Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia memiliki berbagai sumber energi terbarukan yang berlimpah dan
belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai contoh, sumber daya air yang tersedia
dapat membangkitkan lebih dari 75,000 MW, namun hingga 2011 hanya sekitar 6,600
MW yang sudah termanfaatkan. Hal yang sama juga terjadi pada sumber energi panas
bumi, biomassa, biogas dan lain-lain. Pemerintah perlu memfasilitasi proyek-proyek
energi terbarukan untuk mengakses pembiayaan guna mendorong peningkatan
produksi energi terbarukan di Tanah Air yang sampai sekarang masih tergolong
rendah.
Proyek energi mempunyai karakteristik yang spesifik. Selain memerlukan dana
cukup besar dan terkadang harus menghadapi resiko gagal, proyek tersebut juga
melibatkan kepentingan Negara dan perusahaan internasional. Tingkat resiko relative
besar bnyak ditemui dalam kegiatan ekploitasi dana produksi. Kadar resiko semakin
berkurang dalam proyek industri energi di bagian hilir. Disamping itu sumber dana
dan truktur pembiayaan proyek energi dengan menggunakan modal sendiri (ekuitas)
dan pinjaman. Struktur sumber dana menentukan besar biaya modal yang dipakai,
sebagai dasar perhitungan tingkat pengembalian modal.
Ada berbagai resiko, ketidakpastian, dan kendala yang dapat menggagalkan
sebuah proyek energi. Pembiayaan proyek energi dapat menggunakan modal sendiri
dan pinjaman. Pembiayaan modal pinjaman saat ini berkembang dengan berbagai
skema. Skema pinjaman untuk mendanai proyek-proyek energy itu dengan sendirinya
dikaji secara terperinci.
1.2 Rumusan Masalah
- Apa yang dimaksud dengan Pembiayaan Proyek dan jenis - jenisnya?
- Apa yang dimaksud dengan Risiko Proyek?
1

Apa saja jenis-jenis struktur modal?


Apa saja dasar- dasar pendanaan proyek energi?
Apa saja kasus kasus pendanaan dan aliran keuangan proyek energi?

1.3 Tujuan
- Mengetahui definisi pembiayaan proyek
- Mengetahui definisi dari resiko proyek
- Memahami jenis- jenis struktur modal
- Mengetahui dasar dasar pendanaan proyek energy
- Memahami kasus kasus pendanaan dan aliran keuangan proyek energi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pembiayaan Proyek

Komponen yang paling penting dalam menjalankan suatu proyek adalah


pembiayaan. Tanpa adanya pembiayaan, penjualan sebaik apapun akan sia-sia.
Memang pembiayaan proyek umumnya diperuntukkan untuk membiayai kegiatan
proyek konstruksi. Kegiatan bisnis yang berhubungan dengan jual beli (trading) tidak
bisa dikategorikan dalam pembiayaan jenis ini. Alasannya tentu saja karena tiadanya
aktivitas proyek yang bisa dijadikan agunan (collateral). Padahal dalam pembiayaan
proyek, pihak investor akan menetapkan layak tidaknya suatu kegiatan proyek itu
untuk didanai, didasarkan pada proyeksi pendapatan di masa depan setelah pekerjaan
konstruksi di selesaikan. Pembiayaan proyek sendiri terbagi menjadi 3 jenis, modal
sendiri, modal pinjaman, dan perkembangan struktur modal proyek energi.
Bentuk dan komposisi pembiayaan proyek menjadi bagian cukup sulit karena
menyangkut peran yang sangat kompetitif dan informasi yang sangat terbuka. Sumber
pembiayaan diperoleh melalui pasar keuangan, tempat bertemunya pihak yang
memerlukan dan mempunyai dana. Agar alokasi dana dapat berjalan effisien,
disamping pihak yang membutuhkan dan memiliki dana, diperlukan pihak ke 3 yang
menjembatani dana. Dalam pasar uang beroperai lembaga- lembaga keuangan
termauk intermediaries yang berada di dalam maupun diluar sisitem moneter. Bank
sentral dan bank- bank umum masuk dalam sistem moneter. Bank diluar bank umum,
lembaga auransi, dan dana pensiun, lembaga pembiayaan, lembaga pasar modal, dan
lembaga keuangan lainnya berada diluar sistem moneter.
Sektor formal pasar keuangan untuk pembiayaan proyek energi disini adalah
pasar uang, dan pasar modal. Pasar uang tempat dilaksanakannya transaksi surat
berharga, seperti treasury bill, promes, bankers acceptance dan commercials paper
resikonya kecil dan sangat likuit. Sedangkan pasar modal memiliki resiko yang lebih
besar dibandingkan dengan pasar uang. Pasar uang dan pasar modal dari segi jangka
waktu jatuh tempo sulit dibedakan secara tegas. Waktu jatuh tempo pasar uang
kurang dari 1 tahun, sementara pasar modal lebih dari 1 tahun. Jatuh tempo kredit
untuk investasi berjangka panjang, dan untuk keperluan modal kerja berjangka
3

pendek. Tetapi harus diingat bahwa kredit jangka pendek yang selalu diperpanjang
pada akhirnya menjadi kredit jangka panjang. Pengembangan proyek energi sendiri
biasanya dilakukan dengan kredit jangka panjang. Pembiayaan proyek berasal dari
dua macam sumber, yaitu modal sendiri dan pinjaman. Untuk mendukung
pengembangan proyek sebagian besar masih mengandalkan pinjaman perbankan.
Hanya sebagian kecil yang mengandalkan pasar modal.
2.2 Pembiayaan Proyek
2.2.1 Modal Sendiri
Saham merupakan penyertaan modal sendiri dalam pemilikan perusahan.
Saham mewakili kerugian maupun keuntungan yang diperoleh dan proposional
dengan porsi kepemilikian. Dalam hal ini kepemilikan perusahaan identik dengan
pemilikan proyek. Saham tidak memiliki jatuh tempo tertentu. Untuk melepaskan
pemilikan saham pemegangan harus menjualnya kepada pihak lain. Penerbit saham
tidak memiliki kewajiban melunasi saham yang dikeluarkan kecuali jika terjadi
likuidasi. Pemegang saham berhak menetapkan pemakaian keuntungan yang di
peroleh. Pemegang saham memiliki hak menentukan banyaknya keuntungan yang
akan dibagikan maupun yang diakumulasi sebagai keuntungan yang ditahan.
Pemegang saham mempunyai hak. Rapat umum pemegang saham dan memperoleh
pembagian kekayaan jika perusahaan diikuidasi atau dibubarkan.

