Anda di halaman 1dari 9

PEMANFAATAN INSTUMEN PENILAIAN BENTUK

ANIMASI UNTUK PEMAHAMAN KONSEP PEMBIASAN CAHAYA


BAGI SISWA SMA
Kalbin Salim1, Dayang Hjh Tiawa2
1

Universiti Teknologi Malaysia, 2 Universiti Teknologi Malaysia


1
kalbinslm@yahoo.com, 2drdayang@utm.my

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang pengaruh
penggunaan instrumen penilaian dalam bentuk animasi terhadap hasil tes pemahaman
konsep pembiasan cahaya. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment
dengan desain non equivalent posttest-only control group design. Sebagai kelompok
kontrol digunakan butir soal dalam bentuk paper and pencil test. Penelitian dilakukan
terhadap siswa kelas X salah satu SMA Negeri Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan
Riau pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Sampel penelitian dipilih dua
kelas dari tujuh kelas paralel secara acak kelas, sebagai kelas kontrol dan kelas
eksperimen.Jumlah sampel sebanyak 85 orang dengan persentase 42 orang untuk kelas
kontrol dan 43 orang untuk kelas eksperimen. Data dikumpulkan setelah kelas
eksperimen dan kelas kontrol sama-sama mendapatkan pembelajaran pembiasan cahaya.
Kelas kontrol mendapatkan tes dalam bentuk paper and pencil test yang berjumlah 20
nomor soal, dan kelas eksperimen mendapatkan tes dalam bentuk animasi yang sama
dan dengan jumlah 20 nomor soal. Instrumen penelitian yang digunakan adalah berupa
angket dedan soal pretest dan postes. Analisis data dilakukan dengan metode statistik
inferensial menggunakan SPSS 17.
Berdasarkan hasil penelitian skor rata-rata kelas eksperimen 74% dengan simpangan
baku 14 dan skor rata-rata kelas kontrol 31% dengan simpangan baku 12. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa hasil tes pemahaman konsep pembiasan cahaya siswa yang
mendapatkan butir soal dalam bentuk animasi berbeda signifikan dibanding siswa yang
mendapatkan butir soal dalam bentuk paper and pencil test. Hasil tes Pemahaman siswa
pada subkonsep hukum Snellius,
lensa cekung, dan lensa cembung yang
menggunakan butir soal dalam bentuk animasi lebih tinggi dari pada siswa yang
menggunakan butir soal dalam bentuk paper and pencil test. Siswa setuju dengan
penggunaan butir soal dalam bentuk animasi pada tes pemahaman konsep pembiasan
cahaya. Siswa menyatakan bahwa butir soal yang dianimasikan sangat menarik, lebih
memahami persoalan yang ditanyakan, memahami maksud dan isi soal, dan gambaran
masalah menjadi lebih jelas. Penggunaan butir soal dalam bentuk animasi disarankan
untuk dikembangkan pada konsep-konsep lain dalam pembelajaran fisika.
Kata Kunci: Animasi, Pemahaman konsep, Pembiasan cahaya

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Penilaian (asesmen) sebagai bagian dari program pembelajaran, mempunyai peranan yang
sangat penting serta memberi manfaat terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Menurut Haryati
(2007) manfaat penilaian dapat dinyatakan yaitu: mengetahui kekuatan dan kelemahannya
dalam proses pembelajaran, memantau kemajuan belajar siswa, umpan balik bagi guru dalam
Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Matematika dan Statistika
dengan tema Penguatan Peran Matematika dan Statistika Dalam
Percepatan Pembangunan Nasional
Pada tanggal 27 Februari 2014 di Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Tanjungpura.

