Anda di halaman 1dari 14

ILMUAN MUSLIM DALAM BIDANG FISIKA

FISIKA DASAR 1

NAMA
NIM
KELAS
DOSEN

: WANDA ZAGITA
: 1113016300046
: Pendidikan Fisika 1B
: AI NURLAELA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013

Ilmuwan Muslim yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam kehidupan umat
manusia, terutama dalam bidang fisika.
:
1. Al-Kindi

Dalam dunia barat dia dikenal dengan nama Al-Kindus. Para sejarawan kita sendiri
maupun barat mengetahui dari buku-buku yang ditinggalkan bahwa mereka adalah orang
Islam, karena karya orisinil mereka dapat diketahui dalam bentuk tulisan ilmiah mereka
sendiri.
Ilmuwan Muslim pertama yang mencurahkan pikirannya untuk mengkaji ilmu optik
adalah Abu Yusuf Yacub Ibnu Ishak Al-Kindi (801 M 873 M). Hasil kerja kerasnya mampu
menghasilkan pemahaman baru tentang refleksi cahaya serta prinsip-prinsip persepsi visual.
Buah pikir Al-Kindi tentang optik terekam dalam kitab berjudul De Radiis Stellarum. Buku
yang ditulisnya itu sangat berpengaruh bagi sarjana Barat seperti Robert Grosseteste dan
Roger Bacon.
Teori-teori yang dicetuskan Al-Kindi tentang ilmu optik telah menjadi hukum-hukum
perspektif di era Renaisans Eropa. Secara lugas, Al-Kindi menolak konsep tentang
penglihatan yang dilontarkan Aristoteles. Dalam pandangan ilmuwan Yunani itu, penglihatan
merupakan bentuk yang diterima mata dari obyek yang sedang dilihat. Namun, menurut AlKindi penglihatan justru ditimbulkan daya pencahayaan yang berjalan dari mata ke obyek
dalam bentuk kerucut radiasi yang padat.
2. Al-Biruni

Bernama lengkap Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al Biruni, ilmuwan besar ini
dilahirkan pada 362 H (15 September 973 13 Desember 1048), di desa Khath yang

merupakan ibukota kerajaan Khawarizm, Turkmenistan (kini kota Kiva, wilayah Uzbekistan).
Ia lebih dikenal dengan nama Al Biruni. Nama Al Biruni sendiri berarti asing, yang
dinisbahkan kepada wilayah tempat tanah kelahirannya, yakni Turkmenistan.
Dalam bukunya, Al-Jamahir, Al-Biruni juga menegaskan, penglihatan
menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan Allah dalam ciptaanNya. Dari penciptaan alam tersebut kita menyimpulkan eksistensi Allah. Prinsip ini
dipegang teguh dalam setiap penyelidikannya. Ia tetap kritis dan tidak memutlakkan
metodologi dan hasil penelitiannya.
Prestasi paling menonjol di bidang fisika ilmuwan Muslim yang pertama kali
memperkenalkan permainan catur ke negeri-negeri Islam ini adalah tentang penghitungan
akurat mengenai timbangan 18 batu. Selain itu, ia juga menemukan konsep bahwa cahaya
lebih cepat dari suara. Dalam kaitan ini, Al-Biruni membantah beberapa prinsip fisika
Aristotelian seperti tentang gerak gravitasi langit, gerak edar langit, tempat alamiah benda
serta masalah kontinuitas dan diskontinuitas materi dan ruang.
Dalam membantah dalil kontinuitas materi yang menyatakan, benda dapat terusmenerus dibagi secara tak terhingga, Al-Biruni menjelaskan bahwa jika dalil itu benar tentu
benda yang bergerak cepat tidak akan pernah menyusul benda yang mendahuluinya, namun
bergerak lambat.
Kenyataannya, urai Al-Biruni, dalam pengamatan kita, benda yang bergerak cepat
dapat menyusul benda yang mendahuluinya seperti bulan yang mendahului matahari karena
gerak bulan jauh lebih cepat daripada matahari. Lalu Al-Biruni menjelaskan bahwa alangkah
hinanya jika kita menafikan pengamatan atas kenyataan itu.
Sebagai seorang fisikawan, Al-Biruni memberikan sumbangan penting bagi
pengukuran jenis berat (specific gravity) berbagai zat dengan hasil perhitungan yang cermat
dan akurat. Konsep ini sesuai dengan prinsip dasar yang ia yakini bahwa seluruh benda
tertarik oleh gaya gravitasi bumi.
Teori ini merupakan pintu gerbang menuju hukum-hukum Newton 500 tahun
kemudian. Al Biruni juga mengajukan hipotesa tentang rotasi bumi di sekeliling sumbunya.
Konsep ini lalu dimatangkan dan diformulasikan oleh Galileo Galilei 600 tahun setelah
wafatnya Al Biruni.

