahan susunan lapisan kolagen pada sclera.

16

l. choroidal neovascularization

Gambar 2.5. Miopia Derajat Tinggi. (A) Tessellated fundus; (B) focal
chorioretinal atrophy and tilted disc; (C) tilted disc; (D) lacquer cracks (E) coin
haemorrhage; (F) Fuchs spots4

17

(Dikutip dari Kanskis Clinical Ophthalmology 8th Edition. 2016. Degenerative


Miopia. Page 631-633)
2.2.6. Penatalaksanaan
Sampai saat ini penatalaksanan miopia patologi terdiri dari:
a. Koreksi refraksi
Optometris mulai menggunakan lensa bifocal untuk memperlambat
progresi

miopia

sejak

1940.

Secara

rasional

ketika

akomodasi

menyebabkan miopia maka lensa bifocal atau multifocal akan mengurangi


respon akomodasi dan memperlambat progresi miopia. Semakin besar
keterlambatan dalam berakomodasi akan mengakibatkan retina semakin
kabur dan dapat memberikan stimulus yang kuat bagi progresi miopia.
Oleh sebab itu, diperlukan lensa bifokal ini dalam mengeliminasi
keterlambatan akomodasi yang memicu progresi miopia. Koreksi
menggunakan lensa kontak dari penelitian random trial tidak terlalu
signifikan berbeda dalam mengatasi progresi miopia.13
b. Modifikasi Lingkungan
Beberapa penelitian mendukung efektivitas diet dalam pengelolaan
miopia, tetapi penelitian yang lain masih belum mendukung. Telah
dianjurkan pada penderita miopia yang terpapar secara genetik untuk
meningkatkan konsumsi protein hewani dan mengurangi karbohidrat.
Duke Elder menyarankan diet kaya vitamin D dan kalsium untuk penderita
miopia ini. Aktivitas lingkungan yang dianjurkan adalah olahraga luar
ruang misal jogging, namun aktivitas lain yang cenderung meningkatkan
tekanan intracranial dan stress sebaiknya dihindari, misalnya angkat
berat.11
c. Laser photocoagulation
Laser photocoagulation menggunakan sinar laser yang diserap oleh
jaringan dan dikonversikan menjadi energy panas yang mengakibatkan
denaturasi protein.14 Terapi ini digunakan pada lesi ekstrafovea. Laser

18

menyebabkan kerusakan retina oleh perluasan jaringan parut akibat laser


atau atrofi, tidak mempertahankan ketajaman penglihatan jangka panjang
dan berhubungan dengan kejadian rekurensi yang tinggi.12
d. Photodynamic therapy (PDT)
PDT menggunakan obat injeksi yang bersifat fotosensitif yang akan
teraktivasi oleh cahaya dari sumber laser dengan panjang gelombang
tertentu dan berhubungan dengan puncak absorpsi dari obat tersebut. Hal
ini menyebabkan reaksi fotokimia yang menyebabkan kerusakan sel secara
langsung pada sel endotel pembuluh dara dan mengakibatkan trombosis,
sehingga terjadi kerusakan pada membran neovaskular koroid. Hanya selsel yang aktif membelah yang memiliki reseptor untuk obat tersebut
sehingga kerusakan pada jaringan sekitar dapat diminimalisasi. Saat ini
obat yang tersediauntuk PDT adalah Verteporin. Namun, PDT hanya dapat
mempertahankan dan tidak memperbaiki ketajaman penglihatan.15
e. Terapi Anti-VEGF (Vascular endothelial growth faktor)
Terapi

anti-VEGF

diberikan

berdasarkan

pada

fakta

terjadinya

peningkatan produksi VEGF oleh retinal pigment epithelial pada


choroidal neovascularization. Obat-obatan anti VEGF yang tersedia saat
ini adalah ranibizumab dan bevacizumab, diberikan secara intravitreal.
Pada penelitian, dilaporkan peningkatan ketajaman penglihatan dalam 2
tahun dan peningkatan ketajaman dapat dipertahankan sampai 4 tahun
dengan terapi anti-VEGF. Hasil PDT dan IVB (intravitreal bevazumab)
untuk mengobati miopia choroidal neovascularization telah dibandingkan
dan menunjukkan bevacizumab lebih efektif daripada PDT.15

19

2.2.5. Komplikasi
Komplikasi miopia dapat berupa:7,11
1) Retinal Detachment
Merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Biasanya disebabkan
karena didahului dengan timbulnya hole pada daerah perifer retina akibat
proses degenerasi pada daerah ini.
2) Katarak Komplikasi
Merupakan komplikasi selanjutnya dari miopia malignan, terjadi setelah
usia 40 tahun. Sering dihubungkan dengan adanya degenerasi koroid.
3) Perdarahan Vitreous
4) Perdarahan Koroid
Sering terjadi pada obliterasi dini pembuluh darah kecil. Biasanya terjadi di
daerah sentral, sehingga timbul jaringan parut yang mengakibatkan
penurunan tajam penglihatan.
5) Strabismus fixus konvergen

20

BAB III
KESIMPULAN

Miopia patologi adalah miopia yang lebih besar dari miopia dengan
kekuata lensa koreksi 8 dioptri. Miopia patologi menjadi masalah serius karena
menjadi salah satu penyebab kebutaan di Amerika Serikat.
Gejala yang dialami penderita dengan miopia patologi diantaranya adalah
menurunnya penglihatan jauh bahkan dengan pemberian lensa koreksi,
ketidaknyamanan ketika menggunakan lensa koreksi, dan terjadi degenerasi
vitreus. Mata pasien dengan penyakit miopia patologi mengalami elongasi
progresif dan terjadi penipisan dan degenerasi retina, retinal pigment epithelial,
dan koroid.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan pada pasien dengan miopia patologi
adalah koreksi lensa, modifikasi lingkungan, fotokoagulasi laser, terapi
fotodinamik, dan terapi anti-VGEF.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. American Optometric Association. 2006. Optometric Clinical Practice
Guideline: Care of the patient with Miopia. USA
2. Vaughan & Asbury. 2009. Degenerasi Makula Miopia. Oftalmologi
Umum. ECG. Jakarta. Hal 189, 360.
3. Tsai, J.C. Denniston A.K.O. Murray, P.I. 2011. Degenerative Miopia.
Oxford American Handbook of Ophthalmology. Page 431-434
4. Kanskis Clinical Ophthalmology 8th Edition. 2016. Degenerative Miopia.
Page 631-633
5. NEI. National Eye Institute. [Online]. [cited Maret 2016. Available from:
https://nei.nih.gov/health/errors/miopia.
6. Osman MFH. Hubungan Antara Dioptri Lensa Kacamata dengan Jarak dan
Lama Membaca pada Pelajar FK USU di AUCMS Penang Tahun 2011.
USU Journal. 2011: p. 4
7. Khurana A. Optics and Refraction. In In Comprehensive Ophthalmology.
4th ed. New Delhi: New Age International (P) Ltd; 2007. p. 32
8. Fredrick DR. Miopia. British Medical J. 2002; 324: p. 1195-8
9. Ursekar T. Classification, etiology, and pathology of miopia. Indian J of
Opth. 1983; 31(6): p. 709-711
10. Goldschmidt E, Jacobsen N. Genetic and environmental effects on miopia
development and progression. Nature. 2014; 28: p. 126-133.
11. Widodo A, Prilia T. Miopia Patologi. Jurnal Oftalmologi Indonesia. 2007;
5(1): p. 19-26.
12. American Academy of Ophthalmology. 2011. Pathologic Miopia.Acquired
Disease Affecting the Macula. In Retina and Vitreous section 4. San
Fransisco: American Academy of Ophthalmology. Page 85-88, 95-97
13. Cooper J, Schulman E, Jamal N. Current Status on the Development and
Treatment of Miopia. Optometry Clin Research. 2012;: p. 3-4.
14. Lock, JFK. Retinal Laser Photocoagulation. Med J Malaysia. 2010; 65: p.
88-94.
15. Moreno J, Arias L, Montero J, Cameiro A, Silva R. Intravitreal Anti-VEGF

Therapy for Choroidal Neovascularization Secondary to Pathological


Miopia. Br J Ophthalmol. 2013; 97(11): p. 1447-50.

22