PROSESING

ISBN : 978 979 16353 6 -3

memperbaiki metode pembelajaran, masukan bagi guru untuk melakukan perbaikan


pembelajaran
Keunggulan media komputer dalam kemampuan memodelkan suatu fenomena dalam bentuk
simulasi/ animasi dapat dimanfaatkan dalam proses evaluasi hasil belajar. Untuk persoalanpersoalan yang terkait dengan fenomena dinamik/ gerak, maka soal-soal evaluasi dapat dikemas
dalam bentuk animasi. Penelitian tentang penggunaan asesmen dalam bentuk animasi untuk
mengukur pemahaman konsep fisika telah dilakukan oleh M. Dancy dan Robert Beichner
(2006), hasilnya menunjukkan bahwa asesmen dalam bentuk animasi dapat meningkatkan hasil
tes pemahaman konsep siswa pada pembelajaran hukum Newton.
Pembiasan cahaya merupakan salah satu materi fisika yang sering ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari, seperti ketika kita melihat dasar bak mandi yang airnya jernih dan tenang akan
tampak lebih dangkal, demikian juga halnya jika sebatang pensil berada dalam gelas yang berisi
air akan tampak patah pada permukaan air. Hal ini merupakan gejala pembiasan. Peristiwa
pembiasan menggambarkan perilaku penjalaran cahaya sebelum dan sesudah melalui bidang
batas dua medium atau lebih yang berbeda. Untuk menilai hasil belajar siswa tentang
pemahaman konsep pembiasan cahaya biasanya dilakukan dengan menggunakan soal-soal
dalam bentuk paper and pencil test yang berupa soal-soal tertulis dalam bentuk grafik atau
gambar yang statis. Hal ini tidak dapat menggambarkan peristiwa penjalaran cahaya sehingga
membuat siswa sulit untuk memahami peristiwa pembiasan cahaya yang sesungguhnya. Oleh
karena itu tampaknya asesmen dalam bentuk butir soal animasi dipandang lebih cocok untuk
mengevaluasi pemahaman konsep pembiasan cahaya.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, telah dilakukan penelitian tentang pengaruh
penggunaan asesmen (penilaian) dengan soal-soal yang dikemas dalam bentuk animasi pada
konsep pembiasan cahaya terhadap hasil tes pemahaman konsep pembiasan cahaya, dengan
judul Pemanfaatan Instrumen Asesmen Bentuk Animasi Untuk Mengupayakan Pemahaman
Konsep Pembiasan Cahaya Bagi Siswa SMA.
2. Rumusan Masalah

Bagaimana pemahaman konsep siswa tentang materi pembiasan cahaya antara siswa
yang menggunakan soal dalam bentuk animasi dengan siswa yang mendapatkan soal
dalam bentuk gambar statis?
3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh penggunaan

asesmen dengan butir soal dalam bentuk animasi terhadap hasil tes pemahaman konsep
pembiasan cahaya, jika dibandingkan dengan penggunaan asesmen dalam bentuk paper
and pencil test,
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris tentang pengaruh penggunaan
asesmen dalam bentuk butir soal animasi terhadap hasil tes pemahaman konsep pembiasan
cahaya. Hasil penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang
berkepentingan.

METODE PENELITIAN
Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai maka penelitian ini menggunakan metode eksperimen
semu dan deskriptif. Metode eksperimen digunakan untuk mendapatkan data hasil tes
pemahaman konsep pembiasan cahaya, sedangkan metode deskriptif digunakan untuk
mendapatkan data tanggapan siswa terhadap asesmen dalam bentuk animasi. Desain penelitian