3. Al-Haitham

Fisikawan ternama ini bernama lengkap Abu Ali Al-Hasan Ibn Al-Hasan (atau alHusain) Ibn Al-Haitham. Ia lahir tahun 965 di Basrah (Irak). Namun namanya mulai masyhur
di Mesir, saat pemerintahan Islam dipimpin oleh Khalifah Al-Hakim (996-1020). Fisikawan

Muslim terbesar dan salah satu pakar optik terbesar sepanjang masa, itu wafat di Kairo
sekitar tahun 1039.
Sepanjang hidupnya, Al-Haitham telah menulis sekitar 70 kitab. Salah satu kitabnya,
Al-Manazir, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan tajuk Opticae Thesaurus.
Dalam kitabnya Al-Haitham mengatakan, proses melihat adalah jatuhnya cahaya ke mata.
Bukan karena sorot mata sebagaimana diyakini orang sejak zaman Aristoteles. Dalam kitab
itu ia juga menjelaskan berbagai cara untuk membuat teropong dan kamera sederhana
(kamera obscura).
Kitab tentang optika ini telah menginspirasi para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon
dan Johann Kepler. Tak heran jika Al-Hazen, demikian Barat menyebut nama Al-Haitham,
mendapat gelar Bapak Optika Modern. Al-Haitham juga dinilai telah memberikan
sumbangan besar bagi kemajuan metode penelitian. Ia telah memulai suatu tradisi metode
ilmiah untuk menguji sebuah hipotesis, 600 tahun mendahului Rene Descartes yang dianggap
Bapak Metode Ilmiah Eropa di zaman Rennaisance.
Metode ilmiah Al-Haitham diawali dari pengamatan empiris, perumusan masalah,
formulasi hipotesis, uji hipotesis dengan melakukan penelitian, analisis hasil penelitian,
interpretasi data dan formulasi kesimpulan, serta diakhiri dengan publikasi. Selain fisikawan,
Al-Haitham juga dikenal sebagai astronom dan matematikawan. Ia telah menulis komentar
tentang Aristoteles dan Galen.
4. Ibnu Bajjah

Namanya Abu-Bakr Muhammad Ibnu Yahya Ibnu Al-Sayigh. Tapi ia biasa dipanggil
Ibnu Bajjah yang berarti anak emas. Ibnu Bajjah lahir di Saragoza, Spanyol, pada tahun
1082 dan wafat pada 1138 M. Ia mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan di zaman
kekuasaan Dinasti Murabbitun. Avempace sebutan Barat untuk Ibnu Bajjahantara lain
mengembangkan ilmu fisika, matematika, astronomi, musik, ilmu kedokteran, psikologi,
sastra, dan filsafat.
Sebagaimana Al-Haitham, karya Ibnu Bajjah dalam bidang fisika banyak
mempengaruhi fisikawan Barat abad pertengahan seperti Galileo Galilei. Ibnu Bajjah
menjelaskan tentang hukum gerakan. Menurutnya, kecepatan sama dengan gaya gerak
dikurangi resistensi materi. Prinsip-prinsip yang dikemukakannya ini menjadi dasar bagi
pengembangan ilmu mekanika modern. Karena itu tidak mengherankan jika hukum
kecepatan yang dikemukakan Galilei sangat mirip dengan yang dipaparkan Ibnu Bajjah.
Karya-karya Ibnu Bajjah mengenai analisis gerakan juga sangat mempengaruhi pemikiran
Thomas Aquinas.

