Anda di halaman 1dari 15

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II

Fakultas Keperawatan Unand 2016

LAPORAN PENDAHULUAN
TUMOR MANDIBULA
A. Defenisi
Tumor mandibula merupakan tumor odontogenik yang berasal dari epitelium
yang terlibat dalam proses pembentukan gigi, akan tetapi pemicu transformasi
neoplastik pada epitel tersebut belum diketahui dengan pasti. Secara mikroskopis,
tumor mandibula tersusun atas pulau-pulau epitelium di dalam stroma jaringan ikat
kolagen. Tumor mandibula juga mempunyai beberapa variasi dari tampilan
histopatologis, akan tetapi tipe yang paling sering terlihat yaitu tipe folikular dan
pleksiform. Pada sebagian besar kasus, tumor mandibula biasanya asimptomatik,
tumbuh lambat, dan dapat mengekspansi rahang (Mansjoer, 2001).
Tumor mandibula adalah tumor jinak ondontogenik pada mandibula yang
mempunyai kecenderungan tumbuh ekspansif dan progresif, hingga menimbulkan
deformitas wajah. Tumor mandibula adalah tumor jinak epitel yang besifat infltrati,
tumbuh lambat, tidak berkapsul, berdiferensiasi baik. Lebih dari 75 % terjadi akibat
adanya kista folikular (Mansjoer, 2001).
B. Etiologi
Etiologi tumor mandibula sampai saat ini belum diketahui dengan jelas, tetapi
beberapa ahli mengatakan bahwa tumor mandibula dapat terjadi setelah pencabutan
gigi, pengangkatan kista dan atau iritasi lokal dalam rongga mulut. tumor mandibula
dapat terjadi pada segala usia, namun paling banyak dijumpai pada usia dekade 4 dan
5. Tidak ada perbedaan jenis kelamin, tetapi prediksi pada golongan penderita kulit
berwarna.
Tumor ini tumbuh dari berbagai asal, walaupun rangsangan awal dari proses

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

pembentukan tumor ini belum diketahui. Tumor ini dapat berasal dari Sisa sel dari
enamel organ atau sisa-sisa dental lamina. Struktur mikroskopis dari beberapa
spesimen dijumpai pada area epitelial sel yang terlihat pada perifer berbentuk
kolumnar dan berhubungan dengan ameloblast yang pada bagian tengah mengalami
degenerasi serta menyerupai retikulum stelata.
Sisa-sisa dari epitel Malassez. Terlihat sisa-sisa epitel yang biasanya terdapat
pada membran periodontal dan kadang-kadang dapat terlihat pada tulang spongiosa
yang mungkin menyebabkan pergeseran gigi dan menstimulasi terbentuknya kista
odontogenik.
C. Manifestasi Klinis
Menurut Brunner & suddarth (2005) Manifestasi klinik dalam tahap awal
jarang menunjukkan keluhan, oleh karena itu tumor ini jarang terdiagnosa secara dini,
umumnya diketahui setelah 4 sampai dengan 6 tahun. Adapun gambaran klinis tumor
mandibula, yaitu sebagai berikut:
1. Pembengkakan dengan berbagai ukuran yang bervariasi sehingga dapat
meyebabkan deformitas wajah.
2. Konsestensi bervariasi ada yang keras dan kadang ada bagian yang lunak
3. Terjadi ekspansi tulang ke arah bukal dan lingual
4. Tumor ini meluas ke segalah arah mendesak dan merusak tulak sekitarnya
5. Terdapat tanda egg shell cracking atau pingpong ball phonemona bila massa
tumor telah mendesak korteks tulang dan tulangnya menipis
6. Tidak terdapat nyeri dan parasestesi, hanya pada beberapa penderita dengan
benjolan disertai rasa nyeri.
7. Berkurangnya sensilibitas daerah distribusi n.mentalis kadang-kadang terdapat
ulserasi oleh karena penekanan gigi apabila tumor sudah mencapai ukuran
besar.

