Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan yang secara geografis terletak di
daerah khatulistiwa, di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara
Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, berada pada pertemuan tiga lempeng
tektonik utama dunia, merupakan wilayah teritorial yang sangat rawan
terhadap bencana alam.
Sebagai negara yang besar dan terletak pada geografi berisiko, maka
Indonesia sering mengalami kejadian alam gempa bumi, gunung meletus,
banjir dan bencana lain yang dapat menimbulkan gelombang pengungsi.
Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia juga didera dengan berbagai
konflik soial berkepanjangan dengan menimbulkan gelombang pengungsi
yang besar dan dalam periode waktu pengungsian yang lama.
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yg disebabkan oleh
alam atau manusia yg mengakibatkan timbulnya korban & penderitaan
manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana
prasarana umum, gangguan terhadap tata kehidupan & penghidupan
masyarakat serta pembangunan nasional, sehingga untuk pemulihannya
memerlukan bantuan dari luar.
Dalam pelaksanaan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi
diperlukan upaya terpadu dari partisipasi masyarakat dan pemerintah dengan
semaksimal mungkin memberdayakan potensi dan sumber daya setempat.
Guna mewujudkan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan penanggulangan
bencana dan penanganan pengungsi mulai dari tingkat desa/kelurahan, maka
perlu diatur mekanisme dalam suatu sistem yang dapat mendorong
kemandirian dan keswadayaan masyarakat, sehingga masyarakat memiliki
kemauan dan kemampuan melakukan berbagai upaya antisipatif dan
partisipatif, secara terpadu melalui swadaya masyarakat, yang dipelopori oleh
anggota Satuan Hansip/Linmas yang terlatih di bawah koordinasi kepala desa/
lurah. Agar terciptanya keterpaduan langkah dan tindakan antara, komponen
komponen masyarakat dan pemerintah dalam pelaksanaan penanggulangan

bencana dan penanganan pengungsi, maka perlu disusun pedoman tentang


penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi di daerah yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri. Bencana memang
mengganggu lingkungan dan meningkatkan terjadinya wabah penyakit.
Pengetahuan untuk pengelolaan bencana sangat penting untuk mengantisipasi
penyakit menular saat dan pasca bencana. Bila usaha tidak segera dilakukan
maka akan terjadi hal yang lebih buruk. Yang paling penting adalah
melindungi pengadaan air bersih, suplai makanan serta menyediakan sanitasi
lingkungan yang baik, serta memonitor kondisi masyarakat secara cepat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pengendalian pada pengungsian?
2. Bagaimana cara pengendalian penyakit menular pada pengungsian?
3. Bagaimana Cara mengurangi resiko terjadinya penularan penyakit?
4. Bagaimana Manajemen kesehatan lingkungan dalam bencana?
C. Tujuan Dan Manfaat
1. Untuk mengetahui pengertian pengendalian pada pengungsian.
2. Untuk mengetahui bagaimana cara pengendalian penyakit menular pada
pengungsian.
3. Untuk mengetahui Cara mengurangi resiko terjadinya penularan penyakit.
4. Untuk mengetahui Manajemen kesehatan lingkungan dalam bencana.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengendalian Pada Pengungsian.
Pengendalian pengungsi adalah suatu upaya dan kegiatan yang ditujukan
kepada pengungsi sebagai akibat bencana perang, bencana alam, bencana
akibat ulah manusia maupun akibat konflik sosial, yang meliputi langkahlangkah penyelamatan/perlindungan, evakuasi, pemberian bantuan darurat,
rehabilitasi mental, rehabilitasi dan atau rekonstruksi sarana-prasarana fisik,
rekonsiliasi, pengembalian/pemulangan, pemberdayaan, dan pemindahan/
relokasi.
Pengungsian adalah peristiwa berpindahnya penduduk dari suatu tempat
ketempat lainnya untuk mengamankan dan menyelamatkan diri akibat
terjadinya suatu peristiwa mendadak seperti bencana dan konflik sosial
maupun sebab lain yang terjadi di suatu tempat. Terjadinya pengungsian
memerlukan upaya penanggulangan sehingga tidak berdampak timbulnya
kondisi emergensi dengan kematian yang besar.berdasarkan pengalaman
selama ini, kejadian pengungsian sekelompok orang dalam jumlah yang
cukup besar akan terjadi risiko terhadap status kesehatan masyarakat
pengungsi, baik pada saat melakukan pengungsian,maupun pada saat berada
di tempat penampungan pengungsi. Risiko perubahan status kesehatan akan
terjadi sangat cepat, tidak terduga dan lebih dari itu,adanya penyakit
sekunder, terutama penyakit menular potensi KLB, dapat berisiko jatuhnya
korban yang besar.Untuk mempersiapkan kondisi rawan dengan sikap
antisipatif terhadap program pencegahan penyakit, maka peran surveilans
epidemiologi untuk menetapkan priotitas program perlu dibangun.
Masalah kesehatan berawal dari kurangnya air bersih yang berakibat
pada buruknya kebersihan diri dan sanitasi lingkungan yang menyebabkan
perkembangan beberapa penyakit menular.

