Anda di halaman 1dari 13

Learning Objectives:

I. Mengetahui faktor penyebab distokia


II. Mengetahui penanganan distokia
Pembahasan Learning Objectives:
I. FAKTOR PENYEBAB DISTOKIA
Sebab-sebab distokia dibagi menjadi dua yaitu sebab dasar dan sebab
langsung. Sebab dasar distokia antara lain herediter, gizi, tatalaksana,
infeksi, traumatik dan berbagai sebab lain. Sedangkan sebab langsung
distokia dapat dibedakan dalam distokia tipe maternal dan tipe fetal.
A. Sebab-Sebab Dasar
1. Herediter
Sebab-sebab herediter distokia dapat dibagi atas faktor-faktor yang
terdapat pada induk yang berpredisposisi terhadap distokia, atau faktorfaktor tersembunyi atau gen-gen resesif pada induk dan pejantan yang
dapat menghasilkan fetus yang defektif. Gen-gen tersembunyi atau resesif
pada pejantan atau betina dapat menimbulkan kondisi patologik yang
mempengaruhi foetus atau selaputnya, yang pada gilirannya menyebabkan
distokia (Toelihere, 1981).
2. Nutrisional dan manajemen
Kondisi makanan ternak yang sedang bunting dan manajemen pada
waktu partus sangat erat berhubungan dan merupakan merupakan sebabsebab dasar dari banyak distokia. Distokia karena ukuran induk yang kecil
sering ditemukan pada sapi dara yang baru pertama kali beranak. Pemberian
makanan yang tidak sempurna pada sapi dara yang sedang tumbuh
merupakan faktor paling utama dalam menghambat pertumbuhan tubuh dan
pelvis (Toelihere, 1981) .
3. Sebab-sebab infeksius
Setiap infeksi atau penyakit yang mempengaruhi uterus bunting dan
isinya dapat menyebabkan abortus, uterus tak bertonus, kematian fetus dan
metritis septic pada kebuntingan (Toelihere, 1981).
4. Sebab-sebab traumatik
Sebab-sebab traumatik terhadap distokia jarang ditemukan. Hernia
ventralis dan rupture tendon prepubis menyebabkan distokia karena

ketidaksanggupan kontraksi abdominal yang ditimbulkannya, sehingga induk


tidak dapat mendorong fetus keluar. Torsio uteri dapat disebabkan oleh selip,
jatuh atau terguling secara tiba-tiba pada kebuntingan tua (Toelihere, 1981).
5. Sebab-sebab lain
Penyebab kelainan-kelainan kecil dalam posture, seperti kaki yang
melipat atau leher dan kepala yang membengkok ke sisi, sehingga
menyebabkan distokia pada fetus hidup dan uterus normal, sulit diterangkan
(Toelihere, 1981).
B. Sebab-Sebab Langsung
1. Penyabab maternal
Disebabkan karena kegagalan tenaga mendorong keluar dan obstruksi
saluran peranakan.
Uterus

Inersi

Kegagalan untuk mendorong keluar


uterineGangguan myometrium, pemekaran

primer

yang

berlebihan, degenerasi (ketuaan, toksik, dll),


infeksi uterus, penyakit sistemik, jumlah anak
sekelahiran yang sedikit, heriditer
Defisiensi
biokimiawi:
estrogen/progesterone,

rasio
oksitosin,

Inersia uterine

prostalglandin F2, relaksin, kalsium, glukosa.


Histeris gangguan lingkungan
Oligoamnion (defisiensi cairan amnion)
Kelahiran premature
Sebagai konsekuensi dari penyebab distokia

sekunder
Kerusakan

yang lain
Termasuk rupture

uterus
Torsi uterus

Dapat juga menyebabkan obstruksi saluran

peranakan
Abdomin Ketidakmampua Karena umur, kesakitan, kelemahan, rupture
al

untukdiafragma, kerusakan trachea/laringeal

mengejan
(Jackson, 2007)
Tulang
pelvis

Obstruksi saluran Peranakan


Fraktur, ras, diet, belum dewasa, neoplasia, penyakit

Jaringan

Vulva

Cacat congenital, fibrosis, belum dewasa.

Vagina

Cacat congenital, fibrosis, prolaps, neoplasia,

Servik

abses, perivagina, hymen.


Cacat congenital, fibrosis,

lunak

Uterus

kegagalan

untuk

dilatasi.
Torsi, deviasi, herniasi, adhesi, stenosis.
(Jackson, 2007)

2. Penyebab fetal
No

Penyebab fetal

.
1 Defisiensi hormon ACTH/cortisol: inisisi kelahiran
2 Disproporsi
Fetus yang terlalu besar, Cacat pelvis, Monster
3

fetopelvis
Maldisposisi fetal

fetus
Malpresentas Tranversal,
i
Malposisi
Malpostur

lateral,

vertical,

simultaneous.
Ventral, lateral, miring.
Deviasi dari kepala dan kaki.