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

8. Biasanya berisi cairan berwarna merah kecoklatan


9. Gigi geligi pada daerah tumor berubah letak dan goyang.
Tumor mandibula merupakan tumor yang jinak tetapi merupakan lesi invasif
secara lokal, dimana pertumbuhannya lambat dan dapat dijumpai setelah beberapa
tahun sebelum gejala-gejalanya berkembang. Tumor mandibula dapat terjadi pada usia
dimana paling umum terjadi pada orang-orang yang berusia diantara 20 sampai 50
tahun dan hampir dua pertiga pasien berusia lebih muda dari 40 tahun. Kira-kira 80%
terjadi di mandibula dan kira-kira 75% terlihat di regio molar dan ramus (Bruner &
Suddarth, 2005).
Pada tahap yang sangat awal, riwayat pasien asimtomatis (tanpa gejala). Tumor
mandibula tumbuh secara perlahan selam bertahun-tahun, dan tidak ditemui sampai
dilakukan pemeriksaan radiografi oral secara rutin. Pada tahap awal, tulang keras dan
mukosa diatasnya berwarna normal. Pada tahap berikutnya, tulang menipis dan ketika
teresobsi seluruhnya tumor yang menonjol terasa lunak pada penekanan dan dapat
memiliki gambaran berlobul pada radiografi. Dengan pembesarannya, maka tumor
tersebut dapat mengekspansi tulang kortikal yang luas dan memutuskan batasan tulang
serta menginvasi jaringan lunak. Pasien jadi menyadari adanya pembengkakan yang
progresif, biasanya pada bagian bukal mandibula, juga dapat mengalami perluasan
kepermukaan lingual, suatu gambaran yang tidak umum pada kista odontogenik.
Ketika menembus mukosa, permukaan tumor dapat menjadi memar dan mengalami
ulserasi akibat penguyahan. Pada tahap lebih lanjut,kemungkinan ada rasa sakit
didalam atau sekitar gigi dan gigi tetangga dapat goyang bahkan tanggal (Price, 2006).
Pembengkakan wajah dan asimetris wajah adalah penemuan ekstra oral yang
penting. Sisi asimetris tergantung pada tulang utama atau tulang-tulang yang terlibat.

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

Perkembangan tumor tidak menimbulkan rasa sakit kecuali ada penekanan saraf atau
terjadi komplikasi infeksi sekunder. Terkadang pasien membiarkan tumor mandibula
bertahan selama beberapa tahun tanpa perawatan dan pada kasus-kasus tersebut
ekspansi dapat menimbulkan ulkus namun tipe ulseratif dari pertumbuhan karsinoma
yang tidak terjadi. Pada tahap lanjut, ukurannya bertambah besar dapat menyebabkan
gangguan penguyahan dan penelanan (Price, 2006).

D. Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang untuk tumor mandibula yaitu sebagi berikut:
1. X-ray kepala, yang menghasilkan satu-dimensi gambar dan leher untuk membantu
mencari daerah yang tidak normal pada rahang.
2. CT scan (computed tomography scan). CT scan, yang menghasilkan gambar dua
dimensi dari kepala dan leher yang dapat mengungkapkan apakah ameloblastoma
telah invaded tisu atau organ lain.
3. MRI (magnetic resonance imaging). MRI Scan, yang menggunakan magnet dan
gelombang radio untuk membuat gambar 3 dimensi yang dapat mengungkapkan
abnormalitas kecil di kepala dan leher. Dokter juga menggunakan MRI Scan untuk
menentukan apakah ameloblastoma telah menyebar ke rongga mata atau sinuses.
4. Tumor marker (penanda tumor)

F. Penatalaksanaan
Terapi utama pada tumor mandibula adalah pembedahan. Mandibulectomy
adalah Operasi untuk membuka mandibula dengan maksud untuk mengetahui dan
memperbaiki kerusakan di daerah mandibula atau rahang bawah (Mansjoer, 2001).

