Anda di halaman 1dari 4

GAMBARAN KLINIS

Serangan panik menunjukkan beberapa gejala ansietas yang berat dengan onset cepat.
Gejala mencapai puncaknya dalam sepuluh menit, tapi juga bisa dalam beberapa detik. Pasien
mengeluh nafas pendke, sesak napas, tremor, pusing, merasa panas atau dingin, ada
depersonalisasi dan derealisasi. Pasien dengan serangan panik akan berulangkali mencari
pertolongan, sering dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit. Bila tidak diobati
serangan panik akan berulang dan pasien akan berulangkali mengunjungi dokter atau
seringkali dibawa ke IGD. Lama-lama pasien akan menghindari tempat-tempat atau situasi
serangan paniknya pernah terjadi terutama tempat dimana susah untuk menyelamatkan diri.
Lama-lama bisa jatuh pada agorafobia. Serangan panik akan berkurang di rumah, berada
bersama pasangan atau orang yang dikenal sehingga bisa membantu bila terjadi serangan. (16)
Gangguan panik merupakan serangan panik yang berulang-ulang dengan onset dan
durasi sangat singkat. Karena adanya gejala-gejala fisik pada waktu serangan, pasien menjadi
ketakutan mereka akan mendapat serangan jantung, stroke, dan lain-lain. Kadang pasien
berpikir mereka akan kehilangan kontrol atau menjadi gila.(2,5,6)
Beberapa penelitian menunjukkan terjadi peningkatan resiko ide bunuh diri dan
percobaan bunuh diri pada pasien gangguan panik. Resiko bunuh diri tinggi pada pasien
dengan komorbiditas depresi berat. (4,5)
Pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi atau tempat yang sulit
mendapatkan pertolongan. Mereka lebih suka bepergian bersama teman atau saudara pada
daerah-daerah yang ramai atau sibuk seperti pasar dan jalan raya. Pasien akan selalu minta
ditemani setiap saat akan meninggalkan rumah, bahkan pada keadaan yang sudah cukup berat
pasien menolak untuk keluar rumah. (1,3,5,6)
DIAGNOSIS
DIAGNOSIS SERANGAN PANIK
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV (DSM-IV) adalah:
Adanya satu periode ketakutan sangat hebat atau kegelisahan dimana 4 (empat) atau lebih
gejala-gejala di bawah ini dapat ditemukan dan mencapai puncaknya dalam waktu sepuluh
menit: (1-3,5)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Palpitasi, jantung terasa berat dan peningkatan denyut jantung.


Ketingat banyak.
Menggigil atau gemetaran.
Perasaan napasnya pendek atau tertahan-tahan.
Merasa tercekik.
Nyeri dada.
Mual atau rasa tidak nyaman di perut.
Merasa pusing, goyang/hoyong, kepala terasa ringan atau nyeri.
Derealisasi (merasa tidak di dunia realita), atau depersonalisasi (merasa terpisah

dari diri sendiri)


10. Takut kehilangan kendali diri atau menjadi gila.
11. Takut mati.
12. Parestesia (menurunnya sensasi).
13. Merasa kedinginan atau kepanasan.
DIAGNOSIS GANGGUAN PANIK
Menurut DSM-IV adalah: (1-3,5)
A. Harus ada 1 dan 2 kriteria di bawah ini:
1. Adanya serangan panik yang tidak diharapkan secara berulang-ulang.
2. Paling sedikit satu serangan panik diikuti dalam jangka waktu 1 bulan (atau lebih)
oleh satu (atau lebih) keadaan-keadaan berikut:
a) Kekhawatiran yang terus menerus tentang kemungkinan akan mendapat
serangan panik.
b) Khawatir tentang impilkasi daripada serangan panik atau akibatnya (misal:
hilang kendali, mendapat serangan jantung, atau menjadi gila).
c) Adanya perubahan yang bermakna dalam perilaku sehubungan dengan
adanya serangan panik.
B. Ada atau tidaknya agorafobia.
C. Serangan panik tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari satu zat (misal:
penyalahgunaan zat atau obat-obatan) atau kondisi medis umum (hipertiroid).
D. Serangan panik tidak bisa dimasukkan pada gangguan mental emosional lain.
Menurut PPDGJ-III, gangguan panik baru ditegakkan sebaggai diagnosis utama bila
tidak ditemukan adanya gangguan ansietas fobik. Untuk diagnosis pasti, harus ditemukan
adanya beberapa kali serangan ansietas berat dalam masa kira-kira satu bulan: (7,8)
1. Pada keadaan-keadaan dimana sebenarnya secara obyektif tidak ada bahaya.
2. Tidak terbatas pada situasi yang telah diketahui atau yang dapat diduga
sebelumnya (unpredictable situation).
3. Dengan keadaan yang relatif dari gejala-gejala ansietas pada periode diantara
serangan-serangan panik (meskipun demikian umumnya dapat terjadi juga