5. Al-Khazini

Abdurrahman al-Khazini hidup pada abad ke-12 M. Ia adalah ilmuwan yang


menemukan berbagai teori penting dalam sains. Temuan ilmuwan kelahiran Bizantium ini
antara lain: metode ilmiah eksperimental dalam mekanik; perbedaan daya, masa dan berat;
jarak gravitasi; serta energi potensial gravitasi.
Sumbangan penting Al-Khazini dalam bidang fisika terangkum dalam kitab Mizan alHikmah yang ditulisnya pada tahun 1121. Dalam buku ini ia menjelaskan tentang teori
keseimbangan hidrostatika.Teori ini telah mendorong penciptaan peralatan ilmiah. Tak
mengherankan jika Robert E. Hall dalam tulisan bertajuk Al-Khazini yang dimuat dalam A
Dictionary of Scientific Biography Volume VII (1973) menyebutkan, Al-Khazini adalah
salah seorang saintis terbesar sepanjang masa. Sedangkan editor Dictionary of Scientific
Bibliography, Charles C. Jilispe, menjuluki Al-Khazini sebagai Fisikawan terbesar
sepanjang sejarah.
Dalam bukunya, Al-Khazini menerangkan prinsip keseimbangan hidrostatika dengan
tingkat ketelitian obyek sampai ukuran mikrogram (10?6 gr). Tingkat ketelitian seperti ini,
menurut K. Ajram dalam The Miracle of Islamic Science, baru dapat tercapai pada abad ke20 M.
Al-Khazini juga menjelaskan definisi berat. Menurutnya, berat merupakan gaya
yang inheren dalam benda-benda padat yang menyebabkan mereka bergerak dalam satu garis
lurus terhadap pusat bumi (gravitasi) dan terhadap pusat benda itu sendiri. Besaran gaya ini
tergantung dari kerapatan benda.
Ia juga menerangkan pengaruh suhu (temperatur) terhadap kerapatan benda. Hal ini ia
lakukan sebelum Roger Bacon menemukan dan membuktikan suatu hipotesis tentang
kerapatan air saat ia berada dekat pusat bumi. Sebagaimana para ilmuwan Muslim lainnya
yang hidup di era keemasan Islam, Al-Khazini merupakan ilmuwan multidisiplin. Selain
pakar fisika, ia juga ahli di bidang biologi, kimia, matematika, astronomi, dan filsafat.
Al-Khazini, dan para ilmuwan Muslim lainnya, telah melahirkan ilmu gravitasi yang
kemudian berkembang di Eropa. Al-Khazini juga telah berjasa meletakkan fondasi bagi
pengembangan mekanika klasik di era Renaisans Eropa. Inilah salah satu bukti betapa para
ilmuwan Muslim telah memberi kontribusi yang luar biasa bagi peradaban dunia.