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

Mandibulectomy adalah perbaikan pembedahan, reseksi atau pengangkatan


pertumbuhan atau abnormalitas di dalam kerangka mulut (mandibula), terdiri atas
pengangkatan dan perbaikan struktur tulang Mandibula (Mansjoer, 2001).
Indikasi perawatan ditentukan berdasarkan luas dan besarnya jaringan yang
rusak dan struktur histologis dari tumor dilanjutkan dengan medikasi antibiotik dan
analgetik disertai dengan diet makanan cair.
Adapun cara lain dalam pembedahan tumor mandibula yaitu Reseksi marginal
(reseksi enblok) merupakan teknik untuk mengangkat jaringan tumor dengan
mempertahankan kontinuitas korteks tulang mandibula bagian bawah yang masih
intak. Reseksi enblok ini dilakukan secara garis lurus dengan bor dan atau pahat atau
gergaji, 1-2 cm dari tepi batas tumor secara rontgenologis yang diperkirakan batas
minimal reseksi. Adapun tindakan dapat dilakukan secara intra oral maupun ekstra
oral, hal ini tergantung pada seberapa besar untuk mendapat eksposure yang adekuat
sampai ke ekstensi tumor.
Perawatan pasca operasi reseksi enblok mandibula: medikasi antibiotik dan
analgetik, tidak perlu intermaksila fiksasi. Hindarkan trauma fisik pada muka atau
rahang karena dapat menyebabkan fraktur mandibula. Jaga oral hygiene hingga luka
operasi sembuh sempurna. Diet lunak dipertahankan 4-6 minggu. Jika diperlukan dapat
dibuatkan prostesi gigi setelah dipertimbangkan bahwa telah terjadi internal bone
remodeling tulang mandibula, lebih kurang 6 bulan pasca operasi

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Anamnesa
1. Identitas Klien
Meliputi nama, no RM, jenis kelamin, umur, pekerjaan, alamat, pendidikan, agama
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya pasien akan mengeluhkan nyeri pada dagu atau rahang, dan tampak
pembengkakan pada rahang bagian bawah
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya klien memiliki kebiasaan merokok/tinggal di dekat lingkungan pabrik,
perokok pasif, atau terpapar polusi udara dan radon gas serta peningkatan hormon
yang berlebih yang bisa menyebabkan terjadinya tumor.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Seperti orang dekat klien yang perokok menyebabkan klien menjadi perokok pasif
atau ada keluarga klien yang juga pernah menderita penyakit yang sama.
b. Pemeriksaan Fisik
1. KU
: Biasanya keadaan umum pasien lemah
Kepala : Inspeksi
a) adanya benjolan di dagu atau rahang atau pipih depan atau lateral
b) bila terlihat sesak, waspada adanya penekanan pada trakea
Palpasi
a) pada tumor primer dapat berupa suatu nodul soliter atau multipel dengan
konsistensi bervariasi dari kistik sampai dengan keras bergantung dari
jenis patologi anatominya tetapi biasanya massa yang merupakan suatu
karsinoma berukuran >4 cm dengan konsistensi keras dan tidak bisa
digerakkan dari dasarnya.
2. Mata : Biasanya tidak ada kelainan, jika klien disertai anemia maka
konjungtiva anemis
3. Hidung : Biasanya tidak ada kelainan
4. Telinga : Biasanya tidak ada kelainan
5. Mulut : jika pasien disertai anemia, maka mukosa bibir pucat, sianosis,
ketidakmampuan menelan, suara serak
6. Leher : biasanya tidak ada kelainan
7. Paru

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

Inspeksi

: Tidak ada perubahan pola nafas , nafas dangkal dan

inspirasi nafas pendek tidak ada


Palpasi : Vokal premitus seimbang kanan dan kiri Auskultasi : Bunyi nafas
normal
Perkusi : sonor
8. Abdomen
: Tidak buncit, tidak tampak spider nervi, hepar atau lien
tidak teraba, perkusi tympani
9. Ekstremitas
: biasanya kulit pucat
2. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
1. Persepsi dan Manajemen
Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada rahangnya
kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa. Klien yang datang
kerumah sakit memiliki harapan agar sembuh akan sakit yang dirasakan, sehingga
bisa beraktifitas sediakala. Klien yang memenuhi aturan pengobatan akan
memperlihatkn harapan hidup yang baik.
2. Nutrisi Metabolik
Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan
terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan
mengandung MSG.
3. Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri
saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
4. Aktivitas dan Latihan
Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien terganggu
karena terjadi kelemahan dan nyeri.
5. Kognitif dan Persepsi
Biasanya klien akan mengalami nyeri pada daerah tumor. Pada pasien pasca bedah
akan mengalami pusing sehingga kemungkinan ada komplikasi pada kognitif,
sensorik maupun motorik.
6. Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

7. Persepsi dan Konsep Diri


Kelainan akibat operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu,
8. Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam melakukan
perannya dalam berinteraksi social.
9. Reproduksi dan Seksual
Biasanya tidak ada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat
kepuasan.
10. Koping dan Toleransi Stress
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus asaan.
11. Nilai dan Keyakinan
Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan lapang
dada.

