Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Visi Departemen Kesehatan dalam rangka mencapai misi Indonesia Sehat
2010 adalah Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat dengan Misi Membuat
Masyarakat Sehat, yang akan dicapai melalui 4 strategi yaitu, menggerakkan dan
memberdayakan

masyarakat

terhadap

pelayanan

kesehatan

berkualitas,

meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan serta


meningkatkan pembiayaan kesehatan.Desa Siaga merupakan salah satu sasaran
dari tiga sasaran strategi pertama, dimana pada akhir tahun 2008, seluruh desa
telah menjadi desa siaga. (Depkes RI, 2006). Desa siaga adalah desa yang
penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan
untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan
kegawat-daruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah desa dikatakan menjadi desa
siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos
Kesehatan Desa (Poskesdes). (Depkes RI, 2006 : 5).
Menurut data dari Departemen Kesehatan RI, pada tahun 2008 jumlah
desa siaga sudah mencapai 50% dari seluruh desa di Indonesia, sedangkan di Jawa
Timur dari 9.324 desa sudah 8.477 (90,9%) desa yang di tetapkan menjadi desa
siaga (Depkes RI, 2008).

Program desa siaga dikembangkan dari program

kesehatan Ibu hamil dan bayi (Maternal and Neonatal Health Program/MNH)
yang didukung oleh USAID pada tahun 2002-2003. Program ini berupaya untuk

menyelaraskan tanggung jawab Negara dengan partisipasi masyarakat dalam


pelayanan kesehatan.Salah satu tujuan utama program ini adalah menurunkan
angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir.Angka kematian ibu
307/100.000 kelahiran hidup, masih terlalu jauh dari target tahun 2010 sebesar
125/100.000 kelahiran hidup (kh).Sementara angka kematian balita 46/1.000 kh
dari target 30/1.000 kh tahun 2010 (Depkes, 2002).Dibandingkan dengan negara
lain di Asia Tenggara, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah yang
tertinggi. Di JawaTimur, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Angka Kematian
Ibu (AKI) menurun dari 334 tiap 100.000 kelahiran hidup tahun 1997, menjadi
262 setiap 100.000 tahun 2005. Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB)
menurun dari 44,64 tiap 1.000 kelahiran hidup tahun 2002-2003, menjadi 35,32
tiap 1.000 pada tahun 2005-2006. Penurunan angka ini, seharusnya tidak lantas
membuat Pemerintah bangga diri.Karena, AKI dan AKB saat ini masih tergolong
tinggi.Upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia khususnya
Jatim belum maksimal, karena masih terlalu tinggi, setidaknya AKI yang normal
70 tiap 100.000 melahirkan hidup dan AKB 10 tiap 1.000.
Untuk mengoptimalkan pelaksanaan desa siaga salah satu diantaranya
yaitu diperlukan keikutsertaan masyarakat, baik secara kualitas maupun
kuantitas.Keikutsertaan masyarakat dipengaruhi oleh sikap masyarakat yang
berbeda-beda,

yaitu

sikap

yang

tidak

mendukung

dan

sikap

yang

mendukung.Kegiatan yang dapat dilakukan untuk menghapus sikap yang tidak


mendukung pada masyarakat dalam pelaksanaan desa siaga antara lain:
melakukan musyawarah, seminar, loka karya dan pelatihan-pelatihan pada

masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan apa itu desa siaga
sehingga sikap masyarakat yang tidak mendukung berubah menjadi mendukung
terhadap pelaksanaan desa siaga. Jika masyarakat sudah mendukung dengan
pelaksanaan desa siaga maka pelaksanaan desa siaga akan berjalan

secara

optimal. Berdasarkan kondisi di atas, maka yang menjadi masalah dalam


penelitian

ini adalah untuk mengetahui pengaruh Desa Siaga terhadap

peningkatan derajat kesehatan di Kecamatan Balongbendo.

1.2 RumusanMasalah
Berdasarkan latar belakang di atas ,maka rumusan masalah yang kami
kemukakan dalam makalah ini adalah :
Apakah

ada

pengaruh

peran Desa Siaga terhadap peningkatan

derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Balongbendo ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui

keberhasilan

program

desa

siaga

di

Kecamatan

Balongbendo.
2. Mengetahui derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Balongbendo.
3. Menganalisis hubungan antara desa siaga dengan derajat kesehatan
masyarakat.

1.4 Manfaat
a) Bagi Masyarakat
Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat desa yang tanggap
terhadap

masalah-masalah

kesehatan

(bencana

dan

kegawatdaruratan

kesehatan) demi terwujudnya peningkatan derajat kesehatan di desanya.


b) Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan dapat dijadikan pengalaman berharga dalam
membuat penelitian khususnya tentang pengaruh pelaksanaan Desa Siaga
terhadap peningkatan derajat kesehatan.
c) Bagi Puskesmas
Mengetahui faktor-faktor yang dapat menghambat berjalannya desa siaga
demi terwujudnya peningkatan derajat kesehatan di masing-masing desa
binaan.
d) Bagi tenaga kesehatan
Hasil penelitian ini menjadi masukan bagi tempat pelayanan dan tenaga
kesehatan untuk memasyarakatkan pelaksanaan desa Siaga sehingga Desa
Siaga terlaksana secara optimal