a. Kelebihan modal sendiri


Kelebihan modal sendiri antara lain:
-

Tidak ada biaya seperti biaya bunga atau biaya administrasi sehingga tidak
menjadi beban perusahaan;

Tidak tergantung pada pihak lain, artinya perolehan dana diperoleh dari setoran
pemilik modal;

Tidak memerlukan persyaratan yang rumit dan memakan waktu yang relatif lama;

Tidak ada keharusan pengembalian modal, artinya modal yang ditanamkan


pemilik akan tertanam lama dan tidak ada masalah seandainya pemilik modal mau
mengalihkan ke pihak lain.

b. Kekurangan modal sendiri


Kekurangan modal sendiri antara lain :
-

Jumlahnya terbatas, artinya untuk memperoleh dalam jumlah tertentu sangat

tergantung dari pemilik dan jumlahnya relative terbatas;


Perolehan modal sendiri dalam jumlah tertentu dari calon pemilik baru (calon
pemegang saham baru) sulit karena mereka akan mempertimbangkan kinerja dan

prospek usahanya ;
Kurang motivasi pemilik, artinya pemilik usaha yang menggunakan modal sendiri
motivasi usahanya lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan modal asing.

2.2.2 Modal Pinjaman


Modal pinjaman dapat berasal dari pasar kredit atau pasar sekurita. Pinjaman
pasar kredit atau pasar sekuritas. Pinjaman pasar kredit biasanya dari lembaga
keuangan yang memberi pinjaman seperti layaknya bank. Pinjaman kepada pasar
kredit untuk suatu proyek tertentu biasanya disertai kajian kelayakan proyek dari segi
teknis dan ekonomi. Kajian kelayakan dijadikan bahan pertimbangan pemberi
pinjaman. Hal ini yang perlu dipertimbangkan adalah jaminan pengembalian
pinjaman. Pinjaman lain berasal dari pasar sekuritas. Obligasi merupakan salah atu
instrument pasar modal berbentuk pinjaman. Instrument pinjaman itu umumnya
memberi bunga tetap berupa bunga kupon dan memiliki jatuh tempo tertentu.
Obligasi adalah suatu surat pengakuan pinjaman uang masyarakat dalam bentuk
tertentu. Karena penerbitan obligasi menyangkut kepentingan banyak orang maka
diperlukan mekanisme perlindungan kepada masyarakat sebagai pemilik sumber
dana. Sejalan dengan hal tersebut, emiten yang menerbitkan obligasi harus memiliki
perjanjian trust dengan trustee. Yang bertindak selaku pihak yang diberi kepercayaan
mewakili kepentingan pemegang obligasi. Untuk menjamin pembayaran bunga

maupun pokok pinjaman, emitemen diwajibkan menyediakan jaminan berupa


kekayaan emitemen dan dari penjamin jika dipandang perlu.
Pendanaan proyek dengan pinjaman dapat mencapai 60-80% dari biaya
proyek. Pinjaman dapat beraal dari lembaga investasi seperti dana pensiun dan
perusahaan asuransi, bank komersial, IFC dan bank regional.
2.2.3 Perkembangan Struktur Modal Proyek Energi
Sebagian besar proyek perminyakan di Negara berkembang sebelum tahun
1970-an didominasi dan perusahaan minyak internasional. Proyek dibiayai modal
sendiri dari sumber pembiayaan internal kas perusahaan. Pemerintah dalam rangka
mengawasi cadangan minyak mulai berperan dalam pembiayaan proyek perminyakan
pada awal 1970-an. Pemerintahan terlibat dalam impor minyak untuk menjamin
ketersediaan minyak yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi. Kemudian
dikembangkan proyek patungan antara perusahaan minyak internasional dan
pemerintah. Tetapi dana pemerintah semakin terbatas. Pemerintah mulai mengurangi
campur tangan pendanaan proyek perminyakan sejak tahun 1990-an. Kini pihak
swasta yang tampil.
Harga minyak yang cenderung melemah, isu lingkungan hidup yang kian
deras, meningkatnya biaya eksplorasi dan produksi dan perkembangan politik yang
mendorong partisipasi domestik, membuat proyek pendanaan perminyakan tidak
dapat lagi dibiayai internal ke perusahaan minyak internasional . pembiayaan proyek
perminyakan jauh lebih sulit dan melibatkan pemanfaatan berbagai sumber dana,
masyarakat dan komersial. Gambar (1) adalah skema pendanaan proyek perminyakan
sebelum 1970.

Gambar 1. Skema perminyakan sebelum 1970


Proyek perminyakan dan proyek kelistrikan di Negara berkembang sejak
semula sudah berbeda. Struktur pasarnya diatur pemerintah. Sistem pendanaan
proyek kelistrikan lebih banyak menggunakan sumber pendanaan internal
perusahaan, anggaran pemerintah, dan pinjaman resmi pemerintah dari lembaga
keuangan bilateral dan multilateral.

Gambar (2) menggambarkan sistem pendanaan proyek kelistrikan pada 1990an yang memasukkan tidak hanya sumber dana sendiri tetapi juga dana pinjaman.

Gambar 2. Skema Pendanaan Proyek Kelistrikan tahun 1990


2.3 Resiko Proyek
Sebagai pemilik proyek, investor akan menghadapi resiko internal dan
eksternal dalam pengembangan suatu proyek energy. Resiko internal adalah resiko
yang muncul akibat faktor-faktor dari dalam proyek itu sendiri, termasuk resiko
geologi, teknologi dan infrastruktur serta finansial. Resiko eksternal adalah resiko
yang terjadi karena faktor-faktor luar. Resiko politik dan ekonomi termasuk dalam
resiko eksternal. Resiko dalam rantai industri energi berbeda untuk sisi hulu dan hilir.
Sisi hulu mempunyai resiko terbesar karena menyangkut kegiatan eksplorasi yang
mungkin saja gagal menemukan cadangan energi atau meleset dari perkiraan semula
sehingga mengubah keekonomian proyek. Resiko yang sangat besar cenderung
muncul akibat dominasi resiko geologi, teknologi, dan infrastruktur
Resiko geologi terjadi karena cadangan yang sudah diperkirakan pada tahap
eksplorasi awal proyek pada kenyataannya berbeda. Kondisi geologi bawah tanah
yang berbeda dengan inerpretasi awal akan melahirkan resiko atas keberhasilan suatu
proyek,
Resiko teknologi dan infrastruktur terjadi karena tidak sesuainya teknologi
dan infrastruktur yang digunakan sehingga proyek tidak dapat menghasilkan secara
maksimal seperti yang telah diperhitungkan dalam rencana awal. Untuk memenuhi
supaya hasil yang dicapai sesuai dengan rencana awal, digunakan teknologi dan
infrastruktur berbiaya tinggi sehingga keekonomian proyek menjadi marjinal.
Resiko finansial muncul apabila ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan
berubahnya pendapatan dan/atau biaya proyek. Resiko finansial pada dasarnya
mengubah indikator keekonomian proyek dan dalam beberapa hal menyebabkan
proyek tidak layak dilanjutkan. Kalau proyek hendak dilanjutkan maka yang perlu
diperhatikan adalah keuntungan operasi paling sedikit harus mampu membayar
kembali biaya marjinal.
8

Resiko politik memberikan dampak makro terhadap semua kegiatan proyek.