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN


Pontianak, 27 Februari 2014

PROSESING

ISBN : 978 979 16353 6 -3

yang digunakan adalah non equivalent posttest-Only Control group design yaitu penelitian yang
dilaksanakan pada dua kelas, satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Kedua kelas
diberikan pembelajaran pembiasan cahaya dengan perlakuan yang sama yaitu model inkuiri.
Setelah pembelajaran selesai kelas eksperimen dan kelas kontrol diberikan tes akhir pemahaman
konsep pembiasan cahaya dengan bentuk soal yang berbeda tetapi kontennya sama. Kelas
eksperimen menggunakan butir soal dalam bentuk animasi sedangkan kelas kontrol
menggunakan butir soal dalam bentuk paper and pencil test. Siswa kelas eksperimen menjawab
soal dengan menggunakan komputer. Untuk menjawab soal siswa harus melihat tampilan
animasi setiap pilihan jawaban. Jawaban dapat diberikan dengan mengklik salah satu pilihan
jawaban yang mereka anggap paling tepat. Animasi yang ditampilkan berupa proses perambatan
cahaya dalam suatu medium, proses pembiasan cahaya pada bidang dua medium dan sesudah
melewati suatu medium.
Penelitian deskriptif digunakan untuk menjaring tentang tanggapan siswa terhadap penggunaan
asesmen dengan butir soal dalam bentuk animasi.
1. Populasi dan Sampel Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X salah satu SMA Negeri 2 Tanjungpinang
Propinsi Kepulauan Riau 2013/2014 sebanyak dua kelas yang dipilih secara acak kelas dari
tujuh kelas paralel. Sampel penelitian adalah siswa yang diambil dua kelas secara acak, yaitu
kelas X-2 sebanyak 43 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas X-1 sebanyak 42 siswa
sebagai kelas kontrol.
2. Prosedur Penelitian
Tahap pertama yang dilakukan adalah persiapan, yang meliputi; studi literatur untuk mengkaji
teori-teori tentang asesmen (penilaian) dengan menggunakan soal-soal dalam bentuk animasi
dan teori tentang pembiasan cahaya, penyusunan perangkat pembelajaran dan instrumen
penelitian dan ujicoba dan analisis soal. Tahap kedua adalah pelaksanaan penelitian yang
meliputi; pelaksanaan pembelajaran pembiasan cahaya pada kedua kelompok dengan perlakuan
yang sama yaitu pembelajaran dengan model inkuiri, mensosialisasikan kepada siswa dan guru
soal-soal pemahaman konsep yang dikemas dalam bentuk animasi dan cara-cara untuk
menjawabnya dengan menggunakan perangkat komputer, melakukan tes pemahaman konsep
pembiasan cahaya setelah pembelajaran selesai dengan memberikan posttest dalam bentuk soal
yang berbeda. Siswa kelas eksperimen dengan soal dalam bentuk animasi dan siswa kelas
kontrol dengan soal-soal dalam bentuk paper and pencil tes dan penyebaran angket kepada
kelas eksperimen untuk menjaring tanggapan siswa terhadap penggunaan asesmen dalam
bentuk butir soal animasi.

3. Analisis Data
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap dan analisis data meliputi: penskoran test
pemahaman konsep untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol secara keseluruhan, melakukan
uji normalitas distribusi data, melakukan uji homogenitas varians data kedua kelompok.
Menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis statistik. Setelah itu melakukan
analisis data angket tanggapan siswa terhadap penggunaan asesmen dalam bentuk animasi.
Pengolahan dan analisis data dengan menggunakan uji statistik dengan tahapan; Peratama, Uji
normalitas distribusi data untuk data-data yang dikumpulkan menggunakan One Sample
Kolmogorov-Smirnov Test. Kedua, Uji Homogenitas varians dua kelompok dilakukan untuk
melihat sama tidaknya varians-varians dua buah peubah bebas, dengan menggunakan Levene
Test (Suyanto, 2009). Varians dikatakan homogen jika varians data posttest kelompok
eksperimen sama dengan varians data posttest kelompok kontrol.