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

3. WEB OF COUTION (WOC)

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

NURSING OUTCOMES & INTERVENTION CLASSIFICATION


No
1

Diagnosa Keperawatan Perencanaan


NOC
(NANDA)
Nyeri akut berhubungan NOC :
dengan:
Agen injuri (biologi,
Level,
kimia, fisik, psikologis),
kerusakan jaringan
control,
DS:
- Laporan
secara
verbal
DO:
- Posisi
untuk
menahan nyeri
- Tingkah
laku
berhati-hati
- Gangguan
tidur
(mata sayu, tampak
capek,
sulit
atau
gerakan
kacau,
menyeringai)
- Terfokus pada diri
sendiri
- Fokus menyempit
(penurunan
persepsi
waktu, kerusakan proses
berpikir,
penurunan
interaksi dengan orang
dan lingkungan)
- Tingkah
laku
distraksi, contoh : jalanjalan, menemui orang
lain dan/atau aktivitas,
aktivitas
berulangulang)
- Respon autonom
(seperti
diaphoresis,
perubahan
tekanan
darah, perubahan nafas,
nadi dan dilatasi pupil)
- Perubahan
autonomic dalam tonus

Pain
pain

com
fort level
Setelah dilakukan tinfakan
keperawatan selama .
Pasien tidak mengalami
nyeri, dengan kriteria hasil:

Ma
mpu mengontrol nyeri
(tahu penyebab nyeri,
mampu
menggunakan
tehnik
nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)

Mel
aporkan bahwa nyeri
berkurang
dengan
menggunakan
manajemen nyeri

Ma
mpu mengenali nyeri
(skala,
intensitas,
frekuensi
dan
tanda
nyeri)

Men
yatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang

Tand
a vital dalam rentang
normal

Tida
k mengalami gangguan
tidur

NIC
NIC :
Lakukan pengkajian nyeri
secara
komprehensif
termasuk
lokasi,
karakteristik,
durasi,
frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
Observasi reaksi nonverbal
dari ketidaknyamanan
Bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan menemukan
dukungan
Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri seperti
suhu ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
Kurangi faktor presipitasi
nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dala, relaksasi,
distraksi, kompres hangat/ dingin
Berikan
analgetik
untuk
mengurangi nyeri: ...
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi tentang
nyeri seperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang dan
antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur
Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian analgesik
pertama kali

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

otot (mungkin dalam


rentang dari lemah ke
kaku)
- Tingkah
laku
ekspresif (contoh :
gelisah,
merintih,
menangis,
waspada,
iritabel,
nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam
nafsu
makan
dan
minum

Risiko infeksi

Faktor-faktor risiko :
- Prosedur Infasif
- Kerusakan
jaringan
dan
peningkatan
paparan
lingkungan
- Malnutrisi
- Peningkatan
paparan
lingkungan
patogen
- Imonusupresi
- Tidak
adekuat
pertahanan
sekunder
(penurunan
Hb,
Leukopenia, penekanan
respon inflamasi)
- Penyakit kronik
- Imunosupresi
- Malnutrisi
Pertahan primer tidak
adekuat (kerusakan kulit,
trauma jaringan, gangguan
peristaltik)

NIC :

NOC :

I
mmune Status

K
nowledge : Infection
control

R
isk control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama
pasien tidak mengalami
infeksi dengan kriteria
hasil:

Klie
n bebas dari tanda dan
gejala infeksi

Men
unjukkan kemampuan
untuk
mencegah
timbulnya infeksi

Pertahankan
teknik
aseptif

Batasi pengunjung bila


perlu

Cuci tangan setiap


sebelum dan sesudah tindakan
keperawatan

Gunakan baju, sarung


tangan sebagai alat pelindung

Ganti letak IV perifer


dan dressing sesuai dengan
petunjuk umum

Gunakan
kateter
intermiten untuk menurunkan
infeksi kandung kencing

Tingkatkan
intake
nutrisi

Berikan
terapi
antibiotik:.................................