Sedangkan resiko ekonomi hanya memberikan dampak mikro dan terbatas pada
industri atau proyek tertentu. Resiko politik terjadi apabila pemerintah (host
government) mengambil alih hak pemilik proyek secara paksa. Pengambilan tersebut
menurut hukum internasional harus disertai dengan kompensasi finansial yang wajar
kepada pemilik proyek berdasarkan nilai pasar.
Pemilik proyek memang harus menghadapi sejumlah risiko, tetapi tidak
sendiri. Pemilik sumber dana pun harus menghadapi risiko, khususnya dari segi
keuangan. Alokasi resiko keuangan atara pemilik sumber dana dan pemilik proyek
disini tergantung tingkat resiko yang harus ditanggung. Tiga tingkat resiko perlu
diperhatikan. Pertama, berapa porsi total investasi proyek yang dibiayai dengan
pinjaman. Kedua, seberapa besar control yang dapat dilakukan oleh pemilik dana
terhadap arus kas dan aset proyek. Ketiga, kelengkapan data proyek dapat saja
berbentuk informasi mengenai sertifikasi cadangan energi, struktur pasar dari hasil
produk, dan kolateral keuangan yang diperlukan untuk jaminan proyek.
Kekuatan pembiayaan proyek terletak terutama pada kemampuan proyek
untuk menghasilkan dan mempertahankan arus kas, di mana hal ini terpapar resikoresiko berikut:

Resiko penyelesaian

Resiko pendanaan dan pembiayaan

Resiko operasi dan teknologi

Resiko pasar

Resiko pihak lawan

Resiko politik dan regulasi

Resiko force majeure

a. Resiko Penyelesaian
Resiko penyelesaian mengacu pada ketidakmampuan sebuah proyek untuk

beroperasi secara komersial dengan tepat waktu dan sesuai dengan biaya yang
direncanakan.
b. Resiko Pendanaan dan Pembiayaan
Struktur keuangan perusahaan pelaksanaan proyek dan kemampuannya untuk
mendapatkan pembiayaan yang dibutuhkan adalah fokus analisis di sini.
Biasanya, sebagian besar proyek memiliki tingkat hutang yang tinggi, dan
sementara permodalan diatur secara individual dari sponsor, proyek akan
bergantung pada lembaga keuangan dan perbankan untuk mengatur komponen
hutang. Dalam menilai risiko pendanaan, ICRA Indonesia menilai sejauh mana
pendanaan sudah tersedia dan kemungkinan pendanaan yang akan tersedia pada
waktunya, sehingga kemajuan proyek tidak tertunda. Ini juga mengasumsikan
pentingnya hal tersebut, mengingat bahwa biasanya bank dan lembaga keuangan
mencairkan uang secara proporsional dengan permodalan yang disetorkan, dan
karenanya keterlambatan/ketidakmampuan dalam menyuntikkan modal dapat
sangat mempengaruhi kemampuan proyek untuk mencapai penutupan keuangan
(financial closure).
c. Resiko Operasi dan Teknologi
Resiko operasi dan teknologi mengacu pada ketidakmampuan proyek untuk
berfungsi secara berkelanjutan pada tingkat produksi yang diinginkan dan dalam
parameter yang telah dirancang. Resiko tersebut biasanya muncul dalam proyekproyek yang menggunakan teknologi kompleks (pembangkit listrik atau proyek
kilang, misalnya); untuk proyek-proyek jalan, pelabuhan, dan bandara, risiko
tersebut biasanya berada dalam tatanan yang lebih rendah. Resiko teknologi
biasanya timbul karena tingkat barunya atau kemungkinan akan usangnya
teknologi, yang sering terlihat dalam proyek-proyek telekomunikasi. Apabila
teknologi yang digunakan bersifat mapan, fokus analisis biasanya menentukan
kehandalan dan keberlanjutan dari platform teknologi selama masa tenor hutang.

10

d. Resiko Pasar
Resiko pasar biasanya muncul karena ketidakcukupan permintaan untuk
produk/jasa, perubahan struktur industri, atau volatilitas harga (untuk input dan
juga output). Mengingat sifat jangka panjang dari pembiayaan proyek, sumber
utama dari risiko pasar adalah kemungkinan perubahan dramatis dalam pola
permintaan untuk produk, baik karena usangnya produk tersebut atau karena
terciptanya kapasitas mendadak dan besar, yang bisa sangat mempengaruhi
tingkat

ekonomis

proyek.

Untuk

kemudahan

analisis,

proyek

dapat

dikelompokkan menjadi dua kategori: pertama, yang memproduksi komoditas


(contoh: proyek-proyek gas alam cair dan proyek kilang), dan kedua, proyek di
mana monopoli alami tertentu ada (misalnya jalan, pelabuhan, bandara atau
proyek transmisi listrik atau gas). Sementara kategori pertama proyek terpapar
sebagian besar resiko yang teridentifikasi di atas, resiko pasar untuk proyek jenis
kedua lebih kepada masalah sisi permintaan, dengan harga biasanya tergantung
kepada peraturan atau masalah politik.

e. Resiko Pihak Lawan


Seperti dibahas sebelumnya, proyek melibatkan sejumlah pihak yang terikat
dengan struktur kontrak. Oleh karena itu, evaluasi kekuatan dan kehandalan
partisipan dalam proyek tersebut penting dalam memastikan kualitas kredit
proyek. Pihak lawan proyek biasanya meliputi pemasok bahan baku, offtakers
utama, dan kontraktor EPC. Bahkan sponsor bisa menjadi sumber resiko karena
kebutuhan untuk menyediakan modal selama tahap konstruksi. Karena proyek
pada dasarnya memiliki struktur yang kompleks, masalah di pihak lawan dapat
menempatkan kelayakan proyek dalam posisi beresiko. Resiko pihak lawan
biasanya ditangani melalui jaminan kinerja, letter of credit dan mekanisme
keamanan pembayaran (seperti penggunaan escrow), paling umum terlihat dalam