6. Al-Farisi

Kamal al-Din Abul-Hasan Muhammad Al-Farisi lahir di Tabriz, Persia (sekarang


Iran) pada tahun 1267 dan wafat pada 1319 M. Al-Farisi terkenal dengan kontribusinya
tentang optik. Dalam bidang optik, ia berhasil merevisi teori pembiasan cahaya yang
dicetuskan para ahli fisika sebelumnya. Al-Farisi membedah dan merevisi teori pembiasan
cahaya yang telah ditulis oleh Al-Haitham. Hasil revisi itu ia tulis dalam kitab Tanqih alManazir (Revisi tentang Optik).
Menurut Al-Farisi, tidak semua teori optik yang dikemukakan Al-Haitham benar.
Karena itulah ia berusaha memperbaiki kelemahan dan menyempurnakan teori Al-Haitham.
Tak cuma itu, teori Al-Haitham soal pelangi juga ia perbaiki. Bahkan Al-Farisi mampu
menggabungkan teori Al-Haitham ini dengan teori pelangi dari Ibnu Sina. Para ahli sebelum
al-Farisi berpendapat bahwa warna merupakan hasil sebuah pencampuran antara gelap
dengan terang. Secara khusus, ia pun melakukan penelitian yang mendalam soal warna. Ia
melakukan penelitian dengan lapisan/bola transparan. Hasilnya, al-Farisi mencetuskan
bahwa warna-warna terjadi karenasuperimposition perbedaan bentuk gambar dalam latar
belakang gelap. Jika gambar kemudian menembus di dalam, cahaya diperkuat lagi dan
memproduksi sebuah warna kuning bercahaya. Selanjutnya mencampur gambar yang
dikurangi dan kemudian sebuah warna gelap dan merah gelap sampai hilang ketika matahari
berada di luar kerucut pembiasan sinar setelh satu kali pemantulan, ungkap al-Farisi.
Penelitiannya itu juga berkaitan dengan dasar investigasi teori dalam dioptika yang
disebut al-Kura al-muhriqa yang sebelumnya juga telah dilakukan oleh ahli optik Muslim
terdahulu yakni, Ibnu Sahl (1000 M) dan Ibnu al-Haytham (1041 M). Dalam Kitab Tanqih alManazir , al-Farisi menggunakan bejana kaca besar yang bersih dalam bentuk sebuah bola,
yang diisi dengan air, untuk mendapatkan percobaan model skala besar tentang tetes air
hujan.
Dia kemudian menempatkan model ini dengan sebuah kamera obscura yang berfungsi
untuk mengontrol lubang bidik kamera untuk pengenalan cahaya. Dia memproyeksikan
cahaya ke dalam bentuk bola dan akhirnya dikurangi dengan beberapa percobaan dan
penelitian yang mendetail untuk pemantulan dan pembiasan cahaya bahwa warna pelangi
adalah sebuah fenomena dekomposisi cahaya.
Hasil penelitiannya itu hampir sama dengan Theodoric of Freiberg. Keduanya
berpijak pada teori yang diwariskan Ibnu Haytham serta penelitian Descartes dan Newton
dalam dioptika (contohnya, Newton melakukan sebuah penelitian serupa di Trinity College,
dengan menggunakan sebuah prisma agak sedikit berbentuk bola). Al-Farisi mampu
menjelaskan fenomena alam ini dengan menggunakan matematika. Inilah salah satu karya
fenomenalnya.

7. Taqi al-Din

Selain dikenal sebagai pakar fisika, Taqi al-Din Muhammad ibnu Maruf al- Shami alAsadi (1526-1585 M) adalah pakar matematika, pakar botani, astronom, astrolog, dan ahli
teknik. Taqi al-Din juga teolog, filsuf, ahli hewan, ahli obat-obatan, hakim, guru, dan imam
masjid. Sebagai ahli teknik, ia misalnya membuat jam dinding dan jam tangan.
Taqi al-Din menulis sekitar 90 kitab. Salah satunya bertajuk Al-Turuq al-Samiyya fi
al-Alat al-Ruhaniyya. Kitab yang ditulis pada 1551 ini menjelaskan kerja mesin dan turbin
uap air. Karya ini mendahului penemuan Giovanni Branca (1629) tentang mesin uap air.
Kitab-kitab lainnya antara lain menerangkan tentang optik, matematika, mekanika,
astronomi, dan astrologi.

ILMUWAN MUSLIM DALAM BIDANG ASTRONOMI

8. Al-Battani (858-929).

Al Battani (sekitar 850- 923) adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan
dari Arab. nama lengkap: Ab Abdullh Muhammad ibn Jbir ibn Sinn ar-Raqq al-Harrani
as-Sabi al-Battn), lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya yang terkenal
adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri:

Beliau juga memecahkan persamaan sin x = a cos x dan menemukan rumus:

dan menggunakan gagasan al-Marwazi tentang tangen dalam mengembangkan persamaanpersamaan untuk menghitung tangen, cotangen dan menyusun tabel perhitungan tangen.
Sejumlah karya tentang astronomi terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya
yang paling populer adalah al-Zij al-Sabi. Kitab itu sangat bernilai dan dijadikan rujukan para
ahli astronomi Barat selama beberapa abad, selepas Al-Battani meninggal dunia. Ia berhasil
menentukan perkiraan awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, dan mengoreksi hasil
kerja Ptolemeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu.
Al-Battani juga mengembangkan metode untuk menghitung gerakan dan orbit planetplanet. Ia memiliki peran yang utama dalam merenovasi astronomi modern yang berkembang
kemudian di Eropa
9. Al-Sufi (903-986M)

Orang Barat menyebutnya Azophi. Nama lengkapnya adalah Abdur Rahman as-Sufi.
Al-Sufi merupakan sarjana Islam yang mengembangkan astronomi terapan. Ia berkontribusi
besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan planet dan juga pergerakan
matahari. Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah Al-Musawwar, Azhopi menetapkan ciri-ciri
bintang, memperbincangkan kedudukan bintang, jarak, dan warnanya. Ia juga ada menulis
mengenai astrolabe (perkakas kuno yang biasa digunakan untuk mengukur kedudukan benda
langit pada bola langit) dan seribu satu cara penggunaannya.

10. Ibnu Yunus (950-1009M)

Ibnu Yunus bernama lengkap Abu al-Hasan Ali abi Said Abd al-Rahman ibnu Ahmad
ibnu Yunus al-Sadafi al-Misri. a adalah astronom agung yang terlahir di negeri piramida,
Mesir. Sayangnya, sejarah kehidupan masa kecilnya nyaris tak ditemukan. Para sejarawan
terbagi dalam dua pendapat soal tahun kelahiran sang ilmuwan.
Sebagian kalangan meyakini Ibnu Yunus lahir pada tahun 950 M dan ada pula yang
berpendapat pada 952 M. Ibnu Yunus terlahir di kota Fustat, Mesir. Pada saat masih belia,
sang astronom legendaris itu menjadi saksi jatuhnya Mesir ke genggaman Dinasti Fatimiyah.
Kekhalifahan yang menganut aliran Syiah itu mendirikan pusat kekuasaannya di Kairo pada
969 M. Karya penting Ibnu Yunus dalam astronomi yang lainnya adalah Kitab ghayat alintifa. Kitab itu berisi tabel bola astronomi yang digunakan untuk mengatur waktu di Kairo,
Mesir hingga abad ke-19 M. Sebagai astronom terpandang, Ibnu Yunus melakukan penelitian
dan observasi astronomi secara hati-hati dan teliti. Tak heran, jika berbagai penemuannya
terkait astronomi selalu akurat dan tepat.
Ibnu Yunus juga diyakini para sejarawan sebagai orang pertama yang menggunakan
bandul untuk mengukur waktu pada abad ke-10 M. Ia menggunakan bandul untuk
memastikan akurasi dan ketepatan waktu. Dengan begitu, Ibnu Yunus merupakan penemu
pertama bandul waktu, bukan Edward Bernard dari Inggris, seperti yang diklaim masyarakat
Barat.
Tak cuma itu, Ibnu Yunus juga telah mampu menjelaskan 40 planet pada abad ke-10
M. Selain itu, ia juga telah menyaksikan 30 gerhana bulan. Ia mampu menjelaskan konjungsi
planet secara akurat yang terjadi pada abad itu. Konjungsi Venus dan Merkurius pada
Gemini. Waktu itu kira-kira delapan ekuinoksial jam setelah pertengahan hari, di hari Ahad.
Merkurius berada di utara Venus dan garis lintang mereka berbeda tiga derajat, tutur Ibnu
Yunus.
Buah pemikiran Ibnu Yunus mampu mempengaruhi ilmuwan Barat. Pada abad ke-19
M, Simon Newcomb menggunakan teori yang ditemukan Ibnu Yunus untuk menentukan
percepatan bulan, papar John J OConnor, dan Edmund F Robertson, dalam karyanya AbulHasan Ali ibnu Abd al-Rahman ibnu Yunus.