Monitor tanda dan


gejala infeksi sistemik dan lokal

Pertahankan
teknik
isolasi k/p

Inspeksi kulit dan


membran
mukosa
terhadap
kemerahan, panas, drainase

Monitor adanya luka

Dorong
masukan

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

Ketidakseimbangan

Juml
nutrisi
kurang dari
ah leukosit dalam batas
kebutuhan tubuh
normal
Berhubungan dengan :

Men
Ketidakmampuan untuk
unjukkan
perilaku
memasukkan
atau
hidup sehat
mencerna nutrisi oleh

Stat
karena faktor biologis,
us
imun,
psikologis atau ekonomi.
gastrointestinal,
DS:
genitourinaria
dalam
-Nyeri abdomen
batas normal
-Muntah
-Kejang perut
-Rasa penuh tibatiba setelah makan
DO:
-Diare
-Rontok
rambut NOC:
a.
Nutritional
yang berlebih
status: Adequacy of
-Kurang
nafsu
nutrient
makan
b.
Nutritional
-Bising
usus
Status : food and Fluid
berlebih
Intake
-Konjungtiva pucat
c.
Weight
-Denyut nadi lemah
Control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan
selama.nutrisi
kurang
teratasi dengan indikator:

Albu
min serum

Pre
albumin serum

Hem
atokrit

Hem
oglobin

Tota
l iron binding capacity

Juml
ah limfosit

cairan

Dorong istirahat

Ajarkan pasien dan


keluarga tanda dan gejala infeksi

Kaji suhu badan pada


pasien neutropenia setiap 4 jam
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien
Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan harian.
Monitor adanya penurunan
BB dan gula darah
Monitor lingkungan selama
makan
Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam makan
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut
kusam, total protein, Hb dan kadar
Ht
Monitor mual dan muntah
Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor intake nuntrisi
Informasikan pada klien dan
keluarga tentang manfaat nutrisi
Kolaborasi dengan dokter
tentang
kebutuhan
suplemen
makanan seperti NGT/ TPN
sehingga intake cairan yang adekuat
dapat dipertahankan.
Atur posisi semi fowler atau
fowler tinggi selama makan
Kelola
pemberan
anti
emetik:.....
Anjurkan banyak minum
Pertahankan terapi IV line
Catat
adanya
edema,
hiperemik, hipertonik papila lidah
dan cavitas oval

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

Gangguan pola tidur


berhubungan dengan:
- Psikologis : usia
tua, kecemasan, agen
biokimia, suhu tubuh,
pola aktivitas, depresi,
kelelahan,
takut,
kesendirian.
- Lingkungan
:
kelembaban, kurangnya
privacy/kontrol
tidur,
pencahayaan, medikasi
(depresan,
stimulan),kebisingan.
Fisiologis : Demam, mual,
posisi, urgensi urin.
DS:
Bangun
lebih
awal/lebih
lambat
Secara
verbal
menyatakan
tidak fresh sesudah
tidur
DO :
Penurunan
kemempuan fungsi
Penurunan
proporsi tidur REM
Penurunan
proporsi pada tahap 3
dan 4 tidur.
Peningkata
n proporsi pada tahap
1 tidur
Jumlah
tidur kurang dari
normal sesuai usia

NIC :
Sleep Enhancement
Determinasi efek-efek
medikasi terhadap pola tidur
Jelaskan pentingnya
tidur yang adekuat
Fasilitasi
untuk
mempertahankan
aktivitas
sebelum tidur (membaca)
Ciptakan lingkungan
yang nyaman
Kolaburasi pemberian
obat tidur

NOC:

Anxi

Com

Pain

ety Control
fort Level
Level

Rest
: Extent and Pattern

Slee
p : Extent ang Pattern
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama .
gangguan pola tidur pasien
teratasi dengan kriteria
hasil:

Juml
ah jam tidur dalam
batas normal

Pola
tidur,kualitas
dalam
batas normal

Pera
saan fresh sesudah
tidur/istirahat

Ma

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

mpu mengidentifikasi
hal-hal
yang
meningkatkan tidur

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah II


Fakultas Keperawatan Unand 2016

DAFTAR PUSTAKA

Bruner & Suddarth. (2005). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, volume 2. EGC:
Jakarta.
Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1.UI: Media.
Price, Sylvia A. (2006). Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Nanda. 2011. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC
Smeltzer & Bare. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC.