Anda di halaman 1dari 7

Kebutuhan Air Tanaman Tebu

Bab 1. Pendahuluan
Kebutuhan air tanaman merupakan jumlah air yang dibutuhkan tanaman untuk
tumbuh optimal yang dapat pula diartikan sebagai jumlah air yang digunakan untuk
memenuhi proses evapotranspirasi tanaman.
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman pokok penghasil gula.
Produktivitas tanaman ini dipengaruhi iklim, jenis tanah, pengairan, jarak tanam dan varietas.
Peningkatan produksi gula dapat tercapai apabila ditunjang antara lain dengan penerapan
teknologi budidaya yang tepat, yang memperhatikan sifat lahan dan kebutuhan air. Teknik
budidaya tebu lahan kering menghendaki adanya pendayagunaan air secara optimal, agar
kebutuhan air tanaman tebu dapat terpenuhi.
Salah satu masalah utama budidaya tebu adalah tingginya kompetisi gulma, terutama
ketika tumbuhan masih muda. Gulma merupakan pesaing untuk mendapatkan air, zat hara,
sinar matahari dan ruang tumbuh. Di samping itu dapat menjadi sarang hama dan penyakit
serta dapat menghasilkan senyawa sekunder yang bersifat racun. Herbisida merupakan salah
satu alternatif untuk mengendalikan gulma, karena penggunaannya sederhana dan efektif.
Namun senyawa ini juga dapat mematikan tanaman muda. Untuk itu perlu ditemukan
tanaman tebu yang tahan terhadap herbisida.
Penemuan varietas baru dapat dilakukan melalui seleksi. Dasar pemuliaan tanaman
adalah adanya kera-gaman genetik pada sel. Keragaman ini dapat dinaikkan dengan induksi

radiasi energi tinggi sehingga terjadi mutasi sel (Novak, 1973). Meskipun metode ini sering
menimbulkan tanaman baru yang steril, kemampuan regenerasi dan daya hidupnya rendah.
Sterilitas dan rendahnya daya hidup sel disebabkan dosis radiasi yang kurang tepat.
Sedangkan rendahnya kemampuan regenerasi disebabkan tingginya frekuensi subkultur (Gao
dkk., 1991; Mac Donald dkk., 1991). Menurut Handro (1981) dan Novak (1991) kultur yang
telah diradiasi harus segera dipindah ke medium segar, namun sebaliknya menurut Thrope
(1982) subkultur dapat menurunkan kemampuan regenerasi.
Botani Tanaman Tebu
Klasifikasi tanaman tebu (Benson, 1957) adalah:
Filum : Angiospermae
Sub Filum

: Monocotyledoneae

Divisi

: Glumiflorae

Ordo

: Graminales

Familia : Gramineae
Sub Familia

: Panicoideae

Tribe

: Andropogoneae

Sub Tribe

: Saccharine

Genus

: Saccharum

Spesies

:Saccharum officinarum L.

Bab 2. Isi

A.

Syarat Tumbuh Tanaman Tebu


Syarat Tumbuh yang harus diperhatikan dalam budidaya Tebu adalah sebagai Berikut:
Kesesuaian Iklim