B. Pengendalian Penyakit Menular Pada Pengungsian.


Manajemen kesehatan masyarakat dimanfaatkan

untuk

menekan

kemungkinan terjadinya penularan dan penyebarluasan penyakit ke orang


lain, sehingga angka kesakitan (insidance rate) dan angka kematian (mortality
rate) dapat diturunkan. Manajemen kesehatan masyarakat lebih menekankan
pada upaya pencegahan penularan dengan cara memutus mata rantai
penularan. Cara memutus mata rantai penularan penyakit yaitu:
1. Melakukan manajemen kasus, baik pengobatan maupun

profilaksis.

Cara ini dapat secepatnya membersihkan tubuh penderita dari agen


penyakit, sehingga penderita atau karier tidak lagi menjadi sumber
penularan.
2. Memutus kemungkinan penularan agen penyakit dari penderita ke orang
sehat dengan cara isolasi. Misalnya penderita istirahat dirumah dan tidak
usah tidak masuk sekolah atau kerja selama sakit, terutama penderita yang
penularannya ke orang lain melalui penularan langsung udara, misalnya
campak, influenza, difteri dan sebagainya. Penyakit dengan penularan
melalaui nyamuk, seperti demam dengue, malaria sebaiknya juga
beristirahat dirumah selama periode penularan.
3. Meningkatkan daya tahan setia perorang dengan cara perbaikan status gizi,
sehingga tubuh mampu menahan serangan agen penyakit, atau
memproduksi antibodi dengan cepat. Upaya peningkatan daya tahan tubuh
dapat dilakukan dengan meningkatkan imunitas secara aktif melalui
pemberian imunisasi, misalnya imunisasi campak, difteri,batuk rejan dan
sebagainya.
4. Melakukan perbaikan kondisi lingkungan agar tidak rentan menjadi
sumber penularan penyakit.

Sementara upaya sanitasi lingkungan terus diperhatikan, seperti suplai air


bersih, penyediaan makanan, pembuangan limbah yang baik, dan kontrol
terhadap vektor. Air bersih yang dibutuhkan sesuai dengan rekomendasi WHO
adalah sekitar 15 - 20 liter per hari. Kebersihan makanan dijamin dengan
adanya dapur umum dan lokasi pemberian makanan yang cukup memadai

