Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia medis mengalami perkembangan begitu pesat baik dari sisi
pelayanan maupun penemuan-penemuan dalam bidang pengobatan. Bukan itu
saja, dari segi tempat-tempat pelayanan pun mengalami perkembangan secara
luas. Kebijakan pemerintah tentang pendirian rumah sakit, poliklinik dan
puskesmas pun merambah ke berbagai daerah. Bukan hanya sekedar kuantitas
tempat pelayanan saja yang menjadi sorotan masyarakat umum tetapi kualitas
dari pelayananlah yang menjadi prioritas utama yang dibutuhkan oleh
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan pelayanan pengobatan.
Kesehatan merupakan hal terpenting dalam hidup manusia, terutama yang
berhubungan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari. Tingkat aktivitas yang
tinggi dan tingkat hasil pencapaian aktivitas yang sempurna dapat tercapai
bila kondisi kesehatan seseorang tersebut telah cukup memadai.
Umumnya sebuah rumah sakit didirikan dengan tujuan untuk
memberikan suatu pelayanan kesehatan, diantaranya adalah dalam bentuk
perawatan, pemeriksaan, pengobatan, tindakan medis, dan diagnostik lainnya
yang dibutuhkan oleh pasien dalam batas-batas kemampuan teknologi dan
sarana yang disediakan oleh rumah sakit. Maka dalam hal ini pihak
manajemen rumah sakit dituntut mampu untuk menggerakkan, mengatur, dan
mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dari berbagai kelompok tingkat
profesional dan tenaga kerja non profesional yang ada untuk mencapai tujuan
rumah sakit tersebut.
Beberapa fenomena yang terjadi pada rumah sakit dimana pelayanan
yang diberikan oleh rumah sakit tersebut untuk pasien yang hendak berobat
dinilai kurang memuaskan. Seperti janji layanan yang seharusnya diberikan
kepada masyarakat/pasien tidak lebih dari 15 menit, terkadang melebihi batas
waktu yang seharusnya sesuai ketentuan. Fenomena berikutnya antara lain
farmasi yang kehabisan stok obat, biasanya diakibatkan oleh distributor obat

yang mengalami kehabisan stok obat dan peralatan kesehatan. Kelebihan stok
obat di logistik farmasi yang menyebabkan barang stop moving.
Fenomena lain yang terjadi adalah dalam kasus pelayanan pada pasien
selain untuk memberikan pelayanan rumah sakit sebagai perusahaan nirlaba juga
mencari keuntungan walaupun tidak maksimum, karena harga obat di farmasi
rumah sakit ini jauh lebih mahal dibandingkan harga obat di apotik luar, sehingga
konsumen yang cerdas hanya membeli sebagian resep dan meminta print out
resep kemudian membelinya di apotik luar. Jika hal ini terjadi terus menerus
pada setiap pasien, akan merugikan rumah sakit dan menurunkan kesejahteraan
pegawai di rumah sakit ini.
Dalam hal ini penulis membatasi diri pada salah satu aktivitas yaitu
instalasi farmasi rumah sakit.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Instalasi Farmasi Rumah Sakit?
2. Apa tugas dan fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit?
3. Bagaimana struktur Instalasi Farmasi Rumah Sakit?
4. Apa definisi Farmasi Rumah Sakit?
5. Bagaimana ruang lingkup Instalasi Farmasi Rumah Sakit?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi Instalasi Farmasi Rumah Sakit
2. Untuk mengetahui tugas dan fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit
3. Untuk mengetahui struktur Instalasi Farmasi Rumah Sakit
4. Untuk mengetahui definisi Farmasi Rumah Sakit
5. Untuk mengetahui ruang lingkup Instalasi Farmasi Rumah Sakit

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Insalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
Instalasi adalah fasilitas penyelenggaraan pelayanan medik, pelayanan
penunjang

medik,

kegiatan

penelitian,

pengembangan,

pendidikan,

pelatihan,dan pemeliharaan sarana rumah sakit. Farmasi rumah sakit adalah


seluruh aspek kefarmasian yang dilakukan disuatu rumah sakit. Jadi, Instalasi
Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah suatu bagian/ unit/ divisi atau fasilitas di
rumah sakit, tempat penyelanggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian
yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar dan Amalia,
2003).
Instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) dapat didefinisikan sebagai suatu
dapertemen atau unit atau bagian di satu rumah sakit di bawah pimpinan
seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi
persyaratan peratuan perundang-undangan yang berlaku dan kompeten secara
profesional, tempat atau fasilitas penyelenggaraan yang bertangung jawab
atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri atas
pelayanan paripurna, mencangkup perencanaan, pengadaan, produksi,
penyimpanan pebekalan kesehatan/ sediaan farmasi, dispensing obat
berdasarkan resep bagi penderita rawat tinggal dan rawat jalan, pengendalian
mutu dan pengendalian distribusi dan pengunaan seluruh perbekalan
kesehatan di rumah sakit, pelayanan farmasi klink umum dan spesialis,
mecakup pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan klinik yang
merupakan program rumah sakit secara keselurhan (Siregar dan Amalia,
2003).
Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas (PerMenKes Nomor 58
Tahun 2014):
a. 1 (satu) apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
b. 5 (lima) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling
sedikit 10 (sepuluh) tenaga teknis kefarmasian;

c. 5 (lima) apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 10


(sepuluh) tenaga teknis kefarmasian;
d. 1 (satu) apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh minimal 2
(dua) tenaga teknis kefarmasian;
e. 1 (satu) apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2 (dua)
tenaga teknis kefarmasian;
f. 1 (satu) apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang
dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau
rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya
disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit;
dan
g. 1 (satu) apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap
melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan
dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan
dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.
B. Tugas dan Fungsi Insalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
Menurut PerMenKes Nomor 58 Tahun 2014 tentang standar
pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit, Tugas Instalasi Farmasi Rumah Sakit
yaitu:
1. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi seluruh
kegiatan Pelayanan Farmasi Klinis yang optimal dan profesional serta
sesuai prosedur dan etik profesi.
2. Melaksanakan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai yang efektif, aman, bermutu dan efisien.
3. Melaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai guna memaksimalkan efek
terapi dan keamanan serta meminimalkan risiko.
4. Melaksanakan Komunikasi, Edukasi dan Informasi (KIE) serta memberikan
rekomendasi kepada dokter, perawat dan pasien.
5. Berperan aktif dalam Tim Farmasi dan Terapi.

6. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan Pelayanan farmasi


klinis.
7. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan formularium
Rumah Sakit.
Fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit, meliputi:
1.

Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis


Pakai
a.

memilih Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis

b.

Pakai sesuai kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.


merencanakan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan

c.

Bahan Medis Habis Pakai secara efektif, efisien dan optimal


mengadakan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat

d.

sesuai ketentuan yang berlaku.


memproduksi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di

e.

Rumah Sakit.
menerima Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis

f.

Habis Pakai sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku.


menyimpan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis

g.

Habis Pakai sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian.


mendistribusikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan

h.
i.
j.

Medis Habis Pakai ke unit-unit pelayanan di Rumah Sakit.


melaksanakan pelayanan farmasi satu pintu.
melaksanakan pelayanan Obat unit dose/dosis sehari.
melaksanakan komputerisasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (apabila sudah

k.

memungkinkan).
mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang terkait
dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis

l.

Pakai.
melakukan pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang sudah tidak dapat

m.

digunakan.
mengendalikan persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai.
5

n.
2.

melakukan administrasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat


Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
Pelayanan farmasi klinik.
a. mengkaji dan melaksanakan pelayanan Resep atau permintaan
Obat.
b. melaksanakan penelusuran riwayat penggunaan Obat.
c. melaksanakan rekonsiliasi Obat.
d. memberikan informasi dan edukasi penggunaan Obat baik
berdasarkan

Resep

maupun

Obat

non

Resep

kepada

pasien/keluarga pasien.
e. mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang terkait
dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai.
f. melaksanakan visite mandiri maupun bersama tenaga kesehatan
lain.
g. memberikan konseling pada pasien dan/atau keluarganya.
h. melaksanakan Pemantauan Terapi Obat (PTO).
1) Pemantauan efek terapi Obat.
2) Pemantauan efek samping Obat.
3) Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD).
i. melaksanakan Evaluasi Penggunaan Obat (EPO).
j. melaksanakan dispensing sediaan steril
1) Melakukan pencampuran Obat suntik.
2) Menyiapkan nutrisi parenteral.
3) Melaksanakan penanganan sediaan sitotoksik.
4) Melaksanakan pengemasan ulang sediaan steril yang tidak
stabil.
k. melaksanakan Pelayanan Informasi Obat (PIO) kepada tenaga
kesehatan lain, pasien/keluarga, masyarakat dan institusi di luar
Rumah Sakit.
l. melaksanakan Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS).

