Anda di halaman 1dari 10

Nama

Desak Gede Dian Purnama Dewi

NIM

P07134014027

Semester

V (Lima)

Judul

Pemeriksaan Hepatitis C Rapid Test

Hari, Tanggal :

Rabu, 05 Oktober 2016

Tempat

Laboratorium Imunoserologi JAK Poltekkes Denpasar

I. TUJUAN
Pemeriksaan imonokromatografi (rapid tes) untuk deteksi secara kualitatif adanya
antibodi virus Hepatitis C dalam serum/plasma pasien untuk menegakkan diagnosis
Hepatitis C.
II. METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum pemeriksaan HCV kali ini adalah
metode imunokromatografi.
III.PRINSIP
Berdasarkan reaksi antara membrane tes yang dilapisi antigen HCV rekombinan
dengan antibodi dalam sampel serum atau plasma yang terkonjugasi pada gold
koloidal yang bergerak sepanjang membrane secara imunokromatografi menuju garis
tes dan akan membentuk garis warna secara kompleks antigen antibodi.
IV. DASAR TEORI
Virus hepatitis C (HCV) merupakan virus yang memiliki ukuran sangat kecil dan
memiliki amplop. Virus ini termasuk ke dalam jenis virus RNA untai tunggal. HCV
merupakan penyebab utama penyebaran penyakit hepatitis non-A dan non-B.
Menurut Brett D. Lindenbach and Charles M. Rice (2013), virus hepatitis C (HCV)
merupakan salah satu ancaman paling signifikan bagi kesehatan manusia.
Diperkirakan lebih dari 185 juta orang terinfeksi virus hepatitis C (HCV) di seluruh
dunia dengan kejadian sebanyak 3 juta setiap tahunnya. HCV merupakan spesies
jenis dari genus Hepacivirus dalam keluarga Flaviviridae yang juga termasuk genera
Flavivirus, pestivirus, dan Pegivirus. Virus hepatitis C (HCV) menyebabkan penyakit
klinis penting yang mempengaruhi 3% dari populasi dunia (Christine Baechlein, et

all,2015 ; Wan Chan, Shiu, 2014). HCV adalah salah satu penyebab utama penyakit
hati kronis yang berhubungan dengan stadium akhir sirosis dan karsinoma
hepatoseluler dengan perkiraan 20% dari kronis pasien yang terinfeksi berkembang
menjadi sirosis, dan sekitar 10% mengalami kanker (Maria Victoria, et all,2014).
Metode konvensional untuk mengamati virus HCV adalah dengan menggunakan
mikroskop elektron. Kloning genom virus memungkinkan untuk pengembangan tes
serologis yang menggunakan antigen rekombinan. Hal tersebut telah dibandingkan
dengan EIA generasi HCV pertama yang menggunakan antigen rekombinan tunggal,
beberapa antigen menggunakan protein rekombinan atau peptide sintetik telah
ditambahkan ke dalam tes serologi baru untu menghindari terjadinya reaksi silang dan
meningkatkan sensitivitas dari tes antibodi HCV. HCV kaset rapid tes adalah tes
untuk mendeteksi secara kualitatif antibodi dalam serum atau plasma dengan cepat.
Tes ini memanfaatkan gold koloidal yang terkonjugasi dan protein HCV rekombinan
untuk mendeteksi antibodi secara selektif dalam serum atau plasma. Protein
rekombinan HCV menggunakan test kit yang dikodekan oleh gen untuk structural
(nucleokapsid) dan non structural protein (Insertkit, 2012).
V. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
1. Pipet disposable/ pipet kapiler
2. Yellow tip
3. Mikropipet
b. Bahan
1. Kaset pemeriksaan rapid tes HCV
2. Buffer
c. Sampel
Serum atau plasma
VI. CARA KERJA
1. Semua komponen bahan/reagen dan spesimen disiapkan dan dikondisikan
dalam suhu ruang sebelum digunakan.
2. Kaset tes dikeluarkan dari kemasannya, ditempatkan pada daerah yang datar
dan permukaan yang kering.
3. Menggunakan mikropipet, spesimen dipipet 25 l dan dimasukkan ke dalam
well.
4. Ditambahkan buffer sebanyak 2 tetes ke dalam well tersebut
5. Hasil dibaca pada 10 menit.