11

kasus proyek pembangkit listrik. Namun, telah diamati bahwa upaya


pengendalian resiko melalui kontrak, seberapapun kuatnya, mungkin tidak efektif
dalam mengisolasikan proyek dari resiko ini, kecuali proyek secara fundamental
kompetitif dalam hal biaya dan masuk akal secara komersial untuk semua peserta
proyek.
f. Resiko Politik dan Peraturan
Resiko politik dan peraturan akan memainkan peran penting dalam perkembangan
bisnis pembiayaan proyek di Indonesia. Kebanyakan transaksi pembiayaan
proyek membawa unsur resiko politik berdasarkan fakta bahwa mereka sering
berhubungan dengan pembangunan infrastruktur yang padat modal dan
barang/jasa yang dihasilkan akan dikonsumsi oleh masyarakat luas, baik langsung
maupun tidak langsung. Resiko politik dan peraturan bisa datang dalam berbagai
bentuk, dan sangat mempengaruhi ekonomi proyek, misalnya:
-

Kurangnya transparansi dan prediktabilitas di badan regulasi yang biasanya


terlibat dalam pemberian izin, menetapkan syarat dan kondisi untuk
penggunaan infrastruktur dalam basis common carrier dan pemberlakuan

tarif.
Resistensi terhadap kenaikan retribusi untuk utilitas umum seperti biaya air,

tarif tol dan biaya energi, meskipun klausul kenaikan tarif ada di proyek.
Perubahan dalam norma lingkungan, yang dapat mempengaruhi proyek
pembangkit listrik dan kilang dengan mengharuskan untuk berinvestasi secara

substansial dalam memenuhi norma-norma tersebut.


Permasalahan dalam pembebasan dan akuisisi lahan, hal yang tipikal dalam
kasus proyek jalan.

g. Risiko Force Majeure


Transaksi pembiayaan proyek berbeda dari corporate finance atau structured
finance karena ketergantungan mereka pada aset tunggal untuk menghasilkan arus
kas berpotensi rentan terhadap risiko force majeure. Doktrin hukum force majeure
mengecualikan pihak-pihak terkait dari tanggung jawabnya ketika mereka
12

dihadapkan oleh kejadian tak terduga di luar kendali mereka. Sebuah analisis
yang cermat dari peristiwa force majeure sangat penting dalam pembiayaan
proyek karena kejadian seperti itu, jika tidak ditanggulangi dengan baik, bisa
mencederai alokasi risiko di mana pembiayaan proyek ini bergantung. Bencana
alam seperti banjir dan gempa bumi, gangguan sipil dan pemogokan dapat
berpotensi mengganggu operasi proyek dan akhirnya arus kas. Selain itu,
kegagalan mekanis yang fatal/katastrofik, baik karena kesalahan manusia atau
kegagalan mesin dapat menjadi bentuk force majeure yang dapat mengecualikan
proyek dari kewajiban kontraknya.
2.4 Struktur Modal
Struktur modal menurut Agus Sartono (1991:179) adalah perimbangan
pembelanjaan hutang jangka pendek yang permanen hutang jangka panjang, saham
preferen dan saham biasa. Syafaruddin Alwi (1993:329) memberikan pengertian
tentang struktur modal sebagai perbandingan antara hutang jangka panjang dan modal
sendiri yang digunakan oleh perusahaan. Struktur modal haruslah memaksimumkan
profit bagi kepentingan modal sendiri, dan keuntungan yang diperoleh haruslah lebih
besar dari biaya modal sebagai akibat penggunaan struktur modal tertentu
Pemilihan bentuk sumber pembiayaan sangat berpengaruh terhadap struktur
modal perusahaan. Disamping itu, baik buruknya struktur modal akan mempunyai
pengaruh yang berakibat langsung terhadap posisi keuangan perusahaan.

Suatu

perusahaan yang mempunyai struktur modal yang tidak baik yaitu mempunyai hutang
yang terlalu besar karena akan memberikan beban yang lebih besar bagi perusahaan
yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebelum suatu perusahaan membuat kebijakankebijakan yang beruhubungan dengan struktur modal, maka harus diperhatikan
terlebih dahulu hal-hal yang berhubungan dengan struktur modal.

Menurut J.F

Weston dan E.F Brigham (1994:174) ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi
struktur modal , antara lain :

13

1. Stabilitas penjualan
2. Struktur aktiva
3. Tingkat Pertumbuhan
4. Profitabilitas
5. Leverage Operasi
6. Pajak
7. Sikap Manajemen
Pertimbangan untuk menggunakan modal sendiri atau pinjaman perlu
memperhatikan resiko yang harus dihadapi. Meningkatnya porsi pinjaman dalam
struktur modal akan meningkatkan resiko untuk membayar kembali kewajiban
pinjaman, suku bunga, dan pajak. Modal yang digunakan proyek selalu mempunyai
biaya. Besarnya biaya pinjaman Kd (cost of debt), bila proyek dilaksanakan dengan
dana pinjaman, tergantung tempat pinjaman apakah pasar kredit ataukah pasar
sekuritas. Biaya pinjaman akan sama dengan bunga pinjaman, tergantung pinjaman
lunak atau komersial, bila proyek menggunakan dana pinjaman dari pasar kredit.
Biaya pinjaman pasar sekuritas, misalnya obligasi, tergantung nilai obligasi, nilai
pengembalian nominal, dan suku bunga kupon (coupon rate). Kalau dilaksanakan
dengan modal sendiri Ke (cost of equity) yang berbeda dengan biaya pinjaman.
2.4.1 Biaya Modal sendiri
Biaya modal sendiri menunjukkan tingkat pengembalian modal dari pemilik
sumber dana saat penyerahan dana kepada pemilik proyek. Estimasi biaya modal
sendiri cukup rumit karena menyangkut pembagian keuntungan proyek yang menjadi
hak pemegang saham setelah prioritas pembayaran pinjaman dilakukan. Sebagian
keuntungan proyek dapat saja ditahan, sebagian lagi dibagikan kepada pemegang
saham disertai dengan penerbitan saham baru. Disamping itu perubahan harga saham
juga ikut mempengaruhi biaya modal. Garis kebijaksanaan pembagian keuntungan
setiap proyek berbeda, tetapi perkiraan besarnya biaya modal sendiri yang akan
dipakai proyek perlu ditetapkan.
14