untuk meyakinkan pemberian nutrisi dan vitamin yang cukup. Sumbangan


berupa makanan juga harus diseleksi untuk menghindari konsumsi makanan
yang sudah basi. Kontrol terhadap vektor sebaiknya dilakukan dengan
mengembalikan dan memperkuat program pengendalian vektor yang sudah
ada sebelummya.
C. Mengurangi resiko terjadinya penularan penyakit.
Untuk mengurangi risiko terjadinya penularan penyakit, maka beberapa
hal yang harus diperhatikan yaitu:
1. Pasokan/penyediaan air bersih
Dalam kondisi bencana pasokan/penyediaan air sangat penting, hal ini
dikarenakan merupakan kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi untuk
menjaga kelangsungan hidup, banyak kasus ditemukan ketika bencana
sering terjadi kekurangan air dikarenakan akses yang terputus sehingga
kuantitas tidak memadai ataupun ada kualitas airnya tidak memenuhi
syarat kesehatan, akibat dari hal tersebut masyarakat menjadi rentan
terhadap penyakit.
Untuk itu didalam pasokan/penyediaan air bersih kita harus
memperhatikan :
a. Kuantitas air (Jumlah air): Jumlah air dapat diperoleh jika kita
mengetahui jenis sumber air. Jenis Sumber Air:
- air tanah : Sumur, Mata air
- air permukaan :kolam, sungai, telaga
- air hujan.
b. Kualitas Air. Selain dari kuantitas yang cukup, juga kita harus
memperhatikan kualitasnya, sehingga air yang dikonsumsi tidak
menimbulkan resiko terhadap kesehatan. Yang perlu diperhatikan
untuk bisa memenuhi kualitas air adalah :
Pemeriksaan kualitas air.
Ada tiga cara dalam pemeriksaan kualitas air :
Pemeriksaan secara fisik (warna, rasa, dan bau).
Pemeriksaan secara biologi ( pemeriksaan bakteri pathogen ; EColi, yang disebabkan oleh tercemarnya air oleh kotoran tinja).
Pemeriksaan secara kimia (chlor, Ph,Ni,Na,Fe, dan lainnya).
c. Sarana dan piranti air.
Masyarakat mempunyai sarana dan piranti yang mencukupi untuk
mengumpulkan, menyimpan, dan menggunakan air untuk minum,

memasakan, dan kebersihan pribadi, dan memastikan air minum tetap


aman sampai pada waktu dikonsumsi. Pada bencana hal pertama
dilakukan adalah pembagian jeriken.
2. Pembuangan tinja.
Pembuangan tinja yang aman dapat mengurangi resiko penyakit yang
ditimbulkan baik langsung atau tidak langsung, penyediaan saran yang
tepat adalah satu dari beberapa respon kedaruratan yang paling penting
untuk menjamin martabat, kemanan, kesehatan, dan kesejahteraan
penduduk.
Didalam pembuangan tinja, hal yang harus diperhatikan adalah :
a. Jumlah dan akses ke jamban.
Masyarakat berhak mendapat jumlah jamban yang memadai, cukup
dekat dengan tempat tinggal, untuk mengkinkan akses yang cepat,
aman, dan pantas baik siang maupun malam.
Didalam membangun jamban, yang harus diperhatikan adalah :
o Pemisahan jamban berdasarkan jenis kelamin.
o Tempat buang air besar.
Dalam kondisi bencana kadang tindakan dalam membuat jamban
harus segara dilakukan, untuk itu jamban lubang (pit Latrines)
adalah alternatif yang bisa dilakukan.
o Pemeliharaan.
Dilokasi pengungsian jamban yang dibangun, tentunya merupakan
jamban umum, yang harus diperhatikan memberikan kesadaran dan
membuat

pertemuan

dengan

sesama

pengungsi

untuk

memnentukan bentuk pemeliharaan jamban, sebaiknya didalam


jamban umum disediakan sabun, pembalut, dan jarak jamban.
3. Pengendalian vektor.
Vektor adalah suatu agent/penyebab pembawa penyakit, dan salah satu
penyakit yang ditimbulkan disituasi bencana adalah melalui vektor yang
tidak terkontrol. Contoh Vektor/hama dan Jenis penyakit yang
ditimbulkan :
o Nyamuk, biasanya hidup dan berkembang biak di tempat yang banyak
terdapat genangan air, merupakan vektor penyakit Malaria, Demam
Berdarah.

o Lalat/ kecoak, biasanya hidup ditempat yang banyak menyediakan


makan dan berbau (Tempat sampah), merupakan vektor penyakit perut
(diare dan sejenisnya).
o Kutu/ Mites, biasanya terdapat di Handuk, air yang kotor, tempat tidur
yang kotor....ada juga sih yang hidup di tubuh manusia, penyebab
Scabies.
o Tikus, biasanya hidup di tempat Sanpah, merupakan vektor penyakit
Salmonella, leptospirosis.
4. Manajemen Sampah.
Pada saat bencana sering dijumpai kondisi sanitasi yang buruk, seperti
: sering ditemukannya puing-puing, sampah-sampah dan jenis limbah
lainnya yang berserakan akibat bencana yang ditimbulkan. Hal tersebut
akan menjadi masalah kesehatan.
Sampah adalah semua benda yang sudah tidak terpakai lagi baik yang
berasal dari rumah maupun, proses industri, sampah rumah sakit. Sampah
digolongkan menjadi dua yaitu Sisa makanan yang mudah membusuk
(Organik) dan Sisa barang yang yidak dapat membusuk (an-Organik) Hal
yang harus diperhatikan dalam pengelolaan sampah :
Pengumpulan :
o Pembuatan Tempat Sampah (Tong Sampah, lubang sampah)
o Pembuatan TPS (Tempat Pembuang Sampah Sementara) .
o Pembuatan TPA (Tempat Pembuatan Sampah Akhir).
Pengangkutan : Gerobak atau Mobil Sampah
Pengolahan : Dibuang pada tahan galian/tempat rendah, Dikubur pada
tanha galian, dan Dibakar.
5. Drainase.
Pada situasi bencana, salah satu masalah bidang sanitasi adalah pada
Drainase/saluran air yang rusak atau tidak diperhatikan, hal ini bisa dilihat
dari tercemarnya air permukaan di lokasi pengungsi yang berasal dari
limbah rumah tangga atau titik-titik distribusi air, kebocoran jamban, got,
air hujan ait banjir.

Drainase adalah saluran air, tujuannya mengalirkan air dengan


membuat saluran untuk menghindari genangan yang merupakan sarang
pekembangbiakan veltor/pembawa penyakit.
Perlunya drainase pada kondisi bencana Supaya tidak mencemari air
permukaan : sumur, sungai atau danau
perkembangbiakan

nyamuk,

lalat,

kecoa,

yaitu Tidak menjadi


dan

lipas

dan

Tidak

mengganggu pemandangan.
Cara pemeliharaan drainase yaitu:
o periksa lubang saluran.
Bila ada kotoran yang tersangkut, ambil dan buang ketempat sampah.
o Sesekali siram dengan air agar terjadi penyumbatan oleh tanah yang
terbawa air.
6. Penyuluhan Kesehatan.
Tujuan dari penyuluhan adalah untuk mengajak masyarakat dan
memberikan kesadara dalam pentingnya kesehatan pribadi dan kesehatan
lingkungan. Perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kebersihan
mencakup: penggunaan/ pemeliharaan jamban/ kebiasaan mencuci tangan
dengan sabun/ pengumpulan dan penyimpanan air yang tidak bersih/
memasak makanan yang tidak bersih.
Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam menyuluh yaitu:
Saling berbagi informasi dan pengetahuan.
Penggerakan masyarakat (menggunakan pola partisipatif).
Penyediaan bahan dan sarana yang penting.
D. Manajemen kesehatan lingkungan dalam bencana.
1. Area Prioritas Intervensi Kesehatan Lingkungan.
Kelangsungan dan rehabilitasi yang segera dari layanan kesehatan
lingkungan yang efektif merupakan prioritas utama dalam manajemen
kesehatan darurat setelah serangan bencana alam. Pertimbangan pertama
harus diberikan ke wilayah yang risiko kesehatannya meningkat. Wilayah
semacam ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan pelayanan
yang mengalami kerusakan parah. Area prioritas kedua adalah wilayah
dengan kepadatan penduduk yang tinggi sementara tingkat kerusakannya
menengah, atau wilayah dengan kepadatan menengah dan tingkat
kerusakan parah. Prioritas ketiga harus diberikan pada daerah yang
kepadatan penduduknya rendah dan tingkat kerusakan layanannya rendah.

Daerah dengan kepadatan penduduk tinggi adalah wilayah kota dan


pinggiran kota, kamp untuk pengungsi dan penduduk yang pindah, dan
penampungan sementara. Rumah sakit dan klinik kesehatan termasuk di
antara

fasilitas

yang

membutuhkan

prioritas

layanan

kesehatan

lingkungan.
2. Layanan Kesehatan Lingkungan Prioritas
Pertimbangan pertama harus diberikan kepada layanan esensial
untuk melindungi dan menjamin kesejahteraan penduduk di daerah yang
berisiko tinggi, dengan penekanan pada upaya pencegahan dan
pengendalian

penyakit

menular.

Upaya

kesehatan

lingkungan

pascabencana dapat dibagi dalam dua prioritas, yaitu:


o Memastikan bahwa terdapat kecukupan jumlah air minum yang aman;
kecukupan fasilitas sanitasi dasar; pembuangan ekskreta, limbah cair,
dan limbah padat; dan penampungan yang cukup.
o Melaksanakan upaya perlindungan makanan, membentuk atau
melanjutkan upaya pengendalian vektor dan mempromosikan personal
hygiene
Berikut

tindakan

yang

direkomendasikan

untuk

mempercepat

pembangunan kembali layanan dan kondisi kesehatan lingkungan:


a. Peroleh informasi tentang pergerakan penduduk di dalam atau di dekat
daerah serangan dan buat lokasi kamp untuk pengungsi dan orang
berpindah, daerah yang sebagian dan/atau seluruhnya dievakuasi,
penampungan tenaga bantuan, dan RS serta fasilitas medis lain.
Informasi ini akan membantu penentuan lokasi yang membutuhkan
perhatian utama.
b. Lakukan pengkajian cepat untuk menentukan tingkat kerusakan sistem
persediaan air masyarakat dan SPAL serta produksi, tempat
penyimpanan, dan jaringan distribusi makanan.
c. Tentukan kapasitas operasional yang tersisa untuk melaksanakan
layanan dasar kesehatan lingkungan ini.
d. Lakukan inventarisasi sumber daya yang masih tersedia, termasuk
persediaan makanan yang tidak rusak, SDM, serta peralatan, materi,
dan persediaan siap pakai.
9

e. Tentukan kebutuhan penduduk akan air, sanitasi dasar, perumahan dan


makanan.
f. Penuhi kebutuhan fasilitas esensial secepat mungkin setelah
kebutuhan konsumsi dasar manusia terpenuhi. RS dan fasilitas
kesehatan lain mungkin membutuhkan peningkatan pasokan air jika
jumlah korban bencana sangat banyak.
g. Pastikan bahwa pengungsi dan orang berpindah telah mendapat
penampungan yang tepat dan bahwa penampungan sementara itu dan
daerah berisiko tinggi lainnya memiliki layanan kesehatan lingkungan
dasar.

10

3. Program Sanitasi Lingkungan.


Tujuan utama program-program sanitasi dalam situasi bencana
adalah untuk memberikan martabat bagi penduduk dan mengurangi risiko
terkait terhadap penyakit-penyakit yang ditularkan melalui jalur tinjamulut (fekal-oral). Sanitasi bukan hanya melulu jamban. Konstruksi saja
tidak akan memecahkan semua permasalahan sanitasi. Pastikan bahwa
penduduk yang terkena dampak bencana memiliki informasi, pengetahuan
dan pemahaman yang diperlukan untuk mencegah penyakit karena
sanitasi yg buruk.
4. Penampungan.
Akomodasi jangka pendek tempat populasi yang terpengaruh dapat
tinggal sampai bencana berlalu dan kembali ke rumah mereka sesegera
mungkin. Oleh karena itu tidak dirancang untuk menyediakan layanan
kebutuhan dasar bagi ratusan orang selama periode yang berkepanjangan..
5. Persediaan Air.
Survei terhadap semua persediaan air masyarakat harus
dilaksanakan, dimulai pada sistem distribusi dan berlanjut pada sumber
air. Sangat penting untuk menentukan keutuhan fisik komponen sistem,
kapasitas yg tersisa, mutu bakteriologi serta kimia dari air yang
disediakan.
Aspek keamanan umum yang utama dari mutu air adalah
kontaminasi bakeri. Prioritas pertama untuk memastikan mutu air dalam
situasi darurat adalah dengan metode klorinasi. Rekomendasi yang
diberikan dalam aktivitas pemulihan adalah peningkatan kadar residu
klorin dan peningkatan tekanan. Tekanan air yang rendah akan
memperbesar kemungkinan masuknya polutan dalam pipa air. Pipa,
reservoir, dan unit lainnya yang telah diperbaiki memerlukan pembersihan
dan desinfeksi. Kadar minimum yang direkomendasikan dalam situasi
darurat untuk kadar residu klorin bebas adalah 0,7 mg/l. Kontaminasi
kimia dan toksisitas merupakan prioritas kedua dalam mutu air dan
kontaminan kimia potensial harus diidentifikasi dan dianalisis.
6. Sumber air alternatif.