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN


Pontianak, 27 Februari 2014

PROSESING

ISBN : 978 979 16353 6 -3

4. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah; Pertama adalah Tes pemahaman Konsep
digunakan untuk mengukur pemahaman konsep pembiasan cahaya setelah proses pembelajaran
dilaksanakan. Tes pemahaman konsep disusun dalam bentuk pilihan ganda dengan lima pilihan
jawaban. Tes pemahaman konsep untuk kelas eksperimen dikemas dengan butir soal dalam
bentuk animasi sedangkan untuk kelas kontrol butir soal dikemas dalam bentuk paper and
pencil test. Animasi yang ditampilkan setiap pilihan jawaban pada asesmen dalam bentuk
animasi digunakan sebagai pengganti gambar statis dalam soal paper and pencil test untuk kelas
kontrol. Kedua adalah Angket Respon Siswa yang digunakan untuk menjaring tanggapan siswa
terhadap penggunaan asesmen dalam bentuk animasi. Angket ini menggunakan skala likert,
setiap siswa diminta untuk menjawab suatu pertanyaan dengan jawaban sangat setuju (SS),
Setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Untuk pertanyan positif maka
dikaitkan dengan nilai SS= 4, S = 3, TS = 2 dan STS = 1 dan sebaliknya.
5. Ujicoba Tes dan Hasilnya
Tes yang digunakan dalam penelitian berupa soal tes pemahaman konsep berbentuk pilihan
ganda dengan lima pilihan jawaban. Sebelum digunakan, instrumen ini telah di-judgement dan
diujicobakan. Ujicoba dilakukan kepada siswa kelas XI IPA 4 pada SMA Negeri 2 Kota
Tanjungpinang. Untuk mengetahui kualitas soal pemahaman konsep dilakukan analisis butir
soal meliputi: validitas, reliabilitas, tingkat kemudahan dan daya pembeda. Analisis soal
dilakukan dengan menggunakan bantuan program AnatesV4. Berikut ini diuraikan ketentuanketentuan yang digunakan untuk analisis validitas, reliabilitas, tingkat kemudahan, dan daya
pembeda soal.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan permasalahan penelitian diatas, hasil penelitian mengenai penilaian dengan
menggunakan soal-soal dalam bentuk animasi dan soal-soal dalam bentuk paper and pencil test
terhadap pemahaman konsep dan tanggapan siswa terhadap penilaian dengan menggunakan
soal-soal yang dianimasikan pada pembelajaran pembiasan cahaya. Data-data yang diperoleh
meliputi; Data hasil test pemahaman konsep siswa pada topik pembiasan cahaya dengan soal
dalam bentuk animasi dan data hasil tes pemahaman konsep siswa pada topik pembiasan cahaya
dengan soal dalam bentuk paper and pencil test.
1.

Hasil Tes Pemahaman Konsep Pembiasan Cahaya


Persentase skor rata-rata
posttest pemahaman konsep pembiasan cahaya siswa yang
mendapatkan soal-soal dalam bentuk animasi dan siswa yang mendapatkan soal-soal dalam
bentuk paper and pencil test ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram batang persentase skor rata-rata


pemahaman konsep kelas eksperimen dan kelas kontrol

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN


Pontianak, 27 Februari 2014

posttest

PROSESING

ISBN : 978 979 16353 6 -3

Berdasarkan persentase skor rata-rata posttest pemahaman konsep seperti pada Gambar 1,
diketahui bahwa persentase skor rata-rata posttest pemahaman konsep siswa kelas eksperimen
sebesar 74% dari skor ideal, sementara persentase skor rata-rata posttest pemahaman konsep
siswa kelas kontrol sebesar 31% dari skor ideal. Data di atas menunjukkan bahwa persentase
skor rata-rata posttest siswa yang menggunakan asesmen dalam bentuk animasi lebih tinggi
dari persentase skor rata-rata posttest siswa yang menggunakan butir soal dalam bentuk paper
and pencil test.
2.
Uji-t Pemahaman Konsep
Setelah diperoleh data pemahaman konsep siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol
berdistribusi normal dan homogen maka dilanjutkan menguji hipotesis dengan menggunakan
uji statistik parametrik (uji t dengan = 0,05). Hasil uji-t dirangkum pada Tabel 1.
Rata-rata Posttes
Ekperime
Kontrol
n
19,33
8,10