2.4.2 Biaya Modal Pinjaman


Modal pinjaman didapatkan dari pasar sekuritas maupun pasar kredit. Besar
biaya pinjaman keduanya berbeda. Biaya pinjaman dan obligasi didapatkan dari pasar
modal dan biaya pinjaman dengan kredit diperoleh dari pinjaman perbankan.
a. Pasar Sekuritas (Obligasi)
Pembayaran bunga serta pokok obligasi prinsipnya menggunakan konsep nilai
sekarang (present value). Selama ini dikenal berbagai macam obligasi seperti obligasi
dengan bunga tetap, obligasi dengan bunga tidak tetap, dan obligasi tanpa bunga.
b. Pasar Kredit
Biaya pinjaman (Kd) dari sudut pandang peminjam dipengaruhi langsung oleh
besarnya tingkat suku bunga yang dibayarkan kepada pemilik sumber dana. Sumber
dana dapat berupa deposito, tabungan, giro, dan surat berharga lainnya
Besarnya Kd tergantung pada upaya efisiensi yang dilakukan intermediaries
(sistem perbankan) untuk menurunkan biaya administrasi dan overhead sumber dana
netto, biaya resiko, dann marjin keuntungan. Biaya sumber dana netto lebih banyak
dipengaruhi faktor eksternal yang terkait dengan paritas tingkat suku bunga riel.
Tingkat suku bunga itu dipengaruhi oleh depresiasi mata uang domestic terhadap
mata uang asing. Akan terjadi pelarian modal ke luar negeri yang menawarkan tingkat
suku bunga lebih menarik jika tingkat suku bunga domestik rendah. Walaupun tidak
dapat diabaikan begitu saja, dalam praktik factor eksternal mempunyai porsi dominan
dalam struktur biaya pinjaman.
Prinsip tingkat paritas suku bunga adalah tingkat suku bunga yang dihasilkan
pemilik dana dari berbagai simpanan yang harus identik dalam keseimbangan. Identik
dalam keseimbangan berarti sudah memasukkan faktor depresiasi mata uang
domestic dalam kurun waktu tertentu. Pemilik sumber dana dalam hal tertentu dapat
memilih tingkat suku bunga yang lebih rendah dengan mempertimbangkan risiko dan
likuiditas.

15

Dalam jangka pendek, bila tidak ada pembatasan aliran modal, perbedaan
suku bunga nominal mencerminkan perubhan kurs. Karena itu suku bunga riel perlu
disamakan supaya terjadi keseimbangan dalam pasar uang internasional.Bank sentral
untuk tujuan pengaturan besar tingkat suku bunga dapat melakukan operasi pasar.
2.5 Menentukan Struktur Modal yang Optimum
Kebijakan mengenai struktur modal melibatkan trade off antara resiko dan
tingkat pengembalian. Faktor yang mempengaruhi keputusan sehubungan dengan
struktur modal adalah resiko bisnis perusahaan dan posisi pajak. Dua dimensi dari
resiko yaitu resiko bisnis yang meupakan resiko dari operasi perusahaan, jika tidak
menggunakan hutang. Sedangkan resiko keuangan yaitu bagian dari resiko yang
ditanggung pemegang saham yang melebihi resiko bisnis yang mendasar, sebagai
akibat dari penggunaan leverage keuangan. Untuk menentukan strukturmodal yang
optimal dan nilai dari hubungan dasar keuangan. Jika nilai perusahaan maksimal
maka biaya modal adalah minimal. Untuk mencari struktur modal yang optimal untuk
perusahaan, ada beberapa alat atau metode yang dapat digunakan untuk menentukan
suatu pilihan pendanaan.
Menurut Lukas (1994:333-334), menyatakan metode-metode yang digunkan
untuk menentukan suatu pilihan pendanaan adalah sebagai berikut :
a. Analisis EBIT-EPS
Melalui analisis ini manajemen dapat melihat dampak dan berbagai alternatif
pendanaan terhadap EPS pada tingkat EBIT yang bervariasi. Yang dimaksud EPS
adalah laba bersih sesudah pajak dibagi lembar saham perusahaan. Analisis ini
mencoba mengetahui bagaimana hubungan antara EBIT dengan EPS.
b. Membandingkan Rasio-Rasio Leverage
Untuk menentukan efek dari setiap alternatif pendanaan terhadap rasio-rasio
leverage dan rasio-rasio pada alternatif pendanaan tertentu dengan rasio-rasio

16

industri sejenis. Rasio leverage terdiri dari rasio hutang dan rasio jaminan. Rasio
ini dihitung berdasarkan posisi keuangan perusahaan pada saat ini, posisi
keuangan dengan alternatif-alternatif pendanaan yang ada.
c. Analisis Arus Kas Perusahaan
Metode ini menganalisis dampak keputusan struktur modal terhadap arus kas
perusahaan. Semakin besar jumlah hutang dan semakin pendek jangka waktu
pelunasannya, semakin besar beban tetap perusahaan. Semakin stabil dan semakin
besar aliran kas perusahaan, semakin besar kemampuan perusahaan untuk
menggunakan hutang.
Dalam analisis ini perlu diperhitungkan berapa probabilitas ketidakmampuan
memenuhi kewajiban pembayaran kas, probabilitas ini digunakan untuk
mengetahui seberapa besar deviasi (penyimpangan) aliran kas yang sebenarnya
dengan aliran kas yang diharapkan.

2.6 Dasar-Dasar Pendanaan Proyek Energi


Sumber pembiayaan proyek energi terutama dinegara berkembang telah
mengalami berbagai perubahan. Bank kini lebih berhati-hati memberikan pinjaman
untuk proyek energi setelah krisis pinjaman yang terjadi pada tahun 1980-an. Pada
saat ini telah terbuka berbagai instrumen keuangan untuk membiayai proyek dengan
modal sendiri atau pinjaman. Keterbatasan dana negara berkembang membuat
partisipasi swasta tidak dapat dihindari. Namun disisi lain pemerintah biasanya tidak
lagi bersedia menjadi sponsor pinjaman proyek energi. Kalaupun dilakukan tetap
harus mengikuti pertimbangan sangat matang tidak hanya dari segi teknis dan
ekonomis serta memperhatikan dengan seksama prioritas proyek tersebut.
Dengan demikian skema dan sumber pembiayaan proyek menjadi sangat
beraneka ragam. Perbedaan akan jelas terlihat terutama dalam pembiayaan proyek
energi sisi hulu dan sisi hilir. Kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan energi
17

