Anda di halaman 1dari 14

EVALUASI FORMATIF DAN SUMATIF

Mata Kuliah : evaluasi pendidikan


Dosen : Suparlan

TUGAS KELOMPOK 3:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

SUHARIADI
TUTI ALAWIAH
IQBAL FAHRI
SUCIPTO
JUN JUN JUNAEDI
RAHMAWATI
NOVI CAHYANINGRUM
AAM AMELIA

20147270210
20147270236
20147270254
20147270264
20147270265
20147270270
20147270273
20147270292

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN


ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM PASCASARJANA (S2) UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
JAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1

Penulisan bentuk tes merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam
menyiapkan bahan ulangan harian, ujian semesteran, ujian sekolah dan lainnya. Setiap butir
tes yang ditulis harus berdasarkan rumusan indikator tes yang sudah disusun dalam kisi-kisi
dan berdasarkan kaidah penulisan tes bentuk objektif dan kaidah penulisan soal uraian.
Ditinjau dari segi kegunaan tes untuk mengukur kemampuan siswa, secara garis besarnya
dapat dibedakan menjadi 3 macam tes yaitu: tes formatif, tes diagnostik, tes sumatif.
Penggunaan bentuk tes tertulis, sangat tergantung pada perilaku/ kompetensi yang
akan diukur. Ada kompetensi yang lebih tepat diukur/ ditanyakan dengan menggunakan tes
tertulis dalam bentuk tes objektif, ada pula kompetensi yang lebih tepat diukur dengan
menggunakan tes perbuatan/ praktik. Dengan demikian tidak semua perilaku harus
dinyatakan dengan bentuk tes uraian atau objektif mengingat setiap bentuk tes, masingmasing memiliki keunggulan dan juga memiliki kelemahan.
Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat, untuk
memperoleh berbagai informasi ketercapaian kompetensi peserta didik (Mimin, 2006:16).
Penilaian pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan
proses dan hasil belajar para peserta didik dan hasil mengajar guru.
Informasi mengenai hasil penilaian proses dan hasil belajar serta hasil mengajar yaitu
berupa penguasaan indikator-indikator dari kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Informasi hasil penilaian ini dapat digunakan sebagai sarana untuk memotivasi peserta
didik dalam pencapaian kompetensi dasar,

melaksanakan program remedial

serta

mengevaluasi kompetensi guru dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.


Menyusun tes sumatif semester ganjil melalui rapat kerja MGMP harus
mencerminkan bahan pembelajaran semester ganjil yang terdiri dari beberapa standar
kompetensi, kompetensi dasar dan beberpa indikator dalam setiap kompetensi dasar.
Menyusun tes disesuaikan dengan tuntutan indikator yang ada karena tiap indikator
minimal harus ada satu tes untuk mengetahui ketuntasan pembelajaran. Apabila tes yang
digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya guru
akan mengetahui kelemahan siswa. Untuk dapat menyusun tes yang memenuhi persyaratan
cukup sulit karena menyusun tes memerlukan pengetahuan, keterampilan serta ketelitian
yang cukup tinggi.
Rakajoni dalam bukunya Etty mengatakan secara makro tugas guru berhubungan
dengan pengembangan sumber daya manusia yang pada akhirnya akan paling menentukan
kelestarian dan kejayaan kehidupan bangsa (Etty, 1998:26).

