Anda di halaman 1dari 4

Nama : Ilham M

NIM

: 111210300083

Tugas Kultum IMDB 4

MENDENGAR
Pendengaran adalah salah satu indera yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Sangat
banyak manusia yang diambil oleh Allah salah satu fungsi anggota tubuhnya tetapi dapat
memanfaatkan anggota tubuh lain untuk bekerja dan dapat sukses didalamnya. Berbeda dengan
pendengaran, banyak orang yang putus asa dengan diambilnya nikmat tersebut.
Sejak dalam kandungan pada minggu ke 20 pendengaran sudah berfungsi dan akan
merespon ketika ada suara dari luar. Semasa dalam kandungan janin akan merekam apa yang
didengar. Oleh karena itu, peran seorang ibu dan bapak dalam mendidik anak semasa kandungan
sangat penting. Jika semasa kandungan, janin sering mendengar yang hal negatif seperti katakata kasar yang dilontarkan ibu-bapaknya atau musik-musik yang tidak pantas didengar oleh
telanga seorang janin. Maka akan terekam dan bisa mempengaruhi tingkah lakunya ketika sudah
lahir.
Berbeda jika janin kesehariannya mendengarkan hal-hal yang baik seperti bacaan AlQuran. Maka janin akan lebih tenang dan terekam yang baik-baik ketika telah lahir. Bacaan AlQuran yang dibacakan sebaiknya dari suara ibu dan bapaknya. Agar suara ibu bapak dapat
dikenali seorang janin baik sebelum lahir maupun setelah lahir. Diantara ibu dan bapak,
kebanyakan yang lebih aktif adalah seorang ibu. Padahal peran seorang bapak saat janin dalam
kanduingan sangatlah penting.
Didalam kandungan dengan umur 20 minggu, pendengaran janin bisa ditembus oleh
suara dengan berkekuatan 250-500 Hz. Dengan kekuatan ini akan dapat ditembus oleh suara
seorang laki-laki. Oleh karena itu, seorang bapak juga harus ikut serta dalam mendidik anak
semasa dalam kandungan.
Ketika bayi sudah lahir maka kesempurnaan anggota badan adalah keinginan setiap
orang. Jika seorang bayi tuli sejak lahir maka kemungkinan bisu sangat besar. Ini disebabkan
karena tidak adanya kosa kata yang dimiliki anak yang terlahir tuli. Oleh karena itu, betapa

pentingnya sebuah pendengaran sampai semua ayat Al-Quran sering menyebutkannya lebih
dulu dibandingkan fungsi indra lainnya. Salah satu contohnya adalah:

Artinya:
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta
menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?"
Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami),
kemudian mereka tetap berpaling (juga). (Q.S. Al-Anam:46)

Ketika melihat perkata dari ayat diatas maka hanya

yang berarti tunggal

sedangkan yang lainnya berate jamak. Akan tetapi Allah ta'alaa dalam ayat di atas -yang
demikian rinci dan jelas- ingin mengungkapkan kepada kita tentang keterperincian Al-Qur'an
yang mulia. Maka mata adalah indera yang bisa diatur sekehendak manusia, saya bisa melihat
dan bisa tidak melihat, saya bisa memejamkan mata bila saya tidak ingin melihat sesuatu,
memalingkan wajahku ke arah lain, atau pun mengalihkan pandanganku ke yang lain yang ingin
saya lihat. Akan tetapi telinga tidak memiliki kemampuan itu, ingin mendengar atau tidak ingin
mendengar, maka kita tetap mendengarnya. Misalnya, kita dalam sebuah ruangan yang di sana
ada 10 orang yang saling berbicara, maka kita akan mendengar semua suara mereka, baik kita
ingin mendengarnya atau tidak; kita bisa memalingkan pandangan, maka akan melihat siapa saja
yang ingin dilihat dan tidak bisa melihat orang yang tidak ingin anda lihat. Akan tetapi, anda
tidak mampu mendengarkan apa yang ingin anda dengar perkataannya dan tidak juga mampu
untuk tidak mendengar orang yang tidak ingin anda dengar. Paling-paling anda hanya bisa
seolah-olah tidak tahu atau seolah-olah tidak mendengar suara yang tidak ingin anda dengar,
akan tetapi pada hakikatnya semua suara tersebut sampai ke telinga anda, mau atau pun tidak. Ini
sangat dibenarkan oleh ilmu kedokteran karena manusia mempunyai fungsi sensorik maupun
konduktif. Walaupun seseorang menutup lubang telinga tetapi kita masih bisa mendengar melalui

hantaran tulang-tulang pendengaran. Begitu kompleksnya Allah menciptakan pendengaran


manusia.
Ketika seorang manusia menghadapi sakaratul maut maka fungsi yang paling terakhir
diambil adalah pendengaran. Begitu mulianya seorang muslim ketika menghadapi maut maka
kita dianjurkan untuk mentalqinkan. Jika tidak berfungsi pendengaran tersebut buat apa Allah
memerintahkan kita untuk memperdengarkan hal-hal yang baik sewaktu menghadapi ajal.
Sebagaimana hadits Rasulullah:

Artinya:
Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illa
Allah( H.R.Muslim:916)
Semoga penjelasan ini dapat menambah keimanan kita kepada Allah dan semakin yakin
bahwasanya Al qur'an & agama islam ini benar-benar dari sisi Allah.

Artinya:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi
Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (Q.S. An-Nisa: 82)

Daftar Pustaka
1. Quran Surah Al-Anam ayat 46. Diakses pada https://quran.com/6/46 tanggal
05/10/2016 pukul 04.10
2. Buku Ajar Ilmu. Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Vol VI(6).
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2011.
3. Romand R, ed. Development of Auditory and Vestibular Systems 2. Amsterdam, New
York: Elsevier; 1992
4. Zaenuddin Abu Qushaiy; Fiqih Jenazah(1): Mentalqin orang yang akan meninggal: 2005

diakses

https://muslim.or.id/24706-fikih-jenazah-1-mentalqin-orang-yang-akan

meninggal.html tanggal 05/10/2016 pada pukul 06.00