Kematian fetus
(Jackson, 2007)

Macam-Macam Maldisposisi Fetal (Toelihere, 1981):

Presentasi
Posisi
Posture
sinister

: Longitudinal anterior
: Dorso pubis
: Head neck flexion posture

Presentasi
Posisi
Posture

: Longitudinal anterior
: Dorso sacral
: Bilateral carpal flexion posture

Presen
tasi
:
Longit
udinal
anterio
r
Posisi
:
Dorsal
Postur
e
:
Down
ward/
vertex
postur
e

Presenta
si
:
Longitud
inal
anterior
Posisi
: Dorso
sacral
Posture
:
Unileter
al carpal
flexion
posture
sinister

Pre
sen Pre
tas sen
tasi
i
:
:
Do
Lon
rso
tra git
nv udi
ers nal
al ant
Pos eri
isi or
Pos
isi
:
Illia
l
de :
xte Dor
so
r
Pos sac
tur ral
e Pos
tur
: e
He
ad
ne :
ck Do
fle g
xio sitt
n ing
pos pos
tur tur
e e

posture

Presen Presen
tasi
tasi
:
:
Longit Longit
udinal udinal
anterio posteri
r
or
Posisi Posisi
:
ventro
sacral
Postur
e
:
Bilater
al
carpal
flexion
postur
e

:
Dorso
sacral
Postur
e
:
Bilater
al hip
flexion
postur
e
postur
e

Presentasi
: Longitudinal anterior
Posisi
: Dorso sacral
Posture
: Unilateral shoulder flexion
posture dexter
posture

(Toelihere, 1981)

II. PENANGANAN DISTOKIA


A. Manipulasi
1. Prinsip penanganan:
a. Repulsi
: mendorong fetus sepanjang saluran peranakan kearah
uterus
b. Extensi

: pembetulan letak bagian-bagian fetus yang mengalami

fleksi
c. Rotasi
: memutar tubuh fetus sepanjang sumbu longitudinal
d. Versio
: memutar fetus kedepan/ kebelakang
e. Retraksi
: penarikan fetus keluar dari tubuh induk
2. Prosedur penanganan:
a. Anamnesa. Berguna untuk mengetahui riwayat induk dan riwayat kejadian
seperti lama kebuntingan, sejarah perkawinan, apakah distokia pernah
terjadi sebelumnya, apakah hewan memperlihatkan atau menderita penyakit
selama 2 bualn terakhir sampai menjelang partus (Toelihere, 1981).
b. Pemeriksaan umum. Mencakup hal-hal: sikap berdiri sapi, suhu tubuh,
pulsus, warna selaput lendir, kondisi vulva (Toelihere, 1981).
c. Pemeriksaan khusus. seperti: mengekang hewan, dalam kondisi rebah
semua kaki diikat, pemeriksaan saluran kelahiran apakah dilatasi, berputar,
lembab dan licin, berdarah, bengkak, nekrotik, ukuran inlet pelvis, vagina

dan vulva, pemeriksaan fetus hidup atau telah mati, dan pemeriksaan
presentasi, posisi dan postur fetus (Toelihere, 1981).
d. Anestesi epidural jika diperlukan.
e. Diberi cairan janin buatan jika saluran peranakan sudah mengering.
f. Tindakan, berdasarkan hasil diagnosa.
3. Contoh tindakan manipulasi berdasarkan permasalahannya:
a. Unilateral carpal flexion posture
Definisi: Hanya ada 1 kaki yang terlipat, kaki yang normal dan kepala
ditemukan di dalam atau menonjol di vagina. Flexi karpal dari kaki depan
yang lain ditemukan pada inlt atau terjepit dalam vagina.
Presentasi: longitudinal anterior, posisi : dorsosacrum, posture: carpal flexion
(unilateral).
Penanganan: Pada flexi carpal unilateral, satu kaki akan terjulur keluar ke
vulva, kemudian diikat dengan tali dan membiarkannya terjulur keluar.
Dengan porok kebinadanan, direpulsikan, kaki yang mengalami flexi di
ekstensikan, lalu ujungnya diikat dengan tali. Fetus ditarik keluar.
b. Bilateral carpal flexion posture
Definisi: Ada 2 kaki yang mengalami flexi carpal, ditemukan pada inlet pelvis
atau terjepit dalam vagina.
Presentasi : longitudinal, posisi : dorsosacrum, postur : bilateral carpal flexion.
Penanganan: Mencari 1 kaki yang mengalami flexi dengan cara merepulsikan
kemudian diekstensikan, menarik keluar 1 kaki dan diikat dengan tali. Untuk
kaki yang sama, diperlakukan dengan cara yang sama seperti sebelumnya,
dan fetus ditarik keluar.
c. Shoulder flexion posture
Definisi: Jika kedua kaki terlipat, dan hanya kepala fetus yang menonjol keluar
vagina atau vulva. Kaki tersebut mungkin benkak. Jika hanya ada 1 kaki yang
terkena, kaki yang lain menonjol dari vulva dengan kepala.
Presentasi: longitudinal anterior, posisi: dorsosacrum, postur: shoulder flexion.
Penanganan: Satu kaki yang normal akan menjulur keluar, diikat dengan tali
dan

dibiarkan

menjulur

keluar.

Kemudian

direpulsikan,

bahu

yang

mengalammi flexi diekstensikan, ujung diikat dengan tali, fetus ditarik keluar.
d. Head neck flexion posture (lateral)
Definisi: Kaki depan fetus biasanya ditemukan dalam vagina dan kaki-kakinya
dapat menonjol melewati vulva. Kadang-kadang leher fetus berotasi ke arah
lateral (kanan/kiri).

Presentasi: longitudinal anterior, posisi: dorsosacrum, postur: head neck


flexion (lateral).
Penanganan: Kaki fetus yang keluar diikat dengan tali, fetus direpulsi, kepala
dan leher yang mengalami flexi diekstensikan yaitu dengan mengaitkan tali
pada rahang bawah fetus, tarik pelan-pelan. Dengan bantuan kedua tali
pada ujung kaki, fetus ditarik keluar.
e. Head neck flexion posture (ke ventral)/vertex
Definisi: Kepala dapat disimpangkan ke bawah anatar kaki depan yang
berbatasan dengan sternum dalam postur dada kepala.
Presentasi: longitudinal anterior, posisi: dorsosacrum, postur: head neck
flexion (ventral).
Penanganan: Kaki fetus yang keluar diikat dengan tali, repulsikan fetus dan
angkat moncong ke atas menuju pelvis. Jika kepala tidak dipindahkan di
bawah kaki depan, tidak cukup ruang untuk menuju pelvis, kecuali salah satu
kaki depan digerakkan ke belakang ke dalam uterus. Jika kepala sudah
didapat, kaki deoan ditempatkan kembali, kemuadian tarik fetus keluar.
f. Hock flexion posture
Definisi: Ujung ekor fetus dapat menonjol dari vulva dan pergelangan kaki
yang mengalami flexi teraba pada inlet pelvis tau terkunci dalam pelvis. Jika
hanya 1 kaki saja yang mengalami flexi pada hock, yang lainnya dapat
enjulur ke vulva.
Presentasi : longitudinal posterior, posisi : dorsosacrum, postur : heck flexion.
Penanganan: Fetus direpulsikan, ikat ujung kaki belakang dengan tali,
kemudian tali tersebut dilewatkan pertengahan teracak ditarik keluar. Ujung
teracak dilindungi agar tidak melukai saluran peranakan induk. Dengan
bantuan tali tersebut, fetus ditarik keluar.
g. Unilateral hip flexion posture
Definisi: Salah satu panggunl tertekuk ke dalam, sedangkan tali belakang
yang lain terjulur keluar.
Presentasi: longitudinal posterior, posisi: dorsosacrum, postur: unilateral hip
flexion.
Penanganan: Kaki yang keluar diikat dengan tali, fetus direpulsikan, kaki
belakang/pinggul yang mengalami flexi diekstensikan dengan hati-hati.
Lindungi teracak agar tidak melukai uterus.
h. Unilateral tarsal flexion posture

Definisi: Jika salah satu kaki belakang terjulur keluar sedangkan flexi tarsal
dari kaki belakang yang lain ditemukan pada inlet pelvis atau terjepit dalam
vagina.
Presentasi: longitudinal posterior, posisi: dorsosacrum, postur: unilateral
sacral flexion.
Penanganan: Ikat kaki yang keluar dengan tali, fetus direpulsikan kemudian
kaki yang mengalami flexi distensi, kemudian ujungnya diikat dengan tali.
Dan fetus ditarik keluar.
i. Posterior presentation, ventral position (bilateral hock flexion)
Definisi: Jika kedua kaki belakang terjulur keluar, sedang kan posisi tubuh
adalah ventral.
Presentasi : longitudinal posterior, posisi : dorso pubis, postur : bilateral hock
flexion.
Penanganan: Kedua ujung kaki masing-masing diikat dengan tali, pegang
salah satu pangkal kaki sambil mendorong ke dalam, kemudian dilakukan
rotasi ke arahh dorsal position. Dengan bantuan tali tersebut, fetus ditarik
keluar.
j. Transversal presentation, cephaloillial dextra position
Definisi: Punggung dari fetus menghadap ke arah vulva.
Presentasi : transverso-dorsal, posisi : chepalo-illial dextro, postur : unilateral
hip flexion.
Penanganan: Pegang kaki yang mudah didapat, kemudian fetus direpulsikan.
Putar fetus ke arah ventral position, presentasi bisa anterior/posterior.
Rotasikan fetus ke arah dorsal position, dengan tali yang diikatkan pada
badan/ujung kaki fetus, tarik keluar.
(Cady, 2009)

