Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

KOLELITIASIS (BATU EMPEDU)

Disusun Oleh :
Kelmpok 12
1. Abed Nego Suryo

130801046

2. Dwi Andriani

130801056

3. Nur Azzah

130801079

4. Rorike Agustina

130801089

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN KELAS 3B


STIKES PEMKAB JOMBANG
TAHUN 2015 / 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena limpahan rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah ini dengan tepat waktu yang mengenai
ASUHAN KEPERAWATAN KOLELITIASIS (BATU EMPEDU)
Dalam menyelesaikan Makalah ini tak lupa kami ucapkan terima kasih banyak kepada
dosen - dosen pembimbing yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan Makalah ini.
Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan juga masih
banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca
sangat kami harapkan. Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua, dan untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih.

Jombang, 20 Januari 2016

Penulis

BAB I
TINJAUAN TEORI

1.1 DEFENISI
Kolelitiasis (Batu Empedu) merupakan endapan satu atau lebih komponen empedu
seperti kolesterol, bilirubin, garam empedu, kalsium, protein, asam lemak, dan fosfolipid.
(Price, 2005, hlm 502).
Kolelitiasis adalah batu yang terdapat di saluran empedu utama atau di duktus
koledokus (koledokolitiasis), di saluran sistikus (sistikokolitiasis) jarang sekali di temukan
dan biasanya bersamaan dengan batu di dalam kandung empedu, dan di saluran empedu
intrahepatal atau hepatolitiasis. (Hadi Sujono, 2002 hlm 778).
Batu empedu pada umumnya di temukan di dalam kandung empedu, tetapi batu
tersebut dapat bermigrasi melalui duktus sistikus ke dalam saluran empedu menjadi batu
saluran empedu dan di sebut sebagai batu saluran empedu sekunder. (Sudoyo, dkk., 2006,
hlm 479 ).
Kolelitiasis merupakan batu saluran empedu, kebanyakan terbentuk di dalam kandung
empedu itu sendiri. Unsur pokok utamanya adalah kolesterol dan pigmen, dan sering
mengandung campuran komponen empedu. Manifestasi batu empedu timbul bila batu
bermigrasi dan menyumbat duktus koledukus. (Ester, 2001, hlm 211).
Batu empedu adalah batu yang berbentuk lingkaran dan oval yang di temukan pada
saluran empedu. Batu empedu ini mengandung kolesterol, kalsium bikarbonat, kalsium
bilirubinat atau gabungan dari elemen-elemen tersebut. (Grace, Pierce. dkk, 2006, hlm 121).
1.2 ETIOLOGI
2. Kecenderungan keturunan dalam keluarga ( kebiasaan mengkonsumsi kolesterol yang
berlebihan)
3. Kegemukan ( mungkin disebabkan kelainan metabolisme lemak)
4. Kehamilan (obat estrogn), pil KB (perubahan hormone dan pelambatan kontraksi otot
kandung empedu. Menyebabkan penurunan kecepatan pengososngan kandung
empedu) angka kejadian meningkat pada wanita yang hamil berulang.
Batu di dalam kandung empedu. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmen
empedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein.
Macam-macam batu yang terbentuk antara lain:
a. Batu empedu kolesterol, terjadi karena : kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan
produksi empedu.
Faktor lain yang berperan dalam pembentukan batu:
o Infeksi kandung empedu

o
o
o
o

Usia yang bertambah


Obesitas
Wanita
Kurang makan sayur

b. Batu pigmen empedu , ada dua macam;


o Batu pigmen hitam : terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis
kronik/sirosis hati tanpa infeksi
o Batu pigmen coklat : bentuk lebih besar , berlapis-lapis, ditemukan disepanjang
saluran empedu, disertai bendungan dan infeksi
1.3 MANIFESTASI KLINIK
1. Epigastrium kanan terasa nyeri dan spasme, menjalar ke pundak kanan atau
punggung.
2. Kandung empedu membesar dan nyeri
3. Ikterus = Perubahan warna Kulit
4. Kadang terdapat nyeri di kwadran kanan atas
5. Mual dan muntah
6. Kembung
7. Febris (38,5C)
8. Beraknya warna pucat, kencing warna gelap
9. Blumberg Signs ( kekakuan dan nyeri lenting)
10. Berkurangnya absorbsi lemak dan vitamin yang larut di usus
1.4 PATOFISIOLOGI
Batu empedu terdapat di dalam kandung empedu atau dapat bergerak kearea lain dari
system empedu. Pada saat pengososngan kandung empedu atau pengisian kandung empedu
batu dapat pindah dan terjebak dalam leher kandung empedu. Selain leher cysticduct (saluran
cyste), atau saluran empedu menyebabkan bebuntuan. Ketika empedu tidak bias mengalir
dari kandung empedu. Terjadi bendungan dan iritasi lokakl dari batu empedu menyebabkan
radang batu empedu (cholecystitis)
Faktor yang mendukung :