H0

15,027

0,000

Tolak

Tabel 1. Rangkuman Hasil Uji-t Perbedaan Rata-rata Posttest


Pemahaman Konsep
Uji statistik yang dilakukan dengan menggunakan Independent Samples Test diperoleh hasil
bahwa nilai t = 15,072 pada signifikansi sebesar 0,000, seperti pada Tabel 1. Nilai signifikansi
tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05, yang berarti hipotesis yang menyatakan tidak
terdapat perbedaan rata-rata skor tes pemahaman konsep yang signifikan antara siswa yang
mendapatkan butir soal dalam bentuk animasi dengan siswa yang mendapatkan butir soal dalam
bentuk paper and pencil test (H0) ditolak. Penolakan hipotesis nol tersebut menunjukkan
terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor tes pemahaman konsep siswa yang
mendapatkan asesmen dalam bentuk animasi dengan siswa yang mendapatkan asesmen dalam
bentuk paper and pencil test. Rata-rata hasil tes pemahaman konsep siswa yang mendapatkan
butir soal dalam bentuk animasi lebih tinggi dibanding siswa yang mendapatkan butir soal
dalam bentuk paper and pencil test.
Persentase skor rata-rata posttest pemahaman konsep pembiasan cahaya antara siswa yang
menggunakan soal-soal dalam bentuk animasi dan siswa yang mendapatkan soal-soal dalam
bentuk paper and pencil test pada label konsep Hukum Snellius, lensa cekung dan lensa
cembung dapat dilihat pada Gambar 2.

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN


Pontianak, 27 Februari 2014

PROSESING

ISBN : 978 979 16353 6 -3

Gambar 2. Diagram batang skor rata-rata posttest pemahaman pada


masing-masing label konsep Hukum Snellius, lensa cekung dan lensa
cembung kelas eksperimen dan kelas kontrol
Perolehan skor rata-rata posttest pemahaman siswa pada label konsep Hukum Snellius untuk
kelas eksperimen sebesar 77% dan untuk kelas kontrol sebesar 29% dari skor ideal. Perolehan
skor rata-rata posttest pemahaman siswa pada label konsep lensa cembung untuk kelas
eksperimen sebesar 72% dan untuk kelas kontrol sebesar 37% dari skor ideal. Perolehan skor
rata-rata posttest pemahaman siswa pada label konsep lensa cekung untuk kelas eksperimen
sebesar 70% dan untuk kelas kontrol sebesar 27% dari skor ideal. Dari hasil analisis data
pemahaman siswa pada setiap label konsep diketahui bahwa persentase rata-rata skor posttest
kelas eksperimen yang menggunakan asesmen dalam bentuk animasi lebih tinggi dari pada
kelas kontrol yang menggunakan asesmen dalam bentuk paper and pencil test.
3.

Pembahasan perbedaan pemahaman konsep melalui tes bentuk


animasi dan paper and pencil test

Analisis data secara statistik mengungkap bahwa pemahaman konsep siswa yang mengikuti tes
dengan menggunakan asesmen animasi lebih baik dibanding siswa dengan tes peper and pencil
test. Rata-rata skor pemahaman konsep siswa yang mengikuti tes dengan menggunakan
asesmen dalam bentuk animasi sebesar 19 dan siswa yang mengikuti peper and pencil test
sebesar 8. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tes dengan menggunakan asesmen dalam bentuk
animasi sangat potensial digunakan dalam menilai proses pembelajaran fisika, khususnya pada
materi pokok pembiasaan cahaya.
Rata-rata skor posttest pemahaman siswa pada sub konsep Hukum Snellius untuk kelas
eksperimen sebesar 77% dan untuk kelas kontrol sebesar 29% dari skor ideal. Perolehan skor
rata-rata posttest pemahaman siswa pada sub konsep lensa cembung untuk kelas eksperimen
sebesar 72% dan untuk kelas kontrol sebesar 37% dari skor ideal, dan perolehan skor rata-rata
posttest pemahaman siswa pada sub konsep lensa cekung untuk kelas eksperimen sebesar 70%
dan untuk kelas kontrol sebesar 27% dari skor ideal.
Pemahaman yang lebih baik pada konsep pembiasan cahaya melalui tes animasi sesuai dengan
berbagai hasil penelitian penggunaan animasi dalam pembelajaran yaitu kegiatan praktikum.
Penggunaan media animasi komputer sebagai pendukung praktikum, lebih baik dalam
meningkatkan pemahaman konsep siswa dan keterampilan proses siswa serta dapat memotivasi
belajar siswa (Meranti et al, 2007). Hasil tes bentuk animasi yang lebih baik pada pemahaman
konsep materi pokok pembiasaan cahaya untuk sub konsep hukum Snellius, lensa cembung dan
lensa cekung dapat digunakan untuk pendukung proses pembelajaran. Tes dengan bentuk
animasi yang memiliki potensi tersebut, juga dapat melengkapi beberapa hasil penelitian
tentang model pembelajaran yang memanfaatkan perangkat komputer seperti simulasi dan
penerapan model pembelajaran multimedia interaktif, sehingga kelemahannya dapat dikurangi.
Model pembelajaran berbasis multimedia interaktif yang memanfaatkan komputer dapat lebih
meningkatkan konsep optika geometri dibanding pembelajaran konvensional (Samsudin et al,
2008). Hasil penelitian lainnya mengungkap bahwa model pembelajaran multimedia interaktif
dapat meningkatkan penguasaan konsep optik fisis guru fisika (Yahya et al, 2008). Model
pembelajaran yang berbasis komputer tersebut belum meninjau penggunaan tes dalam bentuk
animasi, khususnya pada materi pokok pembiasaan cahaya untuk sub konsep hukum Snellius,
lensa cembung dan lensa cekung. Oleh sebab itu hasil penelitian penggunaan asesmen animasi
pada materi pokok pembiasaan cahaya untuk sub konsep hukum Snellius, lensa cembung dan
lensa cekung sangat penting dan dibutuhkan dalam pembelajaran.

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN


Pontianak, 27 Februari 2014

PROSESING

4.

ISBN : 978 979 16353 6 -3

Pembahasan perbedaan pemahaman pada masing-masing label


konsep Hukum Snellius, lensa cekung dan lensa cembung antara kelas eksperimen
dan kelas kontrol.

Rata-rata skor pemahaman konsep tertinggi siswa pada subkonsep hukum Snellius dan terendah
pada pemahaman tentang lensa cekung. Pemahaman subkonsep lensa cekung seharusnya lebih
besar dari pemahaman siswa pada subkonsep hukum Snellius dan lensa cembung karena
pembelajaran lensa cekung setelah pembelajaran hukum Snellius dan pembelajaran lensa
cembung. Rata-rata skor pemahaman tertinggi seharusnya terjadi pada sub konsep lensa cekung
karena materi pokok tentang hukum Snellius merupakan prasyarat atau konsep yang mendasari
subkonsep lensa cembung maupun lensa cekung.
Pemahaman konsep pembiasan cahaya yang terdiri dari tiga sub konsep di atas dapat
dikelompokkan dalam beberapa tipe pengetahuan. Tipe pengetahuan dimaksud adalah
pengetahuan konseptual adalah pengetahuan tentang hubungan antara bagian-bagian utama dari
suatu struktur yang lebih besar yang ditunjukkan adanya fungsi bagian tersebut secara
keseluruhan. Pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu
seperti metode berpikir, kriteria, teknik maupun metode (Krathwhol, 2002 : 7). Hukum Snellius
dapat dikategorikan dalam pengetahuan konseptual, sedangkan subkonsep lensa cembung dan
lensa cekung dapat dikategorikan sebagai pengetahuan prosedural. Pengetahuan prosedural
tentang subkonsep lensa cembung dan lensa cekung yang membutuhkan pemahaman
pengetahuan konseptual tentang hukum Snellius dapat berperan sebagai penyebab skor rata-rata
pemahaman subkonsep lensa cembung dan lensa cekung lebih kecil.
Rata-rata pemahaman subkonsep hukum Snellius yang lebih tinggi dari pemahaman subkonsep
lensa cembung dan lensa cekung menunjukkan bahwa pemahaman konsep mendasar yang
merupakan kemampuan berpikir tingkat rendah siswa yang lebih tinggi tidak menjamin
kemampuan berpikir tingkat tinggi akan lebih baik. Tsaparlis dan Zoller (2003) menyatakan
bahwa kinerja siswa pada kemampuan kognitif tingkat rendah (Lower-Order Cognitive Skill
/LOCS) yang tinggi tidak menjamin tingginya penguasaan kemampuan kognitif tingkat tinggi
(Higher-Order Cognitive Skill /HOCS).
Perbedaan selisih rata-rata skor pemahaman pada sub konsep hukum Snellius, lensa cembung,
dan lensa cekung antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol berturut-turut sebesar 48, 35,
dan 43. Perbedaan ini menunjukkan bahwa rata-rata pemahaman siswa tentang hukum Snellius
relatif lebih baik dengan perbedaan paling tinggi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
dibanding pada pemahaman subkonsep lensa cembung atau lensa cekung.
Perbedaan selisih rata-rata skor pemahaman pada sub konsep lensa cembung antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol, seharusnya lebih besar dari perbedaan pemahaman siswa pada
subkonsep hukum Snellius. Perbedaan selisih rata-rata skor pemahaman tertinggi seharusnya
pada sub konsep lensa cekung antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal tersebut terkait
dengan materi pokok tentang hukum Snellius yang merupakan prasyarat atau konsep yang
mendasari subkonsep lensa cembung maupun lensa cekung. Faktor penyebab perbedaan selisih
rata-rata pemahaman siswa tentang hukum Snellius yang lebih tinggi antara kelas eksperimen
dan kelas kontrol dibanding pada pemahaman subkonsep lensa cembung atau lensa cekung
adalah perbedan besarnya persentase soal yang sukar.
Instrumen asesmen pemahaman konsep dalam bentuk animasi dalam kelompok eksperimen
terdiri dari 26 item. Item yang mengukur penguasaan konsep siswa tentang hukum Snellius
sebanyak 14 item dengan persentase item yang berkategori sukar sebesar 14% atau hanya
sebanyak 2 item. Item yang mengukur penguasaan konsep siswa tentang subkonsep lensa
cembung sebanyak 8 item dengan persentase item yang berkategori sukar sebanyak 3 item

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN


Pontianak, 27 Februari 2014

PROSESING

ISBN : 978 979 16353 6 -3

dengan persentase sebesar 37%. Item yang mengukur penguasaan konsep siswa tentang
subkonsep lensa cembung sebanyak 4 item dengan persentase item yang berkategori sukar
sebanyak 1 item dengan persentase sebesar 25%. Item-item instrumen asesmen lainnya
termasuk kategori tingkat kesulitan yang sedang.
Instrumen asesmen pemahaman konsep dalam bentuk paper and pencils test dalam kelompok
kontrol terdiri dari 26 item. Item yang mengukur pemahaman konsep siswa tentang hukum
Snellius sebanyak 14 item dengan persentase item yang berkategori sukar, juga sebesar 14%
atau hanya sebanyak 2 item. Item yang mengukur pemahaman konsep siswa tentang subkonsep
lensa cembung sebanyak 8 item dengan persentase item yang berkategori sukar sebanyak 2 item
dengan persentase sebesar 25%. Item yang mengukur pemahaman konsep siswa tentang
subkonsep lensa cembung sebanyak 4 item dengan persentase item yang berkategori sukar
sebanyak 1 item dengan persentase juga sebesar 25%. Item-ite instrumen asesmen lainnya
bentuk paper and pencils test termasuk kategori tingkat kesulitan yang sedang.
Perbedaan rata-rata skor pemahaman siswa tentang hukum Snellius yang lebih tinggi antara
kelas eksperimen dan kelas kontrol dibanding pada pemahaman subkonsep lensa cembung atau
lensa cekung disebabkan oleh persentase jumlah item instrumen asesmen berkategori sukar
yang lebih tinggi dengan persentase berturut-turut sebesar 37%, 14%, dan 25%. Persentase item
yang berkategori sukar yang berbeda ini mempengaruhi skor hasil asesmen siswa (Surapranata,
2006).

SIMPULAN DAN SARAN


1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh penggunaan asesmen dalam
bentuk animasi terhadap pemahaman konsep siswa pada topik pembiasan cahaya, maka dapat
disimpulkan bahwa; Pertama, skor hasil tes pemahaman konsep pembiasan cahaya siswa yang
mendapatkan butir soal dalam bentuk animasi secara signifikan lebih tinggi dibanding dengan
skor hasil tes pemahaman konsep siswa yang mendapatkan butir soal dalam bentuk paper and
pencil test. Kedua, hasil tes pemahaman pada masing-masing label konsep hukum Snellius,
lensa cembung, dan lensa cekung yang menggunakan butir soal dalam bentuk animasi lebih
tinggi dari pada siswa yang menggunakan butir soal dalam bentuk paper and pencil test. Ketiga,
penggunaan butir soal dalam bentuk animasi pada tes pemahaman konsep pembiasan cahaya
mendapatkan tanggapan positif (setuju) dari siswa. Siswa menyatakan bahwa soal-soal yang
dianimasikan dapat lebih memberikan gambaran tentang persoalan yang ditanyakan, memahami
maksud dan isi soal, dan gambaran masalah menjadi lebih jelas.
2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan tentang penilaian dengan
menggunakan soal-soal yang dianimasikan pada pembelajaran pembiasan cahaya, peneliti
memberikan saran yaitu; Pertama,tes pemahaman konsep pembiasan cahaya dalam bentuk
animasi sebaiknya digunakan oleh guru dalam menilai keberhasilan proses pembelajaran.
Kedua, penelitian ini dilakukan tanpa meninjau model pembelajaran yang digunakan, sebaiknya
penelitian dilanjutnya dengan mengungkap model pembelajaran yang tepat dengan
memanfaatka asesmen dalam bentuk animasi.

DAFTAR PUSTAKA
Agustian, F., Suyanto, E., Maharta, N. (2009). Pengembangan Video Simulasi Praktikum Lensa
Positif Menggunakan Media Vcd. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan II, Lembaga
Penelitian dan FKIP-Universitas Lampung, Bandar Lampung. 330-337.

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN


Pontianak, 27 Februari 2014

PROSESING

ISBN : 978 979 16353 6 -3

Dancy. M. H. dan Beichner. R. (2006). Impact of animation on assessment of conceptual


understanding in physics. The American Physical Society. 2,010104(7).
Krathwohl R. D. (2002). A revision of Blooms: an overview Benjamin S. Bloom, University of
Chicago. Chicago: University of Chicago.
Meranti, D., Permanasari, A., Mudzakir, A. (2007). The Use of Computer Animation in
Learning Process of Electrolysis Topic for Supporting Practical Activity to Improve
Conceptual Understanding and Basic Skill of Scientific Work (BSSW). Proceedings of
The First International Seminar on Science Education. I, UPI. 77-98.
Mimin Haryati. (2007), Model & Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan.
Jakarta: Gaung Persada Press.
Samsudin, A, Rusli, A., Suhandi, A. (2008). Penggunaan Model Pembelajaran Multi Media
Interaktif (MMI) Optika Geometri untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan
Memperbaiki Sikap Belajar Siswa. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA. Vol. II. No. 3. 241250.
Tsaparlis G. & Zoller U. (2003). Evaluation of higher vs lower-order cognitive skill-type
examination in chemistry: implications for university in-class assessment and
examinations. The Royal Society Chemistry. Vol 7. p.50-57.
Yahya, S., Setiawan, A., Suhandi, A. (2008). Model Pembelajaran Interaktif Optik Fisis untuk
Meningkatkan Penguasaan Konsep, Keterampilan Generik Sains, dan Keterampiulan
Berpikir Kritis Guru Fisika. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA. Vol. II. No. 1. 56-63.

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN


Pontianak, 27 Februari 2014