Catatan : dilarang membaca hasil setelah 20 menit


VII.

INTERPRETASI HASIL
Negatif
Hanya terdapat garis warna pada control line C saja
Positif
Terdapat garis warna pada control line C dan Test T
Invalid
Tidak terdapat garis warna pada control line C atau hanya terdapat garis
warna pada Tes Line T

VIII. HASIL PENGAMATAN


Identitas sampel
Kode Sampel
:C
Asal Sampel
: RSUP Sanglah Denpasar
Jenis Kelamin
:Umur
:Sampel
: Serum
Hasil
: Positif (+)
Gambar Alat dan Bahan

( Kaset HCV rapid test)

( Sampel serum pasien dengan kode C)

(Device test malaria rapid one step)

(Assay diluents malaria rapid test)

Ex : Maret 2016

Ex. 16 Maret 2016

Hasil Pemeriksaan HCV Rapid Test

Keterangan :
A

: Terdapat garis berwarna ungu pada C line

: Terdapat garis berwarna ungu pada T line

: Tempat untuk meneteskan sampel serum

Hasi
l

: Terdapat dua buah garis warna pada control line dan test line,
maka hasil tersebut dapat diinterpretasikan positif

IX. PEMBAHASAN
Hepatitis C kronis adalah penyebab paling umum dari penyakit hari kronis,
karsinoma hepatoseluler, gagal hati, dan sirosis. Vaksin terhadap hepatitis C belum
tersedia hingga saat ini. HCV adalah virus yang terbungkus dari keluarga Flaviviridae
(genus Hepacivirus) dengan genom RNA positif untai tunggal dari 9,6 kb. Genom
virus mengkode poliprotein dari 3.000 asam amino, yang dibelah oleh host dan virus
protease menjadi protein struktural (protein kapsid dan dua glikoprotein amplop E1
dan E2), P7 dan beberapa protein non-struktural (NS2, NS3, NS4A, NS4B, NS5A
dan NS5B) yang terlibat dalam replikasi genom dan perakitan virus. HCV beriplikasi
di dalam sitoplasma hepatosit (Simone Bocchetta, et all, 2014).
Rute transmisi dari HCV melalui paparan darah yang terinfeksi. Resiko yang
paling besar untuk menyalurkan transmisi virus ini adalah pada proses transfuse
darah, penggunaan obat obatan intravena, aktivitas seksual yang berisiko tinggi,
transplantasi organ tubuh dari donor yang terinfeksi, hemodialisis, dan penggunaan
kokain intranasal. Virus hepatitis dapat berkembang tanpa tanda tanda klinis atau
gejala, kalaupun menunjukkan gelaja tetapi tidak spesifik. Gejala yang umum
ditimbulkan adalah demam, arthralgia, arthritis, ruam, dan edema angioneurotic.
Gejala ini biasanya timbul 2 3 minggu sebelum penyakit kuning dan umumnya
mereda sebelum penyakit kuning berkembang (Saleem Kamili, et all, 2012).
Adanya antibodi terhadap HCV didalam tubuh dapat dideteksi dengan
menggunakan tes cepat secara imunokromatografi. Metode ini didasarkan atas reaksi
antara antigen HCV rekombinan yang terdapat di dalam membrane test dengan
antibodi HCV yang terdapat di dalam sampel serum atau plasma pasien. Reaksi
keduanya tersebut kemudian bergerak sepanjang aliran membrane lateral dan
membentuk kompleks antigen-antibodi sehingga akan menampakkan garis berwarna.
Tujuan dari pemeriksaan secara imunokromatografi ini adalah untuk mendeteksi
secara kualitatif adanya antibodi virus hepatitis C dalam sampel serologis (Insert Kit,
2012). Keuntungan dari pemeriksaan ini adalah tes dapat dilakukan dengan cepat
sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk memperoleh hasilnya. Selain itu,
tes ini tidak membutuhkan peralatan yang banyak dan keterampilan khusus dalam

pengerjaannya. Tes HCV rapid tes ini hanya bersifat kualitatif, untuk mengukur kadar
antibodi HCV yang terbentuk dapat dikonfimasi dengan menggunakan metode
ELISA, EIA dan PCR yang mampu mendeteksi hingga titer sangat rendah dari
antibodi (Saleem Kamili, et all, 2012).
Kaset tes yang digunakan saat praktikum adalah HCV rapid test dengan merck
Right Sign. Kaset ini memiliki 2 garis penanda yaitu garis C untuk control dan
garis T untuk tes. Apabila dalam sampel pasien terdapat antibodi HCV maka kaset
tersebut akan memunculkan dua buah garis warna pada C dan T, sedangkan
apabila dalam sampel pasien tidak terdapat antibodi HCV maka kaset tes akan
memunculkan satu garis warna yaitu pada C saja. Fungsi dari control line adalah
untuk mengontrol prosedur pemeriksaan dan keadaan dari kaset itu sendiri dan
control line harus selalu muncul ketika melakukan pemeriksaan. Apabila saat
melakukan pemeriksaan tidak muncul garais berwarna pada control line maka
pemeriksaan tersebut dianggap gagal atau invalid. Garis berwarna ungu pada tes akan
terlihat sangat jelas jika kadar antibodi HCV mencukupi dan tidak akan terlihat jelas
apabila titer antibodi dalam sampel sangat rendah. (Insertkit, 2012). Tes HCV positif
artinya telah terbentuk antibodi yang spesifik terhadap virus hepatitis C di dalam
tubuh pasien yang menandakan seseorang telah terpapar virus hepatitis C. Sedangkan
tes HCV negates artinya tidak terbentuk antibodi spesifik terhadap virus hepatitis C di
dalam tubuh pasien yana menandakan seseorang tidak terpapar virus tersebut.
1 strip tes HCV terdiri dari antigen HCV rekombinan yang terkonjugasi pada gold
partikel koloid dan membrane yang dilapisi antigen. Kaset tes ini harus disimpan
pada suhu 2 30oC dan tidak boleh dibekukan. Tes ini akan tetap stabil kondisinya
hingga batas kadaluarsa apabila tetap tersimpan dalam bungkusnya, kaset tes ini
harus tetap berada di dalam pembungkusnya hingga akan digunakan untuk
pemeriksaan. Tes device ini sangat sensitive terhadap panas dan kelembaban, oleh
karena itu setelah tes device ini dikeluarkan dari pembungkusnya maka harus segera
digunakan dan perhatikan juga batas kadaluarsa dari tes device. Penggunaan tes
device yang kadaluarsa akan mempengaruhi hasil pemeriksaan dan dapat
memberikan interpretasi yang salah. Sensitivitas dari reagen ini adalah 99,1%
sedangkan spesifisitasnya adalah 99,5% (Insertkit, 2012). Menurut Miguel Marino