1. Kadar kolesterol yang tinggi pada empedu


2. Pengeluaran empedu yang berkurang
3. Kecepatan pengosongan kandung empedu yang menurun
4. Perubahan pada konsentrasi empedu atau bendungan empedu pada kandung empedu

1.5 PENATALAKSANAAN
1. Diet
o Rendah lemak dalam usaha mencegah nyeri lebih lanjut.
o Bila batu menyebabkan pembuntuan dari aliran empedu dilakuakn penggantian
vitamin yang larut lemak (ADEK) dan pemberian garam empedu untuk
membantu pencernaan dan absorbst vitamin.
o Infus cairan dan makanan bila ada masalah mual-mual dan muntah .
2. Terapi Obat
o Analgesik/narkotik (meperidine hydrochloric/Demerol)
o Antispasme dan anti Colinergik (prophantheline bromide / probanthine) untuk
relaksasi otot polos dan menurunkan tonus dan spasme saluran empedu.
o Antimuntah lentik mengontrol mual dan muntah.
o Terapi asam empedu untuk melarutkan batu empedu yang kecil (chenodiol)
o Cholesteramine untuk menurunkan gatal yang sangat karena penumpukan
berlebihan empedu pada kulit.
3. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotherapy)

4. Colecystectomy: Bedah pengambilan batu empedu


1.6 KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis:
1.
2.
3.
4.

Asimtomatik.
Obstruksi duktus sistikus.
Kolik bilier.
Kolesistitis akut.
a)

Empiem.

b)

Perikolesistitis.

c)

Perforasi.

5. Kolesistitis kronis.
a)

Hidrop kandung empedu.

b)

Empiema kandung empedu.

c)

Fistel kolesistoenterik.

d)

Ileus batu empedu (gallstone ileus).


BAB II
ASKEP TEORITIS

2.1 PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan,
tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data
mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
2. Identitas Penanggung Jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi penanggung
jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur, pendidikan,
pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
3. Keluhan Utama
Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat
pengkajian. Biasanya keluhan utama yang klien rasakan adalah nyeri abdomen pada kuadran
kanan atas.
4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST, paliatif
atau provokatif (P) yaitu focus utama keluhan klien, quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana
nyeri/gatal dirasakan oleh klien, regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana, Safety (S)
yaitu posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa nyaman
dan Time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri/gatal tersebut.
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji apakah klien pernah dirawat atau diobati sebelumnya dengan penyakit yang
sama.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji pola makan kebiasaan keluarga yang kurang baik seperti menyimpan dan
menyiapkan makanan, pola diet, pola sanitasi yang kurang (cuci tangan) dan pola memasak
makanan.
5. Pemeriksaan Fisik
a) Aktifitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan
Tanda : Gelisah
b) Sirkulasi
Tanda : Takikardia, berkeringat
c) Eliminasi
Gejala : Perubahan warna urine dan feses
Tanda : Distensi abdomen.
d) Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia,mual.
Tanda : adanya penurunan berat badan.
e) Nyeri/Kenyamanan
Gejala :Nyeri abdomen atas, dapat menyebar kepunggung atau bahu kanan. Kolik
epigastrium tengah sehubungan dengan makan.
Tanda :Nyeri lepas, otot tegang atau kaku biala kuadran kanan atas ditekan; tanda
murphy positif.
f) Keamanan
Tanda :Ikterik, dengan kulit berkeringat dan gtal (Pruiritus).Kecenderungan
perdarahan (kekurangan vitamin K)
g) Penyuluhan/Pembelejaran

Gejala

Kecenderungan

keluarga

untuk

terjadi

batu

empedu.Adanya

kehamilan/melahirkan; riwayat DM, penyakit inflamasi usus, diskrasias darah.


Pertimbangan : DRG menunjukan rerata lama dirawat: 3,4 hari.
Rencana pemulangan:Memerlukan dukungan dalam perubahan diet/penurunan berat
badan.
6. Pemeriksaan Diagnostik
1. Ultrasonografi

digunakan

untuk

mengkonfirmasi

diagnosis

kolelitiasis

dan

membedakan antara obstruktif dan non obstruktif ikterus (Ignatavicius, 1991).


2. Pemeriksaan diagnostik tambahan menurut LeMone, 2000, yaitu:
3. Darah lengkap : Menunjukkan WBC (sel darah putih) tinggi akibat infeksi dan
peradangan
4. Kadar bilirubin serum diukur untuk memastikan obstruksi adanya dalam sistem
saluran empedu
5.

X-ray perut, yang disebut plat datar, dilakukan untuk batu yang divisualisasikan ke
layar monitor.

6. Kolesistogram oral dilakukan dalam situasi darurat.


7.