Pada dasarnya tugas guru mendidik mengajar, melatih serta mengevaluasi siswa, agar
peserta didik dapat menjadi manusia yang dapat melaksanakan kehidupan selaras dengan
kodratnya sebagai manusia. Berkaitan dengan tugas guru didalam mengevaluasi siswa maka
guru hendaknya memiliki ketrampilan membuat tes. Kegunaan tes adalah untuk mengukur
kemampuan siswa setelah mendapat proses pembelajaran. Dengan demikian guru memiliki
kewajiban untuk membuat tes. Hanya guru bersangkutan yang tahu tentang kemajuan
akademik siswa melalui hasil tes. Menyusun tes untuk mengetahui tingkat kemampuan
akademik pada semester ganjil guna mempersiapkan pembelajaran disemester berikutnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka dapat dirumuskan dua masalah yaitu:
1. Bagaimana kriteria penyusunan soal tes formatif?
2. Bagaimana kriteria penyusunan soal tes sumatif?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tes Formatif
Tes formatif (formative test) juga disebut sebagai tes pembinaan, adalah tes yang
diselenggarakan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar, diselenggarakan secara
periodik, isinya mencakup semua unit pengajaran yang telah diajarkan.
Tes yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan/topik.
Dimaksudkan untuk memantau kemajuan belajar peserta didik selama proses belajar
berlangsung, untuk memberikan umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan program
pembelajaran serta untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang memerlukan perbaikan
sehingga hasil belajar peserta didik dan proses pembelajaran guru menjadi lebih baik.
Dengan kata lain tes formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan
yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa
saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil
tindakan-tindakan yang tepat.
Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan
diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami
kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Sementara bagi siswa yang telah berhasil
akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan
yang lebih akan diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan
pendalaman dari topik yang telah dibahas.
a. Fungsi Tes Formatif
1. Fungsi utama dari tes formatif adalah untuk mengetahui keberasilan dan kegagalan
proses belajar mengajar, dengan demikian dapat dipakai untuk memperbaiki dan
menyempurnakannya.
2. Fungsi tes formatif adalah untuk mengetahui masalah dan hambatan kegiatan belajar
mengajar termasuk metode belajar dan pembelajaran yang digunakan guru,
kelemahan dan kelebihan seorang siswa.
b. Kegunaan Tes Formatif dalam Kegiatan Belajar Mengajar
1. Manfaat bagi siswa
a) Untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai bahan program secara
menyeluruh.
b) Merupakan penguatan bagi siswa. Dengan mengetahui bahwa tes yang dikerjakan
sudah menghasilkan skor yang tinggi sesuai dengan yang diharapkan, maka siswa
merasa mendapat anggukan kepala dari guru, dan ini merupakan suatu tanda
4

bahwa apa yang sudah dimiliki merupakan pengetahuan yang benar. Dengan
demikian maka pengetahuan itu akan bertambah membekas diingatan. Disamping
itu tanda keberhasilan suatu pelajaran akan memperbesar motivasi siswa untuk
belajar lebih giat, agar dapat mempertahankan nilai yang sudah baik itu atau
memperoleh lebih baik itu.
c) Usaha perbaikan. Dengan umpan balik (feed back) yang diperoleh setelah
melakukan tes siswa mengetahui kelemahan-kelemahannya. Sehingga siswa
mengetahui bab mana yang dirasa belum dikuasainya. Dengan demikian ada
motivasi untuk meningkatkan penguasaan.
d) Sebagai diagnosa. Bahwa pelajaran yang sedang dipelajari oleh siswa merupakan
serangkaian pengetahuan dan ketrampilan. Dengan mengetahui hasil tes formatif,
siswa dengan jelas dapat mengetahui bagianmana dari bahan pelajaran yang masih
dirasakan sulit.
2. Manfaat bagi guru
a) Mengetahui sampai sejauh mana bahan yang diajarkan sudah dapat diterima oleh
siswa. Hal ini akan menentukan pula apakah guru itu harus menggantikan cara
menerangkan (strategi mengajar) atau tetap dapat menggunakan cara (strategi)
yang lama.
b) Mengetahui bagian-bagian mana dari bahan pelajaran yang belum menjadi milik
siswa. Apabila bagian yang belum dikuasai kebetulan merupakan bahan prasyarat
bagi bagian pelajaran yang lain, maka bagian itu harus diterangkan lagi, dan
barangkali memerlukan cara atau media lain untuk memperjelas. Apabila bahan
ini tidak diulangi, maka akan mengganggu kelancaran pemberian bahan pelajaran
selanjutnya, dan siswa akan semakin tidak dapat menguasainya.
c) Dapat meramalkan sukses dan tidaknya seluruh program yang akan diberikan.
3. Manfaat bagi program
a) Apakah program yang telah diberikan merupakan program yang tepat dalam arti
sesuai dengan kecakapan anak.
b) Apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan prasyarat yang
belum diperhitungkan.
c) Apakah diperlukan alat, sarana dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang akan
dicapai.
d) Apakah metode, pendekatan dan evaluasi yang digunakan sudah tepat.
Sebagai solusi bantuan yang bisa dikembangkan oleh para pengajar agar tingkat
penguasaan mereka semakin baik antara lain dengan:

1. Memberikan pengajaran remedial, yaitu: memberi proses pembelajaran yang banyak


menggunakan konsep-konsep yang sederhana yang dibarengi dengan contoh-contoh
yang nyata dan operasional.
2. Mengadakan proses pembelajaran yang memanfaatkan teman sebaya. Siswa yang
mendapatkan skor yang tinggi diberi tugas untuk memberikan penjelasan kepada
teman-temannya yang mendapatkan skor yang rendah. Biasanya penjelasan yang
diberikan temannya sendiri mudah dipahami daripada penjelasan yang diberikan oleh
pengajar. Ini disebabkan oleh adanya keakraban antara teman.
Satu hal yang penting yang perlu diperhatikan para pengajar pada pelaksanaan tes
formatif adalah pemberian umpan balik (feed back) yang cepat. Umpan balik akan
meningkatkan motivasi belajar mereka.
2.2 Tes Sumatif
Tes Sumatif (summative test) dilakukan jika seluruh materi pelajaran telah selesai,
biasanya dilakukan pada akhir tahun (akhir pengajaran) yang dimaksudkan untuk
memberikan nilai yang dijadikan dasar menentukan kelulusan.
Pola tes sumatif ini dilakukan apabila guru bermaksud untuk mengetahui tahap
perkembangan terakhir dari siswanya. Penilaian sumatif diberikan dengan maksud untuk
mengetahui apakah peserta didik sudah dapat menguasai standar kompetensi yang telah
ditetapkan atau belum. Hasil penilaian sumatif adalah untuk menentukan nilai (angka)
berdasarkan tingkatan hasil belajar peserta didik yang selanjutnya dipakai sebagai angka hasil
ujian akhir semester atau ujian nasional. Hasil penilaian sumatif juga dapat dimanfaatkan
untuk perbaikan proses pembelajaran secara keseluruhan.
Pelaksanaan kegiatan tes subsumatif ini dilakukan pada perempat semester atau
caturwulan dan pada pertengahan semester(caturwulan) yang lazim kita ssebagai
mindsemester. Tes sumatif ialah penentuan kenaikan kelas bagi setiap siswa. Tes
sumatif adalah penilaian yang dilakukan tiap akhir semester (caturwulan), setelah para siswa
menyelesaikan program belajar dari suatu bidang studi atau mata pelajaran tertentu selama
satu perode waktu tertentu pula. Adapun fungsi dari penilaian ini adalah untuk menentukan
prestasi hasil belajar siswa terhadap bidang studi atau mata pelajaran selama satu semester
atau caturwulan.
Fungsi tes sumatif yaitu:
a) Untuk menentukan nilai siswa,
b) Keterangan tentang keterampilan dan kecakapan,
c) Keberhasilan belajar siswa.
6

d) Titik tolak pelajaran berikutnya,


e) Indikator prestasi siswa dalam kelompoknya.
f) Untuk mengukur pencapaian program, fungsi evaluasi sumatif dalam evaluasi
program pembelajaran dimaksudkan sebagai sarana untuk mengetahui posisi atau
kedudukan individu di dalam kelompoknya. Mengingat bahwa obyek sasaran
dan waktu

pelaksanaan

berbeda antara evaluasi formatif dan

sumatif

maka

lingkup saran yang dievaluasi juga berbeda.


Kegunaan Tes Sumatif dalam Kegiatan Belajar Mengajar
1. Untuk menentukan nilai
Nilai dalam tes sumatif digunakan sebagai acuan dalam menentukan perbandingan siswa
dan kedudukan siswa dalam kelas. Sehingga dalam nilai tersebut dapat diketahui prestasi
belajar siswa-siswa dalam kelas.
2. Berfungsi sebagai tes prediksi
Tes ini untuk menentukan seorang anak sudah menguasai bahan pelajaran yang sudah
diberikan, sehingga siswa mampu melanjutkan program selanjutnya ataukah siswa harus
mengulang/ mempelajari lagi bahan pelajaran tersebut.
3. Untuk mengisi catatan kemajuan belajar siswa, sehingga akan berguna bagi orang tua
siswa, pihak bimbingan/ penyuluhan di sekolah dan pihak lain, misalnya siswa
tersebut akan pindah ke sekolah lain/akan melanjutkan belajar/memasuki lapangan
kerja.