(2013), sensitivitas adalah proporsi orang yang benar sakit dalam populasi yang juga
diidentifikasi sebagai orang sakit oleh tes penapisan sedangkan spesifisitas adalah
proporsi orang yang benar benar tidak sakit dan tidak sakit pula saat diidentifikasi
dengan tes penapisan. Jadi, tes device merck Right Sign ini mampu mendeteksi orang
yang benar-benar memiliki antibodi terhadap virus hepatitis C sebesar 99,1%,
sedangkan kemampuan reagen ini dalam mendeteksi orang yang tidak memiliki
antibodi virus hepatitis C adalah 99,5%.
Spesimen yang digunakan untuk pemeriksaan dapat berupa serum atau plasma.
Jika sampel tidak segera dikerjakan maka harus disimpan pada suhu 2 8oC dan
dapat bertahan hingga 3 hari. Untuk penyimpanan sampel lebih dari 3 hari sebaiknya
sampel tersebut dibekukan dan dismpan pada suhu -20oC. Selain itu syarat sampel
untuk pemeriksaan adalah spesimen yang digunakan tidak boleh hemolisis, karena
sampel hemolisis dapat mengganggu proses pengamatan dan dapat menimbulkan
kesalahan dalam menginterpretasikan hasil. Pemeriksaan HCV dilakukan dengan cara
meyiapkan alat dan bahan terlebih dahulu dan meletakkannya pada suhu ruang (15
30oC), langkah selanjutnya adalah membuka pembungkus tes dan meletakkan kaset
tes pada tempat yang datar dan kering. Kemudian teteskan sebanyak 25 mikron serum
atau plasma ke dalam lubang sampel dan 2 tetes diluent, tes tersebut akan bekerja
apabila telah terlihat aliran berwarna ungu yang bergerak sepanjang membrane.
Fungsi diluents adalah sebagai larutan pengencer sehingga dapat membantu
mempercepat proses pergerakan aliran sampel pada membrane tes. Langkah terakhir
adalah menginterpretasikan hasil pemeriksaan pada menit ke- 20 (Insertkit, 2012).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, hasil uji HCV rapid test pada
sampel kode C yang berasal dari RSUP Sanglah menunjukkan hasil positif yang
ditandai dengan terbentuknya dua garis warna pada C line dan T line, hal tersebut
mengindikasikan bahwa terdapat antibodi yang spesifik terhadap virus hepatitis C di
dalam tubuh pasien. Hasil positif ini belum bisa dijadikan sebagai acuan tunggal
bahwa seseorang terinfeksi virus hepatitis C, hasil tes juga perlu di konfirmasi dengan
gejala klinis lain yang dialami oleh pasien seperti ciri ciri fisik dan lainnya yang
akan diidentifikasi oleh para klinisi.

X. SIMPULAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan HCV rapid tes pada serum pasien dengan kode
C yang berasal dari RSUP Sanglah Denpasar didapatkan hasil positif yang berarti
bahwa dalam serum pasien telah terbentuk antibodi terhadap virus hepatitis C.

DAFTAR PUSTAKA
Brett D. Lindenbach and Charles M. Rice. 2013. The ins and outs of
hepatitis C virus entry and assembly. [online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3897199/.
[diakses : 07 Oktober 2016, 17.56 wita]
Christine

Baechlein,

et

all.

2015.

Identification

of

Novel

Hepacivirus in Domestic Cattle from Germany. [online].


Tersedia

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4473572/.
[diakses : 06 Oktober 2016, 21.33 wita]
Insert Kit. 2014. HCV Rapid Test Cassette (Serum/Plasma). China : RightSign
Maria Victoria, et all. 2014. Hepatitis C virus molecular evolution:
Transmission, disease progression and antiviral therapy.
[online].

Tersedia

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4239486/.
[diakses : 06 Oktober 2016, 20.43 wita]
Marino, Miguel, et al. 2013. Measuring Sleep: Accuracy, Sensitivity, and Specificity
of Wrist Actigraphy Compared to Polysomnography. [online]. Tersedia
: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3792393/. [diakses :
07 Oktober 2016, 19.13 wita]
Saleem Kamili, et all. 2012. Laboratory Diagnostics for Hepatitis C
Virus

Infection.

[online].

Tersedia

http://cid.oxfordjournals.org/content/55/suppl_1/S43.full.
[diakses : 07 Oktober 2016, 17.44 wita]
Simone Bocchetta, et all. 2014. Up-Regulation of the ATP-Binding
Cassette Transporter A1 Inhibits Hepatitis C Virus Infection.
[online].

Tersedia

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3960176/.
[diakses : 06 Oktober 2016, 21.02 wita]
Wan Chan, Shiu. 2014. Establishment of chronic hepatitis C virus
infection: Translational evasion of oxidative defence. [online].
Tersedia
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3961964/.
[diakses : 06 Oktober 2016, 20.55 wita]