Ibnu Yunus juga telah membuat rumus waktu. Ia menggunakan nilai kemiringan sudut
rotasi bumi terhadap bidang ekliptika sebesar 23,5 derajat. Tabel tersebut cukup akurat,
walaupun terdapat beberapa error untuk altitude yang besar. Ibnu Yunus juga menyusun tabel
yang disebut Kitab as-Samt berupa azimuth matahari sebagai fungsi altitude dan longitude
matahari untuk kota Kairo. Selain itu, disusun pula tabel a(h) saat equinox untuk h = 1, 2, ,
60 derajat.
Sebagai bentuk pengakuan dunia astronomi terhadap kiprahnya, namanya diabadikan
pada sebuah kawah di permukaan bulan. Salah satu kawah di permukaan bulan ada yang
dinamakan Ibn Yunus. Ia menghabiskan masa hidupnya selama 30 tahun dari 977-1003 M
untuk memperhatikan benda-benda di angkasa. Dengan menggunakan astrolabe yang besar,
hingga berdiameter 1,4 meter, Ibnu Yunus telah membuat lebih dari 10 ribu catatan mengenai
kedudukan matahari sepanjang tahun.
11. Al-Farghani

Nama lengkapnya Abul-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Ia


merupakan salah seorang sarjana Islam dalam bidang astronomi yang amat dikagumi. Beliau
adalah merupakan salah seorang ahli astronomi pada masa Khalifah Al-Mamun. Dia menulis
mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori matematik di balik penggunaan
peralatan astronomi itu. Al-Farghani melakukan eksperimen untuk menentukan diameter
bumi. Ia menjabarkan pula jarak dan diameter planet-planet lainnya. Astronom ini juga
memperkenalkan istilah-istilah dari bahasa Arab asli seperti azimuth, zenith,
nadir,dansebagainya. Al-Farghani menulis dua karya yang masyhur. Salah satunya adalah Fi
al-Harakat al-Samawiya wa Jawami Ilm al-Nujum. Buku tersebut mengupas gerakan celestial
dan kajian atas bintang. Naskah asli berbahasa Arab kedua buku itu sampai saat ini masih
tersimpan di Paris (Prancis) dan Berlin (Jerman).
Pada abad ke-12 M, karya Al-Farghani telah diterjemahkan dengan judul The
Elements of Astronomy. Terjemahan ini telah memberi pengaruh besar bagi perkembangan
astronomi di Eropa sebelum masa Regiomontanus.

12. Al-Zarqali (1029-1087M)

Saintis Barat mengenalnya dengan panggilan Arzachel. Wajah Al-Zarqali diabadikan


pada setem di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan
astrolabe yang lebih baik. Beliau telah menciptakan jadwal Toledan dan juga merupakan
seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha.

13. Jabir Ibn Aflah (1145M)

Sejatinya Jabir Ibn Aflah atau Geber adalah seorang ahli matematik Islam berbangsa
Spanyol. Namun, Jabir pun ikut memberi warna da kontribusi dalam pengembangan ilmu
astronomi. Geber, begitu orang barat menyebutnya, adalah ilmuwan pertama yang
menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan
mengenai pergerakan objek langit. Jabir bin Aflah adalah astronom Muslim pertama di Eropa
yang membangun observatorium Giralda. Observatorium ini terletak di kota kelahirannya,
Serville.
Adapun karya astronominya antara lain buku berjudul The Book of Astronomy.
Salinan buku ini sampai sekarang masih tersimpan di Berlin. Dalam buku tersebut, Jabir