Perbedaan Tes Formatif dan Tes Sumatif


Formatif
Tujuannya untuk memperbaiki PBM

Sumatif
Tujuannya untuk mengetahui hasil atau
tungkat kemajuan belajar siswa
Dilaksanakan setelah mengajarkan
seluruh unit pengajaran yang menjadi
porsisesuatu semester
Frekuensinya 1x dalam satu semester
Lingkup bahannya luas
Objeknya meliputi berbagai aspek
perilaku
Bobot nilainya tinggi

Dilaksanakan setelah selesai


mengerjakan suatu unit pengajaran
tertentu
Frekuensi 2-4 kali dalam satu semester
Lingkup bahannya sempit
Obyeknya hanya terdapat suatu aspek
perilaku
Bobotnya nilainya rendah
2.3 Langkah-langkah Menyusun tes
7

Penyusunan tes sangat besar pengaruhnya terhadap siswa yang akan mengikuti
tes, untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran maka tes harus direncanakan secara
cermat. Dalam perencanaan tes ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan guru
sebagai pendidik yaitu:
1. Menentukan cakupan materi yang akan diukur.
Ada empat langkah dalam mengembangkan kisi-kisi tes dalam sistem penilaian berbasis
kompetensi dasar, yaitu (1) Menulis kompetensi dasar, (2) Menulis materi pokok, (3)
Menentukan indikator, (4) Menentukan jumlah soal.
2. Memilih Bentuk Tes.
Pemilihan bentuk tes akan dapat dilakukan dengan tepat bila didasarkan pada tujuan tes,
jumlah peserta tes, waktu yang tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes, cakupan
materi tes, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan.
3. Menetapkan Panjang Tes
Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah soal, yaitu: (1)
Bobot masing-masing bagian yang telah ditentukan dalam kisi-kisi, (2) Keandalan yang
diinginkan, dan (3) Waktu yang tersedia.
Kegiatan di atas tentunya sudah dapat dilakukan pada waktu mengerjakan tugas
pada tutorial pertama. Selanjutnya mulai mengembangkan atau menulis butir pertanyaan
sesuai dengan kisi-kisi yang telah ditetapkan. Ada 3 kegiatan pokok dalam menulis butir
soal yaitu: a) menulis draft soal, b) Memantapkan Content Validity, c) Melakukan try
out. Selanjutnya ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam mengembangkan
instrumen yaitu: menjaga objektivitas pelaksanaan, memberikan skor pada hasil tes, dan
melakukan analisis hasil tes.
Setelah langkah-langkah pokok yang seharusnya dilakukan dalam pelaksanaan
tes dipahami maka selanjutnya yang dilakukan adalah memahami langkah-langkah
mengembangkan tes sebagai instrumen asesmen di kelas.
a. Menjabarkan Kompetensi Dasar ke dalam Indikator Pencapaian Hasil Belajar.
Kegiatan ini dalam langkah kegiatan umum masuk dalam langkah Menentukan
cakupan materi yang akan diukur Indikator merupakan ukuran, karakteristik, ciriciri, pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu
kompetensi dasar. Sesuai dengan Kurikulum Tngkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka
indikator

pencapaian

hasil

belajar

dikembangkan

oleh

pendidik

dengan

memperhatikan perkembangan dan kemampuan setiap peserta didik, keluasan dan


kedalaman kompetensi dasar, dan daya dukung sekolah.
8

b. Menetapkan Jenis Tes dan Penulisan Butir Soal


Setelah standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator keberhasilannya
dijabarkan maka dapat ditetapkan indikator yang menunjukkan tingkat pencapaian
kompetensi tersebut. Kemudian melakukan pemilihan bentuk tes berdasarkan pada
tujuan tes, cakupan materi tes, karakteristik mata pelajaran yang diukur
pencapaiannya, jumlah peserta tes, termasuk waktu yang tersedia untuk memeriksa
lembar

jawaban

tes.