Tanaman tebu dapat tumbuh di daerah beriklim panas dan sedang (daerah tropik dan
subtropik) dengan daerah penyebaran yang sangat luas yaitu antara 35o LS dan 39o LU.
Unsur unsur iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah curah hujan, sinar
matahari, angin, suhu, dan kelembaban udara.
Curah Hujan
Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa pertumbuhan vegetatifnya,
namun menghendaki keadaan kering menjelang berakhirnya masa petumbuhan vegetatif agar
proses pemasakan (pembentukan gula) dapat berlangsung dengan baik. Berdasarkan
kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, maka secara ideal curah hujan yang
diperlukan adalah 200 mm per bulan selama 5 6 bulan berturutan, 2 bulan transisi dengan
curah hujan 125 mm per bulan, dan 4 5 bulan berturutan dengan curah hujan kurang dari 75
mm tiap bulannya. Daerah dataran rendah dengan curah hujan tahunan 1.500 3.000 mm
dengan penyebaran hujan yang sesuai dengan pertumbuhan dan kemasakan tebu merupakan
daerah yang sesuai untuk pengembangan tanaman tebu.
Sinar Matahari
Radiasi sinar matahari sangat diperlukan oleh tanaman tebu untuk pertumbuhan dan
terutama untuk proses fotosintesis yang menghasilkan gula. Jumlah curah hujan dan
penyebarannya di suatu daerah akan menentukan besarnya intensitas radiasi sinar matahari.
Cuaca berawan pada siang maupun malam hari bisa menghambat pembentukan gula. Pada
siang hari, cuaca berawan menghambat proses fotosintesis, sedangkan pada malam hari
menyebabkan naiknya suhu yang bisa mengurangi akumulasi gula karena meningkatnya
proses pernafasan.
Angin
Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam adalah baik bagi pertumbuhan tebu
karena dapat menurunkan suhu dan kadar CO2 di sekitar tajuk tebu sehingga fotosintesis

tetap berlangsung dengan baik. Kecepatan angin yang lebih dari 10 km/jam disertai hujan
lebat, bisa menyebabkan robohnya tanaman tebu yang sudah tinggi.
Suhu
Suhu sangat menentukan kecepatan pertumbuhan tanaman tebu, sebab suhu terutama
mempengaruhi pertumbuhan menebal dan memanjang tanaman ini. Suhu siang hari yang
hangat atau panas dan suhu malam hari yang rendah diperlukan untuk proses penimbunan
sukrosa pada batang tebu. Suhu optimal untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 24 30 oC,
beda suhu musiman tidak lebih dari 6o, dan beda suhu siang dan malam hari tidak lebih dari
10o.
Kelembaban Udara
Kelembaban udara tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan tebu asalkan kadar
air cukup tersedia di dalam tanah, optimumnya < 80%.
Kesesuaian Lahan
Tanah merupakan faktor fisik yang terpenting bagi pertumbuhan tebu. Tanaman tebu
dapat tumbuh dalam berbagai jenis tanah, namun tanah yang baik untuk pertumbuhan tebu
adalah tanah yang dapat menjamin kecukupan air yang optimal. Tanah yang baik untuk tebu
adalah tanah dengan solum dalam (>60 cm), lempung, baik yang berpasir dan lempung liat.
Derajat keasaman (pH) tanah yang paling sesuai untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 5,5
7,0. Tanah dengan pH di bawah 5,5 kurang baik bagi tanaman tebu karena dengan keadaan
lingkungan tersebut sistem perakaran tidak dapat menyerap air maupun unsur hara dengan
baik, sedangkan tanah dengan pH tinggi (di atas 7,0) sering mengalami kekurangan unsur P
karena mengendap sebagai kapur fosfat, dan tanaman tebu akan mengalami chlorosis
daunnya karena unsur Fe yang diperlukan untuk pembentukan daun tidak cukup tersedia.
Tanaman tebu sangat tidak menghendaki tanah dengan kandungan Cl tinggi.
Kelas Kesesuaian Lahan dan Faktor Pembatas

Berpedoman pada syarat tumbuh tanaman tebu, maka faktor pembatas utama untuk
tanaman tebu adalah kesuburan tanah, solum tanah, kemiringan lereng dan tekstur tanah.
Pengusahaan tanaman tebu harus dilakukan pada tanah dengan kemiringan <8%. Tanah
dengan kelas S1, S2 dan S3 tanpa faktor pembatas yang berat merupakan klas lahan yang
sesuai untuk tanaman tebu. Sebaran lahan tebu di Indonesia disajikan pada tabel.
Sebaran Lokasi Lahan Tebu di Indonesia Berdasarkan Tipe Iklim dan Jenis Tanah

B.