dengan tajam mengkritik beberapa pandangan dan pikiran astronom Ptolemaneus, terutama
pendapat yang menegaskan bahwa planet-planet yang paling dekat dengan matahari
merkurius dan venustidak mempunyai nilai parallax, yaitu perubahan kedudukan suatu
benda karena perpindahan tempat pengamatan. Jabir sendiri memberi nilai parallax sekitar 3
derajat untuk matahari. Juga menyatakan bahwa planet-planet lebih dekat dengan bumi
daripada dengan matahari.
Kaum muslim meyakini bahwa semua pengetahuan berasal dari Allah, dan Quran
adalah kalamullah. Maka sebagai sumber pengetahuan, Quran pastilah benar. Sebagian
muslim dengan mantap mengatakan ya. Maka muncullah istilah fisika Islam. Ini adalah
sejumlah teori atau lebih tepatnya hipotesa dari suatu hukum fisika yang diklaim mereka
temukan di dalam Quran. Sekedar untuk ilustrasi, ada tiga contoh di sini: (1). Teori bahwa
bumilah yang pusat tata surya (geosentris), bahkan alam semesta, karena di Quran tidak
pernah ada ayat yang menyatakan bumi beredar, tetapi matahari, bulan dan bintanglah yang
beredar (QS 13:2, 14:33). Teori ini bahkan didukung seorang Syeikh terkemuka dari Saudi
Arabia, yang memfatwakan bahwa percaya kepada teori heliosentris bisa menjerumuskan
pada kemusyrikan. (2) Teori bahwa besi magnet dapat digunakan sebagai pembangkit energi
yang tak ada habisnya, dengan dalil QS 57:25 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan
besi yang di dalamnya terdapat kekuatan yang hebat, yang ia tafsirkan sebagai energi. (3)
Teori tujuh lapis atmosfir, karena dikatakan hujan turun dari langit (35:27) sedang Allah
menciptakan tujuh langit (41:12), sehingga hujan itu terjadi pada lapis langit pertama.
14. Al-Khawarizmi, Penemu Algoritma

Istilah algoritma, mungkin bukan sesuatu yang asing bagi kita. Ditinjau dari asal-usul
katanya, kata Algoritma mempunyai sejarah yang agak aneh. Orang hanya menemukan kata
Algorism yang berarti proses menghitung dengan angka Arab. Seseorang dikatakan Algorist
jika menghitung menggunakan angka Arab. Para ahli bahasa berusaha menemukan asal kata
ini namun hasilnya kurang memuaskan. Akhirnya para ahli sejarah matematika menemukan
asal kata tersebut yang berasal dari nama penulis buku Arab terkenal, yaitu Abu Abdullah
Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi dibaca orang barat menjadi Algorism.

15. Al Biruni, Penemu Gaya Gravitasi

Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al Biruni, ilmuwan besar ini dilahirkan pada 362
H atau bulan September 973 M, di desa Khath yang merupakan ibukota kerajaan Khawarizm,
Turkmenistan (kini kota Kiva, wilayah Uzbekistan). Ia lebih dikenal dengan nama Al Biruni.
Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, Al Biruni tumbuh dan besar dalam
lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan.
Prestasi paling menonjol di bidang fisika ilmuwan Muslim yang pertama kali
memperkenalkan permainan catur ke negeri-negeri Islam ini adalah tentang penghitungan
akurat mengenai timbangan 18 batu. Selain itu, ia juga menemukan konsep bahwa cahaya
lebih cepat dari suara. Dalam kaitan ini, Al-Biruni membantah beberapa prinsip fisika
Aristotelian seperti tentang gerak gravitasi langit, gerak edar langit, tempat alamiah benda
serta
masalah
kontinuitas
dan
diskontinuitas
materi
dan
ruang.
Dalam membantah dalil kontinuitas materi yang menyatakan, benda dapat terusmenerus dibagi secara tak terhingga, Al-Biruni menjelaskan bahwa jika dalil itu benar tentu
benda yang bergerak cepat tidak akan pernah menyusul benda yang mendahuluinya, namun
bergerak lambat.
Kenyataannya, urai Al-Biruni, dalam pengamatan kita, benda yang bergerak cepat
dapat menyusul benda yang mendahuluinya seperti bulan yang mendahului matahari karena
gerak bulan jauh lebih cepat daripada matahari. Lalu Al-Biruni menjelaskan bahwa alangkah
hinanya jika kita menafikan pengamatan atas kenyataan itu. Sebagai seorang fisikawan, A1Biruni memberikan sumbangan penting bagi pengukuran jenis berat (specific gravity)
berbagai zat dengan hasil perhitungan yang cermat dan akurat. Konsep ini sesuai dengan
prinsip dasar yang ia yakini bahwa seluruh benda tertarik oleh gaya gravitasi bumi. Teori ini
merupakan pintu gerbang menuju hukum-hukum Newton 500 tahun kemudian. Al
Biruni juga mengajukan hipotesa tentang rotasi bumi di sekeliling sumbunya. Konsep ini lalu
dimatangkan dan diformulasikan oleh Galileo Galilei 600 tahun setelah wafatnya Al Biruni.