Dalam menyusun

instrumen

penilaian

tertulis

perlu

dipertimbangkan hal-hal berikut (1) materi, (2) konstruksi, (3) bahasa, dan (4) kaidah
penulisan.
c. Mengembangkan tes pada Kawasan Kognitif, Afektif dan Psikomotor
Dalam mengukur indikator pencapaian hasil belajar baik kognitif, afektif maupun
psikomotor dapat menggunakan berbagai macam bentuk tes baik tertulis maupun
lisan. Domain kognitif dapat diukur menggunakan seperti misalnya tes lisan, tes
pilihan ganda, tes obyektif, tes uraian, tes jawaban singkat, menjodohkan, dan tes
unjuk kerja. Tes pada domain afektif untuk mengukur sikap dengan teknik antara lain
observasi, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi yang diukur dengan
menggunakan skala Likert. Sedang hasil belajar psikomotor yang indikator
keberhasilannya lebih berorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi fisik
atau keterampilan tangan.
2.4 Kriteria Tes Yang Baik
Ada beberapa kriteria yang dapat dipakai untuk menyusun butir-butir tes yang
berkualitas yaitu a) Valid, b) Relevan, c) Spesifik, d) Representatif, e) Seimbang, f)
Sensitif , g) Fair, h) Praktis.
Kualitas instrumen sebagai alat ukur ataupun alat pengumpul data diukur dari
kemampuan alat ukur tersebut untuk dapat mengungkapkan dengan secermat mungkin
fenomena-fenomena ataupun gejala yang diukur. Kualitas yang menunjuk pada tingkat
keajekan, kemantapan serta konsistensi dari data yang diperoleh itulah yang disebut
dengan validitas dan Reliabilitas.
Validitas alat ukur menunjukkan kualitas kesahihan suatu instrument, Alat
pengumpul data dapat dikatakan valid atau sahih apabila alat ukur tersebut mampu
mengukur apa yang seharusnya diukur /diingikan. Jenis-jenis validitas yang dapat
dipakai sebagai kriterium, dalam menetapkan tingkat kehandalan tes, diantaranya adalah

: a) Validitas Permukaan (Face Validity), b) Validitas konsep (Construct Validity), c)


Validitas Isi (Content Validity).
2.5 Cara Penyusunan Soal Test Penilaian Formatif
Penilaian formatif yang dimaksud disini adalah terbatas dengan penilaian pada setiap
akhir satuan pelajar.penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah
menguasai tujuan-tujuan instruksional khusus (TIK) yang ingin digapai. Fungsi penilaian
disini adalah untuk memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses
belajar megajar dan melaksanakan remedial program bagi siswa. Soal-soal test pada setiap
akhir satuan pelajaran ini hendaklah disusun sedemikian rupa hingga betul-betul dapat diukur
tujuan instruksional khusus yang ingin di capai. Disini distribusi ditingkat kesukaran soal dan
daya beda soal tidak begitu penting.
Contoh:
Tujuan Pembelajaran Khusus
Siswa dapat menjelaskan fungsi dari
masing-masing alat ekskresi pada
manusia

Soal Tes
1.
2.
3.
4.

Kulit berfungsi untuk.


Paru-paru berfungsi untuk
Hati berfungsi untuk..
Ginjal berfungsi untuk

2.6 Cara Penyusunan Soal Test Penilaian Sumatif


Penilaian sumatif yang dimaksudkan disini adalah terbatas dengan penilaian pada
akhir catur wulan atau semester atau tahun ajaran atau keseluruhan program. Penilaian ini
dimaksudkan untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar masing-masing siswa, yang
antara lain diperlukan untuk pengisian raport penentuan kanaikan kelas dan penentuan lulus
tidak lulusnya siswa dari sekolah yang berangkutan. Penyusunan soal test penilaian sumatif
ini hendaklah lebih dititik beratkan kepada penilaian terhadap aspek kemampuan yang lebih
tinggi, dan disesuaikan dengan tujuan instruksional umum. Aspek yang dinilai hendaknya
mencakup: hapalan, pemahaman, aplikasi, analisis, evaluasi, dan kreasi. Sebaiknya aspek
ingatan dikecilkan saja proporsinya. Untuk menjamin agar ruang lingkup bahan dan aspek
kemampuan dapat terangkum dalam test yang bersangkuta maka dalam perencanaan test
perlu dibuatkan lay-outnya.