No
1
2

Iklim
B1
B2

Jenis Tanah
Aluvial
Podsolik Merah Kuning

Lokasi
Medan
Lampung

3
4
5
6
7
8
9
10
11

C2
C2
C3
C3
D2
D2
D3
D4
E

Aluvial
Latosol
Mediteran
Regosol
Mediteran
Latosol
Aluvial
Mediteran
Aluvial

Gunung Madu, GPM)


Jatiroto, Pelaihari (Kal-Sel)
Cirebon
Jatitujuh, Jawa Barat
Jengkol, Jawa Timur
Camming, Sulawesi Selatan
Subang, Jawa Barat
Jawa Tengah Utara
Takalar, Sulawesi Selatan
Pasuruan dan sekitarnya

(Bunga

Mayang,

Cintamanis,

Kebutuhan Air pada Tanaman Tebu


Kebutuhan air terbesar terjadi pada saat tebu berumur 4 sampai 9 bulan, dimana pada
umur tersebut tebu berada pada masa vegetatif aktif. Pada masa tersebut, kekurangan air akan
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tebu seperti diameter batang kecil dan jarak antar
buku kecil sehingga tinggi pohon berkurang. Kebutuhan air terendah terjadi pada saat tebu
berumur 12 bulan, yaitu masa siap panen. Saat itu tebu tidak membutuhkan banyak air lebih,
karena kelebihan air akan berpengaruh pada proses pemasakan yaitu menyebabkan rendemen
tebu turun. Tanaman tebu diberi air secukupnya pada musim kemarau tetapi tebu tidak perlu
diairi pada musim hujan. Perkiraan kebutuhan air untuk tanaman tebu adalah 1,5 kali
kebutuhan air untuk tanaman palawija.

Total ketersediaan air bagi tanaman tebu pada umur 1 12 bulan, besamya antara
14.82 mm sampai 140.5 mm. Kondisi tersebut dapat dieapai apabila kadar air tanah berada
pada titik kapasitas lapang.
C.

Kekurangan Air pada Tanaman Tebu


Masalah ketersediaan air menurut ruang dan waktu serta pengelolaan sumber daya
iklim memang memegang peranan strategis dalam proses produksi tebu lahan kering.
Kekeringan yang terjadi pada fase kritis akan berdampak terhadap penurunan produksi
tebu/hektar paling besar dibandingkan fase lainnya yaitu fase pembentukan gula maupun fase
pematangan. Kondisi tersebut berdampak terhadap penurunan produktivitas gula persatuan
luas secara signifikan, meskipun secara kuantitas rendemen (kandungan gula persatuan berat
tebu) meningkat.
Kehilangan hasil akibat kekeringan (water stress) secara kuantitatif menurut FAO
(1997) dapat mencapai 40 % dari potensi produksinya apabila terjadi fase kritis tanaman.
Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2003) bekerjasama
dengan perusahaan tebu swasta di Lampung menunjukkan bahwa kehilangan tersebut dapat
bervariasi antara 5-45% tergantung saat cekaman dan distribusi curah hujan pada musim
kering.
Pendayagunaan sumber daya air untuk menekan resiko kekeringan penurunan hasil
tebu dapat dilakukan dengan pengembangan konsep rainfall and runoff harvesting melalui
pembangunan channel reservoir. Berdasarkan karakteristik potensi sumber daya air hujan
lahan kering dan hasil simulasi kebutuhan air untuk seluruh fase pertumbuhan tanaman,
ternyata secara kuantitas kebutuhan air tebu dapat dicukupi apabila potensi aliran permukaan
dapat disimpan pada saat musim hujan dan didistribusikan pada saat musim kemarau.
Teknologi ini terbukti sangat efektif untuk menekan laju aliran permukaan (runoff velocity),

erosi dan pencucian hara (nutrient leaching) serta menyediakan air secara spasial dan
temporal, sehingga peluang terjadinya cekaman air dapat diminimalkan.