dari sisi hulu proyek energi primer biasanya dibiayai modal sendiri. Ini dilakukan
karena risiko yang dihadapi sangat tinggi sehingga tidak mudah mendapatkan
pendanaan dari bank atau yang bersedia mendanai.
Pembiayaan proyek energi dengan menggunakan modal sendiri dan pinjaman
ditunjukkan gambar (3) dan gambar (4). gambar (3) memperlihatkan investasi proyek
energi dilakukan oleh vehicle company yang mendapatkan dana dari perusahaan
induk atau dari pemilik sumber dana/perusahaan dan bank. Pembayaran kembali
biaya modal sendiri dalam bentuk deviden dilakukan langsung dan bila ada biaya
pinjaman dibayarkan kembali melalui trustee kepada bank pemberi pinjaman.
Gambar (4) menunjukkan investasi proyek energi yang seluruh pembayaran kembali
biaya kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proyek mengunakan sepenuhnya peran
trustee.
Pemilik proyek atau grup pemilik proyek meminjam langsung dari pemilik
sumber dana dalam pasar obligasi internasional. Resiko yang dihadapi pemilik dana
adalah tidak mampunya pemilik proyek membayar kembali harga nominal obligasi
saat jatuh tempo. Obligasi ini termasuk dalam pinjaman jangka panjang dengan suku
bunga dapat ditentukan tetap atau mengambang.
Obligasi itu kemudian dikembangkan dalam mata uang yang kuat eropa bukan
hanya dolar AS. Pasar obligasi itu banyak digunakan setelah krisis minyak pertama
pertengahan 1970-an untuk keperluan impor minyak sebagian wilayah.

18

Gambar 3. Skema investasi proyek energy oleh Vehicle Company

Gambar 4. Skema investasi proyek


Yang disirkulasikan kembali lewat pasar obligasi. Untuk pembiayaan jangka
menengah dapat melalui euromarket bank dalam dolar AS tanpa harus melalui kontrol
otoritas moneter Amerika Serikat. Sistem bank itu yang pertama kali memanfaatkan

19

surplus petrodolar usai krisis minyak pertama dan banyak digunakan membiayai
proyek energi. Dana petrodolar yang sebagian besar dihasilkan negara-negara timur
tengah tidak dipindahkan ke amerika karena kekhawatiran hubungan politik yang
berkembang saat itu antara timur tengah dengan Amerika Serikat. Langkah yang
ditempuh adalah menyimpan dana tersebut dieropa disamping faktor keamanan juga
terkait dengan jalur perdagangan yang lebih dekat dengan timur tengah.
Sistem pembiayaan lain dengan akuisisi dan merjer dapat menambah sumber
dana untuk membiayai pertumbuhan proyek energi secara individual tetapi tidak
mempengaruhi pertumbuhan industri energi secara umum.
Yang menarik dari pasar kredit eropa adalah perbedaan yang sangat kecil
antara biaya suku bunga deposito dengan biaya modal pinjaman dibandingkan dengan
kawasan lainnya. Ini disebabkan oleh hampir tidak adanya hambatan perbankan
seperti reserve requirement, biaya asuransi deposito, dan karakter pasar sendiri yang
sangat kompetitif.
Disamping bursa efek dan bank tumbuh banyak institusi keuangan multilateral
yang aktif membiayai proyek energi. Tujuan mereka sejak usai perang dunia II adalah
meningkatkan efisiensi dan efektifitas sistem perekonomian global. Institusi-institusi
tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat pertumbuhan dan distribusi
pendapatan dunia melalui liberalisasi perdagangan dan investasi. Karena terkait erat
dengan masalah negara maju dan negara berkembang, keberadaan lembaga keuangan
multilateral kemudian digunakan mendorong investasi langsung negara maju. Negara
penerima investasi mempunyai hak mengendalikan investasi, namun mereka perlu
menyediakan jaminan dan kompensasi atas dasar pemerintah ke pemerintah.
Beberapa institusi keuangan multilateral diantaranya adalah IMF, bank dunia yang
terdiri atas bank internasional untuk rekonstruksi dan pengembangan (IBRD),
asosiasi pengembangan internasional (IDA), dan bank keuangan internasional (IFC),
bank pembangunan asia, dan bank investasi eropa (IEB). Dalam kaitannya dengan
institusi keuangan multilateral dengan sifat pinjaman lunak, pinjaman komersial, dan

20

fasilitas kredit ekspor disini dimaksudkan untuk proyek energi yang ada hubungannya
dengan pemerintah masing-masing Negara.
Bank dunia terdiri dari tiga institusi utama yaitu IBRD, IDA, IFC. IBRD
menyediakan pinjaman kepada pemerintah negara berkembang anggota IMF untuk
digunakan mengembangkan prasarana ekonomi. Pinjaman ini diberikan untuk proyek
tertentu yang sulit mendapatkan pendanaan komersial. Pinjaman biasanya dengan
suku bunga lunak dibawah rata-rata tingkat suku bunga dunia. Tetapi negara tersebut
harus memenuhi layak kredit dengan masa pinjaman berjangka panjang. IDA
dibentuk untuk memberi pinjaman kepada negara sedang berkembang dengan
persyaratan lebih liberal dari IBRD. Pinjaman diberikan pada proyek tertentu yang
sulit mendapatkan pendanaan dari sumber lain. Pinjaman biasanya untuk negara
dengan pendapatan perkapita lebih rendah dari 250 dolar AS. Pinjaman tidak dibebani
suku bunga namun harus memenuhi layak kredit dengan massa pinjaman jangka
panjang dan tenggang waktu mulai pembayaran samapai 10 tahun.
IFC menyediakan modal resiko yang dapat berbentuk modal sendiri atau
pinjaman kepada sektor swasta di negara berkembang. Modal ini diberikan untuk
proyek yang mempunyai prioritas tinggi dengan pertimbangan kelayakan proyek
secara teknis dan ekonomi, serta tersedia modal pendamping dari swasta. Modal IFC
diberikan untuk jangka pendek dengan tujuan mendorong aliran modal swasta
internasional.bank dunia juga mendirikan pusat internasional untuk penyelesaian
pertikaian investasi. Tujuan badan yang menjadi bagian bank dunia ini adalah
mendamaikan pertikaian antar investor swasta dan pemerintah. Setelah perang dunia
II, didirikan bank untuk penyelesaian internasional untuk meningkatkan kerja sama
internasional dibidang keuangan antar pemerintah dengan pemerintah. BIS
merupakan bank sentral dari bank sentral utama dunia yang menjamin transaksi mata
uang dunia diantara bank sentral. BIS terkait dengan pusat data aliran keuangan
internasional seperti eurodolar dan eurobond. Tugas antara IMF dan BIS pernah
tumpang tindih, namun segera dapat diluruskan kembali sesuai dengan tujuan semula.