11

Berdasarkan urutan pilihan yang umum, pertimbangan harus diberikan


pada sumber air alternatif yaitu air tanah dalam, air tanah dangkal/mata
air, air hujan dan air permukaan.
Sumber air yang ada dan yang baru memerlukan langkah-langkah
perlindungan berikut:
1. Batasi akses untuk manusia dan hewan.
2. Pastikan sumber pencemaran Jaraknya cukup aman dari sumber air.
3. Tetapkan larangan mandi, mencuci, dll di daerah hulu sebelum lokasi
pengambilan sediaan air baik di sungai maupun anak sungai.
4. Perbaiki konstruksi sumur untuk memastikan keterlindungannya dari
kontaminasi.
5. Estimasi volume maksimum air sumur.
Dalam situasi darurat, air diangkut dengan truk ke daerah atau kamp
yang terkena bencana. Semua truk harus menjalani inspeksi untuk
memastikan kekuatannya dan harus dibersihkan dan didesinfeksi sebelum
digunakan untuk mengangkut air.
7. Keamanan Makanan.
Higiene yang buruk merupakan penyebab utama foodborne diseases
dalam situasi bencana. Jika program pemberian makanan memang
berlangsung di lokasi atau kamp penampungan, sanitasi dapur menjadi
prioritas yang paling penting. Peralatan makan harus dicuci dalam air
mendidih atau air bersih, higiene personal harus dipantau terutama
terhadap mereka yang terlibat dalam penyiapan makanan. Penyimpanan
makanan harus dapat mencegah kontaminasi.
8. Sanitasi Dasar dan Higiene Personal.
Banyak penyakit menular menyebar melalui air minum dan makanan
yang terkontaminasi feses. Dengan demikian, harus dilakukan upaya
untuk memastikan pembuangan ekskreta yang saniter. Jamban darurat
harus disediakan bagi mereka yang dipindahkan, pengungsi, tenaga
relawan, dan penduduk sekitar yang fasilitas toiletnya hancur.
Hygiene personal cenderung menurun setelah bencana alam,
khususnya di daerah yang penduduknya padat dan tempat-tempat yang
kekurangan air. Upaya-upaya berikut direkomendasikan:
a. Menyediakan fasilitas dasar cuci tangan.

12

b. Menyediakan fasilitas MCK.


c. Memastikan ketersediaan air yang memadai.
d. Menghindari overcrowding di area tidur.
e. Menyelenggarakan promosi kesehatan
9. Jamban.
Pembuatan jamban dalam situasi darurat umumnya menggunakan
terpal plastik. Dalam situasi keadaan darurat yang ekstrem, bisa jadi
lokasi untuk buang air besar berupa lapangan. Dalam situasi-situasi yang
lebih mapan, mestinya bisa dibangun jamban untuk keluarga. Ingat
perempuan, anak-anak, penyandang cacat dan orang sakit memiliki
kebutuhan yang berbeda dari laki-laki. Mungkin diperlukan jamban
dengan desain khusus untuk mereka.
10. Pengelolaan Limbah Padat.
Pengelolaan limbah padat kerap menimbulkan satu masalah khusus
dalam situasi darurat. Selama periode pascabencana masalah yang sering
muncul adalah puing-puing bangunan, pohon, bangkai dan sampah
lainnya. Pembersihan awal reruntuhan secara cepat sangat penting untuk
upaya rehabilitasi. Pembuangan barang bekas dll yang saniter merupakan
cara yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit bawaan vector.
Pengumpulan sampah harus sesegera mungkin dilaksanakan kembali di
daerah yang terserang bencana. Hindari pembuangan sampah di tempat
terbuka. Cermati pembuangan limbah B3.
11. Pengendalian Vektor.
Program pengendalian untuk penyakit bawaan vektor harus
digencarkan selama periode darurat dan rehabilitasi, khususnya di wilayah
yang endemic. Prioritas dilakukan untuk daerah endemik leptospirosis,
DBD, malaria, tifus, dan pes. Berikut ini adalah langkah-langkah darurat
penting untuk pengendalian vektor:
a. Pulihkan aktivitas pengumpulan dan pembuangan sampah yang
saniter sesegera mungkin
b. Selenggarakan promosi kesehatan untuk memusnahkan tempat
perkembangbiakan vektor dan tentang upaya untuk mencegah infeksi,
termasuk hygiene personal.