(Cady, 2009)
B. Fetotomi
Fetotomi adalah tindakan operasi pada fetus, berupa pemotongan bagian
tubuh fetus untuk mengurangi ukurannya dengan menyisihkan bagian
tertentu fetus baik secara parsial maupun total.
Tujuan fetotomi adalah mengurangi ukuran fetus dengan cara memotong
sebagian atau keseluruhan dari fetus, hal ini dilakukan karena untuk
menghindari bedah Caesar (sectio caesarea), pelaksanaannya tidak terlalu
rumit, dapat mengurangi trauma atau kelukaan akibat tarikan, ukuran fetus

menjadi lebih kecil sehingga mudah ditarik. Syaratnya, servik harus dalam
keadaan membuka penuh sehingga kedua tangan operator bisa masuk ke
dalam ruang uterus untuk manipulasi fetus. Akibat yang dapat ditimbulkan
dari fetotomi ini potongan fetus dapat menyebabkan kelukaan, tenaga tidak
sedikit, waktu yang lama, operator dapat mengalami kelukaan dan bisa
terjadi infeksi akibat fetus yang terinfeksi. Fetotomi dapat dilakukan bila
fetus yang dipotong sudah mati, dilatasi lintasan peranakan tidak sempurna
dan juga bila pemilik menyetujui untuk dilakukan fetotomi. Bila terpaksa
harus dilakukan fetotomi dan fetus belum mati, maka seharusnya fetus
dimatikan lebih dahulu (mercy killing) dengan cara memotong tali pusatnya
dengan gunting atau scalpel (Azmi, 2010).
C. Sectio Cesaria
Sectio Caesaria atau pembedahan caesar adalah pengeluaran foetus,
umumnya pada waktu partus, melalui laparohisteretomi atau pembedahan
pada perut dan uterus, Bedah ini dilakukan apabila mutasi, tarik paksa dan
foetotomi tidak dapat atau sangat sulit dilakukan untuk mengeluarkan foetus
atau peternak menginginkan supaya foetus dikeluarkan dalam kedaan
hidup. Kata Caesaria berasal dari kata-kata Latin yaitu caeso matris
utera yangberarti memotong uterus induk. Sectio-caesaria atau yang lebih
dikenal dengan operasi sesar merupakan tindakan terakhir yang harus
diambil oleh seorang dokter hewan untuk menghentikan masa kebuntingan,
baik yang disebabkan oleh distokia maupun oleh sebab-sebab yang lain. Dan
pada kasus-kasus tertentu operasi sesar merupakan tindakan pertama untuk
menyelamatkan induk atau anak ataupun kedua-duanya. Akan tetapi operasi
sesar umumnya dilakukan terhadap hewan yang mengalami distokia.
Indikasi untuk melakukan operasi sesar bermacam-macam, begitu pula
dengan teknik yang akan dilakukan. Hal ini sangat tergantung pada kondisi
dan spesies hewan tersebut.
(Erwin, 2009)

Daftar Pustaka
Azmi,

Z.

2010.

Gangguan

Reproduksi

http://theveterinarian23azmi.blogspot.com

Pada

Ternak.

/2010/12/gangguan-reproduksi-

pada-ternak.html. Diakses pada 17 Januari 2012.

Cady, R.A. 2009. DystociaDifficult Calving, What It Costs and How to Avoid It.
www.wvu.edu/~agexten/forglvst/Dairy/dirm20.pdf . Diakses pada 17 Januari
2012.
Erwin.

2009.

Sectio

Caesar

pada

Sapi.

http://erwinklinik.blogspot.com/2009/07/sectio-caesar-pada-sapi.html.
Diakses pada 17 Januari 2012.

Jackson, P, G. 2007. Handbook Obstetrik Veteriner Edisi ke-2. Diterjemahkan oleh


Aris Junaidi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Toelihere, Mozes R. 1981. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kebau. UI Press,
Jakarta.