16. Ibnu Syina

Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal
dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama
Khormeisan dekat Bukhara. Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga
bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan
oleh ayahnya. Ibnu juga memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang
keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu
perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah
ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia. Beliau setuju bahwa
kecepatan cahaya pasti terbatas.
17. Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia). Abu Walid Muhammad
bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek
Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah
seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta.
Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai Kadi (hakim) dan
fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas
filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk
pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Ibnu Rusyd (1126-1198) adalah mujtahid dalam fiqih
yang juga fisikawan, terbukti dalam salah satu kitabnya dia mendefinisikan gaya berbagai
tingkat kerja yang harus dilakukan untuk mengubah kondisi kinetic dari sebuah benda yang
lembam. Apa yang ditulis ibnu Rusyd ini 500 tahun lebih awal dari mekanika klasik Newton.
18. Kamal al-Din al-Farisi Ahli Fisika dari Persia
Kamal al-Din al-Farisi adalah seorang ahli fisika Muslim terkemuka dari Persia. Ia
dilahirkan di kota Tabriz, Persia sekarang Iran pada 1267 M dan meninggal pada 1319 M.
Ilmuwan yang bernama lengkap Kamal al-Din Abul-Hasan Muhammad Al-Farisi itu kesohor
dengan kontribusinya tentang optik serta teori angka. Ia merupakan murid seorang astronom
dan ahli matematika terkenal, Qutb al-Din al-Shirazi (1236-1311), yang juga murid
Nasiruddin al-Tusi. Dalam bidang optik, al-Farisi berhasil merevisi teori pembiasan cahaya
yang dicetuskan para ahli fisika sebelumnya. Gurunya, Shirazi memberi saran agar al-Farisi
membedah teori pembiasan cahaya yang telah ditulis ahli fisika Muslim legendaris Ibnu alHaytham (965-1039).
Secara mendalam, al-Farisi melakukan studi mengenai risalah optik yang ditulis
pendahuluannya itu. Sang guru juga menyarankannya agar melakukan revisi terhadap karya
Ibnu Haytham. Buku hasil revisi terhadap pemikiran al-Hacen nama panggilan Ibnu Haytham
di Barat tersebut kemudian jadi sebuah adikarya, yakni Kitab Tanqih al-Manazir (Revisi
tentang Optik). Dalam bidang optik, ia berhasil merevisi teori pembiasan cahaya yang
dicetuskan para ahli fisika sebelumnya. Al-Farisi membedah dan merevisi teori pembiasan
cahaya yang telah ditulis oleh Al-Haitham. Hasil revisi itu ia tulis dalam kitab Tanqih alManazir (Revisi tentang Optik). Menurut Al-Farisi, tidak semua teori optik yang
dikemukakan Al-Haitham benar. Karena itulah ia berusaha memperbaiki kelemahan dan
menyempurnakan teori Al-Haitham. Tak cuma itu, teori Al-Haitham soal pelangi juga ia
perbaiki. Bahkan Al-Farisi mampu menggabungkan teori Al-Haitham ini dengan teori pelangi
dari Ibnu Sina. Qutubuddin al-Syirazi (1236-1311) dan Kamaludddin al-Faris(1260-1320)
memberi penjelasan pertama yang benar pada fenomena pelangi.