10

Contoh:
Lay out test BIOLOGI
Sekolah

: SMP/SMA

Kelas

: VII-XII

Semester

: I/II

Waktu

: --------

Isi

Tujuan Tingkah Laku

Penget
ahuan

Ha

Pema

Ap

Ev

Kre

pa

haman

lik

na

alu

asi

asi

lis

asi

la
n

is

10

II

10

III

10

IV

10

10

VI

10

VII

10

VIII

10

IX

10

X
Jumla

30

20

25

10

10

10
100

h
Dalam contoh ini seluruh isi mata pengetahuan diperinci menjadi 10 unit yang sama
bobotnya (masing-masing bobot 10%), sedangkan ke kanan taraf tingkah laku menurut
teksonomi belum diberi bobot yang berbeda-beda (masing-masing 30%, 20%, 25%, 0%,
10%, 5%), dalam banyak hal penentuan perincian mata pengetahuan dan masing-masing
bobotnya serta bobot masing-masing taraf tingkah laku akan tergantung kepada penilaian (jud
menit) si perancang test mengenai spesifikasi yang bagai mana yang paling representatif bagi
populasi isi test. Dalam hal-hal tertentu dimana terdapat rencana pelajaran terurai, maka
rencana pelajaran tersebut akan berguna bagi penyusunan spesipikasi isi test tersebut.
Tujuan penyusunan garis-garis besar tersebut adalah merumuskan setepat mungkin
cakupan dan tekanan test dan bagian-bagian, sehingga perumusan tersebut dapat menjadi
11

petunjuk yang efektif bagi si penyusun tes. Garis-garis besar tes itu adalah rancangan tujuantujuan khas dan tingkah laku khusus yang akan menjadi dasar dari pada penyusunan itemitem itu. Item-item yang disusun itu akan merupakan sampel dari pada item-item yang tak
terhingga banyaknya, karena itu harus diusahakan benar-benar supaya setiap daerah dalam
garis-garis besar itu mempunyai sampel yang representatif bagi populasinya. Caranya ialah
menganalisa isi test dari segi mata pengetauan dan dari segi tingkah laku yang mencerminkan
dikuasainya mata pengetahuan tersebut.
Isi test mencakup 2 hal yaitu:
1. Analisa isi pengetahuan
Hendaknya terdiri atas analisa mengunsur mengenai daerah kurikulum yang akan
ditest.
2. Analisa behavioral obyektives (tujuan menurut tingkah laku)
Sebaiknya tujuan pengajaran itu dianalisa dari arah tingkah laku (aktivitas dan
keterampilan).

12

BAB III
KESIMPULAN
Tes formatif adalah tes yang diberikan kepada siswa pada setiap akhir program satuan
pengajaran. Memonitor kemajuan siswa selama proses pembelajaran bertujuan untuk
mengarahkan siswa/peserta didik pada jalur yang membawa hasil-hasil belajar yang
maksimal. Memonitoring dilaksanakan secara berkesinambungan dan terus menerus
Dari arti kata Form yang merupakan dasar dari istilah Formatif maka evaluasi
formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah mengikuti
sesuatu program tertentu.
Tes sumatif adalah tes yang dilakukan tiap akhir semester/caturwulan, setelah para
siswa menyelesaikan program belajar dari suatu bidang studi atau mata pelajaran tertentu
selama satu perode waktu tertentu. dilakukan pada perempat semester atau caturwulan dan
pada pertengahan semester/caturwulan yang lazim kita ketahui sebagai midsemester. Tes
sumatif ialah penentuan kenaikan kelas bagi setiap siswa, fungsi dari penilaian ini adalah
untuk menentukan prestasi hasil belajar siswa terhadap bidang studi atau mata pelajaran
selama satu semester atau caturwulan.

13

DAFTAR PUSTAKA
Astuti, Ni Luh Putu Puji., 2009. Analisis Tes Bahasa Indonesia Ditinjau dari Segi
Pendekatan Komunikatif dan Integratif pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar No I
Penebel. JIPP: Juni.
Kartono. 2011. Efektivitas Penilaian Diri dan Teman Sejawat Untuk Penilaian Formatif dan
Sumatif pada Pembelajaran Mata Kuliah Analisis Kompleks. Prosiding Seminar
Nasional Matematika. Surakarta. Dipublikasi.
Kunandar. 2007. Guru Professional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. PT Remaja Rosdakarya:
Bandung.
Sukardu, M., 2001. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. PT Bumi Aksara:
Jakarta

14

Anda mungkin juga menyukai