C. Struktur Insalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)

D. Pengertian Farmasi Rumah Sakit (FRS)


Farmasi rumah sakit adalah seluruh aspek kefarmasian yang dilakukan
disuatu rumah sakit (Siregar dan Amalia, 2003). Pelayanan farmasi rumah
sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan
rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan
obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi
semua lapisan masyarakat. Farmasi rumah sakit bertanggung jawab terhadap
semua barang farmasi yang beredar di rumah sakit tersebut (Surat Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor. 1197/MENKES/SK/2004 tentang Standar
Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit).
E. Ruang Lingkup Insalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
Untuk melaksanakan tugas dan pelayanan farmasi yang luas tersebut,
IFRS mempunyai berbagai fungsi, yang dapat digolongkan menjadi fungsi
nonklinik dan fungsi klinik. Fungsi nonklink biasanya tidak secara langsung
dilakukan sebagai bagian terpadu dan segera dari pelayanan penderita serta
lebih sering merupakan tanggung jawab apoteker rumah sakit. Jadi fungsi
nonklinik biasanya tidak memerlukan interaksi dengan professional kesehatan
lain, sekalipun semua pelayanan farmasi harus disetujui oleh staf medik
melalui panitia farmasi dan terapi (PFT). Sebaliknya fungsi klinik adalah
fungsi yang secara langsung dilakukan sebagai bagian terpadu dari perawatan
penderita atau memerlukan interaksi dengan profesional kesehatan lain secara
langsung terlibat dalam pelayanan penderita. Mutu fungsi farmasi nonklinik
dapat diakses hanya oleh apoteker, sedangkan fungsi farmasi klinik
memerlukan asesmen antar disiplin (Siregar dan Amalia, 2003).
Lingkup farmasi nonklinik adalah perencanaan; penetapan spesifikasi
produk dan pemasok; pengadaan; pembelian; produksi; penyimpanan;
pengemasan dan pengemasan kembali; distribusi dan pengendalian semua
perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan di rumah sakit secara
keseluruhan. Distribusi obat menjadi fungsi farmasi klinik apabila dalam

system distribusi rumah sakit apoteker berinteraksi dengan dokter, perawat


dan penderita (Siregar dan Amalia, 2003).
Lingkup fungsi farmasi klinik mencangkup fungsi farmasi yang sering
dilakukan dalam program rumah sakit, yaitu: pemantauan terapi obat (PTO);
evaluasi penggunaan obat (EPO); penggunaan bahan sitotoksik; pelayanan di
unit perawatan kritis; pemeliharaan formularium; penelitian; pengendalian
infeksi dirumah sakit; sentra informasi obat; pemantauan dan pelaporan reaksi
obat merugikan (ROM); system formularium; panitia faramsi, dan terapi;
system pemantauan kesalahan obat; bulletin terapi obat; program edukasi inservice bagi apoteker; dokter; dan perawat; investigasi obat; dan unit gawat
darurat (Siregar dan Amalia, 2003).
Fungsi farmasi klinik yang berkaitan yang berkaitan secara langsung
dengan penderita yaitu fungsi dalam proses penggunaan obat, mencangkup
wawancarasejarah obat penderita, konsultasi dengan dokter tentangpemiihan
regimen obat penderita tertentu, interpretasi resep/order obat; pembuatan
profil penderita (P3), konsultasi dengan perawat tentang regimen obat
penderita, pemantauan efek obat pada penderita; edukasi penderita; konseling
dengan penderita yang akan dibebaskan dari rumah sakit; pelayanan
farmakokinetik klinik; pelayanan farmasi klinik yang lebih spesialistis;
pelayanan pencampuran sediaan intravena;dan pelayanan nutrisi lengkap
parenteral (Siregar dan Amalia, 2003).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah suatu bagian/ unit/ divisi
atau fasilitas di rumah sakit, tempat penyelanggaraan semua kegiatan
pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu
sendiri
2. Tugas IFRS yaitu menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan
mengawasi seluruh kegiatan Pelayanan Farmasi Klinis yang optimal dan
profesional serta sesuai prosedur dan etik profesi.
3. Fungsi IFRS yaitu pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan
medis habis pakai pelayanan farmasi klinik
4. Farmasi rumah sakit adalah seluruh aspek kefarmasian yang dilakukan
disuatu rumah sakit
5. Ruang lingkup IFRS terbagi dua, yaitu ruang lingkup farmasi klinik dan
non klinik
B. Saran
Makalah ini masih penuh kekurangan, maka dari itu penyusun
mengharapkan kitikan yangbersifat membangun.

10

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 tentang


Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014 Tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit
Siregar dan Amalia. 2003. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Jakarta:
EGC
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor. 1197/MENKES/SK/2004 tentang
Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit

11