Gallbladder nonacute scan, juga disebut HIDA scan, dilakukan melalui teknik
kedokteran nuklir untuk menilai kolesistitis akut

2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri akut b.d agen injuri fisik (obstruksi,proses pembedahan).
2. Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosa, pengobatan berhubungan dengan
salah interpretasi informasi
3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan untuk
ingesti dan absorpsi.
4. Resiko defisit volume cairan b.d kehilangan cairan berlebihan (mual,muntah,drainase
selan yang berlebihan)
ANALISA DATA
NS.
DIAGNOSIS :

Nyeri akut (00132)

(NANDA-I)
Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat
kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan
DEFINITION:

sedemikian rupa; awitan yang tiba-tiba atau lambat intensitas ringan hingga berat
dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diprediksi dan berlangsung < 6 bulan.

DEFINING
CHARACTERI
STICS

RELATED

ASSESSMENT

FACTORS:

Perubahan selera makan


Perubahan tekanan darah
Perubahan frekuensi jantung
Perubahan frekuensi pernapasan
Laporan isyarat
Diaforesis
Perilaku distraksi(mis.berjalan mondar mandir,mencari orang lain dan atau

aktivitas lain)
Mengekspresikan perilaku(mis.gelisah, merengek, menangis, waspada,

iritabilitas, mendesah)
Masker wajah(mis.mata kurang bercahaya, tampak kacau, gerakan mata

berpencar atau tetap pada satu fokus, meringis)


Perilaku berjaga-jaga/melindungi area nyeri
Fokus menyempit(mis.gangguan persepsi nyeri, hambatan proses berpikir,

penurunan intereaksi dengan orang dan lingkungan)


Indikasi nyeri yang dapat diamati
Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
Sikap tubuh melindungi
Dilatasi pupil
Fokus pada diri sendiri
Gangguan tidur
Melaporkan nyeri secara verbal

Agens cedera(mis., biologis, zat kimia, fisik, psikologis)

Subjective data entry

Objective data entry

DIAGNOSIS

Ns. Diagnosis (Specify):


Nyeri akut
Client
Related to:

Diagnostic

agens cedera (Fisik, biologis)

Statement:

I. INTERVENSI (1)
Inisial Pasien

Nama Mhs

:-

Tanggal

Diagnosa Keperawatan

: Nyeri Akut

Definisi

: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang


muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa; awitan yang tibatiba atau lambat intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat
diantisipasi atau dapat diprediksi dan berlangsung < 6 bulan.
NIC

INTERVENSI

Manajemen Nyeri

NOC

AKTIVITAS

Lakukan

OUTCOME

pengkajian

nyeri

Mengenali

nyeri
Mendeskripsikan

faktor penyebab
Menggunakan catatan

secara

komprehensif
termasuk

Kontrol nyeri (1605)

INDICATOR

lokasi,

serangan

Def:

karakteristik,

durasi,

Def :

frekuensi, kualitas dan


Mengurangi
nyeri

dan

menurunkan

verbal

tingkat nyeri yang


dirasakan pasien.

faktor presipitasi.
Observasi reaksi non

Tindakan perorangan untuk


mengontrol nyeri

untuk

pencegahan
Menggunakan
analgesik

pasien
Kaji
kultur

nyeri untuk kesehatan

yang

profesional
Mengenali

kumpulan gejala nyeri


Melaporkan kontrol

nyeri
Evaluasi pengalaman

nyeri masa lampau


Evaluasi
bersama
dan

tim

kesehatan lain tentang


ketidakefektifan

nyeri

lampau
Bantu pasien

masa
dan

keluarga

untuk

mencari

dan

menemukan dukungan
Kontrol
lingkungan
yang

dapat

mempengaruhi Nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan

dan

kebisingan
Kurangi

presipitasi
Pilih dan

lakukan

penanganan

nyeri

(farmakologi,

direkomendasikan
Melaporkan

nyeri

mempengaruhi respon

kontrol

yang

perubahan pada gejala

pengalaman

pasien

gejala

mengetahui

memonitor

komunikasi
terapeutik

untuk

setiap waktu
Menggunakan langkah

dari

ketidaknyamanan
Gunakan
teknik

harian

faktor

non

nyeri

kembali

farmakologi

interpersonal)
kaji tipe dan sumber
nyeri

untuk

menentukan intervensi
Ajarkan
tentang
teknik

dan

non

farmakologi
Berikan
analgetik
untuk

mengurangi

nyeri
Evaluasi

keefektifan

kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes,Marilynn E.1999.Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.Jakarta: ECG.
Ganang.W.F.1995.Buku Ajar Fisiologi kedokteran Edisi 14. Jakarta : EGC.
Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI 1990, Jakarta, P: 586588.
Sylvia Anderson Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih
Bahasa AdiDharma, Edisi II.P: 329-330.
http://www.newsmedical.net/health/GallstonesWhatareGallstones%28Indonesian
%29.aspx
http://nswahyunc.blogspot.com/2012/05/asuhan-keperawatan-pasien-dengan.html