ansietas antisipatorik yaitu ansietas yang terjadi setelah membayangkan sesuatu


yang mengkhawatirkan akan terjadi.
DIAGNOSIS AGORAFOBIA
Menurut DSM-IV adalah: (1-3,5)
A. Cemas berlebihan apabila berada di tempat-tempat atau situasi-situasi yang sangat
sulit untuk menyelamatkan diri (atau akan mengalami rasa malu hebat) atau
pertolongan mungkin tidak bisa didapatkan dalam keadaan yang tidak diharapkan atau
situasi yang menjadi predisposisi serangan panik atau gejala-gejala menyerupai panik.
Ketakutan pada agorafobia ciri khasnya adalah takut pada situasi-situasi terbuka
(misal: di luar rumah sendirian, berada dalam keramaian atau berdiri dalam satu
antrian, berada di atas jembatan, dalam perjalanan dengan bus, kereta api, atau mobil).
B. Situasi-situasi tersebut akan dihindari atau bila dikerjakan akan ditandai dengan
adanya distress atau kecemasan akan kemungkinan terjadinya satu serangan panik
atau gejala-gejala menyerupai panik, atau sering minta ditemani kalau keluar rumah.
C. Kecemasannya atau penghindaran terhadap situasi yang ditakuti (fobia) tidak bisa
digolongkan ke dalam gangguan mental lainnya.
Menurut PPDGJ-III, semua kriteria ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti: (8)
a. Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi
primer dari ansietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya
waham atau pikiran obsesif.
b. Ansietas yang timbul harus terbatas pada setidaknya dua dari situasi berikut: banyak
orang atau keramaian, tempat umum, bepergian keluar rumah, dan bepergian sendiri.
c. Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol
(penderita menjadi house-bound).
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding untuk seorang pasien dengan gangguan panik adalah sejumlah
gangguan medis dan juga gangguan mental. Untuk gangguan medis misalnya infark miokard,
hipertiroid, hipoglikemi, dan feokromositoma. Sementara itu, diagnosis banding ganggian
mental untuk gangguan panik adalah pura-pura, gangguan buatan, fobia sosial dan spesifik,
gangguan stress pasca traumatik, dan gangguan depresi. (1)

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock, BJ.; Sadock, VA :Panic Disorder and Agoraphobia in Synopsis of Psychiatry
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, Xth ED, Lippincott Williams & Wilkins,
Philadelphia- USA, 2007, p: 587-597.
2. Shelton,RC.:ANXIETY DISORDERS in CURRENT

Diagnosis & Treatment

Psychiatry .Second Edition;edited by Michael H.Ebert,MD; Barry Nurombe,MD; Peter T


loosen,MD,PhD;James F.Leckman,MD; The McGrawHill Companies Inc., Singapore, 2008,
p: 351-378.
3. Taylor, CT; Pollack, MH; LeBeau, RT; and Simon,NM : Anxiety Disorder : Panic, Social
Anxiey, and Generalized Anxiety in Massachusetts General Hospital Comprehensive Clinical
Psychiatry, Mosby Inc, 2008,p : 429-433.
4. Katon,WJ: Panic Disoder in The New England Journal of Medicine, June 1, 2006, p:
2360-2367.
5. Han,J. Park, M; Hales, RE.: Anxiety Disorders in Lippincotts Primary Care Psyc; hiatry
edited by: Robert M.McCarron, Glen L.Xiong, James A.Bourgeois, Lippincott Williams &
Wilkins, Philadelphia, 2009, p: 61-79.
6. Bagot,R.; Bredy, TW; Zhang, T,Gratton,A, Meaney,MJ.: Developmental Origin of
Neurobiological Vulnerability for PTSD in Understanding Trauma Edited by Laurence
J.Kirmayer, Robert Lemelson, Mark Barad, Cambridge University PressUSA, 2007,p:103104.
7. Mansjoer, Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid II Edisi Keempat. Media
Aesculapius. Jakarta. 2007.
8. Rusdi M.Buku Saku: Diagnosis Gangguan Jiwa.Nuh Jaya. Jakarta. 2013. p: 72-74.