21

Pinjaman dengan persyaratan lunak adalah pinjaman dalam rangka kerja sama
bilateral atau multilateral. Pinjaman sepeeti itu biasanya dilakukan oleh institusi
multilateral dengan pemerintah Dibiayai dengan pinjaman lunak dilakukan sesuai
dengan kesepakatan dan ketentuan pemberi pinjaman. Pinjaman komersial adalah
pinjaman yang berasal dari pasar keuangan internasional dengan persyaratan
komersial. Termasuk dalam pinjaman komersial disini antara lain pinjaman sindikasi,
penerbitan obligasi atau sumber pembiayaan komersil lain. Pinjaman komersial pad
dasarnya digunakan untuk menyangga cadangan devisa dan neraca pembayaran.
Dalam hal pinjaman komersial untuk membiayai proyek energi, proyek ini harus
menduduki prioritas yang sangat tinggi dan tidak dapat dibiayai dari pinjaman lunak
dan/atau fasilitas kredit ekspor.
Pembiayaan dengan fasilitas kredit ekspor

terutama berasal dari negara-

negara organization for economic cooperation and development sehingga penggunaan


fasilitas ini mengacu pada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan OECD. Kredit ini
dijamin oleh pemerintah dari negara pemberi fasilitas kredit ekspor atau lembaga
yang ditunjuk untuk keperluan tersebut. Sebagian besar dana digunakan membeli
keperluan proyek dari negara pemberi kredit ekspor. Besar suku bunga mengunakan
referensi suku bunga komersial mengacu pada tingkat bunga pasar yang berlaku.
Pada dasarnya pembiayaan dengan cara ini tidak mencakup seluruh pembiayaan
impor. Bagian proyek yang tidak disediakan oleh fasilitas kredit ekspor diupayakan
dari sumber dana lain. Fasilitas kredit ekspor merupakan mekanisme keuangan yang
dilakukan oleh pihak peminjam dan pemberi pinjaman karena pertimbangan tertentu.
Dari segi pemilik proyek fasilitas ini merupakan suatu alternatif pendanaan
yang lebih baik dibandingkan dengan pinjaman komersial khususnya dalam hal jatuh
tempo, tenggang waktu pembayaran, tingkat suku bunga, biaya komitmen, dan biaya
manajemen. Pendanaan dilakukan untuk proyek yang mempunyai prioritas tinggi di
mana pemerintah bertindak sebagai peminjam. Pemerintah menanggung resiko

22

pinjaman, termasuk resiko perubahan kurs mata uang. Proyek harus dikaji secara
matang karena setiap kelambatan akan membawa beban finansial cukup berat.
Beberapa institusi pemberi kredit ekspor antara lain bank eksim amerika dan
bank eksim jepang. Pemberi pinjaman memberi bantuan kepada bank lokal untuk
mendukung kredit ekspor dalam rangka menggalakkan komoditi ekspor negara
masing-masing. Seperti pinjaman lunak, fasilitas kredit ekspor tidak dapat
dimanfaatkan

negara

lain

karena

kepentingan

negara

bersangkutan

serta

komitmennya kepada para eksportir setempat cukup kuat. Walaupun demikian ada
fasilitas kredit ekspor yang bersifat lebih luwas.

2.6.1 Pendanaan Recourse dan Non-Recourse


Karena sebagian besar pembiayaan proyek energi menggunakan sumber dana
pinjaman, maka akan dibahas berbagai skema pendanaan dengan tata cara pinjaman
yang biasa digunakan proyek energi. Bila pembiayaan proyek energi dilakukan
dengan pinjaman, maka pemilik dana akan melihat sumber utama pembayaran
pinjaman dari pendapatan proyek dan aset sebagai jaminan pinjaman. Dari segi
tanggung jawab yang dibebankan, bila pemilik proyek menjamin penuh pembiayaan
kembali pinjaman, maka itu merupakan pembiayaan dengan cara full recourse.
Pemilik proyek terlibat langsung dalam perjanjian pemberian pinjaman atau
pembiayaan dengan pemilik dana tanpa syarat. Pemilik proyek wajib membayar
pinjaman proyek secara penuh.

23

Gambar 5. Skema Pendanaan sebrang hulu

Skema pembiayaan BOT mirip dengan Trustee dalam arti pemilik proyek
bukan pihak yang terlibat langsung dalam pembiayaan proyek. Pemilik proyek dalam
skema BOT merupakan pihak yang pasif terlibat dalam pembiayaan. Gambar (9.16)
adalah skema pembiayaan yang menggunakan BOT. Skema ini merupakan tata cara
pembiayaan yang relatif baru. Skema ini biasanya di gunakan dalam pembiayaan
proyek infrastruktur energi yang besar. Dalam hal ini pemilik proyek mengandalkan
pihak tertentu yang telah berpengalaman membangun dan mengoperasikan fasilitas
proyek energi (Project Company). Ikatan antara pemilik proyek dengan Vehicle
Company dapat dengan perjanjian BOT atau pemilik proyek membayar hasil produk
proyeknya dengan sistem toll atau through put free. Pemilik proyek membeli hasil
produk proyeknya, maka disini pemilik proyek juga bertindak sebagai offtaker.
Vehicle Company mengusahakan pinjaman,membuat kontrak EFC, dan mengadakan
perjanjian penjualan hasil produk dengan Offtaker. Pemilik proyek secara tidak
langsung menyampaikan kepada pemberi pinjaman penugasan Vehicle Company.
Proyek tersebut akhirnya dialihkan kepada pemilik proyek pada waktu tertentu sesuai
dengan perjanjian yang telah disebut.