13

c. Lakukan survei pada kamp dan wilayah berpenduduk padat untuk


mengidentifikasi lokasi perkembangbiakan potensial nyamuk, hewan
pengerat, dan vektor lainnya.
d. Musnahkan tempat perkembangbiakan vektor dengan mengeringkan
dan/atau menimbun kolam, empang, dan rawa-rawa, melakukan
gerakan 3M, dll.
e. Lakukan pengendalian kimia jika perlu.
f. Simpan makanan dalam tempat tertutup dan terlindung.

14

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengendalian pengungsi adalah suatu upaya dan kegiatan yang ditujukan
kepada pengungsi sebagai akibat bencana perang, bencana alam, bencana
akibat ulah manusia maupun akibat konflik sosial, yang meliputi langkahlangkah penyelamatan/perlindungan, evakuasi, pemberian bantuan darurat,
rehabilitasi mental, rehabilitasi dan atau rekonstruksi sarana-prasarana fisik,
rekonsiliasi, pengembalian/pemulangan, pemberdayaan, dan pemindahan/
relokasi.
Pengungsian adalah peristiwa berpindahnya penduduk dari suatu tempat
ketempat lainnya untuk mengamankan dan menyelamatkan diri akibat
terjadinya suatu peristiwa mendadak seperti bencana dan konflik sosial
maupun sebab lain yang terjadi di suatu tempat.
Manajemen kesehatan masyarakat dimanfaatkan

untuk

menekan

kemungkinan terjadinya penularan dan penyebarluasan penyakit ke orang


lain, sehingga angka kesakitan (insidance rate) dan angka kematian (mortality
rate) dapat diturunkan.
Kelangsungan dan rehabilitasi yang segera dari layanan kesehatan
lingkungan yang efektif merupakan prioritas utama dalam manajemen
kesehatan darurat setelah serangan bencana alam.
B. Saran
Demikian makalah yang telah kami susun, kami menyadari masih
terdapat beberapa kekurangan dalam penulisan makalah ini, kami sebagai
penyusun mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat manambah
pengetahuan serta lebih bisa memahami pokok bahasan, bagi para
pembacanya dan khususnya bagi kami sebagai penyusun.

15

DAFTAR PUSTAKA
Yusuf, Farida. 2009.Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi, Jakrta : Penerbit
Rineka Cipta
http// Manajemen Kesehatan Lingkungan Dalam Bencana _ Fadhil Hayat's
Blog.htm (diposkan oleh fadhil hayat, 14 okteber 2010)
Amir, A . 2013. Penanggulanagan bencana . Makalah pada Universitas
Sumatera Utara: Medan
Anonim . 2011. Modul 5 Surveilans dan managemen bencana. Pusat Kebijakan
dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada : Yogyakarta
Hidayat, Aep Nurul . 2014. Pengertian Bencana. Makalah pada Politeknik
TEDC Bandung : Bandung
Oktiavenny, Rizky, 2010, Definisi dan Jenis Bencana ,Makalah pada
UNiversitas Negeri Yogyakarta , Yogyakarta Paripurno, Eko
Teguh. 2010. Mereduksi Resiko Bencana dan Konflik dalam Pengelolaan
Lingkungan dan Sumber Daya Alam Jurnal dari UPN Veteran
Yogyakarta : Yogyakarta

16