24

Pembiayaan BOT secara teoritis mirip dengan sistem Trustee karena terdapat
pihak lain yang berperan sebagai perantara pemberi pinjaman dan pemilik proyek.
Vehicle Company yang melaksanakan proyek atas nama pemilik proyek biasanya
berbentuk konsorsium, terdiri dari perusahaan multinasional yang mempunyai
reputasi di bidang masing-masing. Seperti halnya Trustee, perusahaan yang
mengelola proyek memiliki asset terbatas. Berbeda dengan tanggung jawab
pembiayaan Trustee yang terbatas, Vehicle Company yang melaksanakan proyek
berperan aktif menentukan pembiayaan. Para investor pun mengharapkan hasil yang
besar dari investasi modal mereka. Disini dapat terjadi pemilik proyek melaksanakan
proyek sendiri melalui kontrak EPC, sedangkan Vehicle Company tetap melakukan
pinjaman untuk pembiayaan proyek. Sampai dengan tahap ini struktur BOT sama
dengan Trustee.
Ada juga pendanaan proyek dengan pola Buit Operate Oum (BOO). Proyek
dalam pola BOT diserahkan kepad pemilik pada waktu tertentu sesuai dengan
perjanjian, tetapi proyek dalam pola BOO secara teoritis tetap demiliki selamanya
oleh Vehicle Company. Praktik pola BOO pad proyek energi mengacu ikatan kontrak
dengan pemilik proyek selama 30 tahun. Disamping itu dikenal pula pola Built
Transfer (BT) yang mirip dengan pola BOT. Asset proyek akan diserahkan pada
waktu tertentu sesuai dengan perjanjian pola BOT, sedangkan dalam pola BT asset
akan diserahkan langsung begitu pembangunan proyek selesai. Asset yang diserahkan
dalam pola BOT biasanya sudah tidak memiliki nilai. Sebaliknya dengan pola BT,
asset belum mengalami penyusutan dan nilainya belum berkurang.
2.7. Beberapa Kasus Pendanaan dan Aliran Keuangan Proyek Energi
Skema pembiayaan proyek energi dalam praktik tidak harus mengikuti skema
dasar yang ada. Kombinasi atau modifikasi dapat saja terjadi dari skema tersebut.
Dalam kegiatan proyek hulu, eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi
prinsipnya menggunakan pendanaan modal sendiri (equity financing). Bila proyek

25

hulu yang mengandung risiko tinggi harus dibiayai oleh pinjaman,maka harus ada
jaminan pemerintah guna pembayaran kembali. Salah satu pendanaan yang sering
dilakukan dalam kegiatan hulu adalah lewat kontrak kerja sama antara pemilik proyek
dan perusahaan perminyakan sebagai Project Company. Perusahaan perminyakan
yang bertindak sebagai Project Company mirip dengan Vehicle Company. Project
Company tidak terkait dengan pemilik proyek. Mereka ini sangat berpengalaman
dalam kegiatan eksplorasi dan produksi serta di dukung oleh sistem pendanaan yang
cukup kuat dan kemampuan teknologi. Walaupun pada awal kegiatan hulu di
dominasi oleh perusahaan perminyakan internasional seperti Philips Petroleum,
Mobil Oil, Atlantic Richfield, Texaco, dan Unocal, tetapi saat ini bayak bermunculan
perusahaan perminyakan independen yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan
eksplorasi produksi.
Di sebagian besar negara berkembang kegiatan memproduksi energi di kuasai
negara dan dilakukan oleh perusahaan negara yang ditunjuk. Perusahaan negara yang
bertindak sebagai pemilik proyek mempunyai dana terbatas untuk kegiatan eksplorasi
berisiko tinggi dan perlu didukung kemampuan teknologi. Atas dasar alasan ini
pemilik proyek membuat kerjasama dengan Project Company. Kesempatan utama
mereka yang berkait dengan skema pendanaan adalah :

Project Company membiayai kegiatan eksplorasi produksi dengan modal sendiri


yang berasal dari perusahaan induk. Dengan skema ini tidak ada beban bagi
pemilik proyek dan pemerintah pada tahap ekplorasi produksi. Seluruh

pembiayaan menjadi tanggungan Project Company.


Jika kegiatan eksplorasi dapat menghasilkan cadangan komersil yang mampu
menghasilkan pendapatan, project Company menempati prioritas utama
mendapatkan kembali biaya yang telah dikeluarkan (Cost of Recovery
Hydrocarbon,CRH) kegiatan e3ksplorasi sebelumnya. Dalam beberapa kontrak
kerja sama, pemilik proyek dimungkinkan menerima sebagian pendapatan
proyek dalam bentuk royalty atau first trench petroleum (ftp), disamping CRH.
26

Bila kegiatan eksplorasi tidak mampu menghasilkan cadangan komersial, resiko

ini ditanggung Project Company.


Prioritas berikut adalah pembagian keuntungan yang dapat dibagikan langsung
kepada pemerintah, pemilik proyek dan Project Company berdasarkan perjanjian
kerja sama lewat Trustee atau bank sentral negara tuan rumah atau bank
komersial yang ditunjuk.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pembiayaan proyek adalah pembiayaan dari berbagai sumber keuangan yang
diperlukan untuk menilai, mendirikan, dan mulai bekerjanya suatu proyek bermodal
besar, pinjaman untuk proyek tersebut biasanya diberikan oleh sindikasi bank, dan
jaminan keuangan atas pengembalian pinjaman tersebut hanya digantungkan pada
arus pemasukan dimasa yang akan datang, dan tidak digantungkan pada jaminan
pihak ketiga. Ada tiga pihak utama dalam kegiatan-kegiatan pembiyaan proyek yang
terlibat secara langsung. Pertama adalah Pemerintah, dimana dalam suatu proyek
dipersepsikan dalam kepentingan publik, namun Pemerintah juga mempromosikan
proyek infrastruktur pada swasta untuk menghasilkan uang dan lapangan kerja.
Kedua adalah swasta, dimana dalam suatu proyek bertujuan untuk menghasilkan
keuntungan, namun keuntungan moneter bukan satu-satunya alasan keterlibatan
27

swasta seperti dalam hal mempromosikan proyek lain yang terkait. Ketiga adalah
pemberi pinjaman, dimana dalam menyediakan pinjaman untuk suatu proyek tidak
dapat disamakan dengan para pemegang saham, yaitu adanya tujuan mendapatkan
margin (keuntungan dari selisih).
Di Indonesia tidak mengatur secara khusus konsep pembiayaan proyek ini
dalam suatu regulasi dan kelembagaan. Konsep pembiayaan proyek ini merupakan
bagian dari konsep KPS yang telah diatur dalam suatu regulasi yang pengaturannya
secara umum untuk semua sektor infrastruktur, yaitu dalam Perpres No. 13/ 2010
yang merupakan revisi dari Perpres No. 67/ 2005.

DAFTAR PUSTAKA
Yusgiantoro, Purnomo. 1999.Ekonomi Energi Teori dan Praktek.Jakarta
http://digilib.ITS/Erwita-Dewi//Pembiayaan_Proyek// diakses tanggal 15 Maret 2014
http://Pandu_blogspot/Joko-Sumarsino//Energi_ekonomi// diakses tanggal 16 Maret
2014

28